"Aku akan berusaha membuka hatiku untuk yang lain" –Kim Taehyung
"Kau seperti candu bagiku, hanya menatap benda itu seolah aku mengerti kehadiranmu" –Jung Hoseok
Title : War of Hormone
Author : Hopekies
Pairing :
Kim Taehyung x Jung Hoseok
(V-Hope)
Disclaimer :
Cerita ini hanya sebuah cerita fiktif yang tidak terinspirasi dari lagu War of Hormone. Karena saya terlalu bingung memberi judul (?) Terima kasih untuk teman-teman saya yang menginspirasi untuk menulis fanfic meskipun mereka lebih menyukai pairing VKook wkwk. Semoga summary yang mereka tulis saat pembelajaran berlangsung bisa menjadi fanfic…
Warning :
YAOI. Typo everywhere. Banyak kata yang diulang dan tidak baku. Maafkan..
.
.
Happy Reading..
Taehyung menyiapkan seluruh persiapannya untuk minggu depan. Dia menulis seluruh perlengkapannya disecarik kertas dan menata pada koper. Soojung yang melihat kelakuan adik kesayangannya itu hanya dapat menggeleng pasrah. Dia masih belum cukup rela untuk ditinggal adiknya selama 4 bulan. Itu artinya dia akan menjadi kesepian jika dirumah.
"Baju..siap..sepatu..sepertinya dua cukup..ah sandal. Aku lupa. Aku harus membelinya" Taehyung bermonolog sambil menulis dikamarnya hingga tidak menyadari kehadiran sang kakak di ambang pintu sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Soojung akhirnya.
"Hanya menyiapkan seluruh perlengkapanku noona" jawabnya santai sambil sesekali melirik kearah Soojung.
"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Soojung lagi.
"Buku. Sepertinya aku butuh beberapa referensi buku.." jawabnya antusias.
"Ini.." Soojung memberikan kartu kredit miliknya pada Taehyung.
"Beli apapun kebutuhanmu selama disana. Maaf aku tidak bisa menemanimu belanja. Badanku sedikit demam" jawabnya santai.
"Benarkah? Ini untukku noona?" tanya Taehyung semakin antusias dan segera menulis seluruh daftar kebutuhan yang dibutuhkannya.
Dia bahkan melupakan jika kakaknya sedang sakit.
"Apakah aku boleh memakai mobil?" tanya Taehyung lagi.
"Pakai saja. Tapi, hati-hati Tae-ya" jawab Soojung dan berlalu dikamarnya.
-VHOPE-
SMA Bangtan saat ini sangat ramai. Meskipun matahari mulai memunculkan cahayanya tak membuat sepi halaman sekolah elit ini. Kini, halaman sekolah yang luas dipenuhi puluhan bis dan mobil para orang tua murid. Banyak yang menangis dan tidak merelakan kepergian anak mereka. Dan ada beberapa yang sedang bersenda gurau dengan yang lain.
"Diluar sangat ramai. Apakah aku harus turun?" tanya Soojung ketika sampai mengantar Taehyung depan sekolahnya.
Diapun menggeleng "Tidak usah. Lebih baik noona istirahat saja" jawabnya sambil tersenyum.
"Adikku ini sudah dewasa eoh!" ucap Soojung meledek adiknya dan mencubit kasar pipi chubby milik Taehyung.
"Yaa! Noona appo" balasnya merintih dan memegang pipinya yang sedikit memerah.
"Baiklah. Kau jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa kau dapat menghubungiku. Dan kartu kreditku berada pada dirimu. Ku harap kau bisa menggunakannya dengan baik. Aku percaya padamu" ucapnya panjang lebar hingga membuat Taehyung sedikit menganga, pasalnya kakaknya ini terkenal sangat irit berbicara. Dia hanya menanggapi perkataan Taehyung tidak lebih dari 3-8 kata. Dan ini menurutnya sedikit rekor untuk kakak kesayangannya.
"Wow. Aku baru tau kau sangat cerewet" jawabnya tak membalas seluruh perkataan kakaknya barusan.
