ONE PLUS ONE EQUALS LOVE

.

1+1=LOVE

.

.

Pairings: Haehyuk [Main], Yunjae, Chanbaek, 2Min, Myunghyun (Friendship/Bromance), Myungstal.

.

Language: Bahasa with a slight of English in the story.

.

Genre: Romance, Family and Drama

.

Warnings: This is a genderswitch story. I changed a gender for ukes except Myunghyun (Lol it's a crack OTP) but yeah all of the pairings here are my favourite one on each group, I changed the age too. I'm an ELF and a Haehyuk/Eunhae/D&E or (whatever you called it) shipper. I'm Hyukjae biased so sorry if I write mostly on Hyukjae's point of view.

I put the warning already, so please if you don't like it you don't have to read it unless you are really curious but don't blame me later.

.

Disclaimer: Super Junior is not mine, but they're ELF's… so since I'm an ELF so can I called them mine? Lol kidding XD. Donghae and Eunhyuk as well as all the members here owned by themselves. I don't have anything except the plot and this old laptop of mine.

.

.

.

Myungsoo mendecih, "Jangan sok peduli padaku!"

"Aku peduli padamu, kau adikku!" Hyukjae berdiri dari duduknya, ia tak mengerti mengapa myungie kecilnya yang dulu selalu mengikuti kemanapun ia pergi bisa hilang seperti ini. Semakin besar Myungsoo semakin bertingkah dingin dan menghindarinya.

"Aku selalu peduli padamu, kau adikku, myungieku. Aku rindu myungsoo yang dulu" sambungnya lirih.

Myungsoo menatap tajam sang kakak. Ia berbalik meninggalkan ruang tamu setelah mengatakan "Myungsoo yang dulu sudah mati" dengan sangat tegas.


CHAPTER 2


Mansion Jung.

Hyukjae terduduk dilantai sepeninggal Myungsoo, tangannya memukul dadanya sendiri yang terasa begitu sesak diikuti air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. Ia terisak, menangisi keluarganya yang hancur seperti ini. Ia yang menyayangi Myungsoo, adik tirinya yang kini benci padanya, kakaknya Yunho yang tidak suka dengan kehadiran ibu dan adik tirinya, sedangkan ia hanya seorang gadis yang begitu merindukan kehangatan keluarga.

Bibi Min yang tidak sengaja melewati ruang tamu setelah selesai membereskan dapur terkejut melihat sang nona muda terduduk lemas di lantai sambil menangis, ia tergopoh-gopoh menghampiri gadis itu.

"Ya Tuhan, Nona apa yang terjadi?" ia menghampiri gadis yang sudah diasuhnya sejak kecil itu dan memapahnya untuk duduk diatas sofa. Wanita paruh baya itu mengelus lembut rambut Hyukjae dengan sayang.

"Bibi…" Hyukjae terisak, tangannya bergetar.

"Ada apa Nona? Bibi disini, jangan menangis" Bibi Min kini mengelus bahu gadis itu, seperti yang sering ia lakukan disaat Hyukjae kecil menangis dulu.

"Bibi… aku tak kuat" isaknya, dengan tangis yang semakin menjadi.

Bibi Min menarik Hyukjae kedalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis dibahunya.

"ssst… Nona Hyukjae yang bibi kenal adalah orang yang kuat. Bibi akan selalu ada untuk Nona, banyak orang-orang diluar sana yang begitu menyayangi Nona, Nona harus kuat untuk orang-orang yang Nona sayangi."

"Kenapa Myungsoo begitu membenciku Bi? Apa salahku?"

"Tidak Nona, Tuan muda Myungsoo menyayangimu. Ia hanya butuh waktu"


Bibi Min sedang menyiapkan sarapan didapur, mansion keluarga Jung itu tampak begitu sepi, Hyukjae masih tidur dikamarnya dan Myungsoo sedang bersiap-siap untuk berangkat ke lokasi syuting dramanya. Sisa keluarga lainnya hanya sesekali berkunjung kerumah ini.

