Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 5-Chapter 7

Debar di jantung Yoongi makin kencang. Perasaan ini sama seperti perasaan seekor tikus yang terperangkap dalam cengkeraman kucing besar. Kucing itu tidak ingin memakannya dulu, dia lebih memilih bermain-main dengan korbannya, membuatnya kaku ketakutan, sebelum menelannya bulat-bulat.

"Ti...tidak, saya hanya sedikit lelah.."

"Kau sudah tidur seharian ini, tidak mungkin kau lelah." Jimin masih berbisik pelan di telinga Yoongi. Lalu tanpa disangka-sangka, lelaki itu menunduk makin dalam, jemarinya menyingkap leher gaun Yoongi sehingga menampakkan pundaknya yang rapuh.

Dengan gerakan sensual yang mengancam, lelaki itu mengecup pundak Yoongi, ringan bagaikan kupu-kupu, tapi membuat Yoongi gemetaran, "Kau bisa menemaniku bercakap-cakap malam ini. Aku kesepian."

Apakah lelaki ini mabuk? Yoongi bertanya-tanya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ingin melepaskan diri, tetapi terhimpit oleh Jimin di pintu. Dia takut lelaki ini berbuat kasar kepadanya, karena sepertinya lelaki ini dalam suasana hati yang buruk.

"Lepaskan saya Jimin." Suara Yoongi pelan, dan gemetar, tetapi dia berusaha terdengar tegas.

Jimin terkekeh pelan di belakang Yoongi. Tetapi lelaki itu melangkah mundur satu langkah dan melepaskan Yoongi. Membuat Yoongi langsung menghembuskan napas lega merasakan tubuh Jimin menjauh.

"Selamat beristirahat Yoongi..."

Yoongi tidak sempat mendengarkan lagi. Dia langsung membuka pintu ruang makan itu dan setengah berlari ke kamarnya. Dengan tergesa dikuncinya pintu kamarnya, lalu bersandar di pintu itu dengan ketakutan. Aura lelaki itu berbeda, ada nuansa kejam di sama. Jimin yang di ruang makan tadi mirip sekali dengan Jimin dalam mimpi Yoongi beberapa waktu lalu... Lelaki yang mengatakan bahwa namanya adalah 'Jungkook'...

Yoongi memandang ke sekeliling ruangan. Setelah memastikan bahwa pintunya terkunci rapat, dia melangkah ke ranjang dan duduk di sana dengan gelisah. Ini tidak bisa dilanjutkan. Dia tidak bisa tinggal di rumah ini. Ada sesuatu yang gelap dan misterius yang menghantui rumah ini. Membuatnya merasa diawasi, merasa tidak tenang setiap saat.

Yoongi harus keluar dari rumah ini, dia mungkin bisa menemukan teman di daerah terpencil yang bisa menampungnya, jauh dari jangkauan para wartawan. Ya, sebesar apapun resikonya, Yoongi merasa dia harus segera pergi dari rumah ini.

.

.

.

Ketukan di pintu kamarnya membuat Yoongi terbangun dari tidur lelapnya. Dia membuka matanya dan mengerjap merasakan terpaan sinar matahari menyilaukannya. Astaga.. sudah jam berapa ini?

Sepertinya karena semalam dia lama tidak bisa tidur, dia bangun kesiangan. Dengan gugup dia duduk di ranjangnya. Ketukan itu terdengar lagi, membuat Yoongi waspada. Dia memang sengaja mengunci pintunya, hanya sekedar berjaga-jaga atas ketakutan yang tidak bisa dijelaskannya.

"Siapa?"

"Ini Namjoon." Suara Namjoon sang kepala pelayan terdengar di luar, "Tuan Jimin meminta saya memastikan anda baik-baik saja, karena anda tidak turun untuk sarapan."

"Saya.. saya baik-baik saja." Yoongi merapikan rambutnya dan memastikan piyamanya rapi, lalu melangkah turun dari ranjang dan membuka kunci pintu. Namjoon tampak berdiri di sana dengan ekspresi datarnya.

"Saya bangun kesiangan, mungkin karena pengaruh obat dari dokter, maafkan saya tidak turun untuk makan malam." Yoongi tersenyum meminta maaf kepada Namjoon.

Ada seulas senyum kecil yang muncul di wajah Namjoon yang datar. Tetapi hanya sekerjapan mata dan menghilang, hingga Yoongi sendiri tidak yakin dengan penglihatannya.

