Heart Virus
By : Annchan 602
Naruto By Masashi Kishimoto
Hahhh, update di bulan puasa? -_-#!%?
Enjoy it ;D
Sebelumnya, maafkan saya karena telah membuat fict gaje ini, hiks...
Dan jangan lupa untuk meriview yaaa ;D :*
Normal Pov
"Hooooooooooy Sakura, kau sedang apa ?" seorang gadis berambut pirang berlari kearah Sakura, hampir menubruk gadis itu. "Ih... Kau ini, grasak-grusuk sekali sih." Sakura sudah ambil posisi ingin mundur ke belakang. Takut benar-benar di tubruk oleh sohib nya itu.
"Hey," Ino menepuk kedua tangannya gemas, "Ini penting tahu, tadi aku lihat badut beruang, aku tadi mencari-cari nya sendiri. Kau yang ingin mencari malah santai-santai disini," Ino berkata-setengah teriak- pada Sakura. Ia merasa seperti ada hujan mendadak disekitar wajahnya. "I-iya Ino, ayo kita lihat. Tapi... jangan keluarkan hujan lokal seperti ini dong!" Sakura mengusap wajahnya jijik. "Eh? Ehehehe, gomen Sakura," Ino senyam-senyum sendiri. Sedikit merasa kasihan juga pada Sakura. "Oh iya, badut nya!" Sakura menjentikkan jarinya. Lupa topik pembicaraan sebelumnya. "Ayo Ino kita kejar! Nanti hilang." Gadis itu menarik tangan Ino, hampir membuatnya jatuh. Sekarang sepertinya Sakura yang hampir membuat Ino tertubruk pengunjung lain.
Ini sudah dua minggu sejak kejadian fallin' in love Sakura dengan si badut. Semenjak itu, Sakura selalu hadir ke tempat acara yang diperkirakan menyewa jasa badut. Sakura yang juga merupakan murid baru disekolahnya kini sudah mempunyai teman dekat. Ino salah satunya. Tentu masih ada yang lainnya. Tidak lupa ia menceritakkan pengalaman 'menarik' nya itu pada teman-teman dan dengan seenak udel mengikut sertakan mereka dalam 'perburuan badut' gadis tersebut. Teman-temannya yang memang pada dasarnya khawatir terjadi apa-apa pada Sakura, akhirnya pasrah mengikuti sahabat baru mereka.
Sakura dan Ino berlari sangat kencang. 'Kalau begini sudah seperti Charli's Angel' pikirnya sedikit geli. Tiba-tiba Sakura berhenti berlari dan -sudah pasti- membuat orang yang mengekor dibelakang nya menubruk punggung gadis itu. Untung saja Sakura sudah pasang kuda-kuda hingga ia tidak terjatuh. "Sakura no baka! Kenapa berhenti mendadak sih?" kali ini Ino benar-benar jengkel. Menurutnya Sakura kan bisa bilang pada Ino terlebih dahulu sebelum berhenti. Tidak usah mendadak seperti itu. Namun Sakura tidak berkata apa-apa. Tangan kanannya terangkat, pandangannya sangat tajam memperhatikan stand makanan yang ada di ujung sebelah kirinya. "I-itu... Ino-chan," Ino melihat arah yang di tunjuk Sakura, sejenak ia mencari-cari sesuatu yang membuat Sakura ganjil. Tiba-tiba Ino terdiam. Matanya menyipit, di keningnya sudah mucul perempatan siku-siku. "A-apa-apaan itu?"
Di lain tempat, di ujung stand yang sedang diperhatikan Ino dan Sakura, seorang gadis dengan rambut di cepol dua sedang asik menyantap takoyaki di tangannya. Dengan sekali suapan saja satu bulatan takoyaki yang masih utuh itu bisa langsung ambles ke mulut nya. Sedangkan gadis yang satunya hanya bisa meremas-remas kedua tangannya khawatir. "Tenten, pelan-pelan makan nya. Nanti bisa tersedak," baru saja di nasihati, gadis yang di panggil Tenten itu gelagapan, kedua tangannya memegang leher karena tersedak hingga takoyaki yang di pegangnya tadi terjatuh. Seluruh wajah Tenten berubah agak membiru. "Arrkk... Hi-hinat-a, a-irk.." Hinata yang panik segera mencari air. Ia menemukan sebuah teko berukuran sedang. Namun tidak ada gelas di sana. Tenten pun meminum nya langsung tanpa menggunakan gelas. Ia minum dengan sangat cepat hingga berbunyi suara 'gluk' beberapa kali. "Haaaaah, lega sekali Hinata. Ehehe," gadis itu tertawa lebar. Sedangkan Ino dan Sakura yang melihat kejadian itu dari jauh saling berpandangan.
