Pairing : CHANSOO

cast : -SULAY -KAIBAEK -HUNHAN -DAEMIN

AWAS TYPO

.

.

.

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, Juni 2014~

"Aku tidak percaya kau benar-benar mengalami ini," gumam Baekhyun seraya membantu Kyungsoo merapikan gaun pengantin ketiga puluh yang dicobanya.

Kyungsoo menatap pantulan dirinya dalam cermin dan mendesah. Gaun ini sama buruknya dengan gaun terakhir yang dicobanya. Bagaimana mungkin mencari gaun pengantin sama sulitnya dengan mengambil alih perusahaan ayahnya? Kyungsoo tidak mengerti. Demi Tuhan, apa yang salah dengan para desainer gaun pengantin ini?

"Aku juga tidak percaya hal ini benar-benar terjadi. Aku tidak kesulitan dalam menentukan gaunku yang sebelumnya. Hanya satu kali lihat dan semua selesai. Namun sekarang, bahkan setelah gaun ketiga puluh dan menghabiskan waktu lima jam di butik ini, aku masih belum mendapatkan gaunku!" sahut Kyungsoo dengan nada kesal.

"Itulah yang kau dapatkan ketika kau mencari gaun pengantin di saat-saat terakhir. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Do Kyungsoo? Pernikahanmu akan dilangsungkan bulan depan dan kau hanya menyempatkan waktu satu hari untuk mempersiapkannya? Aku tahu kau begitu sibuk dengan segala pengalihan kekuasaan di perusahaan itu, namun bukan berarti kau bisa mengabaikan persiapan pernikahanmu!" omel Baekhyun panjang lebar.

Kyungsoo hanya mengerutkan bibirnya, tak mau membalas ucapan Baekhyun karena ia tahu semua kekacauan ini murni kesalahannya. Karena terlalu sibuk mengurus pekerjaannya, Kyungsoo mengabaikan persiapan pernikahannya. Ia bahkan tidak mengecek ulang segala persiapan yang dilakukan oleh wedding organizer yang disewanya. Selama satu bulan Kyungsoo tenggelam dalam rutinitas sebagai CEO yang baru—terima kasih pada Chanyeol yang berperan besar sebagai calon suaminya juga sebagai investor baru di perusahaannya— dan persiapan untuk beberapa proyek besar yang berusaha ia menangkan. Sering kali Kyungsoo melewatkan waktu istirahat, termasuk waktu tidurnya, hingga ia selalu mengesampingkan masalah pernikahan ini.

"Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya bersama Seohyun. Ia mencoba ratusan gaun sebelum akhirnya mendapatkan yang ia inginkan. Dan gaun itu dipilih oleh Eunhyuk. Menurutmu, haruskah kita memanggil Chanyeol? Mungkin masalah gaun ini akan selesai," balas Baekhyun.

"Aku tidak menikahinya dengan sungguh-sungguh, Baek. Dengan sekali lihat saja kau bisa tahu betapa besar perbedaan antara pernikahanku dan pernikahan Eunhyuk. Aku terlalu hampa dan datar, sementara Eunhyuk begitu bahagia dan penuh cinta. Dan untuk apa memanggil Chanyeol? Ia tidak akan peduli pada penampilanku," tukas Kyungsoo.

Baekhyun mengangkat kedua alisnya, lalu berkata, "Aku tidak buta, Soo-ya. Meskipun aku tahu kalian hanya menikah di atas kertas, aku bisa melihat chemistry di antara kalian. Dan aku berani bertaruh, Chanyeol pasti peduli pada penampilanmu. Bagaimanapun, kalian akan menikah, bukan pergi rekreasi ke taman hiburan."

"Apa kau tidak pernah mendengar tentang larangan melihat gaun pengantin mempelai wanita untuk pria yang akan menikah? Mereka bilang itu pertanda buruk," balas Kyungsoo tak mau kalah.

"Aku tidak percaya itu dan aku juga tahu kau tidak memercayainya," sahut Baekhyun lugas.

