Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 3-Chapter 4

Lelaki itu menatap Namjoon lalu mengalihkan pandangan ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun. Di balik tumpukan daun-daun itu, ada tas cokelat Yoongi yang berisi pakaiannya, dan tentu saja ikat rambutnya.

"Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu," gumamnya tegas.

Namjoon menganggukkan kepalanya. "Baik Tuan Jungkook."

Lelaki itu mengernyit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau, Namjoon, pelayanku yang setia yang berani memanggilku seperti itu."

"Saya selalu setia kepada anda berdua," jawab Namjoon, suaranya masih datar. Jungkook tersenyum lambat-lambat, kebiasaannya, kalau dia ingin memerangkap seseorang.

"Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Jimin... Tapi padaku?" dengan pelan Jungkook beranjak tepat di hadapan Namjoon yang mulai kehilangan topeng datarnya, pelayan tua itu mulai kelihatan gelisah.

"Saya setia kepada anda berdua, saya pastikan itu," jawab Namjoon cepat-cepat.

"Kau memang harus setia kepadaku," gumam Jungkook dengan nada malasnya yang biasa, "Karena kalau tidak... Aku akan marah. Dan kalau aku marah... Ah tidak perlu kujelaskan, kau sudah tahu bukan?" Jungkook tersenyum sangat manis.

Wajah Namjoon pucat pasi, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini. Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas, yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.

Ah... Kenapa Tuan Jimin tidak muncul-muncul?

"Saya bersumpah tidak akan berkhianat," gumam Namjoon ahkirnya.

Jungkook terkekeh. "Ya... Ya... Karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya," Jungkook menoleh, senyumnya hilang dan menatap Namjoon tajam, "Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berani berulah lagi, tapi aku tidak akan main-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengerti kan?"

Namjoon mengernyit, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Anak gadisnya dan menantunya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun lalu, sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemudi mobil itu mati seketika, tetapi anak dan menantunya bisa diselamatkan meskipun terluka parah, dan semua itu terjadi setelah Namjoon mencoba mengingatkan Kakek Yoongi bahwa ada bahaya yang mengintai cucu mereka.

Senyum Jungkook muncul lagi melihat kernyitan Namjoon, dia lalu menatap Namjoon ramah.

"Bukankah kau seharusnya berterimakasih padaku karena kebaikan hatiku?" gumamnya ramah.

Namjoon segera menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah. "Te...Terimakasih Tuan Jungkook."

Jungkook terkekeh mendengarnya, tampak puas.

"Dan kudengar anak gadismu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Cucu pertamamu?"

Namjoon langsung pucat pasi begitu Jungkook mengucapkan hal itu di depannya. Tidak mungkin kan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdaya? Tapi Namjoon kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Jungkook pasti mampu. Lelaki ini tidak punya setitikpun belas kasihan di hatinya.

"Saya bersumpah akan setia kepada anda Tuan Jungkook, tapi saya mohon, jangan sakiti cucu saya. Dia masih kecil..."

"Hei... Kau menghinaku," Jungkook terkekeh, " Aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk anak dan cucumu, lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?"

Namjoon menatap Jungkook dan bulu kuduknya berdiri. Jungkook mampu, dan dengan kata-katanya yang tersirat itu, Jungkook memastikan kalau Namjoon tahu bahwa Jungkook mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.

"Bagus," Jungkook tampak puas dengan sikap diam Namjoon, "Aku ingin kau setia kepadaku, bukan kepada Jimin," Jungkook merenung lalu menatap tas pakaian Yoongi yang terbakar habis,

"Menjijikkan sekali pakaian itu, pakaian murah yang membuat kecantikan gadisku lenyap," tiba-tiba Jungkook menoleh kepada Namjoon, "Kau juga berpendapat begitu bukan?"

Namjoon langsung mengangguk.

"Ibunya, perempuan murahan itu memperlakukan anaknya dengan sangat buruk, ibu paling pendengki yang pernah aku tahu, dan menurutku...," api di mata Jungkook menyala, "Ibu semacam itu sebaiknya tidak ada di dunia ini."

