Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 13-Chapter 19

Malam ini adalah malam pertama mereka sebagai suami isteri. Jimin berbaring bersamanya di atas ranjang dan lelaki itu sedang mempermainkan tali gaun tidurnya dengan menggoda.

"Apakah isteriku malam ini ingin dipeluk?" bisiknya sensual.

Yoongi menatap Jimin, mengagumi ketampanan lelaki itu dengan wajah khas Jerman-nya yang klasik bagaikan patung pahatan para dewa dan rambut uniknya yang bersulur keemasan. Dia sangat mencintai Jimin, dan sejauh ini keadaan baik-baik saja, Jimin tampaknya bisa menguasai Jungkook supaya tidak terbangun.

"Ya Jimin."

Jimin menelusurkan bibirnya dengan ringan di telinga Yoongi, membuat Yoongi menggeliat geli. Lelaki itu lalu mengecup telinganya dan memagutnya dengan penuh gairah. Ciumannya lalu berpindah ke rahang Yoongi, meninggalkan kecupan-kecupan panas di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mendongakkan dagu Yoongi.

"Kau sangat menggairahkan, dan kau adalah isteriku." Mata Jimin berkilat penuh gairah, suaranya serak dan sensual. Lalu lelaki itu melumat bibir Yoongi penuh nafsu, tangannya langsung bergerak ke bawah rok Yoongi dan membebaskan celana dalamnya.

"Kau sudah basah sayang, aku ingin memilikimu, segera..."

Yoongi merasakan gerakan-gerakan Jimin ketika membuka celananya, dan kemudian tanpa pembukaan, lelaki itu langsung menyelipkan kejantanannya, menelusup masuk ke dalam kewanitaan Yoongi yang basah, lalu menggerakkan tubuhnya penuh gairah, ke dalam ritme sensual yang tak tertahankan.

Yoongi mengikuti gerakan Jimin, berusaha mencapai gairah itu tanpa pertahanan apa pun, dan dengan cepat, mereka mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Mereka berbaring dengan napas terengah-engah. Yoongi memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Jimin yang terlentang. Sebelah lengan lelaki itu merangkulnya dan mengusap punggung telanjangnya dengan lembut,

"Apakah aku memuaskanmu?" Jimin bertanya dalam kegelapan.

Yoongi tersenyum dan mengecup dada Jimin, "Kau selalu membuatku puas."

Hening yang lama, napas Jimin terdengar teratur dan Yoongi mengiranya sedang tertidur, tetapi kemudian lelaki itu bertanya, sebuah pertanyaan yang membuat Yoongi mengernyitkan keningnya.

"Apakah ketika bersama Jungkook kau juga puas?"

Yoongi langsung malu ketika mengingat saat dia mencapai orgasmenya ketika bersama Jungkook. Bukankah dia sudah menyampaikan kepada Jimin, dan Jimin mengatakan bahwa itu hal yang sama mengingat dia dan Jungkook memiliki tubuh yang sama? Kenapa Jimin menanyakannya lagi?

"Ketika bersama Jungkook, itu murni hanya pemaksaan pemuasan jasmani." Yoongi menjawab juga kemudian, "Setelahnya aku merasa muak dan jijik kepada diriku sendiri."

Jimin tampak membeku mendengarkan jawabannya. Lelaki itu terdiam lama tetapi debaran jantungnya mengencang, sehingga Yoongi mengangkat kepalanya dan menatap Jimin bingung.

"Jimin?"

Tatapan mata yang diberikan Jimin kepadanya sangat tidak terbaca, tetapi ada gairah di sana. Gairah yang sepertinya membakar tubuh mereka berdua.

"Akan aku pastikan bahwa apa yang kita lakukan bukanlah pemaksaan jasmani semata," suara Jimin sedikit mendesis, "Dan setelahnya kau akan merasakan kenikmatan tiada tara sehingga selalu ingin lagi, dan lagi." Lelaki itu meremas pinggul Yoongi dengan penuh gairah.

"Naik lagi ke atasku Yoongi."

Dan Yoongi menurutinya. Menaiki Jimin dan membawa mereka berdua menuju kepuasan.