Kyungsoo menghela napas. Tidak mau memperpanjang perdebatan tanpa ujung ini.

Sebuah ketukan terdengar di pintu kamar ganti, membuat Kyungsoo dan Baekhyun saling memandang bingung. Dengan ragu, Baekhyun membuka pintu dan sosok Chanyeol yang nampak kasual dalam balutan kemeja putih dan celana khaki memenuhi penglihatan mereka.

Chanyeol menyapa Baekhyun, lalu beralih menatap Kyungsoo dan berkata, "Aku memiliki sesuatu untukmu."

Kemudian dua wanita petugas butik datang dengan membawa sebuah kantong gaun. Kyungsoo melayangkan pandangan bertanya pada Chanyeol dan Baekhyun terkesiap.

"Sementara kalian sibuk berdebat, aku sudah memilihkan satu gaun untuk calon pengantinku," jelas Chanyeol tenang.

Kyungsoo tidak membalasnya, hanya menutup pintu dan membiarkan petugas butik membantunya untuk mencoba gaun yang Chanyeol pilih.

"Apa ia benar-benar mendengarkan pembicaraan kita?" tanya Baekhyun.

"Aku tidak tahu," jawab Kyungsoo.

Kyungsoo mengingat saat pertama kali ia memperkenalkan Chanyeol pada Baekhyun, sebagai satu-satunya orang yang mengetahui pernikahan sandiwara mereka. Kyungsoo tidak mengharapkan apa pun dari perkenalan itu, namun seperti biasa Chanyeol dengan mudah menarik simpati Baekhyun dan mereka berteman. Selama satu bulan terakhir Kyungsoo harus selalu mengingatkan dirinya bahwa bukan masalah besar jika sahabatnya berteman dengan calon suami palsunya.

Lima menit kemudian, kamar ganti itu diselimuti keheningan total. Semua orang menatap cermin dengan ekspresi wajah yang sama; kagum, tak percaya, juga iri. Karena gaun yang kini melekat di tubuh Kyungsoo sangat sempurna. Gaun berwarna putih itu sederhana; tanpa bahu, panjangnya hingga menyapu lantai dengan ukiran elegan yang abstrak di seluruh permukaannya, dan hanya terikat oleh sebuah pita di bawah dada. Namun entah mengapa gaun itu terlihat begitu istimewa. Dan dengan Kyungsoo yang memakainya, gaun itu terlihat semakin mengagumkan.

"Oh, sial. Gaun ini begitu indah. Sangat sesuai dengan tema pernikahanmu, Soo-ya! Kau terlihat sangat cantik," puji Baekhyun dengan napas tercekat. Lalu melanjutkan, "Chanyeol harus melihat ini!"

"Tidak, tunggu…"

Ucapan Kyungsoo terhenti karena Baekhyun sudah membuka pintu kamar ganti dan sepasang mata berwarna hitam—kecoklatan menatapnya langsung dengan kekaguman yang tak disembunyikan.

Chanyeol harus mengalihkan pandangannya. Ia tahu, namun hal itu menjadi mustahil ketika Kyungsoo yang menjadi tumpuan pandangannya. Sosok Kyungsoo yang kini terbalut dalam gaun pengantin, dengan rambut terurai juga semburat merah yang samar di kedua pipinya sungguh membuat Chanyeol kehilangan kini detak jantungnya sudah semakin memacu entah karena apa.

Chanyeol sudah melihat banyak gadis cantik—lebih cantik dari Kyungsoo bahkan—namun ada sesuatu dalam diri Kyungsoo yang membuat Chanyeol selalu terpaku dalam tudung pesona ketika menatapnya. Membuat Chanyeol tak mampu berkata dan enggan untuk beranjak.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Baekhyun.

Chanyeol berdeham, lalu menjawab dengan datar, "Kyungsoo terlihat cantik."

Sesuatu berubah dalam ekspresi Kyungsoo. Seakan-akan gadis itu mengajukan protes demi mendengar nada suara Chanyeol. Seulas senyum mengembang di wajah Chanyeol. Senyum yang benar-benar ditujukannya untuk Kyungsoo.

