Ada yang masih minat dengan FF remake ini? Semoga saja masih ada ㅋㅋㅋ. Sebelumnya gw minta maaf kalau Remakenya belum membuat kalian puas. Karena ini adalah yang lertama buatku. Lain kali Aku akan bekerja lebih keras lagi :)
Pairing:CHANSOO
Cast: -SuLay -DaeMin -KaiBaaek -HunHan
Awas Typo
Happy reading
Seoul, April 2014~
Kyungsoo melarikan jari telunjuknya di bibir gelas dengan ekspresi bosan. Semua anggota keluarga DO yang duduk mengelilingi meja makan—dalam acara makan malam yang diadakan rutin setiap bulan di rumah Kyungsoo—saling mengobrol dengan antusias. Ayahnya berada di ujung meja dan terlibat pembicaraan serius dengan dua saudaranya; Donghae dan Hangeng. Sementara sepupunya yang lain sibuk bersenda-gurau dan sesekali tertawa. Jongdae sedang menggoda Minseok—kekasihnya—sementara Taemin mendukungnya dan mendatangkan tawa dari Kris juga Tao.
"Aku akan segera kembali," bisik Minho, tunangan Kyungsoo selama satu tahun terakhir, sebelum meninggalkan meja makan.
Kyungsoo hanya mengangguk. Matanya kembali menyusuri meja makan dan berhenti pada Luhan. Gadis itu berusaha menarik perhatian Kris, yang sejauh ini selalu gagal karena adik dari Jongdae itu membenci Luhan sama besarnya dengan Kyungsoo. Setelah beberapa saat mendapat pengabaian sempurna, akhirnya Luhan berdiri dan pergi dari meja makan.
Di keluarga DO, tidak ada sosok ibu yang tersisa kecuali ibu Kyungsoo. Istri Hangeng meninggal karena kanker, sementara Donghae bercerai tak lama setelah Kris lahir. Sejak perceraian itu, Taeyeon—mantan istri Donghae—tidak pernah menunjukkan wajahnya, meskipun ia hidup tak jauh dari pusat kota. Bahkan anak-anaknya pun tidak pernah menemuinya, entah karena tidak ingin atau dilarang. Maka dari itu, ketika seluruh sepupu Kyungsoo tahu alasan depresi yang menyebabkan ibu Kyungsoo tinggal di panti rehabilitasi, Luhan tidak memiliki siapa pun di pihaknya kecuali ayahnya.
"Kyungsoo, bagaimana perkembangan proyek pembangunan perumahan eksklusif itu? Apakah ada kemajuan dengan Lee Sooman?" tanya Donghae.
Lee Sooman adalah salah satu taipan kaya asli Korea yang memiliki banyak pengaruh dalam aspek perekonomian. Tidak hanya di Korea, namun juga di Asia. Ia terkenal sebagai pengusaha yang memiliki sentuhan magis, karena seluruh usaha yang dibangunnya selalu memberikan keuntungan yang tidak sedikit. Khususnya di bidang properti. Maka dari itu, membangun kerjasama dengannya amat sulit jika tidak dikatakan mustahil.
"Belum ada perkembangan. Aku masih berusaha mencapai kesepatakan dengannya, Ahjussi," jawab Kyungsoo.
"Jika kau tidak bisa mengatasinya, seharusnya kau berikan proyek itu pada Luhan. Ia pasti mampu menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan," sela ayahnya dingin.
"Aku mampu melakukannya, Appa," balas Kyungsoo.
Sejak ayahnya pensiun dari kedudukannya sebagai pimpinan perusahaan empat bulan yang lalu, Kyungsoo dan Luhan terlibat dalam persaingan ketat demi meraih jabatan itu. Jika sebelumnya mereka bertempur dengan tangan kosong, kini mereka benar-benar bertempur dengan segala senjata yang ada. Bagi Kyungsoo sendiri, ia sungguh berharap bisa segera menemukan bom nuklir hingga pertempuran itu bisa selesai dalam satu ledakan.
