Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction
"Realm of Death" by Zelvaren Yuvrezla
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Main Pairing : AkaKuro
Side Pairing : OgiAka / MuraHimu / AoKise / AkaAka
A/N : Konnichiwa, minna-san :D masih ingatkah kalian dengan cerita RoD ini? Gomen~~ author ternyata gabisa apdet gara-gara deadline yang tidak bisa diganggu gugat TwT #lemparAuthor
Dan, sesuai sama diatas, author udah mendeklarasi pair yang bakal ada di cerita ini~ :3
Buat para readers yang sebelumnya udah mampir buat baca, fave, follow, terlebih buat yang review, arigatouuu~ 3
review kalian bener-bener buat moodbooster buat author :D
Oke, sekian curhatan Author,
Happy Reading all,
with love, Zelvaren Yuvrezla a.k.a renchanz
Kau adalah sosok yang tidak pernah nyata dalam kehidupanku, sosok yang kutahu pernah ada sekaligus tidak. Kau yang datang kedunia ini dengan selang waktu lebih cepat 3 menit dariku. Kau yang seharusnya hidup dibanding dengan diriku saat ini.
Kakakku, yang seharusnya hidup bersama denganku.
Seseorang yang kurasakan ada bersamaku ketika kami berdua masih didalam perut ibu kami. Setengah jiwaku, setengah hatiku.
Kakakku, yang 17 tahun lamanya seharusnya bernafas sama sepertiku ternyata telah tiada.
...dan aku tidak pernah mengetahuinya.
'Kau adalah seorang Akashi! Tidak perlu melihat pada masa lalu yang tidak penting dalam kehidupanmu!'
'Ah? Anak kembar? Kurasa dia bahkan tidak mengetahui bahwa dirinya kembar.'
'Apa boleh buat, dia adalah penerus keluarga Akashi.'
'Kasihan sekali, disaat anak seusianya masih senang bermain, dia sudah berurusan dengan buku-buku setebal itu.'
'Aku tidak membutuhkan anak tidak berguna seperti kau!'
'Okaa-sama—bila kau masih hidup hingga saat ini, akankah kau menjawab siapa kakak kembarku yang 17 tahun lalu telah lebih dahulu meninggalkanku? Akankah dia membawaku, menjauhi semua derita ini?'
.
.
.
The Soul which already apart from their body will find a path to cross the other side.
But not all the soul will allowed to reincarnate, they will stay and wait until their time come.
And someday, someone— the one who called demi-god, who all people called 'the core'— has came. He choosen one of the entry soul and bring it to his side, wishes to be his next throne.
Blessed by the Knowledge,
Fame by the Kindness, and
Loved by the Generous.
They blessed their new Emperor.
But someday, darkness has come to blind both his eyes and his hearts.
Everybody already know about this,
But nobody ever leave his side.
Because he is The Emperor, Their only, and one precious Emperor.
-oOo oOo oOo –
"Aku merindukan seseorang," intonasi suara milik pemuda bersurai Scralet itu terdengar begitu lembut, begitu berbeda dari biasanya, seolah dirinya sedang menyelami lautan ingatan miliknya sendiri. "Seseorang— yang dulu pernah mengisi kehidupanku ketika aku masih hidup di Bumi."
Nyut.
Kuroko terdiam. Terpaku dengan apa yang baru saja Akashi katakan. Aneh? Ya, tentu sangat aneh ketika ia mendengar kata itu keluar dari sosoknya. Kata yang entah mengapa membuat hatinya mulai gundah, entah karena hal apapun.
Pemuda Icy Blue itu melangkah lagi, mendekati Akashi yang masih terduduk dengan santainya. Tidak lama membungkukkan badannya dan ikut duduk menemani pemuda tersebut. "Apa kau mulai mengingatnya? Ingatanmu?" tanya Kuroko ragu-ragu.
Akashi menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, tidak semua, Kuroko. Tapi satu hal yang kutahu," ia menghentikan perkataannya kemudian menarik sebuah kalung yang selama ini bersembunyi dibalik Coat dan kemeja miliknya. Sebuah cincin tergantung dengan manis, pantulan dari cincin itu entah mengapa terlihat begitu berkilau ditengah malam ini. Akashi menutup matanya perlahan kemudian mengecup lembut cincin tersebut. "Bahwa benda ini adalah benda yang sangat kujaga sebelum aku melakukan kontrak, bahkan aku membawanya dari dunia sana secara tidak kusadari."
Nyut.
Kuroko membuang mukanya. Padahal selama ini hubungannya dengan Akashi tidak lebih dari teman seperjuangan. Tetapi mengapa? Ketika ia menceritakan hal ini padanya, hatinya terasa begitu sakit? Seolah-olah—
-cemburu?
"Umnnn, Akashi-kun," Kuroko kini mulai berbicara kembali setelah mereka terdiam hampir 2 menit. "Apa yang kau ingat dari masa lalumu?"
