I'm Tired

Author : Ai Mochie

Rate : T

Pair : ChanBaek

Slight : KaiSoo, HunHan

Disclamer : Semua Char di sini milik Tuhan Yang maha Esa. dan tentunya milik EXO-L. EpEp ini murni dari otak author^^

Char :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Oh Sehun

Xi Luhan

All Other...

Length : Chapter

Genre : romance/hurt/angst

Warning :GS, ETC berantakan, typo(s) bertebaran dimana-mana..XD

Summary : Bukan ... Bukan ini yang ingin aku lihat. Bukan ini yang ingin aku alami / Akupun menutup mataku. Setelah ini semua membeku. Dan biarlah sakitku menghilang seiring bekunya hatiku setelah meloncat dari sini /

Tuhan, cukup... Sudah cukup sakit ini / sekarang aku mengerti semuanya tuhan.

Don't Like Don't read

"Ne.. Aku mengerti, Aku akan berhenti menyukaimu Sehun, Maafkan aku yang selalu menganggumu dan merepotkanmu" Final.. Luhan menyerah. Sudah cukup untuknya sekarang. Dan ia harus melupakan cintanya setelah ini. Dan pengakuannya yang ke 119 ini adalah pengakuan terakhirnya. Sehun mematung mendengar itu semua. Ia tak tahu kenapa hatinya juga merasa teramat sakit sekarang.

Kriiieett

Luhan masuk ke gerbang rumahnya. Ia menangis dengan langkah yang pincang karena kakinya yang sakit. Hampa... itu yang luhan rasakan sekarang.

"Mianhae" satu kata itu terucap dari mulut Sehun. Tak taukah Oh Sehun apa yang sudah kau lakukan sekarang?

'Apa yang telah aku lakukan padamu... Xi Luhan' Sehun terduduk dan menyesali kebodohannya. Menyesal? kau sudah terlambat Oh Sehun.

Chapter Three

.

The Memorize

Sungguh ini semua di luar kuasaku...

Semua yang terjadi bukanlah apa yang aku inginkan...

tapi jika takdir berkata seperti itu..

apa yang harus aku lakukan?

Happy Reading ~ ~

.

Yeoja manis ini masih belum tersadar dari pingsannya. Seseorang yang pasti belum mengenal yeoja itu masih duduk setia menunggu yeoja itu sampai sadar. Sungguh namja itu tak tau apa yang harus ia lakukan. Menelefon keluarga yeoja itu? mana mungkin itu bisa dilakukan, ia belum mengenalnya, bahkan namanya ia pun tak tahu. Dan dengan terpaksa namja itu harus menunggu sampai sadar. Padahal ia sangat lelah karena perjalanan dari Paris tadi pagi.

"Jam 8 malam ya, ini sudah 3 jam aku menunggunya" Rutuknya dengan melihat jam tangan di tangan kirinya. "Apa harus aku tinggalkan" tanyanya pada diri sendiri. Ia pun menggelengkan kepala "Aniya.. aku tak bisa melakukannya"

Drrrttt drrrttt

Ponselnya bergetar. Menunjukkan nama 'Wu Yi Fan', orang yang dipercaya tuan Byun selama ini. Dengan segera ia keluar dari bilik itu dan menerima panggilan itu.

"Bonjour Monsieur"

"Jongdae, apa kau sudah melihat amplop itu"

"Ahh aku akan melihatnya nanti"

"Kau tau kau harus menyelesaikan tugasmu selama seminggu disini"

"Iya Monsieur, aku akan segera menyelesaikannya"

"Dan sekarang kau dimana?"

"Di Hotel, aku akan istirahat" bohongnya

pip

Ia memutuskan sambungan telfonnya, masih teringat jelas percakapannya dengan orang kepercayaan tuan Byun itu. 'Dingin' itu yang pertama kali muncul di otak Jongdae saat berbincang dengannya. Sama dengannya, meskipun sebenarnya Jongdae itu adalah orang yang dingin dan tak memiliki hati. Tapi mengapa saat melihat yeoja ini ia ingin menolongnya. Kasihan? Apa dia kasihan?. Jongdae tak percaya, Ia sudah meninggalkan hatinya di Paris jauh 10 tahun yang lalu. Kasihan? itu mustahil! Ini hanya kebetulan. Tekankan itu.

"Nugu?" suara menginterupsinya sehingga ia melihat wajah manis seseorang yang ditolongnya tadi sudah terbangun dari pingsannya.

"Ah, kau sudah sadar Noona?" Jongdae mendekati ranjang rumah sakit itu dengan tatapan yang datar.

"Oppa?" Kata-kata yeoja itu membuat ia kaget dan terhenti dari langkahnya.

"Eh?"

"Apa benar kau Jongdae Oppa?" Tanya yeoja itu membuat ia membeku di tempat. 'Apa ia mengenalku? Apa aku pernah bertemu sebelumnya?' tanyanya dalam hati.

"Namaku memang Jongdae, tapi kurasa kita belum bertemu sebelumnya" Jawab Jongdae seadanya, sedangkan yeoja itu mengubah raut bahagia menjadi raut sedih, membuat hati Jongdae agak tak enak.

"Ahh.. Mianhae. Mungkin aku salah Orang" jawab yeoja itu dengan senyuman yang terlihat terpaksa. 'Ah Ne, mana mungkin. Apa ini karena aku merindukannya? Tapi wajahnya, sungguh mata itu, senyum itu, dan aku merasakan dia Jongdae Oppa, mungkin aku merindukannya' rutuk yeoja itu dalam hati. 'Oppa aku merindukanmu' tambahnya dengan bulir bening yang menetes di mata sipitnya. Membuat Jongdae menautkan alisnya.

oO I'm Tired Oo

Prang...

