Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 4-Chapter 5
Pagi itu diawali dengan teriakan histeris seorang pelayan, dan kemudian semuanya berjalan dengan begitu membingungkan bagi Yoongi. Dia terbangun karena teriakan itu, dan langsung keluar kamar, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Di pintu, dia berpapasan dengan Jimin yang sepertinya terbangun juga oleh jeritan itu, bersama-sama dengan beberapa pelayan lain mereka melangkah ke arah jeritan dan keributan yang mulai terdengar,
"Apa-apaan ini?" Jimin melangkah di depan Yoongi, jelas sekali jengkel dengan keributan yang mengganggu tidurnya. Lalu di ujung tangga langkahnya mendadak terhenti hingga Yoongi menabrak punggungnya.
"Oh Tuhan! Tidak…" Jimin berusaha mencegah Yoongi menengok, "Jangan lihat."
Tapi Yoongi sudah terlanjur melihat, …..di bawah sana, di ujung paling bawah tangga, ibunya terlentang dengan posisi aneh. Tangan dan kakinya patah, mencuat ke arah yang berlawanan, darah menggenang di belakang kepalanya, di mulutnya, di wajahnya, di dagunya hingga membasahi gaun tidur putihnya….. dan matanya melotot…. Penuh dengan ketakutan…
Tubuh Yoongi langsung lunglai, hingga Jimin harus menopangnya.
"Telepon polisi." Yoongi lamat-lamat mendengar suara Jimin memberi perintah kepada beberapa pelayan yang mulai berkerumun, "Panggil dokter!", perintah Jimin lagi… lalu kemudian kesadaran Yoongi menghilang.
.
.
.
Yoongi terbangun di kamarnya, dengan dokter membungkuk di atasnya, memeriksanya, tampak lega ketika melihat dia sadar,
"Dia sudah sadar Tuan Jimin".
Lalu Jimin mendekat, tampak pucat dan cemas,
"Kau tidak apa-apa?" kecemasan tampak jelas di matanya, emosi pertama yang dilihat Yoongi dari Jimin sejak perkenalan pertama mereka.
"Heechul…." suara Yoongi menghilang.
Jimin menggenggam kedua tangan Yoongi, tampak sedih, "Aku menyesal Yoongi, aku sangat sangat menyesal….. Aku tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, polisi ada di bawah… dan menurut mereka Heechul terpeleset di tangga, mungkin dia mengantuk…..aku…..", suara Jimin tampak tertelan, "Aku…. menyesal Yoongi,"
Yoongi mengamati kesedihan di mata Jimin dan air mata mengalir di matanya. Ibunya telah tiada. Seberapapun buruknya hubungan mereka berdua, Heechul tetap ibunya, dan Yoongi masih selalu menyimpan harapan kalau suatu saat nanti ibunya akan mencintainya. Sekarang Heechul telah tiada, dan harapan Yoongi seolah-olah dipadamkan dengan kejam.
Tangis Yoongi muncul, semula hanya isakan pelan, tapi makin lama makin keras tak tertahankan, dan Jimin langsung memeluknya menenangkannya. Mereka berdua berpelukan dalam kesedihan
.
.
.
Jimin melangkah memasuki kamarnya, letih. Yoongi sudah tidur, dokter terpaksa memberikan obat penenang karena Yoongi tidak henti-hentinya menangis. Polisi sudah membawa jenazah Heechul ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Para pelayan langsung bergerak cepat dengan instruksi Namjoon, karpet yang penuh darah langsung diganti dan disimpan bersama barang-barang lain yang diminta, untuk diserahkan kepada pihak kepolisian. Selain itu semuanya di bersihkan, barang-barang Heechul yang masih tersimpan di kamarnya dibereskan dan dikemas dalam satu kotak. Dalam sekejap rumah itu sudah tampak seperti semula, seolah-olah tidak ada yang mati beberapa saat lalu di sana.
