Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 6-Chapter 9

Bibir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir Yoongi yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Yoongi, dan memagut bibir bawah Yoongi.

Jimin menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Setelah yakin Yoongi menerimanya, lelaki itu menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Yoongi supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Yoongi erat-erat dan melumat bibirnya.

Ciuman Jimin sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu melumat bibir Yoongi dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Yoongi membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Yoongi dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.

Ketika Jimin melepaskan kepalanya, matanya yang dalam bertatapan dengan mata Yoongi, penuh gairah,

"Aku ingin memilikimu, Yoongi." Bisiknya dengan suara parau. Logat asing terdengar kental di suaranya, membuktikan kalau lelaki itu sedang terbawa gairahnya.

Dan bagaimana mungkin Yoongi menolak ajakan sensual itu? Mata Jimin begitu dalam, menghipnotisnya, dan Yoongi seolah tenggelam di sana, kehilangan daya dalam jebakan sensual yang luar biasa panas.

Jimin mengangkat tubuh Yoongi seolah Yoongi sangat ringan, lalu membawanya menaiki tangga menuju kamarnya.

.

.

.

Kesan pertama Yoongi atas kamar Jimin adalah kamar itu begitu gelap. Nuansanya hitam, cokelat, dan abu-abu. Sangat lelaki. Tubuhnya dibaringkan dengan lembut di atas seprai sutra berwarna hitam pekat. Dan lelaki itu lalu berbaring di sebelahnya, memeluknya.

"Aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau." Jimin mengangkat dagu Yoongi supaya menatap matanya yang dalam, "Kau bisa pergi kalau kau berubah pikiran. Tetapi kalau kau memutuskan iya. Maka kau tidak bisa mundur lagi."

Yoongi menatap Jimin dan berpikir. Jimin begitu baik kepadanya selama ini. Hanya Jimin yang ada dalam hidupnya sebulan terakhir ini, dan Yoongi hampir yakin kalau dia mencintai lelaki ini. Suasana malam ini begitu mistis, dan Yoongi ternggelam ke dalam godaan sensual. Dia siap. Meskipun mungkin dia akan menyesal keesokan harinya, tetapi malam ini dia siap.

Jimin sepertinya membaca penerimaan dari mata Yoongi, lelaki itu mengerang, lalu melumat bibir Yoongi lagi dengan bergairah, lumatannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Yoongi, menjilat dan memainkannya dengan lidahnya, mencecap rasanya.

"Ah ya Ampun, akhirnya aku memilikimu sayang." Jimin mengerang parau.

Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Yoongi, terus menurunkannya sampai ke pinggang, melepaskan bra Yoongi dengan cekatan sehingga buah dada Yoongi yang ranum terpampang di depannya,

"Ah... indahnya.. Yoongi yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan sayang..."

Jemari Jimin bergerak lembut dan menyentuh putting payudara Yoongi, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut. Yoongi mengerang, merasakan keintiman baru yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

"Jimin... jangan... jangan disitu." Yoongi mengerang merasakan rasa panas menyerangnya, di putingnya yang sekarang menegak kaku dan payudaranya yang mengeras, rasa panas itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.

Jimin mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Jangan di sini katamu?" senyumnya polos dan sensual. Lelaki itu menjilat puting Yoongi sambil lalu kemudian meniupnya lembut, "Apa Yoongi? Katakan lagi... kau bilang jangan di situ?"

"Oh.. ya Jimin.. yaa... di situ Jimin." Yoongi mengerang putus asa, putingnya mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Jimin yang panas dan lidahnya yang menggoda.

Dan Jimin mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Yoongi tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap puting Yoongi dengan penuh gairah, memuja payudara Yoongi bergantian, membuat tubuh Yoongi menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendamba.

Jemari Jimin bergerak dan menuju pusat gairah Yoongi, tempat di mana rasa panas itu terus muncul ketika putingnya dihisap dengan penuh gairah oleh Jimin. Jemari itu menelusup menyingkap gaunnya dan menyusup ke balik celana dalam berendanya, dan menyentuh kewanitaannya. Dengan ahlinya Jimin menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sensitif di tubuh Yoongi.

Jemari Jimin mengusapnya pelan dan tubuh Yoongi seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerang. Mata Jimin mengamati setiap reaksi Yoongi dengan penuh gairah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik sensitif Yoongi dan kemudian melakukan usapan memutar. Erangan Yoongi makin kencang, membuat mata Jimin berkabut penuh gairah.