Suara piring pecah itu sukses menarik perhatian seluruh pengunjung restoran kala itu. Tak biasanya Sehun ceroboh dalam melakukan pekerjaan.

"Josonghamnida.. Josonghamnida" ucap namja itu dengan membungkukkan badan beberapa kali pada para pengunjung yang terganggu karena hal tersebut. Iapun segera membereskan piring yang sudah hancur tak berbentuk..

Crashh

Pecahan piring itu sukses mengenai telapak tangan putih Sehun. Ia hanya bisa menahannya. tak peduli darah yang mengalir. Ia terus memungut itu semua sampai bersih.

"Sehun-ah, Gwenchana?" tanya Seorang yeoja yang mencoba membantu Sehun.

"Gwenchana Lay Noona, Tak usah, aku bisa menanganinya" ucapnya dengan kembali ke arah dapur dengan membawa pecahan itu.

Setelah ia memasuki dapur. Ia hanya tertunduk menghadap Suho, pemilik restoran ini. Ia diam, ia tahu kalau ia salahnya.

"Ada apa sebenarnya, tak biasanya kau begini Sehun-ah" ucap Suho dengan senyum malaikatnya. Marah? Sepertinya Suho sangat menyayangi Sehun sehingga ia tak mampu memarahinya.

"Mianhae Hyung" Hanya itu yang mampu Sehun katakan.

"Jangan memarahinya Chagi, mungkin ia lelah" Seseorang ikut berbicara dan langsung mendekati Suho.

"Aniya Chagiya" Jawan Suho dengan mengelus rambut yeoja itu. Senyum merekah dibibir ranum yeoja itu. Sehun hanya diam disana.

"Apa tanganmu tak apa?" tanya yeoja itu. Yang hanya di balas anggukan dan terlihat luka di tangannya yang di bebal kain seadanya.

"Apa kau ada masalah?" Tanya Suho membuat Sehun berfikir keras, 'Apa hal itu sebuah masalah?' tanyanya didalam hati.

"Aniyo Hyung, Gwenchana" Sehun memberikan jawaban yang membuat Suho dan yeoja yang notebenenya adalah kekasih Suho menautkan alisnya. Wajah Sehun mengatakan kalau ia berbohong.

"Sungguh?" Tanya Suho sekali lagi.

"Ne Hyung" Terbesit keinginan untuk ia mengurungkan niatnya, Ia ragu ini adalah masalah atau tidak. Oh Sehun.. Kau sungguh namja tak peka! Itu jelas masalah, Membuat Luhan menangis .. Itu masalah...

oO I'm Tired Oo

Setelah Jongdae membayar pembiayaan rumah sakit dan beberapa obat untuk yeoja itu, yang jelas di dahului dengan perebutan siapa yang akan membayar, dan akhirnya Jongdae yang memenangkannya Sedangkan yeoja itu hanya bisa menghela pasrah , mereka berdua pun akan pulang. "Aku akan mengantarmu" Jongdae memulai pembicaraan

"Tapi-"

"Sudahlah, Anggaplah ini semua salam perkenalan kita" Jawab Jongdae yang hanya bisa membuat yeoja itu menghela nafas pasrah lagi. 'Lagi-lagi aku merepotkan orang yang bahkan belum aku kenal' batin yeoja itu.

"Ah Ne, Khamsahamnida untuk semuanya Jongdae-ssi"

"Tak usah se-formal itu Noona"

"Mianhae, tadi aku sudah mengira kau adalah kakakku" jelas yeoja itu yang membuat senyum di wajah tampan Jongdae. 'Sungguh senyum itu..' batin yeoja itu nelangsa, 'Oppa aku merindukanmu'

"Ah Gwencana, sudah wajar kalau seseorang mempunyai nama yang hampir sama" Ucap Jongdae. Merekapun memasuki taksi yang sudah menunggu mereka berdua di depan rumah sakit.

"Ne, Aku rasa begitu" Baekhyun hanya tersenyum tipis membuat Jongdae tak enak melihatnya. Ingin rasanya ia bertanya tapi ia mengurungkannya karena ia tahu ini masalah pribadi yeoja yang baru di kenalnya beberapa jam. Di kenalnya? Ah bahkan dia belum mengenal namanya.

Suasana pun hening sesaat. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sembari melihat jalanan kota Seoul dari jendela taksi.

"Kakakku bernama Byun Jongdae" Baekhyun membuka suara, Jongdae langsung menatap yeoja itu yang masih setia melihat jalanan dari dalam taksi.

"Ia mirip denganmu, Bahkan mungkin jika ia masih hidup. Ia akan tumbuh sebagai namja tampan sepertimu" Baekhyun pun tersenyum tipis. Jongdae menautkan alisnya.

"Aku dan dia, saudara kembar" Baekhyun menghela nafas "Meskipun Appa sudah bilang Oppa telah meninggal, aku fikir ia masih hidup. Kami saudara kembar, aku bisa merasakannya" Liquid bening itu lolos dari mata sipit Baekhyun. Tapi ia malah tersenyum dan menghapus kasar airmatanya.

"Ah Mianhae, tak seharusnya aku bercerita padamu, Jongdae-ssi" Baekhyun tersenyum seperti tak memiliki beban apapun tetapi matanya mengisyaratkan sebaliknya.

"Mianhae, aku Kim Jongdae, Bukan Byun Jongdae yang kau harapkan" Jongdae mencoba berbicara, tapi tiba-tiba hatinya sakit melihat tatapan Baekhyun.

