Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook
Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi
Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul
WARNING!
Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah
A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.
Happy reading
BAB 11-Chapter 16
Yoongi tersentak, lalu tertegun meragu. Suara itu, kelembutan sentuhan dan kecupan itu, sangat mirip dengan Jimin. Tetapi bukankah Jungkook bilang Jimin sudah hilang dan tidak bisa dia rasakan lagi? Apakah ini benar-benar Jimin atau Jungkook yang berpura-pura?
Yoongi sendiri saksinya, dia pernah melihat sendiri Jungkook yang sedang berpura-pura sebagai Jimin, dan Jungkook luar biasa ahli.
"Yoongi, lihatlah aku."
Sambil menelan ludahnya, Yoongi membalikkan badannya pelan-pelan. Menghadap ke arah lelaki itu. Mereka berbaring telanjang berhadapan, saling menatap, mata Yoongi mencari di kedalaman diri Jimin, mencoba menemukan sesuatu, petunjuk atau apapun yang bisa memberitahunya siapakah yang ada di depannya ini. Tetapi dia tidak bisa menemukan jawabannya.
Salah satu kekuatan Jungkook dibandingkan Jimin adalah kemampuannya untuk tetap sadar meskipun tubuh ini sedang dikuasai oleh Jimin, seperti yang dia bilang, Jungkook menikmati duduk diam di sudut dan mengamati. Hal itu berarti sangat mudah bagi Jungkook untuk berpura-pura sebagai Jimin, karena apa yang diketahui Jimin diketahui juga oleh Jungkook. Sebaliknya bagi Jimin, ketika Jungkook menguasai tubuhnya, dia tertidur dan hanya memiliki ingatan samar dan sepotong-potong tentang apa yang dilakukan Jungkook.
Jimin menelusurkan jarinya dan menyentuh bibir Yoongi, lalu ke pipinya. Matanya menelusuri bekas memar di tubuh Yoongi, di lengan Yoongi, bekas memar di tubuhnya akibat perlakukan kasar Hoseok memang masih ada, menjadi ungu kehitaman, meskipun rasanya sudah tidak sakit lagi, tetapi memarnya masih tampak mengerikan. Alis Jimin mengerut dan dia menatap Yoongi dengan sedih,
"Apakah dia, Jungkook menyakitimu?"
Ini mungkin benar-benar Jimin. Lelaki ini tampaknya tidak tahu apa yang dialami Yoongi malam-malam sebelumnya. Yoongi menatap Jimin, bibirnya bergetar, meragu,
"Jimin...?" panggilnya.
Lelaki itu tersenyum, lalu meraih jemari Yoongi dan mengecupnya, "Ini aku sayang."
"Jimin." air mata kelegaan langsung mengalir.
Oh Astaga, ini Jimin, Jiminnya masih hidup, lelaki ini masih ada. Dia tidak mati seperti yang dikatakan oleh Jungkook. Berarti masih ada harapan untuk mereka. Yoongi memeluk Jimin erat-erat merasa begitu bahagia hingga ingin tertawa dan menangis bersamaan. Sementara Jimin balas memeluknya, menenggelamkan wajahnya di keharuman aroma tubuh Yoongi yang nikmat.
Lama kemudian mereka bertatapan kembali, mata Jimin yang menatapnya dengan serius, lelaki ini tampak seperti lelaki dingin yang berwibawa yang pertama kali ditemui oleh Yoongi,
"Katakan padaku, apakah Jungkook berbuat kasar kepadamu? Memar-memar ini..."
"Tidak, bukan Jungkook pelakunya,"
Yoongi menggelengkan kepalanya, dia lalu menceritakan kepada Jimin tentang rencana Namjoon, tentang Hoseok, bagaimana Jungkook kemudian menemukannya tepat di saat Hoseok hendak memperkosanya, dan kemudian bagaimana Jungkook membuatnya bercinta dengannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku... Aku..." bibir Yoongi bergetar dan matanya memanas. Dia merasa malu, sungguh malu kepada Jimin.
Tetapi lelaki itu tersenyum, dan menyentuhkan telunjuknya ke bibir Yoongi, menahannya untuk berbicara.