"Yoongi yang tidak pernah disentuh sebelumnya…." Lelaki itu menunduk ke telinga Yoongi dan berbisik parau, "Biarkan aku memuaskanmu." Dicumbunya telinga Yoongi membuat gadis itu menggeliat penuh gairah.

Dan kemudian dengan cekatan Jimin menelanjangi Yoongi, membuat Yoongi terbaring tanpa busana di atas ranjang berseprai sutra hitamnya. Tampak siap dan menggairahkan bagaikan Dewi Amor yang dikirim dari khayangan untuk memuaskannya.

Jimin tak tahan lagi, kepalanya pening oleh gairah. Tapi dia tahu bahwa dia harus berhatihari. Yoongi masih perawan dan Jimin harus menjaga supaya Yoongi terus larut dalam godaan gairahnya. Jimin akan terus menggoda Yoongi sampai tiba saatnya tubuh perempuan itu tidak akan mampu menolaknya dan otaknya tidak mau bekerjasama lagi.

Dengan penuh gairah dan keahlian, Jimin mencumbu Yoongi, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak panas dan basah di seluruh tubuh Yoongi, di lehernya, pundaknya, payudaranya, perutnya, pinggulnya, dan... Yoongi menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh kewanitaannya.

Lelaki itu mencumbu kewanitaannya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Yoongi. Lidah Jimin mengusap titik paling sensitif di kewanitaan Yoongi dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Yoongi memekik atas sensasi yang dirasakannya.

Ketika Jimin memutuskan bahwa Yoongi sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan pakaiannya hingga telanjang di depan Yoongi. Yoongi menatap Jimin dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Jimin tampak sangat... jantan... oh Astaga... Yoongi tidak pernah melihat kejantanan lelaki sebelumnya dan dia.. perasaan di dalam dirinya tidak bisa dijelaskan... tiba-tiba Yoongi merasa takut.

Jimin rupanya melihat rasa takut di mata Yoongi. Lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Yoongi dengan lembut, kemudian bergantian mengecup mata, dahi, dan pucuk hidung Yoongi dengan tak kalah lembutnya,

"Jangan takut sayang... aku... aku tahu ini pengalaman pertamamu dan aku mungkin akan menyakitimu.. tapi kau harus percaya kalau aku akan menjagamu."

Yoongi percaya. Kelembutan di mata Jimin membuatnya percaya, karena itu, ketika lelaki itu menempatkan diri di antara kedua pahanya, Yoongi membuka dirinya untuk Jimin, lelaki itu setengah menindihnya. Yoongi bisa merasakan kejantanannya yang besar dan keras menggesek kewanitaannya, membuatnya menggeliat oleh sensasi asing yang aneh.

Jimin menatap Yoongi lembut, tapi ada api di sana, api yang penuh gairah, nafasnya sedikit terengah, sementara pinggulnya bergerak lembut, memperkenalkan bagian dirinya yang keras dan bergairah kepada Yoongi.

"Rasanya akan sakit.." Jimin berbisik parau, "Kau boleh mencakarku atau mengigitku untuk melampiaskan sakitmu, tetapi kau harus tahu, betapapun sakitnya itu, aku tidak akan berhenti... bukan karena aku ingin menyakitimu, tetapi karena aku harus melakukannya... kau mengerti Yoongi?"

Yoongi menganggukkan kepalanya, menatap Jimin percaya. Lelaki itu lalu mendesakkan pinggulnya pelan-pelan, berusaha membuka pintu untuk memasuki kewanitaan Yoongi.

Tetapi Yoongi terasa sangat sempit sehingga Jimin harus mendesakkan dirinya berkali-kali dengan kewalahan. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Jimin menekankan dirinya dengan kuat, membuat Yoongi merasakan rasa nyeri yang amat sangat di kewanitaannya.

Yoongi menjerit, mencakar lengan Jimin meminta lelaki itu berhenti. Tetapi Jimin tidak bisa berhenti. Dia menemukan penghalang itu, dan dia harus menembusnya. Akhirnya dengan satu tekanan kuat, penghalang itu terkoyak, diiringi erangan kesakitan Yoongi.

