Waaahhh ada yang udah nonton trailernya "my annoying brother" belum? Gw barusan nonton dan omaya Kyungsoo udah berani buka-bukaan. Nutella terpampang (alay lu). BTW karena gw lagi kegirangan habis nonton tu trailer sabagai hadiahnya nih gw kasih bonus :p
Pairing :CHANSOO
Cast : -SuLay -DaeMin -KaiBaek -HunHan
.
.
.
Awas Typo
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jeju, Mei 2014~
Chanyeol melangkah menuju balkon kamarnya. Mengabaikan rasa sakit di dadanya, juga rangkaian keranjigan yang menghampiri benaknya, Chanyeol berdiri di tepi balkon seraya menghela napas. Segalanya nampak biru. Chanyeol membiarkan matanya menjelajahi pemandangan, meski hatinya menjerit getir. Baginya tak ada lagi yang terasa indah ataupun menenangkan. Lelaki itu merasa terlalu hampa di hidupnya. Setelah berbulan-bulan lamanya hidup seperti itu dan Ia mulai terbiasa, hal itu tak lagi membuatnya cemas. Pada kenyataannya, Chanyeol hampir sampai pada titik di mana ia tidak akan melawan dukanya lagi.
Chanyeol membalikkan tubuh, namun gerakannya terhenti ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis. Gadis itu mengenakan gaun berwarna oranye pudar dan rambutnya yang berwarna hitam panjang berkibar tertiup angin. Ketika terkena sinar matahari, ada semburat merah gelap pada rambut hitam itu yang membuatnya terlihat mengagumkan. Gadis itu hanya berdiri di bibir pantai, larut sepenuhnya dalam lamunan. Bahkan ketika gulungan ombak menghampirinya, gadis itu tetap berdiri membeku.
Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang mampu membuat Chanyeol terpaku. Tanpa daya, Lelaki bertubuh tinggi itu tetap berdiri di tempatnya dengan mata yang terus memandangi gadis itu. Chanyeol tidak tahu mengapa dirinya enggan untuk beranjak. Chanyeol pun tidak tahu mengapa gadis itu terlihat memesona di matanya. Namun satu hal yang Chanyeol tahu, gadis itu baru saja mengubah sesuatu dalam dirinya.
Karena kini, untuk pertama kalinya sejak hidupnya berubah hampa, Chanyeol menemukan sesuatu yang dapat disebutnya indah. Gadis itu terlihat indah baginya.
Ombak kembali menghempas tubuh gadis itu. Menciptakan hujan air di sekelilingnya. Perlahan, tangan gadis itu terangkat dan berhenti tepat di dada kirinya. Gadis itu memejamkan mata. Membiarkan waktu kembali berjalan, sementara ia terhanyut dalam rengkuhan mentari juga semilir angin. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata dan melangkah pergi.
Meninggalkan Chanyeol yang masih terpaku dan hanya mampu memandangi kepergiannya dengan satu pertanyaan besar. Mengapa gadis itu terlihat penuh luka?
Belum juga pertanyaannya terjawab, Chanyeol mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Key datang mengingatkannya tentang pertemuan dengan pemilik resort ini. Chanyeol tidak tahu apa yang telah membuat sang pemilik resort berubah pikiran dan dirinya tidak peduli akan hal itu. Baginya yang terpenting hanyalah membeli resort ini, lalu membuat film sesuai janjinya pada Yixing sang adik. Chanyeol bahkan sudah mempersiapkan cek dengan jumlah uang yang sangat besar. Karena Chanyeol sungguh akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar resort ini menjadi miliknya.
Ketika Chanyeol sampai di restoran yang terletak di sisi barat resort, seorang pelayan mengarahkan Chanyeol untuk menaiki tangga hingga lantai tiga. Pelayan itu membuka pintu ganda yang menyimpan ruangan berdinding kaca di dalamnya. Ruangan itu bermandikan cahaya matahari dan ada sebuah meja di sudut kirinya.
Chanyeol dipersilakan masuk, sementara langkah Key ditahan. Meski bingung, Chanyeol menuruti instruksi pelayan itu dan meninggalkan Key berdiri di depan pintu. Begitu pintu tertutup, Chanyeol melanjutkan langkah menuju meja di sudut kiri ruangan.
Dan betapa terkejutnya lelaki itu ketika melihat orang yang menunggunya adalah gadis itu.
Ya, gadis yang berdiri di bibir pantai beberapa saat yang lalu. Kini gadis itu telah berganti pakaian dengan gaun formal berwarna biru tua. Rambut hitamnya digelung sempurna hingga tak memperlihatkan sedikit pun semburat merahnya yang menganggumkan. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apa pun, sementara mata kelamnya menatap Chanyeol tanpa ragu. Segala hal yang Chanyeol anggap indah dalam diri gadis itu menguap entah kemana; karena gadis yang di lihatnya itu telah bermetamorfosa menjadi gadis tangguh.
Gadis itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang mungil.
"Do Kyungsoo," ucapnya singkat tanpa senyum sedikit pun.
Chanyeol menyambut uluran tangan itu seraya mengucapkan namanya, kemudian mereka berdua duduk berhadapan dan selama sesaat hanya ada keheningan. Chanyeol mencoba menata kembali pikirannya yang saat ini meluapkan banyak pertanyaan.
"Aku akan menjual resort ini dengan satu syarat," ucap gadis itu tegas.
