Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 8-Chapter 12
"Anda harus bersikap biasa saja supaya lolos malam ini. Tuan Jungkook bisa saja sudah menguasai tubuh Tuan Jimin, dan dia berpura-pura. Dia sangat ahli kalau berpura-pura... sama seperti yang dulu dilakukanya kepada keluarga angkatnya. Anda harus sangat waspada, dan bersandiwara. Jangan sampai Tuan Jungkook tahu bahwa anda sudah tahu semuanya. Rencana kita bisa gagal."
Jantung Yoongi berdebar liar. Melarikan diri? Rasanya begitu menakutkan melarikan diri dari sosok mengerikan seperti Jungkook. Yoongi ketakutan. "Aku akan berusaha Namjoon." Yoongi berusaha tampak tenang, "Terima kasih karena sudah melakukan ini semua untukku, aku tahu kau bertaruh nyawa di sini."
Namjoon tersenyum lembut, sebuah ekspresi yang akhirnya ditunjukkannya setelah sekian lama memasang wajah datar. "Anda tahu, saya menyesal karena anda harus kehilangan seluruh keluarga anda. Dan saya sangat setia kepada Tuan Jimin... beliau.. beliau sungguh-sungguh mencintai anda. Beliau yang merencanakan ini semua untuk menyelamatkan anda, kalau beliau sudah tidak mampu menahan Tuan Jungkook lagi."
Perkataan Namjoon terasa menusuk hatinya, membuatnya terasa nyeri. Jimin mencintainya, dan Yoongi juga mencintai Jimin. Semula hanya sesederhana itu, tetapi ternyata tidak. Jimin... dia satu dengan Jungkook... dan merekalah yang bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarganya. Bagaimana mungkin Yoongi bisa tetap mencintai Jimin setelah ini?
Tetapi Yoongi memang mencintai Jimin, jauh di dalam hatinya dia menyadari bahwa Jimin telah mencuri seluruh hatinya, dengan segala kelembutannya, sikap tegasnya, kasih sayangnya. Yoongi mencintai Jimin, meskipun waktu itu dia tidak tahu bahwa Jimin mempunyai alter ego bernama Jungkook yang begitu kejam...
.
.
.
Begitu Yoongi pergi, Namjoon langsung menelepon Hoseok, dia sudah menyimpan nomor itu dari hasil penyelidikannya.
"Halo?"
"Ini Namjoon."
"Well, Namjoon, uang yang ada di amplop ini banyak sekali..."
"Anda akan membutuhkannya nanti. Malam ini saya membutuhkan anda untuk bersembunyi di sudut dekat pagar rumah Tuan Jimin. Saya akan menyelundupkan Nona Yoongi keluar malam ini."
"Malam ini?" Hoseok merenung, tidak menyangka mereka akan menjalankan rencana ini secepat itu. Dia belum menyiapkan segalanya. Tetapi mungkin dia bisa menaruh Yoongi di apartemennya dulu. Atau di hotel dan menyamarkannya.
"Keadaan menjadi gawat." Namjoon berbicara pelan dan waspada dengan keadaan sekelilingnya, "Saya harap anda siap di posisi. Tepat jam dua belas malam."
"Oke. Aku akan siap."
.
.
.
"Yoongi kau ada di mana?" Jimin mencari-cari Yoongi. Untunglah Yoongi sudah naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Dengan gugup dia menghela napas panjang, lalu membuka pintu kamarnya.
Jimin tampak sangat tampan berdiri di sana. Dengan sweater abu-abu dan celana gelap warna hitam. Lelaki itu sepertinya habis mandi karena rambutnya basah.
Jimin tersenyum lembut ketika menyadari bahwa Yoongi sedang mengamati rambutnya yang basah, "Aku berenang tadi." Gumamnya pelan, "Sebenarnya ingin mengajakmu, tetapi kau sepertinya ada di kamar sedang beristirahat. Aku tak mau mengganggumu."
