Maaf tidak bisa balas review satu-satu :(. Yang jelas thank buat yang udah mau ngereview. Mungkin seminggu lagi FF ini udah end atau bisa lebih cepat dari seminggu. Jadi jangan bosen buat nunggu. Dan aku memilih Yixing sebagai kembaran Chanyeol karena mereka sama-sama memiliki dimple :). buat yang udah pernah baca versi novel aslinya atau versi couple lain maaf kalau tidak dapat feel saat baca versi CHANSOO :).

.

.

.

Pairing: CHANSOO

cast : -SULAY -KAIBAEK -HUNHAN -DAEMIN

.

.

.

.

AWAS TYPO

.

.

.

.

HAPPY READING

"Baiklah, sampai bertemu minggu depan," ucap Sunny seraya bangkit berdiri.

Kyungsoo mengantar Sunny hingga ke pintu. Belum sempat Kyungsoo membuka pintu kantornya, pintu itu sudah terbuka dan menampilkan sosok Chanyeol yang terlihat rupawan. Seperti biasa.

"Maaf mengganggu. Kupikir meeting-nya sudah selesai," ujar Chanyeol dengan senyum tipis mengembang, sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

"Tidak masalah. Kami memang sudah selesai," sahut Sunny.

Chanyeol dan Sunny sudah bertemu sebelumnya, ketika Chanyeol menjemput Kyungsoo satu minggu yang lalu. Tatapan Sunny kala itu membuat Kyungsoo khawatir, karena tidak seperti orang kebanyakan, Sunny tetap menatap kemesraan yang ditunjukan Chanyeol dengan datar.

Kyungsoo tahu seharusnya ia berusaha lebih keras agar sandiwaranya terlihat meyakinkan, namun sikap menyebalkan Chanyeol yang gemar sekali masuk ke kantornya tanpa mengetuk berhasil mengalihkan perhatian Kyungsoo.

"Apa kau melupakan buku panduan sopan santunmu? Seharusnya kau mengetuk sebelum membuka pintunya," omel Kyungsoo tanpa sadar.

Chanyeol menaikkan sebelah aslinya—gerakan khasnya ketika bertanya 'kenapa?'—dan Kyungsoo menghadiahinya sebuah cubitan di pinggang. Chanyeol berhasil menghindar, membuat Kyungsoo membelalakkan mata.

"Jangan harap kau akan mendapat serealku besok pagi. Aku tidak akan membaginya lagi denganmu," ancam Kyungsoo

Chanyeol tertawa, lalu mencubit kedua pipi Kyungsoo hingga bibir merengutnya berubah menjadi senyuman. Kyungsoo semakin kesal, berusaha melepas cubitan Chanyeol, namun seperti biasa Kyungsoo gagal. Tawa Chanyeol semakin berderai, diikuti sebuah tawa kecil dari Sunny.

"Akan kutunggu di tempat parkir. Sampai jumpa, Sunny," ucap Chanyeol sebelum akhirnya melangkah pergi.

"Kalian benar-benar saling mencintai."

Kyungsoo tersentak mendengar perkataan Sunny itu. Kyungsoo mengerjap, lalu menatap Sunny yang kini tersenyum ramah padanya.

"Jika suatu hari nanti aku menikah, aku juga ingin memiliki hubungan seperti yang kau miliki dengan suamimu. Kalian terlihat sangat bahagia," lanjut Sunny.

Kyungsoo masih belum bisa merespons, hanya membalas senyum Sunny. Entah dengan jenis senyum apa. Begitu Sunny melangkah pergi, Kyungsoo menghela napas panjang.

Kyungsoo membereskan barang-barangnya, lalu berjalan menuju tempat parkir dengan Tao. Sepupunya itu sibuk mengingatkan tentang makan malam keluarga DO minggu depan, tak menyadari keengganan Kyungsoo untuk menanggapi.

Kyungsoo menghampiri mobil Chanyeol, lalu masuk dan memulai protes yang sudah sering disuarakannya.

"Aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu menjemputku," ucap Kyungsoo.