Mereka berbaring bersama dalam diam. Jimin sudah membenamkan dirinya dalam-dalam di diri Yoongi, menyatu sepenuhnya, tetapi lelaki itu tidak bergerak, memberi kesempatan Yoongi untuk menyesuaikan diri dengan tubuhnya. Dikecupnya air mata yang keluar dari sudut mata Yoongi,

"Maafkan aku... aku tidak bermaksud menyakitimu." Jimin berbisik pelan sambil mengecup bibir Yoongi lembut.

Yoongi membuka matanya dan menatap Jimin, menemukan kelembutan dan penyesalan di sana. Air matanya turun dan Jimin mengecupnya lagi.

"Aku akan bergerak lagi." Suara Jimin serak, "Mungkin pada awalnya akan tidak nyaman.." lelaki itu menggerakkan pinggulnya, membuat Yoongi mengernyit.

"Sakit sayang?" Jimin memandang Yoongi cemas.

Tetapi Yoongi sudah tidak begitu merasakan sakit lagi, tubuhnya menerima tubuh Jimin di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan panas, dia menggelengkan kepalanya. Jimin tersenyum menerima jawaban Yoongi, dia menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan gairah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal,

"Oh ya ampun, kau rapat sekali Yoongi... kau membungkusku dengan begitu rapat..."

Jimin berbisik parau penuh gairah, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Pinggul Yoongi bergerak mengikuti Jimin membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sensasi gerakan tubuh Jimin pada penyatuan tubuh mereka luar biasa nikmatnya

Yoongi akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan samar dia mendengar Jimin mengerang, lelaki itu meledak di dalam tubuhnya dan memeluknya erat-erat. Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi euforia dan orgasme yang luar biasa dasyat. Jimin memeluk Yoongi erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Yoongi yang telanjang, merapatkan tubuh perempuan itu ke dalam lindungan dada bidangnya.

Yoongi menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan dada Jimin, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Orgasme membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Jimin penuh cinta, "Aku mencintaimu Park Jimin."

Tatapan Jimin kepadanya tampak lembut dan penuh haru, "Aku juga Min Yoongi, aku mencintaimu."

Dan mereka tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta,

.

.

.

Yoongi terbangun ketika merasakan pundaknya dikecupi dengan penuh gairah. Payudaranya diremas dengan lembut tetapi menggoda. Suasana kamar itu gelap karena lampu-lampu sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang menembus jendela kaca yang belum ditutup memancarkan cahaya temaram memasuki kamar.

Pria yang mencumbunya ini sangat bergairah. Jemarinya menggoda Yoongi, dari dada turun ke kewanitaannya dan memakinkannya di sana dengan sangat ahli, dengan sangat bergelora. Bibirnya yang panas mencumbui sisi telinga dan leher Yoongi. Membuat Yoongi makin terjaga, dan kemudian tersadar bahwa dia sedang bersama Jimin yang dicintainya.

"Jimin?" Yoongi mengelus punggung Jimin yang sudah mulai menindihnya. Lelaki itu menempatkan dirinya di antara paha Yoongi dan menyentuhkan kejantanannya yang sudah sangat keras ke sela paha Yoongi.

Jimin tampak terlindungi bayangan gelap dalam temaramnya kamar. Dalam pengelihatannya yang masih mengantuk, Yoongi melihat Jimin tersenyum samar. Tatapan lelaki itu tampak tajam, membuat Yoongi ketakutan sekejap, tetapi ditepiskannya ketakutannya itu. Mungkin kegelapan yang meliputi Jimin membuat lelaki itu tampak menakutkan, tetapi Yoongi yakin Jimin tidak akan menyakitinya. Jimin mencintainya juga, dan lelaki itu akan menjaganya. Di pejamkannya matanya, dan dibukanya pahanya untuk Jimin.

Jungkook tersenyum dengan penuh gairah sambil menatap Yoongi yang memejamkan matanya. Bayangan gelap melingkupi tubuhnya.

"Kau akan menikmatinya sayang... dan kita baru saja mulai." Bisiknya parau, lalu menenggelamkan dirinya dalam-dalam di tubuh Yoongi. Perempuan yang sangat diinginkannya.

TBC

PS:

Dasar yeee si Jungkook paling bisa dah mengambil alih dengan aura gelapnya

Uyeeee YoonMin Makin Love hihi

Aku uploadnya abis buka kok ,jangan salahin aku yaa :"

:

udah liat vivio chim yg hampir jatuh tadi di bandara :'