Kyungsoo mengusap matanya yang terasa perih. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Kyungsoo masih berkutat di meja kantornya. Kyungsoo mengecek ponselnya yang berada dalam mode silent dan melihat tiga panggilan tidak terjawab juga dua pesan dari Chanyeol. Terakhir kali Kyungsoo memegang ponselnya adalah lima jam yang lalu, saat Tao masuk ke ruangannya dan pamit pulang. Sejak itu Kyungsoo tenggelam dalam rancangannya— untuk proyek Lee sooman—yang entah mengapa tidak mudah diselesaikan.
Kyungsoo baru akan menghubungi Chanyeol ketika tiba-tiba pintu kantornya terbuka. Chanyeol melangkah masuk dan langsung berjalan menghampiri Kyungsoo. Tanpa kata Chanyeol menarik Kyungsoo masuk ke dalam pelukannya, membuat Kyungsoo menghela napas lega.
"Maaf tidak menjawab teleponmu. Aku terlalu sibuk dengan gambar tidak berguna ini," ucap Kyungsoo.
"Tidak apa-apa," balas Chanyeol seraya mengelus punggung Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum, enggan melepas pelukannya. Lalu bergumam, "Aku lelah."
"Aku tahu."
"Aku ingin pulang ke rumah dan makan es krim."
"Aku tahu."
"Proyek ini terasa semakin menyebalkan."
"Aku tahu."
Akhirnya Kyungsoo melepas pelukannya, menatap wajah tampan Chanyeol dengan kening berkerut. "Tidak bisakah kau mengucapkan hal lain?" tanya Kyungsoo dengan nada protes.
Chanyeol tersenyum, lalu mengecup kerut di kening Kyungsoo. "Aku merindukanmu," akunya tulus.
Kyungsoo berjinjit untuk mengecup bibir Chanyeol, lalu membawa tangannya untuk melingkari leher Chanyeol. Seperti biasa, ciuman lembut itu berubah menjadi menuntut secepat kilat. Napas Kyungsoo tercekat ketika sebelah tangan Chanyeol menyusup ke dalam roknya dan menyentuhnya.
"Kau basah," ucap Chanyeol serak.
"Mungkin aku juga merindukanmu," balas Kyungsoo dengan nada bergetar.
Senyum menggoda Chanyeol terulas, membuat Kyungsoo menggelengkan kepalanya.
"Chan, jangan…"
Namun Chanyeol menyela ucapan Kyungsoo dengan ciuman menghanyutkan. Kedua tangan Chanyeol mengangkat tubuh Kyungsoo hingga gadis itu terduduk di atas meja. Chanyeol membuka kaki Kyungsoo, lalu berdiri di antaranya. Ciuman mereka semakin memabukkan hingga akhirnya Chanyeol menyingkap rok Kyungsoo dan Kyungsoo membuka celana Chanyeol. Tepat sebelum tubuh mereka bersatu, Chanyeol mengingat bahwa ia tidak membawa pelindung.
Umpatan yang keluar dari mulut Chanyeol berhasil menarik Kyungsoo dari jurang ekstasi. Dengan bingung Kyungsoo menatap wajah Chanyeol yang frustrasi.
"Ada apa, Chan?" tanya Kyungsoo.
"Aku tidak membawa kondom," jawab Chanyeol.
"Kita tidak memerlukannya. Aku tahu kau bersih dan kau tahu kau adalah pria pertamaku," sahut Kyungsoo.
Chanyeol membelai pipi Kyungsoo, lalu bertanya, "Apa kau mengonsumsi pil pencegah kehamilan?"
Kyungsoo mengangguk sebelum menjawab, "Aku selalu menggunakannya karena jadwal haidku tidak teratur."
Begitu kata terakhir meluncur dari bibir Kyungsoo, Chanyeol langsung menyambar bibir gadis itu.
"Kau yakin?"
"Aku memercayaimu."
Chanyeol tidak membuang waktu lagi. Dengan perlahan, Chanyeol menyelipkan dirinya ke dalam milik Kyungsoo. Segalanya berubah. Rasanya menjadi berkali-kali lipat lebih memabukkan. Kenikmatan yang melingkupi mereka sama sekali tak ada bandingannya. Begitu Chanyeol mencapai bagian terdalam di dalam tubuh Kyungsoo, sebuah pemikiran melintas di tengah kabut hasratnya.