Ini Jimin atau Jungkook yang sedang berpura-pura? Yoongi mengernyit. Bagaimanapun, sebelum dia bisa menentukan kepribadian siapa yang sedang menguasai tubuh Ini. Yoongi harus berhati-hati.
"Kenapa kau mengernyitkan keningmu?" Jimin menyentuh lembut dahi Yoongi dan mengelusnya, "Kau sakit?"
Kesempatan. Yoongi langsung menyambarnya, "Iya.. aku sedikit pusing, aku mendapatkan haidku siang ini. Kalau hari pertama rasanya sedikit tidak nyaman..."
Yoongi berdoa dalam hati semoga kebohongannya tidak terbaca, dia tidak pandai berbohong, dan dia tidak sedang mendapatkan haid. Tetapi dengan berpura-pura sedang haid, setidaknya dia bisa mengamankan dirinya kalau-kalau Jimin mengajaknya bercinta malam ini. Selain itu, malam ini dia harus berada di kamarnya sendiri. Karena Namjoon akan merencanakan pelarian untuknya malam ini.
"Kau sedang berhalangan?" Jimin tampak terkejut, dia lalu menatap Yoongi penuh arti, "Jadi malam ini sepertinya kita tidak bisa bermesraan."
Yoongi menganggukkan kepalanya, menatap Jimin menyesal, "Maafkan aku, Jimin."
"Hey, jangan minta maaf. Tidak apa-apa. Seks bukan hal utama untukku." Jimin meraih Yoongi ke dalam pelukannya, "Aku senang bersamamu, malam ini kita bisa berpelukan, hanya berpelukan saja di kamarku."
Tidak, mereka tidak boleh berpelukan di kamar Jimin.
"Aku.. mungkin aku lebih baik malam ini tidur di kamarku sendiri, Jimin... kau tahu... perempuan biasanya tidak nyaman ketika mengalami haid hari pertamanya.."
Jimin mengernyitkan dahinya, menatap Yoongi dalam-dalam, lalu tatapannya berubah lembut dan penuh pengertian. Lelaki itu masih memeluk Yoongi erat dan mengecup pucuk hidupnya dengan sayang.
"Tentu saja sayang, aku mengerti. Aku akan menunggu dengan sedikit frustasi." Jimin terkekeh menertawakan dirinya sendiri.
Yoongi menenggelamkan wajahnya di pelukan Jimin. Oh Astaga. Lelaki ini terasa sama... terasa sangat Jimin, aromanya, tatapan lembutnya, kasih sayangnya. Mungkinkah dia bukan Jimin?
Sejenak Yoongi terlena. Tetapi kemudian dia teringat peringatan Namjoon. Mereka tidak tahu siapa yang sekarang berdiri di depan Yoongi. Kalau memang ini benar-benar Jimin,dia akan dengan rela melepaskan Yoongi untuk pergi. Dan kalau ini Jungkook... lelaki itu akan mengamuk kalau tahu Yoongi sudah pergi, setidaknya Yoongi sudah menyelamatkan dirinya.
"Kita akan makan malam di luar." Jimin tersenyum, menyampaikan kabar itu dengan gembira. Yoongi mengangkat kepalanya, tiba-tiba merasa senang. Sudah lama sekali dia tidak keluar dari rumah Jimin, meskipun segala kebutuhannya tercukupi dan hiburan yang disediakan untuknya lebih dari cukup, pergi keluar terasa begitu menyenangkan.
"Benarkah? Ke mana?"
"Ke restoran favoritku, di sana sangat private sehingga kita tidak perlu mencemaskan wartawan. Para pengawalku akan menjaga kita dengan sangat ketat."
Itu berarti Yoongi juga dijaga supaya tidak punya kesempatan melarikan diri. Sebenarnya kesempatannya keluar malam ini sudah tidak penting lagi, karena dia tahu malam ini dia akan menghirup kebebasannya. Tetapi dia harus tampak bahagia, kalau tidak Jimin akan curiga. Jadi dipeluknya Jimin, berakting seolah bahagia.
