Maaf ye kalau banyak typo, sebenernya gw udah hati-hati banget saat ngedit tapi tetep aja masih ada aja yang kelewatan. Gw bakalan lebih teliti lagi selanjutnya biar kagak ada typo bertebaran :).

.

.

.

.

.

.

Pairing : CHANSOO

cast : -SULAY -DAEMIN -HUNHAN -KAIBAEK

.

.

.

.

.

.

AWAS TYPO

.

.

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

Chanyeol terduduk di atas tempat tidurnya dengan napas yang berkejaran. Tak ada yang berubah dari mimpi yang mengisi tidurnya; Chanyeol masih memimpikan hari bahagia terakhir dalam hidupnya. Chanyeol tidak tahu kapan mimpi itu akan berakhir, hanya saja Chanyeol sudah lelah berusaha mengusirnya. Kini, Chanyeol berada pada titik yang benar-benar membuatnya menyerah. Alih-alih melawan, Chanyeol justru mencoba berkawan dengan lukanya.

Dengan satu gerakan yang sudah ratusan kali dilakukannya, Chanyeol beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar khususnya; kamar untuk menonton. Rutinitasnya sejak beberapa bulan yang lalu. Chanyeol begitu tenggelam bersama pikirannya, hingga tidak menyadari sepasang mata hitam kelam mengikuti gerakannya dengan pandangan nanar.

Kyungsoo memasuki sebuah rumah sederhana bercat kuning dengan halaman yang dihiasi bunga beraneka warna. Rumah itu terletak di sudut kota yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Pohon-pohon besar yang tumbuh bebas di sekitar rumah pun menyempurnakannya, memberikan kesan menenangkan dan damai.

Rumah ini adalah rumah tempat ibunya hidup selama tujuh tahun. Tempat di mana ibunya beristirahat dan berusaha untuk bangkit dari lubang depresi yang mengurungnya. Meskipun belum bisa pulih sepenuhnya, setidaknya ibunya sudah mengalami banyak kemajuan dalam setahun terakhir. Ibunya sudah bersedia bicara, berjalan di sekitar rumah, bahkan sesekali memasak. Dokter pun sudah mengurangi jadwal kunjungan menjadi satu kali setiap bulannya. Sungguh peningkatan yang melegakan bagi Kyungsoo.

Kyungsoo selalu datang menjenguk ibunya kapan pun ia memiliki waktu luang. Tak terkecuali hari ini. Kyungsoo menemukan ibunya sedang duduk merajut di ruang tamu, di sudut kanan ruangan, tempat kursi goyangnya berada. Ibunya—Yoona— mengenakan baju terusan berwarna cokelat tua yang nampak kontras di kulitnya. Rambutnya yang berwarna merah gelap kini mulai kelabu, sementara kerutan di sudut matanya tidak dapat disembunyikan. Meski begitu, ibunya tetap terlihat cantik. Dengan ketenangan juga ketegaran yang terpatri dalam setiap helaan napasnya, Yoona menjadi wanita paling cantik di mata Kyungsoo.

Tanpa kata Kyungsoo berlutut di depan ibunya, meletakkan kepalanya di atas pangkuan ibunya, kemudian membiarkan detak jantung berlalu bersama waktu.

"Eomma merindukanmu," bisik Yoona seraya menyentuh rambut hitam Kyungsoo yang terurai dengan lembut.

Kyungsoo menempelkan tangan ibunya ke pipinya, kemudian tersenyum. Meresapi perasaan damai yang selalu menyebar di hatinya dari sentuhan-sentuhan yang ibunya berikan.

"Apakah kau lapar? Ingin Eomma buatkan sesuatu?" tanya Yoona.

Kyungsoo menggelengkan kepala, masih tersenyum dengan ekpresi yang begitu bahagia. Kyungsoo tidak percaya Tuhan masih memberikannya kesempatan kedua untuk merasakan kasih sayang ibunya. Bagi Kyungsoo, ibunya adalah satu-satunya tempat berpulang. Tempat ia beristirahat sejenak. Tempat ia memupuk harapan, juga menyemai semangat. Tak ada yang lebih baik selain memiliki ibunya dalam hidupnya.

