"Kenapa kau membuatku bahagia dan sedih disaat bersamaan. Apa semua ini karena kita hanya berteman? " – Kim Taehyung

"Bagaimana jika aku menyukai alien bodoh sepertimu? " Jung Hoseok

Title : War of Hormone

Author : Hopies

Pairing :

Kim Taehyung x Jung Hoseok

(V-Hope)

Disclaimer :

Cerita ini hanya sebuah cerita fiktif yang tidak terinspirasi dari lagu War of Hormone. Karena saya terlalu bingung memberi judul (?) Terima kasih untuk teman-teman saya yang menginspirasi untuk menulis fanfic meskipun mereka lebih menyukai pairing VKook wkwk.

Warning :

YAOI. Typo everywhere. Banyak kata yang diulang dan tidak baku. Maafkan..

.

.

Happy Reading..


'Apa dia benar-benar tidak apa-apa?' ucap Taehyung dalam hatinya. Sepertinya dia sedikit khawatir dengan kelakuan aneh orang yang dikaguminya itu.

Segera dia membalikkan langkahnya dan kembali ke kelas. Betapa kagetnya dia melihat pemandangan yang seharusnya tidak dilihatnya…

.

.

.

Hoseok mencium Jungkook.

Dia membulatkan matanya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Dia menjadi takut dengan apa yang dia lihat barusan. Seharusnya tadi dia tetap ke perpustakaan daripada harus melihat pemandangan 'nista' menurutnya itu.

.

.

"Apakah mereka tidak memiliki tempat lain" ucapnya pada dirinya sendiri sambil meneguk minuman soda kesukaannya.

"Taehyung-ssi?" tiba-tiba seseorang menyapanya.

"Jin-ssi? Hai.. maksudku apa yang kau lakukan disini?" Tanya Taehyung kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

Mungkin ini menjadi kebiasaan barunya saat melihat Jin dia menjadi pemalu dan tak berani menatap namja tampan dihadapannya itu.

"2 bulan lagi akan ada pensi. Saat ini semua anggota OSIS sedang sibuk mengikuti rapat.." ucapnya panjang lebar sambil meneguk botol air yang dibawanya.

"Ahh nee~ maaf aku tidak tahu"

"Apa yang kau lakukan saat ini? Bukankah ini sudah 2 jam setelah bell sekolah berbunyi?" Tanya Jin melihat Taehyung yang masih berkeliaran disekolah.

"Ahh aku ada kerja kelompok di kelas. Sudah yaa.. aku kembali ke kelas dulu Jin-ssi" jawab Taehyung sambil melangkah menjauhi sang ketua OSIS.

-VHOPE-


Dengan ragu dia menaiki arah tangga menuju kelasnya. Dia masih teringat bahwa tas nya masih berada disana. Saat menoleh dikelas dia tidak mendapati Hoseok ataupun Jungkook lagi. Namun, setelah dia melihat dengan teliti. Tas ransel biru dongernya tidak ada dikursinya.

"Aishhh..aku pasti.."ucapnya frustasi. Seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan mendorongnya ke tembok.

"Appa..yang.." belum sempat dia mengatakan sesuatu orang itu memberi isyarat untuk diam dan mengikuti langkahnya turun.

-VHOPE-


"Apa kau gila Hoseok-ssi" ucap Taehyung sambil memakan ice cream cone yang diberikan Hoseok beberapa saat lalu.

"Aku masih waras.. sudahlah nikmati saja" balas Hoseok yang juga menikmati ice cream disamping Taehyung.

Belum sempat Taehyung mengatakan mengenai tugasnya, Hoseok langsung menjawab seakan tahu maksud dari namja di sampingnya itu "Masalah Tugas Kim Songsaenim? Aku sudah mengerjakannya. Kau kira aku dapat mudah percaya dengan hasil otakmu dan si cebol cap tikus itu" jawab Hoseok santai.

Taehyung memicingkan matanya tajam dan menatap tajam pada orang disebelahnya itu "Ya! Kenapa aku jadi dibawa-bawa"

"Kau dengannya sama. Sama-sama bodoh" masih dengan nada santai Hoseok mengatakan hal itu.