Mendengar pertanyaan milik Kuroko, Akashi menyunggingkan sebuah senyum padanya. "Akashi Seijuurou adalah anak yang dibesarkan layaknya seorang pemimpin. Masa laluku bukan masa lalu yang cukup senang untuk diceritakan, Kuroko. Ibuku meninggal ketika aku berumur 5 tahun, dan ayahku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Namun, 9 tahun kemudian, aku menemukannya. Sosok yang merubah kehidupanku yang terpuruk menjadi sebuah kenangan indah yang pernah kumiliki."
Kuroko tersenyum tipis. "Tampaknya kau sangat menyayanginya ya? Kekasihmu dulu?"
Akashi terdiam sejenak, matanya kini melihat kearah Kuroko dengan seksama. "Bagaimana dengan ingatanmu, Kuroko?" Seolah mengalihkan topik, Akashi kini memeluk lengan kakinya dari angin malam, membiarkan kalung dengan cincin yang terselip didalamnya itu jatuh dsekitar dadanya.
Kuroko terdiam untuk kedua kalinya. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku belum mengingatnya begitu banyak, hal yang kuingat hanya dulu aku tinggal bersama kedua orangtuaku disebuah rumah yang sederhana. Ibuku selalu membuatkanku sarapan pagi dengan hot vanilla milk, dan ayahku, meskipun pada hari biasa ia selalu sibuk dengan pekerjaannya, tetapi pada hari libur atau setiap akhir pekan ia pasti selalu meluangkan waktu bersama kami."
"Tampaknya keluargamu begitu bahagia, Kuroko. Meskipun kalian hidup dalam kesederhanaan, tetapi itu jauh lebih berarti dibanding kau hidup dalam kelimpahan harta namun tidak ada kehangatan apapun didalamnya." Senyum Akasi hambar.
Melihat perubahan ekspresi dari Akashi, tangan pemuda Icy Blue itu tanpa sengaja memegang coat panjang milik pemuda yang berada disampingnya. "Ah! Maaf, aku tidak—" Cepat-cepat Kuroko menarik kembali tangannya, namun sebelum ia berhasil menariknya, tangan Akashi sudah terlebih dahulu memegangnya. Hanya dalam hitungan detik, kini Akashi menarik tubuh Kuroko dan mendekapnya.
"Maaf, tampaknya aku kedinginan." Tawa Akashi perlahan. "Boleh 'kan aku memelukmu sebentar?" tanyanya pada pemuda Icy Blue yang masih mematung tanpa bergerak sedikitpun.
Dingin. Leher, lengan, bahkan seluruh tubuh milik Akashi terasa begitu dingin.
"Akashi-kun, kau tidak masuk kedalam semenjak kau berganti shift dengan yang lainnya? Tubuhmu dingin sekali!" Panik, Kuroko mulai mengalungkan lengannya kesekitar pundak milik Akashi, kemudian mendekapnya lebih erat sehingga keduanya dapat merasakan suhu tubuh masing-masing. "Sebaiknya kau masuk kedalam."
"Tidak, tidak apa.. sebentar saja aku masih ingin berada diluar. Tidak apa bila kita berdiam diposisi ini hingga badanku mulai hangat kembali, Kuroko?"
Rona kemerahan kini timbul disekitar pipi Kuroko, ia tidak menjawab pertanyaan Akashi, namun ia hanya bisa mengangguk perlahan.
.
.
.
Ruangan itu masih terlihat sama seperti saat dimana ia meninggalkannya terakhir kali. Tetap dingin dan juga sunyi. Ia melangkahkan kakinya perlahan. Bunyi ketukan sepatu boots miliknya hanyalah satu-satunya bunyi yang mungkin terdengar dari dalam tempat tersebut.
Pemuda itu tersenyum kecil, ia masih mengingat jelas bagaimana Emperor menolongnya, bagaimana ia menyelamatkan hidupnya. Diantara sekian banyak orang yang berada disisinya saat itu, hanya Emperor-lah satu-satunya yang mempedulikan keberadaannya.
Bagi dirinya, Sang Grim Reaper—malaikat kematian pertama dan satu-satunya—bagi Emperor. Sejak dimana tangan kecil itu meraih dirinya, ia telah berjanji dalam hatinya bahwa apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah mengkhianati Emperor.
Ogiwara Shigehiro mengamati sekelilingnya, hal yang selalu menjadi rutinitas dirinya dari dulu adalah satu, menemukan Emperor kecil miliknya terlelap di kursi kepemilikan tahta kerajaannya. "Masih tetap sama." Senyumnya ketika mengamati sosok yang dicarinya tengah terlelap dengan posisi yang sama seperti 12 tahun lalu.
Ah, seperti deja vu, bukan? Dirinya juga menemukan Emperor terlelap sama seperti ini ketika ia mencarinya. "Padahal wajahmu terlihat begitu tenang ketika tertidur seperti ini," Bisiknya ketika ia mendekat kepada pemuda berhelai Brilliant Red itu. "Aku tidak bisa membayangkan bila dalam sekejab kau bisa merubah wajah baikmu menjadi menyeramkan." Candanya sambil tertawa kecil.