Namjoon makin pucat ketika melihat api di mata itu. Itu api yang sama yang muncul ketika Tuan Jungkook memerintahkan untuk melenyapkan orang-orang yang tidak di inginkannya.

Namjoon berdoa, untuk Heechul. Apapun yang direncanakan Tuan Jungkook padanya, Namjoon berharap agar Tuan Jimin bisa membujuk Tuan Jungkook untuk membatalkannya. Kalau itu tidak berhasil, yah… Semoga Tuhan melindungi Heechul.

.

.

.

Ruang makan itu kosong. Sarapan hangat sudah disiapkan di meja, dan belum tersentuh sekalipun. Yoongi mengernyit, tadi Jimin mengatakan akan menunggunya sarapan, tapi kenapa ruangan ini kosong? Lagipula di mana ibunya?

"Kau cantik sekali."

Sekali lagi, suara itu mengejutkan Yoongi hingga Yoongi langsung memutar badannya, dia berhadapan dengan Jimin yang baru memasuki ruangan. Jimin berhenti dan menatap lekat-lekat ke arah Yoongi, dari ujung kepala sampai ujung kakinya.

"Ah, maaf, sekali lagi aku mengejutkanmu," Jimin tersenyum, "Baju itu cocok untukmu," sambungnya.

Yoongi menundukkan kepalanya. "Te...Terimakasih," gumamnya pelan lalu menengok ke arah pintu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Heechul di sana.

"Heechul tidak pernah sarapan, dia terbiasa bangun siang, kesibukannya sebagai artis sudah mengubah pola tidurnya," gumam Jimin tenang. Lalu mendahului Yoongi ke meja makan, "Duduklah, kita sarapan, banyak yang ingin kutanyakan kepadamu."

Dengan patuh Yoongi duduk, aura lelaki ini berubah. Kali ini aura berwibawa dan penuh kharisma, bukan aura menakutkan seperti tadi pagi. Mereka menyantap sarapan dalam diam sampai Jimin membuka percakapan.

"Selama ini kau dirawat oleh kakek dan nenekmu?"

Yoongi mengerjap mendengar pertanyaan itu, "Iya... Heechul terlalu muda ketika melahirkan saya. Jadi kakek dan nenek saya mengambil alih tugas untuk membesarkan saya," Yoongi tersenyum, membayangkan kakek neneknya, "Saya tidak menyesalinya, mereka pengganti orangtua yang terbaik."

Jimin ikut tersenyum lembut melihat ekspresi Yoongi. "Kau pasti sangat menyayangi mereka."

Yoongi mengangguk. "Tentu saja,"

"Kenapa kau memanggil ibumu dengan Heechul? Kenapa bukan "ibu atau mama?", Jimin bertanya dengan cepat, membuat tangan Yoongi yang sedang mengarahkan sendok ke mulutnya membeku, pengalihan topik pembicaraan secara mendadak itu sejenak membuat Yoongi terpaku bingung, tetapi dia segera menemukan jawaban.

"Ah... Mungkin karena saya kurang begitu dekat dengannya. Anda tahu, kami jarang bertemu, dan usia kami cukup dekat hingga rasanya aneh kalau saya memanggilnya ibu," Yoongi berbohong, dan entah kenapa dia merasa kalau Jimin tahu bahwa Yoongi berbohong.

"Anak baik," gumam Jimin sambil menyesap kopinya, tapi matanya menatap lekat ke arah Yoongi,

"Kau melindungi ibumu meskipun ibumu sama sekali tidak peduli padamu. Aku tahu kalau Heechul tidak mau dipanggil ibu olehmu, dia tak mau terdengar begitu tua karena ada gadis seumurmu memanggilnya dengan sebutan ibu," Jimin langsung melemparkan kebenaran telak itu ke hadapan Yoongi. Membuat gadis itu tidak mampu berkata apa-apa.

"Katakan," sambung Jimin sambil meletakkan cangkir kopinya, "Apakah kau menyayangi ibumu?"

