Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 12-Chapter 17

"Hamil?" Jimin terperangah. Sejenak dia termenung bingung. Tetapi kemudian dia tersenyum, "Hamil?"

"Haidku tidak datang bulan ini... dan tidak pernah terjadi sebelumnya." Yoongi menatap Jimin penuh rasa bersalah, "Maafkan aku Jimin..."

"Kenapa kau minta maaf? Aku akan menelepon dokter sekarang. Kita pastikan. Kalau kau memang hamil, kita harus berhati-hati menjagamu. Dan kita akan menikah segera."

"Menikah?" Yoongi menatap ragu ke arah Jimin yang sudah mulai memijit nomor di ponselnya.

"Ya. Anak itu harus mempunyai ayah, dan dilahirkan dari pernikahan yang sah." Jimin menatap Yoongi lembut dan cemas, "Bagaimana perasaanmu? Apakah kau merasa pusing? Mungkin kau harus berbaring dan jangan berjalan-jalan,"

Yoongi tersenyum geli, "Aku tidak apa-apa Jimin..."

Lelaki itu menelepon dokter pribadinya dan mengucapkan instruksi agar lelaki itu datang. Kemudian lelaki itu meletakkan teleponnya dan menatap Yoongi takjub.

"Wow... kau hamil Yoongi... hamil anakku..."

Yoongi tersenyum, "Aku bilang aku mungkin hamil karena aku terlambat haid, belum tentu aku hamil, Jimin..."

Jimin menatap Yoongi dengan lembut, "Kau pasti hamil, karena kau terlihat begitu cantik."

Lelaki itu memundurkan kursi kerjanya yang besar dan membuka tangannya,

"Sini, duduk di pangkuanku."

Yoongi tersipu, tetapi dia datang mendekati Jimin, lelaki itu memeluknya dan mendudukkan Yoongi dengan lembut ke pangkuannya, mereka bertatapan. Lengan Jimin melingkari pinggang Yoongi dan kedua lengan Yoongi melingkari leher Jimin.

Yoongi hamil, dan itu berarti seluruh rencananya untuk mengakhiri kehidupannya agar bisa mengenyahkan Jungkook tidak bisa dilakukan. Jimin selalu menjadi anak tunggal, ayahnya kejam dan ibunya tidak dekat dengannya. Keluarga angkatnya sempat mengisi kekosongan di dalam dirinya, tetapi itupun tidak berlangsung lama. Anak itu, kalau benar Yoongi hamil, anak di dalam kandungan Yoongi harus dia jaga. Jimin harus bisa menekan Jungkook semakin dalam supaya tidak terbangun dan menguasainya lagi.

"Aku akan menjagamu Yoongi, aku akan berusaha supaya Jungkook tidak bangun dan berbuat jahat."

Yoongi menatap Jimin dengan cemas, "Bisakah kau melakukannya Jimin? Aku takut Jungkook mendesakmu lagi sampai kau tenggelam dan dia menguasai tubuh ini.."

Jimin menyentuh lembut perut Yoongi dan mengusapnya penuh sayang. "Aku sebenarnya putus asa, sudah tidak menemukan cara lagi untuk mengalahkan Jungkook... tetapi semuanya berbeda kalau ada anak ini, anak ini memperkuat tekadku untuk bertahan, Yoongi... Aku harus lebih kuat demi menjaga kalian berdua..."

Yoongi menangkup tangan Jimin yang sedang memegang perutnya. "Terima kasih Jimin."

.

.

.

"Ya Tuan Jimin, Nona Yoongi hamil." Dokter itu sudah selesai memeriksa Yoongi.

"Hasil tes urine menyatakan positif, dan dari USG saya sudah bisa melihat kantong kehamilannya tampak, meskipun masih kecil."

Jimin menerima kabar itu dengan sangat gembira, dia menyalami dokter itu dengan bersemangat dan menanyakan detail yang sekecil-kecilnya kepada sang dokter. Setelah dokter itu pergi, Jimin duduk di sebelah ranjang dan menggenggam erat tangan Yoongi yang sedang berbaring.