Jimin benar. Sesudah bercinta dengan Jimin malam ini, Yoongi akan selalu menginginkannya, lagi, dan lagi.

.

.

.

"Ada seorang wartawan yang ingin bertemu." Namjoon mengetuk pintu ruang kerja Jimin dengan hati-hati sambil mengabarkan kabar itu, "Dia memaksa, katanya dia tahu bahwa anda menyembunyikan Yoongi di rumah ini."

Jungkook mengangkat kepalanya dari kertas perusahaan yang dibacanya dan mengangkat alisnya jengkel, "Wartawan lagi, Namjoon?"

Namjoon merasakan pipinya memerah, merasa malu karena Jungkook menyindir kebodohannya memilih seorang wartawan seperti Hoseok untuk membantu pelariannya. Dia berusaha bersikap tenang di depan tuannya ini, sedikit saja dia terlihat takut dan gugu, tuannya ini akan menggilasnya tanpa ampun. "Dia bernama Jin. Katanya dia adalah temannya Hoseok... "

Jungkook mengangkat alisnya. "Teman Hoseok katamu? Apakah dia gencar mengganggu?"

"Dia tadi menelepon ke rumah. Mengatakan ingin berbicara empat mata dulu dengan anda. Katanya dia punya bukti bahwa Nona Yoongi ada dirumah ini dan anda sembunyikan..."

"Kau menyimpan nomor teleponnya?"

"Ya Tuan."

"Bagus, hubungi dia, katakan aku bersedia berbicara empat mata dengannya nanti malam. Suruh dia datang ke rumah ini setelah makan malam."

"Ke rumah ini? Bagaimana kalau dia nanti berpapasan dengan Nona Yoongi?" Namjoon bertanya dengan cemas.

Jungkook tersenyum, senyum yang kejam. "Yoongi akan naik untuk tidur setelah makan malam, dia selalu mengantuk lebih cepat sejak hamil. Jadi mereka tidak akan bertemu." Jungkook lalu menyeringa jahat, "Kalau pun mereka bertemu, aku yakin lelaki bernama Jin ini tidak akan sempat menceritakannya kepada dunia."

Tuannya ingin melenyapkan Jin... Namjoon membatin. Tuan Jungkook selalu melenyapkan orang-orang yang mengganggunya bagaikan melenyapkan serangga. Lelaki ini sungguh tidak mempunyai empati sedikit pun terhadap nyawa manusia...

Tetapi bagaimana pun juga, Namjoon harus melaksanakan perintah tuannya. Jika Jin sedang mengorek-ngorek berita tentang Yoongi, dia pasti tidak akan berhenti sebelum dibungkam. Apalagi Jin adalah teman Hoseok, dan apa pun yang berhubungan dengan Hoseok, itu adalah hasil kesalahan Namjoon.

"Tunggu apa lagi? Telepon wartawan bernama Jin itu." Jungkook menatap Namjoon tajam, "Dan sepertinya aku harus membereskan hasil keteledoranmu lagi, Namjoon."

Namjoon membungkukkan badan dengan hormat, "Saya akan menelepon sekarang Tuan."

Dia lalu melangkah pergi, penuh dengan rasa bersalah. Tetapi baru beberapa langkah, Jungkook memanggilnya kembali.

"Namjoon?"

Lelaki itu menoleh, "Ya Tuan Jungkook?"

"Panggil Taehyung juga malam ini. Katakan aku membutuhkannya."

Namjoon mengangguk dan membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan. Ketika melangkah pergi melalui lorong, Namjoon semakin yakin. Tuan Jungkook memang berniat untuk menghabisi Jin... Karena dia meminta Taehyung datang, Taehyung salah satu pegawai Tuan Jungkook yang paling setia sekaligus pembunuh yang sangat efektif. Kalau dia jadi Jin dia akan berharap tidak bertemu Tuan Jungkook malam ini.

.

.

.

Jungkook benar. Yoongi langsung naik ke atas untuk beristirahat setelah makan malam.

"Aku sangat mengantuk Jimin, entah kenapa."