Yoongi langsung mengangguk. "Tentu saja, meskipun kami tidak terlalu akrab. Dia tetap ibu saya."

Wajah Jimin tampak datar mendengar jawaban itu, "Lalu, kalau misalnya terjadi sesuatu pada ibumu, akankah kau merasa sedih?"

Yoongi mengernyit. Sekali lagi laki-laki di depannya ini melemparkan pertanyaan yang begitu aneh.

"Tentu saja," jawabnya langsung.

Jimin terdiam, tampak berpikir, lalu menarik napas. "Apapun yang terjadi nanti, kau harus tahu bahwa kesedihanmu adalah hal terahkir yang kuinginkan," gumamnya pelan. Lalu melanjutkan menyantap sarapannya dalam keheningan.

Sementara itu di ujung meja yang satunya Yoongi sibuk berpikir, menelaah semuanya, pertanyaan-pertanyaan Jimin benar-benar membuatnya kebingungan, dan kalimat terahkir Jimin tadi... Apa maksudnya?

.

.

.

Heechul terbangun hampir menjelang siang, dia segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Hatinya berbunga-bunga. Matanya memandang sekeliling kamarnya, kamar ini mewah, bukan yang terbaik memang, Heechul mendengus, tapi kemudian segera tersenyum lagi.

Sebentar lagi. Dia hanya harus bersabar sebentar lagi, lalu dia akan menempati kamar terbaik di rumah ini: kamar Jimin.

Seulas senyum puas tersungging di bibirnya, membayangkan masa depannya nanti. Hidupnya akan dipenuhi kemewahan, dan suaminya nanti... Heechul menyeringai di cermin, suaminya adalah lelaki yang akan membuat wanita-wanita lain mati karena cemburu pada keberuntungannya.

Jimin adalah calon suami paling potensial untuknya, dia melihat lelaki itu dalam acara amal yang kebetulan mengundang Heechul sebagai artis pengisi acara di sana. Saat melihat Jimin pertama kalinya, Heechul langsung terpesona dan memutuskan untuk mencoba merayu.

Ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, Jimin juga tertarik kepadanya, dan tiga bulan setelah mereka menjalin hubungan, lelaki itu melamarnya. Tentu saja Heechul tidak menolak. Hanya wanita bodoh yang akan menolak lamaran lelaki seperti Jimin.

Well... Cuma ada satu permasalahan, Jimin selalu menolak tidur dengannya, padahal Heechul sudah jelas-jelas memberikan isyarat bersedia lebih dari sekedar bercumbu secara panas. Lagipula, bagi Heechul, jika mereka tidur bersama, ikatan mereka bisa lebih kuat.

Heechul perlu memastikan bahwa Jimin tidak akan meninggalkannya sampai ikatan mereka sah dalam pernikahan nanti. Tapi Jimin benar-benar tak tergoyahkan, lelaki itu hanya mencumbu Heechul dengan keahliannya yang membuat Heechul hampir gila, tetapi selalu mundur ketika hampir melewati batas.

Malam ini aku harus berhasil mengajaknya tidur denganku.

Heechul bukan orang suci, dan dia tidak pernah berpura-pura sebagai orang suci. Reputasinya sebagai aktris sudah penuh dengan berbagai skandal dan gossip perselingkuhan, tujuh tahun tahun sejak kebodohannya yang melahirkan seorang anak yang sama sekali tidak diinginkannya, dia menikah lagi dengan seorang pejabat kaya yang kemudian diceraikannya setelah dua tahun pernikahan.

Perceraian yang menghebohkan karena marak dengan spekulasi perselingkuhan dan tuduhan-tuduhan lainnya. Heechul mengerucutkan bibirnya yang indah, waktu itu dia memang selingkuh. Yah suaminya waktu itu sudah tua sedangkan dia masih muda dan cantik, jadi wajar-wajar saja kan kalau dia selingkuh?