Dan Chanyeol melanjutkan, "Ia selalu terlihat cantik. Meski seorang Do Kyungsoo tidak pernah hanya sekadar cantik bagiku."

Malam ini adalah jadwal makan malam keluarga besar DO. Sesuai dengan perjanjian, Chanyeol harus selalu menghadiri makan malam itu. Chanyeol sama sekali tidak keberatan—karena sekarang ini ia tidak memiliki pekerjaan dan hanya menghabiskan waktunya dengan bermain game—namun gadis di sisinya bersikap seolah-olah bersiap menuju medan perang.

"Bisakah aku bertanya sesuatu?" tanya Chanyeol.

Kyungsoo mengangguk.

"Mengapa kau membenci keluargamu?" tanya Chanyeol kemudian.

Kyungsoo mengerutkan kening. "Aku tidak membenci keluargaku," jawabnya tegas.

"Mungkin kata itu tidak tepat. Namun ada sesuatu tentangmu yang selalu bersikap antipati. Aku tidak tahu, karena itu aku menanyakannya padamu. Juga mengenai ayahmu. Apakah ia selalu sedingin itu? Dan kakakmu. Mengapa ia memperlakukanmu dengan kasar?" balas Chanyeol

Kyungsoo terdiam.

"Kau tahu, jika kau ingin rencana ini berhasil, kau harus memberitahuku. Kita akan menikah. Orang-orang akan bertanya-tanya jika aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargamu," lanjut Chanyeol.

Kyungsoo menghela napas, lalu berkata. "Luhan bukanlah kakakku. Ia datang tujuh tahun yang lalu dan mengaku sebagai anak ayahku. Sejak saat itu ibuku masuk ke panti rehabilitasi karena depresi, sementara ayahku berubah menjadi tidak peduli."

Chanyeol memandang Kyungsoo. Hampir tak memercayai pendengarannya. Tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir Kyungsoo. Namun melihat ekspresinya yang kosong, juga nada suaranya yang kaku, Chanyeol tahu Kyungsoo mengatakan yang sebenarnya. Kini, Chanyeol mulai mengerti alasan yang mendorong Kyungsoo untuk melakukan semua rencana gila ini.

Chanyeol pun mendapat pembuktian dari ucapannya bahwa Kyungsoo tidak hanya sekadar cantik, karena Kyungsoo sungguh gadis yang tangguh. Kyungsoo berbeda. Kyungsoo istimewa dengan caranya sendiri.

Chanyeol memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Ia melangkah keluar dari mobil, lalu membukakan pintu Kyungsoo dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka mulai berjalan memasuki rumah bercat putih itu.

Makan malam berlangsung seperti biasa; ayah Kyungsoo berbicara dengan kedua saudaranya, sementara sepupu Kyungsoo sibuk bersenda gurau. Tiba-tiba Jongdae berdiri dan meminta perhatian semua orang. Ada sesuatu dalam dirinya yang memancarkan aura kebahagiaan.

"Aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting malam ini." ucapnya bersemangat.

Jongdae menarik Minseok untuk berdiri bersamanya, lalu melanjutkan, "Aku sudah meminta Minseok untuk menikah denganku. Dan ia menjawab ya."

Suara terkesiap mulai terdengar. Tak membutuhkan waktu lama hingga mereka semua menghampiri Jongdae dan Minseok, kemudian mengucapkan selamat. Makan malam selesai dan mereka berpindah ke ruang keluarga. Minseok yang menjadi pusat perhatian hanya mampu tersenyum dengan ekspresi malu. Ia memang gadis yang pendiam, berbeda dengan Jongdae yang selalu menjadi pusat perhatian.

Selama semua itu terjadi Kyungsoo hanya terdiam. Ia menatap sepupunya juga calon sepupu iparnya yang nampak sangat bahagia itu. Kyungsoo tidak tahu ia terlihat seperti apa ketika Chanyeol melamarnya bulan lalu, hanya saja melihat senyum di wajah Jongdae dan Minseok mau tak mau membuat Kyungsoo menginginkan hal yang sama. Betapa indahnya jika menikah karena benar-benar saling mencintai. Bukan karena sebuah perjanjian yang dipenuhi sandiwara.

