2 Locked

"Sudahlah hoi.. kau merusak pita suaramu"Tegur Aomine pada pemuda surai crimson yang sedari tadi memukul-mukul pintu dan berteriak 'tolong'.

"Kau membuatku terdengar seperti orang jahat"

"Diam aho! Lebih baik kau bantu aku keluar dari sini"

Yak, mereka berdua terkunci. Disebuah ruangan yang sangat sempit yang isinya alat bersih-bersih.

Bagaimana mereka bisa berada disana? Yahh.. pintu ruangan itu sudah agak rusak jadi hanya bisa dibuka dari luar. Salahkan Aomine karna tidak tahu itu.

Dan alasan mereka berdua ada di ruangan itu juga salah Aomine.

Tadi saat latihan klub, Aomine datang ke Seirin.

Entah karna alasan apa, katanya sih bosan, iseng-iseng aja. Semuanya tidak keberatan soal Aomine Tapi dia membuat Kagami kesal.

Aomine tidak melakukan apa-apa. Tapi bagi Kagami, melihat Aomine berdiri saja sudah menyebalkan. (Apalagi dia mengedipkan sebelah matanya selagi menyeringai)

Jadi mereka berkelahi. Tidak menggunakan fisik, hanya adu mulut. Tapi cukup untuk membangunkan hulk di dalam jiwa Aida Riko.

Hukumannya tidak terlalu buruk. Hanya disuruh membersihkan lapangan alias mengepelnya. Saat mereka hendak mengambil pel and friends. Aomine menutup pintunya, alasannya? Karna Kagami bilang 'jangan tutup pintunya'.

"Aargh! Ini semua salahmu!"Kagami menatap Aomine dengan tajam.

Aomine menyeringai dan menggedikkan bahunya "Bukan salahku kalau aku tidak tahu pintunya rusak"

Kagami kehilangan kesabaran dan menarik kerah Aomine. "Aku kan sudah bilang jangan tutup pitunya! Makannya dengar dong! Lagipula sedang apa kau disini?! Mengganggu hah?!"

Aomine tertawa, melepaskan cengkraman Kagami pada kerah bajunya. "Ya, kau benar. Aku disini untuk mengganggu, mengganggumu tepatnya"Aomine mendekatkan wajahnya ke wajah Kagami selagi mengelus pipinya dengan sebelah tangan.

"...Aho.."Kagami bergumam pelan. Sungguh, sebenarnya berjuta sumpah serapah ingin sekali ia teriaki di depan wajah Aomine, tapi semuanya berubah menjadi satu kata itu. Rona merah menghiasi pipinya hingga telinga.

"..K-kita harus kelua-ahn"Kalimatnya terpotong desahannya sendiri saat merasakan dengkul Aomine menggesek selangkangannya.

Kali ini wajah Aomine yang tampak memerah.

"A-aomine, berhenti"Kata Kagami lesu selagi memegangi dengkul Aomine

"K-kau yang bergerak tahu! Aku tidak melakukan apapun.."Kata Aomine terbata-bata selagi memalingkan wajahnya yang dihiasi warna merah. Aomine mengangkat kedua tangan Kagami yang memegangi dengkulnya, menguncinya diatas kepala kagami dengan satu tangan.

Dan secara entah-sengaja-atau-tidak, lebih menekan dengkulnya ke selangkangan Kagami. Membuatnya mendesah lebih keras.

"A-aomine.."Kagami melepaskan tangannya dari cengkraman Aomine. "M-mundur!"Katanya sambil mendorong pundak Aomine dengan sekuat tenaga.

Aomine menoleh kebelakang. Tidak ada celah untuk mundur. Lantai penuh dengan botol pembersih, sikat dan sebagainya.

"Mundur kemana?"Aomine mencondongkan tubuh kedepan. Jarak wajah mereka hanya bersisa 0,000~9.

Kagami menggigit bibir. Menatap Aomine kesal. Rona merah belum hilang dari pipinya.