Chanyeol mengangguk, mengisyaratkan gadis itu untuk melanjutkan. Chanyeol sudah mempersiapkan dirinya untuk segala kemungkinan. Chanyeol akan melakukan apa pun. Chanyeol sudah sangat siap. Namun ketika gadis itu kembali membuka suara, Chanyeol sama sekali tidak siap untuk mendengar syarat gadis itu. Sebuah syarat yang tak pernah terlintas sekalipun bahkan sedetikpun dibenaknya.
Syarat yang hanya berupa satu kalimat dan terdiri dari dua kata, namun terdengar begitu mustahil. Syarat yang membuat Chanyeol mematung seutuhnya.
"Menikahlah denganku."
Kyungsoo mengepalkan tangan yang berada di pangkuannya kuat-kuat. Jantungnya berdentam begitu keras hingga terasa menulikan pendengarannya. Namun Kyungsoo tidak khawatir tentang itu, karena pria di hadapannya tak terlihat akan bersuara dalam waktu dekat. Kyungsoo tahu syaratnya terdengar begitu gila, apalagi diucapkan kepada seseorang yang benar-benar asing, namun Ia tidak memiliki pilihan lain.
Kyungsoo berusaha menjaga ekspresinya untuk tetap datar. Meskipun hatinya gelisah luar biasa, Kyungsoo tidak akan mundur. Karena dirinya sudah melangkah sejauh ini dan akan bertekad menyelesaikan langkahnya hingga akhir jalan.
Sebelum pria di hadapannya lari dan menganggapnya gila, Kyungsoo melanjutkan, "Hanya sementara. Kau tidak perlu menikahiku untuk selamanya. Aku hanya membutuhkanmu selama satu tahun. Setelah itu kau bebas pergi dariku dan sebagai imbalannya kau bisa mendapatkan resort ini."
Keheningan kembali merebak. Mereka berdua saling bertatapan. Ketika yakin bahwa Kyungsoo benar-benar serius, barulah Chanyeol memecah keheningan.
"Biar kuperjelas. Kau bersedia menjual resort ini dengan syarat aku harus menjadi suamimu selama satu tahun. Apa aku benar?" ucap Chanyeol.
Kyungsoo mengangguk.
"Bagaimana jika aku menolak syarat itu?" tanya Chanyeol.
"Maka kau tidak akan pernah mendapatkan resort ini," jawab Kyungsoo tenang.
Mereka kembali tenggelam dalam keheningan. Chanyeol sibuk dengan pikirannya, sementara Kyungsoo berusaha keras untuk menyembunyikan ekspresinya. Ketika detik demi detik yang menjelma menit terasa semakin mendebarkan, akhirnya Chanyeol menghela napas dan menatap mata bening Kyungsoo.
"Aku akan memenuhi syaratmu," ucap Chanyeol tegas.
Kyungsoo menghembuskan napas perlahan. Mata hitam— kecoklatan yang memerangkapnya dalam tatapan itu seakan tak memberinya celah untuk bernapas. Kyungsoo berdeham, mengalihkan pandangan, lalu memberikan salah satu map yang dibawanya. Map itu berisi perjanjian yang telah dibuatnya bersama Sehun, pengacaranya. Tanpa kata Kyungsoo mengulurkan map itu pada Chanyeol.
Di dalamnya terdapat kertas berisi perjanjian dasar untuk pernikahan mereka. Hanya menerangkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk menikah, bertahan dalam pernikahan itu dalam waktu satu tahun, dan di akhir masa perjanjian nanti Kyungsoo akan memberikan resort-nya pada Chanyeol. Lalu syarat-syarat lainnya yang akan mengatur kehidupan pernikahan mereka akan menyusul, berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak.
Chanyeol membacanya dengan seksama. Ia sama sekali tidak ragu ketika membubuhkan tanda tangan. Chanyeol memberikan map itu kembali pada Kyungsoo, lalu menerima map lain yang berisi salinan kertas perjanjian itu dan menandatanganinya juga. Setelah itu Chanyeol kembali menatap Kyungsoo. Chanyeol tidak bisa menebak apa yang ada dalam benak gadis cantik di hadapannya, namun satu hal yang Chanyeol tahu, gadis itu benar-benar tangguh. Meski tidak mengerti alasan di balik pernikahan palsu ini, Chanyeo begitu mengagumi keberanian gadis tersebut.
"Mengenai syarat-syarat lain, umm… tentang hak dan kewajiban selama pernikahan, apa kau akan menegosiasikannya saat ini atau nanti ketika kau datang bersama pengacaramu?" tanya Kyungsoo.
"Aku lebih suka menyelesaikannya saat ini," jawab Chanyeol.
Kyungsoo membuka map yang lain, lalu mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan memberikan salah satunya pada Chanyeol. Mereka berdua mulai menulis dan tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk benar-benar larut di dalamnya. Ketika jarum pendek pada jam telah berganti, barulah mereka meletakkan bolpoin, kemudian saling bertukar kertas.
Kyungsoo terkejut melihat daftar syarat milik Chanyeol yang berjumlah tujuh, sama persis dengan miliknya. Mengesampingkan jantungnya yang entah mengapa berdebar cepat, Kyungsoo membaca satu persatu daftar syarat itu. Ternyata poinnya pun tak jauh berbeda. Satu hal yang membuat kening Kyungsoo berkerut hanyalah syarat mengenai pengurusan rumah. Chanyeol tidak ingin memiliki pembantu, atau dengan kata lain lelaki itu ingin mereka berdua yang mengurus rumah secara bergantian.