"TENTEEEEEN!"
"Eh? Ada yang memanggil ku ya Hinata?" Tenten bertanya pada Hinata dengan wajah tanpa dosa. Tidak sadar kalau Sakura dan Ino saat ini tengah berada di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan baka?" tanya Sakura jengkel. Bukannya mencari keberadaan badut beruang dia malah asik makan. "H-hei, Sakura. Ehehehe... errrr, takoyaki nya enak sekali nih. Oh astaga! takoyaki ku... Waah sayang sekali, padahal aku ingin kau mencicipi nya Sakura, ehehehe." Ujar Tenten salah tingkah. Aduh, seram sekali melihat kedua temannya itu.
"Sebaik nya kau cepat ikut kami, baka! Sebelum aku habiskan semua makanan mu yang kau simpan di rumah ku." Ino melotot tajam. Kedua bola matanya seperti akan melompat keluar.
"O-oh my God! Benar Hinata, kita harus mencari badut nya, tidak boleh berlama-lama disini, Iya kan Sakura?" seru Tenten. Sepertinya dia lupa kalau pencarian mereka terhenti akibat ulah nya. Sakura memukul jidat nya pelan. "Haaah, ayolah. Sebelum dia hilang." Sakura menganggukan kepala pada ino. Ino yang mengerti langsung berlari menuju tempat nya melihat badut tadi di ikuti tiga orang gadis di belakang nya.
"Belok kiri!" teriak Ino memberi arahan. Tiga orang di belakangnya mengikuti interuksi dengan baik. "Ayo lari lebih cepat, di depan sana. Di dekat stand permainan. Nah disini, berhenti teman-teman." Ino dan kawan-kawan berhenti berlari. Mereka mengatur nafas, sambil mencari keberadaan si badut. "I-itu, disana kawan-kawan," Hinata menunjuk arah di samping stand permainan tangkap ikan. Sakura yang sudah terlebih dahulu melihatnya berlari menuju arah badut itu.
'Aku mohon kali ini jangan salah'
"H-hei Sakura tunggu kami!" Sakura mengabaikan teriakkan teman-temannya. Sudah tidak bisa berpikir apapun selain membuka kostum kepala badut itu. Gadis itu sudah berada tepat di belakang si badut.
"M-maaf, permisi badut beruang. Aku ingin foto dengan mu, tapi kau buka kostum kepala mu yaa," Sakura tersenyum. Namun kedua tangannya saling meremas, gugup. Badut beruang itu membalikkan badannya menghadap Sakura. Gadis itu segera mempertajam penglihatannya. Mata nya memperhatikan tajam gerak-gerik badut itu.
'Tinggi badan? Hmm, sepertinya agak lebih pendek. Ck, ditolak!'
"Nah, nona yang manis, aku tidak boleh buka kostum sembarangan disini, nanti uang bayaran ku bisa di potong. Kau foto dengan ku seperti ini saja ya, gadis manis. Dan kau juga tidak boleh lupa memberikan ku uang tip. Ehehehe," Sakura dengan sigap memicingkan telinganya, menangkap suara badut itu dengan detail.
'Suara? Ahh, bukan bukan! Badut beruang ku tidak bersuara cempreng, juga sepertinya irit bicara. Ishh.. berbeda sekali. Ditolak!'
Sakura meremas rambutnya kencang. 'Benar-benar sial' pikirnya. Satu hal lagi yang harus Sakura buktikan, dan itu sepertinya agak sulit.
"Ayolah... badut. Aku ingin sekali foto berdua dengan wajah asli mu, tidak ingin dengan kepala beruang! Ayolaah... boleh yaa? Yaaaa?" Sakura mengeluar kan jurus puppy eyes nya, berusaha meluluhkan hati badut itu.
"H-hei, mana bisa seperti itu," badut itu mundur satu langkah, mulai merasa sedikit bahaya.