Setelah perceraiannya itu, dia hidup dengan bebas dan bahagia, sampai dia bertemu Jimin, pria yang akan mewujudkan seluruh impiannya untuk menjadi ratu yang akan membuat iri semua orang.

Setelah mengenakan gaun merahnya yang paling sexy, Heechul melangkah keluar kamar dan melalui lorong yang sepi untuk mencari Jimin.

Jimin pasti akan terpesona dengan kecantikanku.

Senyum Heechul makin membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai dia melewati lorong demi lorong rumah mewah itu menuju ruang kerja Jimin.

"….harus menyiapkan yang terbaik untuk nona Yoongi."

Langkah Heechul langsung terhenti mendengar suara itu.

"Itu Instruksi langsung dari Tuan Jimin, semua harus yang terbaik untuk nona Yoongi. Apakah kiriman sepatu-sepatu dan perhiasan yang di pesan kemarin sudah datang?"

Suara itu... Heechul mengernyit, itu suara Namjoon, kepala pelayan di rumah ini. Tapi apa Heechul tidak salah dengar? Yang terbaik untuk Yoongi? Yoongi? Apa jangan-jangan kepala pelayan ini tertukar nama antara dia dengan Yoongi?

Huh! Kalau begitu kepala pelayan bodoh ini harus menerima ganjarannya. Dia akan melaporkan hal ini pada Jimin dan memastikan Namjoon dipecat! Enak saja menyebut dirinya dengan nama Yoongi.

Dan apa yang dia dengar tadi? Sepatu-sepatu dan perhiasan? Heechul langsung tersenyum lebar, lupa akan rencananya untuk mengadukan Namjoon kepdada Jimin, calon suaminya pasti berniat untuk memberinya kejutan! Ah!Jimin memang benar-benar mencintainya.

Dengan senyum lebar, otak Heechul berputar… Dia punya rencana. Dia harus membuat Jimin lebih mencintainya lagi sehingga tidak bisa hidup tanpanya, malam nanti, dia akan menyusup ke kamar Jimin dengan gaun malam sexy dan menyerahkan dirinya. Jimin pasti tidak akan menolak lagi. Tidak pernah ada yang menolak pesona Heechul sebelumnya.

.

.

.

Heechul mematut dirinya di cermin terahkir kali sebelum melangkah keluar kamar, mau tak mau dia mengagumi kecantikannya sendiri, rambutnya yang diwarnai kemerahan oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilauan indah, kulitnya yang sangat halus bagai sutera hasil perawatan salon ternama – tampak bercahaya dan lembut.

Wajahnya sangat cantik, semua orang mengakuinya. Di usianya yang ke 36, Heechul telah mencapai puncak sebagai wanita matang dan percaya diri. Dia sudah berpengalaman menaklukkan hati lelaki, dan malam ini dia bertekad menaklukkan Jimin.

Setelah mengenakan jubah kamar tipisnya, pelengkap gaun tidurnya yang sexy, Heechul melangkah keluar kamar diam-diam. Saat itu tengah malam, lorong itu bercahaya temaram, dan dengan senyum sensual, membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Heechul melangkah menuju kamar Jimin.

Diketuknya kamar itu pelan, tidak ada jawaban. Dengan ragu Heechul memegang handle pintu dan mencoba membukanya. Tidak dikunci.

Apakah Jimin masih di ruang kerjanya?

Pikiran itu membuat Heechul tersenyum. Kalau begitu kejutannya akan berjalan sempurna. Dia akan berbaring di ranjang dengan pose sexy, dan ketika Jimin memasuki kamar lalu melihatnya, pasti akan senang sekali.

Heechul masuk ke dalam kamar Jimin, lalu menutup pintu di belakangnya. Kamar itu gelap dan temaram, Heechul mengernyit menyadari bahwa ini pertama kalinya dia masuk ke kamar calon suaminya itu.

