AWAS TYPO

.

.

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo terbangun dengan aroma masakan memenuhi hidungnya. Mengikuti instingnya, Kyungsoo melangkah menuruni tangga menuju dapur. Setelah mengikat rambutnya secara asal, Kyungsoo berdiri di dapur yang kini terisi oleh lagu Demons dari Imagine Dragons. Terlihat Chanyeol yang sibuk bersenandung dengan tangan sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor.

Tanpa kata, Kyungsoo mendekati Chanyeol dan memeluk tubuh tegap milik Chanyeol dari belakang. Chanyeol mencoba untuk berbalik, namun Kyungsoo menahannya.

"Jangan melihatku."

Chanyeol menghentikan usahanya untuk berbalik dan berdiri diam.

"Aku minta maaf atas segala kebodohanku juga keegoisanku. Seharusnya aku mendengar penjelasanmu dan memercayaimu. Minseok datang memberikan kado itu dan aku sadar aku sudah bersikap tidak adil padamu. Maafkan aku," bisik Kyungsoo.

Chanyeol tetap diam.

"Jika kau memaafkanku, aku tidak akan pernah melepasmu lagi. Aku mencintaimu Chanie," ungkap Kyungsoo lembut.

Kali ini Chanyeol langsung berbalik dan menangkup wajah Kyungsoo.

"Apa kau bilang?" tanya Chanyeol.

"Aku mencintaimu Park Chanyeol," jawab Kyungsok dengan senyum manis di bibirnya.

Chanyeol membiarkan senyum kekanakannya terukir, hingga lesung di pipi kirinya terlihat jelas. Lalu Chanyeol menunduk dan mengecup bibir Kyungsoo lembut.

"Terima kasih, Kyungie. Terima kasih karena mencintaiku."

Air mata kebahagiaan Kyungsoo mengalir tanpa bisa ditahan. Chanyeol mengucapkan terima kasih. Chanyeol berterima kasih karena Kyungsoo mencintainya. Kyungsoo membalas ciuman Chanyeol di antara isak juga tawanya, membuat Chanyeol ikut tertawa bersamanya.

"Tempat tidur?" bisik AKyungsoo menggoda.

Chanyeol menggeleng. "Hal-hal bersejarah kita selalu terjadi di dapur. Aku rasa kita harus merayakannya di sini sekarang," sahutnya dengan satu kedipan mata.

Kyungslo membelalak. "Chanmmmppphhhttt…"

Ucapan Kyung terpotong ciuman menuntut dari Chanyeol dan sisa hari itu mereka lewatkan dengan berpelukan, juga tertawa dengan diiringi pengakuan cinta yang seakan tak ada habisnya.

.

.

.

Satu bulan kemudian~

"Kau berencana membunuhku?" tanya Chanyeol dari pintu kamar mandi.

Kyungsoo menatap Chanyeol melalui cermin di hadapannya, lalu tertawa ketika melihat mata Chanyeol yang melekat pada gaun berwarna hijau tanpa lengan yang kini membalut Kyungsoo dengan sempurna. Gaun itu mencapai mata kaki, namun belahannya hampir mencapai pangkal paha di satu sisi.

"Kupikir kau menyukainya," ucap Kyungsoo seraya memoleskan lipstiknya.

"Aku suka jika hanya aku saja yang melihatnya Park Kyungsoo," sahut Chanyeol.

Kyungsok tersenyum menghampiri Chanyeol, lalu membenarkan dasi yang dipakai suaminya itu.

"Kau akan melihatku tanpa gaun ini nanti malam. Bersabarlah sayang," bisik Kyungsoo. Setelah itu tawanya lepas karena melihat wajah tersiksa Chanyeol.

"Ayo berangkat. Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali dan tidak ada satu pun dari kita yang akan meninggalkan kamar ini," gerutu Chanyeol.

Setelah berperang melawan kemacetan kota Seoul, akhirnya Kyungsoo dan Chanyeol sampai di rumah Sehun. Kyungsoo menyambut Baekhyun yang berdiri anggun dalam gaun kuning dan mereka berjalan di depan, sementara Chanyeol dan Jongin mengobrol di belakang.

"Katakan padaku, mengapa aku harus menghadiri pesta ini?" tanya Baekhyun.

"Karena pesta ini adalah pesta pernikahan kakakku dan suami dari kakakku adalah teman dari pacar tampanmu di belakang itu," jawab Kyungsoo lugas.

Baekhyun mengembuskan napasnya dengan dramatis, membuat Kyungsoo tertawa.

Sehun dan Luhan berdiri di antara kerumunan tamu undangan dengan tangan terpaut. Kyungsoo tersenyum dan mereka membalas senyum Kyungsoo dengan hangat.

