Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 6-Chapter 8

"Hangeng sangat senang membaca buku, karena itu aku senang ketika siang itu kau memilih duduk di perpustakaan. Aku sangat senang, karena kau sangat mirip dengannya."

Mereka duduk sambil minum kopi dan kue yang disediakan di kebun belakang rumah. Jimin sudah menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak Yoongi duduk dan bercerita. Tentu saja Yoongi tidak menolak, jantungnya berdegup kencang, menanti cerita tentang Hangeng, ayah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Tetapi Jimin mengenalnya. Dan lelaki itulah satu-satunya penghubung Yoongi dengan ayahnya.

Lelaki itu menyesap kopinya, lalu menatap Yoongi dengan alis diangkat, "Aku lupa menanyakannya. Kata Heechul kau bekerja di sebuah biro wisata... apakah mereka tahu kenapa kau tidak bisa masuk kerja?"

"Aku sudah menelepon mereka dan mengambil cuti besarku.. aku punya dua puluh hari cuti besar... tapi kalau lebih dari itu, tidak bisa... jadi beberapa hari lagi aku harus masuk kerja."

Mata Jimin berkilat mendengarkan keterangan Yoongi, tetapi Yoongi tidak melihatnya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya menatap ke arah album foto keluarga itu dengan sangat tertarik.

Jimin begitu baik, dia menunjukkan album foto keluarga kepada Yoongi, di sana ada foto Hangeng dan dengan rinci Jimin menjelaskan masing-masing kisahnya,

"Ini foto Hangeng waktu wisuda..." Jimin menunjukkan jarinya ke foto lelaki muda yang tampak begitu bahagia dan mengenakan toga yang terpasang rapi, senyumnya lebar, dan sangat mirip dengan Yoongi.

"Dia sangat gugup pagi itu... karena di hari yang sama dia diwawancara oleh perusahaan besar yang sudah memesannya jauh-jauh hari. Kau tahu, Hangeng mahasiswa jenius, jadi banyak yang mengejarnya ketika lulus. Dia memilih penghasilan terbesar meskipun dia harus bekerja keras. Lebih dari separuh gajinya dia kirimkan kepada kakek dan nenekmu, untuk membantu biaya perawatanmu."

Yoongi membelalakkan matanya, "Ayahku melakukan itu?"

Jimin menganggukkan kepalanya, "Keluarga angkatku tidak kaya dan ayah Hangeng tidak tahu tentang dirimu, jadi Hangeng harus bekerja keras demi bisa mengirimkan uang untukmu... Mereka dulunya sahabat ayahku, ayah Hangeng sempat satu sekolahan dengan ayahku di London. Mereka terus menjalin persahabatan ketika ayah Hangeng ditugaskan ke salah satu cabang perusahaan di Jerman, di dekat rumah ayahku.

Ketika kedua orangtuaku meninggal, ayahku menunjuk ayah Hangeng sebagai waliku sampai aku berusia dua puluh satu tahun dan bisa menerima warisan sah secara hukum. Dan kemudian ayah Hangeng harus kembali ke negaranya, sehingga aku dibawanya. Dan disinilah aku sekarang. Aku cukup bahagia dengan keluarga angkatku, mereka menyayangiku dan tidak pernah menganggapku sebagai orang luar.

Ketika usiaku dua puluh tahun, mereka semua meninggal karena kecelakaan dan itu merupakan pukulan yang sangat besar untukku. Karena masih kurang dari usia wajibku untuk menerima warisan, Aku mengajukan gugatan ke pengadilan dan dikabulkan, dan mereka akhirnya memberikanku warisanku. Yang ternyata sangat besar, ditambah dengan bunga dan pengembangan saham selama bertahun-tahun, membuatku luar biasa kaya. Aku akhirnya mengembangkan perusahaan dan di sinilah aku." Jimin tersenyum menyesal,

"Aku menyesal keluarga angkatku pergi begitu cepat karena aku belum membalas budi kepada mereka.. dan aku menyesal karena kau tidak sempat bertemu Hangeng.."