Sedikit masalah dengan wartawan, Jimin mengernyit. Mereka langsung berbondong-bondong mencoba mencari berita, seperti semut merubungi gula. Tapi pengamanan rumahnya yang ketat menyebabkan wartawan-wartawan itu hanya tertahan sampai pintu gerbang. Jimin hanya mengizinkan wartawan yang memperoleh kualifikasi dari kepolisian untuk meliput TKP.
Sekarang Jimin berdiri di depan cermin mengamati wajahnya dengan tajam. Sosok di cermin itu tersenyum kejam, sedikit mengejek, sosok Jungkook,
"Bravo…. Akting yang sangat hebat Jimin." gumamnya lambat-lambat penuh tawa.
"Brengsek!" Jimin memaki, tidak bisa menahan kemarahannya.
Jungkook terkekeh, tidak mau repot-repot menyembunyikan kepuasannya, "Jangan marah padaku, bukankah aku menolongmu? Kau kan tahu sendiri, kemarin Heechul melihat album foto yang penuh berisi foto-foto Yoongi sejak dia berusia delapan tahun sampai sekarang"
"Kau tidak perlu membunuhnya! " desis Jimin geram.
Jungkook mengangkat bahu, "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membungkam mulutnya? Kalau dia mencari tahu sedikit lebih dalam lagi, dia akan menemukan semuanya….. maksudku, semuanya Jimin… Termasuk apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Yoongi, dan kau pikir apa yang akan terjadi kalau Yoongi sampai tahu? Aku melepaskanmu dari kesulitan dengan mengambil jalan termudah, kau harusnya berterimakasih padaku." gumam Jungkook sombong.
Jimin menatap geram pada bayangan di depannya, "Ralat kata-katamu! Kau bilang 'Apa yang kita lakukan pada kakek dan nenek Yoongi? , Kau yang melakukannya! Kau dengankegilaanmu yang tak berperikemanusiaan, dan jangan bertingkah seolah-olah kaumenyelamatkanku! Kau hanya mencoba menyelamatkan dirimu sendiri!"
Senyum Jungkook tak pudar juga meski dibentak seperti itu, malah semakin lebar,
"Menyelamatkan kita berdua, ingat itu Jimin, kita berdua", gumamnya puas, membuat Jimin kehabisan kata-kata. "Aku tidak berniat melakukan itu kepada kakek Yoongi, tetapi dia mulai menyadari tentang kita dan hendak membawa Yoongi menjauh. Jadi aku harus menyingkirkannya.. mengenai nenek Yoongi.. dia terlalu ingin tahu, seperti Heechul, mengorekngorek informasi mengenai kematian suaminya. Aku harus bertindak. Memangnya kau punya cara lain?"
Jimin terdiam mendengar pertanyaan Jungkook, membuat tawa Jungkook makin keras. "Lihat kan? kau tidak bisa membantah… seharusnya kau berterimakasih padaku," Jungkook terdiam menunggu.
Tapi Jimin tak bergeming sehingga Jungkook terkekeh lagi, "Ah, percuma mengharapkan terimakasih darimu," tatapan Jungkook berubah tajam ketika dia mulai berpikir,
"Sekarang tanpa adanya Heechul, segalanya akan lebih mudah untuk mendapatkan gadisku."
"Dia bukan gadismu!", potong Jimin marah.
Jungkook menatap Jimin penuh perhitungan, lalu tersenyum, "Cemburu Jimin? Kau juga menginginkannya kan? Aku tahu itu, tak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, aku bisa merasakannya, perasaan ingin memiliki ketika kau menatap Yoongi dari kejauhan….. " tawa Jungkook membahana di ruangan itu.
"Kita lihat saja nanti, akan jatuh cinta kepada siapa Yoongi, kepadamu dengan kelakuanmu yang membosankan itu, atau kepadaku dengan segala pesonaku."