Sementara di sisi lain, Chanyeol membelalakkan mata saat membaca syarat Kyungsoo mengenai seks. Kyungsoo menuliskan bahwa mereka tidak boleh mengkonsumsi pernikahan mereka, yang artinya mereka tidak bisa melakukan hubungan intim selayaknya suami-istri.
Bukan berarti Chanyeol memiliki niat untuk melakukannya, hanya saja syarat berikutnya sangat mengejutkan Chanyeol. Kyungsoo menulis bahwa selama pernikahan berlangsung, mereka berdua dilarang keras melakukan hubungan yang melibatkan fisik dalam bentuk apa pun dengan orang lain. Syarat ini dengan jelas mengatakan bahwa Chanyeol harus hidup selibat* selama satu tahun.
Dalam hitungan detik mereka meletakkan kertas dan saling memandang tepat ke mata masing-masing. Kyungsoo dengan keningnya yang berkerut, sementara Chanyeol dengan pandangan tak percaya.
"Aku tidak bisa menyetujui syaratmu mengenai kepengurusan rumah. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku adalah seorang wanita karier. Tidak mungkin dengan jadwal kerjaku yang padat aku mampu mengurus rumah. Lagi pula tujuanku melakukan pernikahan sandiwara ini bukan untuk menjadi istri yang sesungguhnya, melainkan untuk mengambil alih perusahaan ayahku," ucap Kyungsoo.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya demi mendengar nada protes yang keras dalam suara Kyungsoo. Selama sesaat Chanyeol terdiam, lalu menyandarkan punggungnya tanpa memutuskan kontak mata dengan Kyungsoo. Dalam satu kalimat itu Chanyeo mendapatkan jawaban atas pertanyaannya mengenai tujuan pernikahan sandiwara ini, juga melihat emosi yang benar-benar nyata dari wajah Kyungsoo. Meski samar, Chanyeol tahu bahwa Kyungsoo, gadis itu ternyata tidak setenang yang ditunjukkannya.
"Aku juga tidak bisa menyetujui syaratmu mengenai hidup selibat selama satu tahun. Tujuanku menikahimu bukan untuk menjadi suami sesungguhnya, namun untuk mendapatkan resort ini," balas Chanyeol tenang.
Serta-merta tubuh Kyungsoo menegang. Ia berusaha menutupinya, namun mata Chanyeol yang telah terlatih dalam melihat bahasa tubuh sama sekali tidak tertipu. Ada alasan kuat dibalik syarat itu dan gadis itu menolak menjelaskannya.
Kyungsoo menghela napas. Berusaha meredam jeritan hatinya yang sibuk mencela bahwa semua laki-laki sama saja. Alih-alih mengucapkannya, Kyungsoo justru mengajukan sebuah solusi. Solusi yang tidak benar-benar ia sukai. Namun itu salah satu risiko dari negosiasi, bukan?
"Aku akan membiarkanmu melakukan… yah, hal yang ingin kau lakukan. Selama itu tidak mengganggu pernikahan sandiwara ini, aku tidak peduli. Kau bisa tidur dengan wanita mana pun. Pastikan wanita itu menutup mulut. Dan sebagai gantinya kau harus membiarkanku memiliki pembantu rumah tangga," ucap Kyungsoo tegas.
Chanyeol mengangguk dan mereka kembali menegosiasikan syarat-syarat lainnya. Dengan sedikit pengaturan, juga banyak perdebatan, akhirnya negosiasi itu selesai. Kyungsoo membaca ulang syarat-syarat yang telah mereka setujui.
1. Wajib menjaga kerahasiaan negosiasi selama perjanjian berlangsung. Pemberitahuan atau pembocoran dari isi perjanjian dalam bentuk dan kondisi apa pun dianggap sebagai pelanggaran dan perjanjian akan dibatalkan.
2. Tidak melakukan kontak fisik selain di hadapan orang lain. Semua kontak fisik yang dilakukan hanya bertujuan untuk mendukung sandiwara.
3. Tidak mengganggu privasi satu sama lain dan dilarang keras menyelidiki masa lalu masing-masing atas dasar apa pun.
4. Semua jadwal atau kegiatan yang membutuhkan kehadiran kedua belah pihak harus diinformasikan minimal tiga hari sebelumnya.
5. Biaya kehidupan selama pernikahan akan ditanggung oleh kedua belah pihak dengan pembagian sama rata. Termasuk biaya pernikahan, pembelian rumah, juga perceraian.
6. Tidur secara terpisah. Kecuali pada saat-saat diharuskan seperti pada acara keluarga dan lainnya.
7. Memiliki hak dan kewajiban yang sama di rumah. Untuk hal-hal yang tidak dilakukan oleh pengurus rumah, dalam hal ini membersihkan kamar pribadi, harus dilakukan sendiri tanpa campur tangan pihak lain.
8. Hak dalam memenuhi kebutuhan fisik harus dilakukan dengan hati-hati dan tetap menjaga kerahasiaan perjanjian.
9. Kedua belah pihak wajib melakukan tes kesehatan setiap tiga bulan sekali. Tes pertama dilakukan setelah pengesahan perjanjian dan tes selanjutnya terhitung sejak tanggal itu.
10. Dalam kondisi apa pun, dilarang keras berpisah sebelum tenggat waktu yang telah ditetapkan. Pengalihan kepemilikan resort hanya bisa dilakukan satu tahun setelah pernikahan.