"Ah, sudahlah" Soojung mulai menatapnya sinis.
"Mianhe noona-ya" ucapnya manja sambil memeluk lengan kakaknya.
"Aku pasti merindukanmu Tae-ya" balas Soojung tersenyum.
Taehyung hanya diam. Tidak, dia tidak diam. Namun, diam-diam dia meneteskan air mata. Mungkin benar dia akan merindukan sosok yang selama beberapa tahun ini selalu ada untuknya dan membantunya saat kesulitan. Dia sangat merasa tidak banyak membantu kakak perempuannya ini.
Karena merasa bajunya sedikit basah, Soojung menoleh kearah Taehyung. Dia melihat adiknya sedikit mengeluarkan air mata dari mata indahnya.
"Yaa! Kenapa kau menangis?" tanya Soojung bingung menatap adiknya.
"Aku..hiks..pasti..merindukan..hiks..noona" balasnya sedikit tersedak menahan tangis.
"Uljima nae namdongsaeng..kau bisa menghubungiku disaat kau benar-benar membutuhkanku. Arra?" ucap Soojung memeluk adiknya sambil sesekali mengelus surai kecoklatan rambut adiknya hanya dibalas anggukan oleh Taehyung.
Setelah tangisnya reda. Diapun keluar dari mobil kakaknya. Taehyung berjalan diantara kerumunan murid yang lain sambil memakai ransel biru donger kesayangannya dan koper hitam diseretnya serta topi merah dan masker untuk menyembunyikan tangisannya tadi. Namun, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Taehyung-ah" diapun menoleh kearah orang itu.
-VHOPE-
Kringggg…kringgg…kringggg….
Suara 'Suga' menggema dikamar milik seorang Park Jimin. Dengan santainya dia mematikan Suga lagi dan kembali ke alam mimpi. Namun, ketukan wanita paruh baya membangunkan kesadarannya.
"Jimin-ah, bukankah hari ini kau akan ke pantai?" tanya wanita paruh baya itu mendekati kasur king size milik anak semata wayangnya.
"Hmm nee eomma" jawabnya semakin tenggelam dibalik selimutnya.
"Apa kau tidak ke sekolah?" tanya ibunya sekali lagi.
"Ini masih hari minggu eomma. Sudah kau jangan ganggu waktuku" ucanya mengerang frustasi karena ditanya terus oleh ibunya.
"Tapi kenapa Taehyung tadi malam mengirimkan pesan jika hari ini kalian berangkat"
"MWO?" Jimin terlonjak dan melihat 'Suga'-nya dan segera berlalu ke kamar mandi.
"Akan kusiapkan makananmu dibawah pangeran" ucap ibunya sedikit berteriak depan kamar mandi.
"EOMMAAA! KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU?" teriak Jimin histeris dari dalam kamar mandi.
Ibunya hanya tertawa pelan mengusili anak semata wayangnya itu.
-VHOPE-
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya Taehyung antusias menatap Seokjin dihadapannya.
"Aku ingin mengatakan Hoseok tidak bisa mengikuti pengambilan profesi kali ini" jawab Seokjin sedikit bergetar.
Dia hanya memandang Seokjin sambil ber-OH-ria.
"Lalu?" Taehyung mengerti bukan itu point pentingnya Seokjin mengajaknya bicara kali ini.
"Hmm..sebenarnya.."
Drrrtt..drrttt..
Ponsel miliknya bergetar. Dan dia melihat siapa yang pagi-pagi mengirim pesan padanya.
From : +8281xxx
Apakah kau sudah sampai? Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah bodohmu sebelum aku pergi Taehyung-ah
Sambil tersenyum dia mengetik pesan yang sudah bisa ditebaknya dari siapa.
To : +8281xxx
Apa? Bodoh? Ya! Berhenti mengatakan seperti itu Hoseok-ah
From : +8281xxx
Kau bisa menebakku? Wah sayang sekali..