Bibi Min mendongakkan kepalanya begitu mendengar langkah kaki yang memasuki dapur, ia berbalik dan langsung membungkuk begitu melihat Myungsoo yang datang.

"Selamat pagi, tuan muda ingin bibi buatkan teh atau kopi hangat?" tawarnya.

Myungsoo menganggukkan kepalanya, "buatkan aku teh hangat saja bi"

Bibi Min segera menyeduh teh hijau hangat di sebuah cangkir yang cantik, wanita kepercayaan keluarga Jung itu tersenyum seraya menghidangkan sup ayam gingseng hangat dan secangkir teh yang baru saja dibuatnya.

"Ini Tuan, sup ayam gingseng ini baik sekali untuk meredakan flu"

Myungsoo mengangguk lagi, "Terimakasih bi"

"Apa tuan muda Myungsoo akan sarapan disini atau di ruang makan utama?"

"Disini saja bi" jawab Myungsoo seraya mendudukkan dirinya di meja makan sederhana yang memang ada didapur, meja makan utama terlalu besar untuknya yang hanya akan makan seorang diri.

Bibi Min segera menyelesaikan pekerjaannya dan beranjak dari dapur agar memberikan kenyamanan untuk Myungsoo, Bibi Min menyodorkan kantong kertas kecil dan menyimpannya di sebelah mangkuk sup

"Ini titipan dari Nona Hyukjae, tuan" ujarnya sebelum ia pamit undur diri untuk mengontrol para tukang kebun yang membereskan taman belakang mansion keluarga Jung.

Myungsoo menatap bungkusan kecil itu, obat-obatan pereda flu yang biasa diminumnya. Ia menghela nafas dan memasukkan obat kedalam saku jaket parkanya.

Hyukjae membuka matanya, pandangannya langsung tertuju pada jam dinding yang ada dikamarnya. Jam 10 pagi, 'Myungsoo pasti sudah berangkat ke lokasi syuting' batinnya. Kepalanya berdenyut akibat kurang tidur dan efek setelah ia menangis semalaman. Ia meraih segelas air putih yang memang selalu tersedia di meja sebelah tempat tidurnya dan meminumnya.

Gadis itu meregangkan kedua tangannya sebelum beranjak menuju kamar mandi.

.

.

.

.

.

"Selamat pagi Nona" Bibi Min menyapa Hyukjae yang baru saja keluar dari kamarnya, terlihat lebih segar walau matanya masih terlihat sembab. Wanita itu sedang sibuk mengganti bunga pada vas-vas bunga yang ada diruang keluarga.

"Pagi bibi Min~" sapanya, gadis itu menyadari bahwa ia tak boleh terus larut dalam kesedihan, ia harus kuat dan terus berusaha untuk mengembalikan Myungsoo kecilnya yang dulu. 'ya aku tak boleh putus asa!'

"Bibi Min, apa ada susu strawberry?" cengirnya riang sambil berjalan menuju dapur diikuti oleh Bibi Min dibelakangnya.

"Tentu saja Nona. Stok susu strawberry akan selalu ada untuk Nona"

Bibi Min menuangkan susu strawberry kedalam mug kesayangan Hyukjae, mug berwarna kuning dan bergambar strawberry pemberian dari Donghae.

"Dan ini sandwich Tuna untuk Nona, happy brunch" ujar wanita paruh baya itu dengan aksen korea yang sangat kental membuat Hyukjae tertawa dibuatnya. Ia menggigit sandwich tunanya sambil mengecek akun sns nya.

"Si ikan itu pasti belum bangun" tebaknya ketika melihat bahwa Donghae masih belum membalas pesannya sejak tadi. Namun wajahnya seketika berubah menjadi ceria begitu melihat seorang anak kecil dalam video yang diupload kakak iparnya.

