Author : Fafasoo202 / Flowerdyo
Title : Code Mate
Genre : Fantasy, Romance, Drama, Humor
Rated : (T)au deh,,
Lenght : Chaptered
Disclaimer : No Plagiat! BIG NO!

Main Cast : KaiSoo

Other Cast : Other member EXO, etc..

.

.

.

WARNING!

YAOI!

TYPO's

Don't Like! Don't Read!

No Siders...

.

.

.

.

Summary : Kisah seorang Kim Jongin yang terus menjomblo dan perjalanan hidupnya dengan berbekal ilmu 'sihir' turun temurun yang diwarisinya, berakhir dengan pertemuan jodohnya. Hidup penuh misteri nan indah...

.

.

.

Happy Reading! (^-^)/

.

.

'FaFlow Present'

.

.

.

Kai tertegun setelah cukup lama memandangi aktris bernama Xi Luhan itu, Ia melirik Sehun selama beberapa menit. Dan dugaannya benar, "Oh Sehun..."

"Hmm..."

"Kau berjodoh dengan Xi Luhan" gumam Kai tapi masih bisa di dengar oleh Sehun dan Chanyeol.

Baik Sehun maupun Chanyeol sama-sama menatap horor ke arah Kai. Bagaimana mungkin aku berjodoh pada Xi Luhan sementara aku dan Baekkie saling mencintai, dan aku tidak bisa hidup jika tak ada Baekhyun lagi pula ia artis terkenal dan aku hanyalah pelajar tampan bagaimana bisa aku bejodoh dengannya, batin Sehun bertanya-tanya. Sehun menyimpulkan, jika Kai sudah gila. Gila dalam artian sesungguhnya.

Chanyeol sendiri lagi-lagi merasa kasihan pada sepupunya itu, dia selalu saja membicarakan tentang jodoh yang hakikatnya tidak mungkin manusia ketahui. Sepupunya itu pasti benar-benar sakit setelah pulang dari rumah kakeknya. Kai yang malang.

-Code Mate-

.

.

Chapter 6

Xi Luhan telah menyelesaikan nyanyian indahnya, para penonton bertepuk tangan meriah. Setelah Penyanyi kenamaan itu turun dari stage ia langsung disambut baekhyun yang memang sudah menunggunya sejak tadi.

"Hai, hem aaa- uu I'm Baek-hyun" ucap Baekhyun gugup, maklum saja karena Baekhyun adalah fans Luhan, kalau tidak ingat tempat mungkin baekhyun akan menjerit histeris karena melihat idolanya didepan mata. Syukurlah Baekhyun masih bisa menahan diri karena itu juga bagian dari perjanjiannya dengan Kyungsoo. Sebelum acara dimulai, Baekhyun memohon pada Kyungsoo agar ia saja yang bertugas menemani luhan selama acara berlangsung, dan Kyungsoo menyetujui itu dengan syarat dirinya tidak membuat keributan.

"Oh hai Baekhyun, nice to meet you" jawab luhan ramah.

"I – mmm I will" Baekhyun menggantung ucapannya, bodohnya ia baru sadar jika ia buruk berbahasa inggris dan benar-benar tidak bisa berbahasa mandarin, 'aaa ottokke' batin Baekhyun frustasi.

"I'm - mmm I'm your fans" akhirnya hanya itu yang bisa Baekhyun ucapkan, Baekhyun mati-matian berpikir merangkai kata untuk mengajak Luhan ikut bersamanya, karena ia yang bertanggung jawab menemani Luhan selama acara berlangsung, Baekhyun ingin mengajak Luhan mencicipi hidangan yang tersedia dan ingin mengajaknya menemui teman-temannya, tapi bagaimana cara ia menuturkan keinginannya tersebut dalam bahasa inggris, Baekhyun rasanya ingin menangis sekarang 'Kau dimana Kyungsoo, bantu aku' batin Baekhyun seolah memberi telepati pada Kyungsoo, andai saja ia bisa melakukannya hnngg~.

"Thank you" luhan tersenyum manis

"Can-can you follow me" Baekhyun menggitit bibirnya, Luhan hanya menaikan alisnya dengan mengerjap beberapa kali, Baekhyun lalu menutup wajahnya yang malu dengan kedua tangannya.

"Sorry,, my english is so bad" Baekhyun masih menutup wajahnya

"Me too haha, gwenchana" ujar Luhan yang membuat Baekhyun menarik tangannya, "Aku bisa bahasa korea, tenang saja" lanjut Luhan kalem

"Oh my jinjaaa?" pekik Baekhyun, "Ah syukurlah, kenapa tidak bilang dari tadi" Baekhyun kembali bersemangat, lalu mereka pun terkekeh bersama. "Kenapa kau bisa bahasa korea?" tanya Baekhyun

"Sebelum aku debut, aku pernah menjalani training di salah satu agency korea selama 3 tahun" jelas Luhan

"Pantas saja, oh ya apa kau lapar? Kau ingin mencoba hidangan disini?"

"Aku tidak lapar hanya haus" Luhan memegang tenggorokannya yang terasa kering

"Baiklah ayo kita ambil minum" ajak Baekhyun, lalu mereka berjalan ke arah stand berbagai macam jenis minuman, setelah Luhan mengambil minuman yang ia inginkan, Baekhyun mengajak Luhan menemui teman-temannya untuk bergabung bersama mereka sambil menikmati acara, Luhan tidak menolak dan Baekhyun sangat senang dibuatnya.

.

.

"Kenalkan dia Kai"

"Annyeonghaseo" sapa Luhan ramah yang hanya dijawab anggukan kalem oleh Kai, 'Cih menjijikan, so cool sekali si hitam itu' batin Baekhyun

"Ini, Park Chanyeol" lanjut Baekhyun, lalu Chanyeol mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Luhan, mereka pun berjabat tangan.

"Mimpi apa aku bisa memegang tangan seorang artis terkenal" chanyeol tersenyum lebar memamerkan barisan gigi putihnya yang rapi.

"Kau bisa saja Chanyeol-ssi" ucap luhan tersipu, lalu setelah jabatan tangan Chanyeol-Luhan terlepas langsung saja Luhan mengulurkan tangannya pada seseorang disebelah Chanyeol yang juga menerima uluran tangannya.

"dan dia.. Oh Sehun"

Seperti terhipnotis, Luhan memandang Sehun tanpa berkedip dan tangan mereka masih bertautan

"Dia pacarku" ucapan Baekhyun menyadarkan dua orang yang tengah berjabat tangan itu dan mereka segera melepas tautan tangan mereka.

"Kau memiliki pacar yang tampan Baekhyun-ssi" ujar Luhan terlalu blakblakan yang membuat Sehun rasanya ingin terbang saja, seorang Luhan memujinya tampan, oh my god.