Tiba-tiba Seokjin berdeham menghentikan kegiatan Taehyung membalas pesan dari ponselnya. Seokjin tidak ingin peduli itu dari siapa. Dia hanya ingin sedikit diperhatikan namja surai coklat ini.
"Maaf Jin-ah" jawabnya menunduk merasa bersalah.
"Tidak apa. Sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu"
"Apa?" tanya Taehyung penasaran.
Seokjin menghirup udara dalam-dalam dan memejamkan matanya "Sebenarnya aku menyukaimu. Taehyung-ah maukah kau menjadi pacarku? "
"Hah?" hanya itu reaksi yang dikeluarkan oleh mulut indah Kim Taehyung.
"Iya.. sejak kau pindah disekolah ini" jawab Seokjin sedikit tersipu.
Ingatannya tiba-tiba terngiang 1,5 tahun yang lalu. Taehyung pindah kelas 1 saat pergantian semester.
"Bagaimana bisa?" oke, kali ini dia sedikit berucap lebih panjang dari sebelumnya.
"Saat ini kau tidak boleh menolakku. Aku akan menunggumu setelah 4 bulan ini. Ku harap kau dapat memberikan jawaban terbaikmu" ucap Seokjin dan berlalu pergi.
Meniggalkan Taehyung yang bingung dengan segala pemikirannya. Bahkan untuk membalas pesan Hoseok pun dia enggan.
'Apa yang harus kulakukan?' pikir Taehyung dalam hati.
-VHOPE-
"Apa yang kau lakukan?" seseorang membuyarkan lamunan Hoseok menatap ponselnya.
"Hanya mengirim pesan pada seseorang" jawab Hoseok santai sambil tersenyum menatap orang itu.
"Apakah itu orang yang kau suka?" tanya orang itu lagi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Hoseok masih menjawab sambil tertawa.
"Bukankah kau mengatakan kau mengakhiri hubunganmu dengan Jeon Jungkook?"
"Lebih baik kau beristirahat daripada kau mengurus urusan orang lain" Hoseok menggeleng menatap orang di depannya.
"Aku ingin tau. Kau harus memberitahunya padaku" ucapnya lalu tertidur lagi.
Hoseok menatap seorang dihadapannya dengan tatapan sendu dan hangat.
"Kau akan bertemu dengannya. Pasti..dan dia bisa menyukaimu juga" ucap Hoseok bermonolog pada dirinya sendiri
-VHOPE-
Seluruh murid sudah menaiki bus mini masing-masing. Namun sejak tadi Taehyung masih belum melihat Jimin. Padahal bus Jimin berada tepat bersebelahan dengan bus miliknya. Nyatanya, hingga sekarang dia beum melihat batang hidung sahabatnya itu.
'Apa dia lupa jika hari ini?' pikir Taehyung dalam hati.
Bahkan dia hingga mengirim pesan pada ibu Jimin untuk mengingatkan Jimin agar tidak terlambat datang ke sekolah. Tiba-tiba busnya mulai berjalan. Padahal dia ingin bertemu sahabatnya sebelum 4 bulan lagi melihat kulit eksotis sahabatnya yang kecoklatan.
Pesan pertama.
To : Park Jimin
Ya! Park kau dimana?
Pesan kedua.
To : Park Jimin
Kau dimana bodoh? Bus ku akan segera melaju
Pesan ketiga.
To : Park Jimin
Apakah kau benar-benar lupa jika kita janjian bertemu sebelum pergi?
Pesan keempat.
To : Park Jimin
Selamat bersenang-senang Park! Kau benar-benar menyebalkan!
Setelah memberikan 'sedikit' pesan pada sahabatnya itu dia memandang jendela dengan di sampingnya dengan frustasi. Sudah berapa orang hari ini yang membuatnya bingung? Sebut saja Hoseok, Seokjin dan terakhir sahabat yang biasa menghiburnya, Tuan Park yang terhormat Park Jimin.