Chanyeol menemukan rumah. Chanyeol menemukan rumahnya bersama Kyungsoo.
Maka Chanyeol merapatkan tubuhnya, membawa miliknya semakin dalam, dan bercinta dengan gadisnya hingga puncak itu mereka reguk bersama.
.
.
.
Satu minggu kemudian~
Kyungsoo melangkah memasuki rumahnya dengan senyum riang tersungging di bibirnya. Akhirnya ia telah mencapai kesepakatan dengan Sunny dan proyeknya itu sudah berpindah ke Eunhyuk yang akan memulai pembangunannya bulan depan. Kyungsoo sungguh tidak sabar memberikan kabar itu pada Chanyeol.
"Chan?" panggil Kyungsoo
Ketika tak juga mendapat jawaban, Kyungsoo mulai mencari ke setiap ruangan di rumahnya, namun Kyungsoo tidak menemukan Chanyeol di mana pun. Kyungsoo melirik jam yang menunjukkan pukul delapan malam. Ke mana Chanyeol pergi?
Sebuah lengan menyentak Kyungsoo keluar dari lamunannya dan membawanya ke dalam pelukan hangat.
"Aku tidak tahu kau akan pulang cepat hari ini," bisik Chanyeol seraya mengecup puncak kepala Kyungsoo.
Kyungsoo melepas pelukan Chanyeol, lalu berbalik menatapnya, "Kau pergi ke mana?"
"Mengunjungi temanku."
"Kau memiliki teman?"
Chanyeol mengacak-acak rambut Kyungsoo, lalu bertanya, "Mengapa kau pulang lebih awal? Satu minggu belakangan ini kau baru pulang setelah kujemput."
Seketika senyum riang Kyungsoo kembali. "Aku berhasil menyelesaikan rancangan yang diminta Sunny! Pekerjaanku sudah selesai!"
"Bagus sekali. Waktunya benar-benar tepat. Aku ingin mengajakmu ke Los Angeles," sahut Chanyeol tak kalah senang.
"Apa? Los Angeles?"
Chanyeol mengangguk dengan senyum polosnya, sama sekali tidak terganggu dengan nada terkejut Kyungsoo.
"Untuk apa pergi ke sana?" tanya Kyungsoo lagi.
"Aku rindu rumahku dan aku ingin menunjukkannya padamu," jawab Chanyeol.
Tatapan Kyungsoo melembut. Tentu saja, Chanyeol pasti merindukan rumahnya. Selama ini Chanyeol sudah beradaptasi dengan sangat baik, hingga Kyungsoo melupakan sebuah fakta penting bahwa tempatnya bukanlah rumah Chanyeol.
"Baiklah. Aku akan pergi denganmu," ucap Kyungsoo akhirnya.
"Kau serius?" tanya Chanyeol memastikan.
"Tentu. Tapi hanya untuk tiga hari. Aku tidak bisa pergi dari kantor lebih lama dari itu," jawab Kyungsoo
Chanyeol menghadiahi Kyungsoo sebuah ciuman panas di bibir, lalu seulas senyum kekanakan yang menampilkan satu lesung di pipi kirinya itu. Kini Kyungsoo sudah terbiasa dengan absennya ucapan terima kasih dari Chanyeol, karena sebagai gantinya Kyungsoo selalu mendapat senyum itu. Senyum yang mampu melelehkan hati dinginnya dan menyelamatkan hari-harinya.
"Kita akan berangkat besok. Bersiaplah!" seru Chanyeol.
Kyungsoo hanya tertawa sebagai balasan.
Los Angeles, November 2014~
Chanyeol membukakan pintu rumah tempat ia tumbuh besar, lalu mempersilakan Kyungsoo untuk masuk. Kesan rumah yang hangat langsung menyambut. Kyungsoo mengikuti langkah Chanyeol yang mengajaknya berkeliling rumah, menjelaskan hal kecil yang disukainya satu persatu. Hingga akhirnya mereka berakhir di dapur. Dapur yang pernah Kyungsoo lihat melalui tayangan video milik Chanyeol.