Ucapan itu bagai sebuah janji, menggema dari sudut yang gelap, janji yang menakutkan…..
.
.
.
Ketika Yoongi terbangun, rasanya masih seperti mimpi, dia mandi, berpakaian dan berjalan seperti robot, mengernyit ketika menyadari bahwa tasnya memang benar-benar tidak ada.
Dia harus pergi dari rumah ini.. segera. Selain karena dia sudah tidak sepantasnya berada di rumah ini lagi, kenangan itu…. Kenangan akan tubuh Heechul yang tergeletak di bawah tangga dengan mata menyiratkan ketakutan yang amat sangat itu…..
Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikirannya yang mulai melantur jauh. Suara gaduh di luar membuatnya tertarik, dia melangkah ke pintu dan mengintip, para pelayan tampak sibuk kesana kemari.
"Kau sudah bisa bangun rupanya."
Suara itu membuat Yoongi terlonjak kaget, dia menoleh, dan di sana, sambil bersandar di dinding lorong, dengan pakaiannya yang hitam-hitam, Jimin berdiri dengan menatapnya geli.
Yoongi menghembuskan nafas panjang, ah astaga, sepertinya laki-laki ini memang sangat suka membuatnya terkejut.
"Oh… iya… saya…"
"Hari ini pemakaman Heechul, karena wartawan ada banyak sekali di sana, aku sarankan kau tidak usah hadir, semua sudah diurus," sela Jimin seolah tak tertarik dengan kata-kata Yoongi.
Yoongi menelan ludah, kenapa lelaki ini tampak begitu dingin? Bukankah Heechul adalah calon isterinya? Setidaknya bukankah seharusnya ada setitik perasaan sedih yang tersirat di sana?
"Saya eh… sedang berpikir untuk segera pergi dari rumah ini." guman Yoongi lemah, entah kenapa kehadiran Jimin yang hanya berdiri di sana terasa begitu mengintimidasi.
"Kenapa?" alis Jimin tampak mengernyit.
"Karena saya sudah tidak sepantasnya tinggal disini, lagipula, saya memang tidak berencana pergi terlalu lama…."
"Tidak." Suara Jimin berubah, kelam dan gelap. Ekspresi wajahnya pun berubah, seolah-olah orang lain yang berdiri di situ.
"Apa?" Yoongi mengamati wajah Jimin, tiba-tiba merasa takut entah kenapa.
"Kau tidak boleh pergi dari rumah ini." Lelaki itu melangkah maju dengan pandangan mengancam.
Yoongi melangkah mundur dengan gerakan refleks, "Kenapa?"
"Karena..." Lelaki itu mengerutkan keningnya, tampak berpikir, "Para wartawan masih berkeliaran mengawasi rumah ini, mereka akan memangsamu seperti piranha mengerubuti mangsanya kalau mereka tahu tentangmu."
"Tetapi... mereka tidak tahu tentang saya, saya akan menyelinap diam-diam di malam hari, mereka mungkin akan mengira saya salah satu pelayan di rumah ini."
"Jangan merendahkan dirimu." Jimin mengerutkan keningnya, tak suka ketika Yoongi menyamakan dirinya sebagai pelayan, "Ibumu sudah tidak ada, jadi tidak akan ada yang bisa merendahkan dirimu lagi. Aku sudah memastikannya."
Yoongi menatap Jimin, dan mengerutkan keningnya lagi. Lelaki itu tampak berbeda, dia tampak menakutkan. Dan dia mirip dengan laki-laki dalam mimpinya... laki-laki yang mengatakan bahwa namanya adalah Jungkook...
Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Yoongi, dan Jimin tampaknya mengetahuinya, entah kenapa lelaki itu tampaknya bisa mengendus ketakutan dalam diri Yoongi.