"Aku tidak mengatakan kau tidak bisa. Aku hanya ingin melakukannya. Lagipula aku memiliki kejutan untukmu," sahut Chanyeol.

Kyungsoo memutar matanya. Terakhir kali Chanyeol memberikan kejutan untuknya—satu minggu yang lalu—Kyungsoo berakhir dengan berat badan naik. Karena kejutan Chanyeol adalah makan di toko es krim terlengkap yang berada di pusat kota. Es krim adalah kelemahan Kyungsoo, maka dari itu tidak mengherankan Kyungsoo begitu kalap memakan segala macam es krim di sana hingga berat badannya langsung naik.

Kyungsoo diam. Menunggu dengan sabar. Mengumpulkan setiap petunjuk yang bisa didapatnya. Namun hingga satu jam kemudian, Kyungsoo belum bisa mengungkap kejutan yang diberikan Chanyeol. Karena pada kenyataannya, mereka masih berada di jalur bebas hambatan.

"Chan, ke mana sebenarnya kita akan pergi? Apakah kita tersesat?" tanya Kyungsoo curiga.

"Kita tidak tersesat," jawab Chanyeol.

"Lalu bagaimana dengan kejutanku?"

"Kau sudah mendapatkannya."

"Aku tidak mengerti."

"Inilah kejutanmu; menghabiskan waktu denganku di dalam mobil dan pergi mengelilingi jalan bebas hambatan."

"Apa?!" seru Kyungsoo.

Chanyeol tertawa. Mengabaikan Kyingsoo, Chanyeol menekan pemutar musik di mobilnya dan lagu Counting Stars dari One Republic terdengar. Chanyeol mulai bernyanyi, sama sekali tidak peduli pada tatapan kesal yang dilancarkan Kyungsoo. Chanyeol terus bernyanyi dengan ekspresi-ekspresi lucu, hingga akhirnya Kyungsoo pun tertawa. Lagu berikutnya berputar, Call Me Maybe dari Carly Rae Jepsen.

"Aku tidak percaya kau memiliki lagu ini," ucap Kyungsoo di tengah tawanya.

Chanyeol ikut tertawa, lalu mereka mulai bernyanyi dengan gaya-gaya aneh. Mengundang semakin banyak tawa. Hingga satu jam kemudian, mobil yang dikemudikan Chanyeol itu masih terisi dengan tawa. Kyungsoo bahkan mulai kehilangan suaranya, namun gadis itu tidak berhenti bernyanyi.

Malam semakin larut dan gemuruh guntur mulai terdengar. Tidak mengherankan, mengingat bulan telah menyentuh bulan November.

"Aku rasa sebaiknya kita pulang," ucap Kyungsoo.

Chanyeol mengangguk dan membawa mobilnya menuju rumah. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah dengan hujan yang mengguyur begitu derasnya.

Kyungsoo turun dari mobil, lalu melangkah secepat kaki membawanya. Namun sebelum Kyungsoo berhasil mencapai teras yang terlindung dari guyuran hujan, sebuah tangan menarik tangannya. Kyungsoo berbalik dan langsung bertatapan dengan senyum jahil Chanyeol.

Oh, tidak.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya, berusaha menarik tangannya kembali, namun pada akhirnya Chanyeol berhasil menariknya ke halaman. Kyungsoo terlibat pertempuran tangan dengan Chanyeol, hingga akhirnya mereka berdua terjatuh ke atas rumput dan seluruh tubuh mereka basah kuyup.

"Park Chanyeol! Aku bersumpah akan membalasmu!" jerit Kyungsoo seraya bangkit berdiri.

"Aku tahu kau akan terlihat semakin cantik ketika basah," balas Chanyeol menggoda.

Kyungsoo menjerit, kemudian mengejar Chanyeol untuk menyarangkan tinju atau apa pun di tubuh tegap pria itu. Sementara Chanyeol terus menggoda Kyungsoo dan tak membutuhkan waktu lama hingga tawa mereka mulai terdengar.