"Oh, our Hyejinie sudah bisa bernyanyi" pekiknya begitu melihat video singkat yang diupload Jaejoong, kakak iparnya. Jung Hyejin merupakan anak dari Yunho dan Jaejoong, umurnya sudah menginjak usia 3 tahun.

"lucunyaaaa~" gadis itu gemas sendiri melihat keponakannya lancar menyanyikan lagu Gee dari Girls' Generation. 'sepulang dari butik, aku akan mengunjungi rumah kak Yunho. Tunggu auntie Hyejinie~'


Byeol Entertainment.

Donghae membaca berkas-berkas yang diberikan sekretarisnya tadi, titipan dari Shindong, ketua team perekrutan calon trainee Byeol Entertainment. Semua trainee harus melakukan wawancara dengannya terlebih dahulj sebagai bagian akhir dari tahapan rekrutmen sebelum penentuan lolos atau tidaknya calon-calon trainee itu. Ia memijit pangkal hidungnya, hampir semua profile calon trainee yang diberikan Shindong memiliki wajah yang tampan dan cantik, Donghae bahkan tak perlu melakukan makeover pada mereka, beberapa memiliki bakat dan prestasi yang sangat baik, tapi Donghae masih belum bisa memastikan itu semua sebelum ia berhadapan secara langsung dengan mereka, karena menurutnya catatan pada profil itu tidak selalu menjamin sesuai atau tidak dengan kenyataannya.

Ia memang dikenal bertangan dingin jika berurusan dengan calon-calon artisnya, tapi ia sangat bersahabat jika dikenal lebih dekat. Pria itu melirik sekilas ponselnya yang berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, ia baru saja akan membuka pesannya namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

"Masuk." Titahnya sambil meletakan kembali ponsel miliknya di meja.

"Sajangnim, ada sedikit masalah"

Donghae mengerutkan keningnya begitu ia melihat wajah panik Jungshin, salah satu manajer Heart5. Pria kelahiran Mokpo itu memberikan tanda pada Jungshin untuk mendekat.

"Masalah apa?" Tanyanya dengan nada yang serius. Ini bahkan masih pagi, tapi masalah sepertinya tak kenal waktu.

"Ada artikel yang beredar pagi ini, ini mengenai Baekhyun. Artikel itu membahas soal rumor Baekhyun, anggota baru Heart5 yang pernah menjalin hubungan dengan Sehun EXO" Jungshin memperlihatkan artikel yang dimaksud pada Donghae. Pria itu mengambil alih iPad milik Jungshin dan membacanya dengan serius.

"Apakah Baekhyun sudah ada disini?" Tanyanya begitu selesai membaca keseluruhan artikel tersebut. Ia lagi-lagi memijit pangkal hidungnya, Baekhyun bahkan belum resmi debut tapi rumor-rumor tentangnya sudah mulai tersebar.

"Aku sudah menghubunginya, aku rasa sebentar lagi ia sampai."

Donghae mengangguk, terdengar lagi bunyi ketukan di pintu ruangannya.

"masuk." Kini Bora, tim PR yang tergopoh-gopoh mendatanginya.

"Ada apa?"

"Sajangnim, banyak telepon masuk dari media yang bertanya mengenai artikel rumor Baekhyun, statement apa yang harus kami jawab?"

Donghae menghela nafas, "Jangan dulu memberikan statement" ujarnya, ia kemudian mengalihkan matanya pada Jungshin.

"Jika Baekhyun sudah datang, suruh dia langsung menghadap padaku. Kita perlu mendengar penjelasannya dulu sebelum mengeluarkan statement" tegasnya.

Heart5 merupakan idol pendatang baru yang masih hangat diperbincangkan netizen Korea dan EXO sedang menjadi idol yang sangat dikagumi remaja-remaja diseluruh Korea jadi tentu saja rumor seperti ini akan sangat menggemparkan dan langsung tersebar dengan cepat bahkan hingga ke luar negeri.