"Duduklah, dan panggil aku Baekhyun saja, begitupun mereka,, panggil mereka tanpa embel-embel -ssi agar lebih akrab hehe" Pinta Baekhyun yang diiyakan Luhan. "Hem.. karena kau juga lebih tua dari kami bolehkan kami memanggilmu hyung?" tanya baek.

"Tentu saja"

"Luhan hyung" gumam Sehun tiba-tiba membuat suasana diantara mereka hening sejenak.

"Iya mulai sekarang kalian harus memanggilnya Luhan hyung" perintah Baekhyun pada Sehun, Chanyeol dan Kai. Namun hanya Chan-Hun saja yang mendengarkan ocehan Baekhyun, karena Kai sedang asik sendiri memperhatikan seseorang yang baru saja masuk dari arah pintu belakang, sepertinya orang itu berjalan ke arahnya ah- lebih tepatnya ke arah teman-temannya.

Kai memandang orang tersebut dan tak lama lalu muncul symbol di atas kepalanya, "325563" gumam Kai sangat pelan

Orang tersebut masih melangkah kearahnya, semakin mendekat dan setelah sampai tepat di hadapannya, Kai pun dibuat takjub.

"Ti—tidak mungkin" gumam Kai dengan mata terbelalak masih memperhatikan simbol-simbol yang telah berubah menjadi '888888' dan bercahaya sangat terang.

"Kau kenapa Kai?"

Kai menghiraukan teguran Chanyeol, ia malah sibuk menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri seolah mencari sesuatu.

'Didekat kami hanya symbol Sehun dan Luhan dengan Chanyeol dan Baekhyun yang berubah dan bercahaya, tidak ada symbol lain lagi, lalu tuan sombong ini berjodoh dengan siapa? Jangan-jangan' batin Kai

"Tidak mungkin" Kai menyandarkan punggungnya pada belakang kursi dengan tubuh lemas sembari menangkupkan telapak tangan pada wajahnya yang terlihat frustasi.

"Hem.. mungkin dia lelah, abaikan saja! nanti juga baikan" Chanyeol membuka suara karena teman-temannya sejak tadi hanya menatap Kai dengan pandangan aneh. Sehun-Baekhyun hanya menggedikkan bahunya acuh, sementara orang yang baru saja datang mengulurkan tangannya ke arah Luhan.

"Do Kyungsoo" ucapnya memperkenalkan diri

"Oh akhirnya aku bertemu denganmu" Luhan beranjak dari duduknya dan menjabat tangan Kyungsoo. "Aku mendengar banyak cerita hebat tentangmu" lanjut Luhan.

"Jangan berlebihan Luhan-ssi, aku hanya pelajar biasa" Kyungsoo tersenyum sangat tipis,

"Jangan merendah Kyungsoo, kau kan memang hebat" sambar Baekhyun sembari menunjukan dua jempolnya pada Kyungsoo.

"Luhan-ssi bahasa koreamu cukup bagus, aku jadi tidak harus repot-repot membuka kamus" ucapan kyungsoo membuat luhan terkekeh

"Bohong ! Luhan hyung asal kau tahu Kyungsoo ini sangat jago bahasa inggrisnya" ujar Baekhyun dengan gesture bisik-bisik namun suaranya masih dapat didengar oleh semua teman-temannya. Dan Kyungsoo hanya memutar bola matanya jengah melihat Baekhyun yang selalu berlebihan memujinya.

"Duduklah Kyungsoo" perintah chanyeol yang sedari tadi hanya memerhatikan teman-temannya, "kau menghalangi pandanganku" ucapnya, perlu kalian tahu chanyeol sedang melihat-lihat ke arah stand makanan, sepertinya ia sedang mengincar salah satunya.

Kyungsoo duduk di kursi yang masih kosong tepat disamping Kai yang sekarang malah menangkupkan kepalanya diatas meja bundar tersebut.

'Bagaimana caraku melihat symbolku sendiri, tidak mungkin aku yang berjodoh dengannya' Kai masih asik dengan pikiran-pikirannya.

"Jika sakit sebaiknya pulang" ucap Kyungsoo dengan nada tegas yang terkesan kejam

Kai menolehkan kepalanya kesamping menatap Kyungsoo dengan kepala yang masih menempel diatas meja

"Kau mengusirku" Kai terlihat kesal

"Kenapa kau selalu salah mengartikan maksudku" Kyungsoo balas menatap Kai tajam.

Kai menegakkan tubuhnya dengan melipat kedua tangan di dada, "Karena kau selalu salah memposisikan perbendaharaan katamu"

"Ribet sekali hidupmu Kim-Jong-In" ucap kyungsoo penuh penekanan ketika mengucapkan nama kai.

"Iya hidupku memang ribet—runyam ! karena aku bukan anak sepertimu yang selalu diberi kemudahan oleh fasilitas dari orangtua" lagi! ucapan Kai sukses mengiris lubuk hati Kyungsoo.

"Kai cukup" Baekhyun geram, "Kau keterlaluan"

"tidak apa Baek, yang dia ucapkan memang benar" Kyungsoo meremas ujung jasnya yang hanya bisa dilihat oleh Kai karena posisi Kai yang paling dekat dengannya, ucapan Kai selalu saja tepat melukai hati kyungsoo dan ini puncaknya, kyungsoo sudah lelah.

"Baek tolong temani Luhan, maaf aku harus keluar sebentar. Luhan-ssi maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama" Kyungsoo beranjak dari duduknya dan langsung saja berlari menuju pintu keluar gedung serbaguna sekolahnya tersebut.

Tidak lama setelah Kyungsoo pergi, Kai menggeram ditempatnya yang sontak saja membuat teman-temannya terkejut, lalu Kai bangkit dari duduknya dan berlari ke arah yang sama seperti Kyungsoo.

"Apa mereka selalu seperti itu?" luhan sedikit tercengang melihat adegan barusan.

"Hem begitulah, mereka selalu salah paham" jawab Chanyeol

"Aku harus mencari Kyungsoo" Baekhyun berdiri dari duduknya. "Aku tidak yakin si hitam itu mengejar Kyungsoo untuk meminta maaf, aku takut ia akan lebih menyakiti Kyungsoo" Baek terlihat sangat khawatir.

"Ayo biar aku temani Baekkie" Sehun ikut berdiri

"Tidak, aku bisa mencari Kyungsoo sendiri, ia tidak akan jauh dari sini karena acara belum selesai, Sehun kau temani Luhan hyung disini" pinta Baekhyun.

"Ta—tapi"

"Ku mohon"

"Baek, aku bisa sendiri, lagi pula kan ada Chan-—" ucapan Luhan terputus karena ia tidak menemukan Chanyeol, yoda itu sudah menghilang dan malah terlihat ada di stand camilan.