"Ah Gwaenchana Jongdae-ssi. Seharusnya aku tak bercerita pada orang asing" Baekhyun tersenyum pada Jongdae, Lagi lagi senyuman itu membuat hati Jongdae sakit. Jongdae tak tahu apa yang ia rasakan.

"Oh ne, namamu? nugu?"

"Byun Baekhyun" Jawab Baekhyun singkat.

oO I'm Tired Oo

Jongin masih setia menatap pemandangan hiruk pikuk malam kota Seoul dari balkon Apartemen sang kekasih. Masih teringat jelas percakapan dengan sang Eomma seminggu yang lalu. Ia menghela nafas. 'Apa yang harus aku katakan pada Kyungsoo' gumamnya dengan mengacak rambutnya kasar

Flashback

Pagi itu Jongin akan bergegas menuju apartemen kekasihnya untuk menyiapkan keperluan penyambutan dongsaeng kecil mereka yang akan datang dari Paris. Dengan agak terburu-buru ia menyambar jaket kulit berwarna hitam dan menuruni tangga rumahnya. Tiba-tiba notifikation pesan muncul di ponselnya.

From : Baby Soo

"Chagiya palliwa, Aku sudah menunggumu sampai lumutan disini, Palli-wa.. Saranghae :*"

Iapun tersenyum membalas pesan dari sang kekasih. Dengan cepat ia membalas...

To : Baby Soo

"Ne Arra, aku akan segera kesana, Nado Saranghae :* 3"

Setelah itu ia segera menuju garasi dimana mobilnya terparkir. Dengan cepat ia melangkah tapi suara Eommanya membuat ia terhenti.

"Jongin-ah" Suara Eomma langsung membuat ia menghela nafas dan menghampiri Eommanya yang ada di depan pintu rumah.

"Wae Eomma?"

"Jongin-ah, Eomma mau bicara"

"Eomma~ bisakah lain waktu saja, Baby Soo sudah menungguku"

"Jongin-ah, dengarkan Eomma. Ini hanya sebentar saja" terlihat raut khawatir di wajah Eommanya iapun mengangguk pasrah.

"Ne Eomma, Sebenarnya ada apa?"

"Appa mu ingin berbicara denganmu, Ia memanggilmu di ruangannya" Jongin hanya tersenyum tipis mendengar peryataan Eommanya.

"Ada apa lagi Eomma? Bukankah aku sudah menjalankan perusahaan dengan baik saat Appa sakit, Apa aku berbuat salah?" Tanya Jongdae.

"Aniyo Jongin, dengarkan Eomma. Eomma mohon padamu, sekali ini saja. Turuti permintaan Appamu" Eommaya memohon pada Jongin. Rautnya pun berubah menjadi raut sedih.. Membuat Jongin tak tega melihatnya.

"Bukankah aku selalu menuruti keinginan Appa?"

"Ini beda lagi Jongin-ah, Eomma mohon, turuti keinginan Appamu Jongin-ah, Eomma hanya tak ingin melihat beliau sakit lagi, Eomma mohon padamu ini demi Appa dan juga Eomma"

"Memangnya aku harus menuruti apa lagi Eomma?"

"Sudahlah Jongin, Nanti kau akan tahu sendiri. Eomma mohon padamu, Kau tahu kan seberapa besar cinta Eomma pada Appa?"

"Ne Eomma, Aku akan menuruti kemauan Appa, apapun itu"

"Berjanjilah pada Eomma"

"Ne, aku berjanji"

Jonginpun masuk menuju ruangan Appanya. Masih terlihat infus yang terpasang di tangannya dan Appanya terduduk di kursi roda dengan membaca beberapa dokumen di tangan satunya. Beliau orang yang sangat pekerja keras, tekun dan baik hati. Senyum terukir jelas di wajah sang Appa saat ia memasuki ruangannya.

"Appa, Apa sudah lebih baik?" Jongin menghampiri Appanya.

"Ne, Appa sangat baik" Mata teduh Appanya membuat senyum itu menggembang di pipi Jongin.

"Apa Appa merindukanku, sampai ingin berbicara padaku" ujar Jongin yang langsung berjongkok di depan Appanya.

"Hahaha... Ne Appa sangat rindu. Meski hampir serumah, aku hampir tak pernah bertemu denganmu. Berdirilah, Lihat Anak Appa yang sudah menjadi amat tampan sekarang"

"Appa.. Sebenarnya ingin berbicara tentang apa?"

"Oh ne, Ini karena perusahaan kita bersahabat dengan Huang Corp. dari Shanghai Appa ingin kau dengan anak dari Tuan Huang bertunangan"

"Bertunangan?" Sontak tubuh Jongin menegang, Apa yang telah ia dengar, ini bohong kan? batinnya.

"Ne, ini merupakan kerjasama perusahaan kita Jongin. Kuharap kau mau menuruti keinginan Appa"

"Tapi Appa-" Ingin rasanya ia menyangkal kenyataan ini. Tapi ia bingung harus berbicara seperti apa.

"Apa kau akan menolaknya?" Tanaya Appanya dengan raut kecewa yang terliahat jelas dimatanya.

"Bukannya begitu" Ia mencoba memberikan penjlasan tapi lidahnya kelu. Seolah ia ak bisa mengatakan apapun.

"Kalau memang kau menolaknya, aku akan-" tambahnya lagi yang membuat hati Jongin bertriak sekeras-kerasnya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Iapun teringat Eommanya.

"Aku akan menerimanya Appa" iapun menjawabnya dengan setengah hati. Ia tak ingin mengecewakannya tetapi disisi lain ia tak ingin menyakiti Kyungsoo. 'Maafkan aku Kyungie' batinnya miris.