11. Alasan dari perceraian akan didiskusikan pada waktunya. Dilarang menggunakan alasan yang merugikan salah satu pihak.
Kyungsoo meletakkan kertasnya, lalu mengatakan, "Aku akan memperkenalkanmu pada keluargaku minggu depan, di acara makan malam keluarga. Aku tidak peduli bagaimana kau ingin melakukannya, namun pastikan kau melamarku malam itu dan kita akan menikah dua bulan setelahnya."
"Bagaimana dengan cerita? Kau tahu, orang akan bertanya-tanya. Jika aku tidak salah ingat, kau memiliki tunangan yang akan menikahimu akhir tahun ini, bukan?" balas Chanyeol.
"Katakan saja kita bertemu di resort ini, aku terpesona padamu dan kau terpesona padaku, lalu kita memutuskan untuk menikah," sahut Kyungsoo seadanya.
Chanyeol berdecak, lalu berkata, "Tidak akan ada yang percaya pada cerita itu."
Kyungsoo menyipit, berusaha keras menahan tangannya yang sudah siap melempar bolpoin ke wajah tampan Chanyeol. Kyungsoo tidak peduli seberapa tampan pria di hadapannya ini, karena kesabarannya benar-benar sudah menipis. Sejak awal negosiasi, yang melibatkan banyak perdebatan juga sindiran tanpa henti, Kyungsoo tahu hidupnya akan semakin rumit. Namun Kyungsoo tidak menyangka, menahan kesabaran juga termasuk di dalamnya. Astaga, bagaimana Kyungsoo sanggup melewatkan waktu satu tahun hidup bersama Chanyeol jika beberapa jam saja sudah membuatnya gila?
"Jika kau ingin sesuatu yang istimewa, kau bisa meminta penulis naskahmu untuk mengarang sesuatu. Tentu saja aku tidak keberatan dengan cerita romantis yang tidak realistis," sahut Kyungsoo dengan nada mengejek di akhir kalimatnya.
"Tidak semua cerita romantis terdengar tidak realistis. Jika kau memiliki cukup imajinasi, kau bisa membuat sebuah cerita sederhana menjadi tak terlupakan," balas Chanyeol.
"Yah, tidak semua orang bisa hidup hanya dengan imajinasi," sahut Kyungsoo.
Chanyeol mengangkat bahu, lalu mengatakan, "Menjadi kreatif tidak pernah melukai siapapun sebelumnya."
Kyungsoo mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Selama beberapa saat mereka terlibat kompetisi saling menatap. Membuat sebuah pemikiran muncul di pikiran Chanyeol, bagaimana rasanya mengulum bibir berbentuk hati yang terkatup rapat itu? Sikap menantang Kyungsoo sungguh menggugah sesuatu yang telah lama tertidur dalam diri Chanyeol.
Menit demi menit terus berlalu, hingga akhirnya Chanyeol menawarkan seulas senyum perdamaian.
Kyungsoo tersentak. Bukan karena senyum Chanyeol, namun karena sorot mata lelaki itu yang bahkan sama sekali tidak berubah dengan senyum di wajahnya.
Dan Do Kyungsoo baru menyadarinya.
Bahwa lelaki bernama Park Chanyeol seorang sutradara terkenal menyimpan duka yang sangat amat pekat.
Kyungsoo mengerutkan kening pada lemari pakaiannya. Seakan-akan benda itulah yang paling bersalah karena tidak menyimpan satu pun gaun yang terlihat cocok untuknya. Lebih tepatnya, cocok untuk seorang gadis yang akan mengumumkan pernikahan. Bukan berarti Kyungsoo peduli, namun hal yang akan dilakukannya ini merupakan sebuah kebohongan besar. Kesalahan sedikit saja bisa membuatnya gagal. Kyungsoo harus mengerahkan segala daya upayanya agar kebohongan ini berhasil dan membuatnya sukses mencapai tujuan.
Karena harga dari kebohongan ini sangat mahal. Kyungsoo harus rela menukarnya dengan tempat penuh kenangannya. Resort di Lombok adalah tempat pertama yang dibangun ayahnya bersama ibunya. Resort itu adalah tempat yang merekam jejak bahagia mereka dengan sempurna. Setiap desain diciptakan ayahnya dengan begitu hati-hati, ditemani ibunya yang senantiasa mendukung tanpa henti. Jika saja bisa, Kyungsoo tidak akan pernah melepas resort itu. Namun kini, prioritas hidupnya telah berubah dan Kyungsoo harus beradaptasi. Dan melepaskan resort itu termasuk dalam prosesnya.
Kyungsoo mendesah, lalu menjatuhkan diri di tempat tidurnya dan selama sesaat menghilangkan fokus pandangannya. Pikirannya berkelana pada percakapannya tadi siang dengan Chanyeol di rumah sakit.
Flashback
Selama menunggu giliran mereka untuk tes kesehatan, Kyungsoo dan Chanyeol saling bertukar informasi mengenai orang-orang terdekat mereka demi memperkuat pernikahan sandiwara itu.
Chanyeol meminta Kyungsoo menjelaskan terlebih dahulu, maka Kyungsoo memberikan daftar lengkap anggota keluarganya juga kebiasaan-kebiasaan mereka. Chanyeol hanya diam dan mendengarkan. Kyungsoo tidak tahu apakah Chanyeol bisa mengingat semua informasi yang diberikannya, hanya saja dari satu hal kecil itu Kyungsok tahu bahwa Chanyeol adalah seorang pria yang bersungguh-sungguh.