Jungkook mengamati Yoongi dan bergumam lambat-lambat. "Mungkin karena kehamilanmu, sayang. Istirahatlah, aku akan menyusulmu nanti. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus kulakukan."

Jungkook berdiri dari kursinya dan membantu Yoongi berdiri, lalu mengecup dahi Yoongi lembut sebelum membiarkan Yoongi pergi tidur. Lelaki itu lalu menggulung lengan kemejanya sampai siku dan melangkah menuju ruang kerjanya, menunggu, Taehyung datang beberapa menit kemudian dan Jungkook menyuruhnya menunggu di luar ruangan kerjanya.

Jungkook tidak perlu menunggu lama, Jin rupanya tidak sabar untuk bertemu dengannya, hingga dia datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan.

Namjoon mengantarkan Jin sampai ke pintu ruang kerja tuannya, melirik sedikit kepada Taehyung yang berdiam di depan ruang kerja tuannya, bagaikan patung es. Kemudian Namjoon mengetuk pintu ruang kerja Jimin.

"Masuk." Suara Jungkook yang dalam menyahut. Namjoon membuka pintu itu dengan gugup sambil membawa Jin di belakangnya.

"Tuan Jin datang sesuai janji." Namjoon membungkuk hormat dan memberitahu.

Jungkook sedang duduk di atas kursi besarnya, di belakang meja kerja raksasanya. Kedua jemarinya menyatu dan sikunya bertumpu pada meja. Mengamati Jin dengan dalam.

"Tinggalkan kami sendiri, Namjoon."

"Baik Tuan." Namjoon ingin cepat-cepat pergi, dia tidak tahan kalau harus jadi saksi mata kekejaman Jungkook nanti.

Ketika pintu ruang kerja itu tertutup, Jungkook mengedikkan bahunya ke kursi di depan meja raksasanya, "Duduklah."

Jin menurut untuk duduk, matanya jelalatan ke sekeliling ruangan. Jadi inilah ruang kerja Park Jimin. Dia sungguh beruntung bisa memasuki rumah ini. Mungkin dia adalah satu-satunya wartawan yang bisa masuk sedekat ini dengan milyuner misterius yang sangat sulit didekati.

"Aku dengar kau mengatakan bahwa kau menuduhku menyembunyikan Yoongi di sini."

"Saya menemukan berkas catatan yang ditinggalkan Hoseok teman saya wartawan. Anda tahu dia menghilang begitu saja, bahkan seluruh isi meja kerjanya masih sama persis."

"Mungkin saat ini dia sedang berlibur dan bersenang-senang," Jungkook bergumam datar sambil terus memandang Jin dan mengamati setiap perubahan ekspresinya, "Catatan tentang apa?"

Bagus. Milyuner kaya ini tampaknya mulai tertarik. Jin bergumam dalam hati, "Catatan itu menyebut hasil wawancaranya dengan pedagang yang sering lewat rumah Yoongi. Pedagang itu bilang, nona Yoongi sebelum menghilang, berencana mengikuti ibunya, datang dan berkenalan di rumah anda."

"Hanya dari situ dan kau menyimpulkan bahwa aku menyembunyikan Yoongi di rumah ini?"

"Yoongi pasti ikut dengan Heechul ke rumah ini. Ketika Heechul meninggal, Yoongi menghilang begitu saja. Tidak pulang ke rumahnya, dan kebetulan kebakaran melalap habis tempat kerjanya sehingga dia tidak bisa dilacak di sana," Jin menatap Jungkook dengan berani, "Saya rasa Yoongi masih ada di rumah anda."

Lancang. Itulah yang pertama muncul di benak Jungkook. Lelaki ini dengan bodohnya menantangnya terang-terangan. Dan Jungkook tidak suka dengan sikapnya. Dia pasti belum tahu tentang Jungkook, kalau tidak dia tidak akan seberani itu.

"Yoongi tidak ada di sini. Saya tidak tahu keberadaannya setelah kematian Heechul."