"Oh, terimakasih atas pujianmu, Shigehiro." Nada sinis itu terdengar dari pemuda yang sedari tadi terlelap, menampilkan kedua manik Heterochrome yang memandangnya dengan tajam. "Kukira kau sedang dalam misimu?"
Ogiwara tertawa. "Ayolah, Emperor. 12 tahun kita selalu bersama, dan ketika kau memintaku menjalankan misi ini, kau seolah membuatku homesick."
Emperor memutar bola matanya. "Tidak ada hal menarik yang bisa kau rindukan disini, Shigehiro."
"Ada." Balas pemuda Cantaloupe itu dengan tegas, pandangannya lurus kearah Emperor. "Aku merindukanmu." Senyumnya kemudian, memecahkan wajah serius yang ia pasang sedari tadi.
Pemuda berhelai Brilliant Red itu terdiam sejenak, mengerjabkan matanya beberapa kali. "Aku membawa berita baru." Sebelum ia sempat membuka mulutnya, Ogiwara telah lebih dahulu mendahuluinya. "Mereka telah bertemu dengan Mayuzumi. Kurasa ia telah datang menemuimu sebelum aku kemari, bukan?"
"Ya, Chihiro memang datang kemari. Tetapi sebelum misi utama kita berjalan, aku memintanya untuk tetap menjalani misi awalnya sebagai Grim Reaper. Apa kau bertemu dengan yang lainnya?"
Ogiwara menggelengkan kepalanya cepat. "Himuro lebih dahulu meninggalkan mereka sebelum aku datang. Lalu, seorang lagi—kurasa mereka masih belum menemukannya."
Emperor mengangguk kecil. "Lalu, Bagaimana dengan Akashi Seijuurou?"
Senyum tulus Ogiwara kini memudar, menampilkan senyum hambar miliknya. "Karena aku adalah ciptaan langsung dari 'core', aku bisa melihat dengan jelas bagimana masa lalunya ketika ia masih hidup, Emperor. Benang yang menghubungkanku dengannya, hanya itu yang bisa kujadikan satu-satunya harapan."
Kedua mata milik Emperor kini melebar. "Kau—janga katakan—" Emperor segera bangkit berdiri dari posisinya, memeriksa setiap bagian tubuh milik Ogiwara dengan membuka Coat dan Kemeja miliknya. Tetapi Ogiwara tetap diam tidak bergeming ketika Emperor tiba-tiba membuka bajunya begitu saja.
"Kau—melakukan kontrak dengannya!?" Kali ini nada suaranya agak melengking, wajahnya menampilkan rona yang tidak senang atas tindakan Ogiwara, dimana ia melihat sebuah tanda terukir dibalik punggungnya, tanda kontrak miliknya dengan Akashi Seijuurou. "Kupikir kau tidak akan—"
"Aku tidak akan mengkhinatimu, Emperor." Ogiwara berkata dengan tegas, dari balik matanya terpantul kilatan yang tidak menunjukkan sebuah keraguan. Perlahan ia menyentuh salah satu tangan milik Emperor, setengah berlutut lalu mengecup punggung tangannya. "Meskipun—seluruh mahkluk didunia ini membencimu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu, My Dearest Emperor."
.
.
.
"Heiii~~ Heiii~~ kau tidak mendengarku? Heiii~" pemuda berhelai Amethyst itu berjalan mengikuti sosok pemuda berhelai Raven yang tampak tidak mempedulikannya.
Himuro Tatsuya menutup matanya, menghela nafasnya berat kemudian menengok kearah belakang, hingga dirinya dan pemuda yang sedari tadi mengikutinya—Murasakibara Atsushi—terhenti. "Sebenarnya apa maumu mengikutiku kemari?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya~"
Himuro menaikan sebelah alisnya, bingung karena pernyataan yang disampaikan oleh Murasakibara. "Pertanyaan apa?"
"Hmnn~" Murasakibara mengunyah buah yang sedari tadi ia bawa. "Bagaimana bila kita duduk dibawah pohon itu? Aku mau mengambil beberapa buah lagi." Tanpa mempedulikan reaksi pemuda Raven tersebut, Murasakibara melangkah maju, meninggalkan Himuro mematung ditempat.
'Mengerjarku lalu tiba-tiba meninggalkanku begitu saja, sebenarnya apa maunya?' Himuro menggerutu dalam hatinya, tetapi langkahnya tetap maju kearah yang dituju oleh pemuda Lavender tersebut.
"Untukmu~" Buah dengan ukuran setangan itu berhasil Himuro tangkap ketika Murasakibara melamparnya padanya. Sudah hampir 1 menit ia duduk dibawah pohon yang dimaksud sambil menunggu pemuda tinggi tersebut.
Light Forest—inilah tempat yang mereka diami saat ini. Memang sebagian besar tempat ini sudah terpengaruh oleh kegelapan, tetapi masih ada beberapa tumbuhan yang masih hidup, dan itu cukup untuk menambah persediaan makanan bagi Murasakibara.
"Kau ingat bahwa aku mengatakan bau-mu berbeda dengan NPC lain?" Tiba-tiba Murasakibara duduk disamping Himuro yang mulai memakan buah yang baru saja diberikan olehnya.