"Tidak apa-apa Nona Yoongi. Saya senang anda baik-baik saja. Oh ya, kalau anda sudah siap, Tuan Jimin ingin bertemu di ruang kerjanya." Namjoon sedikit membungkukkan badannya, "Kalau begitu saya permisi dulu."

Yoongi termangu. Kenapa Jimin ingin bertemu dengannya? Dibayangkannya suasana makan malam kemarin yang menakutkan, membuatnya merasa enggan.

Sementara itu, langkah Namjoon tampak meragu, kemudian dia berhenti melangkah dan berputar, menatap ke arah Yoongi yang masih berdiri di ambang pintu, "Anda mengunci pintu kamar anda." Namjoon menatap Yoongi dengan tatapan tajam.

"Eh... iya.." Yoongi mengalihkan pandangannya gugup, tidak tahan dipandang setajam itu, benaknya berputar mencari alasan, "Saya terbiasa mengunci pintu kamar di rumah, maafkan saya membawa kebiasaan itu di sini."

"Tidak apa-apa." Namjoon menggelengkan kepalanya. "Saya harap anda melakukannya terus."

"Melakukan apa?" Yoongi menatap Namjoon dengan bingung.

"Mengunci pintu kamar anda setiap malam." Namjoon berucap misterius, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Yoongi yang masih terpaku bingung di ambang pintu, memikirkan arti dari kata-kata Namjoon.

Lelaki itu menyuruhnya mengunci pintu kamar setiap malam. Seakan-akan ada bahaya yang mengintainya kalau dia tidak mengunci pintu kamar. Tiba-tiba Yoongi merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ada bahaya apa yang mengintainya di rumah ini?

.

.

.

"Maafkan aku memanggilmu kemari." Lelaki itu sedang menghadap berkas-berkas yang tampaknya rumit di meja kerjanya. Ketika dia melihat Yoongi melirik berkas-berkas itu, Jimin tersenyum,

"Oh... aku sedang memeriksa beberapa pekerjaan, kau tahu wartawan-wartawan di depan itu membuatku tidak bisa keluar rumah, jadi aku melakukan pekerjaanku dari dalam rumah. Untunglah teknologi sudah cukup maju sekarang ini, jadi perusahaanku tetap aman dan terkendali. Duduklah Yoongi, aku ingin membicarakan sesuatu."

Yoongi mengikuti permintaan Jimin dan duduk di kursi di depan meja kerja Jimin, mengamati ketika lelaki itu merenung dengan kedua tangan ditumpangkan di dagu. Lalu lelaki itu menghela napas,

"Mungkin apa yang akan kukatakan ini akan sangat mengejutkanmu." Tatapannya berubah lembut, penuh permintaan maaf, "Sebelumnya aku minta maaf atas tingkahku saat makan malam kemarin, aku tahu itu keterlaluan dan tidak dapat dimaafkan. Tetapi semoga kau mengerti, mungkin malam itu aku sedang mabuk, aku bahkan tidak begitu ingat apa yang kulakukan dan kukatakan, tapi aku tahu itu buruk, dan aku menyesal."

Ini Jimin yang biasa. Yoongi menyimpulkan dalam hatinya, lelaki ini kembali menjadi Jimin yang berwibawa dengan auranya yang tulus. Tidak menakutkan seperti semalam, Yoongi masih begidik mengingat kejadian semalam... Dan Jimin mengatakan dia mabuk, mungkin jauh di dalam hatinya lelaki itu masih bersedih atas kematian ibunya. Bagaimanapun mereka sepasang kekasih bukan? Mungkin kelakuan menakutkan Jimin yang kemarin masih bisa dimaklumi.

"Tidak apa-apa. Saya mengerti..."

Jimin tersenyum lalu matanya berubah serius, "Well, ini mengenai apa yang akan kuungkapkan kepadamu Yoongi... aku minta maaf kalau aku tidak menghubungimu sebelumnya. Aku hanya ingin memastikannya sebelum mengatakannya kepadamu..."

Lelaki itu mengambil album foto yang pernah dilihat Yoongi sebelumnya, di situ ada foto kedua orang tua angkat Jimin dan kakak Jimin yang lebih tua, " Kau lihat, ini kedua orang tua angkatku dan kakak angkatku, namanya Hangeng."

Mata Jimin tampak sedih, "Mereka semua meninggal karena kecelakaan... kedua orang tua angkatku meninggal di tempat begitupun Hangeng... tetapi jauh, lama sebelum Hangeng meninggal dia menitipkan sebuah rahasia kepadaku..."

