Thank buat yang udah mau review. panggil aja gw Chan atau apalah yang kalian suka. Yang penting kagak thor, soalnya gw kagak punya palu. Btw gw seumuran sama duo maknae, udah tua kan ya :p tapi sikap masih anak SD maklum masa kecil kurang bahagia ㅋㅋㅋ. Sekian pidato dari saya :p.

.

.

.

.

AWAS TYPO

.

.

.

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

Suara gaduh yang berasal dari dapur berhasil menyentak Chanyeol keluar dari keseriusannya bermain game. Chanyeol mematikan iPad-nya, bersiap menyaksikan pertunjukan rutin yang selalu dilakukan Kyungsoo sepulangnya dari kantor. Hari ini genap tiga minggu mereka menikah—bukan berarti Chanyeol menghitungnya, Chanyeol hanya mengingatnya—dan setiap hari sejak mereka menikah Kyungsoo selalu menghabiskan waktunya di kantor. Setelah malam berubah larut, gadis itu akan pulang dengan wajah lelah juga tubuh yang nyaris ambruk. Karena itu tidak mengherankan setiap kali bergerak Kyungsoo akan menimbulkan keributan.

Dan Chanyeol sangat suka melihatnya. Dalam diam. Bersama senyum yang tak mampu diukir wajahnya, namun perlahan mewarnai binar matanya.

Kembali terdengar suara benda yang jatuh, disusul pekik kesal Kyungsoo. Tak lama kemudian ponsel Kyungsoo berdering dan gadis itu mengatur napas sebelum menjawabnya.

Chanyeol berusaha tidak mendengar percakapan Kyungsoo, namun pada akhirnya Chanyeol mengerti inti percakapan itu. Tidak sulit mengingat Kyungsoo sudah berurusan dengan hal yang sama; masalah pembangunan sebuah perumahan elit dengan taman rekreasi eksklusif di dalamnya. Proyek itu adalah proyek terbesar Kyungsoo yang pertama dengan jabatannya sebagai CEO, sehingga bebannya menjadi dua kali lipat lebih berat.

Kyungsoo menaiki tangga, yang Chanyeol asumsikan menuju kamarnya, namun tak lama kemudian gadis itu kembali turun. Kini dengan tangan yang dipenuhi berbagai berkas. Chanyeol mengerutkan kening, lalu membuka suara tanpa berpikir lagi.

"Kau akan pergi?" tanya Chanyeol.

"Ya. Aku harus kembali ke kantor," jawab Kyungsoo tanpa menghentikan kesibukannya memeriksa isi tas.

"Ini sudah larut malam," sahut Chanyeol.

"Beritahu aku sesuatu yang tidak aku tahu Chanyeol," balas Kyungsoo. Suaranya keluar lebih tajam dari yang diinginkannya, namun Kyungsoo tidak peduli. Ia sudah memiliki cukup banyak masalah.

"Mungkin kau tidak tahu bahwa manusia memiliki batas. Kau tidak bisa bekerja dua puluh empat jam sehari Kyungsoo. Ini sudah larut. Kau bisa kembali ke kantor besok pagi."

"Dan mungkin kau tidak tahu bahwa tidak semua orang bisa bersantai tanpa memikirkan bagaimana harus hidup. Aku tidak bisa bersikap acuh sepertimu Chan. Tidak setelah segala hal yang aku lakukan untuk mencapai posisi ini."

Keheningan merebak setelahnya. Kyungsoo tetap berdiri dengan tatapan tajam, sementara Chanyeol masih duduk di sofa dengan sebelah alis terangkat. Bertentangan dengan Kyungsoo yang memasang ekspresi kaku, Chanyeol justru menunjukkan wajah heran. Chanyeol menolak menjadi yang pertama memecah keheningan, namun ia sama sekali tidak menyangka ucapan Kyungsoo selanjutnya akan membuatnya kehilangan ketenangan.

