Author : Fafasoo202 / Flowerdyo
Title : Code Mate
Genre : Fantasy, Romance, Drama, Humor
Rated : (T)au deh,,
Lenght : Chaptered
Disclaimer : No Plagiat! BIG NO!

Main Cast : KaiSoo

Other Cast : Other member EXO, etc..

.

.

.

WARNING!

YAOI!

TYPO's

Don't Like! Don't Read!

No Siders...

.

.

.

.

Summary : Kisah seorang Kim Jongin yang terus menjomblo dan perjalanan hidupnya dengan berbekal ilmu 'sihir' turun temurun yang diwarisinya, berakhir dengan pertemuan jodohnya. Hidup penuh misteri nan indah...

.

.

.

Happy Reading! (^-^)/

.

.

'Faflow Present'

.

.

.

Kenapa kode pada symbol Baekhyun berubah menjadi '888888' dan bercahaya sangat terang, lalu Kai menolehkan kepalanya kepada Sehun dan setelah dipandang 5 menit maka symbol Sehun pun muncul dan kodenya adalah '743251' karena penasaran lalu kai memalingkan pandangannya ke arah Chan yang duduk disebelahnya, setelah di pandang sebentar lalu kode pada symbol Chanyeol muncul dan juga berubah menjadi '888888' yang sama persis seperti Baekhyun, bahkan symbolnya juga bercahaya terang.

"Woww" ucap Kai takjub melihat terangnya symbol Baekhyun dan symbol Chanyeol yang indah. Kai memandang ke arah Chanyeol dengan mata berbinar.

"Kenapa? Kau... tidak terpesona pada sepupumu sendiri kan?" tanya Chanyeol was-was.

"Tentu saja tidak! Bodoh" Kai meninju bahu Chan.

"Aku akan memesan bubble tea untuk sehun, ada yang mau sekalian aku pesankan?" tanya Baekhyun pada Kai dan Chanyeol.

"Tidak" jawab Chan singkat

"Aku mau" ucap Kai.

Setelah memberi tanda jempol pada Kai, Baekhyun lalu meninggalkan mereka. Dan Kai dibuat tercengang dengan kembalinya symbol Baekhyun ke asal, kodenya berubah kembali menjadi '382517' dan cahayanya tidak terang seperti tadi, lalu dengan otomatis Kai melihat ke arah Chanyeol dan daebak! Chanyeol pun symbolnya telah kembali seperti semula yaitu '506371' dan cahayanya pun meredup. Apa maksud dari perubahan kode pada symbol mereka? Kai tidak mengerti semua itu, lalu Kai menjambak kepalanya frustasi dan membenturkan kepalanya ke atas meja berulang kali.

"Sehun telepon ambulan SEKARANG!" perintah Chanyeol.

-Code Mate-

.

.

Chapter 3

"Yak! Aku tidak apa-apa" Kai mengangkat kepala dan menatap tajam pada sepupunya.

"Kau yakin?" Chanyeol terlihat ragu mendengar ucapan kai.

"Iya Park. Terimakasih atas perhatianmu, kau terlalu menyayangi sepupumu ini ternyata" ucap Kai dengan nyaris terharu, sementara itu Sehun hanya memandang kalem dua sepupu tersebut.

"Jangan berlebihan kai, aku hanya takut otakmu geser setelah tadi kepalamu diluluhlantakan Kyungsoo pfftt.." Chan menutup mulutnya menahan tawa.

"Sialan kau, ish aku pergi" Kai beranjak dari kursinya dengan kesal lalu melangkahkan kakinya.

"Kaiii~,," panggil Chanyeol "Hey mau kemana?"

"Tidur dikelas, bangunkan aku nanti jika guru datang" Kai melambai-lambaikan satu tangannya tanpa berbalik dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kelas.

"Oii jalja~" Chanyeol membalas lambaian tangan Kai dan membuat sehun yang melihat dari tadi adegan dua sepupu itu semakin mendatarkan ekspresi mukanya yang memang sudah datar itu.

"Chan, bukannya dia dari jepang, tetapi kenapa bahasa koreanya lancar sekali?" akhirnya Sehun mengeluarkan suara emasnya

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menarik satu pipinya hingga membuat lesung pipinya terlihat. Chanyeol mengarahkan matanya ke berbagai arah, bahkan sekarang Chanyeol sedang merunduk melihat ke kolong mejanya.

