The Story of Broken Home

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Uchiha Fugaku, Uzumaki Karin

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

©Aomine Sakura

.

.

Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk apapun

Don't Like Don't Read

Selamat membaca!

oOo

Sakura membelalakan matanya menatap Sasuke yang kini berdiri di hadapannya. Mereka berada di depan kelas dengan penghuni kelas yang bersorak riuh kearah mereka.

"Apa?" Sakura memandang Sasuke, mencoba memastikan apakah yang di dengarnya adalah nyata.

Sasuke menarik nafas panjang sebelum mengulangi kata-katanya lagi.

"Aku tahu aku tidak pandai berkata-kata. Tapi aku mau mengatakan jika aku suka padamu."

Sorakan semakin terdengar memenuhi ruangan kelas mata kuliah blok anak-anak dan remaja. Tadinya, dia diminta maju untuk membawakan presentase tugas yang diberikan olehnya minggu lalu, namun yang terjadi malah sebaliknya. Dia malah mendengar pernyataan cinta dari mulut Sasuke.

"Kamu pasti bercanda," ucap Sakura.

Sasuke menarik nafas panjang. Dia sudah tidak bisa menahan lagi perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, rasanya ada sesuatu yang sesak ketika semakin lama memendam perasaannya untuk gadis musim semi itu. Entah ide gila yang datang dari mana, dia hanya berfikir jika menyatakan cinta di depan kelas saat mengajar merupakan hal yang romantis.

"Aku tidak bercanda, aku harus meyakinkanmu dengan cara apa lagi!" Sasuke terlihat frustasi.

"Kita bicarakan ini nanti lagi saja, kamu mengganggu jam mata kuliah."

Sakura segera duduk ke bangkunya dan membuka bukunya. Sasuke menarik nafas panjang sebelum akhirnya memulai mengajar dan kelas hening seperti biasanya. Sepertinya menyatakan cinta saat dia mengajar di kelas bukanlah hal yang romantis. Nyatanya, respon yang dia dapatkan tidak sesuai dengan harapannya.

Sakura memandang Sasuke sebelum akhirnya mencatat materi yang diberikan oleh asisten dosennya itu. Mata dan tangannya memang memperhatikan dan mencatat, tapi tidak dengan otaknya yang sedang memikirkan pernyataan cinta Seikai.

"Sakura!"

Sakura menghentikan langkahnya, tentu dia mengenali suara itu.

"Ada apa, Sasuke-kun?" tanya Sakura.

"Soal yang tadi-"

"Aku ingin bertanya kepadamu." Sakura memotong perkataan Sasuke.

Sasuke sedikit terkejut, tapi dia segera menyembunyikannya.

"Hn."

"Kenapa kamu mencintaiku? Aku hanyalah gadis miskin yang bekerja di sebuah cafe, kamu bahkan tidak mengetahui latar belakangku, kamu tidak mungkin jatuh cinta begitu saja kepadaku."

Sasuke menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan. Dia sudah menduga jika Sakura akan menanyakan hal ini.

"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta kepada gadis miskin dan misterius sepertimu." Sasuke tersenyum tipis dan mendenguskan wajahnya, "Tapi aku jatuh cinta ketika pertama kali melihat senyumanmu. Kamu tahu, senyumanmu mengingatkanku kepada mendiang ibuku yang sekarang berada di surga."

Sakura tidak tahu harus berkata apa. Dia memang tertarik kepada Sasuke, namun pernyataan cintanya ini terlalu mendadak untuk dia terima.

"Sasuke-kun, aku bukannya mau menolakmu. Aku hanya belum siap dengan semua pernyataanmu. Aku akui aku memang tertarik kepadamu, tapi ini terlalu mendadak untukku. Pernyataan cintamu..."

"Hn, aku mengerti," ucap Sasuke

Sasuke berjalan meninggalkan Sakura. Rasa sesak segera mendatangi hatinya. Seharusnya dia tahu jika mengungkapkan perasaannya saat ini terlalu terburu-buru.

"Bodoh!" gerutunya, "Seharusnya kamu lebih bersabar lagi!"

Sakura merebahkan dirinya di ranjang setelah seharian membolak-balikan dirinya di ranjang. Sepulang kuliah, dia langsung pulang ke rumah dan izin tidak datang ke cafe. Ponselnya yang berbunyi dia abaikan, dia hanya sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.

Tangannya terulur ketika ponselnya kembali berbunyi. Caller ID yang tertulis di layar ponselnya adalah Naruto. Tanpa pikir panjang dia segera mengangkat telepon dari sahabatnya itu.

"Sakura-chan! kamu kemana saja! aku datang ke cafe tapi kamu tidak ada, telepon dan smsku tidak kamu balas!" dia bisa mendengar suara teriakan Sakura dari seberang telepon.

