Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 9-Chapter 13

Pagi harinya Jungkook mendengarkan pesan itu, yang diantarkan langsung oleh Taehyung, orang kepercayaannya yang sangat setia kepadanya. Taehyung bertubuh ramping dan pucat, tetapi lelaki itu memiliki keahlian membunuh yang sangat hebat. Jungkook pernah menyelamatkan nyawanya dalam satu insiden dan lelaki itu mengabdikan kesetiaannya kepada Jungkook.

Kepada Jungkook, bukan kepada Jimin. Kalaupun dia melaksanakan perintah Jimin, itu karena dia tahu Jungkook ada di dalam diri Jimin. Taehyung adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Park Jimin memiliki kepribadian ganda.

"Apakah kau sudah tahu di mana wartawan bodoh bernama Hoseok itu tinggal?"

"Saya sudah tahu."

"Bagus. Kau dapat nomor kontaknya?"

Taehyung mengangguk dan tanpa kata meletakkan sebuah kertas bertuliskan nomor ke meja Jungkook, Jungkook menelepon nomor itu. Suara Hoseok terdengar ragu menjawab di telepon itu.

"Ya?"

"Ini Park Jimin." Suara Jungkook dingin dan tenang. "Katakan penawaranmu."

"Sebentar saya keluar dulu." Hoseok tampak keluar dengan hati-hati, membuat Jungkook langsung tahu, Yoongi ada di situ, bersamanya. Senyumnya langsung mengembang.

"Aku menerima tawaranmu untuk wawancara ekslusif itu. Info apa yang kau punya tentang Yoongi?"

Hoseok begitu senang hingga tidak menyadari nada kejam dari suara Jungkook,

"Baiklah. Jam berapa saya harus siap ke rumah anda? Oke."

Dia mencatat dalam hatinya, besok jam sembilan pagi di rumah Park Jimin. Dia akan mewawancari lelaki itu secara ekslusif. Dan malam ini dia punya kesempatan mewawancari Yoongi. Betapa beruntungnya dirinya.

"Saya tahu di mana Yoongi berada."

"Di mana?"

"Maaf tidak bisa saya katakan. Saya harus mewawancarai anda dulu, setelah saya mendapatkan berita baru saya beritahukan informasi itu."

"Dan bagaimana aku tahu kau tidak membohongiku?"

Suara lelaki ini, meskipun lewat telepon begitu mengintimidasi. Pantas Namjoon tampak ketakutan kepadanya, Hoseok mengerutkan keningnya, "Namjoon..." gumamnya, "Anda mengenal kepala pelayan anda kan? Jadi anda tahu saya tidak berbohong."

Hening yang lama dan menyeramkan. Lalu Jungkook bersuara.

"Besok jam sembilan." Dan teleponpun ditutup.

Jungkook masih merenung dalam senyuman sinis sambil menatap telepon itu ketika Taehyung bertanya,

"Anda akan menerima permintaan wawancara itu?"

Jungkook mengangkat matanya dan menatap Taehyung, tatapan membunuh ada di sana, meskipun bibirnya tersenyum, "Tentu saja tidak. Lelaki bernama Hoseok itu bertindak bodoh dengan mengira bisa mempermainkanku. Dia tidak akan hidup sampai besok jam Sembilan untuk mewawancaraiku." Jungkook terkekeh,

"Malam ini kita akan memberikan kunjungan kejutan untuknya".

.

.

.

"Kita tidak jadi pergi?" Yoongi mengerutkan keningnya.

Dia sudah bersiap untuk pergi menemui teman lelaki bernama Hoseok ini yang katanya akan membantunya melarikan diri ke luar negeri.

"Temanku sedang ada urusan ke luar kota, jadi kita harus menunggu besok untuk

menemuinya." Mereka sedang sarapan kopi dan mie instant, karena hanya itu yang dipunyai Hoseok di lemari dapurnya.

Yoongi gelisah. Itu berarti dia akan tertahan di tempat ini satu hari lagi. Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk. Semoga saja Jungkook tidak dapat melacak mereka. Tetapi Namjoon pasti sudah mengusahakan yang paling aman untuknya bukan? Jungkook pasti tidak akan bisa menghubungkan dirinya dengan Hoseok.

"Ngomong-ngomong, aku seorang wartawan."

Yoongi hampir tersedak kopinya ketika Hoseok mengatakan hal itu, "Apa?" Dari semua orang di dunia ini, kenapa Namjoon meminta tolong kepada seorang wartawan.

