Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 4-Chapter 6
Jungkook memasuki kamar Yoongi, dengan langkah tenang dan tidak terlihat, seperti yang biasanya dilakukannya kalau dia menyelinap ke kamar perempuan itu.
Yoongi tertidur dengan lelap, mungkin obat penenang dari dokter itu membuatnya tenggelam dalam mimpi yang dalam. Bagus. Itu berarti Jungkook bisa leluasa.
Lelaki itu duduk di pinggiran ranjang dan menyentuhkan jemarinya menelusuri pipi Yoongi. Benarkah perempuan ini takut kepadanya? Kenapa Yoongi takut kepadanya? Dalam benak Jungkook. Yoongi adalah perempuan satu-satunya yang melihatnya apa adanya. Mata polos itu dulu pernah menatapnya, menatapnya dengan perhatian ketika dia telah membunuh orang dengan mengerikan.
Bahkan Yoongi waktu itu menawarkan plester untuk lukanya. Jungkook saat itu sudah siap membunuh Yoongi. Baginya tidak masalah membunuh anak kecil, apalagi anak kecil yang merupakan saksi mata. Tetapi dia mengurungkan niatnya karena anak kecil itu menawarkannya plester untuk menyembuhkan lukanya. Sebuah tindakan yang konyol... tetapi menyentuh hati Jungkook yang gelap.
Dan di hari itu, Jungkook menyadari bahwa dia harus bisa memiliki Yoongi. Apapun akan dilakukannya untuk memiliki Yoongi. Gadis itu memberikannya kekuatan. Semakin lama semakin kuat. Hingga mungkin dia bisa menyingkirkan Jimin dari tubuh ini, dan menguasainya sepenuhnya.
Jungkook menunduk dan mengecup bibir Yoongi yang sedang tertidur pulas. Bersyukur atas obat penenang yang diberikan oleh dokter itu sehingga Yoongi tidak akan sadar kalau dia bertindak sedikit lebih jauh. Jemarinya membuka kancing kemeja Yoongi, menyentuh buah dadanya, dan meremasnya lembut.
Gairahnya naik, seperti biasanya. Kalau berhubungan dengan perempuan, Jungkook hanya mengetahui satu hal : nafsu. Dia tidak pernah tahu cara lain untuk menggambarkan perasaannya kepada perempuan.
Bibirnya turun ke leher Yoongi, meresapi harumnya perempuan itu yang menggoda seluruh saraf tubuhnya. Dan Jungkook mengecupnya, mencecap setiap rasanya. Ketika bibirnya sampai ke bagian paling atas payudara Yoongi yang ranum dan menggoda, Jungkook mengecup lebih dalam, melumat kulit halus itu, sehingga meninggalkan tanda kemerahan di sana, membuat Yoongi sedikit menggeliat dan mengerutkan kening dalam tidur pulasnya.
Dia menegakkan tubuh dan tersenyum puas melihat hasilnya. Ini sama seperti seorang pejantan yang memberi tanda kepada betinanya. Dengan tenang dia mengancingkan kembali piyama Yoongi, dan merapikan kembali selimutnya. Dalam senyuman dia mengecup bibir Yoongi untuk terakhir kalinya, sebelum meninggalkan gadis itu terbaring lelap di ranjang.
Sekarang belum saatnya memiliki Yoongi. Nanti, kalau waktunya sudah tepat. Jungkook akan mengambil Yoongi, menundukkannya, menguasainya dan mempermainkannya sesukanya, sampai dia bosan.
.
.
.
Ketika Yoongi terbangun keesokan harinya, hujan turun dengan derasnya di pagi hari yang muram itu. Menghantamkan air ke jendela kaca kamarnya, membuat suasana makin gelap dan murung. Yoongi melangkah turun dari ranjang. Pelayan biasanya sudah datang dan menyiapkan peralatan mandinya, tetapi kali ini tidak ada yang datang. Yoongi berpikir mungkin Jimin memerintahkan mereka untuk tidak mengganggu tidurnya.
Dengan gontai, masih setengah mengantuk Yoongi melangkah ke dalam kamar mandinya. Dia melepaskan piyamanya dan berdiri telanjang di bawah pancuran air hangat. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, karena itu dia sama sekali tidak melirik ke arah bathtub. Selesai mandi dan merasa segar akibat siraman air hangat ke tubuhnya, Yoongi berdiri di depan cermin dan mengambil sikat gigi dari tepi wastafel. Dia mulai menyikat giginya dan tertegun.
Yoongi tertegun melihat bayangan yang terpantul di kaca kamar mandinya. Di bagian atas payudaranya, ada tanda merah yang sekarang sudah sedikit membiru. Dengan bingung digosoknya tanda itu, tidak sakit. Apakah bekas gigitan serangga? Kenapa tidak terasa gatal dan sakit?
Lama Yoongi mengerutkan keningnya sambil memandang tanda itu. Tetapi kemudian dia menarik napas dan melanjutkan menggosok giginya. Mungkin memang hanya ruam di kulitnya yang sekarang sudah sembuh. Pikirnya dalam hati.
.
.
.
Jimin memintanya datang ke ruang keluarga setelah sarapan, jadi Yoongi menurutinya meski sedikit enggan, berduaan dengan lelaki itu terasa sedikit mengintimidasinya. Tetapi tentu saja Yoongi tidak bisa menolaknya.
"Kemarilah." Lelaki itu duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya dengan ramah, membuat Yoongi mau tak mau mengambil tempat duduk di sebelah Jimin.
