Pairing : CHANSOO
Cast : -SULAY -KAIBAEK -HUNHAN -DAEMIN
.
.
.
.
AWAS TYPO
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
Fajar belum juga menyingsing. Sesosok tubuh berdiri di depan rumah sederhana bercat kuning dengan pandangan sedingin es. Keindahan bunga beraneka warna yang menghiasi halaman pun hanya membuatnya semakin muak. Kebencian begitu pekat menyelimuti hatinya, hingga keputusan ekstrem yang dibuatnya tak terasa berat. Eksekusi yang dilakukannya pun hampir terasa seperti tugas, bukan beban.
Tak ada satu pun orang di sekitarnya. Menambah sepi menjadi mencekam, memaksanya untuk merealisasikan keputusannya dengan cepat. Menit demi menit kembali berlalu dalam bisu, hingga percikan merah mulai merambat dan menciptakan warna di kegelapan sang langit.
Sosok itu kemudian berbalik, melangkah pergi meninggalkan kobaran api jauh di belakangnya. Tanpa menoleh satu kali pun.
Dan hari itu, pagi disambut oleh goresan warna merah yang menodai keindahan sebuah awal baru. Warna merah yang merenggut paksa sebuah hidup, dan meninggalkan duka tak tertanggungkan bersama dengan asapnya yang menyesakkan.
.
.
.
Kyungsoo keluar dari kamarnya dengan tangan memegang ponsel, kemudian mengikuti aroma masakan yang berasal dari dapur. Kyungsoo menghentikan langkahnya begitu pemandangan Chanyeol yang sedang sibuk memotong sayuran memenuhi penglihatannya. Chanyeol memotong dengan keluwesan yang hanya mungkin dimiliki oleh seseorang yang terbiasa menghabiskan waktunya di dapur.
Kyungsoo menyandarkan tubuhnya, tetap tak mengalihkan pandangannya dari Chanyeol yang kini sibuk memasukkan sayuran ke dalam panci. Samar-samar sebuah lagu mengalun mengisi keheningan. Lagu Mirrors dari Justin Timberlake. Suara Chanyeol yang bergumam seakan mengikuti nada lagu itu, membuat Kyungsoo semakin enggan untuk beranjak dari tempatnya. Hanya ingin terus memandang Chanyeol yang terlihat tak memiliki beban di hadapannya.
"Apa kau akan terus berdiri di sana mengagumiku sepanjang hari?" tanya Chanyeol.
Kyungsoo memutar bola matanya, lalu membuka lemari es dan menuangkan susu ke dalam gelasnya.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya Chanyeol kemudian.
"Bekerja," jawab Kyungsoo singkat.
Lagu berganti menjadi Come Home dari One Republic feat. Sara Bareilles. Sontak Chanyeol meraih ponselnya dan mengganti lagunya. Berikutnya So Sick dari Ne-Yo terdengar.
"Apa yang salah dengan lagu itu? Aku menyukainya," protes Kyungsoo.
"Aku tidak," balas Chanyeol.
"Lalu mengapa kau memilikinya di ponselmu?" cecar Kyungsoo.
Chanyeol tidak menjawab. Kyungsoo mengembuskan napasnya. Mereka terselimuti keheningan hingga lagu berikutnya terdengar. Payphone dari Maroon 5. Tanpa sadar Kyungsoo dan Chanyeol mulai menyanyikan bagian pertama lagu itu. Tatapan mereka bertemu dan senyum mengembang, sementara kata demi kata mengalir dalam alunan nada dari bibir mereka.
Memasuki bagian rap, Kyungsoo mengunci mulutnya. Namun Chanyeol mengejutkan Kyungsoo dengan melakukan hal sebaliknya. Kyungsoo terpana. Chanyeol yang teralihkan konsentrasinya, tersedak di saat-saat terakhir dan mengundang tawa geli dari Kyungsoo. Tawa itu menghangatkan pagi mereka.
"Kau hebat. Bakatmu sebagai badut penghibur sama sekali tidak diragukan," ejek Kyungsoo.