"Stttt... Bukan salahmu Yoongi, bagaimana pun juga tubuh kami sama... Mungkin tubuhmu mengenali tubuh ini dan meresponnya," Jimin berbisik lembut dan mengeratkan pelukannya kepada Yoongi, "Maafkan aku membuatmu harus mengalami ini semua di hidupmu."
Yoongi balas memeluk Jimin, menenggelamkan kepalanya di dada telanjang Jimin yang bidang dan menangis, "Aku mencintaimu Jimin."
Lelaki itu menghela napas panjang. "Aku juga Yoongi, aku juga. Aku sudah tertidur lama. Tetapi kemudian aku merasakan kehadiranmu, keberadaanmulah yang membuatku bangun kembali... Aku ingin mencintaimu dan ingin memelukmu, membuatmu berada di sisiku selamanya..." Jimin tampak sedih,
"Tapi selalu ada Jungkook... Kami ini dua yang menjadi satu. Satu yang terdiri dari dua. Aku tak tega membiarkanmu mencintaiku, karena dengan begitu, kau harus bisa mencintai sisi jahatku. Dan sisi jahatku ini, sangat sulit untuk dicintai."
Mencintai Jungkook? Yoongi mengernyit. Jimin benar. Jungkook sangat sulit untuk dicintai.
Jimin tersenyum melihat Yoongi mengernyitkan matanya, "Kau sudah tahu semua dari Namjoon ya? Pembunuhan-pembunuhan itu... Aku menyesal Yoongi, aku tidak berdaya mencegah Jungkook melakukan itu semua. Ketika aku sadar, kecelakaan yang menewaskan keluarga angkatku sudah terjadi, kecelakaan yang menewaskan Hangeng, ayahmu. Jungkook sudah bertindak terlalu jauh, dan itu sama saja aku melakukannya dengan tanganku sendiri."
Yoongi menggenggam kedua tangan Jimin erat-erat, "Tidak Jimin, kau tidak bersalah. Kau tidak sadar ketika semua kejahatan itu terjadi."
Jimin menghela napas, "Kadang-kadang aku merasa Jungkook membunuh hanya untuk menggangguku. Entah kenapa dia membenciku setengah mati. Tangan ini, entah berapa nyawa yang direnggut oleh tangan ini."
Yoongi mengecup kedua tangan Jimin yang berada dalam genggamannya,
"Jungkook yang melakukannya Jimin, bukan kau."
"Dan aku tidak bisa menghentikannya. Mungkin satu-satunya jalan adalah aku harus mati. Itu akan menghentikan Jungkook juga."
"Tidak! Jimin, jangan pikirkan itu, masih ada cara lain. Mungkin kau bisa berdamai dengan Jungkook."
Tiba-tiba pikiran itu melintas di benak Yoongi, kalau Jimin dan Jungkook tidak bisa
saling menghancurkan, bukankah jalan satu-satunya adalah berdamai? Dan Yoongi tahu saat ini Jungkook ada di dalam, mendengarkan dan mengamati mereka dari sudut yang paling gelap.
"Kalian bisa hidup berjalinan tanpa saling menyakiti."
"Bagaimana mungkin Yoongi?" Jimin menyela dengan tak sabar, "Tubuh ini hanya ada satu. Kami dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Kata 'damai' adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin kami lakukan."
Yoongi menghela napas panjang, mungkin memang tampak sulit. Tetapi tidak bisa menutup kemungkinan bahwa itu bisa dilakukan bukan? Masalah satu-satunya adalah Jungkook sangat kejam, dengan insting membunuhnya yang luar biasa. Ketika dia meledak maka akibatnya sangat menakutkan. Seandainya saja Jimin bisa menidurkan Jungkook.
Yoongi mengerutkan keningnya, teringat akan kata-kata Jungkook kepada Jimin. "Dia menanggung seluruh pukulan untukmu."
"Apa?"
"Jungkook, dia bilang dia menanggung seluruh pukulan untukmu."
"Maksudmu... Di masa kecilku?" kenangan itu muncul lagi di benak Jimin.