.
.
.
Mereka makan malam di sebuah restaurant yang benar-benar private. Di lantai delapan sebuah hotel bintang lima. Mereka keluar dengan mobil Jimin yang berkaca gelap. Yoongi melihat di belakang mereka ada setidaknya tiga mobil pengawal Jimin yang mengikuti.
"Kau senang?" Jimin tersenyum kepada Yoongi ketika hidangan pembuka sudah datang.
Yoongi mencicipinya dan memutuskan dia menyukainya.
"Ya Jimin, terima kasih."
Jimin menatapnya dengan lembut dan intens, "Aku senang kalau kau bahagia Yoongi, kau tahu kebahagiaanmu adalah tujuan hidupku."
Apakah ini Jimin? Yoongi menatap ragu. Jungkook tidak akan mengatakan hal seperti ini kepadanya bukan? Tetapi bukankah Jungkook diam-diam mengamati jauh di kedalaman jiwa Jimin? Dia pasti tahu apa yang harus Jimin katakan untuk membuat Yoongi terpedaya, menyamar sebagai Jimin sangat mudah bagi Jungkook.
"Kenapa kau sedikit kaku malam ini kepadaku sayang? Apa yang mengganggu pikiranmu?"
Suara Jimin menyentakkan Yoongi yang sedang sibuk mengaduk-aduk makanannya. Oh, apakah terlihat jelas dia berbeda? Gawat. Tidak boleh begitu. Kalau yang di depannya ini Jungkook, lelaki itu akan menyadari bahwa dia sudah tahu segalanya. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Jungkook kepadanya setelahnya? Paling aman adalah membuat Jimin ataupun Jungkook, siapapun yang di sana yakin bahwa Yoongi tidak tahu apa-apa.
Dengan tatapan meminta maaf, Yoongi menatap ke arah Jungkook, "Maafkan aku... hari pertama haid biasanya membuatku sedikit tidak enak badan."
"Oh iya. Aku lupa." Jimin menatap Yoongi menyesal, "Maafkan aku, waktunya tidak tepat ya."
Yoongi menatap lembut ke arah Jimin. "Tidak apa-apa Jimin aku yang meminta maaf."
Yoongi merasakan jantungnya berdegup liar. Dia akan meninggalkan Jimin malam ini. Melarikan diri dari Jungkook. Dia tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Pasrah kepada rencana Namjoon.
.
.
.
Malam itu Yoongi sudah berpakaian lengkap dia menyiapkan sedikit bawaannya. Gaun dan pakaian paling sederhana yang dia bawa, dan sepasang sepatu datar yang paling tidak mencolok. Sisanya, gaun-gaun indah dan segala perlengkapannya yang dibelikan oleh Jimin untuknya, dia tinggalkan tergantung di atas lemari.
Malam ini adalah malam pelariannya.
Yoongi merasa sangat gugup. Gugup dan takut. Takut rencana Namjoon gagal. Takut dia harus bertahan di rumah ini, bersama Jungkook yang telah mengalahkan Jimin.
Ah... Jimin. Tiba-tiba matanya terasa panas dan ingin menangis. Kenangannya bersama Jimin adalah kenangan yang indah. Yoongi sungguh-sungguh mencintai Jimin, kebersamaan mereka memang singkat, tetapi sepenuh hatinya. Dia tidak akan merasakan itu kepada lelaki lain. Tidak akan pernah bisa sedalam yang Yoongi rasakan kepada Jimin.
Ketukan di pintunya begitu pelan, tetapi dalam keheningan itu membuat Yoongi melonjak kaget. Dia termangu sejenak. Itu Namjoon? Atau Jimin?