"Senang membuatmu bahagia, Yang Mulia," balas Chanyeol datar.
Kyungsoo kembali tertawa, lalu berkata, "Aku ingin lagu Maroon 5 lagi. Apakah kau memiliki Sunday Morning?"
Chanyeol meraih ponselnya dan memilih Lucky Strike. Membuat Kyungsoo kembali tertawa, terlebih ketika Chanyeol mulai bernyanyi dengan pitch berantakan yang akan membuat guru vokal di mana pun murka.
Kyungsoo baru meminum susunya, ketika tiba-tiba ponselnya bergetar. Tanpa melihat pemanggilnya, Kyungsoo menekan tombol jawab. Seluruh napas di tubuh Kyungsoo terasa meninggalkannya demi mendengar berita yang disampaikan orang dari seberang sambungan. Kyungsoo tidak bisa menahan gelas yang berada di tangannya, hingga detik berikutnya suara nyaring terdengar dan serpihan kaca berserakan di lantainya. Otaknya menolak untuk memproses satu kenyataan yang terasa begitu mustahil baginya.
Ibunya meninggal.
.
.
.
Chanyeol berdiri menghadap upacara pemakaman yang baru saja selesai. Gadis yang bersandar padanya tetap diam. Tak bersuara, juga tak menangis. Tak ada ekspresi apa pun di wajah pucatnya selain kekosongan. Seolah gadis itu menolak kenyataan di hadapannya.
Chanyeol sangat mengerti perasaan itu. Amat mengerti. Karenanya, Chanyeol juga diam dan hanya memeluk gadis itu lebih erat. Berharap gadis itu dapat menemukan ketenangan untuk merelakan, juga memaafkan.
Orang-orang mulai berbalik meninggalkan pemakaman. Secara bergantian, mereka mengucapkan turut berduka cita pada Kyungsoo. Yang mengejutkan Chanyeol, Kyungsoo dapat membalasnya dengan satu kalimat singkat.
"Terima kasih."
Terus seperti itu. Berulang kali tanpa henti. Ekspresi Kyungsoo masih tidak terbaca, namun nada datar yang digunakan Kyungsoo setiap kali berterima kasih mengusik Chanyeol. Meski tak menunjukkan apa pun, Chanyeol tahu betapa dalam duka yang dirasakan Kyungsoo. Karena itu, Chanyeol tak mengerti. Bagaimana Kyungsoo sanggup mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak dimaknainya itu?
Chanyeol memutuskan untuk menghentikan siksaan Kyungsoo. Chanyeol tidak bisa membiarkan gadis itu terus mengucapkan kata sialan yang bahkan hingga saat ini masih tidak sanggup Chanyeol ucapkan. Chanyeol membawa Kyungsoo ke mobilnya, lalu menjalankan mobilnya kembali ke rumah mereka. Chanyeol hanya bisa berharap Kyungsoo akan menunjukkan kesedihannya dan segera melalui fase menyakitkan itu.
Namun harapan Chanyeol tinggal harapan. Ketika hari berubah menjadi minggu dan Kyungsoo tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun, kecemasan Chanyeol semakin meningkat. Kini, mereka tidak pernah sarapan bersama. Chanyeol bahkan jarang melihat Kyungsoo berada di rumah. Kyungsoo semakin dingin, menghabiskan seluruh waktunya untuk bekerja, dan tidak pernah menangis. Satu kali pun.
Chanyeol tidak bisa membiarkannya. Chanyeol harus melakukan sesuatu. Dengan tekad itu, Chanyeol beranjak menuju kamar Kyungsoo.
.
.
.
Suara ketukan menyentak lamunan Kyungsoo. Pikirannya masih sibuk berkelana pada keganjilan yang terus mengusiknya. Keganjilan yang disebabkan kematian ibunya karena kebakaran yang melalap habis rumah sederhana bercat kuning itu.
Alih-alih membuka pintu kamarnya, Kyungsoo justru meraih ponselnya dan menghubungi Sehun. Setelah nada sambung ke empat, Sehun menerima panggilannya dengan suara cemas menanyakan keadaannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Kyungsoo berbohong. Lalu ia menambahkan, "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Bisakah kau melakukannya?"