"Kupikir kau juga sudah mengetahuinya, 'bukan?"
"He~ tidak kusangka bahwa kau ternyata Grim Reaper yang sesungguhnya~"
Himuro tidak bergeming atas pernyataan Murasakibara, namun tidak lama ia mengangguk perlahan.
"Lalu kenapa kau berniat membantu mereka? Bukankah kita seharusnya memihak pada Emperor?"
Himuro tersenyum tipis. "Oleh karena itulah, aku membantu mereka."
Kini giliran Murasakibara yang terdiam, ia melihat kearah Himuro sesaat, sebelum pemuda berparas cantik itu mulai kembali berkata. "Kau—dan semua NPC seharusnya sudah mengetahui ini semua, tetapi kalian memilih untuk tidak menyadarinya, bukan?"
"—bahwa Emperor yang kita kenal bukanlah Emperor yang pernah bersama kita." Murasakibara menunduk, ia melihat kearah sungai, dimana bayang-bayang terpantul dari aliran air sungai tersebut. Lalu, disanalah terdapat seseorang yang tengah berdiri dibelakang pohon dan hendak menyerang kearah mereka.
"Awas!" Murasakibara dengan cepat mendorong Himuro, membuatnya berlindung dibalik badan milik pemuda Lavender tersebut. "Siapa kau? Kenapa aku tidak mencium bau-mu sama sekali?"
Mata Himuro melebar ketika asap yang ditimbulkan oleh ledakan itu mulai memudar. "Kau—Midorima, sang Reaper."
Pemuda berhelai Turquoise itu melangkah maju, pantulan Emerald-nya menajam. Dan detik berikutnya, sebuah panah dan busur kini mengarah pada Himuro. "Himuro Tatsuya—sesuai dengan perintah Emperor, aku akan menangkap sang pengkhianat. Menyerahlah sebelum pertarungan ini semakin berlanjut—nodayo."
Himuro tersenyum miris. "Kau pikir aku akan tertangkap semudah itu?" Mata Raven-nya kini melirik kearah Murasakibara. "Kau, cepat lari dari sini!"
"Ahh~" Murasakibara kini bangkit berdiri. "Ini memang bukan urusanku dan aku sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dengan masalah kalian. Tapi—" Muka Murasakibara kini terlihat begitu kesal. "Kau sudah membuat buah-buah yang kupetik hancur lebur, terbuang percuma!" seketika senjata milik Murasakibara—sebuah tombak yang besar dan juga panjang keluar dari tangannya. "Tidak akan kumaafkan!"
Midorima Shintaro menghela nafas dalam. "Inilah yang terjadi bila kau berurusan dengan Ignorance. Baiklah, selagi ada waktu aku akan bermain dengan kalian—nodayo."
Himuro kini mengeluarkan kipas besi miliknya. "Ini akan menjadi pertarungan yang panjang." Ucapnya sambil menatap tajam Reaper lain selain dirinya.
-oOo oOo oOo -
"Jadi, apa rencana kita selanjutnya-ssu?" Pemuda bersurai Blonde itu mulai berbicara. Saat ini mereka tengah berkumpul dan membuat sebuah lingkaran kecil. Beberapa kali getaran kecil berupa gempa mulai menghantui tempat mereka. Membuat tanda agar mereka segera beranjak dari tempat mereka berdiam saat ini.
"Tidak ada jalan lain selain maju, bukan?" jawab Ogiwara sambil menyenderkan bahunya ke tembok terdekat.
"Sejak awal rencana kita hanya menghindari serangan NPC maupun Player yang menyerang kita. Namun karena bertemu dengan Evil NPC kita terpaksa berada disini," Akashi mulai berpikir. "Tidak menutup kemungkinan beberapa Player maupun NPC mungkin berada disini juga, kita harus waspada. Terlebih tempat ini terbilang cukup berbahaya juga."
"Sebisa mungkin jangan sampai kita terpisah kalau begitu." Tukas Aomine segera, meyakinkan semuanya. "Bila kita berpencar, secepat mungkin kita harus kembali berkumpul. Ciptakan tanda atau apapun yang memungkinkan satu sama lain untuk melihatnya."
Kuroko mengangguk kecil. "Aomine-kun, Kise-kun, ada hal yang ingin kutanyakan pada kalian berdua." Rona Kuroko kini menjadi serius. "Tetapi lebih baik bila kita membicarakannya nanti, sekarang lebih baik untuk keluar dari tempat ini terlebih dahulu."
"Baiklah, kalau begitu ayo kita maju ke tempat selanjutnya-ssu!"
.
.
.
"Akashi-kun, Akashi-kun." Suara itu terus terdengar dalam benak pikiran Akashi. Hal yang ia ingat hanyalah ketika mereka memasuki ruangan selanjutnya, semua menjadi gelap, dan..sesuatu—seolah menarik mereka keatas.
Manik Deep Crimson itu terbuka lebar, menemukan pantulan Baby Blue milik Kuroko yang memandangnya dengan penuh khawatir. "Kuroko, apa yang—ukh.."