Kyungsoo tidak menyadari keheningan yang membalut ruang makan setelah balasannya, hingga Tao datang dengan napas terengah dan berbisik di telinganya.
"Kamar mandi utara lantai dua. Kau tidak akan menyukainya, namun kau harus melihatnya," bisik Tao dengan nada mendesak.
Kyungsoo mengerutkan kening pada sepupunya itu, namun melihat ekspresinya yang serius, Kyungsoo tidak memiliki pilihan lain selain berdiri dan meninggalkan ruang makan. Kyungsoo tidak tahu apa yang harus ia harapkan ketika sampai di depan pintu kamar mandi, namun satu detik setelah membuka pintu, Kyungsoo tahu ia seharusnya sudah bisa menebak.
Minho sedang sibuk meraba sesuatu di balik gaun yang dikenakan Luhan. Bibir mereka saling berpagutan dengan liar. Napas keduanya terengah dan mereka tidak sadar bahwa kini mereka memiliki penonton yang berdiri kaku di bingkai pintu.
Kyungsoo tidak percaya Minho mampu melakukan hal serendah itu. Setelah satu tahun penuh persiapan untuk pesta pernikahan megah—keinginan Minho, bukan Kyungsoo—inilah yang Kyungsoo dapatkan; sebuah pengkhianatan. Seakan hal itu belum cukup buruk, Minho melakukannya dengan Luhan. Bagi Kyungsoo, kata buruk itu berubah menjadi menjijikkan.
Beberapa menit kembali berlalu dan Kyungsoo masih berdiri membeku. Begitupun Minho dan Luhan yang masih sibuk menyerang wajah satu sama lain. Kyungsoo merasakan dorongan yang amat besar untuk menyakiti dua orang di hadapannya. Namun alih-alih melempar mereka berdua dengan benda-benda di sekelilingnya, Kyungsoo justru menetralkan ekspresinya dan bertepuk tangan.
Minho tersentak kaget hingga menjatuhkan Luhan ke lantai begitu saja. Selama sesaat mereka saling bertatapan, lalu Minho melangkah mendekati Kyungsoo dan mencoba menjelaskan keadaannya. Sementara penjelasan Minho terus mengalir, Kyungsoo memindahkan tatapannya pada Luhan. Ketika Minho menyentuh tangannya, Kyungsoo segera melangkah mundur dan melemparkan tatapan memperingatkan padanya.
"Aku rasa semua sudah jelas, Minho. Kau mendapatkan calon pengantin baru. Selamat. Aku akan mengirimkan karangan bunga yang besar untuk pesta pernikahan kalian nanti," ucap Kyungsoo datar.
"Kyungsoo, maafkan aku. Itu semua kesalahan. Kau tahu aku hanya mencintaimu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Itu hanya kesalahan, percayalah padaku," sahut Minho panik.
"Dan itu adalah kesalahan yang sudah sering terulang," sela Luhan dengan senyum penuh kemenangan.
"Tutup mulutmu!" sentak Minho.
Kyungsoo membalas senyum Luhan, lalu membalas, "Senang mengetahui pekerjaanmu yang sebenarnya, gadis jalang."
"Bukan salahku jika calon suamimu lebih tertarik padaku. Mungkin kau terlalu membosankan dan tidak cantik. Ah, satu lagi; tidak seksi."
"Aku sarankan kau membeli kamus perbendaharaan kata yang baru. Karena sejauh yang aku tahu, seksi memiliki arti yang sama sekali berbeda dengan prostitusi."
Perdebatan itu terhenti dengan kedatangan Kris di sisi Kyungsoo. Kyungsoo hampir mendesah lega, tahu bahwa Kris akan menyelesaikan segalanya tanpa membuat terlalu banyak keributan. Maka Kyungsoo kembali memusatkan perhatiannya pada Minho, yang kini semakin memucat di bawah tatapan Kris, dan mengucapkan salam perpisahannya.