Beberapa menit kemudian Kyungsoo menurunkan ponselnya, lalu mematikannya. Kyungsoo tidak tahu apa yang ia harapkan dengan meminta Sehun melakukan itu, hanya saja Kyungsoo yakin ia akan menemukan sesuatu. Kyungsoo akan menemukan jawaban atas segala pertanyaannya.
Tiba-tiba pintu kamar Kyungsoo terbuka. Kyungsoo mengerjap ketika Chanyeol melangkah menghampirinya dengan langkah panjang, lalu menarik tangannya dan membawanya menuju ruang keluarga di lantai satu. Sebuah alunan nada mengisi keheningan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo begitu Chanyeol berbalik menatapnya dan kini mereka berdua berdiri di tengah-tengah ruang keluarga.
"Berdansalah denganku," pinta Chanyeol.
"Apa?" balas Kyungsoo tak mengerti.
Suara Pink yang menyanyikan The Great Escape terdengar. Kyungsoo membeku sejenak, lalu berbalik pergi. Namun Chanyeol menahannya dalam pelukan erat, membuat Kyungsoo memberontak seketika. Segala upaya Kyungsoo berhasil dipatahkan Chanyeol—yang dengan mudah selalu menang karena ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar dari Kyungsoo—dan akhirnya Kyungsoo menyerah.
"Aku akan memelukmu sepanjang malam jika kau tidak mau berdansa denganku," ancam Chanyeol.
Kyungsoo menghela napas, kemudian mengangguk. Kyungsoo tidak mencoba memahami ide konyol yang Chanyeo lontarkan itu; Kyungsoo hanya ingin segera menyelesaikannya.
Chanyeol melonggarkan pelukannya, mulai bergerak pelan mengikuti irama, sementara kedua matanya lekat menatap Kyungsoo. Chanyeol membiarkan Kyungsoo melihat seluruh kecemasannya. Mereka tetap saling menatap, hingga selaput bening mulai menyelimuti mata gelap milik Kyungsoo.
"Tidak apa-apa, Kyungie-a. Semua akan baik-baik saja. Kau akan melewatinya," bisik Chanyeol.
Mendengar itu, Kyungsoo tak bisa menahan air matanya. Satu tetes yang mengalir seolah menjadi kunci pembuka bagi tetes lainnya. Kyungsoo menyerah melawan dukanya. Terlebih melihat kecemasan juga kelembutan yang diberikan Chanyeol untuknya. Kyungsoo berhenti berusaha membohongi dirinya.
Karena sesungguhnya Kyungsoo tidak baik-baik saja. Kyungsoo amat berduka. Duka itu menyayatkan luka panjang dan mengerikan di hatinya. Tak memberikan Kyungsoo sedikit pun celah untuk mengelak. Ke mana pun Kyungsoo pergi, rasa sakit itu menyergapnya. Rasa sakit yang begitu dikenalnya dulu, ketika keluarganya hancur tanpa ia mampu melakukan apa pun. Dan kini, rasa sakit itu kembali, dengan sebuah pernyataan tak terbantahkan bahwa keluarga Kyungsoo tak kan pernah bisa kembali seperti semula. Kyungsoo telah kehilangan ibunya.
Kyungsoo larut dalam tangisnya, hingga ia menyadari pelukan erat yang melingkupinya. Juga bisikan menenangkan yang tak lelah berusaha menjangkaunya di tempat tergelap di mana Kyungsoo berada saat ini. Detak jantung yang mengiringi isak tangis Kyungsoo memberi sebuah janji bahwa segalanya benar-benar akan baik-baik saja. Kyungsoo tidak sendirian.
Kemudian Kyungsoo menyadarinya; seseorang berusaha untuk menyelamatkannya. Berusaha melakukan sesuatu agar duka Kyungsoo menjadi tertanggungkan. Dan dengan pemikiran itu, Do Kyungsoo menghabiskan malamnya dengan menangis di pelukan Park Chanyeol.
.
