Awas typo

.

.

.

.

.

Happy reading

.

.

.

.

.

.

Luhan membuka mata dan hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit yang putih. Setelah beberapa saat, seseorang mendekatinya dan menyentuh tangannya.

"Luhan?"

Luhan menoleh dan bertatapan dengan mata kelam yang merefleksikan matanya sendiri. Mata milik adiknya.

"Bayiku?" tanya Luhan parau.

"Baik-baik saja. Kau hanya syok," jawab Kyungsoo.

"Sehun?" tanya Luhan kemudian. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Luhan tidak akan bisa hidup jika sesuatu terjadi padanya.

"Ia baik-baik saja. Operasinya berjalan lancar; peluru itu hanya mengenai perut bagian bawahnya. Tidak ada luka fatal. Ia bahkan sudah sadar sejak satu jam yang lalu," jawab Kyungsoo pelan.

"Syukurlah. Syukurlah ia baik-baik saja," gumam Luhan.

Kyungsoo menyentuh perut Luhan, lalu bertanya, "Apakah bayi ini milik Sehun?"

Luham menggigit bibirnya, air matanya mengalir, kemudian mengangguk. "Maafkan aku."

"Mengapa kau berbohong?"

"Seumur hidup, aku selalu diperlakukan seperti wanita murahan. Tidak pernah ada yang menginginkanku. Mereka semua hanya peduli pada wajahku. Ayah angkatku memperkosaku ketika usiaku menginjak limabelas tahun. Sejak saat itu aku percaya, tidak akan pernah ada yang mencintaiku. Lalu Sehun datang. Ia memahamiku dengan cara yang aneh, namun ia berhasil membuatku mencintainya. Aku tidak menyadari itu hingga aku mengetahui tentang kehamilan ini. Sehun bersikeras untuk bertanggung jawab dan saat itulah aku sadar ia benar-benar mencintaiku, bukan hanya tubuhku. Dan aku melakukan hal bodoh untuk menyelamatkannya. Karena ia berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku," jelas Luhan di antara isaknya.

Kyungsoo tidak bisa mengatakan apa pun. Hanya diam menatap Luhan yang menangis di hadapannya.

"Maafkan aku untuk segalanya. Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku, namun aku akan tetap mengatakannya. Maafkan aku, Kyungsoo. Jika saja aku bisa memutar waktu, aku tidak akan pernah masuk ke dalam hidupmu dan menghancurkan keluargamu. Aku sungguh menyesal. Karena aku berubah menjadi begitu jahat kepadamu. Maafkan aku," isak Luhan.

"Aku berharap kau juga bisa memaafkanku," balas Kyungsoo lirih.

Kyungsoo menggenggam tangan Luhan, lalu melangkah keluar dari kamar rawat. Kyungsoo sudah memaafkannya. Meski mereka tidak akan pernah memiliki hubungan selayaknya kakak-adik, setidaknya mereka sudah berhenti saling membenci dan berdamai dengan luka masing-masing. Inilah yang terbaik yang bisa mereka miliki.

Setelah menutup pintu, Kyungsoo mendongak dan bertatapan langsung dengan mata Hitam-kecoklatan yang begitu dirindukannya. Sebuah pelukan hangat menyelimutinya dan Kyungsoo memberikan seluruh bagian dirinya di dalamnya.

.

.

.

Kyungsoo berdiri di bawah shower dengan pandangan kosong. Tiba-tiba sebuah air mata lolos dari mata gelapnya dan semua kejadian yang baru saja terjadi melingkupi benaknya. Semuanya terasa sangat berlebihan dan Kyungsoo tidak sanggup menanggungnya. Maka Kyungsoo membiarkan isak tangisnya bermetamorfosa menjadi jeritan tanpa daya. Membiarkan air matanya terus mengalir.

Menangisi hidupnya, juga waktu tujuh tahun yang dihabiskannya untuk memendam dendam. Kyungsoo menangisi kepergian ibunya, kebodohan ayahnya, juga pilihan pamannya. Kyungsoo menangisi dirinya yang tanpa sadar telah berubah menjadi sesuatu yang amat dibencinya.

Perkataan Sehun terus terulang dalam benaknya. Siwon memanfaatkan kebencian Taeyeon. Api itu sudah direncakan. Pembunuhan ibunya senilai dengan seluruh harta kekayaan yang dimiliki keluarga Do. Do Siwon adalah pembunuh Do Yoona.