"Tidak apa-apa Luhan hyung, Chanyeol tidak bisa diandalkan, sekali lagi maaf aku tidak bisa menemanimu" setelah membungkuk pada Luhan lalu Baekhyun mendekat ke arah Sehun, "Aku harus segera mencari Kyungsoo, Sehunnie aku tinggal sebentar ya, tolong temani Luhan hyung" Baekhyun mengecup pipi Sehun dan langsung pergi untuk mencari Kyungsoo

"Sepertinya Baekhyun sangat menyayangi Kyungsoo" Luhan memandang punggung Baek yang mulai menjauh.

"Hu'um, Baekhyun sudah menganggap Kyungsoo seperti adiknya sendiri" jawab Sehun yang ikut memandang punggung kekasihnya yang semakin menjauh.

.

.

.

Kyungsoo berlari tak tentu arah, hingga akhirnya ia sedikit kelelahan dan mengehentikan langkahnya, lalu ia bersandar pada sebuah pohon. Karena sudah malam keadaan sekitarpun minim cahaya karena hanya ada beberapa lampu saja di taman sekolahnya yang luas itu.

"Se—seburuk itukah aku huh? Hosh~ " gumam Kyungsoo tertahan dengan nafas yang tersengal. Lalu ia melangkahkan kakinya ke arah kandang kelinci yang terdapat disana.

Kyungsoo berjongkok dan memandang sayang pada kelinci-kelinci itu.

"Maafkan aku" Kyungsoo lalu melepas jas hitamnya dan menyimpannya diatas kandang agar kandang besi yang sekelilingnya terbuka itu tertutup oleh jasnya.

"Kalian pasti kedinginan setiap malam" ucap Kyungsoo parau, lalu ia duduk ditanah dan memeluk lututnya.

"Aku memang buruk" Kyungsoo menangkupkan wajahnya pada lututnya. Sungguh ia sangat lelah, hidupnya memang penuh kemudahan tapi ia terlalu banyak mendapat tekanan dan tuntutan.

Tiba-tiba saja ada yang memegang bahu Kyungsoo dari arah belakang dan menutupi tubuh Kyungsoo dengan sebuah jas.

"Baekhyun tinggalkan aku sendiri" Ujar Kyungsoo, ia menangkupkan wajah pada lipatan tangannya yang berada diatas lututnya. Bukannya pergi orang tersebut malah menjatuhkan lututnya ke tanah tepat dibelakang Kyungsoo lalu ia memeluk Kyungsoo dari belakang, tubuh Kyungsoo yang lebih kecil darinya terasa sangat pas ia peluk.

"Aku ingin menangis tapi aku tak bisa" gumam Kyungsoo tertahan merasakan bahu sebelah kanannya berat, rupanya orang itu menempelkan dagunya pada bahu Kyungsoo dan tangannya menepuk-nepuk kecil lengan Kyungsoo seperti mencoba menenangkan.

"Bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis Baek" Kyungsoo semakin membenamkan wajahnya dalam-dalam.

"Sakit sekali rasanya tidak pernah bisa meluapkan apapun yang aku rasakan" tubuh Kyungsoo sedikit bergetar ingin menangis meskipun airmatanya tidak bisa keluar.

"Terlalu lama terbiasa memendam semuanya, aku sampai kesusahan begini sekarang" entah Kyungsoo yang salah atau memang orang yang ia kira Baekhyun itu terasa seperti mencium bahunya.

"Terimakasih pelukannya, aku sudah tenang sekarang" ujar Kyungsoo mengangkat kepalanya memandang lurus ke arah kelinci-kelinci lucu itu tanpa berniat menoleh ke belakang.

"Pergilah Baek, Sehun pasti sedang mencarimu"

Orang tersebut menarik tangannya dan melepaskan pelukannya lalu mengusap surai halus Kyungsoo, setelah itu ia beranjak dari posisi berlutunya dan melangkah pergi meninggalkan kyungsoo.

Hening...

Kyungsoo sendiri lagi sekarang dengan pikiran-pikirannya sendiri. Sungguh ia lelah namun ia tidak boleh menyerah, ia menyayangi orang tuanya, keluarganya, teman-temannya dan orang orang disekitarnya, ia hanya ingin membuat semua orang bahagia meski ia tidak mengerti karena selalu ada yang salah dari caranya.

"KYUNGSOOOOOO~" teriak seseorang yang sama sekali tidak mengagetkan Kyungsoo, terlalu terbiasa tidak pernah bisa banyak bereaksi jadi Kyungsoo sangat berbeda dengan kebanyakan orang.

"Hosh—hosh~ ah kau disi-ni rupanya hosh" ujar Baekhyun yang sekarang telah berada di samping Kyungsoo, ia kelelahan sehabis berlari.

"Bukannya kau tadi habis dari sini Baek" ucap Kyungsoo membuat baek mengerutkan keningnya.

"Tidak, tadi aku mencarimu ke parkiran, aku baru menemukanmu disini sekarang" jelas Baekhyun yang membuat Kyungsoo menoleh padanya. 'Baekhyun masih memakai jasnya, jadi yang tadi itu siapa? Ini jas siapa?' batin Kyungsoo bertanya-tanya.

.

.

.

"Hun aku pulang duluan" ujar Kai yang baru saja datang menghampiri Sehun dan Luhan kembali

"Kau pulang dengan siapa? Kau kan tidak membawa kendaraan, tunggu dulu Baekhyun nanti kita pulang bersama"

"Aku bisa naik bus, kau antarkan saja sepupuku pulang" ujar Kai yang melihat Chanyeol sekarang malah tertidur dikursinya, raksasa itu kekenyangan.

"Jasmu mana? Diluar dingin"

Kai mengabaikan ucapan Sehun, ia menggoyang-goyangkan bahu Chanyeol, "Chan bangun, aku pulang duluan" namun Chanyeol tetap terlelap.

"Biar nanti aku yang bangunkan" ujar Sehun

"Baiklah, aku pulang" pamit kai yang lalu pergi meninggalkan Sehun, Luhan dan Chanyeol.

"Suasana hatinya benar-benar buruk" ucap Luhan setelah kepergian Kai.

"Maaf ya hyung, teman-temanku memang rumit"

"Gwenchana, itu yang membuat pertemanan kalian lebih berwarna, aku ingin berteman dengan kalian semua" Luhan tersenyum manis yang membuat Sehun terhipnotis seketika. Apa kabar Baek, hey Sehunah?

.

-Code Mate-

.