"Kenapa Yoongi?" ada senyum di situ, senyum yang lembut, tetapi tampak menakutkan,
"Kenapa wajahmu pucat? Kau teringat sesuatu?" Lelaki itu melangkah maju, mulai mendekat
"Tidak... tidak. Saya hanya sedikit pusing." Itu memang benar. Semua hal ini membuat kepalanya pusing.
"Karena itulah kau tidak boleh pergi dari rumah ini dulu. Aku tidak akan mengizinkanmu."
Jimin berhenti mendekati Yoongi, untuk kemudian melangkah mundur, "Istirahatlah."
Dan dengan tenang, lelaki itu melangkah pergi. Meninggalkan aura ketakutan memancar di belakangnya.
.
.
.
"Kau harus menyebarkan kabar itu kepada para wartawan." Jimin berbicara dengan dingin kepada seseorang di seberang telepon. "Hembuskan kabar bahwa Heechul memiliki anak gelap."
"Apakah anda ingin semua wartawan berbondong-bondong datang ke rumah ini?". Itu suara Taehyung, salah satu anak buah kepercayaan Jimin yang sangat setia.
"Ya. Buatlah kekacauan. Aku akan memastikan Yoongi tahu tentang itu semua."
"Saya akan menyebarkannya. Para wartawan akan berpesta pora."
"Bagus." Daren tersenyum. "Lakukan dengan baik."
Telepon ditutup, dan Jimin menghela napas. Dia harus mempertahankan Yoongi dulu di rumah ini. Setidaknya sampai dia bisa mengambil hati Yoongi. Sampai Yoongi tertarik kepadanya dan tidak mau pergi dengan kemauannya sendiri.
Tetapi hal itu tampaknya tidak mudah. Ketika Jungkook muncul dan menguasainya, Yoongi tampak ketakutan, Jimin memperhatikan ketika Yoongi melangkah mundur dengan reflex untuk melindungi dirinya dari aura mengancam Jungkook.
Dia menatap ke arah cermin dan melihat bayangannya. Bayangannya yang dalam benaknya kini tampak tersenyum mengejek dan jahat, senyuman Jungkook.
"Dia tidak menyukaimu. Kalau kau tidak mau membuatnya kabur dan lari ketakutan, kau harus menyingkir."
Jungkook tersenyum sinis, "Dan kau pikir dia lebih menyukaimu?"
"Dia lebih tenang kalau aku yang ada di depannya." Jimin menatap Jungkook tajam, "Aku sedang berusaha membuatnya bertahan di tempat ini. Jangan mengacaukannya!"
Jungkook terkekeh mendengar perkataan Jimin, "Aku tidak janji." Lalu bayangan lelaki itu menghilang dalam kegelapan, dan Jimin menatap kembali wajahnya sendiri di cermin.
Menghembuskan napasnya dengan kesal.
.
.
.
Jimin tidak memiliki Jungkook di dalam dirinya sejak lahir. Dulu dia anak yang normal dan biasa-biasa saja. Kemudian ketika usianya enam tahun, di saat kedua orang tua kandungnya masih hidup, Jimin mulai merasakannya. Ada sesuatu yang gelap dan menakutkan tumbuh di dalam dirinya. Sesuatu yang kejam dan mengerikan.
Dia pernah tersadar ketika memegang seekor kelinci yang telah dimutilasi dengan kejam. Kelinci itu masih utuh, tetapi tangan dan kakinya dipotong, dan mata serta organ dalam tubuhnya dikeluarkan, berceceran di tanah. Jimin yang masih berumur tujuh tahun tersentak dan membuang kelinci itu ke tanah, berlari ketakutan.
Rupanya itulah saat pertama Jungkook bisa muncul dan menguasai tubuhnya. Kejadian-kejadian lain tak kalah mengerikannya. Jungkook selalu membawa aura kemarahan dan kebencian. Dan selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.