Kyungsoo selalu menceritakan segala hal pada ibunya. Kyungsoo berusaha menjaga ceritanya tetap di jalur yang mengindikasikan bahwa ia bahagia, hingga menceritakan segelas susu yang amat digemarinya pun terasa penting. Meski tidak pernah mendapat respons hingga satu tahun lalu, namun Kyungsoo tidak pernah berhenti. Kyungsoo juga selalu menghindari topik mengenai ayahnya dan kakaknya, karena Kyungsoo yakin cerita mengenai mereka berdua tidak akan membantu ibunya untuk cepat sembuh.

"Di mana suamimu?" tanya Yoona kemudian.

"Ia sedang pergi ke Los Angeles. Ada pekerjaan yang harus diselesaikannya," jawab Kyungsoo jujur.

Yoona tahu mengenai pernikahan Kyungsoo, sama seperti orang-orang lainnya, meskipun ia tidak datang di hari pernikahan anaknya itu. Yoona hanya tidak sanggup kembali ke kehidupan di mana terdapat Siwon dan Luhan di dalamnya. Yoona juga belum pernah bertemu dengan menantunya itu. Entah mengapa, Kyungsoo enggan untuk memperkenalkannya. Namun melihat keadaan putrinya yang kini lebih baik, Yoona percaya pilihan putrinya tidaklah salah. Yoona tidak peduli pada hal lainnya, selama menantunya itu bisa menjaga dan membahagiakan putrinya. Karena di atas segalanya, Yoona hanya ingin Kyungsoo bahagia.

"Apa yang ingin Eomma lakukan denganku hari ini?" tanya Kyungsoo.

"Menyelesaikan rajutan ini," jawab Yoona tanpa ragu.

Seketika Kyungsoo mengerucutkan bibirnya. Kyungsoo tidak suka merajut. Lebih tepatnya tidak bisa. Kyungsoo hanya akan menghancurkan karya ibunya. Namun jika ibunya ingin melakukan itu, apa yang bisa Kyungsoo lakukan?

Tiba-tiba Yoona tertawa, lalu menyentuh sekilas bibir putrinya, "Eomma bercanda. Eomma tahu kau tidak suka merajut. Bagaimana jika kita membuat bibimbap kesukaanmu?"

Kyungsoo langsung mengangguk setuju, membuat ibunya kembali tertawa.

Sisa hari itu mereka lewati dengan berkutat di dapur. Lebih tepatnya Yoona sibuk memasak, sementara Kyungsoo sibuk mencicipi segala hal. Canda tawa kerap terdengar, hingga malam tiba dan Kyungsoo memutuskan untuk pulang. Ibunya membutuhkan istirahat.

"Aku akan kembali minggu depan Eomma," ucap Kyungsoo sebelum masuk ke mobilnya.

Tanpa disangka ibunya menghampirinya, kemudian memeluknya erat. Selama sesaat Kyungsoo terhanyut, membiarkan dirinya kembali bermetamorfosa menjadi gadis kecil yang selalu membutuhkan pelukan ibunya sebelum pergi tidur.

"Eomma akan menunggumu Kyungie. Jangan bekerja terlalu keras dan tidurlah yang cukup," balas Yoona lembut.

Kyungsoo mengangguk, lalu mengurai pelukan. Ibunya masih belum melepaskannya, kini sibuk mengelus pipi Kyungsoo yang pucat karena tidak tersentuh make-up.

"Kau harus memberikan dirimu kesempatan untuk bahagia, Kyungie-a. Karena tidak ada yang lebih berharga bagi Eomma selain kebahagiaanmu," bisik Yoona.

Kyungsoo kembali mengangguk. Setelah satu kecupan singkat di pipi ibunya, Kyungsoo masuk ke mobil dan meninggalkan rumah sederhana bercat kuning itu.

Tak sampai dua jam kemudian, Kyungsoo sudah sampai di rumahnya di pusat kota. Kyungsoo mengambil sebotol air mineral dari lemari es, kemudian melihat sekelilingnya. Rumahnya terasa hampa. Tanpa Chanyeol yang biasanya selalu ada, rumahnya menjadi kosong. Kyungsoo benci sendirian, namun pengurus rumahnya hanya datang di pagi hari dan pulang di sore hari. Sedangkan Chanyeol baru kembali minggu depan. Apa yang harus Kyungsoo lakukan?

