Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 12-Chapter 18

Tengah malam. Jungkook terbangun. Dia langsung terduduk, terkesiap kaget karena dia terbangun begitu saja. Lelaki itu menggerakkan tangannya.

Well. Tubuh ini ternyata berhasil dia kuasai lagi.

Jimin terlalu larut dalam orgasme dan kenikmatannya bersama Yoongi sehingga dia lengah. Dan Jungkook begitu saja mengambil alih. Jungkook tersenyum. Dia sudah lebih kuat, waktu itu dia menganggap remeh Jimin dan tidak waspada, sehingga Jimin bisa mengambil alih.

Jungkook menoleh dan menatap Yoongi yang tertidur di sampingnya. Perempuan itu meringkuk ke arahnya dengan posisi seperti janin di dalam kandungan. Tampak begitu lemah dan tak berdaya.

Jungkook membayangkan betapa kagetnya nanti Yoongi ketika bangun dan menemukan Jungkooklah yang ada di sampingnya. Senyumnya tampak puas mengingat dia berhasil membuat Yoongi orgasme ketika bercinta dengannya. Sedikit banyak, Yoongi tetap terpengaruh oleh kemampuan bercinta Jungkook. Yoongi akan dikuasainya sampai tidak bisa lepas lagi. Sampai Yoongi tidak bisa memikirkan Jimin lagi. Jungkook menyentuhkan jemarinya ke pipi Yoongi. Tetapi kemudian pandangannya terarah ke perut Yoongi dan dia mengernyit. Yoongi sedang hamil.

Hamil... sama seperti Jimin, Jungkook sama sekali tidak mempunyai pengalaman dengan perempuan hamil. Dan kali ini, perempuan yang ada di depannya sedang mengandung anak Jimin, anaknya juga, anak mereka berdua. Apa yang bisa dia lakukan kepada perempuan hamil? Apakah emosi bisa membuatnya keguguran?

Kehamilan Yoongi sebenarnya lebih membuatnya ingin tahu. Bagaimanakah rasanya memiliki seorang putra? Jungkook termenung dan memutuskan bahwa dia ingin memiliki seorang putra.

Seorang putra yang akan dia besarkan dengan baik. Bukan dengan ancaman dan kekerasan seperti yang dilakukan ayah kandungnya kepadanya. Jungkook mengerutkan keningnya. Kalau begitu dia harus mengusahakan supaya kandungan Yoongi baik-baik saja.

Dia akan berpura-pura menjadi Jimin.

.

.

.

Ketika pagi hari Yoongi terbangun, Jimin masih ada di sebelahnya, lelaki itu tertidur pulas dengan sebelah lengannya menjadi bantal untuk kepala Yoongi. Yoongi tersenyum dan mengecup lembut ujung hidung Jimin dengan sayang.

"Selamat pagi tukang tidur."

Jimin membuka matanya pelan-pelan dan kemudian menatap Yoongi. Lalu dia tersenyum, "Selamat pagi, sayang."

Dengan nakal dipeluknya tubuh Yoongi dan dinaikkan ke atas tubuhnya, "Kau rasakan itu?" Jimin berbisik dengan nada sensual, membuat tubuh Yoongi menggelenyar. Dia merasakannya, kejantanan Jimin yang begitu keras, lelaki ini sedang sangat bergairah.

"Naiki aku Yoongi." Jimin bergumam sambil mengarahkan pinggul Yoongi sedikit turun sehingga kewanitaan Yoongi menyentuh kejantanannya yang sudah siap. Yoongi menempatkan dirinya, dan membiarkan Jimin membimbingnya. Lelaki itu menaikkan pinggulnya dan menurunkan pinggul Yoongi, membuat tubuhnya menelusup dengan mudahnya ke dalam kewanitaan Yoongi, terasa begitu panas dan berdenyut di dalam sana.

"Gerakkan tubuhmu, sayang. Puaskan aku." Jimin bergumam dengan nada menggoda, dan membiarkan Yoongi menggerakkan pinggulnya. Lelaki itu menggeram ketika merasakan gerakan Yoongi, matanya berkilat penuh kenikmatan.

"Oh, kau nikmat sekali sayang."

Jimin mengimbangi gerakan Yoongi dengan menggerakkan pinggulnya ke atas, membuat mereka makin menyatu dan merasakan sensasi kenikmatan percintaan dengan gaya ini membuat titik-titik di bagian paling sensitif Yoongi tersentuh sepenuhnya, tanpa sadar dia menggerakkan tubuhnya semakin berani, mengekplorasi kenikmatannya dengan sebebas-bebasnya. Jimin mengikuti gerakannya, dengan sama liar dan bergairahnya. Dan kemudian Yoongi mendongakkan kepalanya dan melengkungkan punggungnya ke belakang ketika mencapai puncak kenikmatan, bersama Jimin yang mengikutinya di belakangnya.