Flashback Off

"Wae? memikirkan sesuatu?" suara Kyungsoo membuat ia terbangun dari lamunannya. Dengan senyum yang dipaksakan ia menggeleng lemah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Berbicara sejujurnya pada Kyungsoo? hal itu akan membuat hatinya sakit.

"Sebenarnya ada apa, kulihat akhir-akhir ini kau selalu melamun" Tanya Kyungsoo sembari berjalan kearahnya dengan membawa 2 gelas kopi di tangannya.

"Aku hanya melamun memikirkanmu Baby" Senyum itu terlihat palsu, Kyungsoo pun mendengus mendengarnya.

"Aish.. Aku bertanya sungguh Chagi, apakah ada sesuatu?" Iapun memberikan segelas kopi pada Jongin. Jongin langsung menyesap kopi hangat itu.

"Tak ada apapun Chagi" Jawab Jongin dengan melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping Kyungsoo.

"Tak usah membohongiku Kim Jongin" Tatapan tajam itu menatap Jongin. Jongin hanya membalas dengan senyumannya. Ia jelas tahu jika yeojachingunya memanggil nama lengkapnya itu berarti ia sedang kesal terhadapnya.

"Aku tak membohongimu Kim Kyungsoo" Jongin kembali menysap kopinya dan tak menghiraukan tatapan Kyungsoo.

"Namaku Do Kyungsoo" Kyungsoo menjawab kesal.

"Aku lebih menyukai Kim Kyungsoo"

"Aish terserahlah" Kyungsoo pun mempoutkan bibirnya.

"Jangan seprti itu baby, kau menggodaku" ucap Jongin yang langsung mencium pipi mulus Kyungsoo.

"Yakk .. Kim Jongin" Kyungsoo dan Jongin pun melanjutan aktivitas malam panjangnya yang jelas author tak akan bisa menceritakannya *peace sign*

oO I'm Tired Oo

"Byun Baekhyun" Gumam Jongdae setelah melihat dokumen yang ada pada amplop cokelat pemberian sekretaris Han sang tadi.

"Jadi yeoja tadi.. adalah targetku?" ia bermonolog sendiri dan iapun merebahkan dirinya di atas kasur hotel.

"Ahh... Bagaimana aku bisa melakukannnya" iapun menatap langit-langit ruangannya. Tiba-tia kepalanya berdenyut sakit. Ia pun terduduk dan menegang mengingat secuil ingatannya...

"Oppa? Apa ini Jongdae Oppa. Kenapa Oppa tak punya lambut cama cekali?" yeoja kecil itu memakai gaun pink bermotif strowberry dan ia tengah tertawa melihat sang Oppanya botak.

"Yah! Baekkie.. aku ini Oppamu bodoh"Sedangkan namja kecil itu kesal dan mengolok yeoja itu sampai menangis.

"Hiks Baekkie tak bodoh.. Eommaaaaaa Oppa bilang Baekkie bodoh hiks"tangis yeoja itu. Yeoja paruh baya itu dengan segera menggendong yeoja kecil itu.

"Chen-ah ikutlah suster itu, Operasimu akan di mulai. Eomma akan menunggu di depan ruang ini. Baekkie Oppamu akan masuk ruangan itu, Oppamu akan operasi.. berhentilah menangis" ujar yeoja paruhbaya itu dengan wajah yang penuh kesedihan dan airmata yang ditahan di pelupuk matanya.

"Oppa akan pergi.. Andwae.. Oppa.. Anii .. Baekkie ingin bersama Oppa, Baekkie ikut Oppa" tangis yeoja kecil itu menjadi.

"Sayang, Oppamu akan Operasi. Kita hanya boleh menunggunya disini" ujar yeoja paruh baya itu.

"Hiks.. Baekkie ikut Oppa"

"Tenanglah Baekkie, Oppa akan segera keluar dari ruangan itu, tunggu Oppa disini ne" ucap namja kecil itu. Namja kecil itupun tersenyun dan di dorong ke dalam ruangan bercat putih itu.

Jongdae meringis kesakitan memegang kepalanya. Siapa mereka, kenapa aku mengingat anak kecil itu, hentikan ini, ini menyakitkan... ujarnya dalam hati. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Sungguh ia tak tahu apa yang sudah terjadi sebelumnya... ia tak tahu.

oO I'm Tired Oo

Sehun memasuki apartemennya. Tangannya itu masih dibebal dengan kain seadanya, ia belum menggantinya. Luka di tangannya cukup besar tapi ia tak memerdulikannya. Ia hanya tak tahu apa yang tengah ia rasakan sekarang. Apa yang telah ia lakukan beberapa jam lalu. Ia tak tahu, sungguh tak tahu.

"Aku pulang" ucap Sehun yang tanpa ekspresi apapun dan langsung melenggang ke kamarnya. Baekhyun yang sudah ada di rumah lebih awal menatap heran pada adik tirinya ini.

"Sehunnie?" Panggil Baekhyun yang hanya di jawab tolehan oleh Sehun. "Apa ada masalah?" tanya Baekhyun dengan melirik tangan Sehun yang di bebal itu terlihat merah.

"Ani" Sehun langsung memasuki kamarnya. Baekhyun tahu Sehun berbohong, semua terlihat di raut wajahnya.

Beberapa saat kemudian Baekhyun menuju apotik yang lumayan jauh dari apartemennya. setelah sampai dan membeli beberapa salep dan perban ia kembali pulang menuju apartemennya. Baekhyun menyusuri jalanan kota Seoul yang mulai sepi. Dengan was-was ia berjalan. Semua terlihat sama, hanya ada beberapa mobil yang melintas.