"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Kyungsoo demi mengusir pikiran aneh dalam benaknya.

Minseok menggeleng, sementara Jongdae menjawab, "Kami belum memutuskan. Hanya saja melihat Chanyeol melamarmu tanpa keraguan bulan lalu membuatku ingin segera meresmikannya. Aku ingin Minseok benar-benar menjadi milikku. Mengenai waktunya, aku ingin kami memutuskan nanti. Kami tidak terburu-buru."

Taemin yang baru memasuki ruang keluarga berhenti di samping Kyungsoo dan menimpali, "Setidaknya kalian memiliki cukup kesabaran. Tidak seperti pasangan dimabuk cinta ini. Mereka bahkan tidak memberi kita kesempatan untuk ikut memilih tanggal dan langsung mengumumkan bahwa mereka akan menikah awal bulan depan. Apa kalian tahu betapa susahnya mengatur jadwal libur seorang dokter?"

Kris mengamini perkataan Taemin. Mereka berdua adalah seorang dokter. Kris adalah dokter spesialis jantung, sementara Taemin seorang psikolog.

"Kau hanya iri, Taemin-a. Lagi pula, bukankah lebih cepat lebih baik? Aku hampir muak melihat mereka yang tidak terpisahkan sepanjang waktu. Mereka ini pasangan jatuh cinta yang benar-benar jatuh cinta," sahut Tao

"Aku tahu, namun mengapa harus terburu-buru? Apakah ada sesuatu yang kalian rahasiakan?" balas Taemin dengan tatapan menyelidik.

Kyungsoo menggeleng.

Jongdae menatap Chanyeol, lalu bertanya, "Kau tidak membuat Kyungsoo hamil, bukan?"

Sontak derai tawa terdengar di rumah itu. Diiringi oleh semburat merah di wajah Kyungsoo, juga senyum geli di wajah Chanyeol. Kyungsoo tetap diam sementara sepupunya terus menggodanya. Namun satu hal yang membuat Kyungsoo ingin menghilang saat itu juga adalah jawaban Chanyeol.

"Tidak. Kyungsoo tidak hamil. Namun aku berharap begitu."

Tawa kembali terdengar, sementara Kyungsoo mencubit pinggang calon suami palsunya kuat-kuat.

Jeju, Juli 2014~

Kyungsoo mendesah dalam usahanya untuk mengurangi rasa lelah yang kini menggerogotinya. Otot-otot wajahnya sudah mengajukan protes sejak satu jam yang lalu, namun Kyungsoo tidak bisa melakukan apa pun karena tugasnya untuk tersenyum masih tersisa dua jam lagi. Matahari yang hampir menghentikan sinar teriknya mengirimkan desir angin, membuat Kyungsoo sedikit menggigil dalam balutan gaun pengantinnya.

Kyungsoo mengedarkan pandangannya untuk mencari Chanyeol, dan menemukan pria itu sedang tertawa bersama Jongdae dan Kris. Kyungsoo tidak percaya ia benar-benar menikahi seorang pria asing yang hidup sebatang kara. Namun kini, melihat Chanyeol dalam jas berwarna putih yang serasi dengan gaun Kyungsoo sendiri, mau tak mau membuat Kyungsoo percaya. Dan kagum pada dirinya sendiri karena berhasil hingga sejauh ini.

Semua hal berjalan lancar. Kyungsoo berhasil mengambil alih kekuasaan perusahaan ayahnya dan mengalahkan Luhan. Kyungsoo bahkan memiliki sebuah proyek besar yang berhasil dimenangkannya dalam usaha untuk menutupi kerugian perusahaan karena pembatalan pernikahannya dengan Minho sebelumnya. Satu hal tersisa yang harus dilakukannya hanyalah bertahan dalam pernikahan ini selama satu tahun.