Entah berapa lama waktu berlalu, namun Kyungsoo tidak lagi memiliki tenaga untuk menangis maupun menjerit. Kemudian Chanyeol menghampirinya dan mengangkatnya keluar dari kamar mandi. Sementara itu Kyungsoo tetap diam, memejamkan matanya. Mencoba berdamai dengan setiap sisi gelap dalam hatinya. Lalu Chanyeol memeluknya di atas tempat tidur dan Kyungsoo jatuh dalam buai mimpi.

Ketika Kyungsoo terbangun, matahari telah bersinar terik. Lengan kokoh Chanyeol masih memeluknya dan Chanyeol sedang menatapnya dengan tatapan yang terasa jauh. Seakan-akan Kyungsoo tidak berada di dekatnya, bukan dalam dekap hangatnya.

Kyungsoo belum sanggup mengatakan apapun tentang hubungan mereka dan Chanyeol pun tidak mengungkitnya. Selama sesaat Kyungsoo hanya bernapas dengan menikmati kenyamanan yang Chanyeol tawarkan. Namun Kyungsoo masih harus melakukan satu hal sebelum akhirnya benar-benar bisa memulai dengan Chanyeol.

"Aku harus menemui ayahku," bisik Kyungsoo.

"Aku akan mengantarmu," sahut Chanyeol.

Satu jam kemudian Kyungsoo menghentikan mobilnya di depan rumah ayahnya. Chanyeol tetap menunggu di mobil, sementara Kyungsoo melanjutkan langkah memasuki rumah ayahnya. Rumah yang sempat menjadi rumahnya sebelum segalanya berubah.

Kyungsoo menemukan ayahnya sedang berdiri menghadap jendela di ruang keluarga. Entah apa yang dipandangi ayahnya, Kyungsoo tidak tahu.

"Appa," panggil Kyungsoo.

Siwon berbalik menghadapnya.

"Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan besok. Aku akan pergi dari keluarga ini," ucap Kyungsoo.

Ayahnya tetap menatapnya tanpa memberikan reaksi apa pun. Membuat seulas senyum penyesalan mengembang di wajah Kyungsoo. Karena kini Kyungsoo benar-benar yakin, ia telah menyia-nyiakan waktu tujuh tahunnya untuk memperjuangkan hal yang tidak bernyawa sama sekali. Hidup, namun tidak benar-benar hidup.

"Aku sudah mengetahui segalanya. Sehun memberitahuku. Kau memanfaatkan kebencian Taeyeon untuk menyingkirkan ibuku. Katakan padaku, bagaimana kau bisa berubah menjadi monster seperti ini? Mengapa aku tidak bisa melihatnya dalam dirimu? Aku selalu menyangkal prasangkaku, karena kau adalah ayahku. Aku mencintaimu tanpa syarat. Namun kau benar-benar berubah. Aku tak lagi mengenalmu. Kau bukanlah ayahku," ucap Kyungsoo dengan nada bergetar.

"Aku sudah merasa cukup denganmu. Aku tidak bisa berusaha menggapaimu lagi. Tidak ketika kau bahkan tidak ingin kugapai. Aku tidak bisa memperjuangkan seseorang yang membunuh keluarganya sendiri tanpa rasa bersalah sedikit pun. Aku tidak akan jatuh bersamamu. Aku akan membuat pilihan berbeda untuk hidupku. Aku tidak akan berakhir dengan hidup seperti milikmu."

Ketika Siwon tak juga bereaksi, masih menatapnya dengan datar, Kyungsoo berbalik pergi.

"Selamat tinggal, Do Siwon. Kuharap Ibu mengampunimu di mana pun ia berada."

Sepeninggalan Kyungsoo, Siwon masih tetap terdiam. Ia tahu hari ini akan datang. Hari ketika anaknya itu akan menyadari betapa mengerikan dirinya. Seorang pria yang gila akan kedudukan dan silau karena harta. Seorang pria yang rela menukar cintanya demi setumpuk uang. Seorang pria yang gagal menyelamatkan keluarganya. Seorang pria yang tetap diam, bahkan ketika hal terakhir yang dimilikinya meninggalkannya.

Siwon kembali berbalik menghadap jendela. Berusaha sekeras mungkin menulikan pendengarannya dari tawa segala benda bisu di rumah mewahnya.

.

.

.

.

.

.

T.B.C