Ketika Kyungsoo selesai, Chanyeol tetap terdiam selama beberapa saat. Lalu Chanyeol menatap Kyungsoo dan tersenyum, entah apa sesungguhnya arti dari senyum itu, karena kalimat yang mengiringinya sungguh mengiris hati.
"Aku hanya memiliki diriku sendiri. Kau tidak perlu khawatir tentang keluargaku, karena kau tidak akan pernah bertemu dengan mereka. Anggap saja ini sebuah bonus untukmu."
Kyungsoo pun terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Fakta bahwa Park Chanyeol sebatang kara di dunia ini bukanlah sebuah rahasia. Baekhyun bahkan sudah memberitahunya sejak awal. Namun entah mengapa, mendengar pernyataan itu langsung dari bibir Chanyeol membuat Kyungsoo merasa sesak. Akhirnya, pembicaraan itu ditutup dengan suster yang memanggil nama mereka.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Kyungsoo tersentak dari lamunannya dan menoleh ke asal suara. Baekhyun yang berdiri di pintu kamarnya memasang ekspresi penuh tanya, namun belum sempat Kyungsoo menjawab, Baekhyun sudah menemukan jawabannya dengan melihat pintu lemari Kyungsoo yang terbuka lebar.
"Kau tidak bisa menemukan gaun yang cocok?" tanya Baekhyun.
Kyungsoo mengangguk, membuat Baekhyun tertawa lalu beranjak menuju lemari Kyungsoo dan mulai memilih gaun-gaun yang digantung di dalamnya.
"Untung saja aku sudah sangat mengenal kebiasaanmu ini hingga memutuskan untuk datang membantumu. Aku tahu kau pasti merasa gugup karena akan berbohong. Yah, kau tidak pernah pintar berbohong. Hanya wajah tanpa ekspresimu yang bisa meyakinkan orang-orang. Namun kau tidak bisa melakukannya, bukan? Karena mana ada seorang gadis yang sedang jatuh cinta memasang wajah tanpa ekspresi?" celoteh Baekhyun.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa kebohongan semacam ini membutuhkan banyak hal rumit. Dan tentu saja masih ada pernikahan. Lalu parade pasangan berbahagia selama satu tahun penuh. Aku yakin hidupku tidak akan pernah membosankan," balas Kyungsoo.
Tiba-tiba Baekhyun membalikkan tubuh, menatap Kyungsoo dengan serius, "Kau tidak akan mundur, bukan?" tanyanya.
Kyungsoo menggelengkan kepala dengan tegas. Menyerah sama sekali tidak ada dalam kamus hidupnya. Tidak peduli betapa sulit, jika hal itu menyangkut Luhan dan keluarganya, Kyungsoo tidak akan pernah menyerah.
"Lalu bagaimana dengan perjanjian kalian?" tanya Bakhyun lagi.
"Kami menandatanganinya hari ini sebelum pergi ke rumah sakit. Tidak ada yang istimewa kecuali fakta bahwa Sehun terus menatapku seakan aku sudah gila," jawab Kyungsoo.
Sehun adalah pengacara Kyungsoo. Mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu di sebuah pesta yang diselenggarakan keluarga DO. Sejak saat itu mereka berteman dan ketika Kyungsoo memutuskan untuk bekerja di perusahaan ayahnya, Sehun mengajukan diri untuk menjadi pengacara pribadinya. Selain Baekhyun, satu-satunya teman yang dimiliki Kyungsoo dan masih bertahan bahkan setelah tragedi keluarganya tujuh tahun yang lalu adalah Sehun.
"Terkadang aku berpikir Sehun memiliki perasaan lebih untukmu," gumam Baekhyun.
Baekhyun mengeluarkan sebuah gaun berwarna merah dan Kyungsoo menggeleng, lalu berkata, "Kau terlalu banyak menganalisis sesuatu yang tidak nyata. Kami hanya berteman. Lagi pula bagaimana kau yakin Sehun memiliki perasaan yang lebih untukku? Kau tahu ia lebih pandai memasang wajah tanpa ekspresi. Atau bisa dikatakan ia hampir tidak pernah memasang ekspresi apapun di wajahnya."
"Justru karena ia begitu, aku bisa dengan mudah mengetahuinya. Cara Sehun menatapmu sangat berbeda, Soo. Seakan-akan kau adalah pusat dunianya. Entah bagaimana kau bisa melewatkan hal itu," sahut Baekhyun.
"Bisakah kau berhenti membahas hal-hal yang tidak nyata? Aku harus makan malam dengan keluargaku dalam waktu dua jam dan aku belum menemukan satu gaun pun," balas Kyungsoo
Sebagai jawaban, Baekhyun mengeluarkan sebuah gaun berwarna oranye dengan gradasi peach. Gaun itu jatuh tepat di atas lutut, tanpa bahu, dan mengembang di bagian pinggang. Serta-merta Kyungsoo membeku. Dari sekian banyak gaun yang belum pernah dipakainya, hanya gaun itu satu-satunya yang tidak akan pernah ia pakai. Karena gaun itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya tujuh tahun yang lalu. Gaun yang dirancang khusus oleh ibunya untuk pesta ulang tahun yang tidak pernah Kyungsoo rayakan. Ulang tahunnya yang kedelapan belas.