"Aku! Oh Sehun yang bertanya! Astaga" Sehun lelah melihat tingkah Chanyeol

"Oh jinja? Hahaha"

"Aku kira itu suara cicak terjepit,, haha" lanjut Chanyeol menertawakan leluconnya sendiri sedangkan Sehun hanya diam saja, aih Sehun ini tidak seru sekali.

"Tidak lucu park, jawab saja pertanyaanku"

"err~ kau ini serius sekali" Chanyeol menghentikan tawanya yang terkesan garing itu.

"Kai memang tinggal dijepang sejak bayi, ayahnya orang Korea sedangkan ibunya berdarah China, kedua orangtua Kai sangat cinta tanah air sehingga tetap menanamkan budaya Korea dan China pada Kai sejak Ia kecil, makanya Kai fasih berbahasa Korea dan China! Oh..ya Dia juga fasih berbahasa Inggris karena di Jepang Ia bersekolah di sekolah yang bertaraf Internasional, hebat kan sepupuku itu bisa menguasai 4 bahasa sekaligus" bangga Chanyeol

"Biasa saja"

Chanyeol hanya menganga melihat reaksi Sehun, dasar si datar itu benar-benar tidak asik pikirnya.

"Bubble tea dataaaaang" baekhyun datang dengan membawa dua bubble tea ditangannya

"Ini untuk kekasihku tersayang" baek menyodorkan satu bubble tea pada Sehun lalu mendudukan dirinya tepat disamping kekasihnya itu.

"Terimakasih sayang" Sehun siap mengecup pipi Baekhyun namun terhenti karena aksi Chanyeol yang menarik satu tangan Baekhyun yang masih memegang satu bubble tea dan itu membuat tubuh Baekhyun sedikit terjauh dari Sehun. Ya intinya Chanyeol berhasil menggagalkan acara kecup pacar dimuka umum yang akan dilakukan Sehun, kenapa Chanyeol harus menggagalkan? Ah entahlah Chanyeol juga tidak mengerti, dia hanya tidak suka melihat kemesraan pasangan hunbaek. Dan jangan tanyakan alasannya karena Chanyeol juga tidak tahu.

Chanyeol mendadak kehilangan akal, memegang tangan Baek seperti ini membuat pikirannya blank, astaga sepertinya bukan otak Kai yang bergeser tetapi otaknya sendiri.

"Chan" suara Baek menyadarkan Chanyeol, Gila! kenapa suara Baek indah sekali ketika menyebut namaku, pasti akan lebih indah ketika Baek menyebut namaku sambil mengangkang dibawahku pikir Chan yang benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.

"I,,ini untuk Kai kan" Chanyeol cepat-cepat mengambil bubble tea ditangan Baekhyun,

"Akan aku berikan padanya, aku ke kelas duluan bye" ucap Chanyeol tergesa-gesa lalu beranjak dari duduknya dan setengah berlari meninggalkan pasangan hunbaek yang telah dibuat bingung olehnya.

.

.

-code mate-

.

.

Chanyeol mendengus. Apa-apan ini? Kai bukan seorang yeoja yang harus mematut dirinya selama mungkin di depan cermin, dan membiarkan Ia menunggu selama ini. Satu jam sudah berlalu, dan Kai belum juga menampakkan batang hidungnya sejak si 'hitam' itu masuk ke kamar. Pantat Chanyeol sudah panas karena terlalu lama duduk.

'Kai sedang apa sih?'

'Dia kembali tidur lagi?'

'Atau... dia sedang melakukan sesuatu di kamar mandi?'

Chanyeol terdiam sejenak, kemudian kekehan geli keluar dari bibirnya. Oke, lupakan pemikirannya yang terakhir. Itu benar-benar tidak masuk akal. Kai memang seorang pervert, tapi Dia tidak se-ekstrim itu untuk melakukan hal yang ughh... mesum.

Baru saja Chanyeol menjulurkan tangannya hendak mengambil remote televisi di atas meja, ponselnya bergetar. Chanyeol segera merogoh saku jeansnya.

Sebuah panggilan 'Dari Kim ahjumma?'

Chanyeol tiba-tiba saja merasa gugup. Ia harus menjawab apa jika Kim Ahjumma menanyakan tentang Kai?

Bingung dengan pikirannya sendiri, akhirnya Chanyeol tetap mengangkat telepon itu.

"Y-yeobseo"

"Eoh? Park Chanyeol?"

"Y-ye Ahjumma?"

"Kau tahu tentang Kai yang kabur lagi dari rumah?"

Nada khawatir yang begitu kentara, membuat Chanyeol semakin kebingungan.