"Kau harus benar-benar menjaga dirimu, jangan terlalu lelah."

Yoongi terkekeh, "Jimin, aku cuma hamil, bukan sakit."

Lelaki itu tersenyum malu, "Aku tidak pernah dekat dengan wanita hamil sebelumnya. Maafkan aku. Kaulah wanita hamil pertamaku."

Yoongi tertawa, "Benarkah kau tidak pernah dekat dengan wanita hamil sebelumnya Jimin?"

Jimin menggelengkan kepalanya, "Aku cenderung menghindari wanita hamil dan anak-anak, bukan karena aku tidak menyukai mereka... Aku... aku takut Jungkook tiba-tiba muncul dan melukai mereka."

Kehadiran Jungkook telah begitu membatasi Jimin, Yoongi yakin dengan kelembutannya Jimin pasti menyukai anak-anak kecil. Dia hanya tidak bisa mendekati dan berinteraksi dengan mereka.

"Apa yang dilakukan oleh Jungkook kadang begitu menakutkan... dia benci hewan peliharaan, dia selalu terdorong untuk membunuhnya, entah untuk bersenang-senang atau memang dia sengaja menggangguku. Karena itulah aku tidak berani mengambil resiko membiarkannya berdekatan dengan anak-anak. Jungkook, sama seperti diriku, tidak punya pengalaman sama sekali yang berhubungan dengan anak-anak."

Yoongi mengerutkan keningnya. Kalau sampai yang terburuk terjadi dan Jungkook menguasai tubuh Jimin lagi, apakah Jungkook akan melukai anaknya? Anak yang dikandung Yoongi bagaimanapun juga hidup dari benih tubuh itu, tubuh yang sama-sama ditinggali oleh Jungkook dan Jimin. Anak ini anak Jungkook juga bukan?

"Semoga semua baik-baik saja Jimin." Yoongi bersungguh-sungguh dengan kata katanya, dia berharap semuanya baik-baik saja.

.

.

.

Jimin menatap ke cermin di ruang kerjanya. Menatap bayangan yang balas menatapnya dengan dingin.

"Aku akan semakin kuat karena adanya anakku di kandungan Yoongi. Dan aku akan segera menikahinya." Dia mengucapkan kata-katanya kepada Jungkook, dengan tegas.

Ekspresi Jungkook tidak dapat ditebak, tentu saja dia sudah tahu kalau Yoongi hamil. Dia selalu sadar dan mengawasi dari sudut yang gelap. Hanya saja saat ini dia terbelenggu. Jimin benar-benar dalam kondisi kuat dan waspada sehingga Jungkook tidak bisa bangun dan menguasai tubuh itu.

"Anakku juga Jimin. Jangan lupakan itu. Anak itu juga anakku."

"Tetapi tidak berarti kau tidak akan melukainya bukan?"

Jungkook memasang wajah datar, "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah dekat dengan anak-anak sebelumnya. Kau yang selalu menjauhkanku dari anak-anak."

"Karena kau kejam terhadap hewan peliharaan, kau membunuh anjing, membunuh kelinci dan hewan-hewan lain yang kau anggap mengganggu."

"Aku melakukannya untuk membuatmu merasa tidak nyaman." Jungkook menyeringai. "Bukan berarti aku akan melakukannya kepada anak-anak."

Jimin mendengus, "Aku tidak akan membiarkanmu bangun Jungkook. Aku akan menekanmu kuat-kuat sehingga tidak ada kesempatan bagimu untuk melukai Yoongi dan anakku."

"Anakku juga." Jungkook kembali mengoreksi, senyumnya tampak malas dan mengejek,

"Apakah ini berarti kau membatalkan niatmu untuk membunuh kita berdua?"

"Ya." Jimin menatap Jungkook dengan dingin, "Tetapi bukan berarti aku membatalkan niat untuk melenyapkanmu."

Jungkook terkekeh, "Tidak akan bisa Jimin, kau sudah mencobanya dan tidak pernah berhasil bukan? Semakin kau mencoba melenyapkanku, semakin aku bertambah kuat."