Donghae melonggarkan dasinya, masalah yang datang tiba-tiba membuatnya lupa untuk mengecek pesan yang masuk tadi, ia tak tahu saja kalau sedari tadi kekasihnya sedang mengutukinya yang tak kunjung membalas pesannya.

.

.

.

.

Baekhyun menggigit bibirnya, kini ia sedang berada di ruangan direkturnya. Pagi tadi ia dikagetkan dengan Taemin yang mengiriminya sebuah link lewat akun kakaotalknya. Ia begitu kaget begitu membuka link itu dan menemukan sebuah artikel mengenai dirinya. Tak berlangsung lama manajernya terus meneleponnya. Dan tanpa sadar ia segera bergegas dan kini ia duduk di sofa mahal di ruang CEO Byeol Entertainment.

Ia sungguh gugup dan gelisah, dirinya bahkan belum debut namun sudah muncul artikel yang mungkin akan sedikit mempengaruhi nama baiknya. Dan melihat tatapan Donghae yang sungguh serius membuatnya ingin menangis.

"Apakah kau sudah membaca artikel tentangmu pagi ini?" Suara berat Donghae terdengar, yang mungkin bisa membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa saja yang mendengar.

"Sudah sajangnim" Baekhyun mengangguk, tangannya saling bertautan saking gugupnya.

"Apakah rumor itu benar?" Tanya pria itu to the point.

"Tidak sajangnim, saya bahkan tidak mengenalnya. saya hanya pernah tidak sengaja melihatnya di suatu kafe. Tapi kami benar-benar tidak memiliki hubungan seperti yang dijelaskan artikel tersebut" jelasnya dengan bahasa yang formal.

"Jadi gadis yang ada difoto itu bukan kau?"

"Bukan sajangnim."

Donghae mengangguk, ia membuka kacamata minusnya yang tadi ia pakai dan meletakannya di meja. Ia menatap anak didiknya itu dengan serius.

"Aku percaya padamu, aku harap kau mengatakan yang sebenarnya agar tidak menjadi permasalahan dikemudian hari. Aku tak akan bertanya lebih karena itu privasimu"

"Aku mengatakan yang sebenarnya sajangnim" Baekhyun sedikit lega karena Donghae mengatasinya dengan sangat bijak.

"Baiklah. Sekarang kembali berlatih, debutmu tinggal menghitung hari, giatlah berlatih, jangan lupa menjaga sikap dan lebih berhati-hati. Sebentar lagi kau akan menjadi publik figure."

"Terima kasih Sajangnim" Baekhyun membungkuk badannya memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan.

Donghae menghela nafas, ia mengambil berkas yang ada di mejanya dan memberikannya pada Jungshin yang sedari tadi menemani Baekhyun.

"Jungshin-ah, tolong berikan ini pada Hyeri dan sampaikan apa yang dikatakan Baekhyun tadi pada Bora untuk dijadikan statement pada media. Dan satu lagi tolong jaga Heart5"


Le Perle Boutique

Hyukjae membolak-balik desain kostum stage untuk Heart5 nanti, Donghae merekomendasikan dirinya untuk menjadi salah satu fashion stylist grup baru itu. Gerakan berhenti pada sebuah kertas yang menurutnya paling cocok untuk Heart5 gunakan di konsep comebacknya Tahun ini.

Gadis itu mengarsir sebagian pola itu untuk dibedakan dengan pola yang lain, kepalanya mendongak memperhatikan sahabatnya sekaligus partner nya yang sedang mengecat kukunya menjadi warna mint.

"Fany-ah, bagaimana menurutmu jika Heart5 menggunakan desain yang ini?" tanyanya sambil menunjukkan kertas desainnya pada Tiffany, sahabatnya.

Gadis keturunan Amerika-Korea itu menyipitkan matanya memperhatikan setiap desain detail dengan serius.