"Mwo? Ohh.. Ani. Aku tidak tahu Ahjumma. Waktu itu Kai memang menghubungiku. T-tapi... dia tidak bilang apa-apa"

Chanyeol merutuk dalam hati. Semoga saja, Kim Ahjumma tidak mendengar suaranya yang tersendat-sendat.

"Benarkah?"

Sebuah desahan panjang terdengar dari seberang sana. Sepertinya Kim Ahjumma benar-benar khawatir

"Ku kira Kai akan menemuimu, tapi ternyata tidak ya.. emh,, baiklah. Akan ku tutup teleponnya. Maaf mengganggu waktumu, gomawo Chanyeol-ah.. sampaikan salamku pada Eomma-mu"

"Ah,, tidak Ahjumma tidak mengganggu. Cheonmaneyo Ahjumma. Iya nanti akan aku sampaikan salamnya".

'Plip'

Chanyeol menghembuskan nafasnya lega. Semoga Tuhan mengampuni dosanya karena telah membohongi seorang Ibu.

"Sedang apa?"

"AAKH!"

Chanyeol terlonjak ketika mendengar suara seseorang di belakang. Ia menatap horor pada Kai yang kini sudah duduk disampingnya.

"Hahhh! KAU MENGAGETKANKU!" teriak Chanyeol sambil melempar bantalan sofa ke arah Kai.

Namja tan itu hanya tertawa geli mendapati sepupunya yang seperti orang kehilangan jantung. Ia bahkan tidak bermaksud untuk mengejutkan Chanyeol.
Kai melihat Chanyeol berdiri dan mengambil tas besar miliknya di samping sofa dan berjalan keluar mendahului dirinya. 'Eoh? Dia meninggalkanku?' gumam Kai.

"Yah! Park Chanyeol, tunggu aku"

Kai buru-buru mengunci pintu apartemennya setelah memasang sepatu kets dan jaket yang sedari tadi di bawanya. Pintu lift sudah terbuka dan Chanyeol mulai melangkah masuk. Jika membuat Chanyeol marah seperti ini akan merugikan dirinya, Kai tidak akan melakukan itu. 'Tapi-kan aku memang tidak niat mengagetkannya. Ishh,, seperti yeoja saja suka merajuk. Dasar Park Dobi' rutuk Kai sambil berlari ke arah lift.

"Hiyyaaaa!"

Chanyeol tersentak ketika sebuah tangan memaksa pintu lift terbuka. Itu Kai. Wajahnya memerah. Namja tinggi itu menahan tawanya yang hendak meledak. Dia baru pertama kali melihat Kai sekesal ini.

"Kenapa tertawa. Tidak ada yang lucu. Kau mau meninggalkanku ya?"

Chanyeol memicingkan mata. Hell,, siapa tadinya yang sedang kesal. "Sudah masuk saja. Atau kau benar-benar akan ku tinggal" ujarnya santai.

"Ck.."

.

.

Ini hari sabtu, dan Chanyeol sudah berjanji akan menemani Kai ke tempat kakek. Dia sudah bertekad dan menyiapkan banyak pertanyaan yang akan Ia tanyakan pada kakeknya.

Kai memandang halte di depan sana yang terlihat lengang, kemudian membawa pandangannya ke arah Chanyeol. "Besar sekali tasmu. Kau ingin bermalam juga?"

Chanyeol menggeleng seraya terus berjalan menuju halte. "Kau tahukan betapa membosankannya suasana disana? Memangnya Kau, yang suka dengan keadaan sunyi seperti itu"

Kai mendengus, "Heh! Aku kesana untuk mencari tahu tentang—"

Kai mengantup bibirnya ketika sadar jika Ia sudah keceplosan. Bodoh.

"Mencari tahu tentang apa?"

Kai berdehem, "Lupakan!" setelah mengucapkan itu Kai berjalan cepat di depan Chanyeol.

"Hey! Ada yang kau sembunyikan dari ku. Ya kan?" seru Chanyeol di belakangnya..

"Tidak ada!"

"Jangan berbohong Kim Jongin. Cepat katakan!"

"Ku bilang tidak ada"

"Katakan! Katakan! Katakan! Katakan! ..."

Kai berbalik dan menggeram. Ia berjalan ke arah Chanyeol, kemudian menendang bagian privat lelaki jangkung itu sampai Chanyeol mengeluarkan jeritannya. Rasakan!

"Kenapa malah menendangku? Shhh"

"Sekali lagi kau menuntutku seperi itu.. Kau akan ku telan hidup-hidup, Park. Chanyeol."