"Hubungan kita sudah berakhir. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Dan lupakan tentang rencana pernikahan konyolmu. Kau bisa menikah dengan gadis jalang di belakangmu. Terima kasih sudah membuang waktu satu tahunku yang berharga untuk seorang pecundang sepertimu." ucap Kyungsoo dingin.
Satu detik setelah Kyungsoo membalikkan tubuh, Kris bergerak maju dan menyarangkan sebuah tinju yang telak di wajah Minho. Kyungsoo menyadari kerumunan yang berada di belakangnya selama drama itu, namun ia tidak peduli. Kyungsoo bahkan mengabaikan tatapan khawatir Tao dan terus berjalan. Ketika sampai di tangga, langkah Kyungsoo terhenti oleh sebuah pertanyaan ayahnya.
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan?"
Kyungsoo diam.
"Kau akan kehilangan kesempatan besar dengan membatalkan pernikahan itu. Minho dapat memberikan segala hal yang kau inginkan. Selain fakta bahwa kau baru saja menghancurkan kerjasama paling menguntungkan di perusahaan untuk tahun ini. Para dewan direksi tidak akan suka akan hal ini. Berhenti bersikap kekanakan dan berpikirlah seperti orang dewasa, Kyungsoo." lanjut Siwon.
Kyungsoo hampir menyemburkan tawa histeris, namun dengan latihan yang sudah dijalaninya selama tujuh tahun, Kyungsoo berhasil menahannya dan tetap memasang wajah tanpa ekspresi.
"Tidak perlu khawatir, Appa. Aku tahu apa yang kulakukan. Terima kasih karena sudah mengingatkanku bahwa appaku adalah seorang pria tanpa hati. Selamat malam."
Siwon mengiringi kepergian Kyungsoo dengan tatapan matanya. Dan ekspresi dingin itu sama sekali tidak berubah.
Kyungsoo membanting pintu kantornya dengan napas yang memburu. Hasil rapat dengan dewan direksi sama sekali tidak membuat perasaannya membaik. Faktanya, Kyungsoo merasa semakin depresi. Setelah semua hal buruk yang ia alami kemarin, Kyungsoo tidak percaya ada hal buruk lain yang menantinya hari ini.
Para dewan direksi mengancam akan mempercepat pemilihan pimpinan perusahaan dan pilihannya tentu saja bukan Kyungsoo, melainkan kakaknya yang murahan dan suka merusak segala hal itu. Mereka beranggapan Kyungsoo terlalu mementingkan emosi dan kurang kompeten atau dalam kata lain; Kyungsoo kurang profesional.
Betapa menggelikan penilaian itu, mengingat para dewan direksi yang terhormat sama sekali tidak tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi. Kyungsoo tidak membatalkan pernikahan jutaan dolarnya dengan Minho tanpa alasan. Terima kasih pada Luhan untuk kegiatan menjijikkan yang dilakukannya dengan Minho, hingga Kyungsoo tidak memiliki keraguan atau penyesalan sedikit pun karena sudah mengambil keputusan yang membuat perusahaannya mengalami kerugian besar.
Jika saja para dewan direksi tahu kepribadian Luhan yang sesungguhnya, tak membutuhkan waktu lama hingga mereka menendang Luhan keluar dari perusahaan. Namun pada kenyataannya, takdir selalu memihak Luhan. Dengan cerita menyedihkannya, ia mengambil hati setiap orang berkedudukan penting di perusahaan dan berhasil mengantongi banyak suara. Sedangkan di sisi lain, Kyungsoo justru mendatangkan kerugian besar dengan membatalkan pernikahan dan proyek pentingnya untuk pembangungan perumahan eksklusif itu masih berupa wacana.
Namun Kyungsoo tidak bisa membiarkan Luhan mengambil posisi itu. Kyungsoo tidak akan membiarkan Luhan mendapatkan segala hal yang diinginkannya. Kyungsoo akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar ia yang terpilih sebagai pimpinan perusahaan.