Tawa itu mengudara dengan kebebasan sang hati yang berbahagia, dalam dekap rintik hujan, bersama sebuah rasa yang perlahan namun pasti terselip di antara kebohongan. Menjelma menjadi realita tanpa bantahan.

.

.

.

Kyungsoo kembali bersin. Entah untuk ke berapa kalinya dalam satu jam terakhir.

Chanyeol meletakkan segelas susu hangat di hadapan Kyungsoo, lalu berkata, "Apa kau ingin minum obat? Aku rasa hidungmu itu akan dilanda banjir dalam waktu dekat."

"Tidak. Aku hanya ingin menyalahkan orang tidak bertanggung jawab yang sudah memaksaku bermain di bawah guyuran hujan semalam," balas Kyungsoo sengit.

Chanyeol tertawa, kemudian bertanya, "Apa yang akan kau lakukan hari ini?"

Kyungsoo melirik jendela yang memperlihatkan hujan, lalu mengangkat bahu. Hari ini adalah hari libur Kyungsoo, dan Kyungsoo lebih senang menghabiskannya dengan berada di dalam rumah yang hangat.

"Hei, aku tahu lagu yang cocok," ucap Chanyeol seraya meraih ponselnya. Detik berikutnya mengalun nada awal November Rain dari Guns n' Roses.

Kyungsoo berjengit ketika mengenali lagu itu, lalu berkata, "Lagu ini memiliki video klip yang tragis. Aku tidak tahu 'kecocokan' apa yang kau maksud."

"Aku tidak menyangka kau mengetahui lagu ini," sahut Chanyeol.

"Aku tinggal di New York selama tujuhbelas tahun hidupku. Kau menyukai lagu ini?" balas Kyungsoo.

"Pada dasarnya aku tumbuh besar dengan lagu-lagu dari Guns n' Roses. Ayahku penggemar berat. Lalu ketika Junmyeon datang, rumah kami hampir tidak pernah memutar lagu lain. Mereka berdua benar-benar tidak terpisahkan dan akhirnya kami pun menyukainya. Bagaimana tidak? Lagu sejenis ini berkumandang hampir 24 jam," sahut Chanyeol dengan senyum kecil. Seolah hal apa pun yang diingatnya membuat dirinya bahagia.

Kyungsoo tertegun. Ini adalah pertama kalinya Chanyeol membicarakan keluarganya. Mungkin Chanyeol tidak menyadarinya, namun melihat senyum yang kini mengisi wajah Chanyeol, Kyungsoo tidak ingin Chanyeol berhenti. Kyungsoo juga ingin mengenal keluarga Chanyeol. Keluarga yang penuh cinta, hingga Chanyeol tumbuh menjadi pribadi yang utuh, bahkan setelah tragedi itu terjadi.

"Lalu ibumu?" tanya Kyungsoo pelan.

Belum sempat Chanyeol menjawab, teleponnya berbunyi. Chanyeol meninggalkan Kyungsoo untuk menjawab teleponnya. Membuat Kyungsoo bertanya-tanya, siapa penelepon itu?

Ketika limabelas menit kemudian Chanyeol belum juga kembali, Kyungsoo memutuskan untuk melanjutkan revisi rancangan yang diminta Sunny. Sudah dua minggu berlalu dan Sunny masih saja menemukan kekurangan dalam rancangan Kyungsoo. Entah kapan proyeknya ini akan selesai. Sementara itu, Eunhyuk sudah berulang kali menghubunginya untuk menanyakan perkembangan rancangannya, karena perusahaan konstruksi yang Eunhyuk pimpin tidak akan bisa memulai pembangunannya jika Kyungsoo saja belum bisa menyelesaikan rancangannya.

Kyungsoo begitu tenggelam dalam keseriusannya, hingga tidak menyadari Chanyeol sudah kembali. Avera tersentak ketika iPad-nya tiba-tiba ditarik dan penariknya itu menolak untuk memberikannya kembali.

"Chan, kembalikan. Aku harus menyelesaikannya," ucap Kyungsoo. Suaranya mulai terdengar sumbang karena flu yang kini dideritanya.