Taehyung menghentikan kegiatan 'menikmati-ice-cream' nya dan mengerucutkan bibirnya lucu.

"Wae? Apakah aku salah? Aku heran kenapa kalian berdua sama-sama bodoh. Terutama kau!"

Taehyung masih diam dan memutar bola matanya malas. Mungkin benar jika dia memang seorang masokis. Sepedas apapun kata-kata yang keluar dari mulut Hosoek seolah menyihirnya dan menjadikannya sebagai kata-kata mutiara untuknya. Karena dia benar-benar tidak merasa marah dengan segala ejekan Hoseok padanya.

'Kurasa dia sudah kembali lagi' pikir Taehyung.

"Terserah kau saja Hoseok-ssi. Awas saja kau menyukai si bodoh ini" ucapnya tanpa sadar. Diapun segera menutup mulutnya karena semburat merah muncul dari pipinya tiba-tiba.

Hoseok menoleh kearah lawan bicaranya kali ini "Memang kenapa jika suka?" Tanya Hosoek dengan ekspresi datar.

"Ahh ani.." jawabnya berpura-pura tersinggung.

"Apakah kau menyukaiku?" Tanya Hoseok pada Taehyung.

Taehyung diam dan tidak menjawab. Hoseok masih menatapnya dengan ekspresi datar. Diapun menoleh ke arah Hoseok. Seketika namja didepannya mencubit pipinya dengan gemas.

"Berhenti berekspresi seperti itu Alien Kim. Kau membuatku semakin ingin memakanmu.." ucap Hoseok masih dengan ekspresi sama.

Satu kesalahan besar Hoseok.

Dia tidak sadar jika namja di depannya itu sedang bersusah payah mengatur detak jantung saat mendapatkan sentuhan darinya.

-VHOPE-


Banyak yang mengatakan jika hubungan Hoseok dan Jungkook berakhir. Gossip itu cepat sekali menyebar hingga penjuru sekolah. Bahkan tak jarang guru menggoda mereka berdua. Namun keduanya hanya diam dan tidak memberi kepastian.

"Hoseok-ssi, tolong beritahu saya bagaimana gambaran perasaan seseorang yang sedang putus cinta" seketika kelas ricuh saat mendengar perintah Park Songsaenim pada salah satu siswa dikelas itu.

Namun Hoseok hanya menjawab dengan tersenyum menanggapinya.

Saat kelas usai hanya tinggal Taehyung dan Hoseok yang berada dalam kelas. Saat Hosoek ingin keluar. Tiba-tiba Park Songsaem menahannya.

"Kau akan mendapatkannya Hoseok-ssi.. orang yang kau perjuangkan selama ini. Namun, mungkin kau harus sedikit berjuang untuk meyakinkannya"

Hoseok hanya terdiam mendengar ucapan Park Songsaem dan melihat kepergiannya dari kelas. Kemudian dia menoleh kearah Taehyung yang sedari tari tertidur di bangku. Dia tidak benar-benar tidur. Hoseok tau akan hal itu. Dia mendengar semua perkataan Park Songsaem barusan. Namun dia hanya tidak ingin membuka matanya untuk saat ini.

.

.

Akhirnya diapun tertidur sambil mendengarkan hearphone dimejanya. Seseorang tampak membelai rambut coklatnya penuh kasih sayang "Taehyung-ssi kenapa kau sangat imut bahkan saat tertidur seperti ini.." ucapnya sambil tersenyum hangat.

-VHOPE-


"Ya noona.. aku bisa.. nanti malam? Ah maaf.. aku ada les matematika.." ucap seseorang dari ujung telponnya. Siapa lagi jika bukan Park Jimin.

"Siapa Jimin-ah?" Tanya Taehyung tidak antusias.

"Yuri noona. Dia mengajakku menonton dan berlatih dance bersama.." jawab Jimin sambil meneguk jus jeruk milik orang di depannya.

