CELEBRITY
Cast : - Jung Yunho (37 Tahun)
-Kim Jaejoong (27 Tahun)
-Go Ahra (36 Tahun)
-Shim Changmin = Jung Changmin (17 Tahun)
ooOoo
"Katakan saja. Bagaimanapun semuanya sudah terjadi" Desak Changmin
"Jangan terlalu membesar-besarkan masalah. Bicaralah baik-baik" Ucap Yunho tenang
"Kau bicara seperti itu! Orang yang selama ini aku panggil paman ternyata ayahku! Sedangkan orang yang ku panggil ibu adalah bibiku! Bagaimana aku lahir? Oh, benarkah aku telah membesar besarkan masalah?! Hah?! Apakah seharusnya aku bersikap tenang-tenang saja?!" Changmin benar-benar emosi karna hal tersebut
"Min..." Ucap Yunho lirih
Wajah Yunho tampak jelas menunjukan luka. Luka yang pernah ia alami.
"Apa karna kau begitu terkenal? Mungkinkah jika aku ada, aku akan menjadi penghalang bagi ke populeranmu? Karna popularitas kau menyembunyikan anakmu dari dunia dan menyamarkannya sebagai keponakan? Iya?!" Ucap Changmin dengan mata berkaca-kaca.
Changmin tanpa henti meluapkan perasaannya yang telah lama ia pendam. Benar-benar seperti masalah yang biasanya hanya dapat disaksikan ditelevisi. Pamannya adalah ayahnya, ibunya adalah bibinya, dan masalah ini menjadi silsilah keluarga yang berputar-putar. Jaejoong tidak mungkin dapat membayangkannya jika ia tidak melihatnya sendiri.
Tiba-tiba Jaejoong menjadi penasaran dengan Go Ahra, perempuan yang memilih kehidupan selebritas... tidak, maksudnya perempuan yang memilih kesempatan untuk bisa menjadi selebritas dan membuang anak laki-lakinya. Apakah Changming sudah tau ibunya adalah Go Ahra? Changmin sudah tau sampai mana? Yunho pasti tidak tau.
"Pertama-tama" Yunho memecah keheningan
Changmin mengangguk. Dalam waktu singkat mata yang berkaca-kaca itu sudah tidak ada. Hanya ada tekad yang kuat, tampak seolah-olah sedang bersiap untuk bertempur. Seperti yang Jaejoong duga, Yunho tidak bisa diremehkan. Matanya menatap Changmin dengan dingin. Namun, Changmin pun tak mau kalah, matanya tampak menyala penuh semangat.
Semua ini bagaikan menonton adegan film action, para perampok yang menodongkan senapan ke kepala sandera yang berlutut di lantai. Hanya dengan memandang mereka berdua, nafas Jaejoong mulai sesak. Selain itu, Yunho menaikkan pergelangan tangan kanannya ke atas meja, kemudian dengan kuku jari telunjuknya membuat suara keras di atas meja, suara itu seolah-olah menjadi sound effect untuk menambah efek tegang dalam situasi ini.
Sesaat sound effect itu berhenti dan Yunho membuka mulut. Ia menelan ludahnya sebelum mengeluarkan kata-kata. Untuk mengurangi kecanggungan, diam-diam Jaejoong mengangkat cangkir. Pada saat yang bersamaan Yunho secara tiba-tiba menundukan kepalanya. Sebuah tindakan yang ganjil. Dia tiba-tiba mengucapkan kata yang tidak diduga sama sekali
"Mianhe..." Ucap Yunho lirih
Air yang di minum Jaejoong menyembur ke udara dan hampir membentuk pelangi lima warna yang cantik dalam suasana yang canggung ini. Dengan cepat Jaejoong mengalihkan pandangannya. Ternyata Changmin juga tampak bingung terhadap reaksi Yunho yang tak terduga.
Jika soal perampok tadi diteruskan, kira-kira adegannya si perampok menghitung satu detik terakhir sambil menutup mata, lalu suara tarikan pelatuk membuat semua berteriak dengan takut, tetapi yang melesat dari dalam senapan bukanlah peluru, tetapi petasan. Situasi-situasi aneh yang membuat orang tidak bersemangat untuk melanjutkan menonton. Sebagian orang yang melihatnya menghebuskan nafas lega dan dalam sekejap membuat sebagian orang kehilangan ambisi untuk tekad bertarung.
Changmin juga sama saja, dengan ekspresi yang tidak jelas dia mengangkat cangkir dan meminum habis air di dalamnya. Namun, setelah cangkir itu kosong, dia meletaknnya kembali dengan suara gebrakan. Tatapan matanya kembali menjadi dingin.