Yoongi mendengarkan kisah Jimin dan termenung. Kisah lelaki ini hampir sama dengannya, mereka sama-sama kehilangan orangtuanya dan bertahan hidup dari kasih sayang orang lain yang mencintai mereka. Ada perasaan empati yang berkembang untuk Jimin di hati Yoongi, membuat dadanya terasa hangat.

Jimin menyesap kopinya dan mengalihkan pandangannya kembali ke album foto,

"Mari kita bahas lagi tentang Hangeng, ini fotonya ketika dia merayakan ulang tahun ke dua puluh. Kau tahu apa doanya? Dia ingin waktu cepat berlalu dan kau segera berumur tujuh belas tahun..."

.

.

.

Yoongi membawa album foto itu ke kamarnya. Ada kekosongan besar yang dirasakannya atas kematian Heechul. Kekosongan itu menciptakan palung yang dalam di hatinya. Karena ibunya telah tiada. Tetapi palung itu juga menyisakan goresan menyakitkan, karena dia tahu pasti ibunya tidak pernah mencintainya dan tidak pernah menyayanginya.

Perasaannya terhadap ayahnya berbeda. Dia hanya mengenal Hangeng, Ayahnya, dari cerita-cerita Jimin dan dari foto-foto keluarga yang sekarang dibukanya di atas ranjangnya. Tetapi hatinya terasa sedih, mengetahui bahwa ayahnya mencintainya, tetapi tidak pernah bisa menemuinya. Mengetahui bahwa kecelakaan itu telah merenggut ayahnya bahkan sebelum dia sempat mengetahui bahwa dia memiliki seorang ayah yang selalu menjaganya diam-diam. Rasanya seperti sesuatu direnggut dari jantung dan dihantamkan ke tanah.

Mata Yoongi terasa panas, dan tanpa tertahankan air matanya menetes jatuh, mengenai wajah ayahnya yang sedang tersenyum di foto. Diusapnya air matanya dan tangisnya semakin terisak. Tangis yang terlambat, atas kematian ayahnya, atas kesempatan untuk bertemu yang tidak pernah tersampaikan, atas penyesalannya karena tidak pernah sempat mengatakan bahwa dia juga mencintai ayahnya dan selalu memikirkannya.

"Ayah..." Yoongi mengusap foto itu sambil menangis, "Ayah..." Air matanya tak terbendung. Dan dia terisak-isak di kamar itu.

Di luar kamarnya, Jimin berdiri membeku. Meresapi kepedihan Yoongi. Ada kepedihan yang sama di matanya. Sebuah penyesalan yang tak tertahankan.

"Maafkan aku Yoongi." Jimin menggumam dalam hati dan mengusap wajahnya dengan frustasi.

Kalau saja dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, mungkin dia masih bisa mengharapkan Yoongi mengerti. Tetapi kekejaman Jungkooklah yang menyebabkan Yoongi tidak bisa bertemu dengan ayahnya, dan kehilangan seluruh keluarganya, dan Jungkook melakukannya dengan tangan Jimin.

.

.

.

"Bakar biro wisata itu nanti malam." Jungkook memberikan instruksi dengan dingin di telepon,

"Buat seperti kecelakaan."

Suara Taehyung di sana menyahut dengan patuh, "Baik tuan. Saya akan laksanakan sebaik mungkin."

Jungkook meletakkan gagang teleponnya dan tersenyum. Dia memang tak segan segan mengotori tangannya dengan darah kalau perlu. Tetapi untuk hal-hal semacam ini, dia punya Taehyung untuk melaksanakannya, pegawainya yang setia dan bersedia melakukan apapun demi dirinya.

Begitu biro wisata tempat Yoongi bekerja terbakar habis. Yoongi tidak punya alasan untuk masuk kerja karena cutinya sudah habis.

.

.

.