"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu. Mungkin kau harus membuang hidungmu dulu?" balas Chanyeol seraya berjalan mundur, menjauhi Kyungsoo.

"Aku bersungguh-sungguh, Chan. Cepat berikan iPad-ku kembali. Atau "

"Atau apa? Kau akan berubah menjadi zombie yang akan memakan otakku? Oh, aku tahu! Kau akan berubah menjadi monster besar, sementara aku akan berubah menjadi Ultraman!"

"Park Chanyeol!"

Chanyeol memberikan satu juluran lidah, membuat Kyungsoo langsung berdiri dan berlari ke arahnya. Chanyeol pun berlari menjauh dan pada satu titik, Chanyeol meletakkan iPad di tangannya. Namun Kyungsoo tidak menyadari itu, karena fokusnya saat ini hanyalah memberi pelajaran pada Chanyeol. Setelah menghabiskan waktu dengan berlari mengelilingi rumah, akhirnya Kyungsoo berhasil mengejar Chanyeol dan mereka berdua terbaring di lantai dapur. Berusaha mengejar napas masing-masing.

Chanyeol mengangkat kepala Kyungsoo, lalu membaringkan di atas lengannya. Sisa tawa Kyungsoo menguap setelahnya dan selama sesaat mereka bertatapan. Perasaan itu kembali. Perasaan yang sudah sering hadir, namun selalu mereka abaikan. Kyungsoo yang pertama memutuskan kontak dengan beringsut lebih dekat ke dada Chanyeol. Tanpa sadar Kyungsoo mengangkat tangannya dan meletakkannya tepat di atas jantung Chanyeol yang berdetak.

"Apa yang sebenarnya kita lakukan? Bukankah hal seperti ini tidak seharusnya membuat kita nyaman?" gumam Kyungsoo lirih. Terselip keraguan yang begitu besar dalam suaranya.

Chanyeol tidak menjawab.

Kyungsoo mendongak, "Mengapa kau mencoba melakukan segala hal untukku Chanie?"

Chanyeol masih tidak menjawab. Namun tangannya mulai menyentuh wajah Kyungsoo. Menelusuri pipinya yang pucat, lalu bibirnya yang kini terkatup sempurna.

"Mungkin karena aku sudah terbiasa melakukannya untuk adikku. Ia adalah gadis paling manja yang pernah kukenal. Membuatku khawatir setiap saat. Rasanya aneh tidak bisa melakukan hal-hal yang dulu selalu kulakukan untuknya," jawab Chanyeol pelan.

Chanyeol menaikkan alisnya ketika merasakan perubahan bahasa tubuh Kyungsoo yang kini membeku. Menanyakan alasannya meski dalam diam.

"Apa kau menganggapku sebagai pengganti adikmu?" tanya Kyungsoo.

Chanyeol menatap Kyungsoo lekat, lalu membalas, "Bagaimana bisa aku menganggapmu sebagai adikku? Bagaimana bisa aku merasakan hal yang aku rasakan untukmu, jika aku menganggapmu seperti itu? Bagaimana bisa aku menganggapmu sebagai adikku, ketika aku ingin melakukan ini?"

Detik berikutnya bibir Chanyeol menyentuh bibir Kyungsoo. Hanya sentuhan ringan. Lalu Chanyeol menangkup bibir bawah Kyungsoo, tersenyum ketika merasakan napas gadis itu tercekat.

Chanyeol meletakkan satu tangannya di rahang Kyungsoo, mengarahkan gadis itu untuk membuka bibirnya. Ciuman itu terasa begitu lembut, membuat setiap pagutan memberikan efek yang memabukkan.

Chanyeol melepaskan bibirnya, lalu membuka matanya. Napas mereka yang berkejaran mengisi keheningan. Chanyeol tidak tahu reaksi apa yang akan Kyungsoo berikan, karena itu Chanyeol tetap diam. Menunggu.

"Aku rasa kau baru saja menyembuhkan banjir di hidungku. Mungkin kau akan membutuhkan obat setelah ini," bisik Kyungsoo seraya mengedipkan sebelah matanya.