Kyungsoo berkata, "Kau tidak akan pernah mengerti tentang tanggung jawab Chanyeol. Kau tidak tahu beban yang berada di bahuku. Karena kau hanya sibuk membuat dunia impian di layar kaca. Kau tidak tahu seperti apa hidup sesungguhnya."

Tidak tahu?

Seketika ingatan Chanyeol terlempar pada keluarganya. Pada segala sesuatu yang ia kira akan ia miliki selamanya. Segala sesuatu yang paling berharga baginya, namun terpaksa harus ia lepaskan atas satu alasan tak terbantahkan. Dan itulah hidup sesungguhnya.

Dalam satu gerakan cepat Chanyeol berdiri dan menghampiri Kyungsoo. Berbagai emosi melintasi wajahnya, namun Chanyeol tidak membiarkan Kyungsoo membacanya, karena Chanyeol membalas ucapan Kyungsoo dengan telak.

"Setidaknya aku mampu hidup dengan menjual impian itu. Aku tidak perlu mengorbankan segalanya. Karena pada intinya, kita berdua sama saja. Sama-sama seorang pelayan yang selalu mengikuti keinginan klien. Perbedaan antara kau dan aku hanya setipis benang; aku merasa bahagia, tidak tersiksa selama prosesnya. Sedangkan kau harus hidup dalam neraka yang kau ciptakan sendiri."

Kyungsoo terpaku. Tak lagi mampu memikirkan sesuatu untuk membalas Chanyeol. Karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Kyungsoo menyadari kebenaran ucapan Chanyeol itu.

Hanya saja Kyungsoo tidak mengira perasaan yang mengikuti kesadaran itu akan begitu menyakitkan.

Enam hari berlalu dengan ketegangan maksimal antara Chanyeol dan Kyungsoo. Jika sebelumnya interaksi mereka terbatas pada tatapan mata dan anggukan kepala yang singkat, kini mereka menguranginya hingga ke tahap tidak memedulikan satu sama lain.

Pernah sekali waktu, Kyungsoo menjatuhkan berkas-berkas setinggi gunung yang dibawanya ketika menuruni tangga, namun Chanyeol hanya terus melangkah tanpa melirik Kyungsoo sedikit pun. Dan kemarahan Kyungsoo yang berada di puncak semakin memaksa Kyungsoo untuk menambah ketinggiannya hingga menjadi super marah. Kyungsoo tahu tindakannya kekanakkan, namun Kyungsoo tidak bisa melupakan perkataan Chanyeol saat itu.

Kyungsoo enggan untuk mengakuinya, karena Kyungsoo tahu bahwa semua yang dikatakan oleh Chanyeol benar. Itulah tepatnya yang membuat Kyungsoo menjadi seorang pengecut, dan hanya semakin menambah rasa pahit dalam hatinya sendiri.

Sejak perdebatan itu, Kyungsoo merasa hidupnya semakin berat dan tidak menyenangkan.

Sungguh lucu, bukan? Seseorang yang hampir tidak dikenalnya berhasil memengaruhi hidupnya hingga sedemikian rupa. Dirinya, Do Kyungsoo, yang selalu memegang kendali penuh atas hidupnya kini mulai mempertanyakan banyak hal hanya karena kehadiran seorang Park Chanyeol dalam hidupnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Chanyeol. Lelaki itu bahkan berusaha keras untuk mempertahankan aksi diamnya, namun kebiasaannya untuk memperhatikan Kyungsoo tidak bersedia absen. Chanyeol mendapati dirinya semakin khawatir, karena Kyungsoo semakin sibuk dan terlihat semakin tertekan belakangan ini. Bahkan gadis itu terlihat sudah seperti tidak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya. Chanyeol mencoba mengesampingkan rasa ingin ikut campurnya—karena Kyungsoo dengan jelas menyiratkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan Chanyeol—namun Chanyeol tidak bisa melakukannya.