"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Kyungsoo tulus.

"Terima kasih, Kyungsoo. Kedatanganmu sangat berarti untuk istriku," sahut Sehun.

Luhan hanya tersenyum dan menatap Kyungsoo dengan sorot yang tidak pernah diberikan sebelumnya; sorot lembut.

"Bagaimana kabar bayi kalian?" tanya Kyungsoo kemudian.

"Sehat. Ia akan tumbuh menjadi anak yang tampan seperti ayahnya," jawab Luhan malu-malu.

"Atau ia bisa tumbuh menjadi anak yang cantik seperti ibunya," tambah Sehun tanpa ragu.

Kyungsoo kembali tersenyum. Lalu sebuah tangan melingkari pinggangnya. Chanyeol.

Jongin dan Baekhyun menyusul. Mereka langsung terlibat pembicaraan dengan Sehun. Kebanyakan dari mereka hanya menggoda Sehun yang biasanya selalu bersikap dingin, namun akhirnya berhasil menemukan pendamping.

Luhan menyentuh tangan Kyungsoo, lalu berbisik, "Soo-ya, saat aku ke rumah sakit kemarin, aku bertemu dengan Minseok. Aku rasa ia hamil."

"Apa?"

Percakapan Kyungsoo dan Luhan terhenti karena Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya.

"Sebenarnya aku ingin mengadakan pesta yang lebih besar dari ini. Karena aku ingin memperkenalkan Luhan kepada semua orang, namun Luhan menolaknya. Luhan hanya ingin mengundang orang-orang terdekatnya," ucap Sehun.

"Aku rasa ini sudah cukup bagus. Dekorasi semacam ini membuatku mengingat pernikahanku. Dan melihat Kyungsoo yang begitu cantik, rasanya aku ingin menikahinya lagi," sahut Chanyeol.

Semua orang tertawa sementara Kyungsoo bersemu merah wajahnya.

"Yah, setidaknya kini kami benar-benar tahu kalian menikah terburu-buru bukan karena Kyungsoo hamil," tambah Luhan.

Kyungsoo membelalak, membuat Luhan kembali tertawa.

Obrolan pun semakin menghangat. Seakan mereka semua adalah teman lama yang ikut berbahagia di hari pernikahan temannya.

Perlahan senyum Kyungsoo mengembang dan Kyungsoo bersandar semakin dalam ke pelukan Chanyeol. Menikmati hari yang berganti senja dengan senyum dari orang-orang yang dicintainya.

.

.

.

Malam yang larut memberikan keheningan, sementara Kyungsoo dan Chanyeol terjaga di atas tempat tidur mereka. Chanyeol membelai punggung Kyungsoo dan napas mereka mulai melambat hingga mencapai normal. Chanyeol tahu percintaannya dengan Kyungsoo selalu memiliki arti yang lebih, namun kini semuanya benar-benar berubah sejak perngakuan cinta itu mereka suarakan. Menjadikan segalanya lebih indah dan tak terlupakan.

"Chan?"

"Hmm."

"Aku sudah memutuskannya."

Chanyeol memundurkan tubuhnya dan menatap Kyungsoo penuh tanya.

"Aku tidak akan melepasmu lagi," ucap Kyungsoo.

Chanyeol tersenyum, kemudian menanamkan kecupan manis di kening Kyungsoo.

"Dan aku akan hidup bersamamu selamanya. Aku akan ikut denganmu ke Los Angeles," lanjut Kyungsoo.

Chanyeol mengerjap. Mata hitam-kecoklatannya menatap Kyingsoo dengan sinar tak percaya. Membuat Kyungsoo tersenyum.

"Aku akan tinggal bersamamu di Los Angeles," jelas Kyungsoo lembut.

Chanyeol langsung mengubah posisinya kembali di atas Kyungsoo dan mereka melanjutkan kembali percintaan mereka. Menuju puncak kenikmatan, bersama ikrar cinta yang mereka tautkan.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

.

.

.

.

Epilog

Los Angeles, Maret 2016~

"Ah! Chanie! Ah!"

Teriakan kenikmatan Kyungsoo terpotong suara ketukan pintu. Bukan ketukan pintu tepatnya, namun gedoran.

"Chan, kau harus berangkat sekarang! Meeting dengan penulis naskahmu diadakan setengah jam lagi!" seru Key dari balik pintu.

Chanyeol mengabaikan Key dan kembali mencium Kyungsoo, bersamaan dengan miliknya yang memompa di dalam milik Kyungsoo. Tangan Kyungsoo bergerak ke payudaranya dan jemarinya menjentik putingnya. Chanyeol bergerak lebih keras dan akhirnya mereka mencapai puncak bersamaan.