"Aku kira desain ini memang yang paling cocok dengan konsep mereka kali ini, tapi kurasa kita harus mengganti bagian dalamnya dengan warna mint, so they will look more cute and innocent. A sweet girl like how the concept will be like" jawabnya sambil menunjukkan cat kukunya yang berwarna mint.

"Okay. So white and mint for their first stage on Mubank then beige and peach for their stage on Music Core" Tiffany mengacungkan jempolnya tanda setuju dan Hyukjae langsung menuliskan catatan kecil di kertas desainnya agar team yang menjahit kostum mereka tidak kebingungan saat produksi.

"Done!" serunya yang kemudian duduk disofa bersama Tiffany.

"Fany-ah~" Gadis itu mendelik kearah Hyukjae yang terus bergerak-gerak disofanya membuat polesan cat kukunya keluar jalur.

"Hyukkie, stop it! Lihat ini mengenai jariku"

Hyukjae memasang cengirannya. "Hehe, sorry… Tapi apa kau ada acara malam ini?" tanyanya.

"Nickhun akan menjemputku, tapi aku belum tau dia akan mengajakku kemana"

Cengiran Hyukjae langsung berubah, kini gadis itu malah cemberut. "Kau masih berhubungan dengannya? Aku kira kau sudah putus seperti yang dikatakan media"

Tiffany menutup botol cat kukunya dan meniup-niup kukunya yang masih basah

"Tidak, Itu hanya berita palsu. Nickhun akan mulai shooting drama barunya, dan perannya menjadi seorang pengantin muda, akan sangat aneh kalo publik terus berfikir kalau dia memiliki pacar dikehidupan nyatanya. Masyarakat bisa saja tidak terbawa feel yang seharusnya didapat dari drama itu"

Hyukjae mengangguk. "I see… berpacaran dengan public figure sungguh rumit sekali"

"Kau lupa kalau kekasihmu juga bisa dikatakan public figure, walau Donghae bukan artis tapi ia selalu dikerumuni media"

"Yeah…"

"Anyway… memangnya kenapa kau bertanya tentang scheduleku sore ini?"

"Aku hanya ingin mengajakmu mengunjungi rumah Kak Yunho"

"Aaah sayang sekali, padahal aku ingin bertemu dengan Hyejin~ tapi aku sudah janji dengan Nickhun duluan. Aish"

Hyukjae terkekeh, "Ya sudahlah aku pergi sendiri saja"

"kenapa tidak bersama Donghae?"

"Lelaki bodoh itu tidak membalas pesanku juga tidak menjawab panggilanku" Dengusnya sambil mengecek ponselnya lagi. Hyukjae tahu jika Donghae seperti ini berarti ia sedang sangat sibuk walau sudah terbiasa tapi tetap saja ia kesal

Gadis itu melihat jam digital di ponselnya yang menunjukan pukul setengah enam sore. Ia beranjak dari sofa dan membereskan berkasnya dimeja, memanggil asistennya untuk segera memberikan instruksi pada para penjahit untuk segera memproduksi kostumnya karena waktu yang singkat.

Ia mengeluarkan pil vitaminnya dan meneguknya dengan cepat. Ia mengambil kunci mobil dan dilacinya.

"Fany-ah, Aku pergi dulu yaa. Nikmati kencanmu dengan Nickhun~"

Tiffany melemparkan bantal sofa pada sahabatnya itu dengan wajah yang memerah.

"Ya! Arraso… sampaikan salamku untuk Kak Yunho dan Kak Jaejoong, cium Hyejin juga untukku" ujarnya sambil mengecup pipi Hyukjae. Mereka memang sungguh dekat, Hyukjae mengenal Tiffany sejak ia kuliah di Paris dulu

"Okay!" Hyukjae memberikan 'Okay sign' dengan jarinya sebelum meninggalkan butiknya.

.

.

.

.

.

