Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 14-Chapter 20

Ketika Yoongi terbangun di pagi harinya, dia dipenuhi perasaan yang tidak enak. Mimpi itu lagi, mimpi pertemuannya dengan Jungkook, dan kemudian lelaki itu berbisik bahwa dia adalah milik Jungkook...

Yoongi bergidik ngeri. Kenapa dia memimpikan Jungkook lagi? Apakah diam-diam lelaki itu menjadi kuat dan mengirimkan pesan melalui mimpinya? Yoongi meraba samping ranjangnya dan menemukan ranjangnya kosong. Jimin sudah tidak ada di sana. Dia bergegas bangun dan melangkah ke kamar mandi.

Perutnya terasa mual. Yoongi melangkah ke arah wastafel dan menggosok gigi, tetapi tidak bisa menahan rasa mualnya dan muntah-muntah di sana. Setelah selesai dia menyalakan keran air keras-keras dan menyiramkan air ke mukanya. Yoongi lalu membuka pakaiannya dan melangkah ke pancuran air hangat, dia menyalakan keran pancuran dan membiarkan hempasan air hangat menimpa tubuhnya, melemaskan otot-ototnya.

Tubuhnya terasa pegal. Pegal yang nikmat. Percintaannya dengan Jimin begitu menggebu-gebu dan memuaskan. Jimin seolah tidak ada puasnya menyentuh Yoongi.

Ketika mereka tertidur dan tanpa sengaja tubuh mereka bergesekanpun, lelaki itu akan terbangun dan menggoda Yoongi dengan penuh gairah, membangunkannya dan mereka akan bercinta lagi. Yoongi mengelus perutnya yang mulai membuncit. Di dalamnya ada bayinya, buah cintanya dengan Jimin. Jimin bilang dia akan menjaga Yoongi dan bayinya, jauh dari jangkauan Jungkook. Tetapi benarkah Jungkook semudah itu dikalahkan?

Perasaan gelisah yang aneh menyergap Yoongi, membuat dadanya terasa sesak. Mimpi itu, mimpi di mana Jungkook mengatakan bahwa Yoongi adalah miliknya terngiang-ngiang jelas di benaknya. Yoongi merasa takut, takut kalau Jungkook benar-benar melaksanakan apa yang dikatakannya.

.

.

.

Yoongi turun menuju ruang makan dan menemukan Jimin sedang berbicara dengan pria yang dipanggil Jungkook dengan nama Taehyung, secepat wajah Yoongi pucat pasi, masih segar di dalam ingatannya ketika Taehyung waktu itu berdiri di rumah Hoseok dan kemudian Jungkook menyuruhnya membereskan mayat Hoseok. Lelaki itu jelas biasa-biasa saja melihat Jungkook membunuh seseorang, jadi dia pasti orang kepercayaan Jungkook, bukan Jimin. Kenapa Jimin berbicara kepadanya?

Mata Jimin melirik ke arahnya, lalu sedetik kemudian menatap ke arah Taehyung dengan dingin, "Kurasa sudah selesai Taehyung, kau boleh pergi."

Taehyung membalikkan badan dan langsung berhadapan dengan Yoongi yang berdiri ragu ketakutan di ambang ruang makan. Ada sedikit sinar geli di mata Taehyung melihat ketakutan Yoongi, dia menunduk memberi hormat sedikit dengan sopan kepada Yoongi, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Yoongi masih berdiri ragu di ambang pintu dan menatap Jimin dengan ragu. Apakah yang ada di depannya ini Jimin... ataukah Jungkook?

Jimin tersenyum dan mengerutkan keningnya melihat Yoongi hanya berdiri di situ, "Yoongi? Kemarilah."

Yoongi melangkah mendekat dengan takut, "Kenapa kau berbicara kepada Taehyung?" matanya melirik ke arah kepergian Taehyung.

Ekspresi Jimin tampak biasa saja, "Dia kepala pengawalku Yoongi, kenapa?"

Yoongi menelan ludahnya dan mengamati Jimin dengan cermat, berusaha mencari tanda-tanda, apa saja yang bisa memberitahunya siapakah yang sekarang ada di depannya.