"Tidak," tolak Kyungsoo
"Kyungsoo-ya, kau tidak memiliki banyak waktu. Kita tidak bisa pergi dan membeli gaun lain. Hanya ini satu-satunya gaun yang bisa mendukung sandiwaramu. Aku masih ingat betapa cantik kau memakai gaun ini, selain fakta bahwa warna gaun ini sangat cocok untukmu. Ayolah, Soo. Jika kau ingin berhasil, kau harus memakainya," bujuk Baekhyun sungguh-sungguh.
Kyungsoo menghela napas. Memantapkan hatinya. Lalu berdiri dan mengambil gaunnya.
Chanyeol belum pernah merasa segugup ini dalam hidupnya. Berkali-kali ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini hanya makan malam biasa, dengan tambahan beberapa kalimat yang akan mengubah hidupnya. Jika hal sederhana seperti melamar saja bisa membuat Chanyeol berkeringat dingin, bagaimana dengan pernikahan yang akan dilakukannya dua bulan lagi?
Chanyeol melirik gadis di sampingnya. Gadis itu tak memperlihatkan ekspresi apapun di wajahnya yang dipulas dengan make-up natural. Bahkan sejak Chanyeol menjemputnya di lobby apartemennya, gadis itu sama sekali belum membuka suara. Chanyeol harus mengakui bahwa gadis itu cantik. Apalagi dengan gaun yang kini dikenakannya. Chanyeol menemukan dirinya kembali terpesona. Jika saja hubungan mereka bukan sandiwara, dengan senang hati Chanyeol akan mengerahkan segenap daya upayanya untuk mendapatkan ciuman dari bibir hati Kyungsoo di setiap menit kebersamaan mereka.
Chanyeol segera menggelengkan kepalanya. Belakangan ini otaknya mulai melantur memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan.
"Kau ingin aku bersikap seperti apa pada keluargamu?" tanya Chanyol.
"Seperti dirimu sendiri. Aku tidak ingin kau berpura-pura. Kau tidak harus membuat mereka menyukaimu. Cukup yakinkan mereka bahwa kau benar-benar mencintaiku. Aku tidak ingin terlalu banyak kebohongan, karena akan sulit untuk menjaganya." jawab Kyungsoo.
Chanyeol sudah sampai di rumah Kyungsoo. Setelah mobil berhenti, Chanyeol melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Kyungsoo. Chanyeol mengulurkan tangannya seraya menatap kedua mata segelap langit malam milik Kyungsoo. Selama sesaat Chanyeol melihat keraguan, namun akhirnya Kyungsoo menyambut uluran tangannya dan mereka berjalan memasuki rumah besar bercat putih itu.
Suara-suara mulai terdengar jelas ketika mereka melewati ruang tamu dan berjalan menuju ruang keluarga. Chanyeol dapat merasakan kegugupan yang menguar dari Kyungsoo, namun Chanyeoll tidak memiliki waktu untuk menenangkan gadis itu. Chanyeol hanya mempererat genggaman tangan kirinya, berharap Kyungsoo dapat membuat pembukaan yang bagus untuk mereka berdua. Karena keberhasilan dari semua hal yang akan mereka lakukan bergantung pada satu hal kecil ini.
Setelah memasuki ruang keluarga, Chanyeol merasa Kyungsoo mulai bisa menguasai kegugupannya. Hal ini terbukti dari reaksi Kyungsoo yang tidak berubah, bahkan setelah seluruh mata di ruangan tertuju padanya dan tak ada lagi suara yang terdengar. Kyungsoo berjalan tanpa ragu menuju seorang pria paruh baya yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang gadis berambut merah. Mereka terlihat sedang berbicara serius, namun sekali lagi Kyungsoo tidak peduli dan melanjutkan niatnya.
"Selamat malam, Appa. Aku ingin memperkenalkanmu pada Park Chanyeol," ucap Kyungsoo.
Chanyeol mengulurkan tangan kanannya—masih menggenggam tangan Kyungsoo di tangan kirinya—dan memperkenalkan dirinya.
Ayah Kyungsoo membalas uluran tangan Chanyeol, lalu membalas, "Do Siwon. Dan siapa dirimu, anak muda? Apa hubunganmu dengan anakku hingga ia memperkenalkanmu padaku?"
"Aku adalah kekasih Kyungsoo," jawab Chanyeol tanpa keraguan sedikit pun.
Keheningan terdengar semakin jelas setelahnya. Lalu Siwon menggumamkan selamat datang pada Chanyeol dan meminta seluruh anggota keluarganya untuk memasuki ruang makan setelah selesai berkenalan dengan Chanyeol.
Proses perkenalan itu tidak membutuhkan waktu lama. Kedua paman Kyugsoo memberikan sambutan yang sama seperti ayah Kyungsoo, lalu memberikan kesempatan pada sepupu-sepupu Kyungsoo. Seluruh sepupunya sudah mengenal Chanyeol, tentu saja melalui film-filmnya yang selalu merajai box office, dan perkenalan itu berubah menjadi ajang tanya-jawab. Dengan cepat Kyungsoo memutuskan untuk berhenti mendengarkan wawancara tak langsung yang dilakukan seluruh sepupunya pada Chanyeol. Karena jujur saja, Kyungsoo belum pernah sekalipun menonton film yang disebutkan para sepupunya itu.
"Astaga, kau pasti bercanda, Kyungsoo-ya! Bagaimana mungkin kau berkencan dengan Park Chanyeol dan tidak memberitahuku?" pekik Taemin di telinga Kyungsoo.