.

.

Chanyeol sudah memejamkan matanya lima menit yang lalu semenjak Ia menduduki kursi di sampingnya. Bus berjalan dengan tenang, suasana pagi di Gwangjin-gu, Seoul begitu tenang dan tentram. Kai mengalihkan pandangannya kesamping. Menatap pepohonan yang dilalui dengan diam. Pikirannya berkutat, pada sebuah misteri yang tersembunyi dari dalam dirinya. Sebenarnya ada apa ini?

Perjalanan menuju desa sangat jauh dan pastinya memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kai mulai merasakan kantuk ketika bus mulai memasuki daerah pedesaan. Ah, mengingat sang kakek yang hidup berdampingan dengan para tetua disana tanpa seorang isteri, membuat Kai kembali menjaga kesadarannya. Kai mendengus mengingat perkataan kakeknya ketika dirinya meminta lelaki tua itu untuk hidup di kota bersama dirinya atau anak-anaknya.

"Aku tidak mau. Desa dan kebun adalah tempatku yang sesungguhnya. Lagipula, dari berkebunlah aku bisa menyekolahkan anak-anak dan cucu-cucuku hingga mereka mencapai kesuksesan"

"Tapi siapa yang akan mengurusi Haraboeji disini? Halmoni sudah tidak ada kan."

"Bodoh. Aku sudah berpuluh-puluh tahun hidup sendiri. Isteriku sudah meninggal bahkan saat Ayahmu masih kecil. Jaga mulutmu Kim Jongin. Aku tidak pernah mengajarkan cucu-cucuku untuk berbicara seperti itu"

Kai tersenyum kecil. Yah benar. Kakeknya itu adalah orang yang berpegang teguh pada pendiriannya. Jika Ia sudah berkata tidak. Maka mutlak-lah sudah. Kai mencibir dalam hati. Sudah tua masih saja keras kepala.

Tak lama kemudian, Kai merasakan bus berhenti. Sudah sampai pada pemberhentian bus terakhir dan itu artinya ia sudah sampai di desa sang kakek.

Kai memandang Chanyeol yang masih nyaman dengan tidurnya. "Heh, raksasa, Ireona!"

Chanyeol mengeluarkan gumamannya, dengan suara serak. "Apa kita sudah sampai?"

"Iya! Ayo cepat turun" Kai melangkahi Chanyeol yang sedang menggeliat meregangkan otot-ototnya.

Pintu bus terbuka, dan aroma pedesaan yang sejuk segera memenuhi indera penciumannya. Kai mendesah senang. Benar-benar tenang.

Kai turun dari bus, disusul dengan Chanyeol. Bus kembali berjalan untuk kembali ke kota dan Kai menemukan Chanyeol sedang menguap disampingnya.

"Kajja!" seru Kai "Kau ingat jalan menuju rumah kakek kan?" tanya Kai dari arah belakang.

"Hmm..tentu saja" ucap Chanyeol serak khas bangun tidur

.

-code mate-

.

"Kakek!"

Lelaki tua yang sedang memetik buah apel itu menoleh pada asal suara bass yang begitu Ia kenal. Senyumnya mengembang saat melihat kedatangan Chanyeol.

"Oh, kau datang? Tumben sekali, ada apa?"

Chanyeol mengangkat bahunya acuh, "Aku kesini membawa makhluk hitam—"

"Siapa yang kau sebut 'makhluk hitam'?" Kai tiba-tiba muncul dari belakangnya, sambil memberikan tatapan sisnisnya ke arah Chanyeol.

"Astaga Kim Jongin!"

Kai mengalihkan pandangannya pada sang kakek. Ia tersenyum dan segera berjalan menghampiri lelaki tua itu. Kai membungkuk memberi salam, sebelum dirinya merengkuh tubuh yang tak lagi tegap itu.

"Ya ampun Kim, aku merindukamu.." gumamnya senang.

"Aku juga.." balas Kai setelah melepaskan pelukannya.

"Harabeoji tidak merindukanku?"

Sang kakek mendengus, dan melirik ke arah Chanyeol yang berada di belakang Kai.

"Aku sudah cukup sering melihatmu, tidak ada kata rindu"

"Baiklah. Aku terima. Kai memang selalu lebih unggul dariku. Yah aku tahu.." setelah mengucapkan itu Chanyeol berjalan menuju sebuah gazebo di dekat kebun apel dan mendudukkan dirinya disana.