Kenangan samar tetapi menyakitkan yang berusaha dimusnahkannya. Kenangan tentang ayahnya yang sangat pemarah dan terlalu disiplin. Jimin kecil harus bisa memenuhi semua keinginannya, bisa berkuda, bisa berenang, melakukan semua hal yang disebutnya sebagai 'kegiatan laki-laki' tanpa mempedulikan bahwa Jimin hanyalah seorang anak kecil.
"Jungkook bilang ayahmu sering memukulimu dengan tongkat, dan ibumu tidak membelamu..."
"Aku tidak punya ingatan tentang hal itu," Jimin mengernyitkan kening, "Yang aku ingat adalah seringkali aku bangun di tempat tidur dengan punggung sakit dan bilur. Aku sering berpikir bahwa aku hilang ingatan..."
"Itu karena Jungkook mengambil alih tubuhmu. Ketika ayahmu memukulimu, dia muncul dan menjadi tamengmu. Membuatmu terlindung dalam ketidaksadaran yang hangat, dan kemudian menanggung pukulan-pukulan itu," Yoongi menghela napas panjang,
"Jungkook bilang dia tumbuh makin kuat seiring bertambahnya kemarahan dan kebencian terpendammu..."
Yoongi menatap Jimin dengan serius, "Mungkin kau harus memaafkan ayahmu, dan dengan begitu Jungkook menghilang."
"Aku bahkan tidak pernah memikirkan ayahku lagi."
Memikirkan tentang ayahnya hanya menimbulkan kenangan buruk untuknya. Karena itulah Jimin menghindarinya. Tetapi mungkin juga, itulah yang membuat kemarahan dan kebenciannya di masa kecil atas sikap jahat ayahnya terpendam dan tumbuh semakin dalam, menjadi bahan bakar untuk Jungkook agar semakin kuat.
"Tetapi kau ada benarnya juga." Jimin menghela napas panjang. Dia kemudian bangkit dari ranjang dan mengenakan pakaiannya, "Istirahatlah Yoongi... Aku akan mencari Namjoon..."
"Namjoon..." Yoongi menelan ludahnya. "Dia membantuku melarikan diri, dan kemudian Jungkook mengetahuinya. Aku selalu bertanya-tanya, karena sepertinya tidak ada Namjoon di rumah ini. Tapi tentu saja aku tidak pasti karena aku dikurung di kamar ini... "
Wajah Yoongi tampak ragu, "Apakah menurutmu... Jungkook telah membunuh Namjoon?"
Jimin tertegun. Namjoon adalah satu-satunya orang yang menghubungkannya dengan ingatan masa lalunya. Lelaki itu sudah menjadi pelayan di rumah ayah kandung Jimin, bahkan sejak sebelum Jimin dilahirkan. Kalau Jungkook membunuh Namjoon...
Jimin mengusap rambut Yoongi lembut, "Aku akan mencari tahu. Jangan cemas ya."
Dikecupnya dahi Yoongi dan melangkah pergi, ketika di pintu dia memutar tubuhnya, "Kau tidak akan dikurung di kamar ini Yoongi."
.
.
.
Jimin menemui Namjoon segera setelah mengetahui bahwa pelayan setianya itu berada di rumah sakit. Dia melangkah menuju kamar tempat Namjoon ditempatkan. Melihat beberapa penjaga berjaga di sana dan mengernyitkan dahinya tidak suka.
"Kalian semua sudah tidak diperlukan lagi di sini. Pergilah."
Para pengawal itu semula tampak ragu dan saling berpandangan. Bukankah Tuan Jimin sendiri yang menginstruksikan bahwa mereka tidak boleh pergi dari sini apa pun yang terjadi? Kenapa Tuan Jimin berubah pikiran secepat itu?
Jimin memasang ekspresinya yang paling dingin. "Pergilah. Jangan sampai aku
mengulang perintahku untuk ketiga kalinya."
Para pengawal itu pun pergi dengan patuh. Jimin membuka pintu kamar Namjoon dan mendapati Taehyung ada di dalam sana. Duduk dalam keheningan dan mengawasi Namjoon yang sedang terbaring tidur di atas ranjang rumah sakit.