Dengan hati-hati dia membuka kunci pintu, berdoa supaya Namjoon yang ada di depan pintunya. Dan syukurlah doanya dikabulkan. Namjoon yang ada di sana, membawa bungkusan warna hitam.
"Pakailah baju ini. Cepat." Suaranya berbisik pelan, penuh kehati-hatian.
Yoongi masuk kembali ke kamar dan buru-buru mengenakan pakaian itu. Itu pakaian pelayan pria. Yoongi mengikat rambutnya dengan karet yang disediakan, lalu memasukkan rambutnya ke dalam jaket pelayannya. Sekilas dia melirik ke kaca. Penampilannya mirip seperti anak lelaki yang masih remaja.
Dia segera keluar dan menemui Namjoon yang masih menunggu di depan pintu dengan gelisah, dibawanya kantong tas kecilnya yang berisi pakaiannya seadanya. Namjoon lalu mengajaknya melangkah pelan menuju tangga. Mereka harus melewati kamar Jimin untuk menuju tangga. Jantung Yoongi berdebar kencang seperti mau pecah ketika melangkah melewati pintu kamar Jimin. Dia sempat melirik ke arah bawah pintu Jimin dan menyadari kalau kamar itu gelap dan hening. Sepertinya Jimin sedang tertidur. Syukurlah.
Mereka melangkah menuruni tangga dengan hati-hati. Namjoon mengajak Yoongi keluar, banyak pengawal Jimin yang berkeliling di sekitar taman. Namjoon mengajak Yoongi berjalan pelan mengitari rumah menuju gudang di halaman belakang. Namjoon mengambil sebuah drum sampah besar dan dengan susah payah mengangkatnya ke sebuah gerobak kecil yang disandarkan di pinggiran gudang. Dia menyuruh Yoongi mengikutinya ke arah sebuah pintu kecil di samping.
Mereka berpapasan dengan salah satu penjaga keamanan yang berpatroli, Yoongi bersikap gugup tetapi Namjoon tersenyum dan menyapa penjaga keamanan itu dengan santai,
"Hai Jackson, malam yang dingin ya."
Lelaki yang dipanggil Jackson itu tersenyum, Yoongi begidik ngeri melihat apa yang terselip di pinggang lelaki itu. Itu sudah pasti sebuah pistol, sebuah pistol yang sangat mengerikan.
"Hai Namjoon. Malam membuang sampah? Sepertinya kau kemalaman ya? Dan kenapa tidak menyuruh salah satu anak pelayan melakukannya?"
Namjoon terkekeh, "Aku tertidur dan lupa kalau sampah harus dikeluarkan setiap hari Jumat. Dan anak pelayan ini baru jadi aku harus membimbingnya."
Jackson tertawa. "Menyebalkan memang. Tapi setelah ini kau bisa tidur, sementara aku harus berjaga semalaman."
"Tapi kau kan sudah tidur seharian tadi sementara aku berkeliaran mengurusi rumah."
Namjoon menyahut dengan sebal. Kedua lelaki itu tertawa bersama, sementara Yoongi berdiri dengan gugup di tepi gerobak. Kemudian Jackson menepuk pundak Namjoon dan berpamitan pergi.
Namjoon sangat gugup, dibalik sikapnya yang tenang, Yoongi melihatnya berkeringat, padahal malam ini sangat dingin. Lelaki itu mengajak Yoongi berhati-hati berjalan-jalan menuju ke arah pintu samping. Mereka berdiri di sana dan Namjoon membuka grendel pintu samping itu. Dan dalam sekejap pintu itu terbuka.
"Lari..." Namjoon berbisik, "Ada mobil yang menunggu anda di ujung sana. Dia orang baik. Dia akan menjaga anda. Ini uang untuk pegangan anda, ini dari tabungan investasi Tuan Jimin atas sebuah peternakan yang diberikan kepada saya. Saya sudah menyiapkan uang itu untuk anda, saya harap uang itu cukup."