"Akashi-kun, jangan bergerak dulu, kepalamu terbentur cukup keras. Sebisa mungkin aku langsung menghentikan darah yang keluar dari kepalamu semenjak aku bangun, tapi aku tidak tahu sudah seberapa banyak darah yang keluar—"
Jari milik Akashi kini menghentikan perkataan Kuroko. "Tidak apa, tidak usah mengkhawatirkanku seperti itu, Kuroko. Terimakasih sudah menghentikan pendarahanku." Ucapnya lembut sembari memegang kepalanya yang terlilit oleh sebuah kain putih, yang tampaknya lengan kemeja milik pemuda Icy Blue tersebut. "Tapi entah mengapa rasanya memang agak pusing."
Akashi kini memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sedari ia bangun ia memang merasakan ada hal yang janggal, ia terus melihat bayang-bayang mereka terpantul dimanapun. Dan sepertinya ini yang membuatnya merasa janggal. Mereka terperangkap dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan cermin. "Kita—terpisah dari yang lainnya?"
Kuroko mengangguk kecil. "Beberapa kali aku mencoba memanggil Kise-kun, Aomine-kun maupun Ogiwara-kun. Tetapi tidak ada reaksi sama sekali, seolah hanya kita berdua yang terperangkap disini."
'Ogiwara—kau bisa mendengarku?' Akashi kini bertanya dalam hatinya, tepat pada saat mereka melakukan kontak seperti sebelumnya.
'Akashi? Kau ada dimana? Tampaknya aku terpisah dengan Aomine dan Kise.' suara itu kembali membalas. Akashi memberikan sinyal pada Kuroko, bahwa ia berhasil mengkontak Ogiwara.
'Aku bersama Kuroko. Tetapi kami terperangkap ditempat yang dipenuhi cermin. Bagaimana denganmu?'
'Tampaknya kita terjatuh ditempat yang berbeda. Tempatku berdiam hanya terdapat lorong panjang yang tidak ada batasnya, meskipun aku berjalan kemanapun ia tetap membawaku pada tempat semula. Tetapi satu hal yang aku pastikan, bahwa jarak diantara kita tidaklah jauh.'
'Ya, karena kita bisa saling berkomunikasi antara satu sama lain. Aku akan mencoba mencari jalan keluar bersama dengan Kuroko. Akan kuberitahu lagi nanti.'
'Akashi—'
'Ya?'
'Berhati-hatilah.'
'Kau juga.'
Lalu disanalah kontak diantara mereka terputus.
"Kukira Kise masih belum sadarkan diri, Kuroko. Tempat ini memang dipasang agar kita tidak bisa mendengar suara dari luar, tetapi bila kau mensinkron'kan diri dengan 'Guardian'mu kau akan bisa berkomunikasi sepertiku dan Ogiwara. Pertama-tama kita coba mencari jalan keluar." Kuroko mengangguk sambil membantu Akashi untuk berdiri.
"Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan ditempat ini, Akashi-kun? Dari sisi manapun aku tidak bisa melihat jalan keluar. Seperti labirin yang membelenggu kita."
Akashi kini menempelkan salah satu tangannya untuk menyentuh cermin. "Jalan tersembunyi 'kah? Tidak buruk." Senyum Akashi sambil memandang kearah sekitarnya.
[New Dungeon : _Dimention of Mirror_]
Entah sudah berapa lama mereka berjalan, entah sudah berapa lama mereka kembali ketempat—yang mungkin tempat awal karena mereka tersesat. Meskipun mereka menemukan jalan baru, mereka tidak bisa menandai cermin yang mereka lalui, sehingga pada point tertentu mereka benar-benar merasa tersesat berada didalam dimensi ini.
"Ah, Akashi-kun? Aku bisa mengontak Kise-kun."
'Kurokocchiiii~~~! Kau ada dimana-ssu!? Aku baru sadarkan diri, oh ya, Aominecchi ada bersamaku.'
'Kise-kun, coba deskripsikan tempatmu disana.'
'Ehh? Ehmnn.. kita seperti dalam sebuah Cave, Kurokocchi~ tetapi kita harus memainkan puzzle untuk membuka jalan ketempat selanjutnya. Kurokocchi bagaimana disana?'
'Ternyata memang berbeda. Aku dan Akashi-kun terperangkap dalam dunia cermin, Ogiwara-kun terperangkap dalam lorong yang tiada akhir, dan Kise-kun maupun Aomine terperangkap ditempat lain juga.'
'Apa!? Tapi—tapi bagaimana bisa kita berkontak seperti ini, pasti jarak diantara kita tidak jauh, Kurokocchi. Ah, aku dan Aominecchi akan secepat mungkin mencari jalan keluar-ssu! Siapa tahu ada clue mengenai tempat kalian berada!'
'Baiklah, Kise-kun. Kita juga akan tetap mencari jalan keluar.'
Kuroko kini membuka matanya, menatap iris Deep Crimson yang memandangnya sedari tadi. "Seperti Ogiwara-kun, Kise-kun dan Aomine-kun juga terperangkap ditempat yang berbeda dengan kita berdua, Akashi-kun."