Mengingat suasana hari ini bersalju. Iapun mengeratkan jaketnya. Cuaca sangat dingin. Butiran saljupun mulai turun. Kalau bukan karena tangan adiknya yang terluka, ia tak akan berani keluar rumah. Dingin, sangat dingin. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak memakai jaket tebal.

"Seharusnya dia mengatakan apapun jika ada masalah, kenapa ia malah melukai tangannya sendiri, Aishh anak itu" Omelnya di sepanjang jalan. Iapun menggosok-gosokkan tangannya agar lebih hangat. "Kenapa masih jauh sekali" ia bermonolog sendiri.

"Huuffttt malam ini dingin sekali" tambahnya dengan mengerucutkan bibirnya.

"Benar sekali" Sahut seseorang dibelakangnya. Membuat ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

"Hai Noona Byun Baekhyun" Namja itu memberikan senyuman lima jarinya.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau sekarang berganti mengikutiku?" Tanya Baekyun sinis.

"Ne mungkin seperti itu, Dan apa yang kau lakukan? keluar selarut ini?" Iapun bertanya pada Baekhyun yang semakin membuat Baekhyun kesal. Dan Ia sangat suka melihat Baekhyun-Nya ini kesal. Ya Baekhyun-nya. Ia mengklaim bahwa Baekhyun adalah miliknya, yang lebih tepatnya akan menjadi miliknya. Setelah cerita panjang kali lebar Jongin tentang Baekhyun dan Sehun yang dikiranya adalah sepasang kekasih. Ternyata hanya seorang Adik dan Kakak, ini membuat ia dengan pedenya mengklaim bahwa Baekhyun akan menjadi miliknya.

"Itu bukan urusanmu" Baekhyun menatap tajam Chanyeol. iapun berjalan dan Chanyeol mengekor di belakangnya.

"Itu jelas urusanku" suara Chanyeol terdengar di telinga Baekhyun. Iapun menghela nafas dan menghentikan langkahnya.

"Aish, Park Chanyeol bisakah kau tak menganggu kehidupanku" teriak Baekhyun yang hanya di balas dengan senyum lima jari Chanyeol. Iapun melepaskan jaket tebalnya. Baekhyun hanya diam menahan hawa dinginnya.

"Pakai ini" Chanyeol memakaikan jaket tebal itu di atas bahu Baekhyun. Baekhyun tertegun akan sikap Chanyeol.

"Ah, ani, tak perlu" Gengsi Baekhyun mencoba melepaskan dan mengembalikan pada Chanyeol tetapi tangannya di tahan Chanyeol.

"Sudah kubilang pakai ini, malam sedingin ini dengan baju dan jaket setipis ini, kau bisa sakit" ujar Chanyeol dengan menyejajarkan dirinya dengan baekhyun. Chanyeol pun tersenyum membuat jantung Baekhyun berdegup duakali lebih cepat dan rona merah di pipinya.

"Apa yang ku bilang. Kau akan sakit, lihat pipimu memerah" ujar Chanyeol dengan menyentuh kening Baekhyun, tangannya pun langsung di tepis oleh Baekhyun.

"Aku sakit atau tidak, itu bukan urusanmu Chanyeol" jawabnya dengan mengalihkan pandangannya. Ia tak bisa mengendalikan debaran jantungnya. wajahnya memanas. Apa aku jatuh cinta padanya? itu mustahil, Batin Baekhyun.

"Itu jelas urusanku, mengerti?" ujar Chanyeol. dengan meraih wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. "Mengalihkan pandangan pada orang yang sedang mengajak bicara, itu tidak sopan sekali Noona" tambahnya yang langsung membuat Baekhyun kesal dan menepis tangan Chanyeol.

"Dasar menyebalkan" Umpat Baekhyun dengan mempoutkan bibirnya.

"Kau yang menyebalkan"

"Ne, kalau yang kau maksud menyebalkan adalah kejadian di pesawat itu, aku meminta maaf sebesar-besarnya padamu, dan aku akan membayarnya" Baekhyun sudah ada di batas kemarahannya. Ia selalu mengungkit hal ini, ia akan sangat tersinggung.

"Jinja kau mampu membayarnya?" tanyanya mengejek.

"Memangnya berapa?" Tantang Baekhyun.

"1 Milyar, itu termasuk potongan karena aku berbaik hati padamu" Ujar Chanyeol dengan smirk di wajahnya.

Glurp

"Bagaimana?" tanya Chanyeol. Ia pun mengangguk pasti.

"Aku akan membayarnya"

"Baiklah aku tunggu besok pagi tepat jam 6 pagi, Arra?" Chanyeol pun menatap mata Baekhyun . Lalu berlalu berjalan meninggalkan Baekhyun yang mematung.

"Mwo? Kau gila" Teriak Baekhyun yang tersadar akan apa yang di ucapkan Chanyeol.

"Sampai bertemu besok pagi Byun Baekhyun" Chanyeol melambaikan tangannya, Sedangkan Baekhyun menghentak hentakkan kakinya sembari memberikan sumpah serapah pada Chanyeol.

"Yakkk Park Chanyeol!"

oO I'm Tired Oo

"Sehunnie" Baekhyun memasuki kamar Sehun. Terlihat Sehun yang hanya terduduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di tepi ranjangnya.

"..."

"Katakan ada masalah apa?" Baekhyun duduk dan meraih tangan dongsaengnya yang dibebal.

"Aniya Noona, Gwenchana" Sehun mencoba tersenyum mengisyaratkan bahwa dirinya baik baik saja.

"Tapi kau terlihat tak baik-baik saja" Baekhyun membuka bebal kain itu dan membersihkan luka Sehun.

"Jinja?"