Ting Tong~
Tingtong Tingtong~

"Siapa sih bertamu pagi-pagi begini" Kai keluar dari kamarnya sembari menggaruk bokongnya yang gatal dengan mata yang setengah terpejam

Tingtong Tingtong Tingtong~

"Ck tidak sabaran sekali"

Kai memencet tombol intercomnya dan terpampanglah wajah sang eomma 'Zhang Yixing' yang sekarang sudah berganti marga menjadi 'Kim Yixing'

"MWOOO" Kai membelalakan matanya

"Buka pintunya KAAAIIIIIIII"

"Ti—tidak mau"

"YaaakkkKKK!"

"Nanti eomma memukulku"

"Tidak akan, eomma merindukanmu nakk"

"Matji?"

"Majja, Ayo buka pintunya, biarkan eomma masuk" rayu Yixing

"Janji dulu"

"Iya eomma janji"

*Ceklek~

Dugh~

"Aww aww aw eomma ampun aww" Kai memegang telinganya yang sedang dipelintir oleh sang ibu.

"Eomma kan sudah berjanji"

"Eomma hanya berjanji tidak akan memukulmu bukan tidak akan menjewermu" Yixing semakin menarik keras telinga anak semata wayangnya tersebut

"Ampun eomma ampun" Kai mengatupkan kedua tangannya memohon pada sang ibu dan akhirnya yixing melepaskan jewerannya. Kai mengusap-usap telinganya yang memerah.

"Bereskan barang-barangmu, kau harus pulang ke Jepang, SEKARANG JUGA!" perintah Yixing

"Shirreo!"

"Yakkk! Anak nakal"

"Bagaimana eomma bisa tahu aku disini?" ucap Kai sebal, namun sebelum ibunya menjawab, Kai menggeram terlebih dahulu "Ish jinjjaaa..." lalu Kai pun pergi masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel lalu menghubungi sang Ayah.

"Abeoji,, kenapa memberitahu eomma?"

". . . . . . . . . . . . . . . "

"Apa? Rayuan? Tarian erotis, ish tidak usah diceritakan"

". . . . . . . . . . . . . . ."

"Yasudah aku tutup"

". . . . . . . . . . "

"Mau bagaimana lagi"

". . . . . . ."

"Hemm"

Pipp

"Kamarmu benar-benar berantakan" ucap Yixing yang sekarang telah berada dipintu kamar Kai, "Bereskan barang-barangmu sekarang" lanjutnya melangkahkan kakinya mendekat pada sang anak.

"Aku ingin disini eomma, ku mohon... masih banyak urusan yang belum aku selesaikan disini" ucap Kai memelas sebisa mungkin, Kai tahu meski ibunya cerewet tapi ia berhati baik.

"Urusan apa? Jauh dari orangtua kau pasti nakal disini"

"Tidak, aku menjadi anak baik disini, aku rajin sekolah dan suka ke rumah kakek untuk membantunya berkebun" aku Kai, padahal ia hanya sekali saja ke rumah sang kakek,

"Benarkah?"

"Hmm tanya saja Chanyeol"

"Anak itu sama saja denganmu, ia berbohong bilang tidak tahu kau dimana"

"Oh i—itu karna aku yang menyuruh, aku ingin hidup tenang disini"

"Jadi hidupmu disana tidak tenang begitu?"

"Bu-bukan begitu, aku ingin mencari jodohku disini, sepertinya aku tertarik dengan orang Korea saja" ujar Kai yang sudah kebingungan menghadapi ibunya.

"Benarkah? Kenapa tidak bilang, aku bisa mencarikanmu pasangan dari keturunan Korea, di Jepang sana juga kan banyak" Yixing mendudukan dirinya di bed single milik sang anak.

"Aku suka yang pure Korea eomma" Kai masih mencari-cari alasan agar ia tidak dibawa pulang ke Jepang.

"Lalu apa kau sudah menemukannya?"

"Hampir, sedikit lagi tapi aku masih belum yakin" Kai teringat pada symbol Kyungsoo, "Kali ini saja eomma aku mohon, ijinkan aku disini, aku berjanji akan sekolah dengan baik dan menemukan jodohku, setelah lulus aku akan kembali ke jepang dan meneruskan pendidikanku sesuai yang eomma dan aboeji mau" jelas Kai, Yixing terlihat berpikir mendengar ucapan anaknya.

"Beritahu dulu eomma siapa gadis yang kau suka"

"Dia bukan gadis"

"APAAAAAAA?" yixing memijat kepalanya yang mendadak pusing. "Kenapa seleramu buruk sekali nak, janda beranak berapa? memangnya kau siap menjadi ayah tiri?"

"Ish eomma, bukan jandaaaa" geram Kai

"Lalu?"

"Hem namja"

"Aiguuu~ kau ini anak tunggal Kai, kau harus mempunyai keturunan" jelas Yixing.

"Zaman sekarang sudah canggih eomma, ada tanam rahim"

"Memangnya kau mau hamil?"

"Bukan aku, aku top nya tentu saja haha..."

"Yayayakk terserahmu lah.. aiguu" Yixing semakin memijat kepalanya.

"Sebenarnya aku tidak tahu menyukainya apa tidak, untuk saat ini aku sangat penasaran padanya" jelas Kai yang ikut mendudukan dirinya disamping sang ibu.

"Aku bingung eomma dengan perasaanku sendiri" Kai merangkul lengan ibunya manja,

"Ck~ dasar anak labil" sang ibu mengelus surai anak yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.

"Maka dari itu ijinkan aku tinggal disini sampai aku lulus, aku ingin meyakinkan perasaanku padanya"

"Siapa namanya? Dia anak siapa? Kau jangan sembarangan Kim, ingat turunan itu penting"

"Eomma jangan mulai lagi"

"Ehem ya minimal dia harus anak yang baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula"

"Aku tidak tahu dia baik apa tidak karena aku juga baru mengenalnya tapi yang jelas dia sangat sombong, kalau keluarganya aku tidak tahu banyak, yang aku tahu dari Chanyeol kalau dia anak dari Menteri Pertahanan Korea saat ini" ucap Kai kalem

"MWO!?" Yixing berteriak namun terlihat sumringah, "Bagus bagus kau harus mendapatkannya anakku"

Kai hanya memutar bola matanya malas

"Aku belum yakin apa dia jodohku, aku harus memastikannya dulu eomma, jadi ijinkan aku menyelesaikan sekolahku disini" pinta Kai menatap ibunya dengan puppy eyes andalannya.

"Err jangan menatap eomma seperti itu"

"Hehe, ayolah eomma, ijinkan aku tinggal disini aku janji akan menemukan jodohku disini"

"Hemmm..."

"Aku juga berjanji akan melanjutkan sekolah bisnis seperti yang eomma dan abeoji mau nanti"

"Benarkah?"

"Hu'um"

"Baiklah"

"Yeaaayyyy, terimakasih eomma, aku sayang padamu" kai menciumi pipi sang ibu.