"Dia ada di sana malam itu, ketika Jungkook membunuh Hoseok..." Yoongi berbisik dengan pelan sambil tetap menatap Jungkook. "Dia...dia biasa saja ketika melihat mayat itu, Jungkook.. Jungkook bahkan menyuruhnya membereskan mayat itu dan dia melakukannya.."

Jimin meletakkan garpunya dan menatap Yoongi dengan sedih, "Yoongi... maafkan aku karena kau harus mengalami kejadian itu, sungguh. Tetapi Taehyung masuk ke dalam rumah ini memang karena Jungkook yang membawanya masuk... dan aku berpikir dia diperlukan di rumah ini, kau tahu." Jimin menatap Yoongi dengan pandangan menyesal, "untuk membereskan 'masalah' yang dibuat Jungkook."

Yoongi menatap Jimin. Dia termenung dan kemudian ingatan itu datang. Ingatan akan kesedihannya, kehilangan seluruh keluarganya karena apa yang dilakukan Jungkook, "Dia akan selalu datang bukan?" Airmata menetes dari sudut mata Yoongi, mengalir ke pipinya, "Dia membunuh kakek dan nenekku dengan kejam... mereka memang sudah tua, tetapi mereka seharusnya bisa menghabiskan masa tua mereka dengan sehat, tetapi Jungkook membuat mereka sakit, mereka sakit hingga meninggal..." Yoongi menatap Jimin, napasnya terengah, terisak karena air mata,

"Jungkook juga membuatku tidak pernah bertemu dengan ayah kandungku dan keluarganya.. ayah kandung yang mencintaiku... Dan aku.. aku memang tidak dekat dengan ibuku, tetapi aku menyayanginya...dan Jungkook tetap merenggut itu semua dariku..." Tangisan Yoongi makin keras, "Semuanya direnggut oleh Jungkook... dia mengambil semuanya, dia mengambil semuanya dengan kejam... bahkan kaupun akan diambilnya..."

Jimin mengamati Yoongi dengan wajah tanpa ekspresi, dia berdiri dan mencoba memeluk Yoongi, tetapi Yoongi menjauh, dia memeluk dirinya sendiri dan membuat Jimin berdiri dengan ragu di dekatnya,

"Sayang, kau tidak apa-apa? Maafkan aku sayang, maafkan aku atas apa yang dilakukan Jungkook kepadamu." Kali ini Yoongi tidak menolak ketika Jimin berlutut di depannya dan memeluknya, "Kau tidak pernah mengatakan ini semua padaku, aku tahu kau sedih tapi aku selalu berpikir kau baik-baik saja."

Yoongi menatap Jimin yang berlutut didepannya, posisi kepala mereka sangat dekat dan mereka sejajar, lalu dia tersenyum ragu kepada Jimin, "Aku tidak marah kepadamu, aku memendam kemarahan kepada Jungkook, atas sikap kejamnya, atas hatinya yang dingin, membunuh orang-orang tanpa pandang bulu... " Yoongi mencoba tersenyum kepada Jimin. Dan Jimin menghapus air matanya dengan lembut,

"Apa yang dilakukan Jungkook dilakukan dengan tanganku juga. Karena itu, aku meminta maaf untuk kami berdua."

Yoongi mengangguk, tetapi kemudian dia mengernyitkan matanya, membuat Jimin memandangnya dengan cemas,

"Kenapa Yoongi...?"

"Perutku sakit..." wajah Yoongi pucat pasi, dia menatap Jimin bingung dan panik,

"Perutku... bayiku.."

Kepanikan langsung menyebar ke arah Jimin, "Kita ke rumah sakit sekarang!"

Diangkatnya Yoongi ke dalam gendongannya. Lelaki itu melangkah cepat menuju keluar rumah sambil meneriakkan beberapa instruksi kepada supir pribadinya.

Yoongi termenung, menahan sakit di perutnya. Tetapi kemudian keadaan ini, dalam gendongan Jimin ini membuatnya merasakan deja vu. Dia pernah mengalami hal ini, dibawa dalam gendongan Jungkook pada malam percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Hoseok. Cara menggendongnya sama. Semua terasa sama.

Jimin masuk ke dalam mobil sambil memangku Yoongi dan mobil itupun melaju ke luar, menuju rumah sakit. Yoongi merasakan jantungnya berdebar. Inipun terasa sama.

