Awas typo
.
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
.
Seoul, Januari 2015~
Kyungsoo menutup kardus terakhir berisi barangnya. Kyungsoo menatap kamarnya yang kini kosong dengan seulas senyum datar. Ini adalah keputusan terbaik. Kyungsoo berencana untuk pindah lagi ke apartemen lamanya. Rumah yang ditempatinya selama ini dengan Chanyeol terlalu banyak menjeritkan kenangan, membuat Kyungsoo tidak tahan bahkan hanya dengan berada di dalamnya.
Kyungsoo mendesah, lalu kembali mengecek lemarinya. Ia tidak ingin meninggalkan apa pun di rumah ini, karena Kyungsoo tidak akan kembali lagi. Kyungsoo mematung ketika menemukan sebuah kotak persegi berwarna hitam di dasar lemarinya. Perlahan Kyungsoo mengambil kotak itu—yang di dalamnya berisi album foto—dan membukanya. Album foto milik Chanyeol, yang diberikan pria itu sebelum kepulangannya ke Los Angeles.
Kyungsoo membuka halaman pertama yang menampakkan foto di hari pernikahan mereka. Foto ketika Kyungsoo tertawa dalam pelukan Chanyeol di bawah sinar mentari yang akan terbenam. Halaman selanjutnya adalah foto setelah mereka bermain arung jeram. Kyungsoo terlihat begitu bahagia dengan Chanyeol memeluk pinggangnya dan Jongdae memeluk bahunya dari sisi lain.
Kyungsoo terus membuka album itu, membiarkan air matanya menetes seiring lembar demi lembar yang dibukanya. Halaman terakhir album itu adalah sebuah foto candid ketika mereka berada di Los Angeles. Chanyeol menempelkan tangan Kyungsoo ke pipinya, sementara Kyungsoo tersenyum manis kepada Chanyeol. Ada sebuah kalimat di bawahnya. Tertulis:
Sebelum kau memutuskan untuk melepasnya, ingatlah kembali saat kita mendekap satu hal yang sama; harapan.
Kyungsoo mendekap album itu erat-erat. Dengan segenap hatinya, Kyungsoo menyesal. Kyungsoo sungguh menyesal karena cinta mereka tidak menemukan muara. Mengapa hal ini harus terjadi?
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, menyentak Kyungsoo keluar dari tangisnya. Mungkin petugas yang disewanya untuk memindahkan barang sudah datang. Kyungsoo menghapus air matanya dan berjalan untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya Kyungsoo ketika melihat tamunya adalah Minseok, tunangan Jongdae.
"Hai, Minseok. Silakan masuk," sapa Kyungsoo.
Minseok menggeleng. Ia mengulurkan sebuah bungkusan kado berwarna tosca pada Kyungsoo, lalu berkata, "Aku datang untuk mengantarkan ini."
Kyungsoo mengerjap bingung, namun tetap menerimanya.
"Selamat ulang tahun, Kyungsoo."
Kyungsoo semakin bingung. Ia menatap Minseok dengan kening berkerut, lalu bertanya, "Kau mengingat hari ulang tahunku?"
"Ya. Chanyeol memberitahuku."
Kyungsoo membeku.
"Semoga kau menyukai hadiahnya. Chanyeol berusaha sangat keras untuk menyelesaikannya. Dan aku berharap kalian segera berdamai, apa pun masalah yang kalian hadapi. Sampai jumpa, Kyungsoo."
Setelah mengucapkan itu Minseok melangkah pergi. Tanpa membuang waktu, Kyungsoo langsung membuka bungkusan cantik berwarna tosca itu. Begitu melihat isinya, Kyungsoo pecah dalam tangis yang hebat.
Karena isi dari kado itu adalah sebuah sweater. Sweater sederhana berwarna baby blue. Sungguh tidak ada yang istimewa dari sweater itu, yang bahkan di beberapa bagian menampakkan kesalahan-kesalahan kecil. Siapa pun yang melihatnya akan tahu bahwa sweater itu dibuat oleh orang yang masih dalam tahap belajar. Dan fakta itu hanya semakin menghancurkan Kyungsoo. Karena tanpa keraguan, Chanyeol adalah pembuatnya.