"Oh lihat! Bagaimana seorang raksasa sedang kesal"

Kai mengeluarkan tawanya mendengar cibiran sang kakek untuk Chanyeol. Geraman kesal terdengar dari Chanyeol yang sedang merebahkan diri.

"Ya ampun! Harabeoji sama saja dengan Kai. Aku bukan raksasa. Mengerti!" serunya.

.

-Code Mate-

.

Kakek begitu senang mendapati dua cucu kesayangannya mengunjungi dirinya di desa seperti ini. Terlebih pada Kai. Sudah beberapa tahun Ia tidak bertemu tatap dengan cucunya yang satu ini. Biasanya mereka hanya berkomunikasi sesekali itu pun jika dirinya sedang berkunjung ke rumah Chanyeol di kota. Karena pedesaan tempat tinggalnya tidak terjangkau oleh signal.

Kai memandang takjub pada dekorasi rumah kayu yang minimalis tapi tetap terlihat indah, dan bersih. Ini rumah kakeknya.

Chanyeol lebih dulu duduk di kursi kayu setelah meletakkan tas besarnya disamping pintu. Kai masih terpaku di tempatnya, ketika sang kakek berjalan menuju dapur. Kai mengikuti sambil terus memperhatikan seisi rumah.

"Jangan berlebihan seperti itu. Aku tahu rumahmu sepuluh kali lebih besar dari ini"

Kai menggeleng seraya mendudukkan diri di kursi meja makan. "Bukan seperti itu Haraboeji. Rumah ini sangat indah tapi... terlalu kecil. Kau seorang bos disini, kenapa tidak membeli rumah yang lebih layak, dan bersantai disana, sementara bawahanmu yang mengurusi kebun-kebun itu"

Lelaki tua itu berbalik menatap Kai sejenak sebelum kembali berkutat pada kue-kue kering di hadapannya.

"Aku memang sang pemilik kebun. Tapi aku tidak berhak untuk memperlihatkan kuasaku pada orang-orang disini. Aku hanya ingin hidup layaknya orang biasa. Kau mengerti?"

Ia berjalan ke ruang tengah meninggalkan Kai yang masih tercengan dengan perkataannya.

Kai mengerti, sangat mengerti. Kakeknya adalah seorang yang sangat rendah hati, dan tak terbantahkan. Kai hanya mampu menghela nafasnya.

.

.

"Uwahhh! Kakek tau saja jika aku lapar" pekikan Chanyeol terdengar bahkan sebelum lelaki tua itu menyimpan piring berisi kue kering di atas meja.

"Dasar raksasa rakus!" Kai mencibir setelah mendudukkan dirinya di kursi sebelah yang sudah di tempati Chanyeol.

Namja yang Kai juluki raksasa itu tak menghiraukan cibiran sepupunya, Ia asik memakan kue-kue kering yang di suguhi oleh kakek mereka.

Beberapa menit berlalu dengan penuh candaan dan kisah-kisah lucu tentang masa kecil Kai dan Chanyeol. Kue-kue yang tadinya memenuhi piring sudah ludes tak bersisa. Chanyeol melirik jam tangannya, arlojinya menunjukkan pukul 1.00 pm KST. Ia berdiri dan berpamitan pulang pada kakeknya yang sedikit terkejut.

"Kau benar-benar akan pergi? Ku pikir kau akan bermalam dengan tas besar itu" seru Kai terdengar panik, sampai-sampai Ia ikut berdiri.

"Aku ada jadwal latihan basket sore ini" ujar Chanyeol menyengir menampilkan deretan gigirnya.

"Ya sudah, sana pergi" ketus Kai pada Chanyeol.

Chanyeol tertawa sambil membisikkan sesuatu yang membuat Kai bingung, "Yang kuat ya~" bisiknya sambil menepuk bahu Kai.

"Dasar aneh" gerutu Kai.

.

-Code Mate-

.

Sepertinya Kai mengerti maksud dari bisikan Chanyeol sebelum sepupunya itu benar-benar pergi. Kai sudah bermandi peluh sekarang. Matahari begitu menyengat. Kai duduk bersandar pada pohon apel yang tak bisa melindunginya dari sengatan matahari.

Sejam setelah kepergian Chanyeol, sang kakek mengajaknya berkebun. Kai menduga dia hanya akan di bawa berkeliling melihat kebun, tapi ternyata dugaannya salah. Kai memang di bawa berkeliling tapi dengan keranjang buah yang kosong di tangannya. Kai menangkap isyarat dari kakeknya. Itu berarti Ia harus mulai memetik satu persatu buah yang sudah matang.

