Pintu kantor Kyungsoo diketuk dan tak lama setelahnya wajah Tao muncul.
"Soo-ya, aku lupa memberitahumu. Hari ini aku akan pergi ke makam ibuku dengan Taemin dan ayahku. Kau akan baik-baik saja tanpaku, bukan?" ucap Tao terburu-buru.
"Tentu. Sampaikan salamku untuk Taemin dan Hangeng Ahjussi," balas Kyungsoo.
Tao tersenyum sekilas, lalu melangkah pergi.
Pekerjaan Kyungsoo hari itu tidak terlalu banyak. Bahkan sebelum makan siang pun Kyungsoo sudah berhasil menyelesaikannya. Kyungsoo menutup laptopnya sambil menghela napas. Perutnya berbunyi meminta diisi.
Kyungsoo melangkah menuju kafetaria di bagian kanan gedung, melewati taman kantornya yang dipenuhi rerumputan hijau juga bunga beraneka warna. Meskipun kelaparan, Kyungsoo sengaja memperlambat langkahnya karena taman itu mengingatkannya pada halaman rumah sederhana bercat kuning itu. Rumah tempat ibunya tinggal.
Tiba-tiba langkah Kyungsoo terhenti saat melihat dua sosok yang terlihat familiar baginya. Benar saja, begitu Kyungsoo melangkah mendekat, Kyungsoo mengenali dua sosok itu sebagai Luhan dan Sehun. Kyungsoo tidak bisa mendengar mereka, namun melihat bahasa tubuh mereka yang tegang, Kyungsoo menebak mereka sedang terlibat perdebatan.
Kyungsoo melangkah mendekat—bukan untuk menguping, karena itu satu-satunya jalan menuju kafetaria—ketika Luhan melihatnya. Luhan menatap Kyungsoo dengan mata yang berkaca-kaca, dan bibirnya membuka mengucapkan dua kalimat yang membuat Kyungsoo mematung seutuhnya.
"Anak ini adalah anak Chanyeol. Aku mengandung anak dari suami adikku."
Keheningan membalut sempurna setelahnya. Sehun yang berdiri membelakangi Kyungsoo sama sekali tidak tahu sahabatnya itu berdiri membeku di belakangnya. Sementara Luhan terus menatap Kyungsoo, dengan setetes air mata yang mengaliri wajahnya. Dan Kyungsoo bersumpah, sepanjang hidupnya mengenal Luhan, Kyungsoo belum pernah melihat Luhan menangis seperti itu. Dalam diam, bersama luka yang menganga.
"Kau bohong!" seru Sehun.
Luhan kembali menatap Sehun, lalu membalas dengan dingin, "Kau bisa membuktikannya setelah bayi ini lahir."
Seketika berbagai ingatan membanjiri pikiran Kyungsoo. Malam-malam ketika Chanyeol pergi tanpa kabar. Jawaban menghindar yang Chanyeol berikan. Hingga jawabannya yang mengatakan bahwa Kyungsoo mengenal temannya.
Tentu saja Kyungsoo mengenalnya, karena teman yang dimaksud Chanyeol adalah Luhan. Ya, Luhan— kakak Kyungsoo— yang kini mengandung bukti dari kebohongan dan pengkhianatan Chanyeol.
Kyungsoo tidak sanggup lagi. Kyungsoo tidak mampu menanggungnya lagi. Dengan cepat Kyungsoo berbalik, dengan perdebatan Sehun dan Luhan yang belum usai di belakangnya. Langkah Kyungsoo terasa berat, namun akhirnya Kyungsoo berhasil kembali ke kantornya dan mengunci pintunya.
Setelah itu Kyungsoo melakukan satu hal yang tak pernah ia sangka akan ia lakukan seumur hidupnya. Kyungsoo jatuh berlutut dengan isakan yang menyayat, menangisi hatinya yang hancur lebur karena harapan semu yang didekapnya.
.
.
.
.
Chanyeol menggedor pintu kantor Kyungsoo diiringi suara yang menyerukan nama Kyungsoo. Chanyeol sudah mencari Kyungsoo ke setiap tempat yang bisa dipikirkannya dan kini waktu menunjukkan sudah hampir berganti hari. Ponsel Kyungsoo tidak aktif sejak tadi siang dan rasa khawatir hampir membunuh Chanyeol.