Chanyeol merajutkan sebuah sweater untuk kado ulang tahun Kyungsoo.
Seketika ingatan Kyungsoo terlempar pada percakapannya dengan Chanyeol sore itu, setelah pertempuran tepung mereka. Chanyeol sudah mencintainya, bahkan pada saat itu. Chanyeol mencintainya. Sungguh mencintainya.
Dengan tangan bergetar, Kyungsoo memeluk sweater-nya. Begitu lembut, seolah bisikan Chanyeol yang menyatakan cintanya terdengar bersama angin yang bertiup. Saat itulah sebuah kertas terlipat meluncur jatuh. Kyungsoo membuka lipatannya dan melihat tulisan Chanyeol.
Untuk satu-satunya gadis yang kucintai. Gadis yang selalu lebih dari sekedar cantik bagiku. Gadis yang hanya akan mengenakan sweater dari yang mencintainya. Dan aku mencintainya. Aku mencintai gadisku. Dan kau adalah gadisku, Kyungsoo. Kau malaikat tak sempurna yang menyempurnakanku.
Aku mencintaimu.
Air mata Kyungsoo luruh tak terbendung. Kyungsoo telah melakukan kesalahan besar. Begitu besar hingga rasanya amat menyakitkan. Karena Kyungsoo telah melepas Chanyeol. Kyungsoo menyerah pada pria yang mencintainya, pria yang bahkan tak pernah menyerah untuk menggapainya.
Seharusnya Kyungsoo memercayai Chanyeol. Bukankah semua sudah jelas dari awal? Chanyeol adalah pria yang tulus. Pria yang tumbuh menjadi pribadi utuh juga dipenuhi cinta. Bahkan ketika hubungan mereka memburuk di masa awal pernikahan mereka, Chanyeol berkorban untuk belajar catur. Chanyeol juga belajar memahami cara mengemudi di negara ini agar mampu menjaga Kyungsoo yang sering pulang larut dalam keadaan lelah. Semua hanya untuk Kyungsoo. Belum lagi semua pengorbanannya yang merelakan waktu juga tenaganya hanya untuk sekedar memastikan bahwa Kyungsoo baik-baik saja.
Seharusnya Kyungsoo tahu. Seharusnya Kyungsoo tidak membiarkan lukanya menyakiti Chanyeol dan menghancurkan segala yang mereka miliki.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Kyungsoo kembali masuk ke rumah dan meraih kunci mobil juga ponselnya. Kyungsoo menekan kontak Luhan dan nada sambung terdengar.
"Di mana kau saat ini?" tanya Kyungsoo tanpa basa-basi.
"Di rumah Appa. Ada apa?" balas Luhan.
"Ada sesuatu yang harus kubicarakan. Tunggu di sana."
.
.
.
Kyungsoo baru saja turun dari mobilnya ketika sebuah mobil berhenti di belakangnya. Sehun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kyungsoo bingung.
Sehun tidak menjawab dan terus melangkah memasuki rumah. Ketika menemukan Luhan yang baru akan menaiki tangga, Sehun langsung menarik tangannya.
"Kau berbohong padaku," ucap Sehun.
Luhan mencoba melepaskan tangannya, namun tenaga Sehun lebih kuat.
"Lepaskan aku, Sehun! Terjadi sesuatu di atas," balas Luhan. Tepat setelahnya terdengar suara teriakan juga barang pecah.
Luhan segera berlari menaiki tangga, diikuti Sehun dan Kyungsoo. Suara teriakan itu semakin jelas terdengar. Arahnya dari ruang kerja Do Siwon.
Kyungsoo yang terakhir memasuki ruangan itu dan Kyungsoi sama sekali tidak siap dengan pemandangan di hadapannya. Do Donghae sedang menodongkan pistol ke arah ayahnya. Di samping Donghae berdiri Taeyeon, ibu dari Jongdae juga Kris. Kyungsoo memandangi keanehan itu dalam diam, karena setelah mereka bercerai, Taeyeon tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi. Anak-anaknya bahkan tidak pernah melihatnya sekalipun sejak perceraian itu karena hak asuh jatuh ke tangan Donghae.