Yoongi menatap foto Hangeng di sana. Lelaki yang tampan. Dengan senyumnya yang hangat, sayang sekali dia harus meninggal di usia muda.

"Hangeng pernah mengatakan kepadaku, di masa mudanya dia pernah melakukan perbuatan tidak bertanggung jawab, dia menghamili kekasih masa SMUnya, tetapi hubungan mereka tidak berjalan baik sehingga dia memberikan uang kepada kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya dan kemudian dia pergi dan meninggalkan kekasihnya..." Jimin menatap Yoongi dalam-dalam.

"Tetapi kemudian, dia menyadari bahwa ternyata kekasihnya di masa lalunya itu tidak pernah mengugurkan kandungannya, dia ternyata mempunyai seorang putri yang waktu itu sudah berumur satu tahun."

Yoongi mulai menangkap sinyal-sinyal itu. Benaknya menarik kesimpulan, tetapi pikiran logisnya tidak mau percaya... apakah itu benar? Mungkinkah itu? Bagaimana mungkin semua bisa begitu kebetulan?

"Ya Yoongi... putri Hangeng adalah dirimu." Jimin melemparkan jawaban itu, menghapuskan semua keraguan di pikiran Yoongi, "Tidakkah kau lihat foto itu? Dia sangat mirip denganmu."

Yoongi menatap foto itu, kali ini tangannya gemetar, begitupun hatinya, ikut tergetar. Oh astaga, lelaki ini, yang sedang membalas senyumnya di foto ini adalah ayahnya? Ayahnya yang selama ini dia anggap tidak pernah ada? Ayahnya yang selama ini tidak dia ketahui di mana dia berada, tidak berani ditanyakannya, meski hatinya bertanya-tanya?

Yoongi mengakui mereka mirip, warna kulit itu, warna rambut yang pekat, bentuk alis dan bibir mereka, bahkan bibir mereka mirip. Sisanya adalah warisan dari Heechul... tetapi Yoongi menyadari dia percaya kepada Jimin, Hangeng adalah ayahnya. Tetapi.. ayahnya sudah mengetahui tentang dirinya sejak dia berumur satu tahun, kenapa ayahnya tidak pernah menemuinya? Apakah ayahnya juga menolaknya seperti ibunya? Menganggapnya seperti aib di masa lalu yang harus dienyahkan?

Yoongi mendongakkan kepalanya dari foto itu, menatap Jimin dengan tatapan ragu dan takut, ragu akan jawaban yang diberikan oleh Jimin, "Apakah ayah saya... dia juga menolak saya?"

"Jangan menggunakan kata 'saya' Yoongi, itu terlalu formal." Jimin menggelengkan kepalanya, "Dan astaga, tidak Yoongi, ayahmu mencintaimu..dia langsung menemui kakek dan nenekmu ketika dia tahu bahwa Heechul membuangmu. Tetapi kakek dan nenekmu begitu ketakutan bahwa Hangeng akan merenggutmu dari kalian, mereka mengancam Hangeng kalau dia berani menemuimu, mereka akan menuntut Hangeng karena telah memperkosa Heechul. Ancaman yang bodoh... tetapi Hangeng begitu mencintaimu sehingga takut pertikaian itu akan mempengaruhimu, karena itu dia menerima kesepakatan dengan kakek dan nenekmu."

"Kesepakatan apa?"

"Bahwa ayahmu tidak boleh menemuimu. Tidak boleh berinteraksi denganmu, setidaknya sampai kau berusia tujuh belas tahun dan sudah dewasa dan bisa menerima penjelasan. Sebagai gantinya, kakek dan nenekmu akan mengirimkan laporan perkembanganmu dan mengabari keadaanmu." Jimin mengeluarkan dua album foto besar dari laci meja kerjanya,

"Kakek dan nenekmu mengirim foto perkembanganmu kepada Hangeng secara berkala, dan ayahmu menyimpannya di sini." Jimin mendorong album foto itu kepada Yoongi.

Di dalamnya berisi foto-foto masa kecil Yoongi. Tentu saja Jimin tidak mengatakan bahwa dia memiliki enam album besar lain yang berisi foto-foto Yoongi ketika dewasa, yang dikirim oleh para anak buahnya yang mengikuti Yoongi secara diam-diam dan mengambil fotonya secara rahasia setiap saat.

