Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon, GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

A/N: sebenernya "dia" diakhir chapter 1 itu bercetak miring tapi ntah kenapa pas di upload ngga bercetak miring-_- aku udah coba edit dan tetep aja ,so kezsaaaalll. Karna "dia" di bagian akhir itu "berbeda". Kalian akan mengerti kenapa "dia" itu berbeda…

Begitu juga di chapter ini ada beberapa percakapan yg harusnya bercetak miring ,tapi kalau setelah upload tidak bercetak miring lagi ,sudahlah lelah juga aku-_-

Happy reading

BAB 1-Chapter 2

"Kau milikku Yoongi, ingat itu."

Bisikan itu begitu lembut sekaligus tegas, seperti dibawa oleh tiupan angin ke telinganya. Yoongi tergeragap, mengerjapkan matanya dan langsung terduduk tegak. Matanya memandang sekeliling dengan bingung. Dia masih sendirian di ruangan ini. Tapi tadi jelas-jelas ada yang berbisik di telinganya, dan kata-katanya itu masih terngiang jelas.

Apakah dia bermimpi ?

Yoongi mengernyit. Lalu menyentuh bibirnya. Terasa hangat… Seperti ada yang menyentuhnya sebelumnya. Jantung Yoongi berdetak cepat. Apakah mimpi bisa terasa sejelas itu? Suara bisikan itu begitu nyata. Sentuhan di bibirnya pun masih terasa hangat.

Tapi... Tidak mungkin kan ada orang masuk ke mari dan menciumnya begitu saja? Dengan putus asa Yoongi menatap buku di pangkuannya. Sebuah novel sastra romantis karya pengarang Rusia...

Ah, aku pasti terbawa alur novel ini, gumam Yoongi dalam hati, menarik napas lega. Sekali lagi dia memandang sekeliling, ruangan masih sepi. Tadi dia pasti tertidur cukup lama. Tapi Heechul dan Jimin belum juga kembali.

Yoongi mengangkat bahunya. Well mereka kan pasangan kekasih yang akan menikah, pasti akan lupa waktu jika sedang berduaan.

Dengan pelan Yoongi berdiri, berusaha melemaskan tangan dan kakinya yang kaku. Lalu dia berjalan mengitari ruangan yang luas itu.

Ruangan ini didesain untuk bersantai. Meskipun di sudut sana terdapat meja kerja yang sangat besar, tapi di sisi lain benar-benar penuh dengan perabotan dan fasilitas yang menunjang kenyamanan.

Dengan tertarik, Yoongi mendekat ke arah meja kerja Jimin. Ada sebuah bingkai foto yang di letakkan terbalik begitu saja. Sengaja? Atau memang terjatuh? Yoongi mengambil bingkai foto itu dan menegakkannya lagi, matanya mengamati bingkai foto di dalam sana, foto keluarga. Sepertinya itu gambar kedua orangtua Jimin dan dua orang anak laki-laki berusia sepuluh tahunan, yang berambut cokelat itu pasti Jimin dan…kakak laki-lakinya? Yoongi mengernyit. Tapi kenapa kedua orang tua Jimin asli Korea ? Dan kakak laki-lakinya juga terlihat seperti orang Korea asli. Sedangkan jelas-jelas ada darah asing yang mengalir di tubuh lelaki itu, bahkan majalah-majalah bisnis itupun menyebutnya setengah Jerman.

"Itu orang tua angkat dan kakak angkatku, mereka yang mengasuhku ketika kedua orangtuaku tewas karena kecelakaan pesawat."

Suara yang muncul tiba-tiba di belakangnya itu membuat Yoongi terlonjak kaget, membalikkan badan, dan langsung menabrak tubuh kokoh yang berdiri di belakangnya.

Jimin langsung memegang kedua pundak Yoongi, menjaganya agar tidak terjatuh.

"Maaf aku mengejutkanmu," gumamnya datar.