"Kau terlihat cantik, Soo," ucap sebuah suara dari belakang Kyungsoo

Kyungsoo membalikkan tubuh dan berhadapan langsung dengan Sehun.

"Apakah itu pujian?" tanya Kyungsoo dengan sebuah senyuman.

Sehun mengangkat bahu. "Aku hanya mengatakan sebuah kejujuran," jawabnya datar.

Kyungsoo tertawa pelan. Temannya itu memang tidak berubah. Ditambah fakta bahwa kini ia berprofesi sebagai pengacara hanya membuat Sehun terlihat semakin kaku. Namun Kyungsoo tahu, Sehun adalah pria baik. Salah satu dari sedikit orang yang masih mendapat kepercayaan Kyungsoo.

"Aku harap kau akan baik-baik saja," ujar Sehun sejurus kemudian.

"Tentu. Aku akan baik-baik saja. Sejauh ini semua berjalan lancar, bukan? Aku sudah berhasil memenangkan posisi pemimpin perusahaan," sahut Kyungsoo ringan.

Sehun mengangguk, "Aku hanya ingin kau lebih berhati-hati. Luhan tidak akan tinggal diam. Ia pasti akan mencari cara untuk mengubah keadaan ini. Aku tidak ingin kau terluka."

Secara otomatis mata Kyungsoo beralih pada Luhan yang sedang berbincang dengan seseorang dari jajaran dewan direksi. Kyungsoo yang paling tahu betapa berbahanya Luhan. Kakaknya itu akan melakukan apa pun untuk menghancurkannya. Semua ini baru saja dimulai, karena perang sesungguhnya sedang menantinya begitu pesta pernikahan ini selesai.

"Dan kau harus lebih berhati-hati pada pria itu, Soo. Aku tidak memercayainya. Entah mengapa aku memiliki firasat bahwa ia akan menyakitimu," lanjut Sehun.

Kyungsoo tersentak mendengar kalimat Sehun. Kyungsoo sudah biasa mendengar nada serius dari Sehun, namun Kyungsoo tidak pernah mendengar Sehun secemas itu.

"Kau tahu dengan jelas isi perjanjian itu, Hunie. Ia tidak akan bisa menyakitiku. Percayalah padaku," sahut Kyungsoo.

Sehun tidak menjawab. Ia juga tidak mengangguk atau memberikan respons apapun. Hanya menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beranjak pergi.

Kyungsoo kembali mendesah. Denting gelas juga suara perbincangan di sekitarnya mulai membuatnya merasa pusing. Tanpa melihat sekelilingnya, Kyungsoo mulai melangkah menuju pantai. Membutuhkan usaha yang sulit, mengingat orang-orang begitu sibuk memberinya ucapan selamat juga memuji kesempurnaan pestanya, namun akhirnya Kyungsoo berhasil keluar dari hiruk-pikuk dan berdiri di tepi pantai.

Kyungsoo merasa kembali tenang melihat hamparan air berwarna biru di hadapannya. Sementara benaknya mencoba menghapuskan kecemasan akibat ucapan Sehun, Kyungsoo membiarkan percikan ombak membasahi bagian bawah gaunnya. Ini adalah salah satu caranya untuk menenangkan diri. Tiba-tiba saja semuanya terasa begitu berlebihan dan Kyungsoo hanya ingin sendirian selama beberapa saat.

"Oh, ayolah. Kita baru saja menikah selama lima jam dan kau sudah berencana untuk melarikan diri? Aku tidak menyangka kau selemah itu."

Sontak Kyungsoo membalikkan tubuh. Matanya menyipit demi mendengar ucapan Chanyeol, namun Kyungsoo tidak mengatakan apa pun. Setelah beberapa saat saling menatap dalam diam, Kyungsoo menemukan sesuatu yang ganjil pada ekspresi Chanyeol.

"Apa ada yang salah?" tanya Kyungsoo heran.

Chanyeol menggeleng, lalu mengalihkan pandangannya pada laut.

Kyungsoo tetap memperhatikan Chanyeol. Karena entah mengapa, Kyungsoo merasa Chanyeol sedang menanggung rasa sakit. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.