Diedarkannya pandangannya ke sekeliling ini luas, mewah dan indah. Tetapi terlalu 'laki-laki.,

Heechul mencibir, begitu mereka menikah nanti, hal pertama yang harus dilakukannya adalah mendekor ulang kamar ini. Karpet Persia mahal warna emas akan dipasangnya di lantai untuk menggantikan karbet bulu warna abu-abu yang sekarang di injaknya. Dia pasti akan mendekor ulang kamar ini hingga tampak seperti kamar raja dan ratu.

Dengan puas Heechul melangkah mengelilingi ruangan, memikirkan perubahan perubahan apa yang akan dilakukannya. Sampai ketika dia melangkah ke meja kayu di samping ranjang Jimin. Langkahnya terhenti.

Tumpukan album foto?

Tertarik, Heechul membuka album foto yang sangat tebal itu. Ada kira-kira delapan album foto di sana, dengan sampul kulit yang sangat tebal dan berukuran besar. Dan foto-foto yang ada di dalam album itu membuat Heechul ternganga.

Album foto itu penuh dengan gambar-gambar Yoongi! Ada Yoongi yang sedang berjalan di trotoar sambil membawa keranjang belanjaan, Yoongi yang sedang duduk dan minum teh di sebuah rumah makan, Yoongi yang sedang menyapu di depan rumah, Yoongi yang sedang bercakap-cakap dengan seorang ibu setengah baya di tepi ranjang...

Heechul membuka semua album foto kedelapan-delapannya, dan wajahnya langsung pucat pasi. Delapan album foto itu, semuanya berisi foto Yoongi sejak dia masih kanak-kanak sampai sekarang!

Ada apa ini? Kenapa Jimin punya album foto seperti ini? Tangan Heechul mulai gemetaran.

Dan tiba-tiba saja suara itu terdengar dari belakangnya. "Ada yang bilang, kalau kau lancang memasuki territorial terlarang seseorang karena rasa ingin tahu yang berlebihan, maka keingintahuanmu itu bisa membunuhmu."

Suara itu begitu dingin, berbisik seperti dihembuskan angin, tapi seperti petir di telinga Heechul, dia begitu terperanjat hingga menjatuhkan salah satu album foto itu ke lantai dengan suara berdebum keras.

Jimin ada di sana, muncul begitu saja dari kegelapan, matanya menatap Heechul lalu beralih ke album foto yang tergeletak di lantai, wajahnya tampak tidak senang.

"Sebelum kita berbicara," suaranya lembut mengalir, "Maukah kau ambil album foto di lantai itu dan meletakkannya kembali di meja, sayang?"

Menakutkan...

Itulah pikiran pertama yang terlintas di pikiran Heechul ketika mendengarkan suara Jimin.

Suara itu biasa saja, diucapkan dengan sangat sangat lembut, tetapi entah kenapa terasa menakutkan…

Jimin bilang apa tadi? Ah ya! Album foto…

Dengan sedikit gemetar, Heechul mengambil album foto itu dan meletakkannya kembali di meja.

Jimin tersenyum puas melihatnya, dan tersenyum.

"Jimin… Apa maksud semua ini? Kenapa kau…"

"Stttt...," masih tetap tersenyum Jimin meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri, memintanya untuk berhenti bersuara, "Saat aku bilang kita akan berbicara, berarti aku yang akan berbicara, bukan kau sayang."

Bibir Heechul gemetar, gelisah dan bulu kuduknya tetap merinding. Kenapa Jimin terasa berbeda? Padahal di matanya penampilan Jimin tampak sama, begitu tampan, tetapi lelaki ini terlalu penuh senyum, senyum yang aneh… Sedikit keji, dan auranya begitu berbeda.

"Bertanya-tanya ya Heechul sayang?" Jimin terkekeh pelan.

Heechul menggeleng, lalu mengangguk, kebingungan, membelalakkan matanya dan mencoba membuka mulut untuk bersuara.

"Sttttt...," Jimin meletakkan telunjuk di bibirnya lagi, "Kita tidak mau membangunkan seisi rumah kan? Ini sudah tengah malam," suara Jimin berbisik, matanya penuh canda, seperti anak kecil yang mengajak temannya berkompromi melakukan suatu kenakalan rahasia.

