Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 11-Chapter 15
"Kau tidak boleh melakukannya. Kau sudah menyelamatkanku dari percobaan pemerkosaan yang dilakukan Hoseok, dan sekarang kau mau merendahkan dirimu dengan melakukan hal yang sama?"
Jungkook berdecak, "Aku membunuh Hoseok bukan untuk menyelamatkanmu dari pemerkosaan. Aku membunuh Hoseok karena dia berani-beraninya menyentuh kau yang sudah menjadi milikku." Matanya menyipit dingin, "Siapa pun yang berani menyentuhmu akan kubunuh."
Tubuh Yoongi gemetar. Lelaki ini Iblis. Iblis yang tidak punya jiwa. Yoongi salah mengira lelaki ini punya sedikit kebaikan dalam jiwanya ketika lelaki itu menyelamatkannya dan dengan lembut mengobati luka-lukanya. Ternyata lelaki itu melakukannya bukan untuk Yoongi, tetapi untuk kepuasan egonya sendiri yang menakutkan.
"Aku akan bunuh diri kalau kau memperkosaku."
"Memperkosamu?" Jungkook mengerutkan keningnya, "Waktu itu kau sama sekali tidak menolakku." Suaranya rendah merayu,
"Kau ingat malam itu? Ketika kau bercinta denganku semalaman, berkali-kali, penuh gairah? Kau sepertinya menikmatinya, kau mengerang puas ketika mencapai orgasmemu dengan aku tenggelam dalam-dalam di tubuhmu."
"Hentikan!" Yoongi berteriak, "Waktu itu aku mengira kau adalah Jimin!"
"Jimin atau aku bukankah sama saja?" Jungkook mengangkat bahunya, "Jangan lupa Yoongi, kami ini satu tubuh. Kau bercinta dengan Jimin berarti kau bercinta denganku. Begitu pun sebaliknya…" lelaki itu melangkah makin dekat, "Tidakkah kau merindukan tubuh ini? Tubuh yang pernah memelukmu?"
"Tidak! Mundur Jungkook! Jangan dekati aku." Mata Yoongi melirik ke segala arah, "Aku tidak mau."
"Kenapa kau mau bercinta dengan Jimin tetapi tidak mau bercinta denganku?" Jungkook mengabaikan ancaman Yoongi, dengan kasar direnggutnya tangan Yoongi dan disentuhkan ke dadanya, "Lihat ini, rasakan ini, kami ini orang yang sama bukan?"
Yoongi berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Jungkook, tetapi lelaki itu menahannya dengan kejam, membuat Yoongi meringis kesakitan, matanya terasa panas dan dia menatap Jungkook dengan menantang, "Kau iblis kejam yang tidak punya hati. Aku sangat membencimu. Dan kau tidak bisa disamakan dengan Jimin. Jimin jauh… Jauh lebih baik dari dirimu."
Kata-kata Yoongi rupanya menyulut kemarahan Jungkook sampai batas kesabarannya. Lelaki itu mencengkeram kedua tangan Yoongi dan mendekatkan wajahnya dengan marah, "Kau bilang Jimin lebih baik dariku? Mari kita lihat!"
Jungkook mendorong Yoongi ke atas ranjang, secepat kilat Yoongi melenting hendak bangun, tetapi Jungkook sudah menindihnya dengan tubuhnya yang kuat. Kedua tangannya mencengkeram tangan Yoongi dan mengangkatnya ke atas kepalanya.
Wajah mereka berdekatan. Yoongi bisa melihat betapa tajamnya mata lelaki itu, betapa banyaknya amarah yang terkumpul di sana. Jungkook mendekatkan bibirnya, mencoba mengecup bibir Yoongi, tetapi Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya menjauh sehingga bibir Jungkook hanya menyentuh pipi dan rahangnya. Dengan gemas Jungkook menurunkan tangannya, menggenggam kedua tangan Yoongi hanya dengan satu tangan. Tangannya yang satunya mencengkeram rahang Yoongi agar tidak bergerak, bibirnya lalu memagut bibir Yoongi, membuat Yoongi mengerang dan menolak sekuat tenaga.