"Tetapi aku bisa menyimpulkan sesuatu, Kuroko. Pertama, tempat kita semua berada sebenarnya tidak jauh. Mungkin dibalik dunia cermin ini adalah tempat mereka berada. Kedua, kita semua terperangkap dalam sebuah puzzle. Seperti permainan RPG dimana kita harus menemukan jalan yang sesungguhnya agar bisa keluar dari sini."
Kuroko menghela nafas. "Aku tidak pernah bersahabat baik dengan permainan RPG, Akashi-kun. Itu sama saja seperti bermain Shogi ataupun Go dalam versi lain-nya."
Akashi kembali tersenyum. "Tenang, itu spesialisku, Kuroko. Akan kubawa kita berdua keluar dari tempat ini."
Seketika itu juga, senyum yang baru saja ditunjukkan oleh Akashi membuat Kuroko terpaku. Senyum yang—entahlah, seperti ia pernah mengenal senyum itu sebelumnya, tetapi ia tidak bisa mengingat apapun.
Kini mereka kembali berjalan. Meskipun beberapa kali mereka kembali ketempat awal, tetapi Akashi kini mulai mengerti bagaimana pola diruangan cermin yang mereka diami.
"Baiklah, seharusnya melalui tempat ini dan—"
Jalan keluar!
"Akashi-kun! Kita berhasil!" Kuroko tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika mereka berhasil menuju tempat yang baru. Meskipun disana hanya terlihat sebuah kamar dengan 3 buah cermin didalamnya.
"Sudah kubilang kita akan keluar dari sini, bukan?"
Kuroko mengangguk kembali.
"Tetapi, sepertinya kita tidak bisa bersenang-senang terlebih dahulu." Pandangan mata Akashi kini menajam ketika mereka memasuki kamar tersebut, dimana sebuah Creature tiba-tiba turun dari atas dan menghadang mereka.
"Tidak lengkap bila tidak ada boss-battle 'kah?" Akashi mendengus. "Kuroko, bersiaplah untuk bertarung!"
[Equip Weapon : Rappier / Equip Weapon : Twin Guns – Order Accepted]
Hal pertama yang membuat mereka terkejut adalah ketika Creature itu menyemburkan Api—element yang sama dengan Akashi, yang menandakan sihir yang dikeluarkan oleh Akashi tidak akan berpengaruh banyak bila ingin menyerang Creature tersebut.
Kedua, entah kebetulan atau tidak, tetapi Kuroko sendiri memiliki element Ice, yang berarti kekuatan sihir Kuroko menjadi salah satu kelemahan dari Creature tersebut.
Ketiga, tampaknya Creature itu menyerupai sebuah Salamander, tetapi ia memiliki sepasang sayap seperti sayap kelelawar. Seluruh tubuhnya berwarna merah dengan garis-garis berwarna orange. Bukti nyata bahwa ia memiliki sayap memperkuat bahwa creature ini memiliki agility—atau ketangkasan yang kuat.
Akashi mencoba men-spell magic miliknya, mencoba memastikan seberapa kecil serangan apinya terhadap Salamander itu.
[Akashi Seijuurou / Magic Spell – Fira / Accepted]
Gumpalan Api kini terkumpul dan menyerang Salamander, namun sesuai perkiraan Akashi, bahwa sihir yang dirapalkannya tidak menimbulkan damage yang besar bagi Creature tersebut.
"Kuroko, coba spell-kan beberapa sihir Ice, aku akan menarik perhatiannya!"
Kuroko mengangguk, ia mulai mencari spell yang cocok digunakan dengan waktu yang singkat.
[Kuroko Tetsuya / Magic Spell – Freeze / Accepted]
Beberapa es kini keluar dari diagram sihir tempat Kuroko berdiam, menusuk Salamander yang kini menjadi marah, ia segera membalikkan badan dan melesat kearah Kuroko. Namun sebelum ia sampai, Akashi segera menahannya.
"Damage yang ditimbulkan cukup besar. Kuroko, kita bertahan dalam strategi seperti ini untuk beberapa kali."
"Baiklah Akashi-kun, serahkan padaku!"
Taktik yang digunakan mereka memang taktik yang sempurna untuk saat ini, namun mereka tidak mengetahui bila semakin tipis HP atau Health Point yang dimiliki oleh Salamander, semakin kuat juga serangan dan sihir yang dikeluarkan olehnya.
SLASHH—
"Akashi-kun!" Kuroko berteriak dari arah kejauhan, ketika ia melihat Akashi terjatuh karena serangan mendadak yang dikeluarkan oleh Salamander. Tiba-tiba darah keluar dari pelipis kepalanya, tepat dimana Kuroko menutupnya dengan potongan kemeja miliknya. Beberapa luka baru akibat serangan dari Salamander juga membuat beberapa luka yang menimbulkan darah keluar dari lengan dan badan miliknya.