Yoongi mengangguk, mundur menjauh, melepaskan diri dari pegangan Jimin.

"Maaf... Saya... Saya lancang, saya melihat foto ini dan tertarik..."

Jimin mengangkat bahu. "Tidak apa-apa, mereka adalah orang tua dan saudara yang kusayangi. Meskipun aku tetap menggunakan nama asli keluargaku, mereka sudah seperti orang tua kandung bagiku."

Yoongi tersenyum getir, setidaknya Jimin lebih bahagia darinya. Lelaki itu kehilangan kedua orang tuanya tetapi tetap merasakan kasih sayang dari orang tua barunya. Sedangkan dia? Ibunya masih hidup, tetapi sang ibu sama sekali tidak mau repot-repot mengurusi kehidupannya.

Omong-omong tentang ibunya... Dimana Heechul? Yoongi mengedarkan pandangan ke balik punggung Jimin tetapi Jimin memang datang sendirian.

"Heechul menunggu di ruang makan, aku memanggilmu untuk makan siang bersama," gumam Jimin, menyadari kebingungan Yoongi, lalu membalikkan tubuh, "Ayo, kita ke ruang makan."

Mau tak mau Yoongi mengikuti Jimin melangkah ke ruang makan, lelaki itu lalu melambatkan langkahnya sehingga bisa berjalan berjejeran dengan Yoongi.

"Senang tadi?"

"Apa?" Yoongi terlalu kaget mendengar pertanyaan Jimin yang tiba-tiba sehingga tidak mencerna kata-kata lelaki itu.

Jimin tersenyum tipis. "Di antara buku-buku itu..."

"Oh iya," jawab Yoongi buru-buru, "Saya menemukan banyak buku-buku edisi asli yang sekarang sudah sulit ditemukan... Tadi saya terlalu asyik membaca dan bahkan sempat ketiduran," pipi Yoongi merona.

Jimin menoleh dan menatap Yoongi. "Tapi tidak ada sesuatu yang aneh terjadi padamu kan?"

Yoongi termangu, pertanyaan macam apa itu? Yang aneh malahan pertanyaan yang diajukan Jimin padanya ini.

"Aneh ?" ulangnya bingung.

Jimin mengalihkan tatapannya.

"Sudahlah, lupakan," lelaki itu lalu melangkah mendahului Yoongi. Meninggalkan Yoongi termangu kebingungan.

Aneh? Apa maksud Jimin?

.

.

.

Tengah malam dan ruangan itu gelap gulita. Jimin memasuki ruang kerjanya dan menghempaskan jasnya di kursi dengan jengkel. Rencananya berhasil tentu saja. Dia sudah berhasil membujuk Heechul dan Yoongi menginap di rumahnya selama ahkir pekan ini.

Yang tidak diduganya adalah sikap pantang menyerah Heechul. Begitu Yoongi berpamitan untuk tidur di kamarnya, Heechul langsung berusaha mati-matian untuk merayunya, perempuan itu terang-terangan menunjukkan kalau dia tidak keberatan tidur bersama Jimin sebelum pernikahan mereka.

Tentu saja rayuannya tidak menggunakan alasan kelelahan untuk mengusir Heechul agar kembali ke kamarnya sendiri. Dia memang lelah, tapi seandainya dia tidak lelahpun, dia tidak pernah berminat tidur dengan Heechul. Bukan Heechul yang diinginkannya...

"Sampai kapan kau tahan dengan wanita murahan itu?" suara itu terdengar begitu sinis penuh ejekan, dan Jimin langsung berhadapan dengan sosok di kegelapan yang menatapnya.

"Bukan urusanmu," balas Jimin dingin,

"Lagipula, bukan saatnya membahas tentang Heechul, aku meminta penjelasanmu tentang apa yang kau lakukan pada Yoongi tadi siang."

Sosok di kegelapan itu tertawa mengejek, sengaja membuat Jimin marah.