Di masa sekolah dasarnya, Jimin selalu di skors di sekolah untuk hal-hal kejam yang dia tidak tahu, memukul teman sekelasnya dengan penggaris logam, menggores pipi teman perempuannya dengan pisau cutter, membunuh anjing peliharaan penjaga sekolah yang selalu mengonggonginya... dan semua hal itu, bahkan Jimin tidak merasa pernah melakukannya.
Jimin kebingungan, merasa difitnah dan diperlakukan kejam oleh orang-orang di sekelilingnya, semua orang takut kepadanya. Bahkan mama kandungnya sendiri mulai takut kepadanya dan menjauhinya, bersikap gugup kalau Jimin ada di dekatnya. Begitu juga ayahnya, yang memang sejak semula bersikap dingin dan menjauh. Meskipun ada perubahan besar dalam diri ayahnya, ayahnya sangat kejam dan tegas, dan tidak segan-segan memukul Jimin kalau Jimin melakukan sesuatu yang menurutnya salah dan tidak sesuai dengan standarnya, tetapi sepertinya ayahnya sudah berhenti memukulinya.
Pertama kali Jungkook berkomunikasi padanya adalah suatu malam di usianya yang ke sepuluh. Jimin melihat bayangan di depannya bisa membalas perkataannya. Dan memperkenalkan diri.
"Aku Jungkook." Katanya waktu itu. "Bisa dikatakan kita berbagi rumah yang sama."
Lalu semuanya jelas bagi Jimin, Jungkooklah yang melakukan semua kekejaman itu. Jungkook adalah sisi lain dirinya, alter egonya yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan.
Lelaki itulah yang dirasakannya menyelinap bagai bayangan gelap dan menakutkan bertahun lalu, seakan menunggu saat untuk meledak dan menguasainya.
Jimin tidak mau Jungkook lepas dan tak terkendali, lalu merusak hidupnya. Jimin lalu dengan sekuat tenaga berusaha menekan Jungkook dalam-dalam, mengendalikannya, membuatnya tertidur jauh di dalam dirinya. Sampai kemudian kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat itu dan Jimin diambil oleh keluarga angkatnya, sebagai wali Jimin.
Sampai dia berusia 21 tahun dan boleh menerima warisan keluarga secara hukum, yang ditunjuk oleh ayah Jimin, mereka adalah sahabat Ayah Jimin. Dan mereka memberikan suasana keluarga yang hangat dan menyenangkan bagi Jimin, jauh dari suasana dingin dan kaku yang ada di rumah Jimin sebelumnya.
Bahkan Jungkookpun sepertinya menyadari kebaikan keluarga angkat itu, karena dia jarang memberontak muncul dan mengganggu. Semua tampak berjalan lancar, sampai entah kenapa Jimin lengah dan Jungkook berhasil menguasai tubuhnya. Lalu menciptakan sebuah kejadian yang membuat mereka sama-sama terobsesi kepada Yoongi.
Obsesi itu yang membuat Jungkook semakin lama semakin kuat dan bisa muncul kapanpun sesuai kemauannya sendiri. Keinginan Jungkook memiliki Yoongi begitu kuat sehingga Jimin sendiri tidak mampu membuatnya tertidur lama-lama
TBC
PS: See ? udah ngerti kan sekarang Jungkook itu "apa" or "siapa"
Ada yg pernah nonton Kill Me Heal Me ? well ,ini versi lainnya dan lebih jahat :"
Jungkook disini bukan arwah atau setan yak._. Dia semacam alterego-nya chim. Yap, benar dia "jiwa" lain dalam tubuh chim.
Aku ingin menanyakan 2 hal:
Ada beberapa yang minta aku remake fifty shade of grey menjadi fifty shade of park. Hmm ShOuld I ?
Hmm ini jahat karan temenku meracuniku dgn ff uke!chim dan aku terjebak! Jahat kaaannn. Kalo aku membuat sebuah remake dengan uke!chim gimana yaa ? aku menghianati yoonmin shipper gak yaa ? I really need your opinion.
So,review ?