Akashi memegang bagian sekitar perutnya, dimana Creature itu berhasil membuat luka yang cukup dalam. "Kuroko," suaranya mulai terengah, Kuroko segera mendekatinya, membuat sebuah barrier yang tercipta dari Es, sehingga Salamander cukup memakan waktu untuk menembusnya.
"Kita akan ganti strategi. Dengan keadaanku yang seperti ini tidak memungkinkan untuk bergerak cepat, lagipula Magic Point-mu juga semakin menipis. Kuroko, pakailah Magic terkuat yang kau miliki, seberapa lama kau merapalkannya, aku akan memberimu waktu untuk menahan Salamander itu."
"Sihir terkuatku.. 1 menit Akashi-kun, beri aku 1 menit penuh untuk merapalkannya."
"Baiklah, selama 1 menit itu, aku akan berusaha menahan Salamander itu sebisaku. Kau fokus dengan Spell milikmu dan jangan berhenti apapun yang terjadi."
"Tapi, Akashi-kun—" Rona wajah Kuroko kini menunjukkan wajah tidak setuju.
"Ini satu-satunya kesempatan kita, Kuroko. Tidak ada kata protes, mengerti?" Tangan Akashi kini menyentuh sebelah pipi milik Kuroko. "Kau pasti bisa."
Meskipun tidak setuju, akhirnya Kuroko mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain, satu-satunya serangan yang mampu membuat damage cukup besar adalah serangan Es miliknya. Bila itu satu-satunya yang akan menyelamatkan mereka, meskipun MP miliknya habis sekalipun, ia akan melakukannya.
Diagram sihir kini mulai muncul dibawah kaki Kuroko, dimana lambang pentagram dengan lambang Realm of Death muncul. Ia mulai merapalkan sihir terkuat miliknya, dimana spell itu tiba-tiba menarik perhatian sang Salamander.
"Lawanmu ada disini." Akashi melemparkan beberapa bola api, membuat perhatian Salamander kini kembali padanya.
'Bila ini bisa menyelamatkan kita berdua,' Kuroko kini melihat kearah dimana Akashi menahan Salamander tersebut. Dibanding awal, kekuatan sihir, fisik dan bahkan kecepatan Creature itu berkembang hingga 3x-nya, dan ini merupakan hal terburuk meninggalkan Akashi yang menahan mahkluk tersebut dengan tubuhnya yang sudah rapuh.
"Akashi-kun, menyingkir!" Diagram Spell miliknya kini telah sempurna, Kuroko mengarahkan sihir itu pada sang Salamander.
[Kuroko Tetsuya / Magic Spell – Mortal Silence / Accepted ]
Serangan itu menyerupai sebuah es yang merambat perlahan, membekukan Salamander secara perlahan mulai dari kakinya. Creature yang hendak lari itu kini tertahan oleh Akashi yang mengunci gerakannya agar tidak bisa kabur. Namun, sebelum sihir itu benar-benar membekukan Salamander, ia menyerang pemuda bersurai Scarlet itu. Menghempasnya dengan api miliknya dan membuat Akashi yang lengah terpental dan membentur dinding dengan cukup keras, sehingga kesadarannya kini lenyap.
Es yang berambat itu kini telah membekukan Salamander itu sepenuhnya, lalu secara perlahan retak dan hancur secara berkeping.
"Akashi-kun! Akashi-kun!" Kuroko kini mulai panik, meskipun mereka telah berhasil mengalahkan Creature itu, tetapi kondisi pemuda bersurai Scarlet ini membuatnya begitu shock.
Beberapa kali Kuroko mencoba untuk memanggil Akashi, namun hasilnya tetap nihil. Ia tahu bahwa ia tidak bisa berlama-lama berdiam ditempat ini. Ia harus keluar, setidaknya bertemu dengan rekan lainnya.
"Bagaimana ini.. Bagaimana caraku menentukan cermin yang akan membawa kita pada dunia yang sesungguhnya? Berpikirlah Tetsuya, ayo berpikir! Pasti ada jalan, jalan keluar untuk menyelamatkan Akashi—jalan.."
Kuroko mengepalkan tangannya, ia memeluk badan Akashi yang semakin lama semakin mendingin. Disaat ia nyaris putus asa, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ingatan yang pernah dimimpikannya muncul.
"Kau pernah mendengar tentang dunia cermin, Tetsuya?"
"Dunia—Cermin?"
"Ya, Diseluruh dunia ini, sebenarnya kita terlihat oleh Two Way Mirror. Mungkin seseorang—atau sesuatu sedang melihat kita dibalik cermin itu."
"Oh ayolah, - jangan bercanda seperti itu, terdengar mengerikan."
"Hahaha~ Aku tidak bercanda, Tetsuya. Bila kau mau mencobanya, letakkan tanganmu dicermin itu. Lalu..."
"Lalu?"
Sosok yang kerap tidak dapat diingat oleh Kuroko itu tersenyum. Ia mengambil salah satu tangan Kuroko lalu meletakannya tepat didepan sebuah cermin, dimana mereka berdua berada saat ini.
"Hal yang selanjutnya kau lakukan adalah memeriksanya, bila tanganmu tepat menyentuh permukaan cermin, berarti kau berada dalam dunia nyata. Tetapi—bila kau dapat menembus permukaan itu, itu artinya kau sedang berada dalam dunia lain, Tetsuya."