"Sekarang kau bercanda? Andai ini adalah hal yang mudah dimaafkan, sejak awal tidak kau lakukan saja lebih baik, bukan?" Ucap Changmin sinis
"Sungguh maafkan aku. Tak ada hal yang ingin kubicarakan denganmu" Ucap Yunho lirih
Yunho sekali lagi meminta maaf dan Changmin menatapnya lekat-lekat. Sesaat kemuadian, Changmin menghembuskan napas panjang dan tertawa lemah. Namun, sekali lagi dia tertegun menatap Yunho.
"Sebenarnya, kenapa kau seperti itu?" Kali ini Changmin tampak sedikit lebih tenang
"Hubungan aku dan paman seberapa...!" Changmin menghentikan ucapannya
"Panggi saja aku paman. Aku masih nyaman dengan hal itu. Lalu, apa kau mau mendengarkan satu persatu ceritaku?" Tanya Yunho sungguh-sungguh sambil menatap Changmin.
Jaejoong mulai berpikir untuk menyikir dari tempat ini. Secara teknis ia adalah "orang luar" yang terlibat dalam peristiwa ini. Namun, alasan apa yang harus ia katakan, tak terlintas sama sekali ide yang bagus untuk beranjak dari tempat ini. Tiba-tiba, ketegangannya berganti menjadi kekhawatiran. Bagaimana jika setelah ia keluar dari tepat ini, pembicaraan Yunho dan Changmin sampai pada cerita mengenai Ahra? Setelah itu kemungkinan besar topik pembicaraan berikutnya akan mengarah kepadanya. Tentang kakek, Cheong guk jang dan kesepakannya dengan Changmin. Selain itu Changmin belum tau mengenai perasaan cintanya terhadap Yunho. Oleh karena itu, ia tidak yakin untuk meninggalkan keduanya. Maksudnya setelah hubungan Yunho dan Changmin berubah ke arah yang lebih baik, seandainya ia mengatakan kepada Yunho mengenai hal-hal yang berhubungan dengannya secara terperinci dan benar-benar melupakan semua kesepakatan yang selama ini ia lakukan karna membenci Yunho. Bagaimana?
Entah mengapa tiba-tiba Jaejoong ingin mengutak-atik ponselnya. Ia malah menjadi penasaran dengan keadaan ponselnya yang tidak menerima satu pesan pun. Ia ingin mengirim pesan kepada Changmin, memintanya bertemu setelah mereka berdua selesai bicara.
Selama Changmin berbicara sambil bersusah payah menghindari tatapan matanya kepada Yunho, Jaejoong perlahan memasukan tangannya kedalam tas Channelnya yang berada di atas lututnya dan mulai mencari ponselnya.
"aku tidak begitu berharap kau bisa langsung memahaminya" Ucap Yunho
"Satu tahun atau sepuluh tahun... maksudku, aku tidak akan tahu jika selamanya tidak ketahuan" Sindir Changmin
Mendengar perkataan Changmin, Yunho sejenak merasa cemas, ia menghembuskan nafasnya dan berkata
"Setidaknya aku punya waktu hidup lebih dari tiga puluh tahun kan? Mari kita selesaikan ini dalam waktu dua puluh tahun, dengan begitu dalam waktu sepuluh tahun kita bisa hidup rukun." Jelas Yunho
Tentu saja Changmin kehilangan beberapa persen semangat juangnya lagi setelah mendengan perkataan Yunho. Dan pada saat itu Jaejoong belum berhasil menemukan ponselnya, sepertinya tertinggal di mobil. Dengan cepat ia beranjak dari tempat duduk dan membuat pandangan kedua orang tersebut terfokus kepadanya
"Ponselku tertinggal di mobil... aku... aku harus mengambilnya dulu" Ucap Jaejoong gugup dan segera pergi
Jaejoong pergi menuju tempat parkir dan mengambil kunci mobil porche merahnya yang ia titipkan kepada penjaga valet parking. Untungnya ponselnya masih tergelat rapih di atas kursi pengemudi. Tepat pada saat ia mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel itu, ponselnya bergetar Nomor tidak dikenal tertera di layar LCD Iphone 6s itu, sepertinya nomor dari luar Korea. Jaejoongpun mengangkatnya
"Halo?" terdengar suara perempuan yang tak ia kenal tetapi familiar
"Halo? Who is this?" Tanya Jaejoong
" Apa benar ini dengan Kim Jaejoong?" Tanya wanita itu
'ternyata bisa bahasa korea' ucap Jaejoong dalam hati
"Ya benar" Sahut Jaejoong
"untunglah ternyata benar"
Suara perempuan yang bicara dan tertawa genit cekikikan terdengar terlalu naif sehingga justru membuat Jaejoong merasa takur.