Berita di koran itu membuat mata Yoongi terbelalak. Sebuah kawasan ruko terbakar habis dilalap api, tidak ada korban jiwa, tetapi kerugian uangnya luar biasa. Ruko itu menampung banyak usaha niaga, seperti salon, bank perkreditan rakyat, toko elektronik, dan biro wisata tempat Yoongi bekerja.

Yoongi mencoba menelepon atasannya. Tetapi selalu terhubung dengan mailbox. Mungkin atasannya sedang sibuk ... siapa yang tidak sibuk kalau lahan bisnisnya terbakar habis seperti itu? Yoongi membayangkan atasannya dengan sedih, atasannya lelaki setengah baya yang baik dengan keluarga besar dan anak-anak yang baik pula. Tidak terbayangkan betapa sedihnya mereka kehilangan bisnis keluarga seperti itu. Semoga semua sudah diasuransikan, Yoongi membatin.

Dan sekarang dia harus memikirkan pekerjaan, karena sudah jelas dengan kejadian ini, dia tidak punya pekerjaan lagi.

.

.

.

"Kau bisa menjadi asistenku." Jimin mengusulkan ketika Yoongi menceritakan kebakaran yang menimpa biro hukum tempatnya bekerja.

Yoongi mengernyitkan alisnya, "Tidak Jimin... aku akan mencari pekerjaan lain, segera."

"Oh ayolah, kau bahkan belum bisa keluar dari rumah ini, Para wartawan masih berkerumun di sana, mengendus sana dan sini. Aku juga mengalami nasib sama, tidak bisa keluar, aku harus menjalankan perusahaanku dari rumah...akan sangat membantu kalau aku mempunyai asisten."

Yoongi menatap Jimin ragu. Jalan keluar yang diberikan oleh Jimin memang membantu mereka berdua, tetapi Yoongi merasa tidak enak, dia telah begitu banyak memanfaatkan kebaikan hati Jimin. Dan sekarang bahkan lelaki itu memberinya pekerjaan.

"Terimalah. Dan jangan merasa tidak enak. Aku keluargamu bukan? Keluarga saling membantu." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.

Bagaimana Yoongi bisa menolak kalau menerima penawaran seperti itu?

.

.

.

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah hampir satu bulan Yoongi tinggal di rumah itu. Hubungannya dengan Jimin berlangsung dengan baik karena mereka berinteraksi dengan intens hampir setiap hari.

Secara aktual. Hanya Jimin yang ditemui oleh Yoongi setiap harinya, hanya Jimin teman bicara dan berbaginya, dan hanya Jimin satu-satunya orang yang bisa diajaknya berkomunikasi.

Menjadi asisten Jimin sangat rumit dan Yoongi harus belajar banyak. Mengerjakan pekerjaan di perusahaan internasional tentu saja berbeda dengan mengerjakan pekerjaan administrasi di sebuah biro wisata. Tetapi Jimin dengan sabar membantu dan membimbingnya sehingga dia lancar mengerjakan semua pekerjaannya.

Dan perasaan Yoongi berkembang kepada Jimin. Oh ya, lelaki itu sangat tampan bagaikan dewa Yunani di kisah-kisah para dewa. Dengan warna rambutnya yang unik, matanya yang dalam dan garis wajahnya yang keras. Penampilan fisik lelaki itu pastilah bisa menaklukkan wanita manapun, termasuk Yoongi. Tetapi bukan itu yang utama, sikap Jimin yang lembut dan perhatian kepadanyalah yang membuatnya terpesona.

Jimin selalu membantunya, menjadi teman bicaranya yang baik, lelaki itu mendengarkannya dan bersedia memberikan solusi yang baik. Yoongi merasa nyaman bersama Jimin, dan mulai merindukan lelaki itu ketika mereka tidak bersama.

Apakah dia mulai mencintai Park Jimin?