"Aku hanya sedang tidak enak badan," ucap Sakura dengan lirih.

"Kamu sedang sakit? Apakah aku harus datang kesana?"

"Tidak usah, aku baik-baik saja."

"Syukurlah."

"Naruto.." Sakura memecah keheningan yang terasa diantara mereka, "Aku ingin bertanya sesuatu."

"Hmm.. tanyakan saja."

"Sasuke-kun itu, seperti apa?"

"..."

"..."

"..."

"Naruto, kamu masih disana?" tanya Sakura.

"Aku hanya kaget saja, memangnya ada angin apa kamu menanyakan tentangnya?"

"Aku hanya ingin tahu saja."

"Dia itu.. selalu dituntut oleh ayahnya untuk menjadi pebisnis yang handal. Ibunya meninggal ketika dia berumur lima tahun, kakaknya pergi dari rumah karena selalu di tuntut oleh ayahnya, dia pernah depresi karena ayahnya selalu menuntutnya. Pertama kali aku mengenalnya, dia adalah orang yang pendiam. Tapi lambat laun aku paham, kalau dia hanya kesepian."

Sakura tertegun mendengar pernyataan Naruto.

"Naruto, apakah aku harus menerima pernyataan cintanya?"

"Apa?! Pernyataan cinta apa?! Kamu tidak mengatakan soal ini tadi!" protes Naruto.

"Tadi, dia menyatakan cinta di depan kelas."

"Dia itu, sungguh kekanakan-kanakan sekali," ucap Naruto menggelengkan kepalanya, "Tapi, aku lebih percaya jika kamu bersamanya dari pada dengan lelaki yang tidak aku kenal. Aku tidak tahu jika dia akan benar-benar tertarik kepadamu, kalau saranku sih terima saja."

"Kenapa aku harus menerimanya?" tanya Sakura.

"Karena menurutku kamu cocok dengannya. Dia pangeran es kesepian dan kamu adalah sosok yang bisa menemaninya dan membuat esnya mencair. Setahuku, dia belum pernah berpacaran. Jadi, jika dia menyatakan cinta kepadamu, itu artinya dia serius."

Sakura sedikit lega mendengar ucapan Naruto. Senyumnya segera terkembang.

"Ngomong-ngomong Naruto, terimakasih."

"Untuk apa berterimakasih? Sebaiknya kamu segera tidur dan katakan pada pangeran esmu itu tentang apa yang kamu rasakan!"

Sakura tersenyum ceria.

"Baiklah! Selamat malam, Naruto!"

Sakura memutuskan sambungan telepon dan Naruto memandang layar ponselnya.

"Awas saja jika Teme itu menyakitinya."

Sakura segera mengetikan pesan untuk Sasuke dengan senyum terkembang.

Sasuke yang sedang rapat dengan koleganya melirik ponselnya yang menyala, dengan cekatan dia segera membuka pesan yang masuk. Matanya terbelalak kaget membaca pesan yang tertera di layar ponselnya.

Sasuke-kun, aku mau menjadi pacarmu. Etto.. maafkan aku jika aku bersikap seolah mengusirmu, aku hanya belum siap dengan semua ini. Tapi, aku sudah yakin dengan keputusanku untuk menjadi kekasihmu. Aku juga sudah mendengar cerita masa lalumu dari Naruto. Jadi, sebaiknya kamu segera pulang dan tidur, aku yakin CEO sepertimu masih di kantor selarut ini. Selamat malam, aku mencintaimu :* - Haruno Sakura

Ingin rasanya dia bangkit dari kursinya dan berteriak sekencang-kencangnya. Tetapi hal itu tidak mungkin dia lakukan mengingat dia harus membahas beberapa masalah dalam rapatnya.

Dia akan menyimpan euphorianya untuk di rumah.

oOo

Sakura terbangun dari tidurnya dan segera bersiap untuk pergi ke cafe. Waktu weekend begini kebetulan dia tidak ada kelas dan dia bisa bekerja seharian. Selesai berganti baju, Sakura segera melangkahkan kakinya keluar rumah.

"Sasuke-kun?"

Sakura tidak bisa menahan keterkejutannya ketika Sasuke mencium puncak kepalanya begitu saja.

"Ohayou."

Sakura memandang Sasuke yang kini melayangkan sebuah senyuman kepadanya.

"Kamu baik-baik saja, bukan? Kenapa sikapmu aneh sekali?" tanya Sakura.

"Hn." Sasuke mendenguskan tawanya, "Aku tidak boleh menjemputmu?"

Sakura mengibaskan tangannya, "Bukan begitu, hanya saja..."

"Sebaiknya kita segera berangkat. Kamu tidak ingin terlambat, bukan?"

Sakura menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah Sasuke memasuki mobilnya.