Pintu kantor Kyungsoo terbuka dan Baekhyun melangkah masuk. Tanpa kata, Baekhyun menarik Kyungsoo keluar dari kantornya. Setelah berbagai perlawanan yang sia-sia, akhirnya Kyungsoo menyerah dan membiarkan Baekhyun membawanya ke coffee shop yang ada di lobby gedung.
"Aku tidak mau mengulang cerita mengerikan itu, Baek," ucap Kyungsoo.
"Kau tidak harus menceritakannya, aku sudah mendapat laporan lengkap dari Tao. Termasuk hasil dari rapat dewan direksi hari ini. Aku datang untuk memberikan dukungan moral. Kau tahu aku tidak memiliki pekerjaan apa pun selain mengganggu Eunhyuk dan istrinya atau menunggu Jongin pulang dari kantor," sahut Baekhyun ringan.
Dua jam kemudian, setelah menghabiskan dua gelas kopi juga selusin donat, Kyungsoo merasa lebih baik. Mereka membicarakan segala hal yang tidak nampak penting, namun Kyungsoo senang karena bebannya seakan menghilang selama sesaat.
"Kyungsoo, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? Maksudku, setelah semua rencana pernikahan itu. Aku tahu kau tidak mencintai Minho, sejak awal kalian lebih terlihat seperti rekan bisnis, namun waktu satu tahun bukanlah waktu yang singkat," ucap Baekhyun hati-hati.
Kyungsoo menghela napas, "Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku merasa, Baek. Tentu saja aku marah. Namun aku memiliki masalah yang lebih besar di sini. Dengan membatalkan pernikahanku, kesempatanku untuk menang dari Luhan semakin kecil."
"Kalau begitu, kau hanya harus menikah. Jika pernikahan begitu penting dan bisa membuatmu menang, maka kau harus melakukannya," sahut Baekhyun.
"Apa kau lupa? Aku baru saja menemukan calon suamiku berselingkuh. Jika aku mencari pria lain, di mana tepatnya aku bisa menemukan seorang pria muda yang belum menikah dengan latar belakang sempurna juga uang yang banyak dan bersedia menikahiku dalam waktu dua bulan?" balas Kyungsoo.
Baekhyun membuka mulut, namun terpotong suara dering ponsel yang menyenandungkan reff lagu Call Me Baby dari EXO. Baekhyun langsung memutar matanya, tak percaya Kyungsoo masih menggunakan lagu itu. Sementara Kyungsoo yang tak peduli meneruskan percakapannya di ponsel dengan ekspresi serius. Setelah menurunkan ponselnya, Kyungsoo mendesah frustrasi.
"Park Chanyeol sungguh membuatku gila. Bagian mana dari 'tidak dijual' yang tidak bisa ia mengerti? Aku tidak mengerti mengapa ia begitu gigih ingin membeli resort-ku. Di antara sekian banyak resort yang kutawarkan sebagai gantinya, pria itu tetap saja memilih resort di pulau Jeju. Apa yang salah dengannya?" gerutu Kyungsoo.
"Apa kau baru saja mengatakan Park Chanyeol?" tanya Baekhyun serius. Begitu Kyungsoo mengangguk, Baekhyun melanjutkan, "Kau ingat perjalananku ke Los Angeles tahun lalu? Aku ke sana untuk menghadiri pemakaman temanku semasa kuliah, Park Yixing (kok jadi aneh thor?gw juga ngerasa kayak gitu kok ㅋㅋㅋ). Ia adalah saudara kembar Chanyeol. Aku mendengar desas-desus bahwa kini Chanyeol berhenti menjadi sutradara karena memiliki obsesi yang berhubungan dengan kematian Yixing."
"Dan sekarang kau tahu obsesinya itu adalah membeli resort-ku yang di pulau Jeju," sahut Kyungsoo.
Hening sesaat. Tiba-tiba Baekhyun menjentikkan jarinya, membuat Kyungsoo mengerutkan kening.