"Hei jangan memandangku seperti itu. Tidak semua wartawan jahat. Aku contohnya. Aku punya koneksi yang luas dan aku bisa membantumu."

Meskipun Namjoon harus menyogokku dengan berita eksklusif tentang ayah kandungmu dan segepok uang, lanjut Hoseok dalam hati.

Yoongi termangu. Namjoon pasti memilih Hoseok karena lelaki ini punya banyak koneksi. Dan mengingat Jungkook dan Jimin sangat menghindari wartawan, mereka pasti tidak akan berpikiran bahwa Namjoon akan meminta tolong kepada seorang wartawan untuk membantu Yoongi melarikan diri. Namjoon memang cerdik, batin Yoongi dalam hati.

"Lagipula kenapa kau lari dari Park Jimin?" Hoseok menatapnya dengan menyelidik,

"Biarpun dia kedengarannya arogan, dia pria yang kaya dan tampan. Kalau aku jadi perempuan aku tidak akan menolaknya."

Yoongi diam saja, tidak terpancing dengan pertanyaan Hoseok. Lelaki itu tidak tahu, betapa mengerikannya sisi lain Park Jimin. Betapa mengerikannya seorang Jungkook. Kalau lelaki itu tahu, dia pasti tidak akan sesantai ini.

Hoseok menatap Yoongi yang mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya. Gadis ini langsung bersikap defensif ketika Hoseok menyatakan bahwa dirinya seorang wartawan. Dia menyesal mengatakannya, seharusnya tadi dia diam saja dan berpura-pura menjadi teman baik, mungkin dia bisa mengorek lebih banyak informasi.

"Bagaimana rasanya menjadi anak seorang artis terkenal yang disembunyikan? Apakah kau merasa tersiksa dan ingin berteriak agar diakui? Kenapa kau bersembunyi selama ini?"

Hoseok tidak mau menyerah. Besok mungkin gadis ini sudah diambil oleh Park Jimin, dia harus mendapatkan informasi sebanyak yang dia bisa.

Tetapi Yoongi hanya menatapnya tajam dari atas cangkir kopinya. Kemudian meletakkan cangkirnya dan menatap Hoseok bermusuhan,

"Aku rasa aku sudah selesai sarapan. Terima kasih. Aku lelah, mungkin aku akan beristirahat seharian di kamar." Dan kemudian gadis itu melangkah pergi dan memasuki kamarnya.

Sialan. Hoseok mengumpat dalam hatinya. Sepertinya susah mengorek informasi secara sukarela dari Yoongi. Hoseok hanya bergantung pada Park Jimin kalau begini caranya.

.

.

.

Yoongi baru membuka amplop cokelat yang diletakkan Namjoon ke dalam tangannya. Isinya uang dalam bentuk dolar, dan banyak sekali. Dia tidak mau menghitungnya, jadi dimasukkannya uang itu kembali ke dalam amplop dan dijejalkannya ke dalam tas pakaiannya.

Namjoon sudah menyiapkan uang itu sejak lama. Uang investasi katanya. Berarti Jimin sudah menyiapkan rencana ini sejak lama.

Jimin... Yoongi tidak bisa menahan diri untuk menyebut nama Jimin berulang ulang di benaknya. Apa kabarnya dia? Apakah dia baik-baik saja? Ataukah dia terkubur dalamdalam, ditidurkan dengan paksa oleh Jungkook?

Dia masih mengingat jelas percintaannya dengan lelaki itu. Jimin begitu lembut, memperlakukannya penuh kasih sayang. Dari semua hal yang dilakukannya, Yoongi tidak pernah menyesal menyerahkan keperawanannya kepada Jimin. Meskipun percintaan berikutnya... Yoongi menghela napas, berusaha menghilangkan kenangan akan percintaan liar dan brutal yang dilakukan oleh Jungkook kepadanya.

Tidak. Dia tidak boleh memikirkan Jimin lagi. Dia tidak bisa mencintai Jimin, karena mencintai Jimin berarti harus bisa menerima Jungkook. Yoongi tidak bisa, dia takut dan benci.

Takut atas semua kekejaman yang tega dilakukan oleh lelaki itu. Dan benci atas kejahatan lelaki itu, yang merenggut semua keluarganya dari sisinya.

.

.

.

Malam sudah datang dan Hoseok mengintip dengan hati-hati di pintu kamar tidur Yoongi, perempuan itu sedang tidur lelap. Hoseok menelan ludahnya. Dia harus mendapatkan informasi sebelum besok pagi.