Sakura memandang gedung yang begitu tinggi di hadapannya. Untungnya dia sempat membuatkan makan siang untuk Sasuke di cafe tadi. Betapa beruntungnya dia, ketika Shikamaru mengijinkannya untuk mengantarkan makanan kepada Sasuke.

"Ada yang bisa dibantu?" seorang resepsionist langsung menyambutnya.

"Apa Sasuke Uchiha ada ada?" tanya Sakura dengan sopan.

"Uchiha-sama ada rapat dan tidak bisa di ganggu, apakah anda sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Uchiha-sama?"

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Maaf kalau begitu. Tidak ada yang bisa menemui Uchiha-sama tanpa mengadakan janji terlebih dahulu."

"Tapi, saya hanya ingin mengantarkan makan siang," ucap Sakura.

"Tapi tetap tidak bisa, prosedur disini seperti itu."

Sakura menganggukan kepalanya dengan kecewa dan berjalan keluar gedung perusahaan Uchiha corp. Dia tidak tahu jika menemui Sasuke akan sesulit ini. Akhirnya dia memilih duduk di salah satu bangku sembari memeluk rantang yang dibawanya, sebentar lagi kekasihnya itu pasti keluar dari ruangannya.

Sasuke memandang arloji di tangannya yang menujukkan pukul satu siang. Jam makan siang sudah lewat dan rapat baru saja selesai. Memakai jasnya, perutnya sudah keroncongan minta diisi.

Sasuke membuka pintu mobilnya. Tanpa sengaja matanya menatap seseorang yang dia kenali sedang duduk sembari memeluk rantang yang dibawanya. Segera dia menutup pintu mobilnya dan berjalan menghampiri sosok itu.

"Sakura?"

Sakura membuka matanya dan terkejut melihat Sasuke berdiri di hadapannya.

"Apa yang kamu lakukan disini? kenapa kamu tidak langsung masuk ke ruanganku saja?" tanya Sasuke tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Aku tidak tahu dimana ruanganmu," ucap Sakura, "Lagipula, perusahaanmu besar sekali."

"Kamu bisa bertanya kepada resepsionist."

"Tapi, katanya kamu sedang ada rapat penting dan aku tidak boleh menemuimu jika aku tidak memiliki janji. Jadi aku memutuskan untuk menunggumu diluar sampai kamu keluar."

Rahang Sasuke mengeras, dia tidak bisa membayangkan berapa lama kekasihnya itu berada di bawah sinar matahari seperti ini.

Sasuke menarik tangan Sakura masuk ke dalam perusahaannya.

"Ikut aku."

Sakura tidak bisa menahan keterkejutannya ketika Sasuke membawanya menghampiri meja resepsionist. Sang Resepsionist segera bangkit dan menunduk hormat ketika bosnya datang.

"Selamat siang, Uchiha-sama. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.

"Apakah kamu yang mengatakan, jika dia harus membuat janji kepadaku dulu jika ingin bertemu denganku, Tayuya?" Sasuke ganti bertanya.

Resepsionist bernama Tayuya itu mengangguk sembari menundukan kepalanya.

"Benar Uchiha-sama."

"Kamu tahu, dengan siapa kamu berbicara seperti itu?" rahang Sasuke mengeras, "Dia kekasihku."

Wajah Tayuya menjadi pucat pasi. Dia baru saja mengusir kekasih bosnya dan sekarang bosnya sedang marah besar kepadanya.

"Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau nona itu adalah kekasih tu-"

"Kamu kupecat!"

Sakura maupun Tayuya terkejut bukan main ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Sasuke. Bahkan Sakura merasa bersalah karenanya.

"Tapi, tuan-"

"Kamu tidak dengar? Kamu kupecat!" ucap Sasuke.

"Sasuke-kun, jangan main pecat orang sembarangan." Sakura mengelus tangan Sasuke dengan lembut, "Maafkan Sasuke-kun, dia memang suka bercanda. Tenang saja, kamu tidak akan dipecat kok."

Sasuke memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya.

"Dia baru saja mengusirmu, membuatmu menunggu diluar dengan terik matahari sepanas itu!" protes Sasuke.

"Dia hanya tidak tahu. Kalau dia tahu aku adalah kekasihmu, dia tidak akan mengusirku seperti itu. lagipula, ini salahku juga karena tidak memperkenalkan diri sebagai kekasihmu. Jangan pecat dia, dia tidak salah kok."

Sasuke menarik nafas panjang sebelum memandang Tayuya yang sedang menundukkan kepalanya.

"Baiklah, kali ini kamu kumaafkan karena Sakura yang memintanya. Ayo kita ke ruanganku."

Sakura tersenyum kepada resepsionist kekasihnya itu sebelum melangkahkan kakinya mengikuti lagkah Sasuke.