DI depan mereka ada sebuah televisi besar yang dinyalakan. Menayangkan berita gosip.
"Lihatlah berita itu." gumam Jimin datar.
Yoongi melihat berita itu dan mengernyit. Para wartawan sedang berdiri di depan tempat yang dia kenal. Tempat itu... tempat itu adalah rumahnya! Rumah tempat tinggalnya dengan kakek dan neneknya. Kenapa para wartawan berdiri di depan rumahnya?
"Mereka entah darimana mendapatkan kabar bahwa Heechul mempunyai seorang putri yang dirahasiakan." Jimin bergumam sambil mengamati berita di televisi itu, "Dan sekarang mereka menyerbu ke rumahmu, mencari tahu. Untung saja rumah itu kosong karena kau ada di sini, kalau tidak mereka akan menyerbumu."
Yoongi masih tertegun. Tiba-tiba merasa takut, para wartawan itu sama persis seperti yang dikatakan Jimin, mereka seperti piranha yang kelaparan, berusaha mengerubuti dan mengejar mangsa mereka. Hidupnya dulu tenang, dan Yoongi nyaman berada di dalamnya, kenapa hidupnya bisa berubah seperti ini?
Jimin menoleh menatap Yoongi yang masih terdiam, "Mereka juga berusaha mengejarku, tetapi mereka tidak bisa menembus pagar rumahku. Kalau kau mengintip jauh ke luar sana, kau pasti bisa melihat beberapa mobil parkir di sana, mengintip dan berusaha mendapatkan informasi sekecil apapun." Jimin menarik napas panjang,
"Mereka tidak tahu kau ada di rumah ini, jadi kau bisa berlindung di rumah ini. Untuk sementara, sampai para wartawan itu tenang."
Yoongi menghela napas panjang. Dia sungguh-sungguh ingin pergi. Perasaannya tidak enak dan dia merasa tidak pantas berada di rumah ini. Jimin bukan siapa-siapanya, dan tinggal di sini terasa mengganggu pikirannya. Tetapi kalau situasinya berubah seperti ini, dia tidak bisa bisa menolak bantuan Jimin bukan?
Yoongi menghela napas panjang lagi, berusaha mencari cara untuk menghindar, ditatapnya Jimin dengan ragu,
"Mungkin saya bisa mencari teman yang bersedia menampung saya untuk sementara waktu?"
Jimin terkekeh, "Aku yakin teman-temanmu tidak mempunyai pagar yang kokoh dan tak tertembus seperti pagarku. Apakah kau ingin mengganggu kehidupan mereka dengan serbuan wartawan itu? Wartawan itu tak akan berhenti Yoongi, kau adalah berita panas yang mereka kejar, dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkanmu."
Yoongi mengernyitkan dahinya, "Tetapi .. saya merasa tidak pantas tinggal di rumah ini. Saya bukan siapa-siapa anda dan..."
"Anggaplah aku temanmu, oke? Rumah ini besar dan bisa menampungmu. Kau akan aman di sini. Tidak ada yang tahu kau di sini. Aku tidak merasa direpotkan olehmu, dan kau bebas pergi setelah keadaan aman." Jimin tersenyum lembut,
"Aku akan menjagamu Yoongi."
Dan entah kenapa Yoongi menyadari ada kejujuran yang tulus di balik kata-kata Jimin itu.
.
.
.
Tetapi Jimin yang sekarang makan malam dengan Yoongi sangat berbeda. Lelaki itu berubah, menyebarkan aura ketakutan yang sama seperti yang dirasakan Yoongi beberapa waktu yang lalu. Lelaki itu diam sepanjang makan malam yang hening. Hanya melirik Yoongi dengan tatapan tajam yang sedikit menakutkan beberapa kali. Membuat Yoongi merasa tidak nyaman.
Jimin tidak berusaha memulai percakapan, karena itu Yoongi juga diam saja. Membiarkan para pelayan melayani mereka dari sajian pembuka, sajian utama dan kemudian sajian penutup. Ketika sajian penutup sudah selesai dihidangkan, Yoongi menatap Jimin yang mulai menuangkan anggur ke gelasnya dengan gugup,
"Saya rasa... saya akan kembali ke kamar dan beristirahat."
Lelaki itu diam saja, menyesap anggurnya dan menatap Yoongi dari atas gelasnya. Semakin lama aura lelaki itu terasa semakin menyesakkan dadanya.
Yoongi meletakkan serbetnya dengan hati-hati, lalu menganggukkan kepalanya kepada Jimin dan dengan langkah cepat melangkah keluar dari ruang makan itu, berusaha secepat mungkin keluar dari sana, membebaskan diri dari suasana yang menyesakkan dadanya.
Dia sudah membuka pintu ruang makan itu sedikit, ketika tangan Jimin yang ramping dan kuat terulur begitu saja di belakangnya. Telapak tangannya mendorong pintu itu supaya menutup lagi.
Jimin sudah berdiri di belakang Yoongi, begitu dekat hingga napasnya berembus hangat di puncak kepala Yoongi dan dadanya hampir menyentuh punggung Yoongi. Yoongi berdiri dengan gugup menghadap pintu, masih membelakangi Jimin, jantungnya berdebar entah kenapa.
Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya, berbisik dengan hembusan lembut di telinga Yoongi, membuat bulu kuduk Yoongi berdiri.
"Kenapa kau begitu buru-buru berpamitan Yoongi? Apakah kau takut kepadaku?"
TBC
PS:
Huweee Kuki dah mulai grepe-grepe yaaaa :(