"Sehunnie, jika kau ada masalah katakan pada Noona, jangan malah melukai tanganmu seperti ini" Iapun memberikan salep pada luka Sehun dan memperbannya dengan rapi.

"Ne Arraseo Noona"

"Jika kau ingin bercerita, Aku siap mendengarnya kapanpun" Baekhyun pun merapikan alat-alat itu dan berdiri untuk keluar kamar Sehun.

"Gomawo Noona"

"tidurlah, kau pasti lelah" Baekhyun keluar dari kamar Sehun.

"Ne"

"Jalja"

"Jalja"

"Noona" Panggil Sehun yang membuatnya terhenti dan membuka kembali pintu kamar itu.

"Eum? apa ada yang ingin kau katakan lagi"

"Jika Noona mendapat ucapan kasar dari namja yang Noona sukai selama ini, apa Noona akan tersakiti?" Tanya Sehun ragu.

"Tentu, Bahkan aku bisa membencinya" Jawab Baekhyun enteng dan terlihat tatapan penuh tanda tanya dimata Baekhyun.

Glurp

"Wae?" Baekhyun menyakinkan.

"aniya"

Baekhyun pun menutup pintu kamar Sehun "Aneh. Apa ia sedang jatuh cinta?" Baekhyun bermonolog sendiri.

Disisi lain yeoja bermata rusa itu menangis sejadinya di kamar rumahnya. Ia tak bisa berkata apapun Teramat sakit hatinya untuk sekarang. Malam panjangnya di penuhi dengan tangisannya. Sungguh Oh Sehun sudah mematahkan hati rapuhnya.

oO I'm Tired Oo

"Sehunnie, sarapanmu ada di meja, Noona tinggal sebentar" Bakhyun menggenakan mantel hangatnya dan hendak keluar dari apartemennya.

"Kemana?"

"Kedepan, sebentar" Jawab Baekhyun seadanya. Tapi bukankah memang itu benar? Apartemen Chanyeol ada di depan Apartemannya dan Sehun bukan?

"Oh, Ne"

Ting tong

"Dasar gila, mana bisa aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam beberapa jam saja, Dasar psiko, tiang listrik, telinga lebar" Monolognya seperti Emak-emak yang tengah mengomel pada suaminya #abaikan ini

"Masuklah" jawab Chanyeol setelah membukakan pintunya.

"Oh ne" Ia pun memasuki Apartemen Chanyeol. Ia sempat terkesima dengan desin interior apartemen Chanyeol yang terlihat mewah dan bagus daripada apartemen Sehun. Tapi melihat beberapa baju dan kantong-kantong Snek di lantai. Baekhyun tahu benar betapa berantakannya orang ini.'Sesuai kepribadiannya' batin Baekhyun.

"Kau tinggal sendiri?" Tanya Baekhyun

"Ne, Duduklah"

"Oh ne" Baekhyun pun duduk dan memberikan jaket tebal milik Chanyeol padanya. "Chanyeol, aku meu mengembalikan jaketmu dan tentang uang itu, Maafkan aku"

"Ne Gwenchana" Jawab Chanyeol yang langsung membuatnya menautkan alisnya. 'Aneh sekali. Biasanya ia akan mengomel bahkan memakiku. Apa ia baik baik saja' batin Baekhyun dengan menatap penuh selidik pada Chanyeol.

"Kau memaafkanku" tanya Baekhyun.

"Ani" jawab Chanyeol singkat. 'Sudah kuduga, ia bukan orang semudah itu' batin Baekhyun.

"Lalu?" tanya Baekhyun.

"Kau harus membayarnya dengan cara lain"

"Cara lain?" Baekhyun menatap Chanyeol. Ia berfikir keras, bukan tentang cara membayar yang Chanyeol akan minta padanya. Tapi karena reaksi Chanyeol padanya benar-benar aneh.

"Ne, Kau harus menuruti ketiga permintaanku"

"Permintaanmu? tapii, chakkaman. Apa kau sakit?" Baekhyun mengetahui kenapa Chanyeol menjadi aneh.

"Ani, aku hanya-" Belum selesai Chanyeol berbicara Baekhyun langsung memegang kening Chanyeol.

"Omo, badanmu panas sekali"

"Nan Gwenchana" jawab Chanyeol padanya yang langsung menepis tangan Baekhyun.

"Mianhae, pasti ini gara-gara semalam" Raut wajah Baekhyun menjadi sedih.

"Ahh, Aniyo" Chanyeol benar-benar merasa tidak enak pada Baekhyunnya. "Aku benar benar tidak apa-apa" ia berdiri dan beraksi seperti dirinya tak apa-apa.

"Jangan membohongiku Park Chanyeol" Jawab Baekhyun yang membuat Chanyeol langsung terdiam. "Aku tahu ini kesalahanku. Aku akan membayar kesalahanku, Berbaringlah akan ku buatkan bubur"

"tak usah, aku tak apa. Bukankah kau kesini membahas tentang kerugian itu" elak Chanyeol.

"bisakah kau diam dan berbaring sekarang!" Bentak Baekhyun, yang langsung membuat Chanyeol terdiam dan menganggukkan kepalanya.

oO I'm Tired Oo

"Chagiya, Mianhae" Jongin melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Kyungsoo.

"Gwenchana Chagi, bukankah ini sudah kebiasaanmu jika kau tengah ada masalah"

"Yahh Chagiya, apa kau marah? Baby Soo?" Jongin merajuk padanya. Dan Kyungsoo semyukai ini, Sungguh ia terlihat lucu jika seperti ini. "Baby Soo~"

"Aniyo, mandilah dulu Chagi bau alkohol" tawa Kyungsoo padanya.