"Aku menghubungi kantor Plus Ten! Tiffany Hwang yang memberi tau nomormu. Katanya ia orang yang paling dekat dengan mu"
"Kau ada dimana?" lanjut perempuan itu
'Apa tidak salah dengar' ucap Jaejoong dalam hati
Suara yang menanyakan keberadaannya sebelum menjelaskan identitasnya sendiri itu benar-benar congkak. Jaejoong merasakan aura buruk seperti uap berwarna hitam pekat yang muncul dengan menyeramkan.
"Anda berada dimana?" tanya Jaejoong
"Aku? Aku berada di pesawat. Ah sebentar"
Setelah perempuan itu sesaat menghentikan pembicaraan, dia mengatakn sesuatu kepada seseorang dengan bahasa Jepang. Tentu saja Jaejoong tidak bisa mendengar dengan jelas karena suara berisik mesin pesawat. Namun ia dapat mendengar kalau perempuan itu berbicara dengan gaya bicara yang keleawat congkak kepada orang yang tampaknya adalah seorang pramugari.
"Lucu, tepat sebelum pesawat lepas landas, mereka ribut-ribut menyuruh mematikan ponsel. Ya kan?" Ucap wanita itu
Jaejoong mengangguk karna sama sekali tidak ada cara untuk menyetujui perkataannya itu. Tentu saja setiap naik pesawat para pramugari akan meminta penumpangnya untuk mematikan ponsel mereka.
" Aku benar-benar tidak suka. Ah ngomong-ngomong kau ada dimana" Ucap wanita itu
Karna wanita itu bertanya, jaejoong tidak ada pilihan lain selain menjawabnya
"Aku sedang berada di mobil" ucap Jaejoong
"mobil? Mobil mu?" Tanya wanita itu
"Iya, ada apa?" Tanya Jaejoong
"Baguslah. Kalau begitu, berarti kau bisa menyetirkan kan? Sekarang aku berangkat ke Hong Kong, kemudian lusa pukul lima sore aku sampai di bandara Incheon. Apa kau bisa datang menjemputku?" Tanya wanita itu
"Apa?!" Tanpa di sadari, suara Jaejoong tiba-tiba naik beberapa oktaf dan penjaga valet parking yang sedang berdiri di sekitar stu melonjak kaget
'Apa-apaan ini! Se-enak jidatnya saja! Kenapa banyak sekali makluk-makluk sejenis Im Yoon Ah sih' ucap Jaejoong dalam hati
"Oh, kaget aku. Aku sekarang sedang pergi diam-diam. Kalau begitu sampai besok" Ucap perempuan itu
Jaejoong berteriak tepat pada saat perempuan itu hendak memutuskan telponnya.
"Tunggu! Siapa ini?!" Tanya Jaejoong
"Ya ampun! Kau tidak mengenal suaraku? Tiffany saja langsung tau. Ini aku..." tiba-tiba suara perempuan itu menjadi pelan
"Aku...Go Ahra"
Go Ahra. Go Ahra. Benar, lautan yang dinanti-nanti. Tidak bisa berkata apa-apa Jaejoong hanya menelan ludah.
"Ngomong-ngomong kau bisa pegang janji antarperempuan kan? Hmm, pertemuanku dengan mu, rahasiakan dulu dari Yunho dan Changmin" Ucap Ahra
"Apa?!" Reflek Jaejoong bertanya kembali
"Pokoknya lusa kita bertemu. Ah! Kemudian, karna Yunho akan kembali menjadi milikku maka selama itu juga jangan menyatakan perasaanmu kepadanya. Selama dua hari, akan lebih baik jika kau perbaiki perasaanmu. Byee" Ucap Ahra sombong sambil menutup telponnya tanpa memberikan kesempatan untuk Jaejoong menyangkal.
' Go Ahra. Ternyata rumor tentang kesopanannya yang menembus langit menuju luar angkasa mengelilingi alam semesta ternyata tidak benar. Punya hak apa dia menyuruh ku untuk meninggalkan Yunho. Apa karna kau selebritis terkenal?! Cih.. Aku bahkan lebih berpengaruh' ucap Jaejoong dalam hati
Tampaknya nona Go sudah membangunkan sisi gelap dari Agasshi kita. Terlihat sekali ia tampak marah dan kesal. Ia segera mengambil ponselnya dan mencari nomor Tiffany, asistennya yang genit itu. Jaejoong benar-benar kesal dengan perempuan ular itu. Tiffany tidak pernah menjadi teman dekatnya, bahkan jika Jaejoong bisa, ia akan mengeluarkan Tiffany dari kantornya. Sayangnya ayah Tiffany salah satu penyumbang saham yang lumayan berpengaruh jika sewaktu-waktu ia mencabut sahamnya.