Jin memandang Jungkook dengan tidak percaya. "Anda tidak bisa membodohi saya, Tuan Jimin, wartawan berkemah di sini lama sekali setelah kematian Heechul, mereka mengawasi dengan kamera-kamera mereka. Mereka tahu siapa yang keluar atau pun masuk rumah ini. Kalau Yoongi keluar dari sini mereka pasti tahu. Saya rasa anda menyembunyikan Yoongi di rumah ini."

"Kau tidak punya bukti."

"Memang tidak. Tetapi saya punya data Hoseok tentang informasi dari pedagang keliling itu,"

Jin tersenyum puas, "Saya akan memuatnya di koran kami, dan setelah itu spekulasi akan berhembus."

Dan wartawan akan berbondong-bondong mengincar rumahnya lagi, untuk membuktikan ada atau tidaknya Yoongi di rumah ini. Jungkook mengetatkan gerahamnya dengan marah, gerakannya tidak kentara. Tetapi fatal akibatnya. Karena itu tandanya lelaki itu sudah ingin membunuh.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Jungkook mendesis dan menatap Jin dengan tajam.

"Kesepakatan dengan anda. Atau mungkin sebuah info, dimanakah Yoongi berada?"

Jungkook menggelengkan kepalanya. Lelaki ini mengincar uang, sama seperti Hoseok temannya. Keduanya wartawan brengsek yang bukan hanya mengejar sensasi tetapi juga mengejar uang. Mereka tahu bahwa Jimin Leonidas sangat kaya, jadi mereka memerasnya. Kalau dia bisa membungkam Jin dengan uang, mungkin dia tidak perlu membunuhnya. Jungkook sangat ingin membunuh Jin. Tetapi dia berusaha menekan keinginan membunuh itu.

"Aku tidak tahu dimana Yoongi berada," Jungkook bergumam dingin, "Dan aku tidak suka ada spekulasi menyebar dari beritamu nanti. Berapa yang kau minta agar tidak membuat berita menyangkut Yoongi dan aku?"

Mata Jin berbinar. Dia hampir bisa mengendus ada uang banyak yang ditawarkan. Sifat tamaknya muncul, dia harus bisa mendesak lelaki ini agar mau memberikan uang yang sangat banyak kepadanya. Park Jiminpasti menyimpan sesuatu tentang keberadaan Yoongi, kalau tidak lelaki itu tidak mungkin dengan mudahnya menawarkan uang tutup mulut. Hanya orang yang merasa bersalahlah yang menawarkan uang tutup mulut.

"Saya akan pikir-pikir dulu." Jin menatap Jungkook dengan pandangan licik,

"Karena anda tahu, berita itu akan sangat menguntungkan saya, saya akan rugi besar kalau sampai tidak memuat berita itu. Anda tahu, kematian Heechul masih hangat di perbincangkan meskipun sudah berbulan-bulan, publik juga masih penasaran dengan keberadaan anak haram Heechul..."

Kurang ajar. Jin memang tidak sadar kalau Jungkook sudah berbaik hati kepadanya. Lelaki ini tidak tahu diri.

"Kabari aku kalau kau sudah tahu berapa yang kau inginkan."

Jin menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Jungkook.

"Terima kasih atas kerjasama anda, saya akan menghubungi anda nanti."

Jungkook tidak membalas uluran tangan Jin, dia hanya mengangkat alisnya dan menatap tangan Jin dengan pandangan menghina, membuat Jin dengan malu menarik tangannya lagi.

"Kalau begitu saya permisi." Jin membalikkan badannya dengan tidak nyaman.

Sementara Jungkook mengamatinya dengan pandangan menyipit, tatapan memangsa dari predator yang sedang mengawasi calon korbannya. Jin tidak tahu betapa beruntungnya dia karena Jungkook memutuskan melepaskannya dan tidak membunuhnya.

Tetapi mungkin keberuntungan tidak sedang mengikuti Jin, ketika dipintu, lelaki itu membalikkan tubuhnya dan menatap Jungkook dengan pandangan sok akrab, senyumnya tampak memuakkan, "Saya tahu Hoseok pasti sedang liburan dan bersenang-senang. Saya mengecek catatan teleponnya. Dia pernah menelepon kantor anda pada suatu malam. Lalu dia menghilang, pasti anda memberikan uang dalam jumlah besar kepadanya untuk menutup mulut juga ya."