.

-Code Mate-

.

"Sepupumu kemana Chan" tanya Baekhyun yang sekarang sedang menunggui Chanyeol yang sedang menyalin PR-nya.

"Tidak tahu, mungkin belum datang" Chanyeol masih serius menyalin tulisan-tulisan Baekhyun.

"Baby Hun aku lapar" Baek merengek pada pacarnya yang sedang serius mengisi satu nomor lagi pada PR-nya.

"Sebentar lagi, nanti aku belikan Baekkie"

"Kyungsoo kau sudah sarapan?" tanya Baekhyun pada Kyungsoo yang sedari tadi hanya duduk diam dikursinya.

"Sudah"

"Hem bagus kalau begitu"

"Cah~ selesai, kau ingin sarapan apa Baekkie?" tanya Sehun yang menutup buku PR-nya

"Roti saja, susu strawberry juga ya" ucap Baekhyun manja.

"Anything for you Baebae" sehun mencolek dagu Baekhyun, "Tunggu ya" lalu Sehun beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kelas menuju kantin.

Setelah kepergian Sehun, Baek yang sedari tadi hanya berdiri lalu mendudukan dirinya disamping Chanyeol sambil menunggu buku PR-nya.

"Baek omong-omong aku punya susu strawberry" ucap Chanyeol membuka tasnya lalu mengambil satu susu kotak dan memberikannya pada Baekhyun, "Untukmu saja"

"Kau serius? Lalu..nanti kau?"

"Aku tidak suka susu strawberry" jawab Chan yang kembali dengan kegiatan menyalin PR-nya

"Kalau tidak suka kenapa kau bawa susu strawberry?"

"Karena kau sangat menyukai susu strawberry" jawab Chanyeol yang membuat Baekhyun menatapnya tidak mengerti, merasakan ditatap Baekhyun lalu Chan mengalihkan pandangannya balas menatap Baekhyun, beberapa detik mereka saling menyelami mata masing-masing.

Hujan,,, aaa~ hujan~~

Terdengar suara teman-teman sekelasnya yang heboh menyambut datangnya hujan dan itu menyadarkan chanbaek dari acara saling manatap mereka.

"Ehem ba—baiklah ter-terimakasih Chan" sial Baekhyun gugup, daripada semakin salah tingkah, buru-buru baekhyun beranjak dari duduknya dan pindah duduk kedepan tepatnya disamping Kyungsoo yang masih betah berdiam diri melihat kearah jendela menatap hujan.

Baekhyun menatap kotak susu ditangannya dan memandang lama dengan pikiran-pikirannya sendiri, ia merutuki dirinya yang tiba-tiba tergugup tadi didepan chanyeol, ia menggigit bibirnya, menggembungkan pipinya imut dan membuat ekspresi-ekspresi lucu lainnya karena salah tingkah, a—ah memikirkannya lagi saja membuat baekhyun salting setengah mati, buru-buru baekhyun membuka susu strawberry pemberian Chanyeol itu lalu meneguknya sekaligus sampai tidak tersisa setetes pun, chanyeol yang masih memperhatikannya sejak tadi tersenyum melihat Baekhyun yang menurutnya akhir-akhir ini terlihat sangat menggemaskan.

'Sepertinya aku menyukai-—'

"Baekkie aku dataaaang~" Seru Sehun yang tiba-tiba muncul memasuki kelas sembari berlari dengan membawa dua susu straberry dan roti ditangannya.

'ck tidak ada harapan lagi' Chanyeol tersenyum miris untuk dirinya sendiri.

"Itu susu siapa?" tanya Sehun yang melihat satu kotak susu strawberry yang telah kosong di atas meja tepat didepan baekhyun.

"Oh i—itu pu-punya Kyungsoo" Baekhyun mengambil susu kotak itu dan menyimpannya di depan Kyungsoo, beruntungnya Baek karena Kyungsoo masih asik melamun menatap hujan dan menghiraukan mereka.

"Ini makanlah, dan juga ini habiskan" Sehun meletakkan pesanan Baekhyun di atas meja.

"Terimakasih chagiya" Baekhyun beranjak lalu merangkul bahu Sehun seperti biasa bergelayut manja, namun matanya sesekali melirik Chanyeol yang terlihat asik dengan PR-nya.

'Apa dia mendengar ucapankutadi? Ah Semoga tidak' batin Baekhyun yang merasa tidak enak dengan Chanyeol karena ia tidak mengakui telah meminum susu pemberian Chanyeol.

"Hmmm" Kyungsoo bergumam, akhirnya namja dingin itu tersadar dari acara melamunnya sedari tadi.

"Baek, apa kau tahu ini jas siapa?" tanya Kyungsoo pada Baekhyun yang sedang melahap roti, Kyungsoo mengeluarkan jas yang terlipat rapi dari dalam tasnya.

"Um tidak tahu, memang itu jas siapa?"

"Awalnya aku kira ini jasmu, orang itu memberikannya semalam, aku tidak tahu karena tidak melihatnya"

"Apa itu jasnya Kai?" sahut sehun yang terlihat berpikir, "Semalam ketika Kai berpamitan padaku ia tidak memakai jasnya" lanjut Sehun.

"Be—benarkah?" tanya bekhyun

"Dimana dia?" tanya Kyungsoo cepat

"Belum datang"

-Teeetttttttt~ bel sekolah berbunyi

"Dan sepertinya ia tidak akan masuk, atau mungkin datang terlambat" Sehun mendudukan dirinya di kursi kai yang kosong dan menepuk bahu chanyeol, "Chan sepupumu kemana?" tanya Sehun

"Tidak tahu, nanti aku telepon"

Kyungsoo membenarkan duduknya saat mendengar ketukan sepatu heels memasuki kelas mereka. Ia kembali menyimpan jas itu pada tas, 'Aku akan bertanya padanya nanti' ucap Kyungsoo dalam hati.

.

-SKIP-

.

Kyungsoo bergegas keluar kelas saat bel istirahat berbunyi, Ia melangkah lebar-lebar menuju taman belakang sekolah. Entah kenapa, firasatnya mengatakan jika 'orang itu' berada disana. Namja dengan mata bulat itu mendengus, sejak kapan dirinya jadi repot-repot seperti ini?

Benar.

Kyungsoo memandang datar pada sosok namja yang duduk menyandar pada kursi panjang di bawah pohon pinus itu, tas hitamnya tergeletak begitu saja dengan buku tebal kuno diatasnya. Bisa-bisanya bersantai disini. Kesal Kyungsoo.

Puk~

"ASTAGA!"

Kyungsoo tersentak kecil mendengar teriakan dari Kai saat ia menepuk bahunya. Tapi segera ia kembalikan ekspresi datarnya saat melihat Kai berbalik dan melebarkan mata ketika melihat sosok Kyungsoo.