Hari ini adalah hari keenam perang dingin mereka, dan Chanyeol menyerah. Chanyeol berhenti berusaha meredam keinginannya untuk bersikap peduli. Mengikuti nalurinya yang telah terasa dalam melindungi seseorang, sampailah Chanyeol pada tempatnya saat ini. Pada sebuah kursi di halaman belakang rumah Lee Sooman, dengan sebuah papan catur di hadapannya.

Senja telah beranjak menuju langit kelam, sementara Chanyeol memperhatikan setiap langkah yang dilakukan Lee Sooman dengan hati-hati. Chanyeol harus mengakui kehebatan pria paruh baya di hadapannya itu, karena sungguh tidak mudah mengalahkannya. Setiap langkah yang dibuat pria itu penuh perhitungan dan jika Chanyeol tidak hati-hati, ia akan kalah dan menghilangkan kesempatan emasnya untuk mencapai kesepakatan itu.

"Aku tidak menyangka anak muda sepertimu bisa menandingiku yang menghabiskan seumur hidup untuk memainkan permainan ini," ucap Lee Sooman sambil terkekeh.

Chanyeol mengulas bibirnya membentuk senyum sopan seraya memindahkan pionnya. Berdoa sepenuh hati agar seluruh usahanya mempelajari permainan catur selama dua hari penuh—hingga mengorbankan waktu tidurnya juga waktu tidur para sepupu iparnya yang baru—tidak akan menguap sia-sia.

Selama sesaat tak ada suara apa pun, hingga beberapa menit kemudian, Chanyeol mendapatkan kesempatan untuk menutup permainan dengan satu langkah mematikan. Dan lelaki jangkung itu berhasil memenangkan permainan.

Refleks, Chanyeol mengepalkan tangannya dan menggumamkan kata 'yes!' dengan semangat yang menggebu. Mengundang tawa geli dari Lee Sooman, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya tertawa setelah kalah dari permainan catur yang amat dibanggakannya.

Lee Sooman menyandarkan tubuhnya, lalu berkata, "Kau benar-benar anak muda yang sangat menarik. Aku senang telah menerima tantanganmu hari ini. Sudah lama aku tidak bermain seperti ini. Kau mengingatkanku pada semangatku dulu ketika aku masih muda. Sesuai dengan kesepakatan awal kita, aku akan menyutujui rancangan bangunan yang diajukan oleh istrimu."

Chanyeol menjabat tangan Lee Sooman dan tersenyum dengan tulus. Tak lama kemudian Chanyeol pamit undur diri, masih dengan senyum gembira yang tak bisa disembunyikan wajahnya. Chanyeol sudah membayangkan ekspresi Jongdae dan Kris yang pasti bangga karena telah berhasil mengajarkan permainan catur itu dalam waktu singkat. Chanyeol mengingatkan dirinya untuk mentraktir kedua sepupu iparnya itu ketika mereka bertemu nanti.

Baru saja Chanyeol membalikkan tubuh, suara Lee Sooman kembali memanggilnya.

"Park Chanyeol."

Chanyeol membalikkan tubuh.

"Terima kasih." ucap Lee Sooman.

Sekali lagi, Chanyeol hanya tersenyum. Ia melambaikan tangan, lalu kembali melanjutkan langkah. Chanyeol tahu permainan catur tadi sangat menyenangkan dan mereka berdua menikmatinya, terlepas dari hasil akhirnya. Jika saja bisa, Chanyeol juga ingin mengucapkan terima kasih pada Lee Sooman karena telah memberi dirinya kesempatan untuk membuktikan dirinya juga taruhan konyolnya. Namun Chanyeol tahu hatinya masih belum sanggup mengambil langkah sejauh itu. Chanyeol berharap senyumnya sudah cukup untuk menutupi lubang yang tercipta karena ketidakmampuan mulutnya untuk mengucapkan terima kasih.