Chanyeol tertawa dan tanpa membuang waktu kembali menundukkan wajahnya. Menangkap bibir Kyungsoo di antara bibirnya, menghabiskan sisa hari itu dengan menyusuri dan mencecap setiap sisi dari bibir ranum di hadapannya.

.

.

.

Kyungsoo melirik Chanyeol dari sudut matanya. Pria itu begitu tenggelam dalam film action yang saat ini sedang mereka tonton. Kyungsoo mengingat perubahan yang terjadi selama satu minggu terakhir. Sejak ciuman pertama itu, mereka sering menghabiskan waktu hanya dengan bercanda dan diselingi dengan ciuman-ciuman lembut. Meski begitu, Chanyeol belum pernah menyentuhnya lebih jauh. Membuat Kyungsoo bertanya-tanya, terkurung dalam rasa penasaran, dan Kyungsoo menginginkan jawabannya.

Kyungsoo menyentuh rahang Chanyeol, memaksa pria itu untuk menatapnya. Begitu mendapat perhatian penuh, Kyungsoo menarik kepala Chanyeol dan menciumnya. Setelah beberapa saat, Kyungsoo berpindah ke pangkuan Chanyeol. Tangannya terselip di rambut pirang Chanyeol, sementara bibirnya terpaut dalam tarian panjang bersama bibir penuh Chanyeol. Lalu sesuatu yang keras terasa menampar paha bagian dalam Kyungsoo. Mengikuti insting, Kyungsoo menurunkan tubuhnya, menggesekkan kewanitaannya pada sesuatu yang keras itu. Kyungsoo melenguh, namun yang mengejutkan adalah reaksi Chanyeol; ia mengerang.

Tiba-tiba Chanyeol mengubah posisi mereka, dengan Kyungsoo di bawahnya. Chanyeol kembali mencium Kyungsoo, namun kini dengan ketergesaan yang sebelumnya tidak pernah ada. Dan Kyungsoo menyukainya. Terlebih ketika tangan Chanyeol menyingkap kamisolnya, lalu membelai tulang pinggulnya. Kyungsoo tersentak bagai disengat listrik. Kyungsoo tidak tahu bagian itu merupakan salah satu titik sensitif tubuhnya.

"Chahhhn…." desah Kyungsoo dengan nada yang dipenuhi kebutuhan. Kyungsoo tidak tahu apa yang dibutuhkannya, namun Chanyeol tahu.

Tangan Chanyeol bergerak lebih jauh ke bawah. Setelah menurunkan celana pendek Kyungsoo, tangan Chanyeol akhirnya menemukan tujuannya. Perlahan, Chanyeol menyelipkan ibu jarinya ke dalam celana dalam Kyungsoo. Chanyeol harus menahan diri sekuat tenaga ketika rasa basah dan lembab menyambutnya. Namun Chanyeol tidak bisa menahan geramannya, yang menimbulkan erangan Kyungsoo menjadi lebih keras.

Kyungsoo berusaha menjernihkan benaknya, namun kabut kenikmatan semakin menguasainya. Yang Kyungsoo tahu, jari Chanyeol kini sedang menyusuri bagian paling rahasia dalam tubuhnya. Jari Chanyeol membuka miliknya perlahan, lalu menyelipkan sebuah jari di sana. Dengan amat lembut, Chanyeol menggerakkan jarinya. Membuat Kyungsoo semakin mabuk dalam kenikmatannya.

"Aku hanya memasukkan satu jariku dan kau sudah terasa amat ketat, Kyungie," bisik Chanyeol.

Milik Kyungsoo mulai berdenyut, lalu Kyungsoo memekik ketika jari Chanyeol melakukan gerakan memutar di dalamnya. Tak membutuhkan waktu lama hingga milik Kyungsoo menjepit jari Chanyeol dan puncak itu diraihnya.

"Kau cantik, Kyungie," ucap Chanyeol dengan bibir menempel di pipi Kyungsoo.

Kyungsoo menyadari tonjolan besar yang masih terasa keras di pahanya. Namun ketika Kyungsoo mencoba menyentuhnya, Chanyeol mengerang dan menahannya.

