The Story Of Broken Home

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Uchiha Fugaku, Uzumaki Karin

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

©Aomine Sakura

.

.

Dilarang COPAS dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read

Selamat membaca!

oOo

Naruto melahap ramennya dan menyeruput kopi hitamnya. Di hadapannya, Sakura hanya mengaduk-aduk ramen miliknya.

"Kenapa tidak dimakan, dettebayou?" tanya Naruto memandang Sakura.

Sakura tersenyum, "Aku hanya sedang tidak enak badan."

"Aku akan mengantarkanmu pulang jika kamu tidak enak badan," ucap Naruto.

"Tidak usah, aku hanya terlalu kelelahan saja."

"Apa ini karena Teme?"

Mendengar nama kekasihnya disebut, membuat Sakura tersenyum pahit.

"Aku dengar, dia sedang sakit parah." Naruto meminum kopinya, "Apa kalian sedang bertengkar?"

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Kenapa aku harus bertengkar dengannya?"

"Kamu tidak bisa membohongiku, nona."

Sakura menundukan kepalanya, mencoba menyembunyikan kesedihannya. Dia tahu, tidak mungkin bisa membohongi Naruto.

"Sasuke-kun berselingkuh di belakangku."

Naruto menyemburkan kopi hitam yang sedang diminumnya. Membuat jas dan celananya basah.

"Apa kamu bilang?!" tanya Naruto.

"Sasuke-kun berselingkuh."

"Rasanya itu tidak mungkin, dettebayou!" Naruto menggelengkan kepalanya, "Ingat apa yang aku katakan padamu? Dia bukanlah orang yang suka mempermainkan wanita, dettebayou."

"Tapi-"

"Sebaiknya kamu bicara denganya secara baik-baik."

Sakura tertawa dan membuat Naruto merengut kesal.

"Kenapa malah menertawakanku, dettebayou!"

"Tidak, tumben sekali kamu bisa bicara bijak seperti itu. Aku pikir yang ada di pikiranmu hanya ramen saja."

"Kamu sedang mengejekku, Sakura-chan?" Naruto semakin merengut kesal.

"Tidak-tidak, bukan begitu." Sakura mengibaskan tangannya.

"Sebaiknya kamu menemui Teme, Sakura-chan."

"Aku sedang tidak ingin bicara dengannya."

"Masalah tidak akan selesai jika kalian saling diam, dettebayou!"

Sakura terdiam dan menghembuskan nafas panjang sebelum bangkit dari duduknya.

"Baiklah, baiklah, aku akan menemuinya."

Naruto tersenyum lima jari."

"Semoga berhasil, Sakura-chan."

Sakura tersenyum dan berjalan keluar cafe.

oOo

Sakura menarik nafas panjang ketika dirinya sudah berdiri di depan mansion Uchiha. Dia menjadi ragu untuk menemui kekasihnya itu. Di tangannya dia sudah membawakan semangkuk bubur untuk kekasihnya itu, tentu saja dia tidak mau datang dengan tangan kosong.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan munculah seorang lelaki paruh baya. Sakura menjadi gelagapan sebelum membungkukan badannya memberi hormat.

"Selamat siang."

Lelaki paruh baya itu balik tersenyum.

"Mencari Sasuke?"

Dengan malu-malu Sakura menganggukan kepalanya.

"Iya Paman-"

"Fugaku. Uchiha Fugaku."

"Ah-" Sakura tersenyum menanggapi.

"Dia sedang sakit, sebaiknya kamu segera menemuinya di kamarnya."

Sakura tersenyum sopan sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion Uchiha. Matanya memandang sekeliling mansion itu, bagaimana mungkin dia bisa menemukan kamar kekasihnya itu di rumah semegah ini? Dalam hati Sakura merutuki kebodohannya karena tidak bertanya dimana letak kamar kekasihnya itu.

"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?" seorang pelayan membungkukan badannya di hadapan Sakura.

"Etto... saya ingin tahu dimana kamar Sasuke-kun," ucap Sakura dengan sopan.