Kyungsoo hanya bisa tersenyum, tak tahu bagaimana harus merespons. Tiba-tiba Kyungsoo merasakan sebuah tatapan yang tertuju padanya. Kyungsoo menoleh dan langsung bertatapan dengan Luhan. Kakaknya itu melemparkan pandangan tak percaya, sementara Kyungsoo hanya membalasnya dengan seulas senyum datar.
Karena ini baru permulaan.
Setelah makan malam selesai, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga dan memulai sesi tanya-jawab mengenai Chanyeol. Tanpa ragu Chanyeol menjawab semua pertanyaan itu, kemudian mengusulkan topik lain. Dimulai dengan olahraga, politik, hingga film Chanyeol sendiri. Kyungsoo menyadari usaha Chanyeol untuk menghindari pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya. Dan Kyungsoo tidak menyalahkan Chanyeol, karena Kyungsoo pasti akan melakukan hal yang sama jika seluruh keluarganya telah tiada.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun ruang keluarga di rumah Kyungsoo masih diselimuti keramaian. Sesekali tawa berderai mewarnai perbincangan itu, dan Kyungsoo menemukan dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan dari Chanyeol yang menjadi titik sentral dari segala pembicaraan di sekitarnya. Kyungsoo tidak pernah menyangka Chanyeol dapat berbaur dengan begitu mudah dalam keluarganya. Hanya dalam hitungan menit, Chanyeol sudah mengantongi banyak suara yang berpihak padanya. Dan kini, Chanyeol terlihat seperti bagian dari keluarganya.
"Di mana pertama kali kalian bertemu?" tanya Taemin dengan semangat yang tidak disembunyikan. Diikuti oleh Tao yang membulatkan matanya penasaran.
Pasalnya, terakhir kali Tao berurusan dengan seseorang bernama Park Chanyeol adalah untuk menyampaikan pesan dari Kyungsoo untuk mengatur jadwal pertemuan. Tao tidak pernah tahu bagaimana kelanjutan dari pertemuan itu, karena Kyunhsoo sangat sibuk sepulangnya dari Jeju. Kini, ketika secara tiba-tiba Kyungsoo membawa Chanyeol ke makan malam keluarganya dan mengumumkan status hubungan mereka, mau tak mau membuat Tao bertanya-tanya hal apa yang sudah dilewatkannya.
Chanyeol menoleh pada Kyungsoo, memberinya tatapan yang berkata 'apa kubilang, mereka pasti menanyakannya', lalu mengubah tatapan itu menjadi penuh memuja dan mengecup tangan Kyungsoo yang ada dalam genggamannya.
"Resort Jeju. Saat itu Kyungsoo berdiri di tepi pantai. Ia tidak melakukan apa pun. Hanya berdiri diam di bawah sinar matahari dan membiarkan ombak bergulung di sekitarnya. Rambutnya tergerai dan aku melihat semburat merah yang mengagumkan. Entah berapa lama aku memandanginya, namun saat itu juga aku merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang," jawab Chanyeol.
Chanyeol terdiam sesaat, seolah mengenang penjelasannya itu, hingga membuat semua orang di sekitarnya menahan napas. Chanyeol kembali menatap Kyungsoo dan mengulas sebuah senyum.
"Aku menemukan sesuatu yang bisa kusebut indah. Kyungsoo tidak pernah hanya sekadar cantik bagiku. Ia adalah keindahan yang nyata," lanjut Chanyeol.
Kyungsoo merasa jantungnya berhenti berdetak. Ucapan Chanyeo terdengar begitu tulus. Seandainya Kyungsoo tidak tahu, ia pasti akan berpikir bahwa Chanyeol benar-benar terpesona padanya. Kyungsoo tidak menyangka, selain berbakat sebagai sutradara, Chanyeol pun berbakat dalam bidang akting. Seluruh keluarga Kyungsoo bahkan tidak bisa berkata-kata, hanya menatap mereka dengan pandangan kagum. Yah, tidak semua, karena Luhan tetap menatap Kyungsoo dengan penuh kebencian.
Tiba-tiba Chanyeol bangkit berdiri, membawa serta Kyungsoo yang masih digenggam tangannya, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Kyungsoo. Seulas senyum masih tersungging di wajahnya, sementara tangannya mengambil sebuah kotak cincin dari saku celananya.
Kyungsoo terkesiap, berusaha menampilkan ekspresi terkejut penuh haru. Meskipun ia tidak membutuhkan banyak usaha karena jantungnya benar-benar berdebar keras seolah ingin mematahkan rusuknya. Nada-nada terkejut pun terdengar dari keluarganya, dan keheningan sempurna membalut mereka.
"Do Kyungsoo, kau adalah mimpiku yang menjadi nyata. Kau membuat hidupku menjadi tertanggungkan; membuat segalanya terasa benar. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan sempurna untukmu, namun aku berjanji untuk selalu berada di sisimu. Mendukungmu. Melindungimu. Dan mencintaimu. Menikahlah denganku," ucap Chanyeol dengan kesungguhan di setiap kalimatnya.
Selama sesaat Kyungsoo kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Matanya tak bisa berpaling dari warna hitam-kecoklatan yang begitu menenggelamkan di hadapannya. Lalu dengan tangan yang bergetar, Kyungsoo menyentuh salah satu sisi wajah Chanyeol dan mengangguk.
"Ya. Aku akan menikah denganmu," sahut Kyungsoo.