Oh ya, jangan lupakan. Jimin sangat aktif dalam dunia tari. Tariannya sangat sexy dan menawan. Tak sedikit yang memujinya. Meskipun disekolah dia sangat jarang menonjol namun jika diluar banyak yang mengenalnya.

"Lalu kenapa kau menolak ajakannya nanti malam?" Tanya Taehyung memangku tangannya menatap sahabatnya itu.

"Aku lelah. Aku ingin beristirahat Taehyung-ah. Sebentar lagi kita akan beralih profesi kan? Aku tidak sabar melihat laut" jawab Jimin polos sambil melahap makanannya.

'Terkadang kau sangat terlihat polos bodoh' ucap Taehyung dalam hati. Diapun tersenyum melihat sahabatnya makan dengan lahap.

-VHOPE-


Ini sudah ke seperkian kalinya Taehyung terlibat dalam 1 kelompok bersama Hoseok dan Jimin. Keduanya hanya saling menatap tajam daritadi. Bahkan seluruh siswa dikelas mengetahui jika mereka tidak pernah akur. Bahkan hal kecil sekalipun. Dan untung saja duduk mereka dibatasi oleh namja bermarga Kim itu. Kim Taehyung. Dia menatap malas pada dua orang yang sedaritadi saling menatap sinis dan melempar kalimat saling menyindir.

"Tae-ya.. ayo pergi dari sini" ucap Jimin menarik tangan kanan Taehyung kasar.

Hoseok pun menahan dari sisi kiri menarik tangan Taehyung sambil menatap tajam "Kau mau kemana? Urusan kita belum selesai. Kalian bahkan belum mengerjakan 1 kata pun."

"Aku akan mengerjakan dirumah. Aku lelah saat ini. Otakku tidak bisa berfikir.." Jimin menjawab dengan nada malas.

'Oh, siapapun tolong pisahkan mereka berdua' ucap Taehyung dalam hati.

"Aku…aku akan mengerjakan semuanya.." akhirnya Taehyung memberanikan diri mengeluarkan kata-kata dari mulut manisnya.

Hoseok pun tersenyum padanya "Baiklah. Kau memang terbaik.." ucapnya sambil mencubit gemas pipi namja manis dihadapannya itu lalu pergi meninggalkan kelas.

Untuk ke seperkian kalinya. Rona merah itu muncul dipipi putihnya itu.

"Kau kenapa?" Tanya Jimin tampak khawatir melihat sahabatnya itu.

-VHOPE-


Hari ini sekolah SMA Bangtan begitu sepi. Dapat dilihat bahwa bel berbunyi 3 jam yang lalu sebelum bel sekolah biasanya. Namja berambut surai coklat itu masih duduk dengan santai dikelasnya. Bukan tidak ada apa-apa. Hanya saja dia memutuskan untuk tidak segera pulang kerumah. Kakaknya sedang keluar kota belakangan ini karena urusan kampus –katanya-

"Taehyung-ah, maafkan noona. Ada yang harus noona urus akhir-akhir ini. Jaga dirimu baik-baik adikku sayang. Ingat! Jangan berulah.." pesan kakaknya sebelum pergi. Sebenarnya bukan seperti pesan, namun juga ancaman. Diapun menggeleng frustasi jika membayangkan wajah kakaknya saat sedang marah. Sangat seram! Kata Taehyung.

Setelah berdiam diri dikelas dia memutuskan untuk pulang. Tak sengaja dia melihat kearah lapangan. Dia melihat seseorang duduk berdua didekat lapangan. Saat dia menajamkan pemandangannya ternyata itu adalah Hoseok dan kekasihnya, Jungkook.

'Ku rasa benar. Mereka belum putus' batin Taehyung dengan sedikit kecewa.

.

.

.

Tbc/end?

.

.

-Epilog-

Setelah mendapatkan panggilan dari smartphonenya, namja berambut hitam itu melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Tidak mudah memang memiliki 2 rumah. Jangan tanya itu rumah siapa. Jelas orang tuanya. Sejak orang tuanya bercerai dan menikah dengan pasangannya masing-masing hidupnya seolah semakin hancur. Bahkan dia tidak bisa hanya sekedar tertawa ketika di dalam rumah. Kehadirannya dalam rumah seolah tidak dibutuhkan. Sapaan ringan seperti

"Apakah harimu menyenangkan disekolah?"