"Kamar Sasuke-sama ada dilantai dua tepat di ujung lorong."

"Aa." Sakura menganggukan kepalanya dan tersenyum, "Terimakasih."

Pelayan berambut coklat itu membungkukan badannya dan segera berlalu. Sakura segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang ditunjukan oleh pelayan itu, emeraldnya bisa melihat sebuah pintu besar di ujung lorong.

Sakura membuka pintu di hadapannya dengan ragu-ragu. Dia bisa melihat sebuah kamar yang besar dengan fasilitas lengkap, dengan ranjang yang ada di tengah ruangan. Dia bisa melihat seseorang yang sedang bergelung dalam selimut.

Perlahan, dia mendudukan diri di pinggir kasur, memandangi wajah Sasuke yang pucat. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Sasuke dengan lembut.

"Ugh.. Sakura..."

Tangan Sakura terdiam ketika mendengar namanya disebutkan. Bahkan dalam mimpinya pun, Sasuke masih memanggil namanya.

"Aku disini, Sasuke-kun."

Sasuke perlahan membuka matanya, dia terkejut melihat kekasihnya berada di kamarnya.

"Sakura? apakah ini benar kamu?"

Sakura tidak menanggapi pertanyaan Sasuke, "Kamu mau minum?"

Segelas air putih yang disodorkan Sakura mematahkan semua ilusinya jika ini adalah mimpi. Sasuke segera menerima gelas yang diberikan Sakura

"Kenapa kamu ada disini? aku kira kamu marah denganku," ucap Sasuke.

"Bagaimana aku bisa marah padamu sebelum aku mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu?" Sakura mengusap rambut Sasuke dengan lembut, "Jadi, kamu mau menceritakan tentang wanita itu kepadaku?"

Sasuke memejamkan matanya sebelum membuka mulutnya.

"Dia adalah tunanganku, namanya Karin. Sedari kecil, aku dan dia sudah berteman. Ayahnya dan ayahku adalah kolega bisnis, lalu mereka membuat rencana untuk menjodohkanku dengannya." Sasuke membuka onyxnya dan langsung menatap emerald milik Sakura, "Tapi percayalah, aku hanya mencintaimu saja."

Sakura tersenyum dan menggenggam tangan Sasuke dengan erat.

"Aku tahu itu."

Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk Sakura dengan erat. Membiarkan rasa rindu yang membuncah di hatinya tersalurkan. Dia tidak ingin kehilangan gadis di hadapannya. Persetan dengan perjodohan konyol yang dilakukan ayahnya, dia tidak akan pernah melepaskan gadis di hadapannya ini.

"Sebaiknya kamu segera makan, Sasuke-kun." Sakura melepaskan pelukan Sasuke dan membuka kotak makan yang dibawanya, "Aku sudah membawakanmu bubur."

Sasuke tidak bisa menahan senyum tipisnya dan mencium dahi Sakura dengan lembut.

"Aku mencintaimu."

"Aku juga, Sasuke-kun."

oOo

"Aku ingin kita putus!"

Ingin rasanya Sasuke tidak mempercayai pendengarannya. Setelah ini, dia akan memeriksa pendengarannya ke dokter THT.

"Sakura, kamu tidak bercanda, kan? Katakan alasanmu meminta putus dariku?!" tanya Sasuke dengan nafas terengah-engah.

"Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Maafkan aku."

Sasuke melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Dia sungguh tidak menyangka jika Sakura akan memutuskan hubungan mereka secepat ini.

Padahal baru beberapa hari yang lalu Sakura muncul di kamarnya ketika sakit, baru kemarin gadis itu jalan-jalan dengannya, dan sekarang gadis itu memutuskannya? Pasti ada sesuatu yang salah pada gadisnya itu.

Sasuke melajukan mobilnya ke jalanan malam Tokyo yang tak pernah sepi. Tujuan utamanya tentu saja rumah milik Sakura, namun yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Disana, dia bisa melihat Sakura sedang berpelukan dengan Naruto. Dia tidak menyangka jika kekasihnya itu memutuskannya hanya untuk bersama dengan Naruto yang notabene adalah sahabatnya sendiri.