Tiba-tiba saja sebuah ide melintas di kepala Kyungsoo. Mungkin bukan ide yang bagus, namun Kyungsoo tidak bisa menghentikan dorongan yang disebabkan rasa penasarannya. Kyungsoo beranjak menaiki tangga menuju lantai dua, kemudian berdiri di depan pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamar Chanyeol. Kyungsoo sering melihat Chanyeol memasuki kamar ini di tengah malam, entah untuk apa. Karena itu Kyungsoo merasa penasaran dengan isi kamar ruangan tersebut.

Perlahan, dengan telapak tangan yang mulai terasa dingin, Kyungsoo menyentuh handle pintu dan membukanya. Kyungsoo tahu pintu itu tidak terkunci—karena setiap malam Chanyeol selalu masuk ke dalamnya begitu saja lengkap dengan wajah kusut yang mengantuk—dan ia melangkah masuk. Pemandangan yang menyambutnya sungguh di luar dugaan. Tanpa sadar Kyungsoo sudah membayangkan hal-hal aneh di dalamnya, namun ternyata hanya ada ruangan biasa. Ruangan itu dilapisi peredam suara, sebuah layar berukuran besar dengan berbagai alat di hadapannya, juga sebuah sofa yang terlihat sangat nyaman.

Kyungsoo melangkah menuju rak setinggi langit-langit yang dipenuhi berbagai macam alat untuk menyimpan rekaman. Semuanya berjejer rapi berdasarkan jenisnya, lalu diurutkan berdasarkan waktu. Kyungsoo memutuskan untuk duduk di sofa, mengambil remote, kemudian menonton video terakhir yang diputar.

Video berlatarkan sebuah rumah yang penuh terisi senyum bahagia. Balon dan pita menghiasi seluruh penjuru rumah, hingga akhirnya kamera terfokus pada seorang gadis berambut pirang dengan kue juga lilin ulang tahun berangka duabelas di hadapannya. Gadis itu tersenyum lebar ke arah kamera, lalu berkata, "Cepat ke sini, Chan! Ayo tiup lilinnya!"

Kamera bergoyang sesaat, kemudian sosok Chanyeol yang terlihat kurus namun sangat tampan muncul. Mereka berdua berdebat selama sesaat, lalu perdebatan itu dimenangkan oleh sang gadis—yang setelah diteliti sangat mirip Chanyeol—dan mereka berdua meniup lilin bersamaan. Begitu lilin padam, Chanyeol segera meraup kue ulang tahun cantik di hadapannya dan memolesnya di wajah saudari kembarnya. Sontak teriakan menggema, disusul ledak tawa Chanyeol, dan aksi melempar kue tak terelakkan. Video berakhir dengan senyum bahagia Chanyeol dan saudari kembarnya yang berada dalam pelukan erat kedua orangtuanya.

Dengan gerak perlahan, Kyungsoo menyusuri tumpukan alat perekam yang berada di meja. Tatapannya terhenti pada sebuah tempat CD bertuliskan "Mom's Birthday July 2013″. Kyungsoo memasang CD itu, kemudian kembali ke sofa.

Video dibuka dengan tampilan sebuah karangan bunga mawar merah. Kamera beralih menyorot sebuah dapur yang penuh berisi barang pecah-belah bernuansa putih, juga dinding yang dipenuhi foto, memberikan kesan 'rumah' yang sangat pekat. Sebuah meja makan unik dengan enam kursi—yang warnanya berbeda-beda—menjadi titik sentral ruangan. Di meja itu terdapat berbagai macam hidangan, termasuk tumpukan donat berbentuk piramida dengan satu lilin di atasnya.

"Chanyeol, berhenti bermain dengan benda itu. Datang ke sini dan bantu aku," ucap seorang pria paruh baya dari meja dapur yang terletak tepat di belakang meja makan.

Kamera diletakkan, lalu digeser beberapa kali hingga menyorot langsung ke meja makan. Tak lama tubuh tinggi tegap Chanyeol terlihat berjalan menuju pria yang memanggilnya itu.

"Apa yang harus kulakukan, Appa? Semua sudah sempurna. Kau telah menyelesaikannya dengan hebat," ucap Chanyeol.

"Kau mengatakan itu agar aku tidak menyuruhmu memotong sayuran, bukan? Aku tahu kau tidak menyukainya. Jika saja Junmyeon yang berada di sini, aku yakin ia tidak akan menunggu dipanggil untuk membantuku," balas ayah Chanyeol.