Satu hal yang tidak Chanyeol ketahui adalah alasan ucapan terima kasih Lee Sooman itu sama sekali tidak berhubungan dengan permainan catur yang baru saja mereka lakukan. Ucapan itu ditujukan untuk usaha yang telah Chanyeol lakukan demi Kyungsoo — sang istri. Chanyeol mengingatkan Lee Sooman pada dirinya dulu, ketika ia rela melakukan apa pun demi mendiang istri tercintanya.

Pada awalnya, Lee Sooman mengira pernikahan Chanyeol dan Kyungsoo hanyalah sebuah parade demi keuntungan perusahaan semata. Karena siapa yang akan menikah dengan terburu-buru hanya setelah tiga bulan menjalin hubungan? Namun Lee Sooman harus menarik ucapannya sendiri. Ia mendapatkan bukti nyata bahwa Chanyeol sungguh peduli pada Kyungsoo. Taruhan mereka pun dilakukan bukan karena Chanyeol ingin perusahaan Kyungsoo mendapat keuntungan, namun karena Chanyeol ingin Kyungsoo mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya sebagai CEO yang baru.

Lee Sooman dapat melihatnya; ketulusan juga kepedulian Chanyeol. Lee Sooman bahkan dapat merasakan kehangatan yang telah lama menghilang bersama dengan perginya cinta dalam hidupnya.

Itulah alasan pria paruh baya tersebut mengucapkan terima kasih pada Chanyeol. Di usianya yang telah menginjak 63 tahun, setelah kepergian istrinya hampir satu dekade yang lalu, akhirnya ia mendapatkan kembali satu kesempatan untuk melihat sebuah ketulusan.

Dan karena itu, Lee Sooman berharap Park Chanyeol tidak akan merasakan kehilangan yang sama seperti dirinya.

Kyungsoo memasuki kantornya pagi itu tanpa prasangka apapun. Benaknya telah penuh terisi dengan segala hal yang harus dikerjakannya, hingga Kyungsoo hampir berhasil melupakan perang dingin antara dirinya dan Chanyeol yang sudah genap berlangsung selama satu minggu.

Kyungsoo baru saja duduk di kursinya ketika pintu kantornya diketuk dan memunculkan sosok Tao serta seorang pria paruh baya di belakangnya. Kyungsoo terbelalak ketika menyadari bahwa pria itu adalah Lee Sooman.

Kyungsoo segera berdiri menyambut, lalu mereka duduk berhadapan di sofa yang terletak di sebelah kanan ruangan. Lee Sooman tidak melakukan basa-basi, karena pria itu langsung mengatakan maksud dari kedatangannya ke kantor Kyungsoo.

"Aku datang pagi ini untuk memberitahu bahwa aku telah menyetujui rancangan yang kau ajukan. Setelah ini aku akan memberikan tanggung jawab terhadap cucuku, Sunny, untuk menyelesaikan detail dari rancanganmu. Sekadar memastikan semuanya berjalan sesuai ekspektasiku. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dan proyek ini akan sukses," ucap Lee Sooman.

Kyungsoo kehilangan kata selama beberapa saat, tak menyangka dewi keberuntungan tengah memihak padanya. Segala hal yang ia perjuangkan akhirnya membuahkan hasil. Kini, semuanya benar-benar berjalan sempurna seperti yang Kyungsoo harapkan. Kyungsoo telah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan dirinya, sekaligus membalaskan dendamnya terhadap Luhan.

Kyungsoo langsung mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, lalu menanyakan beberapa detail lain yang langsung dijawab oleh pria itu tanpa ragu sedikitpun. Tak lama kemudian Lee Sooman pamit undur diri. Kyungsoo mengantar hingga ke pintu ruang kantornya. Ketika sekali lagi Kyungsoo mengucapkan terima kasih, Lee Sooman membalasnya dengan satu kalimat yang sungguh mengejutkan bagi Kyungsoo. Satu kalimat yang tak pernah Kyungsoo bayangkan akan didengarnya.

