3 YandereMine!

Taiga itu indah. Dari ujung rambut sampai kaki. Dari hatinya sampai fisiknya. Senyumnya dan tubuhnya. Matanya dan bibirnya..

Aku, Aomine Daiki. Bertugas untuk melindungi keindahan itu.

Keindahan manusia tidak akan bertahan selamanya, ada yang namanya masa tua dan..

Kematian.

Dan, aku. Aomine Daiki, telah menemukan cara mempertahankan keindahan itu.

Setelah bertahun-tahun aku mencoba pada beberapa hewan. Setelah meledakkan laboratorium kimia berkali-kali.

Akhirnya aku menemukannya.

Akhirnya aku tidak perlu lelah menghabisi nyawa setiap orang yang melirik Taiga.

Taiga milikku.

Sungguh, dia terlalu indah. Aku tidak akan pernah bisa mengusir serangga dari bunga yang cantik ini.

Jadi, lebih baik aku petik saja dan simpan untuk diri sendiri.

Ah.. bagimana ya..

Sebenarnya sudah sejak dulu aku penasaran dengan cara mempertahankan keindahan manusia.

Semuanya dimulai saat aku berumur sepuluh tahun.

Aku tidak sengaja membunuh seekor kucing.

Anak kucing yang lucu.

Aku menggendongnya dengan cara yang salah lalu tidak sengaja mencekiknya.

Satsuki menangis melihat anak kucing itu mati. Ayahku marah dan menasihatiku.

Tapi entah kenapa aku merasa senang.

Rasanya anak kucing itu terlihat lebih tenang saat mati.

Jadi aku membunuh hewan lain.

Tikus, kucing, burung, anjing.

Lalu menyimpan mayatnya di kamar.

Mayat mereka dikerubuni belatung.

Ibu benar-benar marah saat mengetahui aku membunuh hewan-hewan itu.

Memang apa salahnya melakukan apa yang kau suka?

Aku memasang wajah datar mendengar omelan ibu. Tidak peduli apa katanya aku masih suka melakukan itu.

Misalnya anjing tetangga yang suka merusak taman ibu. Aku membunuhnya, dan itu menguntungkan bukan?

Jika aku hendak memetik bunga, untuk menghindari serangga-serangga itu. Bisa saja bunga itu layu.

Aku tidak ingin Taigaku menjadi seperti itu.

Jadi aku mencari tahu caranya.

Membuat kecantikan manusia bertahan selamanya saat mereka meninggal.

Mendandani, membuat mereka enak dipandang.

Suatu hari ibu benar-benar marah. Ia menamparku dan meneriakku 'pembunuh'

Itu tidak benar, aku hanya ingin melakukan hal yang aku suka.

"DIAM!"

Aku berteriak pada ibu lalu menusuknya dengan pisau.

Wajah ibu dipenuhi darah. Darah itu tidak sesuai dengan wajahnya yang cantik jadi aku mengelapnya dengan sapu tangan.

Wajah ibu saat itu lebih cantik dari sebelumnya.

Aku panik dan lari dari rumah. Tidak bisa hidup satu hari tanpa melihat wajah indah orang yang meninggal.

Sayangnya mereka hanya bertahan sementara.

.

Taiga itu indah.

Seperti bunga. Bunga yang indah dan harum.

Banyak serangga yang ingin menghinggapinya.

Aku tidak mau itu terjadi jadi aku memetiknya.

Dalam beberapa hari bunga itu akan layu.

Jadi aku mencari tahu cara agar keindahan bunga itu tetap terjaga.

"Unggh.."Taiga menggeliat di kasurku, aku duduk di kursi yang diletakkan di samping kasur, menyeringai.

"Kau sudah bangun nee Taiga?"

"D-Daiki?" Ia hendak bangun, namun tangan dan kakinya terikat ke kasur.

"Daiki.."Ia memanggil namaku lagi, namun kali ini suaranya bergetar ketakutan. "A-apa ini, apa yang kau lakukan?"

Aku tertawa. Aku suka ekspresi takutnya. Menggemaskan.

Kagami menggeliat berusaha keluar. Sesekali berteriak tolong saat melihat seringaiku.

Aku berdiri, mengelus pipinya yang lembut lalu mengambil sebuah suntikan berisi cairan yang bertahun-tahun aku ciptakan.

"L-lepaskan! Daiki, ini tidak lucu!"

Aku memegang lengannya erat. Berusaha membuatnya berhenti bergerak. "Jangan bergerak-gerak sayang, ini tidak akan sakit sedikitpun jika kau diam"

Kagami masih menggeliat. Seharusnya ia tahu ini, semua korban itu. Alex, Himuro, Kuroko, Kise dan semuanya. Noda merah di seragam Aomine yang katanya saus.

Semua patung hewan yang ada di rumah Aomine. Yang benar-benar tidak seperti patung. Usahanya menjual manekin.

Dan polisi sudah menangkap orang yang salah.

Semua ini karna ia terlalu mencintai Aomine.

Tepat saat Aomine selesai dengan apapun yang akan ia lakukan. Tidak akan ada yang curiga.

Seharusnya ia yang membuat minuman untuk ayahnya, bukan Aomine. Pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi.

Ibunya sudah meninggal saat ia masih kecil. Dan orang-orang akan mengira ia lari.

Lari dari rumah. Tidak ada yang tahu sejak saat itu dia tinggal dengan Aomine.

Tidak ada yang curiga.

Kagami menggeleng. "Tidak, D-daiki lepaskan aku kumohon.." Air mata membendung di matanya.

Aku tertawa. "Aku suka saat kau memohon seperti itu"

"Tidak!"Kagami berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman Aomine.

Senyuman menghilangdari wajah Aomine. Ekspresinya datar saat ia menuangkan sesuatu ke sapu tangan.

"Apa itu balasanmu untuk orang yang membiayai apapun untukmu?"

Kagami menggigit bibirnya.

Aomine tertawa. "Terutama kebutuhan makanmu"

"Daiki.."

"Ayolah taiga.. ini akan menyenangkan. Kau boleh memilih ingin memakai apa nanti"

Aomine menyentuh pipi Kagami. "Hmm... kalau boleh aku sarankan.. baju maid akan cocok denganmu"

Kagami memalingkan wajahnya.

"Kau lihat bukan?, manekin-manekin di basement. Mereka indah bukan? Kau akan menjadi karyaku yang paling indah Kagami.. Dan bagian terbaiknya adalah. Aku tidak akan memberikanmu pada siapapun, semahal apapun mereka akan membayar"

"T-tidak! Dai-mffh"Aomine membungkamnya dengan sapu tangan itu.

K-kloroform..

"I love you, my beautiful Taiga.."Aomine berbisik di telinga Kagami.

Perlahan-lahan kelopak matanya menutup.

A/N : Psychopath is better than no path,

Jadi.. kemarin ngeliat game mad father terus dapet inspirasi deh.. lahirlah ff gaje nan absurd ini.

Bisa jadi sambungan chapter sebelumnya mungkin...? /ganyambung. Terserah reader aja :3