Yoongi membuka album-album foto itu. Jimin benar. Isinya adalah fotonya dari bayi sampai kanak-kanak. Jadi selama ini ayahnya mengawasinya dari kejauhan, mencintainya diam-diam...matanya terasa panas, mulai berkaca-kaca.

"Dia sangat menyayangimu. Dia hanya menceritakan tentangmu kepadaku karena aku adik laki-laki yang dipercayainya. Meskipun aku hanya adik angkat, kami sangat dekat dan bersahabat..." Mata Jimin melembut,

"Dia selalu menunjukkan foto-fotomu dengan bangga, menyimpannya dengan hati-hati... dan berkata dia tak sabar untuk menunggu usiamu tujuh belas tahun dan menemuimu, mengatakan siapa sebenarnya dirinya..." Jimin menghela napas panjang,

"Sayangnya dia tidak bisa mencapai saat itu... sebelum usiamu tujuh belas, dia sudah terenggut karena kecelakaan tragis itu."

Air mata Yoongi menetes di pipinya tanpa disadarinya. Ayahnya ternyata begitu menyayanginya. Dia ternyata bukan putri yang ditolak dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, setidaknya ayahnya menyayanginya. Album foto itu basah oleh air matanya yang menetes. Dengan tangan gemetar diusapnya air matanya, dan dipeluknya album foto itu seakan itu harta yang paling berharga baginya,

"Album foto ini... bolehkah aku membawanya ke kamar? Aku ingin melihat lihatnya..." dan Yoongi ingin membuka setiap lembar album ini sambil membayangkan bagaimana ayahnya membuka album ini dulu ketika dia masih hidup.

Album ini menyimpan kenangan, kenangan berharga akan ayahnya yang tak sempat dikenalnya. Jimin menganggukkan kepalanya, "Tentu saja Yoongi.. itu milikmu." Dia menatap Yoongi dengan serius,

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku begitu kuat melarangmu keluar dari rumah ini... selain karena wartawan-wartawan itu... ini alasannya, sebelum meninggal, Hangeng memintaku menjagamu. Hangeng meninggal ketika usiamu delapan tahun. Aku berusia dua puluh tahun ketika itu. Dia memintaku menjagamu.. karena itulah aku berusaha mencarimu. Tetapi sama seperti yang dilakukan kakek dan nenekmu kepada Hangeng, mereka melarangku mendekatimu... apalagi aku tidak ada hubungan apa-apa denganmu, jadi mereka melarangku mendekatimu sampai kapanpun, dan melarangku memberitahukan yang sebenarnya kepadamu, karena saat itu karier Heechul sedang sangat menanjak... mereka takut akan ada skandal yang mempengaruhi karier Heechul.. jadi aku mundur dan menunggu."

Tiba-tiba pikiran itu terasa menggelitik Yoongi sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Apakah kau mendekati ibuku karena..."

"Ya, aku mendekati ibumu karena mencari jalan untuk menemuimu. Tetapi jangan salah paham, aku memang tertarik pada Heechul, dia cantik dan menyenangkan dan aku serius untuk memperistrinya, dengan begitu aku bisa mendapatkan istri yang cantik, sekaligus bisa menunaikan janjiku kepada Hangeng, untuk menjagamu sebagai putriku." Jimin mengernyit mendengar kebohongannya sendiri.

Dia sama sekali tidak tertarik kepada Heechul, apalagi memperisteri perempuan yang palsu di segala hal itu, dan daripada menjadikan Yoongi puterinya, Jimin lebih tertarik menjadikan Yoongi istrinya.

Sementara itu Yoongi berpikir dan menelaah semua hal. Pantas di saat pertemuan pertama mereka dulu, Jimin begitu ngotot agar mereka menjadi satu keluarga dan agar Yoongi tinggal bersamanya kalau dia dan Heechul menikah nanti. Ternyata ini alasannya. Dan ternyata ini pula alasan kuat kenapa Jimin menahannya di rumah ini.

"Ternyata semua tak berjalan sesuai rencana... Heechul meninggal dan..." Jimin menghela napas panjang, "Maafkan aku, aku berencana memberitahukan kepadamu pelan-pelan. Tetapi aku tidak mau kau salah paham dan bingung karena aku menahanmu di sini. Aku...meski tidak berhubungan darah, aku sama saja seperti pamanmu. Ayahmu menitipkanmu kepadaku untuk kujaga, dan aku ingin melakukan janjiku kepadanya. Karena itu, kumohon kau mau mempertimbangkan untuk tinggal di sini bersamaku."