"Berlebihan" ujar Kyungsoo benar-benar datar.

"Mau apa?" tanya Kai tak datar.

"Apa ini milikmu?"

Kai memandang sodoran tangan Kyungsoo yang membawa sebuah jas hitam. Kai mengerjap beberapa kali sebelum menjawab.

Ia mendengus, "Apa maksudmu? Jas seperti itu banyak yang menjual, kenapa kau berpikir aku yang punya? Bilang saja kau ingin memberikan itu padaku, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya. Jangan habiskan uangmu untuk membeli hal yang tidak perlu, dan aku masih sanggup membeli ratusan setel jas macam itu. Jadi—"

"Sudah ku duga jas murahan ini bukan miliknya..." gumam Kyungsoo mampu menghentikan perkataan Kai.

Namja itu berbalik dan berjalan pelan manjauhi Kai yang kini berdiri dengan wajah shock. "Apa katanya?! Ja-jas murahan?" geram Kai.

Oh sungguh sekarang suasana hatinya benar-benar dalam keadaan yang buruk. Sejak pagi, ah bukan lebih tepatnya sejak Ia pulang dari acara amal kampus waktu itu Kai terus berpikir bagaimana caranya melihat simbol miliknya sendiri. Dan seperti inilah, hari ini ia berakhir di bangku taman belakang sendirian padahal jam pelajaran sudah dimulai, ditemani dengan buku pemberian kakeknya. Sudah hampir mendekati halaman keseribu tapi Kai tidak juga menemukan caranya, astaga... dia hampir gila. 'Percuma saja membawanya' pikir Kai.

Dan sekarang manusia sombong yang benar-benar dibencinya itu datang dan menghancurkan moodnya yang sudah hancur terlebih dahulu. Benar-benar sebuah kesialan.

Kai masih memandang marah ke arah Kyungsoo yang berhenti sejenak di samping lelaki pendek berkaca mata dan dekil.

"Hey,, ini untukmu!" ujar Kyungsoo seraya memberikan jas yang dibawanya kepada pemuda yang baru saja keluar dari Toilet. Namja berkaca mata yang kini memegang jas yang tampak mahal itu, memandang kepergian Kyungsoo dengan bingung. Tak berapa lama ia tersenyum, seorang populer di kampusnya memberi hadiah jas mahal padanya secara cuma-cuma.

Namja itu hendak melangkah jika saja sebuah tarikan dari belakang tidak menghadanya. Tubuhnya terhuyung karena bahunya di tarik kasar hingga ia berbalik. Kepalanya mendongak dan menemukan Kai dihadapannya. Saking terkejut, cairan bening dari hidungnya hampir meleleh mendekati bibir. Kai terbelalak, dan segera meraih jas dalam dekapan namja culun itu.

"Kemarikan! Ini punyaku! Ugh,,, KAU MENJIJIKAN!" ujar Kai membuat namja itu lagi-lagi terkejut.

Kai berbalik dan melangkah menuju taman lagi, kemudian meraih tas setelah memasukkan buku tebal itu kedalamnya. Ia berjalan dengan muka masam melewati lapangan basket, menuju kantin. Kesal membuat dirinya lapar.

.
-Code Mate-
.

Kyungsoo sedang makan dengan tenang saat hentakan kaki terdengar mendekat ke arahnya.

'Brugh'

"Hosh.. hosh.. hosh..."

Kyungsoo menghentikan makannya sejenak kemudian menatap seseorang yang baru saja mendudukkan diri dengan kasar di hadapannya. Tidak ada yang berani duduk semeja dengannya ketika makan kecuali memang atas kehendak kyungsoo sendiri dan Oh, tentunya juga pengecualian untuk orang di hadapannya ini. Tak sampai sepuluh detik, Kyungsoo melanjutkan acara makannya dan mengacuhkan orang itu sampai kemudian tangannya di cekal saat hendak memasukkan makanan.

Kyungsoo mendesah kasar, ia melepas sendoknya begitu saja.

.

.

Kai sebenarnya bingung, apa yang ia lakukan sekarang.

Dia tersentak dan segera melepaskan cengkramannya di tangan Kyungsoo saat melihat tatapan tajam yang di bencinya itu.

"Mau apa?!"

Kai tertegun mendengar pertanyaan yang di lontarkan Kyungsoo untuknya. Benar. Mau apa dia kemari dan menemui Kyungsoo? Kai berdehem menghilangkan rasa kikuk yang tiba-tiba saja menyerang.

"A-aku... emm.. aku... y-yak! Apa maksudmu jika jas itu murahan?! Eoh? Kau tahu tidak berapa harganya?! 500.000 won asal kau tahu! Dan Kau bilang itu murahan?!"

Kyungsoo mengernyit, "Kau sendiri bilang jika kau mampu memberi ratusan jas seperti itu 'kan? Jika begitu, sudah pasti itu barang murahan"

Namja berkulit tan itu tergagap ingin membalas perkataan Kyungsoo, "T-tetap saja! Bagi sebagian orang itu sangat mahal! Kau tidak memikirkannya ya? Oh tentu saja, anak kaya raya dari Menteri Pertahanan Negara Korea Selatan tidak mungkin mau memikirkan orang kalangan bawah. Dia terlalu egois, sampai-sampai tak peduli pada sekelilingnya. Astaga aku tidak berpikir bagaimana bisa Tuhan menciptakan orang sepertimu" Kai tersenyum miring setelah mengatakan apa yang ada dipikirannya, ya ampun! Apa dia berhasil membuat Kyungsoo kesal? Jika iya, dia harus merayakannya, karena membuat Kyungsoo kesal adalah suatu kebanggaan bagi Kai. Tapi...

TUNGGU!

Apa itu tadi?!

Seringai Kai menghilang saat seperkian detik yang lalu ia menangkap sesuatu dimata bulat itu. Tatapannya sendu dan sebuah rasa sakit yang mendalam mampu membuat hati Kai merasakan nyeri yang entah kenapa terasa begitu menyiksanya. Jelas, Kai jelas-jelas melihatnya tadi, walaupun tak sampai satu detik.

Kai menyipitkan matanya pada Kyungsoo yang kembali berwajah datar. 'Siapa sebenarnya orang ini?' batinnya. Kemudian Kai dikejutkan dengan kekehan sinis yang keluar dari bibir Kyungsoo.

"Kau benar! Untuk apa aku capek-capek memikirkan orang kalangan bawah. Aku lebih berkuasa. Iya kan? Dan tolong, tidak usah dipikirkan kenapa Tuhan bisa menciptakan manusia jahat sepertiku, karena akupun tak tahu.."