Kai yang notabene-nya adalah seorang yang selalu menerima 'beres' tentu saja tidak biasa dengan hal seperti ini. Begitu melelahkan dan membuat tubuhnya pegal-pegal. Sungguh. Kai hanya membutuhkan sebuah kasur sekarang.

"Hey, anak muda! Disini bukan tempat bersantai, pekerjaanmu masih banyak"

Kai terlonjak setelah mendengar teguran dari suara khas seorang kakek-kakek. Dirinya baru saja memejamkan mata. Kai segera berdiri, dan membungkuk minta maaf. "Jeosonghamnida.. aku akan bekerja keras"

Kai terkik ketika para kakek-kakek itu meningalkannya pergi. Ia berniat untuk kembali mengistirahatkan tubuhnya ketika manik elangnya menangkap sang kakek di kejauhan sana sedang memetik apel seraya mengawasi gerak-geriknya.

Kai mendesah pasrah saat melihat gelengan kepala sang kakek yang mengisyaratkan jika dirinya tidak boleh beristirahat barang sebentar.

Ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.

.

.

.

Brugh!

Kai menjatuhkan dirinya di meja kayu besar yang panjang di depan rumah sang kakek. Ia baru saja selesai berkebun ketika matahari sudah menenggelamkan diri dan berganti dengan cahaya temaram dari bulan. Matanya terpejam menikmati hembusan angin malam yang begitu sejuk dan membuatnya kedinginan. Sebuah pergerakan memaksa Kai untuk membuka matanya. Sang kakek sedang meletakkan dua cangkir putih berisi seduhan akar licorice (kayu manis) disampingnya.

Aroma manis membuat tenggorokannya tergoda untuk segera mencicipi minuman favorite kakeknya itu. Kai mendudukkan diri dan membawa salah satu cangkir itu ketangannya.

"Lelah?"

Kai menggeleng, "Tidak, hanya capek!" jawab Kai acuh.

"Bodoh. Itu sama saja.."

Kai mendengus, "Jika sudah tahu, kenapa Harabeoji bertanya?". Kai membawa pinggiran cangkir mendekati bibirnya. Menyeruput pelan cairan berwarna merah cenderung coklat itu.

Kai memandang lurus kedapan, dimana perkebunan yang luas menjadi objek pandangannya.

Disini hanya ada rumah kakeknya, sedangkan sesepuh lain berpemukiman beberapa meter dari tempat ini. Tenang namun sunyi. Bisa-bisanya kakeknya ini betah tinggal di daerah yang jauh dari keramaian. Apa enaknya sih hidup di kelilingi pohon. Tidak ada hiruk pikuk manusia sama sekali. Begitu monoton dan membosankan.

Tiba-tiba Kai teringat tujuan utamanya kemari. Misteri symbol. Benar. Ini waktu yang tepat untuk menanyakannya pada sang kakek yang tentunya dapat memberi semua jawaban yang selama ini Ia cari. Yah, kakek adalah kunci dari semua jawabannya.

Kai berdehem kecil. Entah kenapa Ia jadi sedikit gugup. Hatinya merasa tidak nyaman membuka kembali pembicaraan tentang hal itu setelah belasan tahun berlalu. Tapi ini menyangkut masa depannya, pikir Kai. Dia tidak mungkinkan harus bersikap cuek bebek dengan keanehan yang dimilikinya selama ini.

"Harabeoji.."

Kai menoleh pelan pada sang kakek. "Hmm.."

"Aku... ingin menagih janjimu waktu itu" gumam Kai.

Wajah dengan kulit kendur itu menampakkan raut bingung. "Janji?"

Kai mengangguk, "Penjelasan tentang symbol-symbol angka yang kulihat"

"Ah! Aku ingat mengenai hal itu. Jadi maksudmu datang kemari hanya untuk menanyakannya?"

Kai tertegun mendengar nada bicara kakek yang sedikit murung. Kakeknya pasti salah paham. Mungkin dia mengira cucunya ini datang kesini bukan merindukannya tapi hanya untuk menanyakan sesuatu. Kai jadi merasa bersalah. Ia menggeleng sambil menatap sang kakek.

"Tidak. Aku juga merindukan Harabeoji" ujar Kai pelan.

Tawa khas kakeknya terdengar, apa yang lucu?

"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Aku harus memulai dari mana ya? Hmmm"

Kai diam sambil memperhatikan kakeknya.