You are my destiny…

You are my everything…

Hyukjae melirik kearah ponselnya yang berdering di dashboard, lagu yang memang khusus di setnya untuk menjadi nada dering panggilan dari Donghae. Hyukjae mendengus, gadis itu menghubunginya sejak tadi pagi dan si pria itu baru membalas panggilannya sekarang?!

Hyukjae membiarkan panggilan itu terputus, lagipula ia sedang menyetir dan rumah kakaknya hanya tinggal dua blok lagi.

Beberapa menit kemudian ia sampai didepan rumah dengan gerbang berwarna biru tua. Ia menekan klaksonnya beberapa kali dan menunggu pintu gerbang itu dibuka.

You are my destiny…

You are my everything…

Ponselnya berdering lagi, ia akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan kekasihnya itu dan mengusap tombol hijau yang muncul dilayar.

"Apa?!" Jawabnya kesal tanpa sapaan sebelumnya. Terdengar bunyi grasak grusuk dari seberang sana.

"Ehehe sayang" Suara Donghae terdengar

"maaf, tadi aku tidak bisa menjawab panggilanmu. Ada sedikit masalah" sambungnya.

Hyukjae menghela nafas dan hanya membalas Donghae dengan gumaman "Hmm"

"Jangan marah sayang, kau dimana? Mau kujemput?"

"Aku sedang menyetir itu artinya aku membawa mobil hari ini!" Hyukjae berbohong, padahal ia sudah sampai didepan rumah Yunho

Tersengar bunyi grasak grusuk lagi membuat Hyukjae mengernyitkan keningnya.

"APA? Kau menyetir sambil menjawab telponku? Kau ini ceroboh sekali!" Hyukjae memutar kedua bola matanya mendengar omelan Donghae.

"Salah sendiri kau menelponku!" ujarnya. Terdengar bunyi grasak-grusuk lagi.

"Kau ini sedang apa sih?"

"Ani, aku akan memutuskan panggilanku kalau begitu. Hati-hati menyetirnya! Aku akan menjemputmu dirumah Kak Yunho"

"Aku bawa mobil Donghae. Kalau kau menjemputku bagaimana mobilku nanti…"

Hyukjae melambaikan tangannya pada Yunho yang akhirnya keluar dan membukakan gerbang untuknya.

"Pokoknya nanti kau pulang denganku. Hati-hati sayang!" Ujarnya sebelum sambungan itu terputus bahkan sebelum Hyukjae mengatakan apapun.

Hyukjae mengabaikan tingkah kekasihnya yang memang selalu seenaknya. Ia memilih untuk memasukkan mobilnya masuk ke halaman rumah Yunho.

"Kakak!" Ia berlari dan memeluk kakaknya begitu mobilnya terparkir dengan sempurna.

Yunho, sang kakak membalas pelukan adik kesayangannya itu dengan erat.

"Bagaimana kabarmu hmm?" Tanyanya sambil melepas pelukannya dan merangkul gadis itu untuk membawanya masuk kedalam rumah.

"Aku baik kak. Apa kak Jaejoong dan sikecil Hyejin sehat?"

"Ya! Kau tidak bertanya bagaimana kabarku?!"

Hyukjae menjulurkan lidahnya sebelum berlari ke ruang keluarga dan menemukan Hyejin yang sedang menonton Pororo bersama Jaejoong disebelahnya.

"Omo… Pororo-yaaa" pekik Hyukjae senang membuat Yunho menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang seperti kanak-kanak diusianya saat ini

Jaejoong dan Hyejin secara reflek menoleh mendengar pekikan Hyukjae.

"Hyejinie, lihat ada auntie Hyukkie" Jaejoong mengangkat tangan kecil Hyejin dan melambaikannya pada Hyukjae.

.

.

.

"Kau tidak datang bersama Donghae?" Tanya Jaejoong, mereka sekarang sedang menikmati makan malam bersama dengan Hyejin dikursi kecil miliknya.