"Berterima kasihlah pada suamimu, karena kepeduliannya yang begitu besar terhadapmu berhasil membuatku mengambil keputusan ini," ujar Lee Sooman dengan seulas senyum tipis yang sarat makna.

Kyungsoo mematung sepenuhnya. Hanya mampu menatap punggung pria paruh baya yang terus berjalan menjauhinya. Dengan pikiran yang tak lagi sanggup memikirkan hal lain, selain sepasang mata berwarna hitam -kecoklatan yang sudah satu minggu diabaikannya secara sempurna.

Bagaimana mungkin di tengah perang dingin mereka, Chanyeol justru melakukan hal yang paling penting untuk dirinya? Mengapa Chanyeol melakukannya? Pikiran itu memenuhi separuh otak Kyungsoo. Dan kini, yang paling utama, apa yang harus dilakukan olehnya terhadap Chanyeol?

"Kyungsoo-ya," panggil Tao seraya menghampiri Kyungsoo yang terlihat seperti sedang berpikir.

Kyungsoo tersentak mendengarnya. Melihat ekspresi Tao yang kini dipenuhi senyum, Kyungsoo tahu bahwa Tao juga mendengar apa yang Lee Sooman katakan bebera saat yang lalu.

"Pergilah. Kau harus berterima kasih padanya," ucap Tao bersemangat.

Kyungsoo mengerjapkan mata bulatnya, lalu bertanya, "Apa kau terlibat dalam hal ini? Apa yang sebenarnya Chanyeol lakukan?"

"Chanyeol ingin membantumu. Karena itu aku memberikan data-data Lee Sooman padanya. Setelah itu Chanyeol menghubungi Jongdae dan Kris, dan hal selanjutnya yang kutahu adalah ia menantang Lee Sooman untuk bermain catur," jawab Tao.

"Bermain catur?" gumam Kyungsoo bingung.

Tao mengangguk, "Jongdae dan Kris mengajarinya selama dua hari penuh. Kemudian Chanyeol pergi ke rumah Lee Sooman dan bermain catur dengannya," jelas Tao.

Kini Kyungsoo mengerti. Alasan dibalik kepergian Chanyeol selama tiga hari penuh itu ternyata berhubungan dengan dirinya. Chanyeol menghabiskan waktunya demi dirinya, yang bahkan tak menganggapnya ada selama satu minggu ini.

Tanpa membuang waktu, Kyungsoo segera berbalik memasuki kantornya untuk mengambil tas serta kunci mobilnya. Ketika melewati Tao, sepupunya itu berseru akan mengosongkan jadwalnya hingga makan siang. Kyungsoo hanya membalasnya dengan satu lambaian tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.

Satu jam kemudian, Kyungsoo menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya. Ia segera melangkah memasuki rumah dengan langkah panjang dan cepat. Begitu masuk ke rumah dan menemukan Chanyeol sedang berjalan keluar dapur, Kyungsoo langsung melemparkan dirinya kepada Chanyeol. Kyungsoo memeluk tubuh atletis Chanyeol dengan sangat erat sebelum mengucapkan terima kasih dengan begitu bahagia.

"Terima kasih Chanie, terima kasih" ucap Kyungsoo seraya mendongak menatap Chanyeol.

Selama sesaat Chanyeol kehilangan kemampuannya untuk merespons. Segalanya terjadi begitu cepat; Kyungsoo memeluknya kemudian mengucapkan terima kasih. Dan yang paling mengejutkan Kyungsoo memanggilnya dengan sangat manis yang tak pernah Kyungsoo lakukan sebelumnya. Bahkan gadis itu melakukannya dengan wajah dipenuhi senyum. Senyum tulus pertama yang pernah Chanyeol lihat dalam wajah Kyungsoo.

Chanyeol terkesima melihatnya. Chanyeol hampir melakukan sesuatu yang bodoh—mencium bibir hati Kyungsoo yang berkilau, misalnya—jika saja Kris tidak memecahkan keheningan di antara mereka.