"Aku hanya akan mempermalukan diriku jika kau menyentuhku," jelas Chanyeol.

"Tapi…"

"Aku akan mengurusnya," sela Chanyeol cepat. Chanyeol menarik jarinya, lalu mengecup kening Kyungsoo sebelum melangkah pergi.

Meninggalkan Kyungsoo yang menghela napas di belakangnya.

.

.

.

Kyungsoo menatap piring makannya dengan datar. Nafsu makannya hilang entah ke mana. Sementara orang-orang di sekitarnya sibuk berbincang, mengenai segala hal. Ya, kecuali tentang kematian ibunya. Inilah alasan Kyungsoo menghindari makan malam keluarganya selama dua bulan terakhir. Ditambah ketidakhadiran Donghae sang Paman, Kyungsoo merasa semakin tidak nyaman.

"Kau baik-baik saja, Soo?" tanya Taemin dari seberang meja.

Kyungsoo hanya tersenyum sebagai jawaban.

"Kau tahu, kau bisa berhenti bersikap menyedihkan seperti itu. Kematian memang hal tak terelakkan dalam hidup. Apalagi untuk kasus ibumu; hidup ataupun mati, tak akan membuat perbedaan apa pun," ucap Luhan dingin. Ia duduk tepat di sebelah Kyungsoo.

"Apa maksudmu?" balas Kyungsoo.

"Kau tahu maksudku, Kyungsoo. Ia sudah hidup sebagai mayat selama tujuh tahun. Tidak pergi ke mana pun dan selalu bergantung pada obat-obat yang diberikan dokter. Ia bahkan tidak datang ke pesta pernikahanmu. Apa yang kau harapkan dari ibu semacam itu? Jika ia ibu yang sebenarnya, ia akan bangkit dan berjuang bersamamu. Bukan menjadikan dirinya sebagai beban, tidak hanya untuk anaknya, namun juga orang-orang di sekitarnya," jelas Luhan.

Ketika berhasil keluar dari syoknya, Kyungsoo membalas kata-kata Luhan dengan lebih sengit.

"Lalu bagaimana dengan ibumu? Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya berkeliaran dan menghancurkan keluarga lain?"

Keheningan merayap setelahnya. Semua orang kini terfokus pada Kyungsoo dan Luhan yang terlibat dalam perdebatan sengit. Nada suara mereka meningkat seiring dengan ketajaman perkataan mereka.

"Tutup mulutmu!" sentak Luhan.

"Tidak. Aku harus menyadarkanmu. Kau tidak lebih dari anak haram yang tidak diinginkan siapapun. Kau tidak berbeda dengan ibumu; murahan. Ibumu mengkhianati ibuku, kakaknya sendiri, dengan melahirkanmu!"

"Kau tidak tahu apa-apa! Kau tidak berhak menghakimi ibuku!"

"Aku berhak! Karena ibumu sudah menghancurkan hidup ibuku! Dan kau menghancurkan keluargaku!"

"Kau hanya anak kecil yang selalu menyalahkan orang lain! Tidakkah kau melihatnya? Aku adalah korban! Korban dari kekejaman ibumu, yang dengan mudahnya menyingkirkan ibuku tanpa sekalipun berusaha untuk memperbaikinya. Ibumu mengetahui eksistensiku, ia bahkan tahu hidup menyedihkan yang kujalani. Namun apa yang dilakukannya? Ia hanya diam dan menikmati segala hal yang seharusnya menjadi milikku! Jika aku bisa memilih, aku tidak akan memilih kematian untuk ibumu. Karena itu terlalu mudah. Kau tahu apa yang akan kupilih? Aku akan memilih untuk mengurung ibumu dalam neraka yang kuciptakan seperti tujuh tahun terakhir ini!"

Tangan Kyungsoo melayang dan mendarat tepat di wajah Luhan. Suara nyaringnya mengisi keheningan, diikuti tatapan syok juga suara terkesiap. Kyungsoo kehilangan kontrolnya, ia berusaha menyakiti Luhan dengan cara apa pun, hingga akhirnya sepasang lengan kokoh menahannya dan menariknya menjauh.