Hyukjae menelan potongan tofunya sebelum menjawab, "Dia bilang akan menjemputku nanti, sepertinya banyak urusan yang harus diatasinya di Byeol Ent."

Jaejoong mengangguk, ia mengelap pipi Hyejin yang terkena bubur wortelnya.

"Tentu saja, agensi sebesar itu pasti banyak yang harus diurus. Kakakmu juga sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku sampai harus mengancamnya dulu kalo tidak ia pasti lembur lagi hari ini" Jaejoong melirik kesal Yunho yang hanya bisa menggaruk belakang lehernya melihat tatapan istrinya itu.

"Bagaimana kabar Myungsoo?" Tanya Jaejoong yang langsung membuat Hyukjae terdiam.

Yunho mendengus kesal, "Untuk apa kau bertanya tentang anak itu?"

"Dia adikmu juga yeobo" Jaejoong mencubit pinggang suaminya.

Hyukjae tersenyum tipis melihat Jaejoong dan Yunho

"Ia sedikit demam kemarin malam, makanya aku meminta Donghae agar Myungsoo pulang kerumah" ujar gadis itu sambil mengaduk makanannya

"Anak itu tak perlu diurus, biarkan saja"

Hyukjae mendelik, "Ia adikmu juga kak."

Yunho cemberut ia beranjak dari kursinya dan menggendong Hyejin.

"Kalian berdua ini, kompak sekali! Uri Hyejin ada dipihak Appa kan?" Tanyanya yang hanya dijawab dengan celotehan tak jelas dari Hyejin.

Jaejoong dan Hyukjae tertawa akan tingkah Yunho.

.

.

.

.

Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam lebih 10 menit ketika bunyi bel terdengar di kediaman Yunho dan Jaejoong. Yunho beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang datang. Sebenarnya Hyukjae sudah bisa menebak bahwa itu adalah Donghae.

Dan benar saja pria bodoh itu berjalan masuk ke ruang keluarga dengan cengiran bodohnya.

"Sayang~" Donghae mengusap kepala Hyukjae begitu ia sampai dihadapan gadis itu, sedangkan Yunho memutuskan untuk membantu Jaejoong menidurkan Hyejin.

"Aku kira kau lupa kalau kau punya pacar" ujar gadis itu terdengar sinis.

Donghae mengusap lehernya bingung bagaimana cara agar kekasihnya itu memaafkannya.

"Maafkan aku. Jangan marah, ayo senyum dong sayang" Bujuknya. Donghae memang bukanlah orang yang ahli dalam membujuk, tapi toh pada akhirnya Hyukjae selalu memaafkannya.

"Kalau orang bisa dengan mudahnya memaafkan, polisi dan hukum sudah tak berguna lagi" Gadis itu melipat kedua tangannya di dada dan menatap Donghae yang kikuk dihadapannya.

"Tapi sayang. Polisi tak mungkin menangkapku, ia harusnya menangkapmu karena kau yang mencuri… mencuri hatiku" well, Donghae memang tak jago membujuk tapi ia ahli dalam menggombal.

See? Wajah kekasihnya memerah semerah tomat sekarang. Hyukjae mengambil bantal sofa disebelahnya dan melemparkan bantal itu ke wajah tampan Donghae.

"Aish, kau ini aku sedang marah!" Jawabnya tapi senyum geli sudah muncul diwajah cantiknya.

Donghae yang melihat sinyal bahwa kekasihnya itu sudah mulai luluh padanya langsung menghempaskan tubuhnya disofa dan mencium pipi gadisnya itu.

"Hehe maaf ya sayang, kau tambah cantik kan kalo senyum seperti itu"

Hyukjae menjauhkan wajah Donghae yang terus-terusan mendekat.

Uhuk. Uhuk.

"Yeobo, ada yang bermesraan dirumah kita." Goda Jaejoong yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat dua sejoli ini saling menggombal, well hanya Donghae sebenarnya.