"Symbol yang kau lihat adalah symbol yang istimewa, Kim Kai"

Bagus! Kai mulai mendengar nada serius dari kakeknya, di tandai dengan sang kakek yang mengucapkan nama lengkap (panggilan) Kai.

"Semua orang bahkan mungkin menginginkan diri mereka dapat melihat symbol-symbol yang kau lihat. Dengan itu mereka bisa menemukan masa depan dalam genggamannya sendiri. Tapi sayang, kau lah yang sudah di takdirkan"

Kai melongo. Kakeknya ini sedang membicarakan apa?

Ia benar-benar bingung dengan apa yang kakeknya bilang. Terlalu rumit untuk di pahami.

"Tunggu sebentar, aku akan kembali dan membawakan sesuatu untuk mu" sang kakek kemudian beranjak pergi memasuki rumah setelah mengucapkan itu. Kai ngernyit, 'sesuatu untukku?'

Selang beberapa menit, kakeknya kembali dengan sebuah benda di tangannya. Benda tersebut adalah tumpukan kertas yang sangat tebal tiap lembarannya dan diikat untuk menyatukannya, dan itu terlihat seperti buku yang sangat tebal.

"Ini untukmu!" sang kakek mendorong benda itu ke arah Kai.

"Kenapa memberiku buku? Harabeoji kan tau kalau aku tidak suka membaca buku. Apalagi sepertinya buku ini adalah buku tua, Lihat? kertasnya sudah menguning dan tebal sekali tiap lembarannya, sangat kuno!"

Kakek Kai menggeleng. Dia belum membacanya tapi sudah menunjukkan sikap tidak tertarik.

"Itu bukan buku, tapi kitab kuno yang berisi penjelasan tentang symbol yang kau lihat. Jangan menilai semuanya dari luar Kim"

Kai membelalak. Jadi di dalam kitab itu, semua jawaban tersedia disana?

Kai segera membawa kitab tebal itu kepangkuannya. Ia mulai memperhatikan dengan serius sampul kitab yang di penuhi dengan angka-angka. Dahinya mengerut ketika menyadari angka '888888' tercetak paling besar di bandingkan dengan angka lainnya.

"Kitab ini sudah ku miliki sejak aku kecil, dan menurutku ini adalah kitab yang turun temurun dari nenek moyangku. Karena pada keturunannya, akan ada satu orang yang menjadi pemilik kekuatan itu pada tiap generasi"

"Dan aku yang menjadi pemilik kekuatan itu pada generasi sekarang?" Kai berusaha menebak maksud dari apa yang kakeknya ucapkan.

"Tepat!"

Kai menghela nafasnya. Bahunya menurun lesu. Kenapa semuanya terlihat sangat menyulitkan setelah Ia tahu kebenarannya.

Kai membuka ikatan pada kitab kuno itu lalu ia membuka halaman pertama kitab kuno tersebut. Hanya gambar dengan banyak ilustrasi manusia berwarna hitam putih dengan angka-angka di kepalanya. Seperti dejavu, Kai jadi teringat kejadian saat di kantin ketika dirinya melihat symbol angka di kepala orang yang Ia lihat selama lima menit.

'Sudah ku duga itu bukan suatu keanehan' ucap Kai dalam hati.

Ia kembali membuka halaman. Dan terlihat lagi ilustrasi gambar manusia. Jika pada halaman pertama ada banyak gambar ilustrasi, kali ini hanya dua gambar. Seorang lelaki dan wanita yang sedang berdiri bersebelahan, dengan symbol angka yang sama di atas kepalanya, yaitu '888888'.

Kai beralih kehalaman tiga, gambar ilustrasi –lagi-, tapi sekarang dua manusia yang sedang berjauhan. Dan symbol angka di atas kepala mereka tidak lagi '888888'.

Kai masih belum mengerti. Ia kembali melanjutkan membuka halaman berikutnya. Pada halaman empat ini, semua di penuhi dengan tulisan yang sulit Kai baca karena tulisannya menggunakan huruf yang tidak ia mengerti, dan tulisannya pun sudah mulai pudar.

"Buka lembaran-lembaran berikutnya, nanti kau akan menemukan tulisanku" perintah sang kakek

Kai membuka lembaran-lembaran berikutnya, Ia menajamkan pengelihatannya, disana ada tulisan yang bercetak miring. Entah pikiran dari mana, Kai menyimpulkan jika itu adalah penjelasan intinya.

"Jodoh adalah salah satu garis takdir yang pasti adanya. Kau adalah seseorang yang memegang kendali disini. Tidak peduli, menerimanya atau tidak.. ini adalah jalan hidupmu."