Taehyung berdiri ketika melihatnya.
"Pergilah Taehyung." Jimin memerintahkannya dengan dingin. Tahu pasti bahwa pegawainya yang satu ini lebih setia kepada Jungkook dibandingkan dirinya.
Ketika Taehyung tidak bergeming,
Jimin menatapnya tajam, "Aku memang Jimin bukan Jungkook, tetapi aku tetap atasanmu. Pergilah, Taehyung."
Taehyung hanya menganggukkan kepalanya, dalam hening dan langkah yang hampir tak terdengar suaranya, lelaki itu melangkah pergi meninggalkan kamar Namjoon.
Setelah kamar itu sepi, Jimin melangkah mendekati ranjang tempat Namjoon terbaring tidur, mengamati dengan sedih kedua lengan Namjoon yang di gips. Jungkook telah mematahkan kedua tangan Namjoon tanpa ampun. Lelaki itu benar-benar iblis. Jimin menggertakkan bibirnya marah. Tetapi setidaknya Jungkook tidak membunuh Namjoon, dan tidak menyakiti keluarganya. Jimin sudah mengecek tadi, keluarga Namjoon baik-baik saja, Jungkook sama sekali tidak pernah menyentuh mereka.
Namjoon rupanya menyadari bahwa dia sedang diawasi, lelaki itu membuka matanya, dan langsung waspada melihat siapa yang sedang berdiri di tepi ranjangnya.
"Aku Jimin," Jimin bergumam tenang, menyadari bahwa Namjoon masih mengira bahwa dia adalah Jungkook, "Aku kembali Namjoon."
Bibir Namjoon menganga kaget. Tetapi dia masih menatap Jimin dengan curiga. Bisa saja lelaki yang ada di depannya ini adalah Jungkook yang tengah berpura-pura, bukankah biasanya begitu?
Jimin menyadari tatapan curiga Namjoon dan tersenyum, "Kau boleh curiga Namjoon, tetapi aku benar-benar Jimin, lagi pula apa untungnya Jungkook bersandiwara sebagai aku? Tidak ada untungnya buat dia."
Benar juga... Namjoon membatin. "Tuan Jimin sudah kembali? Apakah Tuan Jungkook masih ada di dalam sana?"
Jimin menganggukkan kepalanya, "Dia masih terasa kuat di dalam sini."
Ditatapnya Namjoon dengan pandangan sedih, "Maafkan aku Namjoon, membuatmu mengalami kesakitan mengerikan seperti ini."
"Tidak apa-apa tuan, lagi pula sepertinya ini setimpal buat saya, rencana saya untuk menyelamatkan nona Yoongi malah mencelakakannya, saya salah memilih orang, tidak terbayangkan kalau Tuan Jungkook tidak datang dan menyelamatkan nona Yoongi ketika itu."
"Tetapi Jungkook tetap tidak berhak mematahkan tanganmu seperti ini," Jimin menghela napas panjang, "Keluargamu aman."
"Saya tahu, Tuan Jungkook mengatakannya kepada saya. Sebelumnya dia bilang bahwa dia sudah membakar anak, menantu dan cucu saya hidup-hidup... Saya… Saya pikir waktu itu sudah tidak ada gunanya lagi saya hidup." Namjoon meneteskan air mata,
"Pada akhirnya Tuan Jungkook mengatakan bahwa dia sama sekali tidak menyentuh keluarga saya, apa yang dia katakan waktu itu hanya untuk mempermainkan saya."
"Jungkook memang kejam, dia sangat suka mempermainkan emosi orang lain," Jimin mengerutkan keningnya, "Yoongi bilang Jungkook terbentuk dari emosi dan kebencianku di masa lalu karena kekejaman ayah kepadaku."
Namjoon mengenang masa lalu. Ayah Jimin, Tuan Park, memang sangat kejam. Dia tidak segan-segan memukul siapa pun yang tidak bisa melakukan apa yang dia mau, tidak terkecuali anaknya yang masih kecil.