Namjoon meletakkan amplop tebal berisi uang ke tangan Yoongi.
"Anda sendiri... bagaimana dengan anda?" Yoongi kaget, tidak menyangka bahwa Namjoon tidak akan ikut lari bersamanya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya dan menatap Yoongi dengan menyesal,
"Saya tidak bisa ikut bersama anda. Saya akan memperlambat anda. Dan Tuan Jungkook akan bisa melacak saya." Dia menatap Yoongi dengan sedih, "Lari. Dan berhati-hatilah."
Yoongi menatap Namjoon dengan mata berkaca-kaca, 'Terima kasih." Dia berbisik pelan, lalu membalikkan badan. Berlari dan tidak menoleh ke belakang lagi.
.
.
.
Namjoon melangkah hati-hati, memasuki pintu rumah Park Jimin yang mewah itu. Lobby sangat gelap ketika malam. Berusaha tanpa menimbulkan suara sedikitpun, Namjoon menutup pintu itu.
"Senang Namjoon karena berhasil membodohi tuanmu?"
Suara itu datang dari kegelapan, dan membuat Namjoon terperanjat. Benar-benar terperanjat. Dia melihat ke atas dan seketika itu gemetar.
Tuan Jimin... oh Tidak! Itu Tuan Jungkook berdiri di ujung atas tangga, dengan jubah tidur hitam. Lelaki itu tampak seperti hantu yang muncul dari kegelapan malam, dengan pakaian hitam-hitam dan aura gelap menakutkan yang menyelubunginya. Seakan-akan ingin mempermainkan ketakutan Namjoon, dia melangkah pelan-pelan menuruni tangga.
"Kau pikir aku tidak tahu?" Jungkook tersenyum kepada Namjoon, senyum membunuh yang kejam.
"Aku berpura-pura sebagai Jimin malam ini. Dan Yoongi bertingkah ketakutan. Dia bilang dia sedang haid untuk menolakku. Tetapi tentu saja aku tahu dia bohong. Ketika kalian mengendap-endap melewati kamarku, aku hampir tidak bisa menahan diri untuk tertawa. Dan aku mengawasimu sampai kau melepaskan Yoongi lewat pintu samping..."
"Ke... kenapa anda tidak mencegah kami kalau anda sudah tahu?" Suara Namjoon tertelan ludahnya, dia sangat ketakutan. Ini sangat tidak dia sangka, dia pikir semuanya sudah teratur dan sangat rapi. Sama sekali tidak disangkanya kalau Tuan Jungkook sudah mengetahui semua rencananya.
"Karena aku ingin melihat sejauh mana kau mengkhianatiku." Jungkook masih mempertahankan suara tenangnya yang penuh senyum, "Dan ternyata kau tidak berpikir panjang untuk mengkhianatiku."
Lelaki itu sudah berdiri di ujung tangga dan sekarang melangkah mendekati Namjoon, pelan-pelan sampai kemudian berdiri di dekatnya, menjulang tinggi dan begitu mengintimidasi.
"Apa yang diberikan Tuanmu Jimin itu sehingga kau begitu setia kepadanya?"
"An... anda bisa membunuh saya sekarang." Namjoon bergumam, pasrah mungkin memang sudah saatnya dia mati.
Tetapi Jungkook malahan tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Namjoon,
"Membunuhmu? Setelah pengkhianatan yang kau lakukan? Tidak Namjoon, aku tidak sebaik itu kepadamu. Kalau kau mati, kau tidak akan menderita." Jungkook mengarahkan tangannya ke leher Namjoon dan mencengkeramnya, Namjoon memejamkan matanya ketakutan, lelaki ini akan mencekiknya dan meremukkan lehernya, "Walaupun aku sangat ingin mencekikmu, tetapi tidak akan kulakukan. Itu terlalu mudah untukmu."