Terdengar suara-suara, membuat Chanyeol dan ayahnya bertatapan, lalu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Semua selesai bersamaan dengan datangnya tiga orang ke dalam dapur; gadis pirang yang serupa dengan Chanyeol, seorang pria berambut cokelat, juga seorang wanita bergaun hijau yang memakai penutup mata. Mereka semua berdiri mengelilingi meja makan, lalu wanita bergaun hijau itu—yang Kyungsoo tebak adalah ibu Chanyeol—melepas penutup matanya dan terkesiap. Tepuk tangan terdengar, diiringi sorak bahagia. Setelah itu mereka duduk dan dimulailah makan malam sekaligus perayaan ulang tahun itu.

"Selamat ulang tahun, Eomma. Aku menyayangimu," ucap saudari kembar Chanyeol.

"Aku berdoa untuk kesehatanmu juga kebahagiaanmu, Eomma," timpal pria berambut cokelat.

"Terima kasih, Yixing, Junmyeon." balas ibu Chanyeol dengan senyum gembira.

Ayah Chanyeol menyentuh tangan istrinya, lalu mengecupnya sebelum berkata, "Selamat ulang tahu, Yeobo. Kau adalah hidupku. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu," sahut ibu Chanyeol seketika. Nyaris seperti gerak refleks.

Yixing menatap Chanyeol yang duduk di seberangnya, "Apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu pada Eomma?" tanyanya.

Chanyeol, yang sedang sibuk mengunyah sandwich dalam gigitan besar, menyunggingkan seringai lebar sebelum menelan makanannya. Alhasil makanannya masuk ke jalur yang salah dan Chanyeol tersedak. Ibu Chanyeol langsung menyodorkan segelas air, sementara Yixing dan Junmyeon terbahak.

"Sudah kukatakan padamu, Yie. Jangan ajak kakakmu ini bicara ketika ia sedang makan. Kau bisa membunuhnya," ucap ayah Chanyeol sambil menggelengkan kepalanya.

Yixing tetap terbahak, membuat wajah Chanyeo semakin tertekuk. Chanyeol berdeham, lalu menatap ibunya dan menyunggingkan senyum lembut. Seakan lupa bahwa ia baru saja tersedak dengan hebatnya.

"Eomma, terima kasih telah melahirkanku ke dunia ini. Terima kasih sudah memberiku seorang adik, yang meskipun selalu menyebalkan, namun sangat kusayangi. Terima kasih telah mengizinkanku untuk memiliki satu saudara tambahan, yang kini dapat kupercaya untuk menjaga adikku. Terima kasih sudah mencintai Appa dengan segala kemalasannya untuk membersihkan rumah. Dan yang paling utama, terima kasih karena telah lahir ke dunia ini juga bertahan hingga detik ini. Meskipun kami sering merepotkanmu juga membuatmu khawatir, kau tahu kami mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Jadi, terima kasih, Eomma." ucap Chanyeol.

Mendengar itu, tangis ibu Chanyeol pecah tak terbendung. Ia beringsut memeluk Chanyeol yang berada di sisinya, membiarkan air mata bahagianya mengalir. Ayah Chanyeol memeluk dari sisi lain, disusul Yixing dan Junmyeon. Keharuan itu terpecahkan suara nyaring yang dengan cepat dikenali sebagai tanda seseorang telah membuang angin. Sontak pelukan itu bubar, digantikan dengan wajah penuh selidik yang setengah tertutup tangan yang menjepit hidung.

"Astaga, siapa orang bodoh yang buang angin dengan bau seperti ini?" desis Yixing.

"Tanyakan pada kakakmu, Yixing. Karena aku tahu hanya ada satu orang di dunia ini yang tidak bisa menutup lubang pembuangan anginnya," sahut Junmyeon geli.

"Chanyeol, aku akan membunuhmu!" jerit Yixing seraya melayangkan kepalan tangan mungilnya pada baru kekar Chanyeol.

Chanyeol tertawa, lalu mengecup pipi ibunya dan berkata, "Aku menyayangimu, Eomma."

Setelah itu Chanyeol bangkit berdiri dan berlari menghindari serbuan Yixing. Video ditutup dengan gelak tawa orangtua Chanyeol juga Junmyeon, berlatarkan jeritan Yixing juga seruan Chanyeol.

Kyungsoo tertegun. Bahkan lama setelahnya, Kyungsoo tidak bisa melakukan apa pun selain mencoba bernapas dengan benar. Tubuhnya masih membeku, sementara berbagai perasaan membanjirinya. Kyungsoo menatap layar yang kini berubah hitam sempurna dengan tatapan kosong. Benaknya sibuk berpacu, namun tubuhnya masih menolak untuk bergerak.