Sasuke menghempaskan dirinya di kursinya sembari memejamkan matanya. Dia ingin meluapkan kemarahannya, tapi dia tidak tahu harus marah kepada siapa.

"Sasuke-kun, sudah makan?" tanya Sakura sembari membuka tutup rantangnya.

"Belum."

Sakura tersenyum dan menghidangkan makanan yang dia bawa.

"Apa ini?" tanya Sasuke memandang makanan yang disiapkan Sakura.

"Aku membuat sup tahu dan telur gulung. Aku tahu kamu lebih suka makanan restoran dari pada makanan rumahan. Tapi tidak ada salahnya jika kamu mencobanya."

Sasuke tersenyum dan mengambil telur gulung kemudian memakannya. Dia merasa seperti kembali ke rumah, disaat ibunya masih hidup dan memasakan berbagai masakan kepadanya.

"Enak?" tanya Sakura.

Sasuke tersenyum tipis sebelum menjawab.

"Hn."

Sakura tidak bisa menahan tawanya ketika Sasuke makan dengan lahap.

oOo

Udara malam hari terasa menusuk tulang ketika Sakura berjalan menyusuri sebuah taman sembari merapatkan jaketnya karena udara dingin yang menerpa tubuhnya. Sasuke yang berada di sebelahnya, memandang taman yang cukup ramai. Sejenak rasa canggung menyelimuti mereka berdua.

Sakura tersentak kaget ketika tangannya di genggam oleh tangan Sasuke. Rasa hangat langsung mengalir dari tangannya.

"Masih dingin?" tanya Sasuke.

Sakura menggelengkan kepalanya dengan lucu dan semakin mempererat genggaman tangannya.

"Tidak, kan sudah ada Sasuke."

Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk mencium puncak kepala Sakura. Dia sungguh mencintai gadis di sampingnya ini.

Sakura datang kembali membawa makan siang untuk Sasuke. Kali ini banyak yang menyambut ramah dirinya. Semenjak insiden kemarin, banyak pegawai yang mengetahui statusnya dengan Sasuke.

Langkah kakinya terhenti di depan ruangan Sasuke. Tangannya segera terulur untuk membuka pintu ruangan kekasihnya.

Namun yang dilihatnya membuatnya tidak bisa menahan air matanya. Disana, dia melihat Sasuke sedang berpelukan dengan seorang wanita berambut merah. Kotak makan yang dibawanya jatuh dan itu menimbulkan keributan kecil.

"Sakura." Sasuke memandang Sakura yang berdiri terpaku.

Gadis itu segera membalikan badannya dan berlari meninggalkan tempatnya. Sasuke terpaku tidak bisa melakukan apapun, ingin dia mengejar Sakura, namun tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.

"Jadi, dia adalah kekasihmu yang manis itu?"

Sasuke memandang tidak suka gadis di belakangnya. Dari dulu, dia memang tidak menyukai gadis yang genit sepertinya.

"Aku sudah mengatakannya padamu, Karin. Jangan ganggu hidupku lagi," ucap Sasuke.

"Kenapa? Bukankah kita adalah tunangan?" gadis yang di panggil Karin itu melangkahkan kakinya mendekati Sasuke.

"Stop it! Jangan mendekat dan segera keluar dari sini!"

Karin mendengus kesal sebelum melayangkan ciuman ke pipi Sasuke.

"Besok aku akan datang lagi."

Sakura memeluk bantalnya dengan erat, sesekali dia menumpahkan air matanya. Dia sungguh tidak menyangka jika Sasuke akan melakukan hal seperti ini padanya, menduakannya dari belakang.

Ponselnya kembali berbunyi tanda telepon masuk, tapi dia mengabaikannya. Tanpa di beritahu, dia tahu jika yang menelpon adalah Sasuke.

"Kumohon, angkatlah!" gumam Sasuke.

Hari sudah mulai gelap ketika dirinya sampai di depan rumah Sakura, dari luar rumah milik Sakura terlihat lenggang. Dengan gesit dia segera mengirimkan pesan kepada kekasihnya itu.

Sakura, aku ada di depan rumahmu.

Sakura mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Di hadapannya, tersaji mie instan yang bahkan sudah mendingin. Ponselnya kembali bergetar dan kali ini adalah tanda pesan masuk. Tangannya kembali meletakan ponselnya setelah setelah membaca pesan yang masuk.

Sasuke meremas rambutnya frustasi, sesekali dia membanting setir mobilnya. Dia tidak pernah menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.

-Bersambung-

Catatan Kecil Author :

Haaaaaahhh! Apa ini?! Nggak tau kenapa malah nulis ini :3

Pokoknya diucapin terimakasih untuk yang mau menyediakan waktunya untuk membaca cerita aneh ini :D Mungkin bisalah sedekah di kotak Review! :D

Sampai jumpa di Chap selanjutnya!

-Aomine Sakura-