"Yoongi bilang Jungkook yang menanggung pukulan-pukulan ayah terhadapku... Benarkah itu Namjoon? Yang ada diingatanku hanyalah ingatan samar, bahkan aku sering terbangun dengan luka di punggungku, sudah diobati olehmu."
Namjoon menganggukkan kepalanya, "Pertama kali saya merasakan ada sesuatu yang berbeda adalah ketika saya menatap mata anda, ketika itu ayah anda sedang memukuli anda dengan tongkat. Anak kecil lain pasti akan menangis dan berteriak-teriak dipukuli seperti itu. Tetapi anda hanya diam dan menantang tatapan ayah anda, hal itu membuat ayah anda semakin marah dan semakin keras memukuli anda... Saya menatap mata anda dan ada sinar di sana. Sinar yang tidak saya kenali... Anda tahu, saya sudah bersama anda dari kecil," Namjoon menghela napas panjang,
"Kemudian ketika ayah anda selesai, saya membawa anda ke kamar dan mengobati anda. Anda masih tetap diam... Sehingga saya takut anda terlalu shock untuk bicara, saya memanggil nama anda. Tetapi kemudian anda menjawab dengan dingin, anda bilang anda tidak mau dipanggil dengan nama Jimin, anda mau dipanggil dengan nama Jungkook," Namjoon menatap Jimin.
"saya pikir waktu itu anda sedang mengigau... Tetapi kemudian banyak kejadian aneh, hewan-hewan mulai mati, dua anjing pitt bull milik ayah anda, yang sangat disayanginya ditemukan mati dengan bagian dalam tubuh terurai, beberapa kali kami menemukan bangkai kelinci di kebun kondisinya dimutilasi tak kalah mengenaskan... Sampai akhirnya saya sendiri yang menemukan anda sedang mencongkel mata kelinci itu dari tubuhnya. Saya begitu terkejut dan berusaha memanggil anda untuk menghentikan perbuatan anda, tetapi anda menolehkan kepala dan tersenyum yang bagi saya cukup menakutkan, padahal waktu itu anda hanyalah seorang anak kecil... Anda bilang 'Hai Namjoon, kita bertemu lagi' dan saya langsung menyadari bahwa anda sudah berubah menjadi Tuan Jungkook, bahwa sosok bernama Jungkook itu benar-benar ada di dalam diri anda."
Jimin menatap Namjoon dalam-dalam, sedikit terkejut. Namjoon tidak pernah menceritakan semua ini kepadanya sebelumnya. Ternyata Jungkook menjadi begitu jahat karena seluruh dendam, ketakutan, kemarahan dirinya waktu kecil ditenggelamkannya dalam-dalam, ditolaknya, dan itu kemudian memisahkan diri dan membentuk kepribadian sendiri bernama Jungkook.
"Yoongi bilang kalau aku bisa membuang kemarahanku kepada ayahku, maka Jungkook akan menjadi lemah. Masalahnya aku bahkan tidak ingat perlakukan buruk ayahku. Aku memang membencinya, tetapi aku tidak menyimpan dendam dan kemarahan kepadanya."
Namjoon menganggukkan kepalanya, "Yang paling menerima perlakukan buruk ayah anda, adalah Tuan Jungkook. Kalau ada yang harus menghilangkan dendam dan kemarahannya, itu adalah Tuan Jungkook."
"Dan dia tidak akan mau menghilangkan kemarahannya. Kemarahan, kebencian, dan dendam sudah menjadi kekuatannya... Aku memang tidak akan bisa melenyapkannya dari dalam diriku." Jimin mengacak rambutnya frustrasi,
"Apakah menurutmu aku gila Namjoon? Apakah aku harus masuk ke rumah sakit jiwa?"
"Tuan Jungkook mungkin sakit jiwa, tetapi anda tidak."
"Tetapi kami adalah satu," Jimin menghembuskan napasnya, "Dia gila maka aku gila. Dia membunuh maka tanganku juga berdarah..." mata Jimin memancarkan tekad, "Kalau aku lenyap, maka Jungkook juga akan lenyap. Mungkin itu satu-satunya cara."
"Apa maksud anda?" Namjoon menatap Jimin cemas, "Anda tidak akan melukai diri anda sendiri kan? Tolong katakan anda tidak akan melakukannya."