Chanyeol memasangkan cincin di tangan Kyungsoo, lalu bangkit berdiri dan membawa Kyungsoo dalam pelukannya.
Kyungsoo membeku selama beberapa saat. Tak mengenali tubuh yang kini memeluknya dengan hangat. Kyungsoo mengatur napasnya, berusaha mengendalikan refleksnya yang ingin mendorong Chanyeol. Alih-alih mendorongnya, Kyungsoo mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan itu. Bagaimanapun, ia harus merasa sangat bahagia, bukan? Ia baru saja dilamar dengan kata-kata yang paling ingin didengar seluruh gadis di muka bumi.
"Tidakkah kau berpikir kalimatmu itu berlebihan?" bisik Kyungsoo.
Chanyeol mengeratkan pelukannya dan membalas bisikan Kyungsoo tepat di telinganya, "Aku meminta penulis naskahku untuk mengarangnya. Sesuai dengan saranmu. Bukankah aku calon suami yang baik?"
Kyungsoo memutar matanya. Hampir saja ia melupakan sifat asli calon suaminya itu; terlalu percaya diri, menyebalkan, dan tidak mau kalah. Namun setidaknya Kyungsoo tidak perlu khawatir mengenai sandiwara mereka. Semua berjalan dengan lancar dan terasa lebih mudah, karena Chanyeol benar-benar seorang aktor yang meyakinkan.
Chanyeol melepaskan pelukannya, lalu membalas tatapan kesal Kyungsoo dengan satu kedipan singkat. Tanpa kata Chanyeol membawa Kyungsoo menghampiri ayahnya dan Chanyeol meminta restu dengan penuh keyakinan. Siwon tidak mengatakan apapun, hanya satu anggukan singkat, dan ia beranjak pergi.
Keluarga Kyungsoo yang berhasil keluar dari zona mematung, menghampiri mereka berdua dan mengucapkan selamat. Semua ucapan tercampur menjadi satu dan sesekali tawa terdengar. Mereka berusaha menghibur Kyungsoo yang mendapatkan pengabaian sempurna dari ayahnya. Taemin dan Tao mendominasi pekikan dengan nada iri penuh kagum, sementara Jongdae dan Kris menepuk bahu Chanyeol. Kyungsoo tidak bisa melakukan apa pun selain tersenyum dan bersandar pada Chanyeol, karena pria itu sama sekali tidak mau melepaskannya.
Ketika akhirnya Kyungsoo berhadapan dengan Donghae selaku pamannya, selaput bening mulai menggenangi matanya. Kyungsoo merasa sangat bersalah. Apalagi begitu melihat kebahagiaan nyata dalam wajah pamannya. Seakan-akan, pamannya tahu bahwa Chanyeol adalah yang terbaik bagi Kyungsoo.
Sejak kecil, Kyungsoo sangat dekat dengan ayah dari Jongdae dan Kris itu. Bahkan terkadang Kyungsoo berpikir ikatannya dengan Donghae sang paman lebih kuat dibanding dengan ayahnya sendiri. Kyungsoo tahu betapa kecewa lelaki paruh baya itu ketika Kyungsoo memutuskan untuk melupakan impiannya dan beralih untuk bersaing dalam segala hal dengan Luhan. Namun Donghae tidak pernah berhenti mendukungnya.
Dan kini, saat Kyungsoo melemparkan sebuah kebohongan tepat di hadapan pamannya itu, Kyungsoo tidak bisa melakukan apa pun selain menahan tangis.
"Kau akan mendapatkan bahagiamu, Kyungsoo," ucap Donghae lembut, lalu beralih pada Chanyeol dan berpesan untuk menjaga gadis kecilnya dengan baik.
Kyungsoo mengalihkan perhatian pada orang yang kini berdiri di hadapannya; Luhan. Kakaknya itu mengulurkan tangan dan memeluk Kyungsoo dengan paksa. Refleks, Kyungsoo menepis tangan Luhan dan menatapnya tepat di manik mata.
"Aku senang akhirnya kau bisa menemukan seseorang yang lebih baik. Kali ini, pastikan ia tidak merasa bosan dan mencari yang lain," ucap Luhan dengan senyum mengejek di akhir kalimatnya.
Ketegangan mulai merebak, namun Chanyeol dengan cepat mengambil alih dan berkata, "Aku tidak akan pernah merasa bosan dengan Kyungsoo. Ia adalah gadis yang penuh kejutan. Kau bisa pegang kata-kataku. Hanya pria gila yang tidak bisa melihat keistimewaan dalam diri Kyungsoo dan membuktikan kegilaannya dengan berpaling pada gadis rendahan."
Jongdae meledak dalam tawa, diikuti Kris dan Tao. Sementara Taemin melangkah melewati Luhan dengan pandangan penuh rasa jijik.
Chanyeol, yang tidak mengerti reaksi keluarga Kyungsoo itu—karena Kyungsoo tidak memberitahu Chanyeol tentang Luhan maupun alasan di balik pernikahannya yang gagal sebelumnya—hanya bisa melayangkan pandangan penuh tanya pada Kyungsoo. Bertanya-tanya apa yang salah dengan ucapannya.
Dan Kyungsoo hanya menjawabnya dengan satu kedipan mata.
.
.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
Nb : -Selibat adalah sebuah pilihan hidup yang bersumber dari suatu pandangan atau pemikiran tertentu yang memutuskan sang pribadi untuk memilih hidup tanpa menikah.
Jangan lupa tinggalkan jejak :)
-GOMAWO-