"Aku sudah bilang kan, nona. Nanti uang bayaran ku dipotong. Memang nya kau mau ganti heh?" beruang itu menaruh kedua tangannya di pinggang. Sakura menunduk pasrah.
"Ahh, sudahlah," tiba-tiba sebuah tangan menjulur melewati kepala Sakura dengan beberapa uang lembar di genggamannya.
"Nih, ini uang untuk mu. Sekarang cepat buka kostum kepala mu!" Sakura menolah ke arah pemilik suara tersebut. "T-Tenten?" ia melihat Tenten dengan terharu. Sedangkan badut itu pun mulai membuka kostum kepalanya.
"Hadeeeh, ya baiklah... baiklah... Dasar," Ino, Tenten dan Hinata menelan ludah mereka. Sedangkan Sakura tengah berdiri tegang, ia dapat melihat wajah badut itu sepenuhnya nya.
"Ba-bagaimana, Sakura-chan?" Hinata bertanya dengan penasaran. Sakura tidak bisa melepaskan pandangannya dari badut tersebut.
"D-ditolak!" jawab Sakura masih dengan memandang badut itu.
"Apa?" Ino, Tenten dan Hinata merespon dengan kompak.
"S-serius?" Tenten menatap Sakura heran.
"Iya, Sakura, kalau bukan dia kenapa kau memandang nya sampai seperti itu?" Ino ikut memandang wajah badut itu penasaran. 'apa ada yang salah dengan wajah nya?'
"Haaah, ayolah kita pergi. Aku lelah." Sakura berjalan mendahului ketiga temannya. Mereka bertiga pun segera mengikuti langkah Sakura tanpa banyak bicara.
"Hei, nona-nona, kalian tidak jadi foto? Katanya ingin foto bersama dengan ku?" Badut itu bertanya heran. 'Aneh sekali mereka' pikirnya.
Saat mereka berempat berjalan santai menuju kediaman masing-masing, Ino tiba-tiba bertanya dengan penasaran. "Hei Sakura, kau bisa tau tahu dari mana kalau orang itu bukan yang kau cari?"
"Eh? Tahu dari mana?" Sakura bertanya balik. Hinata dan Tenten yang mendengar pertanyaan Ino segera menganggukan kepala setuju. "Iya, dari mana Sakura-chan?" Hinata mengulangi pertanyaan Ino.
"Hm... pertama, dari tinggi badan." Sakura mengelus-ngelus dagunya, seolah sedang berpikir keras. "Tinggi badan ku hanya setinggi dagu seseorang yang memakai kostum badut itu. Itulah mengapa aku harus melihatnya tanpa menggunakan kepala badut," Ino, Tenten dan Hinata ber-oh ria mendengarkan penuturan Sakura.
"Yang kedua, dari suara." Gadis itu menatap keatas, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. "Orang itu bersuara berat, tapi seksi. Juga sepertinya tidak banyak bicara. Kalau badut yang tadi sih tanpa aku beritahu kalian pasti sudah tahu sendiri kan betapa cerwet nya dia?" ketiga gadis yang ia tanya mengangguk-anggukan kepala setuju. "Benar sekali itu!" seru Tenten. "Lalu apa lagi selanjut nya?"
"Selanjut nya..." Sakura memejamkan matanya perlahan. "Aku tidak sengaja melihat warna rambutnya saat sedang membuka kostum kepala. Rambut nya berwarna merah."
"Apa?" tanya ketiga teman Sakura serempak. "Kalau begitu kau juga harus memperhatikan orang-orang di sekeliling mu Sakura," Saran Ino.
"Iya benar, kenapa kau tidak bilang dari kemarin. Sekali pun tidak ada badut beruang, kita bisa saja mengtahuinya melalui ciri-ciri itu. Kalau di pikir-pikir orang itu tidak mungkin kan memakai kostum badut setiap hari?" Tenten menatap Sakura dengan lekat.
"B-benar juga yaa?".
Di waktu yang sama, seorang laki-laki sedang berderi tegap sambil memandangi jalanan yang terlihat dari luar jendela kamarnya. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu laki-laki itu tidak bergerak. Perlahan ia menghampiri meja belajarnya, mengambil sesuatu yang ada di atas meja tersebut. Rambut merah nya bergerak lembut tertiup angin yang masuk lewat ventilasi udara dan jendela kamar nya yang terbuka. "Sepertinya aku harus menggunakan kostum beruang ini lagi".
To be contiuned...