Malam itu, diiringi dengan matanya yang tak ingin menutup, Kyungsoo menyaksikan segala kebahagiaan keluarga sempurna Chanyeol dalam bisu. Kyungsoo terus memutar rekaman-rekaman itu satu persatu. Kembali menyaksikan hal menakjubkan yang selalu diimpikannya; sebuah keluarga harmonis yang penuh cinta. Kini Kyungsoo mengerti, hidup selalu memberikan luka pada setiap orang. Hanya jenisnya saja yang berbeda, namun kadarnya sama.

Ketika akhirnya pagi menjelang, Kyungsoo melangkah keluar kamar dengan satu keputusan yang ia harap mampu mengubah sesuatu. Mungkin tidak besar, namun Kyungsoo berharap hal yang akan dilakukannya ini dapat memperbaiki kesempurnaan hidup Chanyeol yang telah terenggut tanpa sisa.

Satu minggu kemudian~

.

.

.

Chanyeol keluar dari kamarnya dengan wajah kusut juga mulut menguap lebar. Kakinya melangkah menuruni tangga dengan cepat, kemudian berbelok menuju dapur. Langkah Chanyeol terhenti secara tiba-tiba ketika melihat seseorang telah berada di dapur dan sedang sibuk meletakkan dua mangkuk di samping kotak sereal.

Kyungsoo.

Tubuh mungilnya masih terbalut piyama panjang berwarna putih. Membuatnya terlihat seperti gadis kecil. Rambut gelapnya digelung tinggi ke atas, membuat anak-anak rambutnya mencuat tak tentu arah. Tangannya sibuk sementara wajahnya berkerut serius. Sungguh pemandangan yang mengejutkan bagi Chanyeol, yang sudah terbiasa sendirian selama beberapa bulan terakhir.

Chanyeol tetap berdiri diam dengan menatap lekat pada Kyungsoo. Ini hanya perasaannya atau Kyungsoo memang terlihat semakin cantik? Ada yang berbeda dengan gadis itu. Chanyeol tidak tahu apa, namun melihat Kyungsoo yang nampak tak memiliki beban di hadapannya membuat Chanyeol ingin melarikan jarinya di wajah cantik itu. Menyentuh pipinya yang terlihat pucat, lalu membelai bibir hatinya yang ranum.

Tiba-tiba Kyungsoo menoleh, membuat Chanyeol tersentak dari lamunannya yang semakin tak terarah.

"Oh. Kau sudah bangun. Aku tidak tahu sereal apa yang kau sukai, jadi untuk hari ini aku memilih sereal kesukaanku," ucap Kyungsoo seraya menuangkan susu ke dalam mangkuknya yang sudah terisi sereal.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Chanyeol bingung.

Kyungsoo langsung menghentikan kegiatannya, lalu menatap Chanyeol dengan tak kalah bingung.

"Menyiapkan sarapan," jawab Kyungsoo polos.

"Untukku?" tanya Chanyeol lagi. Kini nada tidak percaya mewarnai suaranya.

Kyungsoo mengangguk. "Aku ingin menepati janjiku. Karena aku sibuk bekerja di hari biasa dan selalu pergi menjenguk ibuku di hari libur, maka satu-satunya cara untuk berteman denganmu adalah melalui sarapan pagi. Kau keberatan?" balas Kyungsoo.

"Tidak. Tentu saja tidak," sahut Chanyeol. Tanpa ragu, ia duduk di meja makan dan mulai memakan sereal bercampur susu miliknya.

Sarapan itu bukan sarapan terbaik yang pernah Chanyeol rasakan, namun sarapan itu adalah sarapan terbaik yang pernah Chanyeol miliki sepanjang hidupnya.

Setelah satu mangkuk tambahan, akhirnya Chanyeol menyelesaikan sarapannya. Ia menatap Kyungsoo yang masih berkutat di mangkuk pertama, lalu tanpa sadar tersenyum.

"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kyungsoo. Jantungnya berdesir demi melihat senyum Chanyeol yang terlihat begitu kekanakan, hingga memunculkan satu lesung di pipi kirinya.

"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Chanyeol tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo.

"Selain mempersiapkan diri untuk pesta besok malam? Tidak ada," jawab Kyungsoo.