"Aniyo~, aku masih ingin memelukmu" Jongin semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada Kyunsoo.

"Mandilah atau aku ak-"

"Ne ne arra, aku akan mandi"

Cup

Jongin mencium sekilas bibir ramum Kyungsoo,

"Jangan merindukanku Baby"

"Yakk aish"

oO I'm Tired Oo

"Sehunnie, sarapanmu masih utuh" Ucap Baekhyun setelah melihat sarapan dimeja yang tak tersentuh sedikitpun. Setelah ia pulang dari rumah tetangganya yang sedang sakit.

"Aku tak lapar Noona" Jawab Sehun Singkat yang tengah memakai sepatunya.

"Hari ini hari Minggu, apa kau tak libur" Tanya Baekhyun sekali lagi.

"Aniyo Noona" Sehun pun mulai keluar dari Apartemennya. "Aku berangkat". Jawaban Sehun membuat Baekhyun maenautkan alisnya. 'Kenapa ia jadi aneh' tanya Baekhyun dalam hati.

"Hati-hati di jalan"

Sehun pun berjalan menuju restoran yang tak jauh dari apartemennya. Sesekali ia menghela nafas, ia benar-benar tak mengerti apa yang ia rasakan. Merindukannya? apa ia tengah merindukan Luhan? apa ini hanya perasaan bersalah. Sungguh ia tak tahu. Iapun melihat jam tangannya. Masih jam 7 pagi. Ini masih sangat pagi. Masih 2 jam lagi ia masuk kerja bukan?

"Aish" iapun menendang kaleng yang ada di depannya. Ia begitu frustasi dengan apa yang ia rasakan. "Aku benar-benar sudah gila" ia mengacak rambutnya kesal.

oO I'm Tired Oo

Tok Tok...

"Noona" Panggil Ahjumma di rumah mewah itu yang tak di balas apapun oleh pemilik kamar itu.

Krieett

"Noona sarapanmu sudah siap" ucapnya sekali lagi.

"..." Tak ada jawaban apapun dari yeoja cantik bermata rusa ini.

"Tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah" ucapnya sekali lagi.

"Aku tak ingin memakan apapun ahjumma"

"Setidaknya Noona turun dan mengucapkan selamat jumpa, Tuan dan Nyonya akan kembali ke Amerika pagi ini" Jelas Ahjumma itu yang membuat yeoja itu menundukkan kepalanya.

"Ani" jawabnya singkat.

"Noona?"

"Aku tak peduli, bukankah mereka tak pernah peduli sebelumnya"

"Baiklah Noona"

Krriieettt

"Hiks aku membenci kalian semua" iapun menenggelamkan kepala pada boneka kesayangannya. IA menangis sejadinya. Sungguh ia membenci semuannya.

oO I'm Tired Oo

Ting tong...

"Masuklah" Chanyeol membukakan pintu.

Baekhyun memasuki Apartemen beberapa menit yang lalu ia mendapat pesan singkat dari Chanyeol yang menginginkan ia kembali ke Apatemennya.

"Ada apa Chanyeol?" tanya yeoja itu. Yang tak dibalas sepatah kata pun dan Chanyeol pergi kekamarnya.

"Apa aku boleh masuk?" tanya Baekhyun sekali lagi.

"Ne"

"Ada apa sebenernya kau memanggilku?" Tanya Baekhyun dan Chanyeol menidurkan dirinya di ranjang king size nya.

"Tak ada apa-apa"

"Kalau begitu, aku akan pulang" tangan Baekhyun di tahannya.

"Tetaplah disisiku" Baekhyun tertegun dengan ucapan Chanyeol. Suasana berubah menjadi Canggung. Baekhyun pun menghela nafasnya.

"n-ne" Baekhyun pun duduk di samping ranjang Chanyeol. 'Apa yang sendang kau fikirkan bodoh?' tanya Baekhyun pada dirinya sendiri.

"Apa perlu kuambilkan kursi untukmu, jika kau tak nyaman duduk disitu"

"Ani, istirahatlah" ucap Baekhyun. 'kenapa jantungku berdetak sekencang ini?' batin Baekhyun

oO I'm Tired Oo

"Hyung, aku tak masuk kerja hari ini"

"Apa kau sakit"

"Ne"

"Kalau begitu cepatlah sembuh Sehunnie"

"Ne Hyung"

pip

Ia terpaksa berbohong pada Suho kerena sungguh ia tak ingin berkerja sambilan sekarang. pikirannya benar-benar kalut saat ini.

"Ini menyebalkan, aku tak pernah merasakan seperti ini" gumamnya yang terus berjalan menyusuri taman itu.

Ia terhenti saat ia melihat sosok yang membuatnya seperti ini saat ini "Bukankah itu... Luhan"

"Luhan... Xi Luhan..." Panggilnya. Yeoja itupun berhenti dari langkahnya, dan Sehun berlari mendekatinya.

"Luhan"

"Ne?" Jawab yeoja itu. Lihat sekarang keadaan yeoja itu. Mata rusanya sudah berubah menjadi sebesar telur puyuh. Senyum manis yang biasa Sehun lihat sudah tak ada lagi. Tatapan indah yang penuh aura hebatnya menjadi tatapan dingin yang menyedihkan. Sehun apa yang telah kau lakukan?

"aku hanya ingin berkata kalau aku.."

"Ada apa Oh Sehun?"

"Mianhae"

"Ne"

"Kau memaafkanku?"

"Ne, Apa itu kurang jelas"

"Ah ani"

"Ya sudah kalau begitu.." Luhan pun akan melangkah pergi tapi tangannya di tahan oleh Sehun.

"Chakkaman.."

"Ada apa lagi Oh Sehun."