Hoseok melihat bahwa malam itu Yoongi membawa tas dan menggenggam erat erat sebuah amplop cokelat. Dia harus bisa mengorek tas itu, mungkin saja ada informasi rahasia di dalamnya.

Setelah mengintip lama, Hoseok yakin bahwa Yoongi sudah benar-benar tertidur pulas. Dia membuka pintu kamar Yoongi pelan-pelan dan mengendap-endap melangkah masuk ke dalam kamar Yoongi. Gadis itu sedang tidur dan miring membelakanginya sehingga Hoseok mulai leluasa bergerak.

Dia melihat tas itu. Tas cokelat berukuran sedang yang diletakkan di atas kursi di samping ranjang. Dengan hati-hati diambilnya tas itu dan diangkatnya ke atas meja. Dibukanya resleting tas itu pelan, berusaha tidak menimbulkan suara.

Isi tas itu terbuka. Menampakkan pakaian-pakaian perempuan yang tidak seberapa jumlahnya. Dan ada amplop cokelat yang terselip di sana.

Uang atau dokumen..?

Dengan ingin tahu Hoseok mengambil amplop itu dan membukanya. Isinya uang. Dalam bentuk dolar. Pelayan itu ternyata kaya juga. Hoseok tergoda untuk memilikinya. Dia kemudian memutuskan untuk mengambil uang itu. Toh Yoongi tidak akan membutuhkannya lagi. Besok Park Jimin mungkin akan menjemputnya dan membawanya pergi, dan Hoseok yakin Park Jimin bisa memberi Yoongi lebih banyak uang daripada yang di amplop ini.

Dia berusaha memasukkan amplop itu ke dalam saku belakang celana jeansnya karena dia masih ingin membuka-buka isi tas Yoongi, siapa tahu ada dokumen-dokumen penting tersembunyi di sana. Tetapi karena terburu-buru, amplop itu meleset dan jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi jatuh yang cukup mengganggu.

.

.

.

Yoongi membuka matanya waspada ketika mendengar bunyi itu. Sejak tahu bahwa Jungkook mengejarnya, Yoongi membiasakan diri untuk selalu waspada, malam ini dia tertidur pulas mungkin karena kelelahan lahir dan batin. Tetapi suara berisik benda jatuh di lantai itu membuatnya terbangun.

Matanya terbuka dan dia langsung terduduk kaget, menangkap basah Hoseok yang sedang mengaduk isi tasnya dengan amplop uangnya terjatuh di lantai.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Yoongi berteriak panik karena ketakutan. Dia hanya berdua di rumah ini bersama Hoseok dan dengan bodohnya dia mempercayai lelaki ini, karena Namjoon mengatakan lelaki ini akan menolongnya.

Seharusnya dia curiga. Hoseok seorang wartawan dan semua wartawan selalu mempunyai maksud di balik tindakannya. Hoseok sendiri panik karena ketahuan, dia menyergap Yoongi dan membekap mulutnya.

"Jangan berteriak." Suara Hoseok terdengar mengancam, "Aku cuma berusaha mencari informasi tentangmu, karena kau sangat pelit membagi informasi."

Mata Hoseok menelusuri tubuh indah di bawah tindihannya. Dia baru menyadari bahwa Yoongi sangat cantik. Dengan matanya yang sayu dan kulitnya yang lembut menyentuh kulitnya. Bahkan tubuh di bawah tindihannya ini terasa begitu menggairahkan.

Hoseok lelaki normal, dan berada di kamar yang temaram, dengan seorang perempuan yang cantik dan sexy tentu saja membangkitkan gairahnya. Aku akan mencoba gadis ini. Toh tidak ada ruginya, gadis ini akan menjadi gundik Park Jimin, dan Hoseok akan rugi kalau tidak mencicipinya.

Yoongi melihat di mata itu. Mata lelaki yang mulai dirayapi oleh nafsu, dia meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Tangannya mencoba mencakar, kakinya mendendang sekuat yang dia mampu. Tetapi dia hanyalah per empuan mungil di bawah kuasa lelaki bertubuh besar. Yoongi hanya melukai dirinya sendiri, ketika Hoseok menggunakan kekuatannya untuk menahannya. Kaki dan tangannya serta beberapa bagian tubuhnya mulai memar-memar.