"Ibumu tidak pernah memiliki pengurus rumah?" tanya Kyungsoo seraya duduk di kursi berwarna merah muda.
Chanyeol memberikan segelas cokelat hangat di hadapan Kyungsoo, lalu duduk di kursi berwarna biru di sisi Kyungsoo.
"Tidak. Menurutnya kami tidak membutuhkan pengurus rumah. Karena itu ia mengajari kami—aku, Yixing, dan Junmyeon—segala hal yang berhubungan dengan pengurusan rumah. Ibuku ingin kami bisa mengurus diri sendiri dan hidup mandiri," jawab Chanyeol.
Kyungsoo meneguk cokelat hangatnya, lalu berdiri dan mulai meneliti salah satu dinding yang dipenuhi foto. Tak lama Chanyeol ikut berdiri di sampingnya.
"Setelah mereka meninggal aku menyewa seorang pengurus rumah. Agar rumah ini tetap terawat. Aku sangat mencintai rumah ini. Hanya rumah ini satu-satunya yang kumiliki sekarang," lanjut Chanyeol.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Chanyeol, kemudian mengulurkan tangannya dan memeluk Chanyeol dengan seluruh kesungguhan jiwanya.
"Kau memiliki aku, Park Chanyeol. Selalu."
.
.
.
Kyungsoo membaca laporan perkembangan yang diberikan Eunhyuk dengan perasaan puas. Kyungsoo tahu Eunhyuk adalah orang yang tepat untuk menyempurnakan proyek pentingnya ini.
"Bagaimana?" tanya Eunhyuk.
"Sempurna. Aku selalu tahu kau akan sehebat mendiang ayahmu," jawab Kyungsoo.
"Kau harus berterima kasih pada istriku. Dialah yang membantuku selama ini," balas Eunhyuk dengan senyum simpul di bibirnya.
"Aku tahu istrimu sangat berbakat. Kau beruntung memilikinya."
"Aku pikir kita sama-sama beruntung. Lihatlah dirimu. Setelah menikahi sutradara tampan itu kau terlihat bahagia."
Kyungsoo membeku, lalu dengan nada ragu ia bergumam, "Benarkah?"
Eunhyuk menggangguk. "Aku mengenalmu sejak kita masih memakai popok. Aku tahu persis ekspresi wajahmu. Pada awalnya aku pikir pernikahanmu ini hanya salah satu alat untuk membalaskan dendammu, namun seiring berjalannya waktu, kau terlihat semakin bahagia. Semua orang bisa melihatnya. Tidakkah kau melihatnya ketika kau bercermin?"
Tepat setelah itu pintu kantor Kyungsoo terbuka dan memunculkan sosok Baekhyun.
"Apakah kau tidak bisa mengetuk pintu? Aku mulai lelah dengan kebiasaan orang-orang yang selalu masuk ke kantorku tanpa mengetuk," omel Kyungsoo
Baekhyun mengecup pipi Eunhyuk, lalu beralih memeluk Kyungsoo. "Aku merindukanmu! Rasanya sudah seratus tahun sejak kita terakhir bertemu," ucapnya riang.
"Baiklah, lanjutan sesi bincang-bincang kalian. Aku harus pulang, istriku yang cantik sedang menunggu. Sampai jumpa," pamit Eunhyuk.
"Sampaikan salamku untuknya," sahut Kyungsoo.
"Berikan ciumku untuk keponakanku," tambah Baekhyun.
Eunhyuk mengacungkan jempolnya sebelum menghilang di balik pintu.
"Jadi, ceritakan padaku! Bagaimana liburanmu ke Los Angeles minggu lalu?" tanya Baekhyun seraya membuka lemari es di sudut ruangan.
"Menyenangkan, tentu saja. Meskipun paparazzi tidak berhenti membuntuti kami," jawab Kyungsoo.
"Tidak aneh. Chanyeol adalah orang yang sangat terkenal di sana. Orang-orang dengan mudah mengenalinya. Lalu apa saja yang kalian lakukan?" balas Baekhyun. Ia sudah duduk di samping Kyungsoo hingga semburat merah yang mewarnai wajah Kyungsoo terlihat jelas.