.
.
Kyungsoo menutup telepon dengan helaan napas berat. Pembicaraannya dengan Sunny—Lee Sunny, cucu dari Lee Sooman—sungguh membuatnya frustrasi. Kyungsoo pikir, setelah Lee Sooman setuju, segalanya akan lebih mudah. Proyeknya akan berjalan lancar. Namun Kyungsoo justru harus berhadapan dengan seorang gadis yang baru saja lulus kuliah, sangat gemar mengatur, dan meminta banyak perubahan dalam rancangannya.
Telepon Kyungsoo kembali berdering, Kyungsoo mengangkatnya dan terdengar suara Tao yang memberitahu bahwa Kyungsoo memiliki tamu. Kyungsoo mempersilakan tamunya untuk masuk. Tak lama kemudian pintu kantornya terbuka dan seorang pria berambut pirang menyapa dengan senyum hangat.
Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kyungsoo bingung.
"Aku ingin mengajakmu makan siang," jawab Chanyeol ringan. Seakan hal itu adalah rutinitas yang sudah mereka lakukan bertahun-tahun.
"Aku tidak makan siang di luar dan aku sudah memesan makanan," balas Kyungsoo.
Chanyeol mengabaikan balasan Kyungsoo. Pria itu justru sibuk meneliti setiap sudut kantor Kyungsoo. Membuat Kyungsoo kehilangan konsentrasinya. Bagaimana bisa Kyungsoo mendesain ulang rancangan proyek pentingnya jika seorang pria tampan berkeliaran bebas di hadapannya? Dan kini, pria tampan itu sedang sibuk membaca majalah di sofa dengan bibir bersenandung.
"Kau tahu, kau bisa mengajak Tao. Tinggalkan aku sendiri," ucap Kyungsoo akhirnya.
"Tentu, kita bisa mengajak Tao. Aku tidak keberatan," sahut Chanyeol.
"Apa kau tidak mengerti? Aku tidak ingin pergi Chan," balas Kyungsoo.
Chanyeol mendongak menatap Kyungsoo, namun tidak mengatakan apa pun. Membuat Kyungsoo menghela napas, menyadari arti tatapan itu. Chanyeol masih mengkhawatirkannya. Tentu saja, setelah semalam penuh menangis hingga matanya membengkak, Kyungsoo pantas dikhawatirkan. Namun pada kenyataannya, Kyungsoo sudah merasa lebih baik. Sebaik yang bisa dirasakannya di situasi seperti itu.
"Aku baik-baik saja, Chan," ucap Kyungsoo lembut.
Tatapan Chanyeol tetap tertuju pada Kyungsoo, sementara kakinya melangkah mendekat. Chanyeol berhenti di samping kursi Kyungsoo, lalu ia memutarnya hingga mereka berhadapan tanpa penghalang. Chanyeol meletakkan tangannya masing-masing di lengan kursi Kyungsoo, mengurung gadis itu hingga mau tak mau menatapnya.
Suasana di sekitar mereka berubah menjadi sunyi. Benar-benar sepi. Membuat kehadiran satu sama lain begitu terasa. Seakan hanya ada mereka berdua. Chanyeol berusaha mengembalikan pikirannya yang berserakan karena begitu terpesona pada Kyungsoo. Demi Tuhan, gadis itu sedang bersedih. Tidak seharusnya Chanyeol berpikiran seperti itu.
Chanyeol menghela napas pelan. "Aku tahu. Namun aku tidak baik-baik saja. Aku lapar, Kyung," balas Chanyeol dengan nada merajuk.
Kyungsoo mengerjap. Setelah tersihir dengan intensitas tatapan Chanyeol, Kyungsoo berusaha mengembalikan benaknya ke jalur yang tepat. Akhirnya Kyungsoo mengangguk, menyetujui permintaan Chanyeol. Karena Kyungsoo yakin pria itu akan terus mengganggu hingga mendapatkan keinginannya.
"Berjanjilah kau akan berhenti menggangguku setelah kita makan siang," pinta Kyungsoo.