Dengan penuh nafsu Hoseok merobek gaun tidur Yoongi di bagian dada, robekannya begitu kasar hingga tanpa sadar tangannya mencakar pundak Yoongi, menimbulkan bilur kemerahan yang perih. Yoongi melindungi dadanya sekuat tenaga, dia memeluk dadanya agar tidak terlihat oleh Hoseok sementara salah satu tangan Hoseok membekap mulutnya dan tangan yang lain dengan kasar mencengkeram tangannya berusaha menyingkirkan tangan Yoongi yang melindungi dadanya.

Paha Hoseok mencoba membuka paha Yoongi yang tertutup rapat, napas keduanya terengah-engah atas pergulatan itu. Dalam suatu kesempatan, Yoongi menggigit tangan Hoseok yang sedang membekap mulutnya, membuat Hoseok marah, lalu menamparnya keras-keras hingga darah mengalir di sudut mulutnya.

"Diam dasar pelacur! Aku tahu kau sudah menjadi pelacur Park Jimin, dan sekarang aku akan mencicipi tubuh pelacurmu yang menggiurkan."

Hoseok berseru sambil menahan kedua tangan Yoongi, lelaki itu menyeringai mengamati dada Yoongi yang ranum, "Wow... aku akan sangat puas malam ini, merontalah pelacur, dan aku akan sangat menikmatinya..."

Lelaki itu berusaha mendekatkan bibirnya untuk melumat bibir Yoongi. Yoongi memejamkan matanya jijik, berusaha memalingkan kepalanya menghindari ciuman itu. Kedua tangannya ditahan dan kedua kakinya ditindih hingga dia tidak dapat bergerak. Dan Yoongi bersumpah, dia akan bunuh diri kalau lelaki itu berhasil memperkosanya.

Tubuh lelaki itu makin berat menindihnya. Semakin berat... lalu... tidak terjadi apa-apa. Kenapa lelaki itu hanya menindihnya dan kemudian terdiam? Apakah lelaki itu tertidur?

Yoongi membuka matanya pelan-pelan. Lalu memekik ketakutan.

Sebuah pisau besar telah menancap di punggung Hoseok, dan sepertinya tidak hanya sekali menancap, tetapi lebih dari dua kali, karena bajunya terkoyak oleh beberapa tusukan dan darah memancar luar biasa deras dari punggung yang tertusuk pisau itu.

Wajah Hoseok tampak sangat kaget, matanya melotot dan bibirnya menganga, lelaki itu sepertinya tidak sadar apa yang terjadi ketika ajal menjemputnya. Darahnya begitu banyak, dan mulai menetes menyebarkan cairan panas berbau anyir dan lengket, dan menetes ke bawah, membasahi tubuh Yoongi. Yoongi menjerit, berusaha menyingkirkan mayat Hoseok yang menindihnya.

Saat itulah Yoongi menyadari Jungkook berdiri di pinggir ranjang, lelaki itu menatap mayat Hoseok dengan kemarahan yang menakutkan. Tatapannya tampak begitu puas karena telah menancapkan pisau berkali-kali di punggung Hoseok. Jungkook mencabut pisau itu dengan dingin dari punggung Hoseok tampak puas melihat darah segar mengalir dari lubang yang dia buat.

Pisaunya berkilat dan bersimbah darah. Dan dengan tenang lelaki itu mengelapnya dengan sapu tangannya, lalu memasukkan ke wadahnya, dan menyimpannya ke dalam saku jaketnya. Jungkook mengalihkan pandangannya dengan dingin ke arah Yoongi yang berusaha menyingkirkan tubuh Hoseok yang terkulai mati dari atas tubuhnya.

"Taehyung."

Seorang lelaki Asia yang ramping dan pucat melangkah masuk. Tatapannya sepertinya biasa saja ketika melihat mayat Hoseok.

"Bereskan mayatnya."

Tanpa kata, Taehyung menyingkirkan mayat Hoseok yang bersimbah darah dan memanggulnya keluar kamar.

Yoongi terbaring dengan tubuh gemetaran di atas ranjang sambil menatap Jungkook. Dia hampir saja diperkosa dan telah melawan sekuat tenaganya. Pakaiannya sobek dari leher bajunya sampai ke pinggangnya dan dalam usahanya untuk menutupi dirinya, Yoongi menggunakan lengannya untuk melindungi buah dadanya dan memeluk dirinya sendiri, dan ada bekas cakaran dan memar-memar merah di tangan dan kakinya. Ujung bibirnya masih mengeluarkan darah segar, luka akibat tamparan Hoseok yang sangat keras, Dan dia ketakutan setengah mati, menyaksikan pembunuhan keji yang dilakukan Jungkook di depan matanya.