"M-mundur!"Kagami mendorong Aomine lebih kuat.

Aomine terpeleset botol pembersih lantai yang tergeletak. Kagami masih mencengkram pundak Aomine.

Punggung Aomine menempel ke tembok. Begitu juga bibirnya menempel dengan bibir Kagami.

Kagami shock. Aomine girang.

Aomine memeluk pinggang dengan satu tangan dan mendorong tengkuk Kagami dengan tangan yang lain. Menjilat bibirnya, memperdalam ciuman mereka.

Kagami masih membeku. Saat otaknya sudah bisa berfikir jernih. Ia membuka mulut, ingin berteriak. Aomine mengira itu adalah tanda untuk lidahnya bisa menjelajahi mulut Kagami.

Kagami mendesah. Tangannya mencengkram pundak Aomine, mendorongnya.

Bibir mereka berpisah sebentar karena dorongan Kagami. Namun langsung bertemu kembali saat Aomine mendorong Kagami sehingga punggung Kagami yang menempel ke tembok sekarang.

Tangan Kagami berpindah ke punggung Aomine. Mencakar, memukul, apapun yang bisa membuatnya menghirup udara.

Aomine mundur, mengerti kebutuhan utama Kagami. Oksigen.

"Haahh..hahh, Aho!-"Kagami hendak berteriak ke wajah Aomine namun terpotong saat tangan Aomine masuk ke dalam seragamnya. Tubuhnya terasa lemas. Jika Aomine tidak menahannya munngkin ia akan terjatuh.

"J-jangan.."Kata Kagami lemas. Tangannya meraih tangan Aomine yang masuk ke dalam seragam.

Namun tangan Aomine yang satu lagi meremas pantat Kagami. Membuatnya mendesah keras, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Aomine tertawa. "Jangan ditutup sayang, suaramu manis sekali.."Aomine berbisik seduktif di telinga Kagami lalu menjilatnya. Kagami mengerang.

Kedua tangan Aomine berhasil menyikap seragam Kagami sampai dada. Kagami hanya bisa pasrah dibawah dominasi Aomine.

"B-berhenti, kumohon.. Aomine.."

Aktivitas tangannya terhenti. "Berhenti?"Aomine tertawa.

Tangan kanannya meraba milik Kagami yang menonjol di celananya. Meminta perhatian.

"Nnngh.."

"Ooh, aku tidak yakin kau ingi berhenti. Kau harus lebih jujur Taiga.."Aomine mencium leher Kagami, menjilat telinga Kagami lalu mencium pipi Kagami.

Target terakhir, bibir Kagami.

Dengan satu tangan Aomine mengusap bibir Kagami. Sementara tangan yang satu lagi membuka resleting celana Kagami secara perlahan.

Tinggal 3 cm lagi, 2.. 1.. dannn..!

Kagami menutup mulut Aomine.

Cleek..

Iris Navy dan Crimson keduanya terpaku ke pintu yang sedari tadi tertutup rapat yang sekarang sudah terbuka. Menampakkan Furihata yang bergetar ketakutan melihat Aomine yang menatapnya tajam.

Sementara Kagami menatap Furihata seperti seorang anak kecil melihat setoples kue coklat.

"M, m-maaf!"Furihata hendak membanting pintu Namun dihentikan tangan Kagami.

"Hey.. tidak apa, kau tahu pintunya rusak.. terima kasih Furihata!"Kagami berterimakasih dengan senyuman unyuk di wajahnya.

Kagami merapihkan seragamnya sebelum berlari keluar menikmati kebebasannya.

Sementara Aomine mengeluarkan aura kelam yang membuat Furihata pingsan. Ia menyeringai lebar selagi mengikuti Kagami yang sedang berbahagia akan kebebasannya.

Jangan pikir kau sudah bebas Kagami, sepertinya kau akan diikat di kasur seumur hidupmu.

A/N:Selebihnya saya serahkan pada imajinasi anda sekalian :