Memang ini terdengar tidak masuk akal, tetapi setidaknya ia harus mencobanya. Karena ini adalah satu-satunya yang ia ingat dari sekian banyak memori yang terpendam. Mungkin memori itu memiliki maksud untuk memberitahukannya tentang dunia cermin ini.
"Tidak ada jalan lain, biarkanlah aku bertaruh untuk ini." Kuroko kini bangkit berdiri sambil memapah Akashi disampingnya. "Kumohon."
Tangan Kuroko kini mengarah pada cermin pertama, tidak ada reaksi apapun. Kuroko mulai khawatir, dari 3 kemungkinan berarti tinggal tersisa 2. Lalu, pada cermin kedua.
Masuk! Tangan Kuroko yang memegang cermin itu berhasil memasuki cermin itu! Kuroko kini segera mengampiri Akashi yang masih tidak sadarkan diri. Tetapi, entah mengapa suatu hal janggal menghantuinya.
Kuroko kini melihat kearah cermin ke-3, ia mendekat kemudian meletakkan sebelah tangannya lagi didepan cermin. Masuk! Ternyata cermin ke-2 dan 3 sama-sama bisa ia masuki. Tetapi—manakah yang akan membawa mereka ke jalan yang sesungguhnya? Ia takut bila ia salah memasuki cermin itu, mereka akan kembali ke tempat semula..dan itu akan memakan cukup banyak waktu, terlebih Akashi yang tidak sadarkan diri saat ini.
'Lihatlah, bagaimana pantulan dirimu di cermin itu, Tetsuya.'
Seperti memori yang tiba-tiba masuk, kata-kata itu langsung terniang dibenak pikiran Kuroko. "Pantulan..?"
Kuroko kini melihat kearah cermin ke-2, dimana bayangan dirinya terdapat pada cermin tersebut. Lalu kakinya kini melangkah pada cermin ke-3, dimana bayangannya tidak terpantul sama sekali.
'Bayangan adalah bukti bahwa kau berada dalam dunia dimana kau berdiam, bila bayanganmu terdapat disana, berarti kau berdiam ditempatmu saat ini. Dan bila sebaliknya—'
"Bila sebaliknya, itu berarti cermin itu akan membawamu pada dunia lain!" Kuroko kini meneguhkan hatinya, satu-satunya hal yang bisa ia jadikan pegangan pada saat ini.
Maka dari itu, ayo bertaruh!
Kuroko menelan ludahnya, kini ia dan Akashi berdiri di depan cermin ke-3.
"Akashi-kun, semoga ini bisa mengantarkan kita pada tempat yang lainnya." Kuroko melihat kearah samping, dimana Akashi yang tidak sadarkan diri terpapah disebelahnya.
Lalu, Kuroko dan Akashi kini memasuki dunia cermin itu.
FLASHH—
Semua berubah menjadi putih, dan hal yang selanjutnya ia lihat adalah sebuah ruangan berhias Dummy yang duduk manis dibeberapa tempat. Lalu—sosok yang ia kenal berada disana.
"Kurokocchi~~!" Kise yang menyadari kehadiran Kuroko dan Akashi segera menghampirinya.
"Akashi?" Ogiwara—yang ternyata telah berkumpul bersama Kise dan Aomine kini melebarkan matanya, melihat Akashi yang tidak sadarkan diri, ia segera menghampiri pemuda bersurai Scarlet tersebut. "Apa yang terjadi disana, Kuroko?"
"Kita berdua terperangkap didunia cermin, dan Akashi-kun terbentur cukup keras. Ketika aku terbangun ia sudah mengeluarkan banyak darah, tetapi kita terus melanjutkan. Saat kita berdua nyaris sampai di akhir, Creature yang cukup kuat muncul dan menyerang kami—lalu Akashi terluka parah hingga tidak sadarkan diri." Kuroko berusaha mempersingkat hal yang baru saja ia alami sebelumnya.
"Kurasa ia kekurangan darah," Aomine memegang sebelah tangan Akashi. "Bila diteruskan, ia bisa meninggal."
"Eh!?" Kuroko memang mengira ini akan menjadi hal yang buruk, tetapi ia tidak mengira bahwa akan seburuk ini keadaan Akashi saat ini. "Apa ada yang bisa kita lakukan untuk menolong Akashi-kun?"
"Hmnn, mungkin ada, Kurokocchi," balas Kise. "Bila kita mencari satu-satunya buah merah dari Tree of Remedy, mungkin kita bisa mengembalikan darah Akashi yang terkuras. Tetapi—kita harus keluar dari tempat ini terlebih dahulu-ssu." Jawab Kise kemudian.
Kuroko mengangguk."Apapun akan kulakukan untuk menolong Akashi-kun. Kise-kun, Aomine-kun, Ogiwara-kun, tolong bawa aku ke tempat itu."
'Tunggu aku, Akashi-kun. Aku pasti akan membawakan buah itu padamu!'
_TBC_