"Wah, lihat jagoan kita juara kelas lagi"

"Apa yang ingin kau makan hari ini?"

"Haruskah kita pergi berlibur saat musim panas nanti?"

Dia hanya tersenyum getir memasuki rumahnya yang saat ini gelap. Tidak ada siapapun disini selain dirinya. Sejak orang tuanya bercerai dia lebih sering tinggal dirumah Appa-nya darimana Eomma-nya. Alasannya karena sang ibu sedang hamil adiknya bersama suami barunya. Sedangkan ayahnya? Sekarang ntah kemana diapun tidak peduli.

Diapun membuka pesan dari smartphone yang daritadi tidak berhenti bergetar.

From : My Love

Apakah kau sedang dirumah? Bisakah kau mengantarku ke tempat les chagi?

Lalu diapun membalasnya dengan malas.

To : My Love

Maaf, aku sedang diluar rumah. Aku ada urusan. Lain kali pasti aku mengantarmu. Maafkan aku..saranghae

Setelah mengetik dan mengirim tombol pesan diapun melempar smartphonenya dengan kasar di kasur king size nya. Tak terasa air matanya mengalir dari matanya. Dia sangat merindukan keluarga hangatnya dulu. Namun tidak ada yang bisa menolongnya saat ini.

Diapun mengambil beberapa baju dan memasukkannya pada tas sekolah serta mengambil seluruh uang dinakas kamarnya.

"Maafkan aku appa.." ucapnya pada dirinya sendiri.

Diapun melangkahkan ke sungai Han. Menjadi tempat favoritnya dikala sedih. Sambil mendengarkan lagu melalu earphone sambil menikmati indahnya sungai didepannya. Oh jangan lupakan puntung rokok yang dia hisap sekarang. Ntah sudah berapa batang rokok yang dia habiskan saat ini. Cuaca sangat dingin, angin bertiup cukup kencang. Namun tidak membuatnya merubah posisinya saat ini, hingga dia bertemu dengan salah satu, errr bisa dikatakan teman. Namun, bukan teman baik..

"Jung-ssi?" sapa seorang dari belakang.

"Kau..apa yang kau lakukan?" merasa ada yang memanggil. Diapun segera mematikan batang rokok yang dia hisap dan menginjaknya ditanah.

"Seharusnya aku yang bertanya. Oh, hei..wakil ketua OSIS SMA Bangtan sedang merokok disini bung.." sapa namja berambut cerah itu –orange-

"Diam kau Park Jimin!" diapun menatap Jimin dengan tatapan sinis.

"Apa yang kau lakukan? Bukankah seharusnya kau belajar supaya mendapatkan perangkat…err kedua? Haha" jawab Jimin santai namun dengan nada mengejek.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya namja yang dipanggil 'Jung' itu to the point.

"Tidak. Aku saja tidak pernah berminat berteman denganmu..bagaimana mungkin aku menginginkan sesuatu darimu.." balas Jimin dengan tatapan yang sama.

Oke. Sekarang mereka berdua saling menatap dalam diam. Hingga akhirnya namja ber-marga 'Jung' itu bangkit dari duduknya.

"Aku pergi dulu Park. Oh ya, jangan katakan pada siapapun jika kau bertemu denganku malam ini" ucap namja berambut hitam itu melambai tanpa menatap Jimin.

"Ya! Kenapa aku harus menurutimu preman idiot!" balas Jimin berteriak.

-Epilog end-

Terima kasih untuk kalian membaca dan yang sudah menyempatkan review fanfic ini..

Kalian dapat meninggalkan pesan atau masukan atau apapun..

Terima kasih buat kalian yang sudah me-review di chapter 1 kemarin. Lain kali aku akan menjawab pertanyaan kalian. Jujur saja, ini FF YAOI pertama saya hehe..

rosaelkim-widhya syafitri-reiya zuanfu-thiefhanie fha-elferani