Jungkook mengangkat bibirnya dan mengamati, "Sepertinya luka di sini sudah sembuh." Lelaki itu mengacu kepada luka bekas tamparan Hoseok kepadanya malam itu.
Luka itu memang sudah tidak bengkak dan hampir tidak terasa lagi. Jungkook lalu menekankan tubuhnya dan memperdalam ciumannya sehingga berhasil membuka bibir Yoongi dan melumatnya makin dalam. Disesapnya bibir bawah Yoongi dengan penuh gairah, seolah ingin mencicipi keseluruhan rasanya.
Yoongi merasakan bibir itu. Bibir yang sama dengan bibir Jimin yang pernah melumat bibirnya dengan lembut. Tetapi kali ini berbeda, ciuman Jungkook sangat kasar dan tidak tanggung-tanggung, lelaki ini melumat bibir Yoongi seolah ingin menggilasnya. Seluruh kemarahannya tertumpah di ciuman itu, Yoongi masih meronta, tetapi kemudian dia menyadari, bahwa semakin dia meronta, semakin Jungkook marah dan kasar kepadanya.
Dia lalu mencoba diam, tidak meronta dan tidak melawan. Jantungnya berdebar kencang. Antara ketakutan, penolakan dan gairah yang muncul tanpa bisa dia kendalikan. Bagaimana pun juga, tubuh yang sedang menindihnya itu adalah tubuh yang sama dengan lelaki yang dicintainya.
Jungkook menyadari perubahan sikap Yoongi. Dia menghentikan ciumannya dan menatap Yoongi. Napas mereka masih terengah akibat ciuman yang panas itu, dan bibir mereka masih begitu dekat. Jungkook tersenyum miring, "Memutuskan untuk menyerah, eh?"
Yoongi menatap Jungkook dengan berani, "Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Aku tahu aku tidak akan menang melawanmu. Tetapi satu hal yang pasti. Kalaupun kau berhasil bercinta denganku. Aku membayangkanmu sebagai Jimin. Karena Jiminlah yang aku cintai, bukan kau."
Jungkook menggeram marah, "Kalau begitu aku tidak akan menahan diri lagi." Lelaki itu membuka pakaian Yoongi dengan kasar, menariknya dari tubuhnya hingga Yoongi telanjang dada di bawahnya,
"Aku pernah menyentuh tubuhmu dan menikmatinya, kau pun menikmatinya. Malam ini akan kubuat kau menyadari bahwa aku berbeda dengan Jimin, aku lebih bisa memuaskanmu dibanding dia."
Lelaki itu mengangkat rok Yoongi dan dia sendiri melepaskan celananya. Kejantanannya sudah menegang dan keras, Jungkook begitu bergairah, dia membungkuk dan melumat bibir Yoongi lagi, tangannya menyentuh payudara Yoongi, meremasnya dan memainkan putingnya dengan ahli. Lelaki ini tidak mengenal kelembutan dalam bercinta, lelaki ini benar-benar bercinta dengan nafsunya.
Sementara itu Yoongi berusaha keras menjaga tubuhnya tetap diam, meskipun gairah itu mengalir deras di tubuhnya. Ini tubuh Jimin, dan jemari lelaki itu sedang memainkan putingnya dengan ahli. Ketika Jungkook menurunkan kepalanya untuk melumat putting payudaranya, sebuah erangan terlepas dari bibir Yoongi.
Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap Yoongi dengan pandangan mengejek, "Suka sayang?" dengan sengaja dia melumat puting payudara Yoongi, menggodanya dengan lidahnya dan menghisapnya dengan kuat, membuat Yoongi menggigit bibir, berusaha menahan erangannya.