"Kau memiliki jawabannya, Kyungsoo! Tentu saja kau sudah memilikinya. Astaga, mengapa tidak terpikirkan sejak tadi?" seru Baekhyun bersemangat.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.
"Kau tadi bertanya di mana bisa menemukan pria muda sempurna dan semacamnya, bukan? Dan jawabannya adalah Park Chanyeol!" jawab Baekhyun masih dengan menggebu-gebu.
Kyungsoo membelalakkan mata. Ketika berhasil mengatur kembali ekspresinya, Kyungsoo menggelengkan kepala. Dengan jelas juga tanpa ragu menolak ide itu, namun Baekhyun tetap melanjutkan.
"Pria itu sudah menghantuimu selama enam bulan, Soo. Aku yakin Chanyeol tidak akan menyerah hingga ia mendapatkan resort-nya. Aku rasa ini adalah win-win solution. Kau mendapatkan suami sempurna, sementara Chanyeol akan mendapatkan resort yang menjadi obsesinya."
Kyungsoo tercengang mendengar penuturan Baekhyun, namun kepalanya tetap menggeleng.
"Bukankah kau akan melakukan apa pun untuk menang dari Luhan? Lagi pula, apa bedanya melangsungkan pernikahan palsu dengan pernikahan kerjasama yang sebelumnya akan kau lakukan? Pikirkan kembali, Soo," ucap Baekhyun serius.
Kyungsoo menatap Baekhyun, lalu bertanya, "Kau sungguh-sungguh menyarankan hal ini?"
Baekhyun menghela napas, "Tentu saja ini bukan hal yang baik, aku tahu itu. Namun ini jalan keluar terbaik untuk masalahmu. Kecuali kau mau mempertimbangkan saranku untuk pergi dari keluargamu dan melupakan seluruh persainganmu dengan Luhan."
"Tidak akan pernah. Aku tidak akan membiarkan Luhan mendapatkan keinginannya. Aku akan terus berjuang hingga berhasil menghancurkannya," balas Kyungsoo seketika.
Baekhyun menghela napas. Dengan sedih ia menatap sahabatnya yang begitu tenggelam dengan kebencian juga dendam, namun apalagi yang bisa dilakukannya? Baekhyun sudah memberikan banyak saran untuk Kyungsoo dan jika saran itu melibatkan kata 'mengalah pada Luhan' maka secepat kilat Kyungsoo akan menolaknya.
"Soo-ya tidakkah kau ingin bahagia,?" tanya Baekhyun pelan.
Alih-alih menjawab, Kyungsoo justru bangkit berdiri dan melangkah kembali menuju kantornya. Meninggalkan Baekhyun yang kembali menghela napas di belakangnya.
Kyungsoo memandangi kemacetan di depannya dengan tangan sibuk memijat pelipisnya. Benaknya dipenuhi dengan percakapannya bersama Baekhyun tadi siang. Kyungsoo benci mengakuinya, namun semakin ia memikirkannya, semakin ia tahu saran Baekhyun adalah satu-satunya jalan keluar untuknya. Bukan saran untuk pergi meninggalkan keluarganya, namun tentang pernikahan negosiasi itu.
Kyungsoo bahkan sudah memikirkan seluruh syarat untuk pernikahan negosiasi itu. Kyungsoo tahu ia terdengar seperti orang gila, namun Kyungsoo tidak bisa menahannya. Jika itu adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan Luham, maka Kyungsoo akan melakukannya. Karena tidak ada hal yang tidak akan dilakukan Kyungsoo untuk menghancurkan Luhan.
Kyungsoo meraih ponselnya, lalu menghubungi Tao.
"Tao, tolong atur jadwal pertemuan untukku dengan Park Chanyeol. Aku tidak peduli kapan, namun usahakan dalam waktu dekat. Terima kasih." ucap Kyungsoo. Tanpa menunggu balasan Tao, Kyungsoo memutuskan sambungan telepon.
T.B.C.
Terimakasih buat kalian yang sudah mau review.
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak :)
-GOMAWO-