Tubuh Yoongi rubuh, terkulai di atas tubuh Jimin dengan napas terengah-engah. Sementara tangan lelaki itu memeluk punggungnya dan mengusapnya sambil lalu. Lama kemudian Yoongi mengangkat kepalanya dan mereka bertatapan. Mata Jimin tampak penuh senyum dan menggoda, "Senang menaikiku?"

Pipi Yoongi merah padam atas godaan itu, membuat Jimin terkekeh, dengan lembut dia melepaskan dirinya dari tubuh Yoongi, lalu menghela perempuan itu ke sampingnya untuk kemudian memeluknya erat-erat.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya." Setelah orgasme yang luar biasa itu, bagaimana mungkin dia tidak baik-baik saja?

"Bagaimana dengan perutmu?"

Yoongi mengeryit. Mungkin maksud Jimin adalah 'bayi'nya? Dengan geli dia menjawab pertanyaan Jimin, "Perutku baik-baik saja, Jimin."

"Bagus." Jimin tampak puas dan mengetatkan pelukannya ke tubuh Yoongi, sementara Yoongi menenggelamkan kepalanya dengan damai di dada Jimin.

Yang tidak Yoongi sadari adalah bahwa ada kilatan yang berbeda di mata Jimin, dan bahwa kilatan mata itu, jelas-jelas milik Jungkook, bukan milik Jimin...

.

.

.

"Kenapa kau hanya sarapan itu?" Jungkook mengerutkan kening menatap Yoongi yang hanya menyantap beberapa keping biskuit asin dan teh hangat. Dia sendiri sedang menyantap seiris besar pancake hangat yang disiram dengan sirup maple. Setahu Jungkook, perempuan hamil harus makan banyak bukan?

Jungkook sepertinya berhasil mengelabui Yoongi. Percintaan panas mereka tadi pagi buktinya, Yoongi tidak akan mau bercinta sepanas itu dengannya kalau tahu bahwa dia adalah Jungkook, bukan Jimin.

Kali ini Jungkook bertekad agar Yoongi selamat sampai melahirkan anaknya. Dia

menginginkan anak itu. Dia ingin merasakan menjadi seorang ayah. Dengan cepat, dia mengiris seiris besar pancake dan meletakkannya di piring dan menyorongkannya kepada Yoongi. "Makan itu."

Yoongi menatap Jungkook dengan memprotes, "Jimin bukannya aku tidak mau makan, aku merasa sedikit mual di pagi hari... kalau aku memaksakan memakannya aku akan muntah."

Jungkook mengamati Yoongi dalam-dalam. Dia pernah mendengar perempuan hamil muntah-muntah di awal kehamilannya, tidak disangkanya Yoongi juga merasakannya.

"Apakah kau tidak apa-apa? Apakah kau perlu minum obat?"

Yoongi menggelengkan kepalanya dan mengelus perutnya dengan lembut, "Tidak ada obatnya Jimin, aku hanya harus mengalaminya, ini bukan penyakit."

Jungkook mengikuti arah pandangan Yoongi, menatap perut yang sedang dielus oleh jemari Yoongi, dia berdehem dan mengalihkan pandangannya, "Mungkin sudah waktunya kita membicarakan pernikahan."

Jungkook sangat setuju dengan rencana pernikahan yang direncanakan oleh Jimin, dengan adanya pernikahan, Yoongi dan anak itu akan terikat kepadanya.

Yoongi mengangkat kepalanya dan menatap Jungkook sambil tersenyum, "Aku akan mengikuti rencamu Jimin, kapan kau ingin kita menikah?"

"Secepatnya." Jungkook tersenyum "aku akan menghubungi orangku untuk mempersiapkan semuanya."

.

.

.

Ketika Namjoon sedang berjalan menuju halaman depan, dia berpapasan dengan Tuan Jimin. Lelaki itu sedang menelepon, sepertinya membahas tentang pernikahan.

"Namjoon." Jungkook tersenyum, "Sepertinya kau sudah membaik."

Namjoon menganggukkan kepalanya, "Sebentar lagi gips saya akan dibuka."

"Jungkook pasti mematahkan tanganmu dengan begitu keras ya?" Padahal dalam hati Jungkook tersenyum , dia ingin menilai reaksi Namjoon, ingin tahu apakah Namjoon akan menyadari penyamarannya sebagai Jimin atau tidak. Dari dulu Jungkook suka bermain-main, menyamar sebagai Jimin dan melihat reaksi orang-orang.

Namjoon sendiri tampak bergidik membayangkan ketika tangannya dipatahkan oleh Jungkook dengan kejam. Dia menatap tuannya dan menghela napas panjang,

"Saya pantas menerimanya."

Jungkook tidak bisa menahan diri lagi, dia menyeringai menunjukkan senyum kejamnya yang biasanya, "Dan aku akan mengulanginya lagi, kapanpun aku rasa perlu menghukummu."