Chanyeol.

"Kau merenggut segalanya dariku, Xi Luhan! Aku bersumpah akan membalasmu hingga kau berharap tidak pernah datang ke dalam kehidupanku!" seru Kyungsoo.

Keadaan menjadi semakin kacau setelahnya. Kyungsoo bahkan harus diseret oleh Chanyeol, lalu ia dipaksa masuk ke dalam mobil. Perjalanan pulang sangat hening. Chanyeol masih bergumul dengan emosinya. Begitu Chanyeol menghentikan mobil, Kyungsoo segera meloncat keluar dan berlari memasuki rumah.

"Berhenti, Kyungsoo! Berhenti bersikap kekanakan sebelum kau melukai dirimu sendiri!" seru Chanyeol seraya menahan tangan Kyungsoo.

"Kekanakan? Kau pikir aku kekanakan? Kau mendengar ucapan gadis jalang itu! Ia menghancurkan hidupku!" jerit Kyungsoo.

Chanyeol tertegun melihatnya. Karena bukan amarah yang mewarnai wajah Kyungsoo, melainkan luka. Ternyata rasa sakit itu sudah meninggalkan luka yang terlalu dalam, hingga mengurung Kyungsoo di dalamnya.

"Kyungie, kau harus berhenti melakukan ini. Kau harus berhenti membiarkan kebencian merasuki hidupmu. Kau tidak akan pernah benar-benar bahagia jika kau masih membencinya," ucap Chanyeol pelan.

"Kau tidak mengerti, Chan," balas Kyungsoo seraya melanjutkan langkahnya.

Chanyeol kembali menahan Kyungsoo, memaksa gadis itu menatapnya, "Aku tidak akan mengerti, namun aku tahu. Kau merusak hidupmu dengan segala kebencian dan dendam itu, Kyungsoo. Tujuh tahun adalah waktu yang lama. Seharusnya kau sudah menemukan kedamaianmu sekarang. Namun pada kenyataannya kau masih terkurung dalam luka. Jika ada orang yang harus kau salahkan dalam hal ini, orang itu adalah dirimu sendiri. Kau membiarkan semua ini terjadi begitu lama hingga membuat dirimu sendiri menderita," sahut Chanyeol.

Kyungsoo terdiam. Lalu sebuah pemahaman memasuki benaknya.

"Kau mengetahuinya. Kau menyelidiki masa laluku," bisik Kyungsoo tak percaya.

"Kyungie-a…"

"Mengapa kau melakukannya? Tidak seharusnya kau tahu tentang itu. Semua itu privasiku…"

"Kyungsoo, dengarkan aku!"

"Kau melanggar kontrak kita!" teriak Kyungsoo tak mau kalah.

Sedetik kemudian Kyungsoo menyadari kesalahannya. Karena ekspresi wajah Chanyeol berubah menjadi kosong. Kyungsoo membuka mulut, namun Chanyeol mendahuluinya.

"Tak ada yang berubah bagimu. Hanya aku yang membangun harapan semu," ucap Chanyeol dengan suara sedingin es.

Chanyeol segera membalikkan tubuh, sementara Kyungsoo mengerjap demi menepis selaput bening yang menghalangi pandangannya. Baru dua langkah berjalan, Chanyeol berhenti dan kembali menoleh pada Kyungsoo.

"Bukankah sejak awal kita sudah melanggar kontrak itu, Kyungsoo?" lanjutnya ironis. Setelah itu Chanyeol kembali melanjutkan langkah dan meninggalkan Kyungsoo yang menangis di belakangnya.

.

.

.

.

.

.

T.B.C

.

.

.

.

NB; kamisol/ka·mi·sol/ n baju tanpa lengan, seperti kutang yang sudah dimodifikasi, baik bahan, model, maupun warnanya, dipakai sebagai baju dalam atau baju luar.

.

.

.

.

.

Yang nunggu adegan NC semoga puas :p

jangan lupa tinggalkan jejak :)

-GOMAWO-