Gedoran di pintu kembali terdengar, namun tak ada seruan yang mengikutinya. Menandakan bahwa Key sudah di ambang batas kesabarannya.

Kyungsoo terkikik geli, sementara Chanyeol menghela napas.

"Beritahu aku. Mengapa aku mempekerjakan orang yang sangat berisik seperti itu?" tanya Chanyeol.

"Karena ia sanggup menghadapimu yang sangat merepotkan," jawab Kyungsoo.

Chanyeol mencium Kyungsoo, lalu berkata, "Sampai jumpa nanti malam sayang."

.

.

.

"Dan penghargaan untuk sutradara terbaik tahun ini jatuh pada Park Chanyeol!"

Tepuk tangan riuh mengikuti satu kalimat bernada gembira itu. Chanyeol mencium bibir Kyungsoo sebelum maju ke panggung dan menerima pialanya. Kamera langsung menyorot wajah tampannya yang kini terlihat berseri-seri bahagia. Siapapun yang melihat Chanyeol bisa mengetahuinya dengan jelas.

Film romantis yang digarap Chanyeol di resort pulau Jeju berhasil menyedot banyak perhatian hingga merajai box office selama tiga pekan. Hal ini merupakan pencapaian besar mengingat Chanyeol belum pernah menyutradarai sebuah film romantis. Kritik yang diberikan pun sangat bagus hingga jangan tanya berapa keuntungan yang berhasil Chanyeol dapatkan.

Setelah mengucapkan terima kasih untuk beberapa nama penting, akhirnya Chanyeol tersenyum menatap Kyungsii. Dengan senyum kekanakannya yang memperlihatkan lesung di pipi kirinya.

"Terima kasih, Kyungsoo. Terima kasih karena sudah mencintaiku dan tidak pernah melepasku. Terima kasih karena sudah menjadikanku pria paling beruntung di dunia ini dengan menjadi milikku. Dan terima kasih sudah menjadi malaikat tak sempurnaku. Ketidaksempurnaan kita menjadikan cinta kita sempurna," ucap Chanyeo.

Tepuk tangan kembali terdengar, diiringi siulan juga tawa. Chanyeol mengirimkan cium jauhnya untuk Kyungsoo dan suasana semakin meriah.

Satu jam kemudian, acara penghargaan itu selesai dan Kyungsoo meminta Chanyeol untuk membawanya pulang. Kyungsoo memiliki kejutan ulang tahun untuk Chanyeol.

Begitu sampai di rumah, Kyungsoo langsung mengajak Chanyeol ke kamar mandi dan menyodorkan sebuah alat berbentuk panjang dengan warna pink ke tangan Chanyeol.

"Aku tahu kau sudah memiliki segalanya. Sangat sulit mencari hadiah untukmu. Dan karena ini hadiah pertamaku untukmu, aku ingin membuatnya istimewa," jelas Kyungsoo.

"Ini… kau…"

Chanyeol tidak bisa berkata-kata, membuat Kyungsoo semakin melebarkan senyumnya.

"Benar. Aku sedang mengandung."

"Kau memberiku hadiah seorang bayi? Bayi kita?"

Kyungsoo mengangguk dan Chanyeol bersorak gembira. Selama sesaat Kyungsoo tenggelam dalam tawa sementara Chanyeol mengekspresikan kebahagiaannya dengan berbagai pose lucu. Setelah puas berseru dan mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo, Chanyeol membawa istrinya kembali ke tempat tidur.

"Aku rasa kita harus setia pada tempat tidur ini hingga beberapa bulan ke depan. Aku harus menyimpan ide bagusku hingga bayi kita lahir," ucap Chanyeol.

Kyungsoo tertawa, karena ide bagus yang dimaksud Chanyeol adalah bercinta di setiap tempat yang terpikirkan olehnya.

"Tentu. Dan kurasa ini artinya kau akan terikat denganku selamanya. Kau adalah milikku, Park Chanyeol," sahut Kyungsoo.

"Dan kau adalah milikku, Park Kyungsoo. Malaikat tak sempurna yang menyempurnakan hidupku."

.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya berakhir juga. sekali lagi terima kasih buat yang udah mau baca dan meninggalkan jejak. Maaf gk bisa bls satu-satu. Dan juga gw minta maaf kalau remakenya banyak typo bertebaran dimana-mana yang membuat pembaca tidak nyaman. Btw kata-kata gw udah berasa kayak pidato di asia awards yeeee wkwkwkwk ( abaikan). Sekali lagi terima kasih banyak. Tunggu FF remake selanjutnya yang akan datang :).

Pyooong...aaannyyyeong :p