Chanyeol mengangguk. Ia sudah memperkirakannya. Besok malam akan diselenggarakan pesta resmi untuk perayaan Kyungsoo sebagai CEO yang baru. Pesta itu kurang-lebih diisi dengan acara berbasa-basi juga jamuan makan malam.

"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat. Bersiaplah," ucap Chanyeol seraya bangkit berdiri.

"Ke mana?" tanya Kyungsoo.

Chanyeol hanya membalasnya dengan satu kedipan singkat.

Kyungsoo menatap arus sungai di hadapannya dengan pikiran sibuk mengutuki kebodohannya yang tidak cepat menyadari maksud dari ajakan Chanyeol. Seharusnya Kyungsoo sudah bisa menebak— apalagi dengan bergabungnya Jongdae dan Tao— bahwa acara pergi mereka ini tidak akan berakhir di tempat biasa seperti mall atau restoran. Karena kini, mereka berada di Hantangang, Gangwon-do, untuk rafting. Memikirkan satu kata itu saja sudah membuat Kyungsoo merinding. Ia bukan salah satu penikmat olahraga ekstrem, apalagi yang memiliki risiko besar seperti rafting. Apa yang sebenarnya Kyungsoo pikirkan hingga ia bisa diseret tanpa perlawanan ke tempat ini?

"Ayolah, ini tidak seburuk kelihatannya, Soo. Aku bahkan sudah memilihkan tempat paling aman untuk pemula sepertimu. Semua akan baik-baik saja. Sungai ini bahkan tidak terlalu besar," ucap Jongdae— entah untuk keberapa kalinya— karena Kyungsoo tak juga bersedia naik ke perahu meski sudah mengenakan pelampung sejak limabelas menit yang lalu.

Kyungsoo tetap diam. Tak bergeser sedikit pun dari tempatnya.

"Kyungsoo-ya, kau harus mencobanya. Yang dikatakan Jongdae benar," timpal Tao bersemangat. Gadis itu memang pecandu kegiatan ekstrem seperti Jongdae. Jangan tertipu penampilannya yang feminim dan lembut.

"Kalian bisa melakukannya. Aku akan menunggu di sini," balas Kyungsoo akhirnya.

Mereka semua menatap Kyungsoo tanpa mengatakan apa pun. Tahu bahwa keputusan Kyungsoo itu sudah final dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubahnya. Namun tidak demikian halnya dengan Chanyeol. Tak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.

Chanyeol berdiri di hadapan Kyungsoo, lalu memakaikan helm keselamatan di kepalanya. Kyungsoo melayangkan tatapan protes, namun Chanyeol hanya membalasnya dengan seulas senyum. Chanyeol memeriksa seluruh peralatan keselamatan yang menempel di tubuh Kyungsoo, lalu mendesah puas.

"Aku tidak akan melakukannya," bisik Kyungsoo tegas.

"Ya, kau akan melakukannya. Kau sudah bersedia untuk menjadi temanku dan semua temanku selalu melakukan ini bersamaku," balas Chanyeol tak mau kalah.

Kyungsoo menggigit bibirnya, membuat Chanyeol mengharapkan balasan yang tak kalah sengit, namun Kyungsoo mengejutkannya dengan sebuah pengakuan lirih.

"Aku tidak bisa berenang," ucap Kyungsoo.

Butuh segala kendali dalam diri Chanyeol untuk tidak menunduk dan menyambar bibir Kyungsoo yang kini bergetar. Astaga, Chanyeol benar-benar harus memenuhi kebutuhannya. Atau ia akan terus berpikir yang tidak-tidak di sekitar gadis itu.

Chanyeol menyentuh kedua bahu Kyungsoo, lalu berkata, "Aku akan menjagamu. Kau percaya padaku?"

Kyungsoo mengerjap, tenggelam dalam tatapan Chanyeol yang tak memiliki keraguan sedikit pun. Dan entah untuk alasan apa, Kyungsoo sungguh percaya Chanyeol akan menjaganya. Chanyeol tidak akan membiarkan dirinya terluka. Kepercayaan itu memang absurd, mengingat waktu singkat yang mengikat mereka bersama, namun Kyungsoo tidak bisa menghentikan dirinya untuk mempercayai Chanyeol.

Perlahan Kyungsoo menganggukkan kepalanya, membiarkan Chanyeol membimbingnya menuju perahu, yang disambut sorak-sorai para sepupunya. Beberapa menit kemudian persiapan telah selesai dan mereka siap mengikuti arus sungai.