"Aku bersumpah, Donghae! Aku tidak membunuh Yoona!" seru Siwon.
"Bohong! Aku selalu tahu kau akan membunuhnya, Siwon! Kau hanya peduli pada hartanya! Kau tidak pernah mencintainya! Kau menyakitinya sepanjang pernikahan kalian!" balas Donghae senjata di tangannya bergetar di setiap kalimatnya.
"Dan sekarang, aku akan membunuhmu!" teriak Donghae penuh dengan emosi.
"Hentikan, Ahjussi! Appa tidak bersalah!" seru Luhan seraya berdiri di hadapan Siwon.
"Minggir kau, gadis jalang. Jika kau menyayangi nyawamu yang tidak berharga itu, kau harus pergi dari sana sekarang juga. Karena aku tidak akan segan menembakmu. Jika saja aku tahu kau akan mengubah Yoona-ku menjadi gila, aku tidak akan pernah membawamu ke rumah ini," desis Donghae
Kyungsoo membekap mulutnya. Tidak. Semua ini tidak mungkin. Kyungsoo menolak percaya bahwa Donghae sang paman yang menjadi dalang kehancuran keluarganya. Donghae menyayanginya dan tidak akan pernah melakukan hal itu padanya.
"Ahjussi?" panggil Kyungsoo lirih.
Donghae menoleh dan ekspresi wajahnya berubah. Kelembutan menyisip di antara amarahnya.
"Kyungsoo-ya…"
"Apakah itu benar, Ahjussi? Kaulah yang membawa Luhan ke rumah ini? Kau berencana menghancurkan keluargaku?" tanya Kyungsoo dengan luka yang tak bisa disembunyikan.
"Soo-ya, kau harus mengerti. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin mendapatkan Yoona-ku. Aku mencintainya, Kyungsoo. Aku mencintainya jauh sebelum bajingan itu mencintainya. Namun Yoona tidak mencintaiku. Yoona justru memilih bajingan itu yang hanya peduli pada hartanya dan berselingkuh dengan adiknya sendiri di belakangnya. Aku tidak bisa menahannya lebih dari itu, Kyungsoo. Aku harus menyadarkan Yoona- Ibumu. Hanya saja aku tidak pernah memperkirakan reaksi Yoona. Kupikir setelah melihat bukti pengkhianatan suaminya, ia akan datang padaku. Namun pada kenyataannya? Ibumu tenggelam dalam depresinya dan kini ia meninggalkanku selamanya," jawab Donghae.
"Dan semua itu adalah salahnya!" lanjut Donghae dengan senjata yang kembali terarah pada Siwon.
"Ahjussi, kau tidak akan melakukannya. Kau tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Kau tahu Appaku tidak bersalah. Appaku tidak akan pernah membunuh Yoona," sahut Luhan.
"Apa katamu tadi? Appamu tidak bersalah? Lalu siapa yang bersalah? Kau?" tanya Donghae
Luhan tidak menjawab dan diamnya diartikan sebagai jawaban ya oleh Donghae.
"Kau gadis sialan! Kau membunuh Yoona-ku!" teriak Donghae kalap.
Pelatuk ditarik dan suara letusan terdengar. Sebuah bayangan menghalangi laju peluru dan jeritan pilu mengisi keheningan setelahnya.
"Sehun! Oh, tidak! Sehun!"
Tubuh Sehun roboh, namun sebelum kehilangan kesadarannya, Sehun berkata, "Tanyakan pada… mantan istrimu, Donghae. Ia… menyembunyikan banyak hal. T-termasuk api… yang disulutnya."
Luhan memeluk tubuh Sehun dan menangis tersedu, sementara Kyungsoo masih membeku.
"Taeyeon, apa yang dikatakan pemuda itu? Kau membunuh Yoona-ku?" tanya Donghae nanar.