"Aku muak hidup dengan membawa darah orang-orang tak bersalah yang menjadi korban Jungkook di tanganku..." Jimin menatap tangannya sendiri,
"Mungkin lebih baik bagi semua orang kalau kami berdua lenyap. Saat ini aku sedang kuat... Jadi aku bisa mengambil keputusan itu tanpa Jungkook bisa berbuat apa-apa. Kalau nanti Jungkook sudah mengambil alih tubuh ini, semuanya akan terlambat."
"Anda tidak boleh melakukannya. Bagaimana dengan nona Yoongi?"
"Yoongi akan baik-baik saja tanpaku. Hidupnya lebih berbahaya kalau aku ada di sampingnya, Jungkook bisa muncul kapan saja dan siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Jungkook kepada Yoongi nanti." Jimin menatap Namjoon dengan pandangan lurus, "Apa pun yang terjadi kepadaku nanti, aku ingin kau menjadi pelayan Yoongi yang setia dan menjaganya."
"Tuan Jimin..."
"Semoga kau lekas sembuh Namjoon, aku akan menghubungi dokter, kau akan mendapatkan fasilitas yang terbaik sehingga kesembuhanmu sempurna."
Jimin beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Tidak mempedulikan Namjoon yang memanggil-manggilnya, mencoba membuatnya mencegah pikirannya.
Jimin terus melangkah menuju koridor dengan tekad yang bulat. Dia harus melenyapkan dirinya sendiri. Itulah satu-satunya cara dia bisa melenyapkan Jungkook.
Bayangan Yoongi berkelebat di benaknya. Membuat dadanya sakit. Seandainya saja keadaan normal, Jimin mungkin bisa bersatu dengan Yoongi, menjadi pasangan bahagia.
Sayangnya keadaan mereka berbeda.
.
.
.
"Kau terlalu pengecut untuk bunuh diri." Jungkook mengguman mengejek niat Jimin. Tentu saja dia tahu apa yang ada di benak Jimin, mereka satu bukan?
"Diam." Jimin mencoba menghentikan bisikan Jungkook yang mengganggu. Dia harus membulatkan tekad.
"Memangnya kau mau bunuh diri memakai apa? Menusuk dirimu dengan pisau? Menembak kepalamu? Atau memilih cara pengecut dengan meminum obat?" Jungkook tidak mau menyerah. Dia terus saja berbicara. "Kau akan rugi kalau bunuh diri dan mematikan kita berdua, Jimin."
"Hah. Aku tidak rugi apa-apa. Kau ketakutan bukan Jungkook?" Jimin terkekeh.
"Kau takut aku bunuh diri dan membunuhmu juga, dan kau saat ini tidak punya kekuatan apa-apa untuk mencegahku."
"Bagaimana dengan Yoongi?" Jungkook mengeluarkan senjatanya. "Dia mencintaimu."
"Dia akan lebih baik tanpaku." Jimin menggumam tegas. "Kalau dia ada di dekatku dia juga ada di dekatmu, aku tidak akan membahayakan Yoongi dengan kehadiranmu."
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Jimin mengernyitkan dahinya.
"Masuk."
Pintu terbuka sedikit, dan Yoongi menengokkan kepalanya sedikit, "Jimin? Apakah kau sibuk? Bolehkah aku masuk?"
"Masuklah Yoongi," Jimin tersenyum, "Ada apa? Kupikir kau masih tidur di kamarmu, aku tidak mau mengganggumu,"
Jimin mengernyit melihat ekspresi Yoongi, gadis itu tampak pucat pasi, "Kenapa sayang? Ada apa?"
Yoongi menatap Jimin bingung, "Aku bingung akan mengatakannya kepadamu atau tidak. Tetapi aku juga tidak bisa menyimpannya sendiri."
"Kenapa Yoongi?" Jimin mulai cemas.
"Aku..." Yoongi menghela napas panjang, "Maafkan aku Jimin... Sepertinya... Sepertinya aku hamil."
TBC
PS:
Tetterererereee Yoon Have baby!