"Apa yang terjadi? Kau… aku tidak tahu, namun aku merasa ada sesuatu yang mengganggumu," lanjut Kyungsoo.

Keheningan merebak setelah itu. Hanya terdengar suara-suara dari pesta di kejauhan juga deburan ombak. Ketika Kyungsoo bersiap untuk pergi, Chanyeol mengucapkan kalimat yang membuat Kyungsoo mematung sepenuhnya.

"Adikku menikah di resort ini akhir tahun lalu. Kau tahu, tepat sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku melihat banyak hal hari ini juga mengingat banyak hal. Aku hanya merasa sedikit lelah."

Kyungsoo merasa napasnya tercekat. Ada begitu banyak luka dalam pengakuan itu dan Kyungsoo tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalasnya. Jika saja Kyungsoo tahu, ia tidak akan mengusulkan untuk melangsungkan pernikahan di resort ini. Kyungsoo tidak bisa membayangkan sedalam apa luka yang Chanyeol rasakan saat ini; berdiri sendirian di pesta pernikahannya tanpa satu pun keluarga. Dan Kyungsoo membuatnya menjadi lebih buruk dengan melakukan pernikahan itu di tempat ini. Kini, Kyungsoo mulai mengerti obsesi Chanyeol yang bersikeras menginginkan resort-nya.

Belum sempat Kyungsoo keluar dari zona berpikirnya, cipratan air mengenainya dengan telak dan membasahi bagian depan gaunnya dengan sempurna. Kyungsoo mendongak. Terkejut ketika menemukan seulas senyum jahil terukir di wajah Chanyeol.

"Aku tidak percaya kau melakukan ini!" pekik Kyungsoo kesal, mengundang tawa geli dari Chanyeol.

Tanpa berpikir panjang, Kyungsoo mendorong Chanyeol sekuat tenaganya. Kyungsoo tidak menyangka Chanyeol akan benar-benar jatuh, namun sepertinya tenaga Kyungsoo lebih kuat dari yang diperkirakannya karena kini Chanyeol sama basahnya dengan dirinya.

Kyungsoo tenggelam dalam gelak tawa. Dari bibir hatinya melukis tawa yang sangat jarang atau bahkan sudah tidak pernah lagi tercipta sejak tujuh tahun lalu. Ekspresi terkejut Chanyeol sungguh menghiburnya. Lalu dalam satu gerakan cepat Chanyeol bangkit berdiri dan berusaha menarik Kyungsoo. Beruntung refleks Kyungsoo cepat, hingga gadis itu berhasil menghindar meski tetap tidak bisa menghentikan tawanya. Kyungsoo berusaha melarikan diri, namun dengan gaunnya yang basah, Kyungsoo hanya mampu meraih dua langkah sebelum Chanyeol berhasil menangkapnya dari belakang dan membawanya kembali ke dalam air.

"Chan! Turunkan aku!" jerit Kyungsoo panik.

"Seperti permintaanmu," balas Chanyeol seraya melepaskan tangannya dari tubuh Kyungsoo dan membiarkan gadis itu jatuh.

Kyungsoo segera berdiri dan mencipratkan air ke arah Chanyeol, lalu berusaha mendorongnya lagi. Pergulatan itu terus berlangsung dan baik Kyungsoo maupun Chanyeol tidak sadar bahwa suara tawa mereka menarik perhatian separuh tamu undangan. Para fotografer bahkan sudah sibuk mengabadikan momen mereka itu dari berbagai angle yang berbeda. Namun Kyungsoo dan Chanyeol masih berada dalam gelembung suka cita mereka, karena mereka sama sekali tidak menyadarinya.

Hari itu, kala matahari terbenam dengan diiringi derai tawa juga deburan ombak yang menenangkan, sebuah kenangan telah terbekukan dengan sempurna.

Kenangan tentang Do Kyungsoo yang tertawa lepas dalam pelukan Park Chanyeol di hari pernikahan mereka.

.

.

.

T.B.C

Jangan lupa tinggalkan jejak ya :)

-GOMAWO-