Mau tak mau Heechul menahan suaranya, menunggu. Suasananya begitu menekan, menakutkan, sementara Jimin terus berdiri di situ menatapnya dengan senyum manisnya yang terlalu manis.

"Sebenarnya ini di luar rencana… Aku tidak ingin melakukan semua secepat ini," lelaki itu melirik ke album foto di meja kayu itu, "Jimin akan marah, tapi seperti kubilang tadi, ketika rasa ingin tahumu membawamu memasuki territorial terlarang… Kau… bisa... terbunuh," kata-kata terahkir itu diucapkan dengan penuh penekanan.

Heechul mengernyit, Jimin akan marah? Apa maksudnya? Bukankah lelaki yang sedang berbicara dengannya ini adalah Jimin? Apa maksud kata-kata Jimin tadi? Heechul mencoba mencerna, tetapi otaknya yang gelisah tidak bisa diajak berpikir.

"Kita harus memikirkan sesuatu, jalan keluar dari permasalahan ini," Jimin bersedekap.

Pura-pura serius, "Kita bisa memakai pisau… Tapi darahnya terlalu banyak, dan aku sedang tidak ingin repot-repot membersihkan darah yang berceceran… Lagipula aku harus menggali lubang untuk mengubur mayat di belakang… Hmmm… Tidak, pisau terlalu merepotkan… Harus memakai cara lain," dahi Jimin berkerut seolah berpikir, "Harus dibuat seperti kecelakaan…," tiba-tiba Jimin menatap tajam ke arah Heechul sambil tersenyum, lalu melangkah maju mendekati Heechul.

Otomatis Heechul melangkah mundur, tapi terhenti karena menabrak meja di belakangnya.

"Bagaimana Heechul? Aku mendapat ide bagus… Kecelakaan dengan tersetrum di dalam bath-tub sepertinya menyenangkan, tidak ada darah, paling cuma sedikit kesakitan…. Tapi aku harus merelakan bath-tub di salah satu kamarku tidak dipakai selamanya," dahi Jimin berkerut seperti tidak senang – karena bath–tub nya tidak akan bisa dipakai selamanya? - lalu dia tersenyum lebar seperti mendapatkan ide cemerlang,

"Ah… Ya… Aku tahu, jatuh dari tangga…. Rasa sakitnya sedikit, paling hanya kesakitan ketika tangan atau kaki patah… Dan ketika kepala menyentuh lantai dengan keras… Tidak ada kesakitan lagi karena nyawa langsung melayang, kita harus berharap nyawa langsung melayang karena kalau tidak kesakitannya akan tidak tertahankan. Hmm… Banyak darah mungkin, tapi aku bisa mengatasinya…"

"Jimin… Kau sedang bicara apa?" suara Heechul terdengar berbisik, sedikit tercekik di tenggorokan karena ngeri. Kata-kata Jimin yang panjang dan lebar itu begitu mengerikan, dan tidak ada korelasinya dengan apa yang seharusnya mereka bicarakan!

Jimin menatap langsung ke mata Heechul, makin mendekat, senyum tidak pernah hilang dari bibirnya.

"Membicarakan apa katamu? Heechul, kau ini bodoh atau apa?" Lelaki itu menggelenggelengkan kepalanya, berpura-pura kebingungan, "Aku maklum, semua artis biasanya bodoh."

Jimin sudah berdiri satu langkah tepat di depan Heechul, tangannya terulur meraih pipi Heechul dan mengusapnya lembut. "Ah… Heechul sayang, tentu saja aku sedang membicarakan cara kematianmu."

Wajah Heechul pucat pasi, shock...

"Apa?"

"Hmmm," Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dahi berkerut seperti sedang memarahi anak kecil, "Kau sudah mendengarnya dengan jelas tadi, aku tidak mau mengulang lagi, sayang."

"Jimin," Heechul mulai merengek, kalau saat ini Jimin sedang bercanda, maka candanya sudah keterlaluan, jantung Heechul seperti mau meledak karena ketakutan.