"Kyungsoo-ya! Aku tahu kau ada di dalam! Buka pintunya, Kyung!"
Tetap hening. Tidak ada jawaban.
Chanyeol menempelkan dahinya di pintu, berusaha mengendalikan rasa takutnya. Chanyeol akan membunuh dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Kyungsoo.
"Kyungie, jika kau berada di dalam, keluarlah. Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin kau pulang. Kita bicarakan apa pun masalahmu," ucap Chanyeol dengan nada membujuk.
Tetap tidak ada jawaban.
Chanyeol mendesah, lalu berbalik dan mulai berjalan pergi. Tanpa menyadari, bahwa daun pintu yang baru saja disandarinya menyimpan Kyungsoo di baliknya.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Kyungsoo pulang ke rumah ketika matahari mulai terbit. Kyungsoo harus mengambil pakaian dan barang-barang lainnya. Kyungsoo tahu pada satu titik ia harus menghadapi Chanyeol, namun Kyungsoo tidak menyangka begitu ia membuka pintu Chanyeol sudah menariknya ke dalam pelukan.
"Kau pergi ke mana, Kyungie? Aku mengkhawatirkanmu. Ada masalah apa? Mengapa kau menghindariku?" ucap Chanyeol cemas.
Kyungsoo melepaskan pelukan Chanyeol, lalu melanjutkan langkah menuju kamarnya.
"Kyungsoo, katakan sesuatu. Apa yang terjadi padamu?" cecar Chanyeol seraya menahan tangan Kyungsoo.
Kyungsoo menyentak tangannya, lalu menjawab, "Aku baik-baik saja."
"Ke mana kau pergi semalam, Kyung?" tanya Chanyeol lagi.
Kyungsoo menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol tepat di manik hitam- kecoklatanya.
"Jika kujawab dari mana aku pergi semalam, akankah kau memberitahuku siapa temanmu itu?" balas Kyungsoo.
"Teman?"
"Ya. Teman yang menghabiskan waktu denganmu hingga larut malam. Teman yang juga kukenal, kau bilang."
"Apa hubungannya, Kyungsoo?"
"Jawab saja, Chan. Jika kukatakan di mana aku semalam, maukah kau menyebutkan namanya?"
"Kyungie-a, apa yang salah denganmu?" balas Chanyeol gusar.
Alih-alih menjawabnya, Kyungsoo justru melanjutkan langkah. Kyungsoo bisa merasakan langkah kaki Chanyeol di belakangnya, namun Kyungsoo tidak peduli. Prioritasnya saat ini adalah mengambil pakaian dan barang-barang pribadi lainnya. Kyungsoo harus menghadiri rapat pukul sembilan nanti.
"Kau marah padaku hanya karena hal itu?" seru Chanyeol frustrasi. Lalu ia melanjutkan, "Aku mencarimu ke semua tempat, Kyungsoo! Aku hampir mati mencemaskanmu karena ponselmu tidak bisa dihubungi. Berhenti bersikap kekanakan dan bicaralah denganku."
Amarah Kyungsoo memuncak mendengarnya. Dengan segenap luka, Kyungsoo kembali berbalik menghadap Chanyeol dan menyarangkan tinju kecilnya di dada Chanyeol.
"Bagaimana bisa kau sekejam itu? Bagaimana bisa kau melakukannya padaku setelah segala hal yang kita lalui? Aku memercayaimu!" ucap Kyungsoo dengan nada bergetar.
"Kyungie-a, apa yang terjadi?" tanya Chanyeol seraya menangkup wajah Kyungsoo yang kini dialiri air mata.
"Aku memercayaimu dan kau membohongiku!" jawab Kyungsoo.
"Apa?"
"Bagaimana bisa, Chan? Aku memercayaimu. Mengapa kau melakukannya?"
"Kyungsoo, apa yang kau bicarakan? Astaga, jika ini begitu penting, aku akan menjawabnya. Aku pergi ke rumah Minseom. Kau mendengarku? Aku pergi ke rumah Minseok, tunangan Jongdae, yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluargamu."