Jin mengedipkan matanya, tampak puas diri. "Beruntung hanya kami berdua yang tahu informasi tentang Yoongi, jadi anda cukup membayar kami berdua. Saya ingin meminta uang lebih banyak dari yang anda berikan kepada Hoseok, dan saya akan melakukan hal yang sama seperti Hoseok. Saya akan menghilang untuk berlibur dan bersenang-senang."

Terlambat. Kendali Jungkook sudah lepas. Lelaki ini sedang menyerahkan dirinya sendiri ke tangan maut dengan bantuan mulut besarnya. Jungkook tersenyum keji sambil memajukan tubuhnya di kursi. "Hoseok tidak menerima sepeser pun uang dariku..." Jungkook mengamati ekspresi bingung di wajah Jin, "Begitu juga kau."

"Apa?"

"Aku sudah berbaik hati hendak membiarkan kau keluar dari pintu itu dengan selamat,"

Jungkook terkekeh, "Tapi orang bodoh memang tidak tahu kalau harus segera lari menyelamatkan diri."

"Apa maksud anda?"

"Apa maksudku?" senyum Jungkook tampak mengerikan, "Kau akan segera tahu."

Jungkook beranjak dari kursinya dan membuka sebuah kotak kaca dengan pinggiran perak yang indah. Dibukanya kotak itu, isinya satu set pisau koleksinya. Entah berapa nyawa yang sudah diakhirnya di pisau-pisaunya itu. Bahkan Jungkook sendiri tidak ingat. Dia tidak pernah menghitung siapa yang dibunuhnya bagaikan sebuah trophy. Dia membunuh bukan untuk kebanggaan. Dia hanya terbiasa menyingkirkan orang-orang yang mengganggu dan menghalangi jalannya. Orang-orang bodoh seperti Jin...

"Yoongi memang ada di rumah ini," Jungkook bergumam sambil mengambil sebuah pisau dengan ujung yang kecil dan lancip. Pisau itu berkilat terkena cahaya lampu. "Dia tinggal denganku, menjadi isteriku dan mengandung anakku."

Jin ternganga dengan informasi yang tidak diduganya itu, dia membatalkan niatnya keluar dari ruangan itu dan melangkah mendekat ke arah Jungkook. Informasi ini akan membuatnya terkenal. "Saya tidak bisa berjanji untuk menyimpan informasi itu Tuan Jimin," Jin bersemangat, dia akan segera ke kantor malam ini dan menyerahkan berita itu untuk dimuat besok, bosnya pasti akan sangat senang.

Jungkook membalikkan badan, menggenggam pisau itu dengan tidak kentara di tangan kirinya. Sambil mengamati Jin yang makin mendekat di dalam jangkauannya, "Aku tidak butuh janjimu."

"Jadi anda memperbolehkan saya memuat berita ini?" Mata Jin melebar kesenangan.

"Saya akan segera memuatnya sehingga besok seluruh headline akan membahas tentang anda dan Yoongi," matanya menyipit mesum, "Anda sungguh hebat, kehilangan ibunya tetapi bisa mendapatkan anaknya. Saya rasa anaknya pun senikmat ibunya, eh?"

Cukup sudah. Jungkook mendesis marah. Dan dengan gerakan secepat kilat, dia mendekati Jin dan sebelum lelaki itu tersadar, Jungkook menancapkan pisau itu di leher Jin, tepat di pembuluh darahnya. Pisau dengan ujung lancip dan kecil itu menancap begitu dalam di sana, hanya gagangnya yang terlihat menempel di leher Jin.

Jin melotot. Tidak menyadari apa yang terjadi. Dia menatap Jungkook dengan bingung. Tangannya gemetaran mulai merasakan sakit dan pening yang amat sangat. Jemarinya naik dan memegang gagang pisau yang menancap di leher sampingnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang ketika menyadari apa yang terjadi.