Mata Jimin menyipit, "Sebelumnya aku tidak punya perempuan yang kucintai dan calon anak untuk kulindungi."

Kata-kata Jimin sedikit mengubah ekspresi Jungkook, tetapi lelaki itu tetap tersenyum dan sedikit mengejek, "Kita lihat saja nanti."

.

.

.

Namjoon pulang ke rumah ini. Kedua tangannya masih di gips tetapi kondisinya sudah lebih baik. Jimin dan Yoongi menyambutnya. Yoongi waktu itu sangat bersyukur ketika Jimin mengatakan bahwa Jungkook hanya melukai Namjoon dan tidak membunuhnya, bahwa Namjoon sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit. Tetapi Yoongi tidak tahu bagaimana cara Jungkook melukai Namjoon, karena itu ketika dia melihat kedua tangan Namjoon di gips, Yoongi menoleh ke arah Jimin dan mengernyitkan keningnya, "Apakah Jungkook..."

"Ya." Jimin tampak begitu menyesal, "Jungkook mematahkan kedua tangan Namjoon."

Yoongi begidik ketika membayangkan kekejaman Jungkook, membayangkan betapa sakitnya Namjoon ketika itu. Didekatinya Namjoon dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan saya." bisiknya, sungguh-sungguh menyesal, bagaimanapun Namjoon terluka karena membantunya melepaskan diri. Tetapi Namjoon membalas tatapannya dengan tatapan malu dan penuh penyesalan,

"Saya yang minta maaf Nona Yoongi." Suaranya serak, "Saya mengira saya menolong anda, tetapi saya melemparkan anda ke dalam bahaya."

Yoongi mengernyit, membayangkan ketika Hoseok berusaha memperkosanya. Kenangan itu terasa mengerikan, apalagi ketika dia mengingat pemandangan mayat Hoseok yang bersimbah darah dengan pisau tertancap di punggungnya. Dengan cepat Yoongi berusaha mengenyahkan pikiran itu. Dia mencoba tersenyum kepada Namjoon, "Tidak apa-apa, yang penting kita semua bisa berkumpul di sini dan baik-baik saja."

"Bersama bayi anda." Namjoon tersenyum, "Tuan Jimin menceritakan semuanya kepada saya." Lelaki itu melirik Jimin, "Selamat Tuan Jimin, saya yakin anda pasti sangat bahagia."

"Sangat." Jimin bergumam tulus. Dirangkulnya Yoongi erat-erat ke dalam pelukannya.

.

.

.

Malam itu mereka tidur berpelukan. Jimin berulangkali mengelus perut Yoongi dengan lembut. Kemudian menciumi leher Yoongi. Ciuman itu semula hanyalah ciuman lembut penuh kasih sayang, tetapi lama-kelamaan berubah panas. Jimin mulai mencumbu Yoongi dengan kecupan-kecupan kecil, membuat Yoongi menggeliat karena geli.

"Apakah kalau kita melakukannya tidak akan mengganggu si bayi" mata Jimin berkilat penuh gairah, tetapi ragu.

Yoongi tersenyum, "Dokter bilang aman bagi kandungan."

Izin itu cukup buat Jimin, dengan lembut dia mengecup biibir Yoongi dan melumatnya lembut, mencicipinya dengan penuh perasaan, seakan bibir Yoongi adalah buah yang sangat berharga yang harus disesap pelan-pelan agar semakin nikmat terasa. Ketika Jimin mengangkat bibirnya, napas mereka berpadu, terengah-engah,

"Bibirmu sangat manis dan nikmat." Lelaki itu bergumam sambil mengecupi bibir Yoongi lagi, "Aku bisa terus dan terus menciummu, dan tak pernah merasa bosan."

Mereka tenggelam dalam ciuman yang panas. Lalu bibir Jimin mengecupi leher Yoongi, menghirup aroma manis di sana yang memancing kejantanannya semakin menegang dan siap. Tangannya meraih jemari Yoongi dan menggenggamkannya ke kejantanannya yang semakin menonjol dan mengeras,

"Kau rasakan itu sayang? Dia mengeras karena ingin segera memasukimu, ingin menyatukan dirinya dalam kelembutanmu."