Seketika itu juga Namjoon berjingkat mundur, menyadari bahwa yang ada di depannya adalah Tuan Jungkook, bukan Tuan Jimin. Oh Astaga. Bagaimana bisa Tuan Jungkook kembali mengambil alih? Bukankah Tuan Jimin sudah semakin kuat?

"Dan lain waktu, aku tidak hanya akan mematahkan tanganmu." Jungkook terkekeh, "Aku pernah bilang padamu kan? Aku bisa saja mematahkan kedua kakimu juga, bunyi tulang patah membuatku senang."

"Anda... Tuan Jungkook." Namjoon makin gemetar. Menatap mata dingin yang penuh hasrat membunuh itu.

"Ya, aku Jungkook. Tetapi kau tidak boleh mengatakannya kepada siapapun, atau aku tidak akan segan-segan melaksanakan ancamanku." Jungkook mendekatkan dirinya kepada Namjoon, membuat lelaki itu mundur dan akhirnya terperangkap di tembok,

"Aku sedang menyamar menjadi Jimin, dan itu demi kebaikan Yoongi dan anaknya. Siapa yang tahu apa yang dilakukan Yoongi kalau dia tahu bahwa aku adalah Jungkook, mungkin dia akan begitu ketakutan sampai keguguran. Kau tidak ingin Yoongi keguguran kan?"

Namjoon segera menggelengkan kepalanya, wajahnya tampak waspada. "Anda... " dia memberanikan diri untuk bersuara, "Anda tidak akan mencelakai Nona Yoongi dan bayinya kan?"

"Tergantung." Suara Jungkook terdengar kejam, membuat Namjoon semakin bergidik,

"Tergantung suasana hatiku. Kalau aku senang aku tidak akan melukai siapa-siapa. Kau mengerti maksudku, Namjoon?"

"Saya mengerti..." Apapun akan dia lakukan agar Jungkook tidak bisa melukai Nona Yoongi. Dia pernah bersalah kepada Nona Yoongi dan menjatuhkannya ke dalam bahaya, sekarang dia akan menebus kesalahannya.

"Bagus. Sekarang aku ingin kau membantuku. Aku ingin melaksanakan pernikahan."

.

.

.

Pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana dan secepat kilat. Jungkook menyelipkan cincin berlian warisan turun termurun keluarga Park ke jemari Yoongi. Surat-surat ditandatangani, dan dalam sekejap, dia dan Yoongi sudah menjadi suami isteri. Tentu saja surat-surat untuk mempelai lelaki semuanya atas nama Park Jimin, Jungkook sempat mengerutkan keningnya tak suka. Tetapi kemudian menerimanya sebagai keuntungan tersendiri, mau bagaimana lagi, tubuh ini sejak awal memang tercatat bernama Park Jimin.

Jungkook kagum dengan betapa cepatnya dan betapa mudahnya proses pernikahan itu. Dengan sedikit uang di sana sini, memang semuanya bisa menjadi mudah.

Ketika semua pengurus pernikahan sudah pulang. Jungkook menyimpan seluruh berkas pernikahan ke dalam brankasnya dan kemudian turun menemani mempelainya. Hatinya terasa puas, Yoongi sudah terikat dengannya dan menjadi istrinya, "Bagaimana perasaanmu, Nyonya Park ?" dia menyapa Yoongi lembut.

Yoongi yang bergaun putih tampak cantik dan segar, dia tersenyum lebar ketika melihat Jimin, "Aku bahagia Jimin."

"Aku senang kau bahagia." Jungkook mendekati Yoongi dan menghela perempuan itu ke dalam pelukannya, menikmati betapa mudahnya Yoongi tenggelam ke dalam pelukannya kalau dia berperan sebagai Jimin, sama sekali tidak ada penolakan.

Sementara itu, Namjoon memasuki ruangan dan tertegun melihat Jungkook sedang memeluk Yoongi. Nona Yoongi tampak pasrah dan bahagia dalam pelukan Tuan Jungkook.

Namjoon membatin, tentu saja itu karena Nona Yoongi tidak menyadari bahwa yang sedang memeluknya bukanlah Tuan Jimin. Namjoon mengernyit. Dia tidak bisa mengatakan kepada Nona Yoongi meskipun dia sangat ingin. Tuan Jungkook telah mengancamnya. Lagipula Tuan Jungkook mengatakan kalau ketakutan mungkin bisa membahayakan kandungan Nona Yoongi.

Namjoon menatap kedua pasangan yang berpelukan itu dengan resah. Bagaimana dia bisa menyelamatkan Nona Yoongi dari cengkeraman Tuan Jungkook? Dan kenapa Tuan Jimin bisa terkalahkan dan tak sadarkan diri kembali?

TBC

PS: I'm officially back! Berakhir sudah penderitaan berkepanjangan di desa itu genggs :" and now I'm back ,anyone miss my remake?

Review dan aku akan bertambah semngat update~