Kai semakin tidak mengerti dengan keadaan Kyungsoo. Ucapannya memang membuat kesal, tapi apa benar Kyungsoo seburuk yang ada dipikirannya? Lihat! Kyungsoo bahkan tidak pintar menyembunyikan pancaran matanya. Benar-benar payah! Dan sekarang, Kai malah tertekan dengan keadaan ini, rasa bersalah hinggap begitu saja.

"Kyu-kyungsoo..."

"Berhenti berbicara Kim Jongin. Kau membuat selera makanku hilang" setelah mengucapkan itu, Kyungsoo bangkit dan berjalan meninggalkan Kai yang tercenung sendirian di bangku itu.

Tak lama kemudian Donghe dan hyukjae- orang yang dikenalnya sebagai pengawal Kyungsoo datang dan membereskan sisa makan Kyungsoo. Kai yang merasa diperhatikan mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, ia terkejut karena dua pengawal itu tengah memperhatikannya.

"Yak! Wae?!" teriak Kai membuat dua pengawal itu tersentak.

Kai mengacak rambutnya frustasi, sebenarnya ada apa dengan Kyungsoo itu? Gara-gara tingkahnya Kai jadi merasa gila. Lelaki itu bangkit dan berjalan gontai menuju pintu keluar kantin, ia lupa dengan rasa laparnya.

.
-Code Mate-
.

Kyungsoo dengan semangat menuruni mobilnya, dan berlari kecil menuju pintu utama rumah. Tadi tepat setelah kyungsoo keluar dari kelas ia menerima pesan singkat dari ibunya yang memberitahukan jika ibu dan ayahnya berada di rumah sekarang dan sedang menunggu kedatangannya, jarang-jarang kedua orangtuanya ada dirumah di jam-jam begini. kyungsoo bahagia, sedikit senyum tersungging di bibir manisnya.

'Ckrek'

ehem

"A-Aku pulang~" seru Kyungsoo, dan segera mengganti sepatu dengan alas kaki rumah.

Kyungsoo tersenyum saat melihat Ibu dan Ayahnya berjalan beriringan mendekatinya. "Selamat datang" pelukan hangat dari sang ibu menyambut Kyungsoo.

"Ayo masuk, ayah mempunyai kejutan!"

Kyungsoo melepaskan pelukan itu dan menatap dengan senyuman aneh pada ayahnya. "Kejutan? Lagi?"

Kim Jongdae- Sang Ayah mengangguk dan segera menggiring anak semata wayangnya ke ruang tengah. "Katakan padaku apa kejutannya?" Tanya kyungsoo

"Kau akan tahu sendiri nak" Kyungsoo mendesah mendengar sahutan dari sang ibu, "Aku senang sekali sekarang. Kalian datang dan membanjiri aku dengan kejutan. Terima kasih Eommonim abbeoji"

"Kau putraku, sudah sewajarnya kami membahagiakanmu sayang.."

Kyungsoo tersenyum mendengar jawaban ayahnya, jika sudah bertemu ayahnya kyungsoo akan merasa senang yang tiada tara.

"Itu dia.." Kyungsoo langsung menoleh saat ibunya menunjuk ke arah ruang tengah.

Mata bulatnya melebar, melihat siapa yang duduk di sana. Sudut bibirnya terangkat ke atas, Ia berlari dan segera memeluk orang yang merentangkan tangannya untuk menyambut Kyungsoo.

.
-Code Mate-
.

Hari berlalu,

Kai sudah seperti mayat hidup sejak ibunya kembali ke jepang. Matanya berkantung, dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Sungguh, Kai bahkan tidak ingin dirinya seperti ini. Tapi pikirannya tidak mau berkompromi dengan baik.

Untuk kesekian kali, Kai mematut dirinya di depan cermin kamar mandi. Sudah tiga puluh menit terlewati, tapi simbol sialan itu tidak juga timbul di atas kepalanya. Kai menggeram, ia tidak bisa menemukan caranya seorang diri dan Kai memutuskan dia harus bertemu dengan kakeknya weekend ini.

Siapa yang kira Kai begitu terobsesi dengan kemampuan 'baru'nya. Saking inginnya dia melihat simbolnya sendiri, Kai melakukan hal gila. Kau tahu... itu memalukan. Bagaimana tidak, setiap pulang sekolah Kai akan berkeliling Seoul hanya untuk menemukan kaca dan mematut dirinya lama-lama di depan benda datar itu. Oh ada satu kejadian yang sangat memalukan. Waktu itu Kai berniat mencari polo shirt baru di salah satu toko langganannya, saat memasuki ruang ganti bukannya mencoba baju Kai malah terdiam lama di depan cermin. Lama... lama... lama...

"YAK!" prang~

Kai terengah setelah puas meninju cermin di depannya karena simbol miliknya tak muncul di cermin itu. Kemudian seseorang membuka tirai yang menutupi ruang gantinya dan terlihatlah seorang wanita paruh baya –yang sepertinya adalah pemilik toko- memandang kaget pada Kai.

"Oh Astaga! Apa yang kau lakukan dengan semua ini? Kau merusak fasilitas butikku! Aigoo! Aku menelpon polisi!"

Kai menatap horor pada wanita itu dan segera meraih ponsel yang baru saja dikeluarkan dari saku celana si wanita.

"J-jangan menelpon polisi! Aku akan ganti rugi!" ujar Kai pada si wanita.

.

.

Kai keluar dari kamar mandi dan segera memakai seragamnya. Ini hari jumat, besok Kai akan langsung menemui kakeknya. Hal itu membuat Kai bersemangat menjalani hari terakhir sekolah minggu ini.

.
-Code Mate-
.

Kai menghentikan motornya saat melihat seseorang yang begitu familiar turun dari sebuah Mustang modifikasi di depan gerbang masuk sekolahnya. Walau dari jarak yang terbilang jauh, Kai mampu melihat jika itu adalah Kyungsoo.

"Kemana dua pengawalnya?" tanya Kai pada diri sendiri.

Diameter matanya melebar saat melihat Kyungsoo merendahkan tubuhnya hingga ia bisa mencium pipi seorang berambut pirang di dalam mobil itu. Tunggu! Siapa dia?

Kai mengepalkan tangannya yang sedang luka dan dibalut perban, luka itu tentu saja didapatnya setelah meninju cermin di toko beberapa waktu lalu.

Kai menajamkan matanya, Hati Kai menjadi resah setelah melihat pemandangan didepannya. Kai tidak tahu perasaan macam apa ini, hanya... dia benar-benar tidak suka bagaimana kedekatan Kyungsoo dengan orang itu.

Deg..

Kai tercenung, apa yang baru saja terlintas di pikirannya? Cemburu?

Oh tidak. Jangan keluarkan kata itu lagi, Kai membencinya. Kai bukannya cemburu, hanya tidak menyukainya.. itu saja. Jadi jangan pernah salah mengartikannya.