"Apa kau membenciku"

"Apa itu tak jelas terlihat sekarang?"

"Ne aku mengerti"

oO I'm Tired Oo

"Ternyata psikopat sepertimu juga bisa jatuh sakit. Sebenarnya kau terlihat tampan jika kau tak menyebalkan seperti itu. Lihat wajahmu terlihat seperti anak kecil dan.. apa kau sendirian? kanapa kau hidup di apartemen ini sendirian?" Baekyun bermonolog sendiri disamping Chanyeol. Chanyeol hanye terdiam dan mendengarnya dengan senyum ydi hatinya. Mungkin Baekhyun mengira ia tengah tidur.

"Ah lihatlah aku seperti orang gila berbicara pada orangyang sedang tidur. Aish Park Chanyeol, Kau lah yang membuatku gila. Kau tahu, Karena ini kesalahanku. Aku harus merawatmu bukan?"

"Betapa joroknya kau Park Chanyeol" Gumam Baekhyun dengan merapikan Apartemen Chanyeol yang benar benar berantakan seperti kapal pecah.

"Nah... Begini kan lebih terlihat baik" Setelah beberapa saat ia merapikan apartemen Chanyeol iapun merengangkan otot-otonya. Lihat! ruangan ini jauh lebih baik sekarang.

Ting Tong..

Ting Tong..

Baekhyun segera berlari dan membukakan pintu.

Ceklek...

"Ini benar kan apartemen Chanyeol?" Tanya yeoja pauh baya itu.

"Ne Ahjumma"

"Apa Chanyeol ada di dalam?" Tanya yeoja itu sekali lagi.

"Ne, dia sedang tidur"

"Ahjumma, nuguseyo?" Tanya Baekhyun.

"Itu Eommaku, aku lupa mengatakan padamu kalau ia akan datang" Suara Chanyeol membuat ia tersadar.

"Eh?"

"Chanyeollie.. Saat Eomma mendengar kau sakit, Eomma langsung menuju kesini" Yeoja paruh baya itu memeluk erat Chanyeol.

"Eomma terlalu berlebihan. Aku tak apa Eomma"

"Dan itu siapa Chanyeol? Apa Yeojachinngumu?" Tanya Eomma Chanyeol padanya.

"Ah itu.."

"Pasti Yeojachingumu, tak mungkin jika bukan yeojachingumu, benar begitu kan?"

"Ahh .. hehehe ne Eomma.. Ini yeojachinguku" Bohong Chanyeol yang langsung mendapat deathglare dari Baekhyun.

"An- ah maksud saya Hehe Ne Ahjumma, saya.. yeo-jachingu Chanyeol" Baekhyun pun menjawab hal yang sama dengan Chanyeol setelah Chanyeol menginjak satu kakinya. 'Chanyeol... mati kau' Batinnya.

oO I'm Tired Oo

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sehun masih terdiam duduk di bangku taman tu. Ia tak pernah merasakan seperti ini. Apa ia merindukannya? Apa ini hanya perasaan bersalah karena telah membuat yeoja itu menangis? dan setelah melihat yeoja itu dengan tatapan seperti itu.. Kenapa dadanya terasa sesak? Inikah yang namanya sakit hati? Apa sakit ini yang dirasakan yeoja itu selama ini? Apa yang telah ia lakukan selama ini Sungguh ia tak tahu.

"Arrggghhh aku bisa gila kalau seperti ini" ucap Sehun frustasi dengan mengacak rambutnya.

"Sehunnie.." Seseorang memanggilnya.

"Lay Noona" gumamnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lay padanya. Ia hanya terdiam. "Tapi melihat pakaianmu, apa kau membolos kerja saat ini?" ucap Lay Noona padanya.

"Tolong jangan katakan pada Suho Hyung" jawabnya dengan menundukkan kepalanya. Lay pun duduk disampingnya.

"Ani.. aku tak akan mengatakannya Sehunnie"

"Gomawo Noona"

"Apa kau ada masalah? sejak kemarin kulihat kau tak baik-baik saja Sehunnie" Tanya Lay yang hanya dibalas diam oleh Sehun. Ia tak tahu harus mengatakan pada yeoja yang lebih tua dengannya ini. Bahkan yeoja ini sudah mengenalnya lebih dari 3 tahun. Tak mungkin jika Sehun berbohong padanya.

"Sehunnie.."

"Ah Ne Noona" iapun menceritakan semuanya. Dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan. Lay pun memeluknya. Bagaimanapun juga Sehun sudah dianggap seperti dongsaengnya sendiri. Dan Sehun pun tak menolak reaksi dari Noona-nya ini. Ia sudah terbiasa dengan ini. Bahkan waktu Appanya meninggal seminggu yang lalu. Lay juga melakukan hal yang sama.

"Gomawo Noona. Sudah mendengarku"

"Ne, lain kali jangan pernah memendam apapun yang sedang kau fikirkan. Aku dan Suho akan selalu mendengarmu Sehunnie" ucap Lay dengan senyum menawannya.

Disisi lain yeoja bermata rusa itu terdiam dan tetes demi tetes kristal bening itu jatuh dari pelupuk matanya. 'Jadi.. Inikah alasanmu menolakku selama ini.. Oh Sehun' batinnya. Sungguh Xi Luhan kenapa kau selalu berfikir yang tidak tidak eoh?

TBC...

A/N : Nih Author bener-bener bingung ngelanjutinnya –pundung- -_-" tapi Ai sudah berusaha semaksimal mungkin readersdeul. Mungkin Chap depan baru akan dimulai perangnya Jongdae –bow-

jadi tetep reviews Chingudeul –peace sign bareng Jongdae-

love you...