Chanyeol mengulas senyum kekanakannya, lalu mengangguk patuh.
Namun hingga satu minggu kemudian, Chanyeol masih terus melakukan ritual makan siang bersama Kyungsoo itu. Chanyeol tidak lelah mendatangi Kyungsoo meski gadis itu tidak pernah menyambutnya dengan ramah. Ketika satu minggu kembali berlalu, usaha Chanyeol itu membuahkan hasil. Kyungsoo berhenti protes dan mulai menerima setiap ajakannya dengan tangan terbuka. Mungkin hal itu bukan sebuah kemajuan besar, namun bagi Chanyeol sangat berharga.
Seperti siang ini, Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo dan berjalan melewati Tao yang memberinya senyum penuh arti. Chanyeol tahu apa yang dibicarakan orang-orang mengenai rutinitasnya ini dan Chanyeol yakin hal itu memberi efek yang sangat bagus untuk sandiwara pernikahan bahagianya. Kini, tidak ada satu pun orang yang bisa meragukan pernikahan sandiwara mereka.
"Tidakkah kau memiliki kegiatan lain?" tanya Kyungsoo.
Chanyeol menunduk menatap gadis yang kini berada dalam rengkuhan tangannya, lalu menjawab, "Tidak. Setelah pelajaran menyetir dengan Jongdae selesai bulan lalu, aku benar-benar tidak memiliki kegiatan lain."
"Aku tidak tahu mengapa kau harus repot-repot melakukan itu. Kau bisa menyewa sopir pribadi," balas Kyungsoo.
Chanyeol hanya mengangkat bahu dan meneruskan langkah tanpa suara lagi. Siang ini Kyungsoo menolak makan ke luar kantor, sehingga pilihannya jatuh pada coffee shop yang terletak di lobby. Kyungsoo tidak begitu suka makan di tempat itu, karena seluruh karyawannya terus menatap dengan senyum tersembunyi, namun Kyungsoo tidak memiliki pilihan lain. Revisi rancangannya belum selesai, sementara ia harus meeting dengan Sunny sore nanti.
"Apa makanan kesukaanmu?" tanya Chanyeol tiba-tiba.
"Setelah dua minggu memaksaku untuk sarapan dan makan siang bersamamu, baru kali ini kau berpikir untuk menanyakan itu?" balas Kyungsoo tak percaya.
"Pertama, aku tidak memaksamu. Sarapan ada di jadwal kita sejak kau bersedia menjadi temanku dan makan siang ini tak berbeda jauh dengan itu. Kedua, setidaknya aku masih memiliki inisiatif untuk bertanya, tidak seperti seseorang yang kukenal," jawab Chanyeol tegas.
Kyungsoo memutar matanya. Ia sudah biasa kalah dalam perdebatan mereka.
"Aku suka makan bibimbap," jawab Kyungsoi akhirnya.
"Apa?" tanya Chanyeol tak mengerti.
Kyungsoo kembali mengulang jawabannya dengan pemecahan setiap suku kata. Ketika melihat Chanyeol masih juga tak mengerti, Kyungsoo tertawa. Kyungsoo melupakan fakta bahwa pria menawan di hadapannya ini adalah orang asing yang hidup di Los Angeles. Bagaimana mungkin pria itu tahu tentang Bibimbap?
Kyungsoo mulai menjelaskan bibimbap yang begitu disukainya. Kyungsoo terlihat begitu senang dengan fakta bahwa akhirnya, ada satu hal yang tidak diketahui atau dikuasai oleh Chanyeol. Tanpa menyadari tatapan Chanyeol yang melembut. Kyungsoo terus berceloteh, sementara Chanyeol tetap menatap gadisnya dengan lekat. Chanyeol merasa bisa menghabiskan seluruh waktu di dunia hanya untuk melihat Kyungsoo menjelaskan hal yang disukainya itu. Chanyeol tidak bisa pergi dari jerat pesona gadisnya.
Pikiran itu menghantam Chanyeol begitu telak. Gadisnya. Tanpa sadar, Chanyeol sudah mematerai Kyungsoo dengan sebutan itu di pikirannya. Gadisnya. Miliknya.