"Oke, Kim! Lupakan dia!" monolog Kai, kemudian kembali menjalankan motornya memasuki parkiran sekolah.

.

.

.

Sabtu tiba.

Pagi ini Kai bergegas menuju rumah kakeknya seorang diri. Karena dia sudah tahu jalan menuju kesana, Kai menggunakan motor sport kesayangannya. Kai berambisi, hari ini dia harus mendapatkan jawabannya. Harus.

Sekian lama perjalanan, akhirnya Kai sampai di rumah sang kakek.

Ia buru-buru turun dari kendaraannya dan langsung mengetuk pintu kayu itu.

Tok~ Tok~ Tok~

"Harabeoji! Ini aku Kai"

Kai terdiam sejenak menanti sahutan dari sang kakek, tapi tak terdengar apapun dari dalam sana. "Harabeoji, kau di dalam?"

"..."

"Buka pintunya!"

"..."

"Aku akan masuk sendiri, otte?"

"Harabeo—"

"Kau datang lagi?" pertanyaan itu membuat Kai terlonjak dan segera membalikkan diri dan terkejut lagi saat melihat kakeknya membawa pisau besar di tangannya. Kai langsung bersandar lemas sambil memegangi dadanya yang masih terkejut hebat.

"Aishh... jinjja!" desis Kai saat rasa kagetnya mulai menghilang. "Harabeoji mengagetkanku!" ujarnya pelan.

"Aku tidak mengagetkanmu! Kau saja yang keget sendiri.." tukas sang kakek seraya meletakkan pisau yang di bawanya di bawah meja kayu panjang di depan rumah.

"Oke, terserahlah! Harabeoji, sekarang beritahu aku bagaimana caranya melihat simbolku sendiri? Aku sudah mencoba berbagai cara, namun hasilnya nihil!" Kai berucap panjang.

Kakeknya kembali memandang Kai lama, kemudian beliau berucap "Untuk apa melihat simbolmu? Itu tidak penting"

Kai tersedak, tidak penting apanya?

"Ya ampun.. jelas itu sangat penting Harabeoji! Bagaimana aku tahu siapa jodohku jika aku tidak tahu simbolku sendiri"

Kakek Kai terkekeh, "Dengar Kim, menurutku kau akan tetap bertemu dengan jodohmu dengan jalan yang sudah ditentukan Tuhan. Tidak perlu bersusah payah seperti ini" jelasnya pada Kai.

Kai mendengus, ia benar-benar frustasi. Kai bukannya tidak sabar menanti jodohnya yang sudah di siapkan, Kai hanya ingin mencintai langsung jodohnya tanpa harus berepot-repot merasakan patah hati terlebih dahulu karena berganti-ganti pasangan. Uh Sekarang harus bagaimana? Kai yakin kakeknya itu tidak akan luluh sekalipun ia bersujud, tentu saja.. kakeknya itu tidak mudah dirayu.

"Baiklah, aku akan pulang. Annyeonghaseo~" Kai membungkuk dan pergi meninggalkan kakeknya. Sebaiknya ia pulang dan menenangkan pikirannya sejenak.

Setelah Kai sampai di apartemennya, ia kembali teringat pada buku kuno pemberian kakeknya. 'Apa mungkin jawabannya ada disitu?' pikir Kai.

Beberapa menit berlalu, Kai masih tidak menemukan buku itu. "Arghh! Dimana aku meletakkannya?" geram Kai, masih terus mencari.

Langkahnya terhenti saat hendak menuju dapur, sekarang Kai ingat dimana bukunya. Ia menendang buku itu beberapa hari yang lalu karena merasa buku itu benar-benar tidak berguna. Kai memutar tubuhnya dan segera melangkah menuju kamar. Brak~

Pintu terbuka kasar, Kai segera mendekati ranjangnya dan membungkuk melihat ke bawah ranjangnya. Gotcha!

Kai meraih buku itu dan langsung membawanya kesofa ruang tengah. Ia kembali membuka lembaran usang tersebut dan membacanya perlahan.

Detik menjadi menit, dan kini jam sudah berlalu.

Kai mulai merasa bosan dan kesabarannya sudah hampir habis. Sudah dibilang buku itu tidak berguna.

"Haishhhh!"

Kai menjatuhkan bukunya begitu saja kelantai dan menggeram kesal karena lagi-lagi dia tidak bisa menemukan jawabannya.

Kemudian matanya menangkap sesuatu yang aneh di buku itu, buku kuno itu jatuh dan membuka di halaman terakhir. Kai kembali meraihnya, di halaman terakhir ini ada sebuah gambar bentuk amour di bawahnya terdapat garis panjang dibawah garis tersebut ada gambar gelombang air dan amour lagi, tapi anehnya amour itu tak digambarkan dengan jelas seolah-olah itu adalah bayangan.

Kai mengernyit, apa maksudnya?

Air. Bayangan.

Satu...

Dua...

"BINGGO!" teriak Kai memenuhi apartemennya.

.

.

.

TBC

Next or No?

A/N [Fafasoo202] : Yeoreubun Annyeong! *clapyourhands* Wehehehe.. lama tak jumpa:* Gimana kabarnya? Baik semua kan ya... apalagi setelah melihat moment duni3 di Exoluxiondot, walaupun awalnya sedih sih ya liat nini cuma bsa duduk gtu T_T tapi dudu selalu ngejagain nini,, huaaaa senengnya Oke, lupakan yang itu.. gmna dengan chp.6 ini? Diharapkan puas ya XD oh iya,, ini chapter terpuaaannnjang yang faflow tulis, semoga gak bosen waktu baca ya :")
Please visit = www fanfiction net/~fafasoo202 = ganti spasi dengan titik.
Last, Goodbye... kyaknya bakalan lama update karena banyak hal yg bikin fafa hampir stres... XD jadi fangirl selalu ngenes nasibnya..^^ waks... udah ah... tunggu aja updatenya ya :*

A/N [Flowerdyo] : Haiiii :") sebenernya chapter ini dibuat sebelum tragedi april mop, FaFlow lagi bagus moodnya makanya bisa sepanjang ini ^^ tapi maaf aq baru bisa update sekarang, karna aq butuh waktu buat baperberkepanjangan :v weheh~
tragedi april mop bener2 bikin down :") tapi yasudah yg paling penting sekarang tetep percaya aja sama keyakinan masing2 :D dan aq bakal tetep percaya kaisoo (kai+kyungsoo)^^ 3
ohyaa.. chapter slanjutnya bakal update abis Fafa beres UN ya ^^ buat Fafa smoga sukses UN nya de :* fighting~

KSHS fighting^^

See ya next chap \(^_^) ('-')/

Mind to review?