"Bila kita mencari satu-satunya buah merah dari Tree of Remedy, mungkin kita bisa mengembalikan darah Akashi yang terkuras."
"Apapun akan kulakukan untuk menolong Akashi-kun. Kise-kun, Aomine-kun, Ogiwara-kun, tolong bawa aku ke tempat itu."
Tunggu aku, Akashi-kun! Kumohon, bertahanlah hingga kami berhasil mendapatkan buah itu!
I swear with my own pride, loyality and all of my life,
That i will never, and ever betrayed you.
I would never told a lie to you,
And I will do anything to make you happy.
I'm nobody, someone who had abandoned for a long century.
But, when I meet the little boy who looked at me sincerely, with a sparkle eyes he hold me tenderly.
Told me that he will become my best friend.
And from that day, I declare everything.
I will vow my own life to protect him.
Always.. beside him until death perish my own life
Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction
"Realm of Death" by Zelvaren Yuvrezla
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rating : T
Main Pairing : AkaKuro
Side Pairing : OgiAka / AoKise / MuraHimu / AkaAka
"Biar aku yang membawanya," Ogiwara mengajukan diri, mengangkat tubuh Akashi yang terbaring lemas karena kekurangan darah. Ia membopong Akashi dengan mendekapnya di kedua lengan panjangnya, membiarkan pemuda berhelai scarlet menyandarkan kepalanya di dada bidang Guardian-nya. "tenang, aku pernah mengalami situasi yang mirip, aku tahu bagaimana cara membawa Akashi dengan cara yang aman." Ogiwara memecahkan situasi genting saat ini, setidaknya senyumannya meredakan kepanikan semuanya. Meski hanya sesaat. "Tetapi, kita harus cepat." Ujarnya kemudian dengan mimik wajah yang serius.
"Kise-kun, Aomine-kun, apa kau familiar dengan tempat ini?" Kuroko segera menengok kepada dua NPC lainnya, berharap kedua sosok itu mengetahui tempat dimana mereka berdiam.
Kise mengangguk cepat. "Aku tahu tempat ini-suu! Setelah melewati lorong didepan, portal terdekat akan terlihat. Ayo, ikuti aku!" Kise segera melangkah, namun Aomine menghentikan langkahnya ketika pemuda berparas manis itu hendak melangkah lebih jauh.
"Biar aku yang berjalan duluan, kau tidak dalam kondisi optimal, Kise. Lebih baik kau berjaga dibelakang Ogiwara dan Kuroko." Aomine memanggil big hammer miliknya, seolah berjaga-jaga bila demonic, evil NPC atau hal lain yang tidak terduga menyerang mereka secara mendadak. "Ikuti aku." Kise mengangguk, akhirnya ia mengikuti saran Aomine untuk menjaga Kuroko dan Ogiwara dari belakang.
Beruntunglah lokasi lorong yang telah usang dan rapuh itu terbebas dari demonic atau evil NPC, setidaknya mereka bisa langsung menuju Gate dan melakukan Dimention Warp.
"Aku khawatir bila kita kembali dulu ke Forest of Death, kondisi Akashi akan semakin parah." Ogiwara kembali berbicara ketika mereka nyaris mendekati Gate.
"Tapi tidak ada acara lain yang bisa kita lakukan, semua akses menuju tempat lain hanya bisa dilakukan pada Main Gate-ssu." Kise kembali berbicara.
"Ada," Aomine lalu menambahkan. Semua perhatian kini teralih pada pemuda tan tersebut. "Bila kau memiliki Wing of Barachiel, kau tidak usah kembali pada main gate."
"Biar begitu, kita tidak memiliki benda tersebut, bukan, Aomine-kun?"
Aomine berpikir sejenak, seolah mengingat kembali suatu hal yang penting dalam ingatannya. "Kuroko, coba kau cek menu items milikmu, seharusnya setiap player memiliki satu benda itu."
Pemuda icy blue itu mengerjabkan matanya, namun ia bergegas untuk mengecek items yang dimilikinya. "Ada, Aomine-kun!"
"Aku baru tahu setiap player diberikan items seperti ini, Aominecchi."
"Itu hidden items, terkadang player tidak pernah memeriksa items yang dimilikinya, padahal Emperor memberikan stok itu secara cuma-cuma," Ogiwara kembali membalas perkataan Kise. "Ayo, kita tidak memiliki waktu banyak."
Kuroko mengangguk. Ketika mereka tiba di Gates terdekat. Kuroko segera menggunakan items yang dimaksud oleh Aomine. "Oh ya, kemana kita akan pergi?"
"Serpent's Cave."
[Items – use item – Wing of Barachiel – Order Accepted – Location : Serpent's Cave]
Dimention Warp terjadi, dan ketika mereka membuka mata, mereka tiba disebuah gua yang dipenuhi oleh lumut-lumut. Langit diatas mereka bukanlah langit cerah melainkan langit gelap dengan red moon yang menjadi pusatnya. Cahaya yang terdapat di tempat itu sebatas cahaya yang diciptakan dari obor-obor di sekitar gua tersebut.
"Aku tidak pernah menyukai tempat ini-ssu." Kise bergidik, memandang kearah sekitarnya. Serpent's Cave adalah satu-satunya tempat yang memiliki Tree of Remedy, hawa dingin dapat ia rasakan ketika ia sampai di tempat ini. Sesuai dengan nama tempatnya, Gua tersebut dipenuhi oleh berbagai macam ular. Ia kemudian mengeluarkan twin sword kecil miliknya, berjaga-jaga bila ada ular yang tiba-tiba menyerang mereka.
"Aku tahu dimana letak pohon itu, ayo kita segera berjalan." Aomine mengisyaratkan agar yang lainnya mengikuti jejaknya.
Tempat tersebut nyaris tidak memiliki hawa kehidupan mahkluk panas, beberapa kali mereka berjumpa dengan berbagai macam ular yang nyaris menyerang mereka. Beruntunglah Kise dan Aomine yang cepat tangkap, dan juga kepekaan Kuroko pada tempat yang remang-remang tersebut.
"Mukamu seperti habis bertengkar dengan seseorang, Ogiwara-kun." Tiba-tiba Kuroko membuka topik. Ketika ia melihat keadaan pemuda scarlet yang masih tidak sadarkan diri, tanpa sengaja perhatiannya kini teralih pada pemuda yang menggendong sosok mungil Akashi.
"Eh?" Pemuda cantaloupe itu menengok, pantulan tangerine miliknya menatap lurus pandangan aqua di sampingnya.
"Ada apa, Ogiwara-kun? Tampaknya kau sedang memiliki masalah?"
Kise yang mendengar langsung ikut berbicara. "Apa? Apa? Ada apa, Ogiwaracchi? Oohhh.. apa jangan-jangan yang sedang merindukan NPC lain yang pernah satu tim denganmu ya?" tanya Kise penasaran sambil menunjukkan senyuman lebarnya.
"Yah, apa boleh buat. Takdir sudah ditentukan oleh Emperor, dan kita tidak memiliki pilihan lain kecuali menjalaninya. Mungkin suatu saat kau akan bertemu dengannya." Ucap Aomine kemudian, meski komentar yang diucapkannya seolah tidak memiliki rasa simpatik apapun.
Ogiwara menunduk kebawah, dimana ia bisa melihat rona wajah Akashi yang tidak sadarkan diri. "Pertemuanku terakhir dengannya tidak berjalan dengan mulus. Aku—takut ia membenciku."
Untuk beberapa saat Kuroko diam untuk melihat ekspresi pemuda itu, sebelum ia kembali berbicara. "Aku tidak tahu apa persoalanmu, Ogiwara-kun. Tetapi, bila kau memiliki masalah dan berujung dengan hal yang tidak baik, bagaimana bila kau meminta maaf bila kau bertemu lagi dengannya?" tanya Kuroko kemudian.
"Meminta maaf ya.." Ogiwara mendongak, tersenyum seadanya. 'Setelah hal yang kuperbuat padanya, apakah ia mau memaafkanku?' tanyanya dalam hatinya.
"Hey, maaf memotong pembicaraan kalian. Kita sudah sampai." Tunjuk Aomine dengan ibu jari yang ia tuding kedepan.
Setelah mereka melewati lorong gua, sebuah tempat berukuran luas kini menanti mereka. Terdapat sebuah pohon besar yang menjadi sentral dari tempat itu. Disekelilingnya terdapat sebuah danau yang begitu luas, dimana jalan setapak adalah satu-satunya jalan yang menghubungkan tempat mereka berpijak dengan sentral tempat tersebut. Beberapa buah tergantung di pohon itu. Buah kemerahan yang menjadi pemanis mata ditengah tempat yang gersang dan dipenuhi oleh akar-akar yang telah mati. Anehnya hanya pohon itulah yang tetap hidup di tempat seperti ini.
"Aku ingin segera memetik buah dari pohon itu, tetapi tidak semudah ini kita akan mendapatkannya, 'kan?" Ogiwara memandang kearah sekitar dimana gelombang air mulai berubah, sebuah ekor besar kini keluar dari permukaan danau yang luas tersebut.
"Berhati-hati semua! Ular akan datang!" Aomine berteriak ketika ia mengisyaratkan semua untuk berpencar melalui bahasa tubuhnya. Ketika mereka melompat, saat itu juga ekor dari monster itu menerjang tempat mereka berdiam sebelumnya. Ekor yang dipenuhi oleh sisik yang kasar dan semburan air dari danau membasahi spot tersebut.
Kuroko menelan ludahnya, masih memandang takjub mahkluk yang ada didepannya saat ini. Sebuah ular yang melebihi besar ikan paus itu muncul ke permukaan. Setengah badannya masih terendam di air, sedangkan ekornya mencuat keluar. Bahkan Kuroko harus mendongak ketika ia melihat kepala sang ular. "A..Apa ini?"
"Ouroboros. Midgard Serpent, penjaga Tree of Remedy." Ogiwara yang berdiam disebelahnya menjelaskan. "Bila dulu ketika kau masih di Bumi, orang-orang menyebutnya sebagai mahkluk mitologi kuno, Jormungandr."
"Dia adalah ular yang berbahaya-ssu. Kita tidak bisa melawannya! Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan hanya mencuri buah itu kemudian segera pergi dari tempat ini." Pemuda blonde tersebut berbicara dari atas mereka. Kise dan Aomine berdiam di sebuah pijakan kecil di atas tempat Kuroko dan Ogiwara berdiam.
Di bandingkan dengan besar tubuhnya, monster ini memiliki gerakan yang gesit. Ketika Kise mencoba untuk menyerangnya, monster ini dapat dengan mudah menghindarinya.
Serpent ini memiliki wujud yang mirip dengan ular, tetapi modifikasi tubuhnya mungkin menyerupai seekor naga air yang tidak memiliki sayap. Sisiknya terlihat begitu keras dengan beberapa bagian terbuka, membuat tampilan monster ini menyerupai seekor naga laut.
Aomine meloncat, menerjang ular besar itu dengan kapaknya. Bila dibandingkan, ukuran tubuh sang NPC mungkin hanya sebola mata sang ular. Ular tersebut sangat besar, juga kuat. Kapaknya berhasil mengenai sang ular, tetapi bahkan luka tidak timbul dari ular tersebut. "Tck! Kekuatanku kurang!" Beberapa kali Aomine mencoba untuk menyerang, tetapi hasilnya tetap sama. Sekuat apapun dirinya saat ini, ia hanya bisa melukai sebagian kecil tubuh sang ular dengan tubuhnya.
Tanpa ia sadari, ekor dari sang ular menerjangnya keras, membuat tubuh Aomine terpental keatas. Sang Serpent kemudian membuka lebar mulutnya, seolah akan memakan pemuda tan ini. Saat itu juga Kise segera melempar batu berukuran besar hingga batu itu membentur bagian leher dari sang ular, membuat ular itu tergelincir. Namun sayangnya, mulutnya masih tetap mencapit bagian tubuh dari pemuda itu.
Sebelah tangan Aomine, tepatnya pada bagian bahu hingga setengah lengannya tercapit dengan sempurna, membuat kulit pemuda tan tersebut robek. "Urghh!" Darah bermuncratan dari lengan miliknya, sedangkan Kise cepat-cepat meloncat untuk membawa Aomine.
"Aominecchi!"
Ular tersebut mulai marah, ketika ia melihat Aomine yang pergi bersamaan dengan Kise, Ekornya hendak menerjang keduanya sebelum beberapa pelatuk dari handgun milik Kuroko mengenainya.
Mata keputihan itu memandang sosok Kuroko, ekornya ia gerakan dengan cepat hingga berhasil melilit pemuda icy blue itu dengan erat.
"Kurokocchi!" Kise yang baru saja menurunkan Aomine ke tempat yang menurutnya aman langsung menerjang ekor sang ular, berusaha untuk membebaskan master-nya.
Berkat bantuan Ogiwara yang menciptakan sebuah tanah tajam yang menghantam sang ular dari bawah, akhirnya Kuroko dapat terbebas. Namun perhatiannya kini teralih pada Ogiwara yang masih mendekap Akashi.
Ogiwara mempererat pelukannya ketika ekor dari naga tersebut menghantam permukaan dari tempat tersebut, membuat beberapa batu menghujani mereka. Karena resiko menghindari serangan sambil membawa Akashi akan tinggi, akhirnya pemuda itu tetap berdiam disana, menjadikan tubuhnya sebagai pelindung bagi Akashi.
"Ogiwara-kun! Akashi-kun!"
Beberapa bebatuan menghantam tubuh Ogiwara, namun pemuda cantaloupe ini tidak bergerak sama sekali, benar-benar melindungi sosok Akashi yang masih tidak sadarkan diri. "Kh!" darah keluar dari mulutnya, bahkan beberapa bagian dari tubuhnya lecet karena terkena oleh hujan batu tersebut.
Aomine yang mulai bisa bergerak lagi kemudian berteriak pada Kuroko, "Kuroko, jadikan aku guardian kedua-mu! Kekuatanku sebagai NPC yang tidak memiliki master tidak akan berjalan dengan mulus." Aomine segera memutuskan. "Biarkan aku membantu kalian."
Ya, kekuatan Aomine memang tidak maksimal karena ia bukanlah seorang Guardian, NPC yang tidak memiliki master tidak memiliki kekuatan lebih untuk bertarung, berbeda ketika ia menjadi Guardian.
'SPELL NAME A-O-M-I-N-E-D-A-I-K-I, Code Activated DX2005' Aomine berbisik pada Kuroko melalui komunikasi diantara mereka berdua, suara yang hanya bisa didengar oleh Kuroko.
Kuroko mengangguk dengan cepat.
[Summon – Aomine Daiki Activated]
"Ah.. akhirnya aku bisa mengeluarkan seluruh kekuatanku," Aomine tersenyum lebar. "Kise! Bantu aku!" Detik berikutnya Kise menjadikan telapak tangannya sebagai pijakan untuk melempar Aomine. Sebelah dari twin sword milik Kise dilemparkan pada Aomine, membuatnya membawa Kapak di lengan kanan dan pedang kecil di lengan kirinya.
Luka-luka yang diterima olehnya melalui pertarungannya tadi telah dihiraukannya. Ia tidak peduli ketika robekan kulit itu bergesekan dengan udara, meskipun terasa sakit, tetapi Aomine menghiraukannya. Ia malah senang, mukanya tersenyum dengan lebar. Sudah lama adrenalinnya tidak melonjak seperti saat ini. Ya, Aomine sedang berperang, ia senang untuk menemukan musuh yang kuat. Pemuda tan itu melesat menuju sang Serpent secara serentak. Ular besar itu bergerak cepat, tetapi kapak Aomine berhasil menempel pada tubuhnya.
Dalam hitungan detik, sebelah tangannya yang memegang pedang milik Kise ditancapkan di tubuh sang ular, ketika kedua senjata itu telah menempel pada tubuh sang ular, Aomine menancapkan kapaknya pada tempat baru, sehingga melalui tempat-tempat baru itu, ia dapat berjalan mendekati kepala sang ular.
"WAKTUMU SUDAH HABIS!" Aomine berteriak sambil mengayunkan kapaknya, mengarahkan pada sebelah mata si ular. Setelah bersusah payah, dengan kegesitan Aomine untuk menghindari serangan dari buntut sang ular, akhirnya ia dapat mencapai titik lemah mahkluk tersebut. "KISE!"
Pandangan sapphire milik Aomine memandang pantulan citrine yang sudah menunggunya dari tadi. Kise segera melompat ketika sang ular meronta kesakitan, dengan mudah ia dapat berlari menuju kepala sang ular dan menusukkan sisa pedangnya pada sebelah mata yang tersisa.
Darah mengalir dari kedua mata sang ular, membanjiri danau tersebut dengan darah keunguan. Ketika Aomine dan Kise mengira semua akan aman, Sang Serpent malah meronta lebih keras, mementalkan Aomine dan Kise dalam sekali gerakan. Ekornya yang bergerak secara asal kini mengarah kepada segala arah, membuat stalakmit yang menempel di atas permukaan gua jatuh menghujani mereka.
Gua tersebut bergetar, gempa dengan skala yang besar terjadi ketika mahkluk buas itu mengamuk. Kuroko sendiri sudah kehabisan energy akibat serangan awal tadi, sedangkan Ogiwara tidak bisa berbuat banyak karena sumber pemberi energy miliknya—yaitu Akashhi tidak sadarkan diri—yang menjadikan kondisinya tidak memungkinkan untuk bertarung.
Akashi tiba-tiba terbangun, nafasnya kembang-kempis, seolah udara disekitarnya akan diambil darinya.
"Akashi! Hey! Kau tidak apa-apa!?" Ogiwara kaget menemukan Akashi yang sudah sadarkan diri, tetapi kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan.
Pemuda scarlet itu meletakkan kedua lengannya di lehernya, seolah oksigen yang masuk kedalam tubuhnya berhenti untuk mengalir. Ia meronta kesakitan.
"Ogiwara-kun! Awas!"
Ogiwara yang panik bahkan tidak sempat melihat saat ekor sang Serpent mendekat kearahnya, menerjang tubuhnya hingga dirinya dan Akashi terpental. Tubuh Ogiwara terlonjak membentur dinding gua, sedangkan tubuh Akashi melayang ke tempat yang berlawanan dengan dirinya.
"Ugh.."Akashi merasakan nyeri yang begitu dasyat dari tubuhnya. Kepalanya terasa sangat pusing, darah kembali mengucur di pelipis kepalanya. Badannya serasa remuk akibat benturan tubuhnya dengan bebatuan di gua tersebut, lalu nafasnya—ia sulit untuk bernafas.
"Akashi-kun!" Kuroko hendak melompat kearahnya, namun sebuah batu melayang kearahnya, batu yang diciptakan karena amukan sang ular.
"Sial! Mahkluk sialan!" Aomine mengumpat, badannya yang telah mencetak dinding gua dipaksakan untuk bangun. Ia dapat merasakan beberapa vertebra miliknya mungkin patah akibat benturan keras itu. Tangannya yang memegang kapak ia lemparkan menuju kepala sang Serpent, Aomine meleparkan senjatanya dengan sepenuh tenaga miliknya, hingga tubuhnya kini terpaksa berbenturan lagi dengan dinding gua.
Namun usahanya tidak sia-sia, Kapak tersebut berhasil mengenai tengah kepala sang ular dan nyaris membelahnya menjadi dua. Saat itu jugalah, sang Ouroboros berhenti untuk bergerak sebelum tubuhnya lemas dan terjatuh menuju danau.
"A..akashi-kun!" Kuroko terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya ketika ia hendak berdiri akibat benturan keras dari batu besar yang menghantam perutnya.
Kise segera membantu Aomine untuk berdiri, Ogiwara dan Kuroko juga segera berjalan menemui Akashi yang kini sudah semakin sekarat. Namun ketika mereka hendak menemuinya, sebuah suara muncul menghentikan mereka.
"Fooling ignorant," suara itu terdengar begitu dingin, pemuda dengan white coat panjang yang menghiasi bahunya kini turun. Melayang secara perlahan menuju kebawah, tempat dimana Akashi Seijuurou tergeletak, berusaha untuk menghirup oksigen
Bila pakaian yang dikenakan oleh player dan NPC berwarna hitam pekat, seluruh pakaian yang dikenakan olehnya terlihat begitu putih. coat, kemeja, celana, bahkan boots yang dikenakan olehnya semua berwarna putih. Lalu hal yang membuat mereka semua terkejut adalah.. Akashi. Sosok yang muncul dihadapan mereka memiliki rupa yang begitu mirip dengan Akashi Seijuurou. Hanya saja pantulan mata mereka berbeda, bila Akashi Seijuurou memantulkan sepasang deep crimson, pemuda yang berdiri di depannya ini memiliki pantulan crimson-yellow gold. Sepasang manik heterochrome.
"Darah yang kalian ciptakan adalah madu bagi Ouroboros lainnya. Tidakkah kalian belajar bahwa induk mahkluk ini akan datang ketika mencium darah anaknya?" senyum sinis terpancar dari sosok tersebut.
Ketika Aomine, Kise dan Kuroko masih mematung melihat sosok tersebut, Ogiwara memandang tidak percaya ketika sosok Emperor langsung mendatangi mereka seperti ini.
Seketika itu juga, seekor Serpent lain muncul dari permukaan air, sosok ular yang jauh lebih besar dibandingkan ular yang dilawan oleh mereka sebelumnya. Iris heterochrome itu menatap sepasang bola mata dari sang ular. Satu gertakan dari tangannya, dan sang Serpent langsung terdiam, sebelum akhirnya menunduk lalu perlahan kembali masuk pada permukaan air dan meninggalkan mereka.
Pemuda itu mendengus ketika melihat beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan yang campur aduk. "Hanya pengikutku yang kubiarkan menatapku, dan bagi kalian yang tidak melayaniku," pupil matanya seolah membesar, menatap setiap insan yang melihat kearahnya. "berlutut."
Saat itu juga, tubuh Aomine, Kise dan Kuroko roboh secara seketika. Ogiwara yang masih terpana pun cepat-cepat merobohkan dirinya sendiri, akan menjadi pertanyaan bila ia tidak menjatuhkan dirinya sendiri ketika yang lainnya terjatuh oleh perkataan Emperor.
"Emperor? Tapi—kenapa wajahnya dengan Akashicchi—" Kise tidak meneruskan perkataannya, ia bahkan masih shock dengan gerakan tubuhnya yang tiba-tiba terperanjat dengan sendirinya.
"Seijuurou, lihatlah dirimu sendiri," pandangan heterochrome itu memandang pantulan deep crimson yang memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau adalah kunci, tidak kuizinkan bila kau meninggal sebelum semua permainan kita dimulai."
Sosok Emperor mendekat kearahnya. Sebelah tangannya terangkat keatas, dimana buah dari Tree of Remedy melayang kearahnya. Beberapa genggaman buah itu ia taruh didepan dada milik Akashi, membuat buah tersebut menembus pemuda scarlet yang masih tidak berdaya. Detik selanjutnya, ia mendorong pemuda yang terbaring itu menggunakan angin sehingga kedua manik deep crimson itu dapat melihat dengan jelas heterochrome yang memandangnya, kedua lengannya membingkai wajah milik Seijuurou yang masih menahan sakit. Pemuda itu menempelkan dahinya, sehingga kedua dahi mereka saling bersentuhan. Seketika itu juga, Akashi Seijuurou melebarkan matanya, luka-luka yang diterimanya perlahan menutup, nafasnya kembali seperti semula, dan luka di kepalanya menghilang bagaikan sebuah sulap. Setelah itu, kesadarannya hilang dan tubuhnya terjatuh pada dada bidang sang Emperor.
Tidak lama, Emperor kembali menghentakkan tangannya, membuat sebuah pusaran api mengitari Akashi, namun api tersebut tidak membakarnya, melainkan meletakkannya pada dasar tempat mereka berpijak. Setelah itu, Emperor membalikkan badannya, seolah ia akan kembali pergi.
"Emperor!" Ogiwara berteriak dari kejauhan, bahkan tidak sekalipun pandangan mata mereka berjumpa, padahal mata Ogiwara terus tertuju pada satu-satunya 'master' baginya.
Emperor tidak menengok kebelakang untuk melihat Ogiwara. Ia hanya menutup matanya sebelum memanggil nama seseorang. "Chihiro." Lalu pemuda dengan helaian Payne's Gray itu muncul dari atas, melompat hingga tiba di sebelah Emperor. Tidak lama sebuah cahaya menerangi mereka, sebelum keduanya kini menghilang bagaikan diterpa oleh angin.
"Tck." Ogiwara mengingit bibirnya, membuang mukanya saat ia melihat Mayuzumi Chihiro memandangnya untuk sesaat sebelum ia pergi bersama dengan Emperor. Entah maksud apa yang diberikan melalui pandangan datar pemuda minim ekspresi itu, yang jelas ia memandang Ogiwara untuk sesaat.
"Akashi-kun!" Kuroko Tetsuya kini berlari mendekati pemuda scarlet yang tergeletak, menghiraukan rasa sakit di perutnya. Ia mendekatkan telinganya pada dada sang pemuda, memastikan bila detakan jantungnya masih berfungsi.
"Bagaimana Akashicchi, Kurokocchi?" Kise bertanya dari kejauhan, mencoba untuk membangunkan Aomine yang meringis kesakitan ketika pemuda manis itu berusaha membangunkannya.
"Sialan!" umpat Aomine, ia baru merasakan sekujur tubuhnya bagaikan bangunan rapuh yang siap hancur kapan pun. "Oi, Kise! Ogiwara! Aku tidak tahu bahwa Akashi itu duplikat Emperor! Kenapa wajah mereka sangat mirip!?"
"Mana aku tahu-ssu! Tidak ada NPC yang pernah melihat langsung sosok Emperor." Kise mendekatkan dirinya disamping Aomine, membantunya untuk berdiri dengan membiarkan lengan yang tidak robek itu melingkar di pudaknya dan Kise membantunya berjalan.
Ogiwara menghela nafas, sebelum akhirnya ia berdiri dan mendekat kearah Akashi dan Kuroko. "Bagaimana keadaannya?"
"Detak jantungnya stabil, lalu lukanya—seolah menghilang dalam sekejab." Pandangan aqua itu masih memandang tidak percaya kejadian yang baru saja terjadi. Mengapa sosok yang dikatakan sebagai Emperor memiliki paras yang sama dengan Akashi? Sebenarnya apa hubungan diantara keduanya?
"Sekedar peringatan, lebih baik kita segera mengungsi ke main gate, aku merasa tidak nyaman berada di sini." Aomine mendekat, kemudian memandang Kuroko dan Ogiwara.
"Aku masih bisa membawanya." Tanpa Kise bertanya, Ogiwara langsung memberikan jawaban ketika pandangan tangerine-nya bertemu dengan pantulan citrine milik Kise. Memang dibandingkan dengan Kise, lukanya jauh lebih parah karena ia berusaha melindungi pemuda scarlet ini. Kise mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita pergi-ssu." Pinta Kise sambil menengok keadaan sekitarnya, takut-takut bila Serpent lain akan muncul dihadapan mereka.
Kuroko ikut membantu Aomine untuk berdiri. "Aomine-kun..terimakasih."
Pemuda navy ini tertawa. "Bicara apa kau, Kuroko? Sudah tugas seorang Guardian untuk menjaga master-nya 'kan?"
Saat itulah, sebuah lekukan senyum muncul di permukaan wajah datar milik Kuroko.
Mereka terus berjalan hingga berhasil menuju gates, lalu kembali pada main gate, Forest of Death, tempat seluruh portal berkumpul.
Setelah mencari tempat yang aman untuk berlindung, mereka memutuskan untuk beristirahat sampai luka-luka yang mereka terima membaik, juga menunggu hingga Akashi terbangun.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan dengan lenganmu, Aomine-kun?" Kuroko memandang ngeri robekan lengan milik Aomine, dimana ia dapat melihat dengan jelas daging dan darah kering yang menempel pada sang NPC.
"Tidak apa, bila MP-mu sudah penuh, aku bisa meminta Kise untuk menyembuhkanku, Kuroko." Aomine menunjukkan senyum lebarnya. "Lagipula luka ini masih luka kecil bagi NPC, aku pernah mengalami hal yang lebih parah sebelumnya."
Saat itu juga Kuroko merinding. Luka seperti itu hanya dianggap kecil olehnya? Lalu luka seperti apa yang dianggap parah bila menurut pemuda tan robekan dilengannya hanya luka kecil?
Kise mendekat kearah Aomine, menempelkan kain dan mengikatnya kearah robekan tersebut. "Oww! Oi, Kise! Pelan sedikit dong!" protesnya pada pemuda blonde tersebut.
Namun menghiraukan perkataan Aomine, pandangan Kise malah memandang sosok Kuroko yang tengah mengerjabkan matanya. "Tenang saja, NPC tidak akan terkena infeksi atau apapun, kami juga tidak bisa sakit seperti deman atau sebagainya, berbeda dengan player."
Kuroko mengangguk, mencerna perkataan milik Kise.
"Sepertinya Akashi tidak akan bangun dalam waktu dekat, bagaimana bila kalian beristirahat dulu?" Ogiwara datang sambil membawakan beberapa potong kayu dan juga buah yang dipetiknya dari gates lain.
Saat ini mereka sedang berdiam di terowongan kecil, dimana spot tersebut cocok untuk menyembunyikan mereka dari sensor demonic.
Kise segera membantu Ogiwara menyusun kayu-kayu dan membuat sebuah perapian kecil, lumayan hangat untuk menjaga suhu tubuh mereka dari udara yang sangat dingin.
Lalu, tidak lama mereka memutuskan untuk beristirahat. Kuroko merebahkan tubuhnya tepat disamping Akashi, memegang sebelah tangan pemuda yang masih tidak sadarkan diri itu kemudian menutup matanya.
Lalu, ketika pemuda icy blue itu terbangun, ia menemukan sosok Akashi telah menghilang dari sebelahnya. Panik, pemuda tersebut langsung bangun, membuat kepalanya sedikit pusing. Namun ia menghiraukan hal tersebut, ia lalu berdiri dan mencari sosok Akashi.
Tidak jauh ketika ia keluar dari terowongan, pandangan matanya menangkap sosok scarlet yang duduk sambil memegang kalung miliknya.
"Akashi-kun?"
"Sampai saat itu, aku masih belum mengetahui apa permintaanku ketika memasuki dunia ini. Tetapi, pertemuanku dengannya mengembalikan ingatan yang seharusnya tidak kuketahui secepat ini," Akashi menengok kebelakang, berjalan menghampiri Kuroko. "Akhirnya aku menemukanmu,"
Iris aqua itu melebar ketika bandannya ditarik begitu saja dan terjatuh pada pelukan pemuda di depannya. "Tetsuya." Bisiknya dengan lembut pada pemuda yang masih shock tersebut.
~TBC~
a/n : Hallo guys, masih ingatkah dengan fic RoD yang udah lama ga apdet ini? /authornya dilempar/ maafkan karena apdet-nya sangat lama m(_ _)m karena beberapa hal dan kendala akhirnya author ga bisa apdet dengan cepet. Semoga author bisa terus lanjutin fic RoD sama ZA pada bulan-bulan ini ya :D
Buat para readers yang sudah mampir buat baca atau bahkan meninggalkan jejak (?) author mengucapkan terimakasih. Terimakasih udah tetep ngikutin RoD :'D Semoga kalian suka sama chap ini ya..sampai berjumpa di chap selanjutnya ;)
With Love,
-Zelvaren Yuvrezva