"Seolah dunia hanya milik mereka berdua saja…" Yunho menambahkan. Otomatis wajah Hyukjae semakin memerah karena godaan pasangan suami istri itu.

"Ah Kakak!" Hyukjae beranjak dari sofa dan menghentakan kakinya meninggalkan tiga orang yang sama-sama menggodanya tadi.

"Hyukkie, mau kemana sayang?" Donghae mengikuti kekasihnya.

"Pulang!"

Pasangan suami istri yang melihat adik mereka merajuk hanya tertawa sebelum mereka ikut menghampiri Hyukjae yang mau pulang.

Hyukjae membawa tas nya dan coatnya yang sempat ia buka ketika sampai dirumah Yunho tadi. Donghae pun mulai mengenakan kembali jaketnya.

"Kau akan pulang dengan Donghae, hyukkie? Lalu bagaimana dengan mobilmu?" Tanya Yunho

Hyukjae mengangguk, gadis itu melirik Donghae agar pria itu menjawab pertanyaan kedua Yunho karena memang tadi kekasihnya itu yang bilang kalo ia akan mengurus perihal mobilnya.

"Ah, itu… Aku akan meminta seorang pegawaiku untuk mengurusnya nanti. Mungkin ia akan kesini besok dan mengantar mobil Hyukkie ke rumah keluarga Jung nanti" Donghae mengambil kunci mobil Hyukjae yang tergeletak di meja dan menitipkannya pada Yunho.

"Baiklah. Kalian hati-hati dijalan."

Hyukjae mengangguk dan memeluk kedua kakaknya itu dengan erat. "Aku akan mengunjungi Hyejin lagi lain kali. Sekali-kali menginaplah dirumah, rumah terasa sepi sekali"

Jaejoong memeluk Hyukjae lagi, "Arraso. Aku akan menginap weekend ini bersama Hyejin dan Yunho"

"Kak Jae memang yang terbaik!" Hyukjae mengacungkan kedua jempolnya sebelum merangkul Donghae dan beranjak ke luar rumah.

Yunho dan Jaejoong ikut mengantar mereka sampai ke halaman. Yunho menepuk bahu Donghae, "Hati-hati dijalan"

"Siap sunbae!" candanya karena memang Yunho adalah senior Donghae di kampusnya dulu mereka sama-sama mengambil jurusan bisnis walau Donghae mengambil double major dengan music.


"Donghae, ini bukan jalan kearah rumahku!" Hyukjae mengerutkan keningnya ketika Donghae melewati perempatan jalan dan membelokkan arah ke kanan sedangkan untuk menuju rumahnya seharusnya Donghae terus mengambil jalan lurus.

"Aku lapar sayang, kita makan dulu yaaa" rayu Donghae sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum menatap lurus kejalan lagi.

"Aku sudah makan malam tadi, aku mau pulang… ngantuk Donghae~"

"Ayolah sayang, aku lapar. Kau mau maagku kambuh lagi? Perutku mulai sakit. Aduh" Donghae pura-pura mengaduh sambil memegangi perutnya dengan sebelah tangan sedangkan sebelahnya lagi terus menyetir.

"Salah sendiri tadi telat datang kerumah kakak"

"Aih sayang, Aduh perutku!"

Hyukjae memutar bola matanya. "Iya… Iya!"


To be continue….


A/N: Syuuung…. Aya datang lagi~ maaf kalo chap ini agak bosenin yaa. Namanya juga sebelum ada badai , laut selalu terlihat tenang. Hehe…

Masih dalam mode kangen Haehyuk huhuhu. Tapi liat pics mereka dan surat Donghae, mereka pasti baik-baik saja.

Review please? So aku lebih semangat nerusinnya haha. Update-an selanjutnya mungkin agak telat ya. Aku harus update fanfic English yang di aff dulu. Makasih banget buat yang udah favorite, follow, read dan review cerita ini. *send kisses* Anyway, see ya!