Menit-menit awal dihabiskan Kyungsoo untuk menormalkan pernapasannya. Ia tidak ingin jatuh pingsan. Sementara para sepupunya berteriak senang dan perahu mereka bergejolak mengikuti gerak air. Tiba-tiba sebuah tangan besar menangkup tangan Kyungsoo yang terkepal. Kyungsoo membuka matanya dan melihat Chanyeol tersenyum menyemangatinya. Mengabaikan jantungnya yang berdebar resah— juga rasa gugupnya karena takut— Kyungsoo mulai menyatu dengan adrenalinnya. Tak membutuhkan waktu lama hingga pergerakan perahu tak lagi membuat Kyungsoo takut. Kyungsoo mulai menikmatinya.

Hari itu, di bawah sinar matahari yang menyelimuti seruan riang mereka, Kyungsoo membiarkan dirinya tertawa lepas. Kyungsoo membiarkan dirinya kembali merasakan satu rasa yang telah lama diabaikannya; kebahagiaan.

Do Kyungsoo bahagia.

Ballroom hotel berbintang lima itu dipenuhi para tamu undangan dengan pakaian rancangan para desainer terbaik negeri. Perhiasan, tas bermerek, juga nama belakang keluarga menjadi pembicaraan hangat seiring berjalannya waktu. Jamuan makan malam baru saja selesai dan kini mereka semua berbaur dengan gelas-gelas cantik berisi wine di tangan.

Luhan, dengan gaun hitam panjang yang memperlihatkan bahunya, berdiri di sudut ruangan dengan mata tertuju pada adik kecilnya. Ya, benar, pada Do Kyungsoo yang kini tengah tertawa dalam rengkuhan lengan kokoh suaminya.

Malam ini adalah pesta perayaan untuk Kyungsoo sebagai CEO yang baru, menggantikan Do Siwon, setelah mengalahkan Xi Luhan dalam prosesnya. Kyungsoo berdiri dalam balutan gaun putih gading juga rambut tergerai indah. Senyum bahagia tersungging manis di bibir merah mudanya, tanpa kesan palsu sedikit pun. Diselingi dengan tawa lembut karena bisikan suaminya, yang senantiasa berdiri di sisinya juga menatapnya dengan penuh cinta, tak akan ada satu pun orang yang membantah bahwa Do Kyungsoo kini sedang mendekap kesempurnaan.

Memiliki jabatan, otak cemerlang, wajah yang tak mudah terlupakan, kerjasama yang menjanjikan dengan para koleganya, juga suami yang begitu diidamkan oleh seluruh wanita di penjuru bumi. Bagaimana mungkin Kyungsoo tidak sempurna? Kyungsoo mungkin hampir mati bahagia karena seluruh kesempurnaannya itu.

Jenis kesempurnaan yang tidak pernah dimiliki Luhan.

Hidup di jalanan kota Seattle sejak waktu yang bisa diingatnya, kemudian dikirim dari satu rumah ke rumah yang lain demi sepiring makanan juga sebuah tempat untuk beristirahat, kata sempurna tak kan pernah ada di dalam hidup Luhan. Bahagia bahkan tak pernah menjadi satu kata yang hinggap di kepalanya. Karena hidup Luhan sungguh menyedihkan dan penuh siksaan. Berbeda dengan hidup adik kecilnya yang begitu bahagia dan penuh ketenangan.

Kini, saat Luhan memandangi adiknya yang sedang berbincang penuh semangat dengan para sepupunya, rasa iri itu terus berkembang hingga menyesakkannya. Rasa iri yang sudah menemaninya seumur hidup. Iri karena bukan dirinya yang berada di posisi Kyungsoo. Iri karena bukan dirinya yang memiliki keluarga utuh. Juga iri karena setelah seluruh penderitaannya pun, hidup Kyungsoo masih selalu lebih baik darinya. Seakan kebahagiaan selalu memihak Kyungsoo dan tidak sudi menyentuh Luhan sedikit pun.

Karena itu, Luhan kembali meneguhkan hatinya. Jika hidup memberikan kebahagiaan untuk Kyungsoo, maka Luhan akan mengambilnya. Dengan cara apa pun.

Sekalipun harus mengorbankan hatinya.

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C

Jangan lupa tinggalkan jejak :)

-GOMAWO-