Kyungsoo semakin terisak mendengarnya. Chanyeol tetap berbohong. Bahkan setelah semuanya, Chanyeol tetap membohonginya. Selama sesaat Kyungsoo terkurung dalam tangisnya. Lalu ketika isakannya mulai reda, Kyungsoo menepis tangan Chanyeol. Gadis itu menggelengkan kepalanya, kemudian menghapus air matanya.
"Aku ingin kita bercerai," putus Kyungsoo
Chanyeol terhenyak. Ia kehilangan kata.
"Aku tidak akan menjalani hidup seperti yang dijalani ibuku. Aku tidak akan berakhir seperti dirinya. Aku tidak bisa, Chanyeol. Aku akan melepasmu. Aku ingin kita bercerai."
"Kyungsoo…"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kontrak kita. Kau benar, sejak awal kita sudah melanggarnya. Aku akan segera mengalihkan nama pemilik resort di pulau Jeju menjadi namamu. Kau bisa pulang ke Los Angeles setelah kau menandatangani surat cerai kita."
Chanyeol menarik Kyungsoo hingga jarak mereka lekat sempurna, menatap Kyungsoo dengan rasa yang tak lagi disembunyikannya.
"Aku tidak bisa melakukannya, Kyungsoo. Aku tidak akan melepasmu," ucap Chanyeol.
"Ya, Chan. Kau akan melakukannya. Aku ingin kita bercerai," sahut Kyungsoo tegas.
"Berhenti mengucapkan kalimat terkutuk itu, Do Kyungsoo. Kita bisa menyelesaikan masalah ini. Kita akan melewatinya. Kau hanya harus memberitahuku," balas Chanyeol.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan, Chanyeol. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita bercerai!" teriak Kyungsoo seraya mendorong tubuh Chanyeol menjauh.
"Aku tidak bisa melakukannya, Kyung!" sahut Chanyeol.
"Kenapa?" tantang Kyungsoo.
"Karena aku mencintaimu! Aku mencintaimu, Do Kyungsoo."
Pengakuan itu mematikan segala daya. Sesuatu kembali merekah di dalam hati Kyungsoo. Sebuah harapan. Namun secepat itu tumbuh, secepat itu pula layu. Amarah Kyungsoo menguap, tergantikan oleh sesuatu yang lebih tajam; kekecewaan. Karena Kyungsoo sungguh tidak memercayainya. Tidak setelah hal buruk yang Chanyeol lakukan padanya.
Lagipula, bukankah sejak awal segalanya telah mustahil? Mustahil bagi Chanyeol untuk mencintai Kyungsoo, karena Chanyeol memiliki kesempurnaan, sementara Kyungsoo hanyalah gadis berbalut luka. Jika bukan karena perjanjian bodoh itu, Chanyeol bahkan tidak akan sudi menghabiskan waktu dengan Kyungsoo. Demi Tuhan, Chanyeol adalah seorang sutradara terkenal yang dipuja dunia. Sementara Kyungsoo hanya seorang arsitek bodoh yang berusaha membalas dendam. Semua hal yang mereka lakukan ini demi resort yang amat Chanyeol dambakan dan Kyungsoo hanyalah penjual dengan permintaan ekstra. Kini, ketika semuanya menjadi jelas, mengapa harus berharap kembali pada sesuatu yang semu?
Kyungsoo tidak akan melakukannya. Kyungsoo tidak bisa melakukannya.
"Selamat tinggal, Chan."
.
.
.
.
Baekhyun menatap pria tampan dengan wajah bersedih yang duduk di hadapannya tanpa mampu melakukan apa pun. Sudah dua minggu belakangan ini Baekhyun menjadi penghubung antara Kyungsoo dan Chanyeol. Karena Kyungsoo sama sekali tidak mau bertemu dengan Chanyeol, Chanyeol membutuhkan Baekhyun untuk menjaga Kyungsoo dan memastikannya baik-baik saja.