"Mulut besarmu itu membuatku muak. Kau tidak sadar kapan kau harus berhenti," Jungkook tertawa. Lalu dengan kejam dia meraih gagang pisau itu dan mencabutnya dari leher Jin.

Darah merah yang segar langsung memuncrat keras, memancar kemana-mana bagaikan pancuran yang tak mau berhenti, bahkan menciprati wajah Jungkook dan pakaiannya. Jungkook mengamati dengan tenang, ketika kehidupan perlahan surut dari wajah Jin. Dan kemudian lelaki itu jatuh berdebum ke lantai, bersimbah darah yang masih terus mengalir dari lehernya.

Dengan dingin Jungkook menatap Jin yang sudah menjadi mayat di kakinya. Lelaki itu mati dengan wajah terkejut dan mata melotot, seakan tidak percaya bahwa kematian begitu cepat menjemputnya. Jungkook lalu membalikkan tubuhnya, mengambil sapu tangan khusus dan pembersih alkohol, lalu mengelap pisau kecil yang masih bersimbah darah Jin. Setelah pisau itu bersih, dia meletakkannya kembali di kotaknya, mengembalikannya berjejer dengan koleksi pisaunya yang lain.

"Taehyung." Jungkook memanggil tak terlalu keras, tahu bahwa Taehyung yang sedang bersiaga di depan ruangannya akan mendengar.

Pintu terbuka dan Taehyung masuk. Mata lelaki itu menyapu dingin tubuh Jin yang tergeletak di lantai. Jungkook sedang mengelap percikan darah segar yang tadi muncrat di pipinya dengan sapu tangannya yan lain. Lelaki itu melepaskan jasnya yang juga terkena muncratan darah segar dan melemparkannya di lantai, di dekat mayat Jin.

"Bereskan dia," Jungkook melangkahi mayat Jin dengan dingin, seakan melangkahi gelondongan kayu yang tidak ada harganya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya, membiarkan Taehyung membereskan semuanya.

Di luar, Namjoon mengintip dan memejamkan matanya bingung ketika melihat Taehyung masuk dan Tuan Jungkook keluar lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.

Jin sudah pasti tidak akan keluar dari ruangan kerja Tuan Jimin. Well, dia mungkin keluar, tetapi sebagai mayat yang tidak bernyawa lagi. Begitu kejamnya Tuan Jungkook sehingga membunuh seperti bernafas baginya. Namjoon mencemaskan Nona Yoongi. Gadis itu tidak menyadari siapa yang sedang bersamanya. Kemampuan Tuan Jungkook bersandiwara sebagai Tuan Jimin sangat luar biasa.

Namjoon cemas, sampai kapankah Tuan Jungkook akan berpura-pura sebagai Tuan Jimin di depan Yoongi? Apakah dia akan merasa bosan pada akhirnya nanti dan memutuskan kembali menjadi Tuan Jungkook yang suka menyakiti? Namjoon berdoa dalam hati semoga Nona Yoongi dan kandungan di dalamnya kuat, mereka harus kuat kalau harus berhadapan dengan Tuan Jungkook.

.

.

.

Yoongi terbangun ketika mendengar suara pintu kamarnya di buka, dia mengangkat kepalanya dan melihat Jimin masuk. Sepertinya dia sudah tertidur lama dan ini pasti sudah larut malam. Jimin bekerja sampai larut, dia pasti lelah,

"Jimin?"

Jimin tersenyum, berdiri dalam kegelapan ruangan. "Tidurlah lagi Yoongi, maafkan aku mengganggu tidurmu, aku akan mandi dulu."

Malam-malam begini? Tetapi Yoongi tidak bertanya. Mungkin Jimin lelah dan memutuskan mandi air hangat akan melemaskan otot-ototnya yang pegal. Dipandanginya Jimin yang mulai melepaskan pakaiannya, tubuh Jimin begitu indah. Lengannya kuat dengan bisepsnya yang menonjol, dengan otot dada dan perutnya yang ramping tetapi keras. Dan lelaki itu adalah suaminya. Yoongi tersenyum dalam gelap, mensyukuri semuanya. Meskipun masalah Jungkook masih menjadi beban di benaknya, setidaknya mereka bahagia saat ini, menanti calon bayi mereka. Dengan lembut Yoongi mengusap perutnya, sambil mengamati Jimin yang melangkah masuk ke kamar mandi.