Yoongi menggenggam kejantanan Jimin, merasakan panas yang berdenyut di sana. Lelaki itu lalu melepaskan gaun tidur Yoongi, mengangkatnya lewat atas kepalanya dan mencampakkan gaun itu begitu saja di lantai, dia lalu menelanjangi dirinya sendiri.

Mereka berbaring telanjang berpelukan, menikmati rasa kulit masing-masing yang berpadu, panas bertemu dengan panas yang menggetarkan. Setiap sentuhan dan gesekan kulit mereka terasa begitu nikmat. Jimin yang keras dan Yoongi yang lembut.

"Aku akan bersikap lembut." Jimin tersenyum dan mengecup kedua alis Yoongi, memposisikan dirinya di antara kedua paha Yoongi yang membuka untuknya, siap menerimanya.

Yoongi tersenyum dan mengulurkan tangannya, menyentuh bibir Jimin yang ada di atasnya dengan jemarinya, Jimin mengecup jemari itu.

"Aku mencintaimu Jimin." Bisiknya dalam napas yang mulai terengah.

Jimin sudah menyentuhkan kejantanannya ke kewanitaan Yoongi, menggeseknya dengan lembut dan menggoda di bagian luar kewanitaannya, dengan sengaja menyentuh titik sensitif di luar kewanitaannya sehingga menimbulkan getaran yang membuat gelenyar panas mengaliri tubuh Yoongi.

Wajah Jimin makin melembut mendengar pernyataan cinta Yoongi, dia menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Yoongi, "Aku juga mencintaimu Yoongi.."

Sementara di bawah sana, kejantanannya mulai memasuki Yoongi, membuat Yoongi merasakan panas, keras dan berdenyut mulai menyatu ke dalam dirinya. Yoongi mengerang dan melingkarkan kedua tungkainya ke pinggang Jimin. Dorongan itu membuat Jimin menenggelamkan dirinya dalam-dalam di pusat diri Yoongi yang hangat dan basah.

Jimin memejamkan mata, menikmati panas dan basah yang mencengkeramnya erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga. Yoongi terasa begitu nikmat, begitu pas dan begitu menggairahkan. Perempuan yang sekarang berbaring di bawahnya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, tubuh yang pasrah menerimanya, dan perempuan itu sedang mengandung anaknya.

Dengan hati-hari Jimin bergerak pelan, melakukan ritme bercintanya dengan hati hati.

"Apakah sakit?" Jimin berbisik pelan, menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak mendorong terlalu keras, terlalu dalam.

Yoongi menggelengkan kepalanya, "Tidak Jimin, rasanya nikmat." Yoongi menggerakkan pinggulnya, merespon dorongan Jimin, membuat lelaki itu mengerang.

"Kau begitu nikmat sayang, seluruhmu begitu nikmat." Jimin menggerakkan badannya makin intens, menggesek seluruh titik kenikmatan di dalam tubuh Yoongi, dan memuaskan dirinya sendiri. Lelaki itu menahan diri, menunggu Yoongi mencapai kepuasannya.

Dan ketika Yoongi melengkungkan punggungnya dan mengerang pelan, Jimin mengikutinya.

Kenikmatan ini tiada duanya. Bercinta dengan orang yang dicintai memang selalu memberikan getaran yang berbeda. Jimin tidak akan pernah bisa senikmat ini selain bersama Yoongi. Mereka meledak bersama dalam orgasme yang luar biasa.

.

.

.

Tengah malam. Jungkook terbangun. Dia langsung terduduk, terkesiap kaget karena dia terbangun begitu saja. Lelaki itu menggerakkan tangannya.

Well. Tubuh ini ternyata berhasil dia kuasai lagi.

TBC

PS:

Maaf chim ,masih lama dan jauh untuk kau berbahagia dengan Yoon

Dan maafkan juga readerkuuu ,betapa sulitnya mencari celah untuk update ;") semoga masih pada menunggu huhu