"Kau tidak bisa menyalahkanku, aku sudah menanti begitu lama untuk melihatnya," sanggahnya tidak peduli.

"Kau tidak cuma melihatnya, kau menciumnya," geram Jimin marah, "Kau benar benar tidak punya otak ya?"

"Aku memang tidak punya otak. Kau selalu bilang aku lebih mirip binatang," sosok di kegelapan itu mengacuhkan kemarahan Jimin, "Aku menginginkan Yoongi, jadi aku akan memilikinya, sesederhana itu."

"Kau harus menunggu sampai rencanaku membuahkan hasil!" sela Jimin tak sabar.

Lagi, sebuah tawa mengejek menggema di ruangan yang gelap pekat itu.

"Kau bilang itu rencana? Merayu ibu gadis itu untuk kau nikahi? Kau bilang itu rencana? Kau tahu tidak, aku harus menahan jijik ketika melihat kau harus mencium perempuan murahan itu, berpura-pura menikmati mencumbunya," sosok di kegelapan itu menyeringai marah, "Heechul adalah perempuan murahan yang menjijikkan, membayangkan dia ada di rumah ini membuatku muak."

"Kau harus tahan. Rencanaku ini sudah berhasil menggiring Yoongi masuk ke rumah ini."

"Lalu bagaimana kau menyingkirkan Heechul? Kau harus segera melakukan sesuatu Jimin sebelum aku mulai kehilangan kesabaran, cara Heechul meremehkan dan menghina Yoongi secara tersirat seharian tadi benar-benar mengusik kemarahanku, dan kau tahu kan bagaimana kalau aku marah?" sosok di kegelapan itu mulai terlihat mengancam.

Jimin mengernyitkan kening.

"Tak akan kuizinkan kau bertindak semaumu sendiri"

"Kalau begitu sebaiknya rencanamu segera membuahkan hasil! Kau tahu sendiri kan akibatnya kalau aku sampai turun tangan? Aku tidak suka ada yang menyakiti gadisku, aku akan melakukan apapun untuk membalaskannya."

"Yoongi bukan gadismu."

"Dia akan menjadi gadisku, milikku. Aku sudah mengatakan janji itu. Yoongi adalah milikku," sosok di kegelapan itu berucap penuh keyakinan.

Jimin menggeram marah. "Kau harus menunggu. Aku tidak mau kau berbuat seperti siang tadi, mendatangi Yoongi dan menciumnya, menciumnya! Apa kau sadar semuanya akan berantakan kalau saat itu Yoongi terbangun?"

Sosok di kegelapan itu terkekeh. "Aku hanya mengucapkan selamat datang."

"Kalau begitu jangan sampai kau ulangi lagi. Biarkan aku menangani semuanya dulu. Setiap kau ikut campur hasilnya malah berantakan karena kau mahluk kejam yang tidak pernah memakai perasaan. Aku tidak mau terpaksa menyembunyikan kejahatanmu lagi, mengerti? Jadi tahan dirimu," geram Jimin mengancam.

Sosok di kegelapan itu mengangkat bahu. "Baik. Aku akan kembali ke tempatku, duduk di kegelapan dan mengamati semuanya dalam diam. Tapi kesabaranku ada batasnya Jimin, kau tahu itu kan? Kau pasti tahu apa yang akan terjadi kalau aku kehilangan kesabaran."

Jimin mengernyit mendengar kekejaman yang tidak disembunyikan itu, lalu memegang pangkal hidungnya yang terasa nyeri.

Ini harus segera di selesaikan. Segera! Sebelum dia, mahluk kejam itu, turun tangan dan mengacaukan semuanya...

TBC

PS : karna aku udah banyak cuap-cuap diatas ,disini aku ga bakal banyak omong deh..

But ,respond ff ini ga semenarik yg lain :( should I really keep it or I have to delete it ?

So,review ?