Dia ingin mengerang frustasi namun dia memilih menahan amarah karena dia sedang tidak sendiri. Dia melihat sekitarnya penuh dengan siswa kelas 1, kelas 2 maupun kelas 3. Dia ingin member kesan baik setidaknya pada teman-teman 1 busnya itu. Akhirnya dia memilih mendengarkan musik sambil menyenderkan kepalanya di kursi bus dan tertidur.
-VHOPE-
Setelah menempuh waktu kurang lebih hampir 1 Hari, Taehyung sampai di desa yang tertulis dalam amplop yang diberikan Kim Songsaenim lalu. Ada sekitar 2 dan tiga bersamanya ikut turun. Dia melihat asing orang yang ikut turun di dekatnya.
'Sepertinya mereka anak kelas 1 dan 3' pikirnya.
"Hai. Aku Kim Taehyung. Kau turun disini juga?" tanya Taehyung menjabat salah satu siswa itu.
"Aku Nam Woohyun. Iya Tae-hyung" balas Woohyun menjabat tangan Taehyung sambil tersenyum.
"Ya! Kenalkan aku Kim Myungsoo" ucap Myungsoo dengan sedikit menyombongkan diri.
Dia pernah mendengar nama itu entah dimana. Dia merasa Myungsoo hampir setara dengan Hoseok dalam artian 'sama-sama' terkenal.
"Kalian kelas berapa?" tanya Myungsoo lagi.
"Aku kelas 2" jawab Taehyung.
"Aku kelas 1" timbal Woohyun.
"Kenapa kalian tidak memanggilku hyung"
"Mianhe" ucap Taehyung dan Woohyun bersamaan.
"Astaga..sudah cukup acara kenal berkenalannya? Aku sudah menunggu kalian sejak tadi" ucap namja berambut blonde sambil mengunyah permen lolipopnya.
Taehyung hanya kaget memandang seorang dihadapannya. Pasalnya dia sangat mengenal orang itu. Min Yoongi. Tetangga dirumah lamanya sebelum dia pindah dan sampai sekarang pun dia tidak pernah bertemu dengannya lagi kecuali saat SMP.
"Yoongi-hyung?" ucap Taehyung sedikit terbata.
"Lama tidak bertemu Tae-ya" jawab Yoongi tersenyum kearah Taehyung.
Kedua teman baru Taehyung refleks mundur selangkah kebelakang. Pasalnya, mereka menyadari aura gelap dari Yoongi dengan pandangan yang sedikit 'meremehkan' itu.
"Aku sudah lama menunggu kalian" ucap Yoongi sedikit sakratis.
Membuat ketiganya bergidik ngeri sambil menelan ludah.
.
.
.
TBC? END?
Yayaya.. finally update lagi.
.
Hehe maaf banget ya readers kalo agak lama updatenya. Kemarin ada sedikit, hm bisa dikatakan cukup banyak mengenai perkuliahan sehingga membuatku tidak ada waktu mengetik atau melanjutkan fanfic ini. Maaf jika di chapter sedikit mengecewakan atau garing mohon dimaklumi. Disini saya sedikit menambah karakter selain member BTS. Mungkin karena sedikit tertarik dengan Woohyun dan Myungsoo wkwk. Maklum saja kedua orang itu bias saya *curhat*
Saya tidak akan memaksa kalian untuk me-riviews chapter ini karena kurasa masih banyak yang kurang. Terima kasih kalian yang masih setia menunggu fanfic ini. Terima kasih untuk dukungan kalian
Reply reviews :
Ria487 : Wah makasih yaaa~ tetep ditunggu chapt selanjutnya yaaa
Chocotae : hehe ditunggu aja biar ga penasaran. Aku sudah memberi sedikit clue di chapter ini
Jhoseok30 : hehe iya semoga masih bisa melanjutkan lagi dikala sibuk-sibuknya ini :') makasih udah baca
Kahoriken : putus ga yaaa. Enaknya dibuat balikan atau putus? xD makasih udah baca di chapt ini..
Nathaline : hehe makasih ya~ makasih juga udah baca. Chapt selanjutnya ditunggu ya ^^