"Hari ini keadaannya semakin memburuk. Secara fisik ia baik-baik saja, namun ekspresi kosongnya itu semakin kosong. Entah bagaimana ia melakukannya. Ia menutup dirinya, bahkan dariku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Setiap kali kutanya, Kyungsoo selalu mengalihkan percakapan," tutur Baekhyun.
Chanyeol menghela napas. "Aku juga tidak mendapatkan apa pun dari para sepupunya. Tao adalah orang terakhir yang bertemu Kyungsoo hari itu dan Tao mengatakan Kyungsoo baik-baik saja. Terlihat bahagia, katanya. Lalu mengapa Kyungsoo menghilang? Aku benar-benar tidak mengerti," balas Chanyeol.
"Apa tepatnya yang terjadi di antara kalian?" tanya Baekhyun.
"Kyungsoo meminta cerai—entah atas alasan apa—dan aku mengatakan bahwa aku mencintainya," jawab Chanyeol pelan.
Baekhyun terkejut. Matanya mengerjap, sebelum akhirnya bisa kembali bersuara.
"Kau mencintai Kyungsoo?" gumam Baekhyun tak percaya.
Chanyeol mengangguk. "Ironis, bukan? Aku mengaku mencintainya dan ia meminta perceraian."
"Kau sudah melakukan cara lain untuk meyakinkan Kyungsoo?"
"Lebih tepat dikatakan apakah ada cara lain untuk meyakinkannya? Aku sudah melakukan segalanya. Namun Kyungsoo tetap teguh dengan keputusannya. Aku belum pernah bertemu gadis yang lebih keras kepala darinya."
"Tapi kau tidak akan menyerah."
"Ya, aku tidak akan menyerah."
Baekhyun terpana melihat kesungguhan dalam Chanyeol. Tidak pernah terbayang sebelumnya, pernikahan negosiasi itu benar-benar akan berubah menjadi sesuatu yang nyata. Baekhyun tidak tahu apakah ia harus senang atau sedih, karena pernikahan negosiasi itu adalah idenya.
"Kau tahu, aku rasa cintamu bukanlah cinta sepihak. Aku mengenal Kyungsoo sebaik aku mengenal kakakku sendiri. Kyungsoo tidak akan bereaksi seperti ini jika ia tidak memiliki perasaan untukmu," ucap Baekhyun.
"Aku tahu," balas Chanyeol. Lalu ia bangkit berdiri dan melanjutkan, "Aku akan mencoba meyakinkannya lagi."
Baekhyun mengangguk. "Semoga beruntung."
Chanyeol tersenyum, dalam hati berharap semoga doa itu dapat membantunya untuk mendapatkan gadisnya kembali.
.
.
.
.
Kyungsoo mendongak ketika pintu kantornya terbuka. Chanyeol, tentu saja. Pria itu tidak henti menghantuinya dengan segala bujuk rayu. Bahkan setelah dua minggu berlalu, pria itu belum menyerah.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Kyungsoo dingin.
"Aku ingin tahu masalah sesungguhnya. Kau harus memberitahuku, Kyung. Apa yang sudah kulakukan hingga kau marah padaku?" balas Chanyeol sungguh-sungguh.
Kyungsoo bangkit dari kursinya dan berdiri di hadapan Chanyeol.
"Kau berbohong padaku," jawab Kyungsoo.
"Kapan, Kyung? Kapan aku berbohong padamu?" tuntut Chanyeol. Perdebatan semacam ini sudah terjadi berulang kali hingga membuat Chanyeol berpikir ia sedang memutari lingkaran setan.
"Kau berbohong padaku saat ini, Chanyeol," jawab Kyungsoo.
"Demi Tuhan, Kyungsoo. Aku tidak pernah berbohong padamu. Aku mencintaimu!"
Setelah itu Chanyeo merengkuh wajah Kyungsoo dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Kyungsoo yang bergetar. Menenggelamkannya dalam ciuman yang penuh damba. Chanyeol dapat merasakan reaksi Kyungsoo yang membalas ciumannya, tepat sebelum air mata mengaliri wajah Kyungsoo.
Chanyeol langsung melepaskan bibirnya, menatap Kyungsoo dengan nanar.
"Sial! Kyungsoo, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan pernah menyakitimu," bisik Chanyeol.