Jungkook melepaskan tangannya dari leher Namjoon. Lalu melangkah mundur memberi Namjoon ruang untuk bernapas, sebelum menjatuhkan bom mengerikan itu kepada Namjoon,
"Apakah kau ingat ancamanku Namjoon? Bahwa aku tidak akan melepaskan anak, menantu, dan cucumu, kalau kau mengkhianatiku?"
Wajah Namjoon pucat pasi, dia langsung panik. Jungkook bisa menemukan anak dan cucunya? Bagaimana mungkin? Sudah jauh-jauh hari dia menyuruh mereka pergi secara hati-hati dan rahasia.. seharusnya mereka tidak akan pernah terlacak!
"Aku tahu kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa menemukan keluargamu, yang telah kau coba sembunyikan dengan begitu ahli." Jungkook terkekeh,
"Seperti yang kulakukan kepada kakek dan nenek Yoongi, aku menempatkan pegawaiku untuk menyamar sebagai babby sitter keluarga. Dan dia melapor kepadaku, ketika keluargamu berusaha pindah dengan terburu-buru. Kau tak menyangka itu bukan?"
Namjoon sungguh tak menyangka. Bukankah seharusnya Tuan Jimin memperingatkannya kalau itu terjadi?
"Kau tak mengerti ya?" Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Namjoon seolah-olah lelaki itu orang bodoh,
"Aku lebih kuat dari Jimin. Kalau Jimin sadar, aku bisa berdiri di sudut dan mengamati semuanya. Tetapi kalau aku sadar. Jimin tertidur. Jadi aku bisa melakukan apapun sesukaku dan Jimin tidak akan ingat apapun, tetapi ketika Jimin melakukan sesuatu, aku akan tahu." Tatapan Jungkook berubah kejam dan marah, senyumnya menghilang,
"Dan ketika aku tahu keluargamu akan pergi. Aku mengutus Taehyung mencegat
mereka dan menahan mereka di sebuah gudang tua di pinggir kota..." Matanya bersinar, tampak puas, "Dan sekarang gudang itu sedang terbakar habis dilalap api karena kau sudah berani mengkhianatiku..."
"Tidak! Tidaaakkk!" Namjoon menjerit, tidak percaya akan semuanya, tidak percaya akan kekejaman Jungkook.
Jungkook tertawa pelan, tawa yang kejam. "Aku menyuruh Taehyung membakar gudang itu sementara mereka terikat hidup-hidup di dalam sana..."
"Tidaaak... tidaaak kau iblis! Kau iblis yang kejam! Aku akan membunuhmu!" dengan histeris Namjoon mencoba menyerang Jungkook, tetapi tentu saja lelaki itu bukan tandingannya.
Jungkook muda dan prima dan dipenuhi insting membunuh, dengan mudah Jungkook menelikung Namjoon dan mengunci kedua tangannya ke belakang.
"Tuan Jiminmu yang kau puja itu sudah tidak dapat menolongmu." Jungkook mendesis lirih,
"Katakan kepadaku kau menyuruh Yoongi kabur kemana...dan siapa yang membantumu di luar sana."
Namjoon menangis, bercucuran air mata. Karena kesalahannya, anak, menantu, dan cucunya menjadi korban. Sekarang hidupnya tidak ada artinya lagi, dia tak akan memberikan kepuasan kepada iblis jahat ini untuk menelan korban lagi.
"Lebih baik bunuh saya sekarang."
Jungkook tersenyum, "Terserah. Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan menemukan Yoongi."
Dia menekan tangan Namjoon yang ditelikungnya di belakang punggung laki-laki itu. Dan kemudian menekannya hingga suara patah terdengar keras, Jeritan keras Namjoon membahana ke seluruh ruangan membuat beberapa pelayan tergopoh-gopoh berlarian keluar dari ruangan mereka.
Semuanya tertegun melihat tuan mereka melepaskan tubuh Namjoon yang langsung terjatuh ke lantai. Mereka memandang ngeri tangan Namjoon yang lunglai dalam posisi aneh. Tuan mereka telah mematahkan kedua tangan Namjoon!