Ternyata bukan hanya orang-orang saja yang tidak bisa meragukan sandiwara mereka ini. Karena kini, Chanyeo menemukan dirinya sendiri tidak sanggup meragukan sandiwaranya.
Chanyeol merasa sandiwara itu bukan lagi sebuah sandiwara.
.
.
.
Chanyeol terbangun lagi di tengah malam. Bukan karena mimpi buruknya—meski Chanyeol masih memilikinya—namun mimpi buruk gadis yang tidur di seberang kamarnya. Jerit tengah malam Kyungsoo dimulai tepat setelah ibunya meninggal dunia dan Chanyeol memahami itu. Karenanya, Chanyeol tidak mencoba mengusik. Biarlah Kyungsoo menemukan cara untuk berdamai dengan mimpi buruk itu, karena Chanyeol sendiri masih belum bisa melawan mimpi buruknya.
Namun Chanyeol khawatir. Satu bulan telah berlalu dan meskipun Kyungsoo terlihat semakin baik, mimpi buruk itu tetap tidak pergi. Perasaan tidak nyaman itu kembali; perasaan tak terima dengan pemikiran bahwa Kyungsoo menderita.
Chanyeol mengusap wajahnya, lalu melangkah keluar dari kamarnya dan melangkah menuju kamar Kyungsoo. Chanyeol mengetuk pintu, namun Kyungsoo tidak merespon. Lalu kembali terdengar jeritan. Tanpa berpikir panjang Chanyeol membuka pintu kamar Kyungsoo—yang untungnya tidak terkunci—dan meraih Kyungsoo ke dalam pelukannya.
"Kyungie-a, bangun. Kau baik-baik saja. Itu hanya mimpi," bisik Chanyeol menenangkan.
Kyungsoo tersedu seraya mencengkram lengan Chanyeol, masih terperangkap dalam mimpi buruknya. Ketika akhirnya Kyungsoo berhasil menghentikan tangisnya, Chanyeol mengendurkan pelukannya, lalu menghapus sisa-sisa air mata di wajah Kyungsoo. Membuat Kyungsoo tanpa daya menatap ke dalam mata hitam-kecoklatan milik Chanyeol yang sarat akan pengertian dan Kyungsoo tenggelam di dalamnya.
Chanyeol membaringkan Kyungsoo kembali, menyelimutinya, lalu berbalik pergi. Namun Kyingsoo menahan tangannya.
"Aku tidak ingin tidur lagi," ucap Kyungsok lirih.
Chanyeol terdiam sesaat. Kemudian Chanyeol menarik Kyungsoo berdiri bersamanya dan melangkah keluar kamar Kyungsoo menuju kamar menontonnya. Chanyeol bisa merasakan keraguan Kyungsoo, karena itu Chanyeol memberikan senyumnya yang paling menenangkan.
"Aku selalu menghabiskan waktu di sini ketika tidak bisa tidur. Biasanya aku menonton video rekaman berisi keluargaku. Namun khusus untuk kali ini, aku akan membiarkanmu memilih sebuah film. Kau ingin menonton film apa?" ucap Chanyeol. Tangannya sibuk menelusuri kepingan CD yang memenuhi rak setinggi langit-langit di sudut ruangan.
"Kau memilikinya. Kau bermimpi buruk juga," gumam Kyungsoo setelah duduk di sofa.
Chanyeol menoleh, lalu mengangguk. "Kita benar-benar teman yang cocok, bukan?" balas Chanyeol ringan.
Mau tak mau Kyungsoo tersenyum dan sisa malam itu dilewatkan mereka dengan ditemani sebuah film animasi untuk anak-anak. Tak sekalipun mereka membahas mengenai mimpi buruk mereka. Seakan mereka sudah mencapai kata sepakat untuk mengubur topik itu.
Ketika matahari mulai memberikan sinarnya, Kyungsoo sudah kembali lelap dalam tidur dengan lengan Chanyeol sebagai sandarannya.
.
.
.
.
T.B.C.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak :)
-GOWAMO-