Tangannya menggenggam erat stir mobilnya hingga kuku-kukunya memutih. Sialan! Tidak, dia harus berfikir tenang. Mungkin mandi air dingin bisa sedikit menenangkan emosinya.

oOo

Naruto melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan Sasuke sembari menenteng sekotak pizza. Senyum bahagia terkembang di bibirnya, sudah lama mereka tidak makan pizza bersama.

"Oi, Teme! Aku membawakanmu-"

Belum sempat kalimatnya terselesaikan. Sebuah pukulan mendarat di wajahnya dan membuatnya jatuh terduduk karenanya.

"Oi! Kamu ini apa-apaan, dettebayou!" protes Naruto.

Naruto bisa melihat amarah terpancar dari onyx milik Sasuke. Tidak biasanya sahabatnya ini memukulnya tanpa alasan.

"Hn. Itu balasan karena telah menusuk sahabatnya sendiri dari belakang."

"Tunggu dulu, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, dettebayou!"

"Beraninya kamu merebut Sakura dari pelukanku!"

Mata Naruto membulat ketika mendengar ucapan Sasuke.

"Tunggu dulu, aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. Bukankah kamu dan Sakura berpacaran, bukan?"

Sasuke menggertakan giginya dengan kesal.

"Dia memutuskanku semalam! Saat aku mencoba datang ke rumahnya untuk memperbaiki semuanya, aku malah melihatnya dan dirimu sedang berpelukan!"

Sasuke menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kepala dan tubuhnya sudah lelah dengan semua yang dialaminya. Mengapa semua orang yang dia sayang meninggalkannya begitu saja.

Sebuah tepukan dia terima di pundaknya. Sasuke bisa melihat Naruto yang tersenyum kearahnya.

"Aku akan menemui Sakura-chan dan mencoba bicara dengannya. Sebaiknya kamu tenangkan saja dirimu."

Sasuke memandang Naruto dengan pandangan tidak percaya.

"Makanlah pizza dariku. Aku tidak tahu jika Sakura-chan memutuskanmu, dettebayou! Semalam dia memelukku dan mengatakan bahwa beban hidupnya semakin berat. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi aku akan mencoba bicara padanya."

Naruto tersenyum segera berjalan menuju pintu dan keluar. Sasuke tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar penjelasan sahabatnya itu.

Sasuke mendudukan dirinya di sofa sebelum memijat pelipisnya yang terasa nyeri. Jadi Sakura memeluk Naruto bukan karena gadis itu melakukan penghianatan. Tetapi, beban berat apa yang sebenarnya di tanggung oleh gadis itu?

'Ddrrttt.. dddrrrtt..'

Sasuke membuka matanya ketika mendengar getaran dari ponselnya. Dia mendudukan dirinya dan teringat jika dia ketiduran di sofa ruang kerjanya. Setelah Naruto pergi dari ruangannya dan dia memikirkan Sakura, dia kemudian meminta sekertarisnya untuk membatalkan semua rapat dan tertidur di sofa.

'Dddrrrttt... dddrrrttt...'

Sekali lagi ponselnya bergetar. Tangannya terulur untuk mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang masuk.

"Hn."

"Sasuke, ini ayah."

Sasuke mengernyitkan dahinya. Tumben sekali ayahnya menelponnnya, biasanya ayahnya selalu menelponnya jika ada urusan penting saja.

"Ada apa, yah?" tanyanya.

"Bisakah kamu pulang makan malam lebih awal? Ayah ingin memperkenalkan calon istri ayah."

Mendengar perkataan ayahnya, membuat Sasuke seperti tersambar petir. Ia pasti salah mendengar karena dia baru saja bangun tidur dan nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.

"A-apa? Bisa ayah ulangi lagi?" tanya Sasuke tidak percaya.