"Jimin," lelaki itu menirukan rengekan Heechul dengan nada mengejek, "Panggil saja nama itu terus, tidak akan berhasil, kau sedang tidak beruntung sayang, karena sekarang kau harus berhadapan denganku," gumam Jimin misterius.

Entah karena tatapan Jimin yang keji, entah karena nada suara Jimin, detik itulah Heechul sadar kalau Jimin tidak main-main, lelaki ini benar-benar akan membunuhnya!

Heechul berusaha melangkah dan berlari, tapi dengan mudah Jimin menahannya, tiba-tiba Heechul menyadari ada sesuatu yang berkilat di tangan kiri Jimin, itu… Sebuah pisau!

"Well yah… Ini memang pisau, kalau kau bertanya-tanya," Jimin mengangkat pisau yang kelihatan sangat tajam itu kedepan wajah Heechul, membuat Heechul memejamkan matanya dengan ngeri, "Kalau kau mencoba mengusik kemarahanku, aku terpaksa menggunakan pisau ini... Bukan masalah karena pada ahkirnya kau akan mati juga... Tapi kau tahu tidak," senyum Jimin tampak lambat-lambat dan puas, "Tertusuk dengan pisau rasanya sangat menyakitkan...," mata Jimin berkilat-kilat senang,

"Pada awalnya, ketika perutmu tertusuk oleh pisau ini, tidak akan terasa sakit.. Tapi ketika aku mencabutnya, mungkin sambil membawa sebagian organ dalammu keluar... Sakitnya tidak tertahankan... Tapi tentu saja aku tidak akan berhenti di situ, aku akan menghujamkan lagi, mencabutnya lagi... Terus menghujamkan dan mencabut pisau itu berkali kali...dan ketika aku selesai, percayalah… kau akan lebih memilih jatuh dari tangga."

Seluruh tubuh Heechul gemetar oleh rasa ngeri mendengar penjelasan gila Jimin itu.

"Kau tidak akan berani melakukannya! Polisi…polisi akan…"

"Oh, apa aku lupa bilang soal mengubur mayat di kebun belakangku yang begitu luas?"

Wajah Heechul pucat pasi. "Kalau aku menghilang begitu saja, polisi akan mencariku!"

Heechul mencoba mengancam.

"Aku punya banyak koneksi untuk mencegah hal-hal semacam itu terjadi, sedikit uang di sana sini, dan kau akan berahkir dengan cerita, "Artis Kim Heechul kabur keluar negeri setelah meninggalkan calon suaminya yang kaya raya sebelum pernikahan mereka, dan membawa kabur koleksi perhiasan yang tak ternilai harganya dari rumah calon suaminya itu,"

Jimin mengernyit, "Meskipun kalau memang harus terjadi seperti itu, nantinya akan sedikit merepotkanku... Oleh karena itu demi kebaikan kita, sebaiknya kita lebih memilih "tangga." Senyum mempesona Jimin muncul lagi, "Bukankah kau harus berterima kasih karena aku begitu baik hati?"

Wajah Heechul pucat pasi, "Berterimakasih? Apa maksud Jimin? Pria ini tersenyum begitu manis tapi tatapannya begitu keji seperti orang gila, dan Heechul yakin Jimin tidak segansegan melakukan apapun tadi itu yang dideskripsikannya dengan begitu mengerikan.

"Jimin," air mata mulai muncul di sudut mata Heechul mengalir melewati pipinya,

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau menakutiku… Ada apa ini sebenarnya?"

Dengan santai, Jimin mengambil dasinya, lalu mengikatnya di bibir Heechul yang lunglai pasrah dibungkam mulutnya. Bagaimana mungkin dia berani memberontak kalau pisau tajam yang berkilauan itu teracung-acung di mukanya?

Jimin mengamati hasil ikatanya, tersenyum puas melihat Heechul tidak bisa berbicara, kelihatan senang melihat air mata mengalir di pipi Heechul.