Taeyeon melangkah mundur perlahan.
"Jawab pertanyaanku! Atau kutembak kepalamu!" sentak Donghae.
Taeyeon mengepalkan tangannya, bibirnya bergetar ketika menjawab.
"Aku sudah muak denganmu, Donghae! Kau hanya datang padaku ketika kau membutuhkanku! Kau menjadikanku sebagai pelampiasan nafsumu sementara hatimu kau berikan pada wanita yang sudah bersuami! Kau bahkan merenggut anak-anakku dariku! Aku membencimu!" teriak Taeyeon tak terkendali.
Suara letusan kembali terdengar dan tubuh Taeyeon roboh dengan kepala yang terlubangi peluru.
"Sekarang, giliranmu, Siwon!"
Sebelum pelatuk kembali ditarik, suara gaduh mengisi keheningan mereka. Tiba-tiba beberapa polisi bersenjata memasuki ruangan dan membidik Donghae sebagai sasaran.
"Jangan bergerak!"
Donghae mengarahkan senjatanya pada polisi terdekat, namun usahanya gagal karena sebuah peluru bersarang di tangan kanannya hingga senjatanya jatuh ke lantai. Setelah itu segalanya berjalan cepat. Polisi menangkap Donghae, sementara petugas medis mulai mengurus Sehun. Luhan jatuh pingsan setelahnya, membuat Kyungsoo berlari menghampirinya. Beberapa orang menanyakan keadaan Kyungsoo, namun Kyungsoo menjawab bahwa ia baik-baik saja dan menunjuk Luhan dengan panik.
Di antara kepanikan itu, sebuah pertanyaan terselip di benaknya. Siapa yang telah menghubungi polisi? Ketika Kyungsoo mendongak, Kyungsoo bertatapan dengan jawaban dari pertanyaannya.
Kris.
.
.
.
Kyungsoo duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan pandangan tertuju pada ponsel di genggamannya. Luhan belum sadarkan diri, begitu juga Sehun yang telah menyelesaikan operasinya beberapa jam lalu guna mengeluarkan proyektil yang bersarang di tubuhnya. Kyungsoo tidak bisa meninggalkan mereka berdua, karena selain tidak ada orang lain yang bisa menunggui mereka, Kyungsoo juga membutuhkan jawaban.
"Do Kyungsoo?"
Kyungsoo mendongak dan langsung berdiri begitu seorang dokter pria dengan kacamata tebal menghampirinya. Ada senyum di wajah dokter itu yang berhasil mengurangi ketegangan Kyungsoo.
"Saudara Sehun sudah sadar dan ia ingin bertemu dengan Anda," ucapnya.
"Terima kasih, Dok," sahut Kyungsoo sebelum melangkah memasuki kamar rawat Sehun.
Setelah menutup pintu, Kyungsoo menghampiri Sehun yang masih terbaring lemah dengan tangan tersambung selang infus. Tidak ada luka lain pada tubuh Sehun sehingga Kyungsoo bisa menenangkan dirinya.
"Tenang, Kyungsoo. Aku baik-baik saja," ucap Sehun.
Kyungsoo tidak membalas. Hanya terus menatap Sehun. Benaknya berpacu dengan rentetan pertanyaan yang ingin disuarakannya, namun Kyungsoo tidak tahu harus mulai dari mana.
"Seperti yang bisa kau tebak, anak yang dikandung Luhan adalah anakku. Luhan tidak mau mengakuinya, namun aku tahu. Aku mulai bersimpati padanya setelah aku menyelidiki masa lalunya—atas permintaanmu itu. Aku tidak menemukan bukti apa pun yang menyangkutkan Luhan dengan kematian ibumu. Aku justru menemukan fakta-fakta menyedihkan, Kyungsoo. Aku mengetahui kehidupan Luhan sebelum ia datang ke dalam hidupmu," ujar Sehun lemah.