Yoongi tertegun, teringat akan tekadnya semalam untuk segera pergi dari rumah ini. Tetapi waktu itu dia ketakutan atas tingkah Jimin yang aneh dan dia tidak tahu tentang kenyataan ini. Apakah dia harus mempertimbangkan lagi?

"Ada banyak kisah tentang Hangeng yang ingin kubagi denganmu, kalau kau tertarik ingin mendengar tentang ayahmu.." Jimin melemparkan tawaran yang sangat menarik bagi Yoongi, membuat Yoongi tidak bisa menolak.

"Baiklah Jimin, aku... aku akan tinggal di rumah ini, aku akan senang sekali kalau kau mau berbagi cerita tentang ayahku kepadaku."

.

.

.

"Aku salah mengatakan kau kurang cerdik.. kau ternyata cerdik." Bayangan di kegelapan itu melemparkan senyum jahatnya kepada Jimin, "Kau berhasil menahannya di rumah ini."

"Diam Jungkook!" Jimin menggeram marah, "Kau hampir membuatnya kabur semalam, dan aku yang harus membereskan kerusakan yang kau buat."

"Aku tidak tahan kalau dia ada di dekatku. Rasanya aku ingin melahapnya bulat bulat..."

"Kalau kau berani menyakitinya, aku akan membuat Yoongi pergi dari rumah ini. Jauh darimu sehingga kau tidak bisa menemukannya lagi." Jimin mendesis, mengancam.

Tanggapan yang dia terima dari Jungkook hanyalah tawa mengejeknya yang khas,

"Apakah kau berani melepaskannya Jimin? Kau bahkan tidak tahan jauh-jauh darinya, aku ragu kau berani membuatnya jauh dariku, karena itu sama saja menjauhkannya darimu."

Jimin terdiam, tertegun kaku. Tetapi kemudian menatap Jungkook dengan pandangan menantang,

"Kalau kau membahayakan Yoongi, aku akan melakukannya. Aku lebih mementingkan keselamatan Yoongi daripada kebahagiaanku. Kalau dengan menjauhkannya dari diriku dan kau akan membuat Yoongi bahagia dan selamat, aku akan melakukannya."

Jungkook mengerutkan keningnya, mulai menyadari kebenaran dari ancaman Jimin, dia menatap Jimin penuh spekulasi.

"Kau tidak akan berani melakukannya,"

"Aku akan melakukannya."

"Walaupun begitu, Yoongi tidak akan lepas dariku, aku akan mencarinya kemanapun. Percuma saja Jimin. Apapun yang terjadi... Yoongi akan menjadi milikku."

Tawa Jungkook masih membahana di kegelapan, penuh dengan ejekan yang kejam...

.

.

.

"Kalau terjadi apapun kepadaku. Kau akan melakukannya kan Namjoon?"

Namjoon menatap ragu ke arah Jimin, tahu kalau Jungkook mendengarkan di dalam sana.

"Kau tidak usah takut." Jimin menghela napas, "Aku minta maaf atas insiden kecelakaan itu, yang hampir merenggut keluargamu.,,," lelaki itu mengacak rambutnya dengan frustasi,

"Monster ini kadangkala sangat kuat, tetapi aku akan menahannya sekuat tenaga. Sementara itu, kau lakukan apa yang kuminta untuk kulakukan."

Monster... Namjoon membatin dalam hati. Panggilan itu sangat cocok untuk Tuan Jungkook, lelaki itu berjiwa kelam dan bengis, melindas siapapun yang menghalanginya tanpa ampun.

Namjoon takut setengah mati kepada Tuan Jungkook. Tetapi kesetiaannya kepada Tuan Jimin mengalahkan segelanya. Kalau memang nanti terjadi sesuatu kepada Tuan Jimin, Namjoon akan melaksanakan instruksinya. Melindungi Yoongi dan membawanya lari jauh-jauh dari jangkauan Tuan Jungkook, meskipun nyawanya menjadi taruhannya.

.

.

.

"Kau masih penasaran akan kasus kematian artis itu?"

Sapaan itu membuat Hoseok menoleh dan tersenyum, "Aku sedang menyelidiki kasusnya untuk artikel khusus di majalah. Kau tahu, kisah tentang anak gelap Heechul membuat semuanya makin menarik."

