Boboiboy

Hari terus berganti. Adu Du belum menampakkan kejahatannya. Aneh sekali. Aku terus berjaga – jaga kalau – kalau Adu Du menyerang lagi.

"Haish, Boboiboy apa yang kau pikirkan tu?" Tanya Gopal sambil meminum spesial Ice Chocolate Tok Aba.

"Adu Du, aneh. Sudah beberapa hari ini dia tak nampak." Jawabku gusar.

"Ah sudahlah Boboiboy, kalau dia ada korang jugalah yang repot." Respon Gopal menghadapi pernyataanku. Aku melayangkan pikiranku ke Fang.

FANG?!

Aih apalah aku ini tiba – tiba memikirkan Fang. Tapi, hari – hari ini dia sedang apa? Apakah dia sedang bermain game Papa Zola terbaru? Ah sudahlah bukan urusanku.

Aku meneguk ice chocolate lagi setelah itu beranjak pergi dari kedai Tok Aba. Aku rasa aku harus mengawasi keadaan sekitar. Takut – takut Adu Du akan menyerang lagi.

"Tok Boboiboy hendak pergi dulu." Izinku pada Tok Aba

"Heh kemana kau Boboiboy?" Tanya Gopal

"Tak tahulah. Aku ingin jalan – jalan saja." Jawabku sekenanya.

"Hati – hati Boboiboy jangan pulang larut." Tok Aba memberiku ijin sambil mencuci gelas – gelasnya dibantu Ochobot.

...

Aku berjalan menyusuri jalan yang biasanya. Entahlah, mungkin aku hanya bosan.

"Fang, cobalah biskuitku ni. Enak!" Suara yang tak asing buatku. Aku menoleh perlahan.

"Nan-nanti saja. Aku sudah kenyang." Jawab suara seseorang yang lain.

"Aih, makan apa korang sampai kenyang begitu? Satu saja ya?" perempuan yang ditutupi kerudung berwarna merah muda itu terlihat agak memaksa. Aku mempercepat langkahku. Setengah berlari aku melewati mereka

"Hai Boboiboy!" Sial dia menangkapku! "Eh... ha – hai Yaya. Ehehehehe." Jawabku tak ikhlas. "Apa yang korang lakukan dekat sini? Eh mau coba biskuitku?" Tanya Yaya yang sepertinhya kedengaran seperti paksaan.

Pandanganku tertuju pada Fang. Dia membuang muka dan menghindarkan padangannya dariku. Mata kami sempat bertemu sampai akhinya ia kembali mengacuhkanku. Benar – benar memang si Fang ini.

"Hoi Boboiboy jangan melamunlah. Macamana, coba biskuitku? Ayolah ini resep baru?"

Ah, tak ada jalan lain. "Baiklah baiklah. Sini satu." Jawabku lemas. "Satu je? Tak mau dua atau limakah?" Tanya Yaya menambah kegusaranku. "Tak lah, satu je cukup." Diakhiri dengan kuambil biskuit Yaya, menggigitnya sedikit.

Tiba – tiba kepalaku pening, rasanya sesak napas dan beberapa hal menyakitkan yang tak dapat aku gambarkan lagi. Fang terlihat senang, tawanya terselip diantara wajahnya yang dingin. Sial benar si Fang. Coba saja aku tak lewat sini. Aku masih mencoba meraih serpihan nyawaku yang dikoyakkan biskuit Yaya tadi, sambil menahan diri agar Yaya tidak marah. "Macamana Boboiboy? Enak bukan?" Tanya Yaya tanpa dosa. Aku mengacungkan kedua jempolku sambil terus menahan mukaku agar tidak kelihatan meringis. Yaya kelihatan bahagia. Wajahnya berseri – seri lalu ia berjalan pergi."Terimakasih Boboiboy."

Fang

Fyuh~

Aku selamat dari amukan biskuit Yaya dalam mulutku. Namun melihat ekspresi Boboiboy yang seperti ini membuatku tak bisa menahan tawa. Rasakan kau Boboiboy.

"Terimakasih Boboiboy." Nada ceria dari Yaya dikeluarkannya sambil perlahan menjauhi kami. Boboiboy kelihatan begitu jengkel melihat tawaku yang semakin geli.

"HAHAHAHAHAHAHA terbaiklah kau Boboiboy." Gelakku sambil mendekati Boboiboy.

"Ish diam ni gara – gara korang lah." Boboiboy kelihatan begitu kesal. Wajahnya semakin aneh kalau dia kesal. Tak sadar aku mencubit pipinya.

"Aduh! Sakitlah!" Boboiboy mengerang mengelus pipinya yang sempat aku cubit. Aku sedikit terkejut dengan apa yang aku lakukan. Refleks ya , semua ini refleks. Aku segera berbalik badan lalu menjauh dari Boboiboy.

"Hoi tunggulah Fang." Panggil Boboiboy tiba – tiba. Aku menoleh sebentar menunggu Boboiboy mengatakan sesuatu. "Mau temani aku?" Tanya Boboiboy sepertinya sudah lupa dengan kejadian tadi. Aih menemani? Mungkin aku ada waktu ya sebentar sajalah. Tak ada salahnya juga.