Kejantanan Jungkook menyentuh perutnya, terasa keras dan siap, lelaki itu menurunkan jarinya dan menurunkan celana dalam Yoongi, membuangnya di kaki ranjang. Jemarinya menyentuhnya di sana, dan dia tersenyum puas, "Kau bisa menolakku dengan kata-katamu, tetapi tubuhmu tidak bisa berbohong, kau basah di sana, siap untuk melumasiku."
Yoongi menatap Jungkook dengan marah, "Aku membayangkan Jimin."
"Kau tidak membayangkan Jimin, kalau kau membayangkan Jimin kau pasti akan membuka pahamu dengan sukarela untukku, bukannya menatapku dengan pandangan kebencian."
Dengan kasar Jungkook membalikkan badan Yoongi, membuat Yoongi tertelungkup dan menoleh ketakutan.
"Kau... Apa kau..."
"Diam!" Jungkook menarik pinggul Yoongi ke atas dan menyusupkan kejantanannya ke dalam kewanitaan Yoongi. Yoongi mengerang karena terkejut ketika merasakan kejantanan Jungkook tenggelam dalam-dalam.
"Apakah kau mengakui kalau kau merindukanku, sayang?" Jungkook bertumpu pada lengannya setengah membungkuk dan mengecup punggung telanjang Yoongi,
"Karena sepertinya aku merindukanmu." Lelaki itu lalu menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang cepat dan keras, membuat tubuh Yoongi yang tengkurap terdorong di atas ranjang. Yoongi mengerang dan menggertakkan giginya menahankan gerakan kasar Jungkook yang entah kenapa tetap membawa getaran panas di dalam dirinya, berpusat di kewanitaannya dan menyebar ke seluruh tubuhnya.
Jungkook menegakkan punggungnya dan memegang pinggul Yoongi menggerakkannya supaya berpadu dengan gerakannya. Lelaki itu menggertakkan gigi menahan orgasmenya yang hampir datang, menunggu. Dan ketika Yoongi mengerang karena orgasme yang dipaksakan datang kepadanya, barulah Jungkook memacu dirinya sendiri untuk mencapai orgasme yang sudah ditunggunya, dia menggeram, menekankan dirinya dalam-dalam dan meledakkan
dirinya di dalam tubuh Yoongi.
Setelah itu, Jungkook membaringkan tubuhnya, setengah menindih tubuh Yoongi yang masih telungkup. Napas mereka berdua terengah-engah. Yoongi masih telungkup, kepalanya masih miring ke satu sisi, enggan menatap Jungkook yang memeluknya dari belakang. Air matanya menetes dan jatuh membasahi sprei. Dia telah direndahkan dengan begitu dalam oleh Jungkook, dan dia mencapai orgasme! Astaga, wanita seperti apakah dirinya ini? Apakah dia wanita murahan? Bisa mencapai orgasme dari iblis kejam seperti Jungkook? Ataukah dia terlena karena Jimin dan Jungkook memiliki tubuh yang sama?
Tapi Jungkook tadi mengatakan bahwa Yoongi tidak membayangkannya sebagai Jimin, dan itu adalah kebenaran. Yoongi sadar sekali bahwa yang bercinta dengannya tadi adalah Jungkook. Dan dia tetap mencapai orgasmenya!
"Yoongi...?" suara itu memanggilnya dengan lembut, membuat Yoongi menggertakkan giginya marah. Permainan apa lagi yang dimainkan Jungkook? Apakah lelaki itu sedang mencoba mempermalukannya dengan berpura-pura lembut seperti Jimin?
"Yoongi?" lengan kuat itu memeluknya lembut tepat di bawah payudaranya, bibirnya mengecup pundak Yoongi penuh kerinduan, "Yoongi ini aku. Jimin."
Yoongi tersentak, lalu tertegun meragu. Suara itu, kelembutan sentuhan dan kecupan itu, sangat mirip dengan Jimin. Tetapi bukankah Jungkook bilang Jimin sudah hilang dan tidak bisa dia rasakan lagi? Apakah ini benar-benar Jimin atau Jungkook yang berpura-pura?
TBC
PS: Sebenernya aku mulai menaruh empati sama kuki :"
So, review?