Lalu dimulailah penjelasan Sehun mengenai hari-hari gelap dalam hidup Luhan. Setelah ibunya meninggal ketika Luhan berusia tigabelas tahun, Luhan hidup dari panti asuhan satu ke panti asuhan lain. Banyak orang membencinya karena kecantikannya, namun ada lebih banyak yang memujanya. Ketika menginjak usia limabelas tahun, Luhan diangkat oleh sepasang suami-istri yang tinggal di Seattle. Awalnya semua berjalan lancar; Luhan mendapatkan hak-hak yang selama ini hanya mampu diimpikannya. Pakaian, makanan, juga sekolah. Hingga suatu malam ayah angkatnya memperkosanya dan kejadian itu terus berulang hingga Luhan berusia delapanbelas tahun. Luhan pergi dari rumahnya dan saat itulah ia bertemu dengan Donghae.
"Begitu ia mengetahui apa yang kuketahui, ia menangis. Semudah itu aku jatuh cinta padanya, Kyungsok. Ia tidak jahat, ia hanya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Ia pun terluka. Sama sepertimu," ungkap Sehun muram.
Kyungsoo tidak menampilkan ekspresi apa pun di wajahnya, lalu bertanya, "Lalu bagaimana kau tahu pembunuh ibuku sebenarnya adalah Taeyeon Ahjumma?"
"Aku tidak langsung mengetahuinya. Aku hanya ingat Kris berkata bahwa Donghae menghilang setelah kematian ibumu. Aku pergi ke rumah Taeyeon dan aku melihat mereka berdua. Aku rasa mereka masih berhubungan setelah perceraian itu. Lalu aku memeriksa panggilan telepon milik Taeyeon. Dan aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan," jawab Sehun ragu.
"Apa maksudmu?"
"Aku menemukan pesan yang dikirimkan seseorang pada Taeyeon. Orang itu pada dasarnya memanfaatkan kebencian Taeyeon pada ibumu. Taeyeon tidak pernah benar-benar ingin membunuh ibumu, namun karena orang itu, Taeyeon melakukannya."
"Sehun, katakan padaku. Siapa orang itu?"
Sehun menghela napas, lalu menjawab, "Ayahmu. Orang itu adalah Ayahmu."
"Tidak mungkin," bisik Kyungsoo.
"Tidakkah kau tahu? Seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga Do saat ini adalah milik ibumu. Di surat wasiatnya yang terakhir tertulis seluruh harta kekayaannya itu akan disumbangkan, kecuali jika ayahmu masih hidup, maka ayahmu yang berhak atas seluruh kekayaan itu. Beberapa minggu sebelum kematiannya, ibumu menghubungi pengacaranya dan mengatakan akan mengubah surat wasiatnya. Aku rasa ayahmu menjadi panik ketika mendengarnya hingga ia melakukan… hal itu," jelas Sehun.
"Itulah alasanku tidak memberitahumu, Kyungsoo. Karena kupikir kau lebih baik hidup tanpa mengetahuinya. Aku merasa kau sudah memiliki cukup banyak luka. Aku tidak tahu keegoisanku itu justru membuatmu lebih sakit karena harus mengetahuinya dengan cara seperti ini," lanjut Sehun menyesal.
Kyungsoo terdiam cukup lama hingga akhirnya mampu bergerak tanpa pecah dalam tangis histeris. Kyungsoo menarik napas dalam-dalam.
"Tidak apa-apa, Sehun. Terima kasih sudah membantuku. Aku harap kau cepat sembuh," sahut Kyungsoo dengan nada hampa. Setelah itu Kyungsoo melangkah keluar dari kamar rawat Sehun.
Kyungsoo berusaha meredam kepanikannya, namun tiba-tiba saja segalanya menjadi tidak tertahankan. Tanpa berpikir panjang, Kyungsoo mengaktifkan ponselnya dan menekan satu nama yang ia pikir tak kan pernah ia tekan lagi selamanya. Setelah tiga nada sambung, teleponnya diangkat dan Kyungsoo berkata dengan suara bergetar.
"Aku membutuhkanmu."
.
.
.
.
T.B.C