"Hmmm… Karena kau tidak mau berterima kasih, lebih baik aku mengikat mulutmu, dengan begitu kau tidak perlu berbicara, aku muak mendengar suaramu, kau tahu itu? Aksen mendesahmu yang dibuat-buat itu menjijikkan di telingaku, kau pikir kau seksi sekali ya?"

Jimin mencibir, dan berbisik di telinga Heechul, "Lagipula aku tidak suka kau memanggilku dengan nama Jimin… Kau bisa memanggilku dengan nama Jungkook, sayang…," lelaki dengan lembut mengusap air mata yang mengalir di pipi Heechul, mata Heechul membelalak, bingung dengan perkataan Jimin barusan

"Aahh kasihan… Kau ketakutan sekali ya, sayang? Aku tak bermaksud membuatmu begitu ketakutan… Tapi kau tahu aku memang terlalu banyak bicara kalau sedang senang, maafkan aku ya?" dengan lembut Jimin mengecup dahi Heechul, lalu mendorong Heechul pelan-pelan keluar ruangan, menempelkan pisau yang dingin dan keras itu di pinggangnya.

Mereka melewati lorong-lorong remang-remang itu, dan Heechul berdoa sepenuh hati, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan gelisah dan ketakutan.

Kumohon! Siapa Saja! Selamatkan aku!

Tapi doanya sia-sia, rumah itu begitu sepi dan senyap. Sampai mereka berdua berdiri di ujung tangga yang mengarah turun ke pintu utama di bawah.

"Ada kata terahkir?" Jimin terkekeh, "Aaah, aku lupa, mulutmu diikat ya?" dengan lembut Jimin melepas ikatan di mulut Heechul.

Saat ikatan di mulutnya terlepas, Heechul bertekad untuk berteriak sekeras kerasnya, membangunkan seisi rumah ini, meminta pertolongan. Tetapi dia baru membuka mulutnya ketika merasakan tubuhnya melayang ke bawah.

Jimin sudah mendorongnya !

Tubuhnya terlempar ke bawah melayang-layang sebentar, lalu terjatuh dengan keras. Bunyi tulang-tulang patah berderak terdengar di telinganya disertai rasa sakit yang amat sangat. Bau anyir darah mulai tercium… Terasa hangat dan nyeri menyebar tanpa henti dari belakang kepalanya.

Tapi tidak seperti kata Jimin sebelumnya, rasa sakit itu tidak langsung lenyap, Heechul masih sadar! Dan rasa sakit yang menyerangnya sangat luar biasa sungguh tak tertahankan lagi… Heechul masih bisa mendengar langkah kaki Jimin yang menuruni tangga pelan-pelan lalu membungkuk di atasnya.

"Ah… Masih hidup?" Jimin tersenyum, mengamati posisi Heechul yang terlentang dengan aneh, tangan dan kakinya tertekuk dengan posisi berlawanan, patah dengan tulang mencuat di kedua sisi. Dan darah segar mengalir dari bagian belakang kepalanya, mulai menggenang membasahi rambutnya,

"Heechul yang malang, sungguh tidak beruntung, kasihan sekali…," Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya pura-pura iba, lalu sekali lagi terkekeh sambil mengamati Heechul penuh rasa humor.

Heechul mencoba bicara, tapi hanya suara erangan yang terdengar dari tenggorokannya, dia terbatuk dan seketika itu juga darah segar menyembur dari mulutnya, menyembur tanpa henti, menyakitkan sekali… Sampai kemudian telinganya mulai berdenging, Heechul mencoba menatap Jimin, mempertahankan kesadarannya, lelaki itu masih berdiri di sana, tersenyum manis, mengucapkan "adios" -selamat tinggal- dengan lembut… Tetapi kemudian kegelapan itu mulai melingkupinya, menariknya ke dalam pusaran tak tertahankan… Dan benar kata Jimin tadi, semuanya hilang… Semuanya lenyap…

TBC

PS:

GILAAA! Jungkook sarap GILA GAK WARAS!

Okee ,saya yg gila disini :( ngetiknya sambil nahan napas saoloooohh serem binggo