"Maka berhenti menyakitiku," balas Kyungsoo lemah.
"Bagaimana? Beritahu aku caranya, Kyung."
Kyungsoo menahan isaknya, lalu membalas tatapan Chanyeol. "Pergi dari hidupku."
"Kau tidak bersungguh-sungguh, Kyungsoo. Kau mencintaiku!" seru Chanyeol tidak percaya.
"Ya, aku mencintaimu. Lalu apa? Tidak akan ada yang berubah. Aku tidak bisa percaya lagi. Aku tidak percaya pada cinta. Dan aku akan terus menderita selama kau berada dalam hidupku," sahut Kyungsoo lirih.
Chanyeol kehilangan kata. Ucapan Kyungsoo itu bagaikan sembilu yang mengukirkan luka panjang di hatinya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi padanya? Gadis yang dicintainya, yang juga mencintainya, tidak bisa percaya pada cinta mereka. Apa yang tersisa bagi Chanyeol untuk diperjuangkan, jika gadisnya saja merasa menderita dengan kehadirannya?
"Aku mohon. Pergilah, Chan. Aku tidak bisa melanjutkan semua sandiwara ini. Aku mohon," pinta Kyungsoo.
Chanyeol mengulurkan kedua lengannya, memeluk Kyungsoo dengan erat selama beberapa saat.
"Semua ini bukan sandiwara bagiku, Kyung. Kau harus tahu itu. Aku sudah berhenti bersandiwara di hari kau membuatkanku sarapan. Kau adalah temanku. Kau adalah milikku," bisik Chanyeol lembut.
Kyungsoo semakin tenggelam dalam tangisnya, hingga Chanyeol melepaskan pelukannya dan mengecup keningnya lembut.
"Aku akan pergi, Kyungsoo. Tapi aku menolak perceraian itu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah melepasmu," ucap Chanyeol dengan kesungguhan yang tak terbantahkan.
Setelah itu Chanyeol membalikkan tubuh dan mulai melangkah menjauh. Meninggalkan Kyungsoo yang menangis pilu di belakangnya. Menangisi hidup yang tak lelah mempermainkannya. Menangisi ketidakmampuannya untuk berjuang bersama pria yang dicintainya.
Bersama dengan penyesalannya, Kyungsoo membisikkan kalimat yang tak mampu ia ucapkan. Kalimat yang menjadi penanda atas kekalahannya dalam melawan ketakutannya.
"Tapi aku sudah melepasmu, Chan. Bahkan sebelum aku sempat memilikimu."
.
.
.
.
Los Angeles, Januari 2015~
Key membuka pintu apartemen Chanyeol dan mendesah begitu melihat kekacauan di hadapannya. Sejak kembali dari Seoul satu bulan yang lalu, tidak ada hal lain yang dilakukan Chanyeol selain mengurung diri di apartemennya. Chanyeol benar-benar berantakan dan Key tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membantu bosnya itu. Bahkan dulu, ketika seluruh keluarganya meninggal, Chanyeol masih bisa hidup selayaknya manusia normal. Key tidak menyangka akan melihat kehancuran sedahsyat ini dalam diri Chanyeol.
Key menghampiri Chanyeol yang duduk di ruang menonton. Layarnya sedang memutar film animasi, namun tatapan Chanyeol benar-benar kosong. Seakan-akan Chanyeol berada dimensi lain sementara tubuhnya terperangkap di dunia ini.
"Selamat tahun baru," ucap Key seraya duduk di sebelah Chanyeol.
"Ada apa?" tanya Chanyeol datar.
Key menghela napas, lalu menjawab, "Do Kyungsoo sudah mengubah nama kepemilikan resort di pulau Jeju menjadi namamu. Naskah sudah selesai dan para pemain sudah ditetapkan. Kau bisa memulai produksi kapan pun kau mau."
Chanyeol tidak memberikan respons apa pun selama beberapa saat. Kemudian Chanyeol berdiri dan melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, Chanyeol menoleh pada Key dan berkata dengan nada hampa.
"Pesan tiket ke pulau Jeju untuk besok. Hubungi kru lainnya. Kita akan mulai bekerja."
.
.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak
-GOMAWO-