"Tak de waktulah." Jawabku meyakinkan diri bahwa aku tak mau ikut.

"Ayolah, Fang. Kau tak sibuk kah?" Harus jawab apa aku? Tentu aku punya waktu. Tapi, menemani Boboiboy, buat apa? Pasti dia hanya ingin iseng atau mungkin dia kasihan padaku karena aku tak punya teman. Aish apalah aku ini.

"Sibuklah. Kau tengoklah banyak penggemarku di sana. Takde waktu untuk korang." Boboiboy menunduk sebentar, wajahnya agak kecewa. Tak sanggup aku melihat Boboiboy yang seperti ini

"Ah sudah terserah kau sajalah. Jangan lama – lama tapi." Aku mengalah akhirnya. Boboiboy tiba – tiba menarik tanganku

"Ter baik. Ayo jalan Fang." Katanya menunjukkan kata – kata jempolnya sambil terus menarik tanganku. Ah mimpi apa aku semalam.

...

Boboiboy masi belum melepas genggamannya. Akupun masih mengikutinya. Entah dia akan membawaku kemana.

"Hei lepaslah tangan kau ni." Geramku sambil menggoyangkan tangan yang dipegang Boboiboy. Ia diam saja. Matanya terus mengamati ke sekeliling. Kelihatannya ada yang dia risaukan. Tapi aku mencoba bertahan dengan keadaan diam seperti ini. Aku tegurpun malas. Tak ada gunanya aku bertanya – tanya padanya. Bukan urusanku.

"Ish sepi sekali." Geram Boboiboy mulai melepaskan genggaman tangannya daripadaku. Aku cepat – cepat menarik tanganku melihat seberkas merah akibat digenggam Boboiboy terlalu kuat. Wajah Boboiboy begitu risau. Mata hazelnya yang begitu indah ditimpa sinar matahari menggambarkan kerisauannya. Ia membenarkan topinya sebentar.

"Hei apa yang korang lakukan disini?" Tanyaku padanya yang semakin kelihatan gelisah.

"Eh... Tak de... hanya... ingin... emm.. uh..." Boboiboy menghentikan ucapannya sebentar lalu duduk di bangku dekat kami. "Duduk – duduk saja di sini. Ehehehe." Sambungnya kelihatan berbohong. Aku perlahan duduk di sampingnya. Memandang segala kebohongannya perlahan.

"Fang.." Boboiboy memanggilku dengan perlahan.
"Hmm?" Jawabku menggumam. Boboiboy menghela nafas lagi sambil menggoyang – goyangkan kakinya. "Kau benar tak mau kawan denganku?" Tanyanya tak begitu serius.

Aku menatapnya hening. "Tak usah. Aku malas berkawan. Lagi pula berkawan dengan kau? Apa jadinya? Tunggu... apa ini siasat korang untuk merebut popularitasku?" tanya ku sesinis mungkin.

Haih, sudah lama sekali aku bagai tak mengenal kata 'teman'. Kata yang cukup asing di telingaku. Tak ada gunanya lah. Popularitas sudah cukup.

"Terserah kau sajalah. " Boboiboy kembali menghela nafasnya menatapku pelan – pelan dengan mata hazelnya. Apakah dia masih butuh jawabanku? Hah sudahlah, sudah kuputuskan juga sejak hari itu aku tak membutuhkan teman.

Boboiboy

Sikap Fang masih dingin saja padahal cuaca sepanas ini. Setelah akhirnya dia menuduhku yang macam – macam, aku memilih diam. Sesekali aku menatapnya dari sudut mataku. Sebuah kekecewaan terlukis disana. Apa aku harus memberi dia kesempatan menjawabnya?

Fang masih diam menatap ke arah bawah seperti sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya pertanyaanku barusan sedikit menyentuh hatinya. Entah kenapa aku merasa bersalah sekarang. Klit Fang yang putih cerah tak secerah wajahnya yang selalu dibiarkan suram.

"Fang... maaf." Aku menyentuh rambut Fang dan mengelusnya lembut. Ia kelihatan sedikit terkejut. Aku tak peduli, masih menyentuh rambunya.

"Permisi, saya datang kemari tuk tanyakan alamat." Sebuah suara yang kukenal.

"PROBE! MAU APA KORANG DATANG KE SINI?!" Aku segera berteriak dan bersiap untuk berpecah menjadi tiga.

"Macamana korang tau aku Probe?! Bukanlah, aku hanya seorang ibu yang tersesat saja." Kata Robot ungu tersebut masih mengelak.

"Sudah tertangkap masih mengelak pula." Fang menimpalinya sambil berkacak pinggang. Aku rasa ada yang tidak wajar. Sebuah gas berwarna hijau pekat keluar.

"FANG! AWAS!"Aku berteriak mencoba menarik Fang. Namun, semua terlambat. Fang tiba – tiba terjatuh dan Probe membawanya pergi.

Bersambung


Yash chapter 3. Maaf dengan segala kekurangan, typo, bahasa yang kurang jelas, OOC atau plot yang terlalu sulit dimengerti (?)

Semoga masih pada penasaran sama Chapter 4 nya ^^