"Ayah memintamu untuk pulang lebih awal, karena ayah ingin memperkenalkan calon istri ayah."

Ini bukan salah pendengarannya.

"Hn. Aku akan sampai rumah secepatnya."

"Baiklah, ayah tunggu."

Mobilnya berhenti di depan rumahnya tepat pukul tujuh malam. Sepertinya dia tidak terlambat untuk datang makan malam. Setelah merapikan pakaiannya, dia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Biar bagaimanapun, dia tidak mungkin tampil dengan keadaan kacau di depan calon istri ayahnya itu.

"Oh, Sasuke. Kamu sudah pulang!" Fugaku segera bangkit dari duduknya dan menyambut putranya itu.

"Dimana calon istri ayah itu?" tanya Sasuke tanpa basa-basi seperti biasanya.

"Dia sedang ke toilet, sebentar lagi pasti muncul."

Sasuke menganggukan kepalanya dan duduk di salah satu kursi. Dalam hati dia menerka-nerka bagaimana rupa calon ibu barunya itu.

"Fugaku-kun?"

Suara itu. Sasuke menolehkan kepalanya dan matanya hampir keluar melihat siapa yang berdiri di belakangnya. Dia adalah Sakura dengan balutan gaun putih di tubuhnya.

Dia semakin tercengang ketika ayahnya bangkit dan mencium pipi Sakura, lalu membawanya untuk duduk di salah satu kursi di hadapannya.

"Kamu sudah mengenalnya, bukan? Dia adalah calon istri ayah dan juga calon ibu baru untukmu."

Perkataan ayahnya masih terngiang di telinganya. Tidak mungkin, tidak mungkin Sakura yang akan menjadi ibuku.

"Sepertinya aku tidak bisa mengikuti makan malam dengan kalian. Aku permisi." Sasuke segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.

Fugaku sudah akan buka suara untuk memanggil Sasuke kembali ke meja makan, namun sebuah sentuhan lembut mengurungkan niatnya.

"Sudah, biarkan saja. Mungkin Sasuke-kun sedikit shock dengan semua ini," ucap Sakura sembari tersenyum manis.

Fugaku balas tersenyum dan menggenggam tangan Sakura dengan lembut.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamarnya sebelum matanya memandang langit malam dari balik jendela. Dia masih berharap jika yang terjadi hari ini adalah mimpi belaka. Sial! Sejak kapan dia menjadi melankolis seperti ini.

Sasuke memasukan tangannya ke dalam celananya dan menggenggam tangannya dengan erat. Dia bisa menerima siapapun yang akan menjadi calon ibu baru untuknya, tapi tidak dengan Sakura. Mereka baru saja putus dan sekarang dia harus menerima kenyataan jika Sakura adalah calon ibu barunya. Siapapun tidak akan terima dengan kenyataan ini.

Merogoh sakunya, tangannya mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api. Dia sudah lama meninggalkan kebiasaan lamanya untuk merokok, namun semenjak Sakura memutuskan hubungannya, kebiasaan lamanya kembali lagi.

"Sasuke-kun."

Tanpa menolehkan kepalanya, dia tahu siapa pemilik suara itu.

"Mau apa kamu kemari?"

"Kamu merokok, Sasuke-kun?"

"Apa pedulimu?"

"Aku hanya ingin bicara saja, Sasuke-kun."

"Jadi, kamu adalah calon ibu baru untukku." Sasuke membalikan badannya dan menatap Sakura, "Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu lebih memilih menikah dengan ayahku?! Apa ini semua karena ayahku lebih kaya dariku?!"

Lama, sebelum akhirnya Sakura menjawab.

"Ya. Semua itu benar."

Sasuke mendenguskan wajahnya mendengar pernyataan yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu. Jadi memang benar, jika di seluruh dunia orang yang mencintainya hanya menginginkan harta saja, bahkan sekarang mantan kekasihnya pun akan menikah dengan ayahnya.

"Aku menyesal telah mencintaimu. Kamu tidak upahnya dengan pelacur di luar sana yang hanya ingin uang! Aku tidak menyangka jika kamu akan berbuat seperti itu!"

Sakura manarik nafas panjang sebelum membuka mulutnya.

"Setiap orang pasti membutuhkan uang. Begitu pula denganku."

Rahang Sasuke mengeras, "Keluar dari sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"

Sakura membalikan badannya dan berjalan keluar kamar Sasuke. Dari luar kamarnya pun, dia bisa mendengar suara barang yang di banting ke lantai. Air matanya mengalir membasahi pipinya.

"Kamu memang harus membenciku. Maafkan aku."

.

.

Sasuke membuka matanya ketika cahaya masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah kecil di jendelanya. Matanya memandang jam yang menujukkan pukul sepuluh pagi. Setelah semalaman meluapkan semua kemarahannya hingga membuat kamarnya seperti kapal pecah, dia ketiduran karena kelelahan.

Perlahan, Sasuke bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Biar bagaimanapun, dia harus berangkat ke kantor dan tidak melalaikan semua pekerjaannya.

"Selamat pagi, Sasuke-sama."

Sasuke tersenyum menanggapi sapaan pelayannya yang bernama Ayame itu.

"Dimana ayah?" tanyanya.

"Fugaku-sama sudah berangkat pagi-pagi sekali, Sasuke-sama. Beliau bilang dia tidak pulang karena harus mengurus cabang perusahaan yang ada di Kyoto."

Sasuke menganggukan kepalanya dan meminum kopinya sebelum berangkat ke kantor.

Dirinya menarik nafas panjang ketika melihat beberapa orang lalu lalang di jalanan pagi Tokyo. Tidak biasanya jalanan Tokyo yang pada jam-jam kantor sepi bisa menjadi banyak orag yang berlalu lalang seperti ini. Lagu I Lay My Love On You mengalun dan sejenak dia teringat akan mantan kekasihnya yang berambut merah muda itu.

Tangannya terulur untuk mematikan tape mobilnya sebelum matanya melihat siluet orang yang dikenalnya memasuki sebuah rumah sakit. Dia segera memutar kemudinya menuju rumah sakit.

Sakura berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan memasuki sebuah kamar rawat. Dia tersenyum memandang ibunya yang duduk diatas ranjang rumah sakit.

"Bagaimana kabar ibu?" Sakura tersenyum dan meletakan buah yang dia bawa di atas meja.

"Ibu sudah mulai membaik, tapi ibu harus melakukan operasi ginjal secepatnya." Mebuki tersenyum ketika putri sulungnya itu datang untuk menjenguknya

Sakura tersenyum dan menggenggam tangan ibunya.

"Sakura akan membiayai semua pengobatan ibu. Nanti, Sakura akan katakan kepada dokter untuk memulai operasi secepatnya."

"Sakura, maafkan ibu yang selalu merepotkanmu." Mebuki memeluk Sakura dengan erat.

Pembicaraan ini bersifat sensitif bagi dirinya, karena sedetik kemudian air mata telah membasahi kedua pipinya.

"Tidak apa, bu. Sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk merawat ibunya."

Sasuke yang melihat pemandangan mengharukan di hadapannya hanya bisa terpaku. Otaknya mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.

Apakah mungkin dia memilih menjadi calon istri Ayah karena membutuhkan biaya untuk mengobati ibunya? Kenapa dia tidak mengatakannya dari awal?

Semua perkiraan-perkiraan muncul di otaknya. Sasuke segera melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil dan memutar arah kemudinya menuju tempat seseorang. Dia harus mengetahui yang sebenarnya tentang Sakura.

Naruto terkejut ketika sahabatnya itu muncul di kantornya ketika jam makan siang datang, dia segera menyambut Sasuke dengan hangat. Jarang sekali sahabatnya itu bisa meluangkan waktu untuk makan siang bersama.

"Dobe, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Sasuke memulai pembicaraan.

Naruto meneguk kopi hitamnya sebelum menanggapi perkataan Sasuke.

"Tanyakan saja."

"Aku melihat Sakura di rumah sakit menemui seorang wanita paruh baya. Siapa dia?"

Naruto tersedak kopinya hingga membasahi kemeja yang dia kenakan. Dia mengambil tissu dan membersihkan kemejanya yang berubah warna menjadi kecoklatan.

"Aku-"

"Katakan semuanya, sudah cukup kalian menyembunyikan tentang latar belakang Sakura kepadaku."

Naruto menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya, "Aku berani mengatakan hal ini karena kamu dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aku mencintainya."

Sasuke mematung di tempatnya duduk, dia tidak tahu harus berkomentar apa tentang hal ini.

"Aku mengenal Sakura-chan semenjak kami kecil. Dulunya mereka adalah keluarga yang bahagia, tapi semuanya berubah ketika perusahaan milik ayahnya bangkrut, malapetaka mulai terjadi. Ayahnya mulai mabuk-mabukan, main wanita dan yang paling parah adalah meninggalkan keluarganya, itu menjadi titik balik kehidupan Sakura-chan. Apa yang bisa dilakukannya saat itu? dia menjadi korban broken home, dia pernah hampir di Drop Out dari kampus karena jarang datang ke kampus. Dia adalah gadis yang sangat pintar dan penyayang, tapi karena dia menjadi korban broken home dia mulai berubah.

Saat itu aku menawarkan bantuan kepadanya, tapi dia menolaknya dengan segala cara. Kedua adik laki-lakinya dititipkan kepada neneknya dan tak berapa lama ibunya masuk ke rumah sakit.

Semenjak itulah Sakura-chan mulai berubah, dia meninggalkan dunia obat-obatan dengan susah payah mulai membanting tulang untuk membiayai pengobatan ibunya. Aku takjub dengannya, segala pekerjaan dia lakukan untuk ibunya. Itulah yang terjadi kepadanya. Seorang mantan pecandu obat-obatan terlarang dan korban dari broken home."

"Jadi, dia pernah menjadi pecandu?" tanya Sasuke tidak percaya.

"Bisa dibilang seperti itu, tetapi tidak sampai pecandu yang parah. Dia melakukan itu akibat rasa frustasi yang melandanya."

Sasuke termenung. Jadi dugaannya tentang hubungan ayahnya dan Sakura adalah benar. Gadisnya itu sama sekali tidak mencintai ayahnya, dia bahkan mengorbankan perasaannya untuk merawat ibunya. Dia tidak tahu harus marah atau terharu mendengar cerita tentang gadisnya itu.

"Sebaiknya aku segera pergi." Sasuke bangkit dan mengeluarkan uang dari dompetnya, "Kali ini aku yang mentraktirmu."

Naruti menarik nafas panjang memandang sahabatnya yang melangkahkan kakinya keluar dari restaurant. Tangannya merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya.

"Kita harus bertemu sekarang."

Sakura berjalan memasuki sebuah restaurant dan tersenyum ketika melihat orang yang dicarinya sedang duduk sembari memakan Ramen.

"Naruto, maaf lama membuatmu menunggu," ucap Sakura tersenyum, beberapa anak rambutnya terlihat berantakan.

"Tidak apa, Sakura-chan. Duduklah." Naruto menunjuk kursi di hadapannya.

"Ada apa? Tidak biasanya kamu mengajakku bertemu."

"Ada yang ingin aku tanyakan. Tentang hubunganmu dan Fugaku Uchiha."

Sakura terdiam mendengar perkataan Naruto. Dia sudah menduga jika sahabatnya itu lambat laun akan bertanya tentang hal ini, tapi dia tidak menyangka jika hal itu akan datang secepat ini.

"Aku memiliki alasan untuk melakukan hal itu." Sakura memandang Naruto.

"Apakah untuk membiayai pengobatan ibumu? Jika itu memang benar, aku bisa membiayai seluruh biaya pengobatan ibumu tanpa kamu melakukan hal seperti itu."

"Kamu tahu kan, Naruto. Keluargamu sudah banyak membantu keluargaku, kini biarkan aku yang berusaha dengan kerja kerasku sendiri."

Naruto menggenggam tangan Sakura, "Aku mencintaimu."

"Aku juga." Sakura tersenyum, "Tapi hanya sebagai kakak. Maafkan aku, Naruto."

Sakura melepaskan genggaman tangan Naruto sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan restaurant.

Hujan deras mengguyur Jepang. Tidak biasanya Negara yang sedang dilanda musim panas itu di guyur hujan yang deras, terlebih di malam hari.

Sasuke melajukan mobilnya dan melihat mobil Naruto berhenti di sebuah apartemen. Lagi-lagi dia membatalkan niatnya untuk pulang dan lebih memilih mengintai apa yang di lakukan Naruto.

Sakura turun dari mobil Naruto sembari tersenyum.

"Terimakasih Naruto."

Naruto memandang apartemen di hadapannya, "Jadi, kamu sekarang tinggal di sebuah apartemen?"

"Ini apartemen pemberian ayah Sasuke-kun. Dia mengatakan jika aku tidak boleh tinggal di rumah kecil seperti itu."

"Dia benar, sebaiknya aku segera pergi."

Sakura menganggukan kepalanya dan melambaikan tangannya. Menarik nafas panjang, dia kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung apartemen.

Sasuke memarkirkan mobilnya secara sembarangan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen. Dia bisa melihat Sakura masuk ke dalam lift dan menuju lantai 11.

Sakura memandang apartemen yang baru dia tempati selama satu bulan belakangan. Meletakan tasnya, dia segera membersihkan diri.

'Ting tong.'

Bel pintunya berpunyi tepat ketika dia selesai membersihkan diri. Dalam hati dia bertanya-tanya siapa yang bertamu pada malam hari seperti ini.

"Hn."

Sakura membelalakan matanya memandang siapa yang berdiri di hadapannya.

"Sasuke-kun?!"

Sasuke mendenguskan wajahnya, "Boleh aku masuk?"

Sakura menggigit bibirnya dengan gugup, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Disana, di balik pintu, Sasuke sedang membersihkan diri. Sepuluh menit yang lalu, pemuda itu mengatakan bahwa dia ingin menginap di apartemennya dikarenakan hujan deras sedang turun.

"Apa?! Jadi Teme ada di apartemenmu?"

Sakura yang sedang membuat coklat hangat menganggukan kepalanya mendengar teriakan Naruto di seberang telepon.

"Ya, dia bahkan sedang mandi sekarang."

"Apa aku perlu datang ke apartemenmu juga?"

Meletakan dua cangkir coklat hangat diatas meja, Sakura mendudukan dirinya di sofa.

"Tidak usah, mungkin ini saatnya aku dan dia menyelesaikan masalah kami," ucap Sakura.

"Baiklah. Jika dia berbuat macam-macam padamu, kamu bisa mengatakannya padaku."

"Tenang saja, Naruto. Dia tidak akan berani macam-macam padaku. Aku kan calon ibunya."

"Bercandamu tidak lucu. Sudah ya, aku mau tidur."

Naruto mematikan sambungan telepon sebelum Sakura sempat mengucapkan selamat malam. Menarik nafas panjang, entah mengapa dia merasa gugup untuk bertemu dengan Sasuke.

"Sakura."

Sakura menolehkan kepalanya ketika sebuah suara memanggilnya. Sasuke berdiri dengan celana pendek dan T-shirt yang melekat di tubuhnya.

"Hn, terimakasih karena memperbolehkanku menginap" Sasuke mendudukan dirinya di sebelah Sakura.

Sakura menganggukan kepalanya dan menyeruput coklat hangatnya.

"Katakan padaku, kenapa kamu mau menjadi calon istri ayahku?" Sasuke tidak tahan untuk bertanya.

"Aku membutuhkan uang jika itu yang kamu mau tahu. Kamu boleh menyebutku pelacur atau apapun yang kamu mau, tapi aku melakukan ini untuk ibuku dan kedua adikku."

"Kamu bisa mengatakan yang sesungguhnya kepadaku. Aku akan membantumu jika kamu mengatakan semuanya dari awal!"

Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin membebani siapapun dengan kehidupanku. Aku tidak bisa melakukan hal itu."

Sasuke memandang Sakura dan mendekatkan wajahnya ke wajah cantik gadis itu, dia sungguh masih mencintai gadis itu. Malam ini, dia harus bisa memiliki Sakura apapun yang terjadi.

Sepertinya malam ini akan terasa melelahkan bagi mereka berdua.

oOo

Sasuke terbangun dari tidurnya ketika indra penciumannya mencium bau harum masakan. Tanpa diberitahu dia tahu siapa yang sedang memasak. Bangkit dari tidurnya, Sasuke segera memakai pakaiannya dan berjalan keluar kamar apartemen milik Sakura.

Semalam dia berhasil menggagahi Sakura semalam suntuk dan jatuh tertidur setelah kelelahan. Sakura bahkan tertidur sangat nyenyak karena permainannya yang kasar dan mendominasi saat di ranjang.

Sakura merasakan sebuah pelukan, "Sasuke-kun, aku sedang memasak."

Sasuke menghiraukan perkataan Sakura dan semakin mengeratkan pelukannya.

"Sasuke-kun, lepaskan. Ini semua salah."

Sasuke melepaskan pelukannya, memandang Sakura dengan pandangan tidak mengerti.

"Apa maksudmu?"

"Aku calon ibumu. Semua yang kita lakukan adalah kesalahan. Apa yang harus kita katakan kepada ayahmu jika beliau mengetahui hal ini?" tanya Sakura, "Semuanya salah."

"Kamu yang menganggapnya salah. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai calon ibuku, dari dulu sampai sekarang kamu tetap kekasihku."

"Sasuke-kun, kumohon. Jangan siksa aku dengan perasaanmu."

"Memangnya apa kekuranganku? Aku bisa membiayai semua kebutuhanmu tanpa kamu minta."

Sakura menggelengkan kepalanya.

"Maafkan aku, Sasuke-kun. Tapi hubungan kita sudah berakhir."

Sasuke memandang Sakura, gadis berambut bubble gum itu bisa melihat sorot terluka di mata Sasuke. Hatinya seperti tertusuk ribuan jarum ketika melihat tatapan mata itu.

"Sebaiknya kamu pergi dari sini," ucap Sakura dengan lirih.

Tanpa diperintahkan dua kali, Sasuke segera mengambil barang-barangnya dan berjalan keluar apartemen milik Sakura tanpa mengatakan apapun lagi. Sakura jatuh terduduk ketika Sasuke melewatinya dan berjalan keluar apartemennya. Air asin yang berasal dari matanya, menganak sungai di pipinya.

Sasuke menarik nafas panjang ketika mendengar isak tangis memilukan dari dalam apartemen milik Sakura. Ini sudah menjadi keputusan gadis bubble gum itu, dia salah karena telah menggagahi calon ibunya itu, tetapi dia tidak bisa melepaskan gadis bermata emerald itu.

Hati mereka sama-sama tersakiti sekarang.

-Bersambung-

Catatan kecil Author :

Huaaahhh.. chapter apa ini? :3 dijamin ini pasti ancur bangetlah :3

Sakura ucapkan terimakasih kepada para reader yang sudah meluangkan waktunya untuk meninggalkan sedekah di kotak review. Terimakasih banyak kepada, Koizumi Chiaki, Berithslies, Hanazono Yuri, , dan Dianarndraha.

Pasti para reader akan protes, Apa! Jadi ibu tiri Sasuke adalah Sakura?! Apa! Jadi Sakura dulunya adalah pecandu?! Ya, ya, kalian boleh protes kok, akan Sakura terima semuanya selama itu masih memotivasi :3

Sekian curhatan aneh dari Sakura! Sampai ketemu di chap selanjutnya! :D

-Aomine Sakura-