Pipi Yoongi memerah. Oh Astaga, dia tidak boleh menumbuhkan perasaan itu. Lagipula Jimin pasti tidak punya perasaan apapun kepadanya. Lelaki itu baik kepadanya karena dia adalah putri Hangeng. Bahkan lelaki itu pernah mengatakan bahwa Yoongi boleh menganggapnya sebagai pamannya, sebagai keluarganya. Yoongi sangat bodoh jika mengharapkan lebih. Apalagi usia mereka terpaut jauh, dua belas tahun. Yoongi yakin Jimin akan mencari wanita berpengalaman seperti Heechul daripada melirik perempuan ingusan seperti dirinya.

Dengan tegas Yoongi berusaha mematikan perasaan cinta yang mulai bertumbuh itu.

.

.

.

Jungkook merasa bosan. Sangat bosan. Dia menuruti permintaan Jimin, diam dan menunggu di sudut gelap dan mengamati. Seperti yang biasa dia lakukan. Dia bersedia menunggu bukan karena ingin menuruti permintaan Jimin, tetapi lebih karena dia melihat bahwa usaha Jimin dengan sikap halus dan lembutnya berhasil menahan Yoongi di sini.

Tetapi lama kelamaan dia merasa gemas dan tak sabar. Jimin terlalu lambat. Dia bersikap seperti keluarga, memperlakukan Yoongi dengan penuh kasih sayang. Dan tak segera bertindak.

Kalau dia bisa keluar, dia akan segera memiliki Yoongi, menguasai tubuh mungil itu dan menjadikannya miliknya. Jungkook tidak sabar menanti semua itu terjadi. Tetapi dia memang harus bersabar. Jimin sedang kuat dan lelaki itu bisa menahan kemunculannya. Jungkook hanya tinggal menunggu Jimin lengah, lalu dia akan muncul dan bertindak.

Dengan rasa haus yang amat sangat untuk menguasai Yoongi, lelaki itu menjilat bibirnya.

Tunngu Yoongi, kau akan sangat menikmati ketika aku memilikimu..

.

.

.

"Maafkan aku, aku baru sadar, apakah kau merasa bosan? Kau hampir tidak pernah keluar dari rumah ini. Aku menyesal." Jimin meletakkan serbet makannya dan menatap Yoongi penuh permintaan maaf,

"Wartawan-wartawan itu sudah tidak berkumpul di depan, tetapi mereka menyebarkan mata-mata untuk mengawasi diam-diam... Aku baru sadar kalau kita tidak pernah keluar dari rumah ini."

"Tidak apa-apa Jimin, aku cukup sibuk di rumah ini." Yoongi tersenyum, berusaha meredakan rasa bersalah yang ada di mata Jimin, "Aku bekerja, aku membaca koleksi bukumu yang luar biasa, aku menonton televisi dan aku mendengarkan musik."

Jimin terkekeh, "Sungguh Yoongi, aku harus mengajakmu keluar dari rumah ini kapankapan."

Lelaki itu mengangkat alisnya, "Omong-omong tentang musik, kita bisa berdansa."

Lelaki itu berdiri lalu mendekati pemutar musik di rak samping meja makan. Setelah music berputar, dia berdiri di dekat Yoongi, mengulurkan tangan sambil setengah membungkuk elegan,

"Lady, maukah anda memberi kehormatan kepada saya untuk mengajak anda berdansa?"

Yoongi terkekeh dan membalas uluran tangan Jimin, Jimin melangkah mundur, mengajak Yoongi ke area kosong di ruang makan yang besar itu. Diletakkannya sebelah tangan Yoongi di pundaknya dan yang satunya lagi di genggamannya, dibimbingnya Yoongi mengikuti langkah dansanya.

Yoongi terkekeh lagi sambil dengan susah payah mengikuti gerakan kaki Jimin, "Aku akan menginjak kakimu, aku tidak pernah berdansa sebelumnya."

Jimin ikut terkekeh dan mereka tertawa bersama-sama. Lalu tiba-tiba saja mata mereka bertatapan dengan dalam, dan sesuatu terjadi begitu saja. Suasana penuh canda berubah menjadi sensual.

Dan ketika Jimin menundukkan kepala untuk mencium bibir Yoongi. Yoongi memejamkan mata.

TBC

PS: BTS Memories 2015 ? just kill me then bighit