"Maaf menganggu kalian, namun aku harus minum sekarang juga. Kalian bisa meneruskan adegan pelukan itu di mana pun selain jalan menuju dapur," ucap Kris datar.

Kyungsoo langsung menarik tangannya dan mundur dengan kepala menunduk. Semburat merah mewarnai wajahnya dengan begitu jelas, seakan menegaskan pemikiran Chanyeol bahwa pelukan tadi benar-benar tulus dilakukan Kyungsoo. Bukan hanya untuk drama mereka.

"Oh, ayolah, Soo. Jangan malu. Lanjutkan adegan mesra kalian. Aku penasaran ke mana hal itu akan berlanjut. Anggap saja kami tidak ada," tambah Jongdae dengan seringai menggoda di wajahnya.

Kyungsoo menatap Jongdae dan Kris secara bergantian dengan kening berkerut, lalu bertanya, "Apa yang kalian lakukan di sini?"

"Menghabiskan persediaan makananmu," jawab Jongdae dengan mulut penuh, entah makanan apa yang dimakannya.

Kris mengangkat bahu, tetap sibuk dengan gelas berisi air putihnya.

Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Chanyeo, yang hanya membalasnya dengan senyum salah tingkah. Tiba-tiba Kyungsoo merasa jantungnya berdebar resah. Ia teringat sikap spontannya tadi, yang langsung memeluk Chanyeol begitu saja. Entah apa yang merasukinya.

"Aku akan kembali ke kantor," ucap Kyungsoo seraya membalikkan tubuh, namun gerakannya terhenti oleh tangan Chanyeol.

"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Chanyeol. Ia sudah mendengarnya, namun ia sama sekali tidak keberatan untuk mendengarnya satu kali lagi.

"Aku mengucapkan terima kasih. Karena kau sudah membantuku untuk meyakinkan Lee Sooman," jawab Kyungsoo pelan.

Chanyeol membalasnya dengan seulas senyum. Gadis di hadapannya sudah kembali menjadi Kyungsoo yang tak tersentuh. Sikap spontannya itu sudah menguap, menghilang entah ke mana. Tiba-tiba saja Chanyeol ingin melihatnya lagi dan ingin mendengar saat gadis cantik itu memanggil namanya. Chanyeol merasa—selama sesaat—ketika Kyungsoo menyebut nama dan tersenyum padanya sebebas itu, segalanya menjadi penuh dengan kemungkinan. Chanyeol tak lagi merasa kesepian. Dan Chanyeol baru menyadarinya; Chanyeol membutuhkan teman.

"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Chanyeol lirih. Tak ingin kedua sepupu barunya mencuri dengar.

Kyungsoo mengerjap, kemudian mengangguk. Dan menurut Chanyeol itu terlihat lucu.

"Jadilah temanku," pinta Chanyeol.

Kyungsoo memandang wajah penuh harap Chanyeol tanpa mampu berpaling. Permintaan Chanyeol terdengar begitu tulus. Kyungsoo tenggelam bersama pikirannya, tahu bahwa permintaan sederhana itu merupakan jeritan terdalam yang dimiliki Chanyeol. Saat ini, pria yang berdiri di hadapan Kyungsoo bukanlah Park Chanyeol sang sutradara terkenal yang mendekap segala kesempurnaan. Melainkan Park Chanyeol yang telah kehilangan seluruh bagian terpenting dalam hidupnya; Park Chanyeol yang tak memiliki siapapun selain dirinya sendiri.

Maka dengan satu anggukan kepala, Kyungsoo menyanggupi permintaan Chanyeol. Gadis itu lalu mengulurkan kedua tangannya, sementara Chanyeol menyambutnya dalam rengkuhan hangat. Dan mereka menyepakati kompromi itu dengan satu pelukan tulus juga jantung yang berdegup tak menentu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C

Jangan lupa tinggalkan jejak :)

-GOMAWO-