"Hei, mengapa wajahmu bersemu merah?" tuntut Baekhyun curiga.
"Aku tersedak," kilah Kyungsoo
Baekhyun tahu Kyungsoo berbohong, namun Baekhyun tidak menggali lebih jauh karena ada sesuatu di ekspresi Kyungsoo yang terlihat janggal.
"Apakah kau mengenal salah satu teman Chanyeol yang tinggal di kota ini?" tanya Kyungsoo kemudian.
"Tidak. Kau tahu aku baru mengenal Chanyeol setelah kalian melakukan perjanjian itu. Memang ada apa?" balas Baekhyun bingung.
"Chanyeol sering menghilang belakangan ini. Sejak sebelum kami pergi ke Los Angeles tepatnya. Namun saat kutanya, ia selalu menjawab baru saja pergi dari rumah temannya," sahut Kyungsoo dengan nada khawatir yang jelas.
Baekhyun mengangguk mengerti, lalu berkata, "Wajar saja menurutku. Chanyeol pasti memiliki kebutuhan. Kau tahu, selayaknya pria normal pada umumnya. Sudah berapa lama kontrak kalian berjalan? Bukankah seharusnya kau sudah mengantisipasi hal semacam ini?"
Kyungsoo merasa petir baru saja menyambarnya. Perkataan Baekhyun menyentaknya begitu hebat, juga telak. Mengapa Kyungsoo tidak menyadarinya? Tentu saja, Chanyeol pergi mencari yang lain. Karena Kyungsoo saja tidak akan pernah cukup untuk Chanyeol.
"Kyungsoo? Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun
Kyungsoo bangkit berdiri, lalu mengambil tas dan kunci mobilnya. Tanpa memedulikan seruan Baekhyun yang memanggilnya, Kyungsoo tetap melanjutkan langkah panjangnya yang terburu-buru. Meninggalkan Baekhyun yang menatapnya bingung di belakang.
Lalu sebuah pemahaman melintasi benak Baekhyun; pernikahan sandiwara itu bukan lagi sekadar sandiwara bagi sahabatnya.
.
.
.
Kyungsoo memasuki rumahnya yang hening. Seperti dugaannya, Chanyeol belum pulang. Kyungsoo langsung terduduk di tepi tempat tidur Chanyeol. Tempat tidur yang selama beberapa minggu belakangan ini menjadi tempat tidurnya juga. Kyungsoo menolak memikirkan segala ucapan Baekhyun tadi, namun Kyungsoo tidak bisa mencegah hatinya yang mulai tergores dan mengalirkan luka.
Hingga jam menunjukkan pukul satu dini hari, Chanyeol belum juga pulang. Perasaan yang menghantui hati Kyungsoo semakin tak tertanggungkan, hingga Kyungsoo meringkuk dan mengubur wajahnya di bantal. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Kyungsoo mendengar langkah kaki, lalu suara shower dinyalakan.
Kyungsoo berusaha mengusir perasaan menyesakkan di dadanya, namun Kyungsoo tidak sanggup. Maka Kyungsoo hanya mampu terdiam menggigit bibirnya ketika Chanyeol berbaring di sisinya dan memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu," bisik Chanyeol.
Kyungsoo menarik napas perlahan, lalu bertanya, "Kau baru pulang? Dari mana?"
"Hmm. Rumah temanku, seperti biasa," jawab Chanyeol tenang.
"Siapa temanmu? Apakah aku mengenalnya?" kejar Kyungsoo.
"Tentu saja kau mengenalnya," jawab Chanyeol.
Kyungsoo berbalik menatap Chanyeol. "Benarkah? Aku mengenalnya?"
Chanyeol mengangguk, lalu mengecup kening Kyungsoo lembut.
"Lebih baik kau tidur sekarang. Sebelum aku mulai melakukan ide-ide bagus di otakku yang akan membuatmu membolos kerja besok," bisik Chanyeol.
Kyungsoo tersenyum seraya memejamkan matanya. Tak membutuhkan waktu lama hingga mimpi indah membuainya dan mengusir segala gundahnya.
.
.
.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak :)
-GOMAWO-