Jungkook mendekat. Dan Yoongi langsung beringsut mundur ketakutan. "Ja.. jangan mendekat..." Matanya terasa panas oleh air mata frustasi yang mengancam akan turun, dan tubuhnya terasa sakit. Dia sungguh takut dan tidak mampu lagi melawan. Tetapi setidaknya dia masih bisa bertahan.

Jungkook tersenyum, lelaki itu tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap luka-luka di tubuh, pundak, dan bibir Yoongi dengan tidak senang. Ada kemarahan membakar di sana. Tetapi Jungkook tetap menjaga kemarahannya tetap di dalam. Lelaki itu membuka jasnya, dan kemudian menyelimutkannya ke tubuh Yoongi yang setengah telanjang

"Ayo kita pulang."

Yoongi ingin melawan, tetapi dia sudah kehilangan tenaga. Dia hanya pasrah ketika Jungkook mengangkatnya dan menggendongnya keluar kamar itu.

Taehyung sudah menunggu, mayat Hoseok sudah di bungkus dengan rapi di dalam kantong mayat warna hitam yang entah darimana. Apakah mereka memang datang untuk membunuh, hingga sudah menyiapkan kantong mayat itu?

"Bereskan kekacauan di kamar itu sebelum kau singkirkan mayat itu. Pastikan semua bersih seolah-olah kita tidak pernah datang. Aku akan pulang dengan supir. Kau menyusul nanti."

Yoongi merasakan tubuhnya teayun-ayun dalam gendongan Jungkook. Dan kemudian dia kehilangan kesadarannya.

.

.

.

Dia tersadar kemudian ketika merasakan mobil sedikit beruncang. Dibukanya matanya dengan bingung, dia berada di dalam mobil. Tubuh bagian depannya tertutup oleh jas Jungkook dan dia berbaring di pangkuan Jungkook. Tangannya menggantung di leher Jungkook.

Lelaki itu memeluknya dengan kaku, menyangga kepalanya dengan lengannya. Yoongi merasakan aroma itu. Dan kenangan akan Jimin menyeruak di benaknya. Dia mencoba mengusir kenangan itu. Ini sudah pasti Jungkook. Bukan Jimin. Hanya Jungkooklah yang mampu menancapkan pisau ke punggung orang berkali-kali, lalu setelah orang itu mati, dia mencabut pisau itu dengan tenang, mengelap darahnya seolah membersihkan kotoran biasa, dan menyimpan pisaunya kembali. Lelaki ini kejam dan sedikit gila. Dan sekarang Yoongi kembali terperangkap ke dalam cengkeramannya..

Yoongi merasakan mobil itu berhenti. Mereka sudah berada di gerbang rumah Jimin. Dia masih terdiam berpura-pura tidur, meski jantungnya berdebar kencang. Yoongi ketakutan dan berharap Jungkook tidak merasakan debaran jantungnya.

Begitu pintu gerbang itu tertutup, maka kesempatan Yoongi untuk keluar tidak akan ada lagi. Yoongi tidak akan pernah bisa lepas untuk yang kedua kalinya dari cengkeraman Park Jimin...

Lelaki itu menundukkan kepala, dan kemudian menggunakan ujung jarinya untuk mengangkat dagu Yoongi, memaksa perempuan itu menatapnya, ada senyum kejam di sana yang tidak mungkin dilakukan oleh Jimin,

"Well, Yoongi, selamat datang di rumah." Gumamannya mengerikan, bergema di kegelapan. Bagaikan sebuah janji tak terbantahkan , sama seperti ketika dia bersumpah bahwa Yoongi akan menjadi miliknya..

TBC

PS:

Gak salah kalau orang bilang uang itu hanya sumber malapetaka. And see~

Adakah yg udah benci banget sama kuki ?

Jangan benci dia ,dia hanya salah ambil peran disini :"

TERIMAKASIH untuk semua review yang sudah kalian berikan :)

Ada yg mau temenan monggo banget lo ,alamat twiter atau Ig ku bisa di cek di bio yaa dan yang buat menanyakan kelanjutan Pembunuh Cahaya. Forgive me! Aku kehilangan file ku :( dan masih dalam tahap pemulihan mood untuk ngetik ulang remake itu :( but ,forgive me(again) aku membuat remake baru hehe mind to cek it ?

So, review ?