Jungkook menatap Namjoon tanpa belas kasihan, lalu dia memerintahkan kepada salah seorang pelayannya. "Bawa dia ke rumah sakit." Diliriknya para pengawalnya yang berdatangan,
"Dan jaga dia dalam pengawalan ketat, dia tidak boleh berbicara dengan siapapun selama di rumah sakit."
Lalu Jungkook membalikkan badan dan menaiki tangga, terdengar suaranya memasuki kamarnya dan pintu kamarnya dibanting dengan keras. Sementara beberapa pelayan langsung berusaha mengangkat Namjoon dan memapahnya untuk dibawa ke rumah sakit.
.
.
.
Mobil itu menunggu di sudut yang gelap. Dan setengah berlari Yoongi menghampirinya dengan ragu. Hoseok yang sudah menunggu di balik kemudi melongokkan kepalanya,
"Yoongi?" Yoongi langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Hoseok,
"Masuklah." Lelaki itu membukakan kunci pintu penumpang untuk Yoongi. Mobil langsung melaju kencang menembus kegelapan malam.
"Pria tua itu... Namjoon... dia tidak ikut?"
Hoseok menjalankan kemudi sambil melirik ke arah Yoongi yang masih gemetaran. Yoongi menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat amplop cokelat yang diberikan oleh Namjoon. Benaknya kalut memikirkan apa yang akan terjadi pada lelaki tua yang baik hati itu. Apakah Jungkook akan membunuhnya? Yoongi berharap yang tadi itu benar-benar Jimin.
Jimin akan menghargai usaha Namjoon melepaskan Yoongi, dan itu berarti Namjoon akan selamat. Tetapi kalau yang tadi itu Jungkook, maka... Yoongi memejamkan matanya, tidak berani membayangkan. Semoga Tuhan melindungi Namjoon di sana.
Mobil berhenti di sebuah kawasan apartemen di pinggiran kota. Hoseok memasukkan mobilnya ke parkiran di basemen apartemen dan mengajak Yoongi keluar,
"Ayo, malam ini kita menginap di apartemenku dulu. Besok akan kuantar kau kepada temanku yang akan membantu pelarianmu ke luar negeri."
Ke luar negeri? Yoongi membelalakkan matanya. Terkejut dengan kata-kata Hoseok.
Sementara itu Hoseok terkekeh melihat reaksi Yoongi.
"Lelaki tua itu tidak mengatakan kepadamu ya." Hoseok melangkah ke area lift di basemen dan mengajak Yoongi. Pintu lift terbuka beberapa saat dan mereka masuk, liftpun bergerak ke atas,
"Namjoon menyuruhku membantumu melarikan diri ke luar negeri. Dia bilang Park Jimin sedang mengejarmu karena dia gila dan terobsesi menjadikanmu pengganti Heechul." Hoseok menatap Yoongi, mencoba mencari informasi tetapi ekspresi Yoongi tetap datar meski wajahnya pucat pasi.
Jadi informasi itu yang diberikan Namjoon kepada penolongnya ini. Namjoon pasti punya alasan sendiri merahasiakan informasi kepada lelaki di depannya, dan Yoongi memutuskan akan mengikuti arus.
Hoseok mengawasi Yoongi, dia seorang wartawan dan dia tergelitik untuk bertanya, "Aku penasaran kenapa kepala pelayan Park Jimin sangat serius untuk membantumu melepaskan diri."
Yoongi tergeragap, tapi langsung menjawab sekenanya, "Dia sahabat kakekku."
Hoseok rupanya bisa menerima jawaban Yoongi. Pada saat itu pintu lift terbuka di lantai dua puluh tujuh. Hoseok mengajak Yoongi keluar dari lift dan menuju kamar apartemennya di tempat yang paling ujung.