"Tetapi anak gelap Heechul itu tidak bisa ditemukan di mana-mana. Rumahnya ditinggalkan begitu saja. Dia mengambil cuti dari tempat kerjanya, dia seolah lenyap dan aku bahkan mulai ragu kalau dia ada." Teman wartawannya yang bernama Jin menyahut sambil memutar bola matanya.

Hoseok tertawa, "Dia memang ada." Dibukanya berkas-berkasnya, "Aku menyelidiki ke sekolahnya dan berhasil mendapatkan fotonya waktu masih muda. Usianya pas. Sepertinya gosip itu benar, Heechul melahirkan anaknya ketika usianya enam belas tahun."

Jin mengambil berkas Hoseok dan mengamati foto Yoongi yang terpampang di sana.

"Siapa namanya? Yoongi? Hmmm dia cantik, sepertinya mewarisi kecantikan ibunya."

"Asalkan tidak mewarisi sikapnya." Hoseok tersenyum sinis. Sifat buruk Heechul sebagai artis memang sudah menjadi rahasia umum di kalangan artis dan wartawan.

"Bahkan kita tidak bisa menebak siapa ayah anak ini." Jin menatap Hoseok dengan serius, "Kau sudah ada ide di mana Yoongi berada sekarang ini? Kau harus menemukannya, artikelmu tidak akan berhasil kalau kau tidak bisa menemukan Yoongi."

Hoseok mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja sambil merenung. Sesungguhnya dia mengalami jalan buntu. Tidak ada yang tahu di mana Yoongi berada. Dia sudah menghubungi semua orang yang mungkin berhubungan dengan Yoongi, Yoongi tidak punya banyak teman dan kenalan. Tetapi semua nihil. Tidak ada yang tahu di mana Yoongi berada, gadis itu tampaknya lenyap begitu saja. Tetapi Hoseok bertekad menemukannya, dia pasti akan menemukan Yoongi.

"Dan milyuner kaya itu, pacar Heechul, juga tidak ada kemajuan dengannya ya?"

Hoseok mengerutkan keningnya, Park Jimin menjadi satu lagi masalah besar. Sejak kematian Heechul dia sangat sudah ditemui. Pintu gerbangnya selalu tertutup rapat, dia bahkan tampaknya tidak pernah keluar dari rumahnya. Penjagaan rumahnya sangat ketat, dan tidak peduli para wartawan berkemah di depan rumahnya, mereka tidak berhasil menemui Park Jimin.

"Sebenarnya kau bisa menjadikannya bahan artikelmu." Jin mengusulkan.

Hoseok mengernyitkan keningnya, "Siapa? Park Jimin? Tetapi dia hanya milyuner kaya yang kebetulan memacari artis, banyak yang seperti dia, tidak menarik untuk dibahas... Publik akan lebih menyukai kisah anak gelap yang disembunyikan seorang artis sekian lama..."

"Tetapi dari rumor yang aku dengar, Park Jimin selalu membawa kematian di sekelilingnya."

"Apa maksudmu?" Hoseok memfokuskan pandangannya kepada Jin, insting wartawannya mulai berdering.

"Yah kau tahu. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, keluarga angkatnya juga meninggal begitu saja karena kecelakaan mobil... dan sekarang calon isterinya meninggal pula, di rumahnya. Mungkin pria itu menyimpan kutukan yang membunuh orang-orang terdekatnya." gumam Jin.

Atau pria itu terlibat sesuatu yang menyebabkan kematian orang-orang terdekatnya. Hoseok menyimpulkan. Matanya menatap berkasnya yang memuat tentang Park Jimin. Well, kalau dia menggali sedikit lebih dalam, mungkin dia bisa mendapatkan sesuatu... Hoseok bertekad dalam hati, dia akan mencari tahu dan menemukan kisah yang menarik untuk diberitakannya kepada publik.

TBC

PS:

Wohoho semua member Bangtan sudah muncul. Dan chapter ini syuper sekali panjangnya :"

Kenapa yg jadi alterego nya chim kuki ? well ,karna dia adalah bias saya wkwk simply reason

Dan masalah ff uke!chim tenang itu hanya akan jadi ff oneshot dan untuk kesenangan ku belaka aku takakan memaksa kalian membacanya :( dan ff fifty shade of Park nya akan tetap dibuat (kalo aku minat) dengan pairing MinYoon kok wkwk

Tapi belum tau deh kapan sempet bikinnya :(

So, review ?