Yoongi sudah setengah tidur ketika merasakan Jimin menelusup ke dalam selimut di belakangnya. Lelaki itu memeluknya dari belakang, rambutnya basah dan badannya segar, aroma sabun dan aftershave yang begitu jantan.

Jemari Jimin menelusup dan meremas buah dadanya lembut, lalu ibu jari dan telunjuknya mengusap-usap puting Yoongi menggoda. Jimin mendekatkan tubuhnya kepada Yoongi dan menekankan kejantanannya di bagian belakang tubuh Yoongi. Saat itulah Yoongi menyadari, Jimin telanjang bulat di balik selimut, dan lelaki itu sedang sangat bergairah.

"Aku membutuhkanmu." Bisikan Jimin terdengar dalam dan misterius di tengah kegelapan kamar, membuat Yoongi mendesah dan memiringkan kepalanya ke belakang.

Jimin langsung menunduk dan melumat bibirnya dengan penuh gairah. Bibir mereka saling melumat tanpa ampun, Lalu Jimin menurunkan jarinya dan menarik turun celana Dalam Yoongi. Diangkatnya sebelah paha Yoongi ke atas, dan dari belakang dia menyusupkan kejantanannya yang keras ke dalam pusat diri Yoongi yang telah basah dan lembab, siap menerimanya.

"Kau selalu siap untuk kumasuki..." Jimin melumat bibir Yoongi, "Kau memang isteriku."

Jimin bergumam posesif dan jarinya menggoda, menggesek titik sensitif di luar kewanitaan Yoongi, menggodanya dengan gerakan-gerakan ahli, membuat Yoongi mengerang dipenuhi oleh sensasi kenikmatan.

Mereka bergerak dalam ritme sensual. Satu tangan Jimin mengangkat pahanya yang sedang berbaring miring, dan satu tangannya yang lain menggoda dan memainkan titik sensitif Yoongi. Sementara itu di bawah, tubuhnya menggoda liar, menggesek Yoongi dengan ritme yang menghanyutkan. Percintaan mereka begitu liar, hingga napas keduanya terengah-engah hanyut di dalam gairah.

Lalu Jimin menggigit telinga Yoongi pelan ketika pada akhirnya dia akan meledak, "Ikuti aku Yoongi… Ikuti aku…" bisiknya, memberikan isntruksi penuh gairah, agar Yoongi mengikuti perintahnya.

Yoongi menurut, membiarkan Jimin membawanya ke dalam pusaran orgasme dan pelepasan yang luar biasa nikmatnya. Lelaki itu meledak bersamanya, sama-sama jatuh ke dalam jurang kenikmatan yang dalam.

.

.

.

Lama setelah itu, Jungkook masih berbaring nyalang, memeluk tubuh Yoongi yang sudah lelap di lengannya. Perasaan itu muncul begitu kuat. Yoongi begitu bergairah ketika bercinta dengannya, memuaskannya dengan begitu dalam. Tetapi itu karena Yoongi menganggapnya sebagai Jimin. Jungkook ingin Yoongi bercinta dengannya, dengan menatap matanya dan mengetahui bahwa dia sedang bercinta dengan Jungkook, dengan dirinya.

Jungkook menunduk dan mengecup telinga Yoongi dengan posesif, "Kau milikku Yoongi... Dan akan terus menjadi milikku... Ingat itu..."

Suaranya bergema menembus kegelapan. Terdengar bagaikan sebuah janji yang menakutkan.

TBC

PS: neomu mianhae karna update lama lagi padahal udah janji update kilat :" ini dikarenakan saya kehilanggan belahan jiwa saya a.k.a hp saya HUWEEEEEE that's why saya jadi ga jelas begini :""""'

semoga pada menikmati dan ditunggu review nyaaaa buat nambah semangat huhu