Kai memandang sang kakek setelah membacanya.

"Lanjutkan.."

Kai mengangguk dan melanjutkan bacaannya.

"Sebuah angka yang bila di satukan menjadi sebuah keserasian yang terikat. '888888' adalah sebuah angka dimana kau bisa menemukan tulang rusukmu. '888888' adalah jumlah dari dua symbol yang berbeda, dan '888888' adalah lambang penyatuan"

Kai berusaha berpikir keras. Ia mengulangi tiap kata hingga akhirnya sebuah titik terang memberi jalan pada Kai.

"Bila di satukan menjadi sebuah keserasian yang terikat. Jumlah dari dua symbol yang berbeda" Kai terus menggumamkan kata-kata itu hingga Ia kembali membuka halaman berikutnya.

Kai melihat symbol pada gambar lelaki. "262028" ujarnya, kemudian melihat symbol pada gambar wanita, "626860"

"Jumlah dari dua symbol yang berbeda" gumamnya lagi.

Kai tersentak. Ia membaca kalimat akhir yang ditulis miring.

"Kau sudah menemukan symbol jodohnya"

Kai segera menutup kitab itu, nafasnya tercekak. "Ja-jadi... symbol yang kulihat adalah... symbol jodoh?" lirih Kai pada akhir kalimatnya.

.

.

.

.

.

TBC

Next or No?

.

A/N [Fafasoo202] : Hooooollaaaaaaaaaaaaa~ (^-^)/ Kyaaaa! Asdfghjkdn... ya ampun kangen sama readersnim (XOXO) TT_TT
Mian, karena baru sempat update sekarang *hikseu* Maklum ya,, fafa masih anak sekolahan :g
Oke, lupakan curcol diatas. Gimana dengan chap.3 ini? Udah tau kan apa maksud symbol yang diliat sama Kai? Yah gk jauh, 1112 lah sama yang nebak klo kai bisa liat masa depan,, kkk~ Jodoh, emang masa depankan(?)

Untuk (hadisoobaby), sarannya bisa di terima. Tapi dengan sangat menyesal, fafa harus bilang klo garis besarnya udah di buat. T_T
Dan FF CM ini emang condong ke-kehidupan Kai. Tapi gak ada salahnya juga kok... nanti fafa sama ka flowerdyo, bisa berunding tentang saran yang (hadisoobaby) kasih
JGomawo *bow*
Oh iya.. satu pesan nih buat para readers yang gk suka sama sebaek, khusunya para CBHS. Klo kalian gk suka sama sebaek, tolong jangan maki-maki authornya :') *hati hayati sakit bang* = abaikan. Readers yang pintar itu, adalah reader yang baca FF ini bener2 dri atas sampe bawah. Kan di summary udah ada tulisan ChanBaek, udah pasti Support Cast itu ada ChanBaek-nya. Disini pake Official Couple kok,, tenang aja. Tapi kan gk asik klo gk ada bumbu tambahan buat konfliknya. Masa iya, ChanBaek langsung nyatu gitu.. kan kurang ngeh/? (Btw, fafa juga suka ChanBaek) Buat CBHS jangan sakit hati dulu, tau gak.. klo kalian maki-maki kita (fafa n flowerdyo) siapa yang paling tersakiti disini? Padahal kan itu juga jadi pelengkap buat akhir yang happy nantinya. ~
Tak pernahkah kau sadari akulah yang kau sakiti...~ *plak*
Jadi tolong ya... lain kali mungkin kami tidak akan menolerir BASH dari kalian.

*nangis di pojokan* Sekian dari fafa,, wassalam.. :") See you next chapter...

Saranghae Readersnim :* ({}) *deep bow*
Lambai tangan bareng KaDi ('-')/

.

.

A/N [Flowerdyo] :

Kyungsoonya mana?

Sabar ya chapter ini kyungsoonya diumpetin dulu :D Next chapter boleh deh ada bahasan tentang keluarga do yang perfect itu ^^

Makasih yang udah follow, fav & review ff ini, saran dan kritik sangat dibutuhkan tapi tolong gunakan bahasa yang baik ya,, biar ga butthurt aq baca reviewnya :D hehe..

Okk review lagi ya ^^ biar cepet updatenya :D paiii~

BIG THANKS TO

DKSlovePCY, kyung1225, Sofia Magdalena, kyungiesoo123, meyriza, Lovesoo, veronicayosiputri9, Kim88, esty octavia, BabyCoffee99, kido9493, hadisoobaby

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama.