The Story Of Broken Home
.
.
Sasuke Uchiha, Sakura Haruno, Fugaku Uchiha, Karin Uzumaki
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
©Aomine Sakura
.
.
Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Don't Like, Don't Read
Final Chapter!
Selamat membaca!
oOo
Sasuke menarik nafas panjang. Pikirannya sedang kacau dan ini terjadi setelah Sakura memutuskan hubungan mereka untuk kedua kalinya. Padahal dia berada di ruang rapat untuk membahas rencana pengembangan perusahaannya, tapi sepertinya pikirannya sedang tidak fokus sekarang.
Sakura sukses memuntahkan isi perutnya. Beberapa hari belakangan, dia terlalu sering memuntahkan isi perutnya padahal dia belum memakan apapun. Memejamkan matanya, dia takut semua yang khawatirkan akan terjadi.
Sasuke melangkahkan kakinya di lorong rumah sakit. Di tangan kanannya terdapat sekeranjang buah. Mengunjungi ibu dari calon ibunya, tidak ada salahnya, bukan?
"Selamat siang."
Mebuki yang sedang merajut menolehkan kepalanya dan memandangnya dengan pandangan bertanya. Tanpa disuruh, dia tersenyum sopan sebelum memperkenalkan dirinya.
Sakura melangkahkan kakinya tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Seharusnya dia mengunjungi ibunya sebelum makan siang dan baru bisa mengunjungi ibunya setelah urusannya dengan dosennya selesai. Langkah kakinya terhenti diambang pintu ruang rawat ibunya, ketika melihat siapa yang sedang berbincang dengan ibunya.
"Sakura!"
Suara ibunya membuyarkan lamunannya, mengembalikannya ke dunia nyata.
"Ibu." Sakura berjalan mendekat, mencoba mengabaikan Sasuke.
"Kenapa kamu baru datang?" tanya Mebuki.
"Tadi ada urusan sebentar dengan dosen," ucap Sakura tersenyum, "Ibu sudah makan?"
"Sudah." Mebuki balas tersenyum, "Kenapa kamu tidak menceritakan jika kamu memiliki kekasih yang baik hati seperti Sasuke."
Sakura melirik Sasuke sebelum menarik nafas panjang, "Dia bukan kekasihku, bu."
"Benarkah? Padahal ibu kira dia calon suamimu."
"Hn. Saya hanya teman Sakura saja." Sasuke bangkit dari duduknya, "Sebaiknya aku segera pergi."
Sakura tidak bisa mengalihkan pandangannya dari punggung Sasuke yang berjalan menjauh.
Sasuke merasakan dadanya sesak, memangnya apa salahnya sehingga dia harus ditinggalkan oleh orang-orang yang dia cintai seperti ini?
Melangkahkan kakinya, dia segera masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju perusahaannya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Sasuke-kun!"
Sasuke yang baru turun dari mobilnya, menolehkan kepalanya dan terkejut melihat siapa yang datang dan langsung memeluknya begitu saja.
"Untuk apa kamu datang kemari?!"
Karin tersenyum dan mengeratkan pelukannya terhadap Sasuke.
"Memangnya kenapa? Memangnya aku tidak boleh mengunjungi tunanganku?"
"Jangan disini, kamu tidak lihat beberapa karyawanku memandangi kita?" tegur Sasuke.
"Biarkan saja mereka semua tahu jika kita bertunangan!"
Habis sudah kesabaran Sasuke, dia segera menarik masuk Karin menuju mobilnya. Dia tidak tahu jika ada seseorang yang memandangi mereka dengan pandangan terluka.
"Turun sekarang!"
Karin memandang sekelilingnya, jalanan sepi yang bahkan dia tidak tahu berada dimana sekarang.
"Kita berada dimana?" tanya Karin panik.
"Turun sekarang juga! Aku tidak mau melihatmu lagi!"
Karin turun dari mobil Sasuke dengan perasaan kesal, dia bersumpah akan membuat Sasuke bertekuk lutut dan mengemis cintanya!
Memutar-mutar bolpointnya, dia sedang duduk di ruang kerja ayahnya untuk membicarakan proyek yang akan mereka kelola bersama. Semenjak Sakura meninggalkannya, fokusnya menjadi hilang entah kemana.
"Bagus, ayah suka idemu untuk membangun sebuah TK disana." Fugaku meletakan proposal yang baru di bacanya, "Tidak salah jika ayah menjadikanmu direktur di cabang perusahaan ayah."
Sasuke hanya bisa menganggukan kepalanya, "Hn, sebaiknya aku segera pergi."
"Sebelum itu," langkah kaki Sasuke terhenti ketika mendengar suara ayahnya, "Bisakah kamu menjemput Sakura? ayah ada rapat sampai malam, sedangkan kita harus menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnis kita. Bisakah kamu menjemput Sakura?"
Sasuke menganggukan kepalanya, meski hatinya enggan bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Dia hanya belum siap dengan apa yang terjadi nantinya.
"Baiklah, kita bertemu disana."
Sakura mengambil salah satu buku yang ada di meja dan membacanya sembari memandang jam di dinding kamarnya. Seharusnya kekasihnya sudah menjemputnya sejak sepuluh menit yang lalu, tapi sepertinya ada kendala yang membuatnya datang terlambat.
'Ting tong!'
Sakura tersenyum dan segera bangkit untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Sasuke yang berdiri di depan rumahnya dan bukan calon suaminya.
"Sasuke-kun?" Sakura bahkan mematung beberapa detik lamanya.
Sasuke mencoba terlihat tenang meski hatinya sedang tidak tenang saat ini. Dia berdeham sebelum pura-pura membetulkan jasnya.
"Hn, Ayah menyuruhku untuk menjemputmu."
Sakura menganggukan kepalanya, "Baiklah. Masuklah terlebih dahulu, aku akan mengambil tasku di dalam kamar."
Sasuke duduk di sofa dan mengernyitkan dahinya melihat beberapa tumpuk buku yang ada di meja. Mengambil salah satunya dan membaca judulnya.
My First Pregnancy
Sasuke mengenyahkan pikiran negatifnya. Tidak mungkin Sakura sedang hamil saat ini. Meletakan bukunya, dia mengambil salah satu buku dan kembali membaca judulnya.
Cara menjaga kehamilan pertama
Kali ini Sasuke benar-benar yakin jika Sakura sedang mengandung.
oOo
Sakura duduk di dalam mobil dengan rasa gugup yang tinggi. Matanya melirik Sasuke yang sedang serius menyetir.
"Kenapa ayahmu tidak mengabari jika dia tidak bisa datang menjemput?" tanya Sakura.
"Entahlah, tapi beliau mengatakan jika ada rapat hingga malam."
"Aa."
Mobil yang dikendarai Sasuke berhenti di parkiran sebuah hotel. Sakura memandang tamu-tamu yang datang, kebanyakan dari mereka bertingkah seolah-olah mereka adalah seorang bangsawan. Munafik. Itulah yang ada di pikiran Sakura, maka dari itu dia tidak menyukai dunia bisnis yang berisi segala macam persaingan.
"Ayo kita turun." Sasuke membukakan pintu dan mengulurkan tangannya.
Sakura menerima uluran tangan Sasuke dan berjalan keluar dari mobil.
"Pesta malam ini akan ramai, sebaiknya jangan jauh-jauh dariku."
Sakura menganggukan kepalanya dan mengeratkan genggaman tangannya agar tidak hilang.
"Pestanya ramai sekali," ucap Sakura.
"Tentu saja, ini pesta ulang tahun putri salah satu orang yang berpengaruh di negara ini." Sasuke tersenyum dan mereka menuju salah satu meja yang berisi makanan, "Kamu mau sesuatu."
Mata Sakura menatap salah satu kue coklat yang menggugah seleranya. Secara refleks, tangannya mengelus perutnya dan hal itu menarik perhatian Sasuke.
"Kamu ingin kue itu?" tanya Sasuke mengambil kue coklat, "Makanlah."
Sasuke tidak bisa menahan senyumnya melihat Sakura yang makan dengan lahap. Di matanya, Sakura terlihat seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi mainan.
"Sasuke-kun!"
Sasuke merutuki dalam hati ketika melihat Karin yang menghampirinya.
"Aku merindukanmu!" Karin langsung memeluk Sasuke.
"Karin! Jauhkan tanganmu!" desis Sasuke lalu melirik Sakura, "Sakura, sebaiknya kita pergi."
"Kenapa kamu bisa bersama wanita jalang ini?!"
Suara Karin menarik perhatian tamu undangan. Sasuke melotot ketika mendengar perkataan Karin yang diluar kendali itu.
"Karin! Jaga mulutmu!" tegur Sasuke.
"Kenapa kamu masih bersamanya?! Dia adalah calon ibumu! Wanita tidak tahu malu yang meninggalkanmu dan memilih untuk menikah dengan ayahmu! Benar-benar tipe wanita tidak tahu malu!"
Tangan Sasuke akan melayang untuk menampar mulut tidak tahu aturan milik Karin, jika tidak ditahan oleh Sakura.
"Sasuke-kun, aku ingin pulang. Kepalaku pusing sekali," keluh Sakura.
Sasuke menganggukan kepalanya dan membawa Sakura menuju mobilnya. Mengabaikan beberapa pasang mata yang memandangi kepergian mereka. Fugaku meneguk anggur yang diminumnya ketika melihat Sasuke manarik tangan Sakura keluar dari gedung hotel.
"Kenapa kamu menghalangiku untuk memberikan pelajaran kepadanya?" Sasuke memandang Sakura yang sedang duduk di sampingnya.
"Memangnya apa gunanya kamu melakukan hal itu? biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan."
Sasuke tidak bisa menahan tangannya untuk mengelus kepala Sakura dengan lembut. Ah- andaikan saja wanita di sampingnya ini bukan calon ibunya, dia pasti akan meminangnya.
oOo
Sakura terbangun dari tidurnya ketika bel pintunya dibunyikan berkali-kali. Dengan langkah malas, dia berjalan menuju pintu dan membukakannya.
"Naruto?" Sakura terkejut melihat Naruto berdiri di depan pintu apartemennya, "Tumben sekali kamu datang pagi-pagi begini. Ada apa?"
Naruto mengucapkan satu kata yang membuat dunia Sakura menjadi runtuh.
"Ini tentang Sasuke. Dia masuk rumah sakit."
Sakura melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti di salah satu ruang rawat ICU. Disana, dia bisa melihat Fugaku dan Karin sedang duduk di ruang tunggu.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Sasuke akan terbaring di rumah sakit seperti ini. Padahal semalam mereka masih bersama dan dia masih melihat senyuman Sasuke saat mengantarkannya kembali ke apartemen.
"Apa yang terjadi? Kenapa Sasuke-kun bisa masuk rumah sakit?" tanyanya.
"Dia memiliki kelainan Jantung, sedari kecil dia memang sudah sering masuk rumah sakit. Saat ini, dia membutuhkan donor jantung."
Mendengar perkataan Fugaku, membuat dadanya berdenyut sakit. Matanya memandang Sasuke yang tertidur dengan damai, banyak selang yang berada di tubuhnya. Menolehkan kepalanya, dia memandang mata calon suaminya itu.
"Bawa aku menemui dokter."
Karin duduk sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya melirik Sakura yang duduk dengan santai di sampingnya.
"Cih, tidak usah cari muka dengan mendonorkan jantungmu segala!" cibir Karin.
Sakura melirik Karin sebelum menghembuskan nafas, "Maafkan aku, tapi aku mendonorkan jantung bukan karena aku sedang cari muka, tapi karena aku ingin menyelamatkannya."
Fugaku masuk bersama seorang dokter dan langsung duduk di hadapan mereka. Dokter itu terlihat sedang membaca beberapa berkas hasil pemeriksaan kesehatan mereka.
"Nona Sakura, apakah anda yakin akan mendonorkan jantung anda?" tanyanya.
Sakura menganggukan kepalanya dengan mantap, "Iya dok. Memangnya jantung saya tidak cocok?"
"Bukannya begitu. Tapi anda sedang hamil, tidak mungkin anda mendonorkan jantung anda dalam keadaan hamil."
Semua orang yang ada disitu menahan nafas karena terkejut. Fugaku adalah orang pertama yang sadar dari keterkejutannya dan menarik tangan Sakura keluar ruangan. Karin yang ditinggalkan sendiri menarik nafas panjang dan memandang dokter di hadapannya. Kehamilan Sakura menjadi bukti bahwa dirinya sudah kalah telak untuk mendapatkan Sasuke.
"Maafkan aku," cicit Sakura sembari menunduk, "Maafkan aku karena telah mengecewakan anda."
"Sasuke?"
Sakura mengangkat kepalanya memandang calon suaminya itu.
"Apa maksudnya?"
"Apakah itu anak dari Sasuke?"
Seketika tangisan Sakura pecah. Tanpa dijawab pun, Fugaku sudah tahu siapa ayah dari bayi yang di kandung calon istrinya itu.
"Tapi, aku tetap akan mendonorkan jantungku untuk Sasuke-kun." Sakura memandang Fugaku dan pria paruh baya itu bisa melihat kemantapan dimata Sakura.
.
.
"Sakura."
Sakura yang mendengar panggilan ibunya mengangkat kepalanya dan menghentikan kegiatan mengupas apel.
"Ada apa bu?" tanyanya.
"Kenapa kamu terlihat lesu? Apakah kamu sedang sakit?"
Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak, Sakura baik-baik saja."
"Jangan berbohong pada ibu."
Sakura tersenyum dan menggenggam tangan ibunya.
"Tidak usah mengkhawatirkan Sakura. Sakura baik-baik saja kok, bu."
Sasuke membuka matanya perlahan, hal yang dilihatnya pertama kali adalah Sakura yang sedang duduk tidak jauh darinya sembari membaca buku. Wanita itu masih belum menyadari jika dirinya sudah sadar, dan Sasuke merasa beruntung karena bisa memandangi wajah ayu wanita itu sampai puas.
Sakura mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya dan terkejut melihat Sasuke sudah sadar dari tidurnya.
"Sasuke, kamu sudah sadar? Apakah kamu butuh sesuatu?" Sakura meletakan bukunya dan berjalan mendekati Sasuke.
"Aku membutuhkanmu disisiku, kamu tidak akan pergi, kan?" bisik Sasuke.
Sakura merasakan dadanya bergemuruh dan bergejolak. Dia tahu cinta antara dirinya dan Sasuke adalah cinta yang terlarangg. Akan tetapi, dia tidak bisa berpaling dari pemuda yang menjadi ayah dari bayinya itu.
"Aku tidak akan pergi."
Sasuke tersenyum ketika Sakura menyodorkan buah apel yang telah dikupas untuknya. Dengan lahap, dia memakan apa saja yang disodorkan wanita bermata emerald itu kepadanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan semua ini?"
Sasuke memandang Sakura dengan pandangan tidak mengerti. Dia mencoba mencerna pertanyaan ambigu yang ditujukan untuknya itu.
"Mengatakan... apa?" tanya Sasuke.
Sakura menundukan kepalanya, "Jika kamu memiliki kelainan jantung."
Sasuke memejamkan matanya sebelum akhirnya buka suara.
"Aku sudah sedari kecil selalu sakit-sakitan. Aku lahir prematur dan ibuku hampir keguguran saat itu, mungkin karena itu aku memiliki penyakit ini. Ibu berusaha untuk mencarikan donor jantung untukku, tapi sampai sekarang masih belum ada yang cocok untukku. Setidaknya, aku bersyukur karena bisa hidup sampai sekarang. Aku bisa mengenalmu dan bisa mencintaimu. Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu dan jatuh cinta padamu."
Sakura tidak bisa menahan air matanya yang tumpah seketika. Dia memeluk Sasuke dan menumpahkan seluruh rasa sesak di dadanya.
Di luar ruang rawat, seorang lelaki menarik nafas panjang dan memejamkan matanya. Dia salah karena telah merenggut wanita yang telah menjadi kekasih putranya itu. Di awal pertemuan mereka, dia sudah jatuh cinta pada tatapan mata Sakura dan keluguan gadis itu. Dia hanya memikirkan egonya saja untuk bisa mendapatkan cinta gadis itu, meski dia tahu jika cinta gadis itu hanya untuk putranya.
.
.
"Oi Teme!"
Sasuke yang sedang menonton televisi menoleh ke asal suara dan melihat Naruto berdiri diambang pintu sembari membawa sekeranjang buah-buahan.
"Dobe."
Naruto melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat dan duduk di pinggir ranjang Sasuke.
"Bagaimana keadaanmu? Sepertinya kamu tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit," Komentar Naruto.
"Benarkah? Mungkin karena gadis yang selalu mendampingiku." Sasuke tersenyum.
Naruto mengangkat satu alisnya, "Gadis?"
"Sakura, tentu saja."
"Jadi, kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Naruto.
"Dia selalu mendampingiku di masa sulit. Apalagi aku telah mendapatkan donor jantung dan akan dioperasi."
Naruuto menepuk bahu Sasuke.
"Kalau begitu, bahagiakan dia untukku."
Sasuke memandang Naruto, "Bukankah kamu juga mencintainya?"
"Dia tidak mencintaiku, itulah faktanya. Dia juga mencintaiku, tapi hanya sebagai kakak saja. Dia tidak bisa mencintaiku seperti dia mencintaimu."
Sasuke tersenyum, "Aku akan membahagiakannya. Aku janji."
Sakura menggenggam tangan Sasuke ketika pemuda itu akan menjalani operasinya lima belas menit lagi. Dia mencoba menenangkan Sasuke yang terlihat gugup.
"Setelah ini, kamu tidak akan meninggalkanku, kan?" tanya Sasuke sembari mendenguskan wajahnya.
Sakura tidak bisa menahan kekehan gelinya melihat sikap Sasuke.
"Aku telah melakukan banyak kesalahan," ucap Sakura, "Aku bahkan berpacaran dengan ayahmu. Aku tidak pantas untuk mendampingimu."
"Tidak ada wanita yang pantas mendampingiku selain wanita yang aku cintai. Percayalah, aku hanya menginginkan kamu."
Sakura tidak bisa menahan air matanya yang tumpah. Sebenarnya, dia bukannya tidak merasa dicintai, tapi dia hanya tidak menyadari jika banyak orang yang mencintainya. Ini semua terjadi karena trauma masa kecilnya. Bagaimana dia melihat ayahnya pulang dalam keadaan mabuk, mencaci maki dan memukuli ibunya. Untuk gadis kecil seusianya dulu, hal itu mengganggu mentalnya.
"Tuan Sasuke, saatnya operasi dilaksanakan."
Sakura tersenyum menguatkan hati Sasuke yang kini terbaring lemah. Ketika melihat Sasuke menghilang di balik pintu operasi, tatapannya berubah sendu.
"Maafkan aku, Sasuke-kun."
Pertama kali membuka mata, dia berharap orang yang pertama kali dia lihat adalah Sakura, tetapi harapannya hanyalah ilusi belaka. Karena kenyataannya, ketika dia membuka mata, dia tidak menemukan gadis bermata emerald itu di sampingnya.
oOo
"Hn, Sasuke."
Sasuke hanya menganggukan kepalanya ketika ayahnya menyapanya di meja makan. Ini sudah bulan ketiga semenjak operasi yang dilakukannya. Dia sudah bisa melakukan aktifitas meski tidak boleh terlalu lelah.
"Ayah, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku."
Fugaku menatap putra semata wayangnya sebelum akhirnya mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Sasuke mau berbagi isi hatinya seperti ini. Semenjak kematian istrinya, delapan belas tahun yang lalu. Banyak hal terjadi diantara mereka, dia lebih memilih untuk fokus kepada pekerjaannya dan Sasuke juga sebaliknya. Banyak hal yang hilang dalam hidup mereka.
"Apa yang membuatmu terganggu?" tanya Fugaku.
"Siapakah yang mendonorkan jantungku, yah?"
Fugaku terdiam sesaat, dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab.
"Kamu bisa mengunjungi makamnya siang ini."
Rasanya jantungnya berhenti sepersekian detik. Jangan bilang kalau orang itu adalah Sakura.
.
.
Sasuke berdiri di sebuah makam dengan batu nisan yang berdiri kokoh. Di tangannya, terdapat sebuket bunga yang dia beli sebelum berangkat ke makam. Dia teringat kata-kata ayahnya sebelum pergi ke makam.
"Dia sangat mencintaimu, hingga dia rela mendonorkan jantungnya."
Sasuke tersenyum dan mengelus batu nisan di hadapannya.
"Terimakasih."
Naruto tersenyum ketika Sasuke berjalan memasuki cafe, dia segera melambaikan tangannya dan mengajak Sasuke duduk di hadapannya.
"Hn. Aku harus mengunjungi makam seseorang dulu tadi." Sasuke menarik kursi dan duduk di hadapan Naruto.
"Tidak apa," ucapnya, "Ngomong-ngomong, kamu mengunjungi siapa? Ibumu?"
Sasuke tersenyum tipis, "Salah satunya beliau."
"Salah satunya? Pasti ada salah duanya kalau begitu."
"Karin."
Naruto mengangkat alisnya tidak mengerti.
"Karin? Maksudmu, Karin tunanganmu itu?"
Sasuke menganggukan kepalanya.
"Tunggu dulu, kenapa dia bisa tiba-tiba meninggal? Rasanya aneh sekali, dia tidak mengalami kecelakaan atau sakit, kan?"
"Memang tidak." Sasuke meneguk air putihnya, "Jantung yang aku gunakan sekarang adalah jantung milik Karin."
Naruto nyaris tersedak kopinya.
"Jangan bercanda!" sela Naruto.
"Aku tidak bercanda. Tadinya aku berfikir jika Sakuralah yang mendonorkan jantungnya untukku."
"Itu tidak mungkin." Naruto mendenguskan tawanya, "Dia sedang bersama calon anakmu sekarang."
"Calon anak?" Sasuke mencoba mencerna perkataan Naruto, "Tunggu dulu! Jangan bilang kalau dia-"
"Dia memang sedang mengandung. Anakmu."
"Katakan, dimana Sakura sekarang!"
.
.
Sakura memandang cafe yang menyediakan milkshake tanpa melakukan apapun. Tangannya perlahan mengelus perutnya yang telah membuncit. Seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan mengernyit heran. Dalam hati dia bertanya, kalau memang Sakura menginginkan milkshake, kenapa dia tidak membelinya saja?
Pertanyaannya terjawab ketika Sakura merogoh kantong celana dan tasnya tapi tidak menemukan sepeser uang pun. Apakah sesulit inikah hidup Sakura, hingga tidak memiliki uang sepeserpun seperti itu?
Setelah Sakura melangkahkan kakinya pergi meninggalkan cafe itu, giliran dirinya yang masuk ke dalam cafe.
Sakura mengelus perutnya yang membuncit, merasakan tendangan bayinya itu. Sekarang dirinya berada di sebuah taman, setelah kelelahan karena terlalu banyak berjalan untuk mencari pekerjaan.
Semenjak Sasuke di operasi, dirinya sudah meminta maaf dan berjanji akan mengganti uang yang telah diberikan Fugaku kepadanya. Akan tetapi, ayah Sasuke itu menolak dan malah membiayai semua perawatan ibunya.
Sekarang, tinggalah dia berdua dengan ibunya. Untung saja ibunya tidak marah dengan keadaannya, malah ibunya mendukung dirinya untuk membesarkan bayinya meski hanya seorang diri.
"Maafkan Mama ya, sayang. Mama tidak punya uang untuk membelikanmu milkshake, padahal kamu sangat ingin itu, bukan?" bisik Sakura dengan pelan.
Sebuah tangan mengulurkan milkshake di hadapannya, betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang mengulurkan milkshake itu.
"Sasuke-kun?!" suaranya bahkan tercekat di tenggorokan, "Bagaimana kamu bisa berada disini?"
"Naruto." Sasuke berjongkok di hadapan Sakura dan mengelus perutnya dengan pelan, "Dia yang mengatakan semuanya padaku."
"Sasuke-kun."
"Kenapa kamu menyembunyikannya?" Sasuke mendongakan wajahnya menatap Sakura, "Kenapa kamu menyembunyikannya tentang anak kita?"
"Aku hanya tidak ingin membebanimu, hidupmu sudah berat dan aku tidak ingin membebanimu lagi."
"Bodoh! Jangan katakan itu, kamu hanya membebani dirimu sendiri jika kamu menyimpannya seorang diri seperti ini."
Sakura tidak bisa menahan air matanya yang tumpah membasahi kedua pipinya. Tangan kekar milik Sasuke, menghapus air mata yang membasahi pipi Sakura.
"Maafkan aku," isak Sakura.
"Aku akan memaafkanmu, asalkan jangan melakukan tindakan bodoh lagi apapun alasannya. Aku tidak ingin mendengarmu mengatakan 'aku tidak pantas untukmu karena aku gadis miskin', 'aku tidak pantas untukmu karena aku pernah menjadi calon ibumu'. Masa lalu itu tidak penting lagi sekarang. Karena yang terpenting, kini hanya ada aku, kamu, dan anak kita."
Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dan menciumnya dengan lembut. Menutup semua penderitaan yang telah mereka lalui dibawah senja yang menjadi saksi, bahwa kisah cinta mereka tidak akan pernah pudar.
.
.
.
.
-Omake-
Sasuke tersenyum tipis dan mengelus nisan di hadapannya. Memejamkan matanya, dia memulai doanya.
"Papa!"
Sasuke menolehkan kepalanya dan melihat seorang gadis kecil berusia lima tahun dengan mata bulatnya menatapnya. Dia menyunggingkan senyum tipis sebelum berjongkok di depan putrinya.
"Ada apa, Sarada?" tanyanya.
"Kenapa Papa lama sekali?!" Sarada merengut kesal, "Katanya Papa mau mengajakku dan Mama makan ramen bersama?"
"Hn. Dimana Mamamu?" tanya Sasuke.
"Ada di depan pintu pemakaman, tadi dia bertemu dengan bibi Ino makanya tidak ikut masuk. Kenji juga rewel terus sedari tadi."
Sasuke tersenyum tipis ketika mendengar penuturan Sarada. Kenji Uchiha, putranya yang baru lahir yang memiliki rambut berwarna pink seperti Sakura. Menolehkan kepalanya kearah nisan milik Karin sebelum akhirnya bangkit dari posisinya.
"Ayo Sarada, kita temui Mamamu setelah itu kita makan ramen."
Sarada menurut saja ketika tangan ayahnya menggandengnya. Dia menolehkan kepalanya dan menemukan seorang wanita dengan rambut merah dan kacamata tersenyum kearahnya. Saat mengerjap-ngerjapkan matanya, sosok itu menghilang.
Sarada semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan besar ayahnya. Jangan bilang itu tadi adalah hantu.
"Ada apa, Sarada?" tanya Sasuke menolehkan kepalanya.
Sarada menggelengkan kepalanya. Apapun itu, dia tidak takut dengan hantu.
Meski sebenarnya dia sedikit ketakutan tadi.
-Owari-
Catatan kecil Author :
Yayaya! Pasti reader akan protes. Kenapa Cuma sampe segini -_- Apaaan ini -_- baiklah, baiklah, endingnya keliatan gantung banget.
Terimakasih buat yang udah review dan negbaca dari awal chapter ini. Fict ini jauh banget dari kata sempurna!
Sampai ketemu di cerita Sakura yang lainnya!
-Aomine Sakura-