"Sebelumnya aku minta maaf kalau kamarku berantakan. Maklum, kamar bujangan yang tidak tersentuh wanita." Lelaki itu memutar bola matanya dan membuka kunci pintunya,
"Oke silahkan masuk."
Yoongi memasuki ruangan apartemen yang cukup luas itu. Sebenarnya kondisinya tidak seburuk yang dikatakan Hoseok. Apartemen itu cukup rapi untuk ukuran penghuni lelaki.
"Ada dua kamar di sini. Kau bisa memakai kamar kecil di sebelah sana itu. Kamar itu kosong. Dan semoga nyaman, besok kita akan berkendara lama, jadi beristirahatlah." Hoseok mempersilahkan.
Sebenarnya dia sudah gatal ingin mewawancarai Yoongi. Wawancara langsung dengan Yoongi pasti akan menjadi berita eksklusif baginya. Karena tidak ada yang
bisa melakukannya selain dirinya. Hoseok membayangkan betapa para wartawan lain akan iri dengannya.
Yoongi mengucapkan terima kasih dengan gugup. Lalu memasuki kamar kecil itu. Sementara Hoseok termenung sambil menatap pintu kamar Yoongi yang tertutup. Namjoon telah menjanjikan berita eksklusif untuknya, berita tentang ayah kandung Yoongi.
Tetapi Hoseok memiliki berita itu sendiri di rumahnya. Seorang wartawan akan sangat bodoh kalau melewatkan kesempatan ini.
Dia berjalan mondar mandir di kamarnya. Park Jimin tampaknya punya segalanya.
Dan kalau pelayannya saja bisa memberikan uang yang begitu banyak untuk kerjasamanya. Bayangkan apa yang bisa diberikan oleh Jimin Leonidas sendiri kepadanya. Hoseok terdiam, menimbang-nimbang. Kalau dia menyerahkan Yoongi kepada Park Jimin, lelaki itu pasti akan memberikan imbalan yang banyak. Dan Hoseok akan bisa memuat berita tentang itu... tentang skandal Park Jimin yang menahan Yoongi dan berusaha menjadikannya pengganti Heechul, dia bisa menggunakannya untuk mengancam Park Jimin dan kemudian dia pasti akan menerima uang tutup mulut yang banyak.
Hoseok tergoda, sungguh-sungguh tergoda. Tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh pertanyaan tentang siapa ayah kandung Yoongi. Dia menghela napas panjang, Kalau Namjoon yang notabene pelayan Park Jimin bisa mengetahui informasi itu, itu berarti Park Jimin mungkin juga tahu. Hoseok tersenyum. Dia harus bisa membujuk Park Jimin untuk bekerjasama dengannya.
Hoseok tahu nama perusahaan Park Jimin... dia berusaha menelepon kantor itu. Tetapi tidak ada yang mengangkat. Dia tersambung dengan mesin perekam pesan kantor.
Lelaki itu menarik napas, sambil melirik ke arah kamar Yoongi. Well, maafkan aku Yoongi. Aku bagaikan ikan hiu yang diberi umpan. Tentu saja aku akan memilih umpan yang lebih besar.
Dengan tenang, Hoseok meninggalkan pesan di mesin perekam pesan kantor Jimin itu,
"Hai. Park Jimin. Saya wartawan tabloid terkenal yang ingin meliput anda. Kalau anda menyetujui kerjasama untuk wawancara eksklusif, saya akan memberikan informasi tentang seseorang bernama Yoongi kepada anda. Saya yakin nama itu punya arti buat anda.".
Lalu Hoseok mematikan ponselnya dan menunggu. Senyumnya mengembang, uang besar akan datang kepadanya, tidak disangkanya dia seberuntung itu.
TBC
PS:
Jujur tiap ngerjain remake ini aku punya ketakutan tersendiri sama Jungkook. Dunno why :( terus jadi merasa bersalah udah jadiin dia tokoh kejam disini :( I do love you my kuki :(