Dengan ragu dan takut, dia mengangkat kepalanya dan menatap lelaki yang sedang memeluknya dalam pangkuannya.

"Jungkook?"

Jimin tampak membeku mendengar panggilannya. Lalu dia menurunkan matanya dan menatap Yoongi datar. Seketika itu juga Yoongi sadar. Yang ada di depannya ini bukan Jimin melainkan Jungkook. Kenapa dia tak menyadarinya? Apakah karena Jungkook begitu pandai berakting sebagai Jimin? Oh ya Tuhan. Sejak kapan Jungkook berpura-pura sebagai Jimin?

.

.

.

Dokter sudah memeriksanya, dan Yoongi dibaringkan di atas ranjang ruangan privat Rumah Sakit itu. Jungkook mendekati dokter itu kemudian bercakap-cakap dengannya. Dia sama sekali tidak mengajak Yoongi berbicara ketika di mobil sampai dengan pemeriksaan di Rumah Sakit. Sementara itu Yoongi berbaring, menahan nyeri di perut bagian bawahnya di atas ranjang dan ketakutan yang berkecamuk di dalam benaknya.

Dokter itu pergi dan Jungkook lalu berbalik, melangkah mendekati ranjang pelan pelan dan berdiri dengan tenang di ujung ranjang.

Yoongi menatap Jungkook dengan tatapan menuduh penuh kebencian dan ketakutan yang bercampur menjadi satu, "Sudah berapa lama?" dia bertanya dengan suara bergetar, batinnya ingin mendapatkan jawaban dengan segera.

Sudah berapa lama Jungkook menguasai tubuh ini dan berpura-pura sebagai Jimin? Apakah selama ini dia bercinta dengan Jimin? Atau dengan Jungkook? Kepalanya terasa berdentam-dentam dan rasa sakit di perutnya semakin menjadi.

Jungkook melirik ke arah Yoongi yang memegang perutnya menahan sakit, tatapannya menajam meskipun ekspresinya masih datar, "Kau harus menahan emosimu Yoongi, dokter bilang itu membuat rahimmu kontraksi dan bisa membahayakan janinmu."

"Sudah berapa lama?!" Yoongi menjerit meneriakkan frustrasinya, tiba-tiba tidak merasa takut lagi kepada Jungkook. Lelaki itu telah menghancurkan hidupnya, semua yang dicintainya, dan kalau sekarang dia ingin menghancurkan Yoongi, Yoongi merasa kalau sudah tidak ada lagi yang harus dia pertahankan.

Jungkook menatap Yoongi dan kemudian jawaban itu keluar dari mulutnya, pelan dan menakutkan, "Sudah lama sekali Yoongi... jauh sebelum pernikahan kita."

Oh Tidak! Jadi Jimin sudah menghilang selama itu? Jadi selama ini dia bercinta bukan dengan Jimin tetapi dengan Jungkook? Ingatan itu berkelebat di benaknya dan membuatnya muak, bayangan dia bercinta dengan begitu berani, menunggangi suaminya, menggoda suaminya, membuka pahanya untuk suaminya, Tetapi ternyata dia bukan bercinta dengan suaminya, bukan dengan Jimin melainkan dengan sisi gelap suaminya, Jungkook.

Air mata mengalir lagi di mata Yoongi, dia menutupkan tangan di mulutnya untuk menahan erangan putus asanya, "Apakah selama itu Jimin tidak ada?"

Jungkook menggelengkan kepalanya, menatap Yoongi datar, "Dia ada di dalam sini dan tertidur."

Jantung Yoongi terasa diremas hingga terasa ngilu, ditatapnya Jungkook dengan penuh kebencian, "Kenapa kau harus muncul? Aku tidak menginginkanmu! Aku ingin Jimin! Kembalikan suamiku kepadaku!"

Dan Yoongi tertegun melihat ekspresi kesedihan, kesedihan yang nyata, terpantul jelas di wajah itu. Lelaki itu menatapnya dengan kesedihan yang berasal dari palung hatinya yang paling dalam. Seakan topeng kejam yang selama ini menutupi wajah Jungkook dipecahkan begitu saja, menampakkan wajah asli di dalamnya yang penuh dengan kesedihan,

"Aku ini ada Yoongi, aku ini nyata, sama seperti Jimin. Tetapi tidak ada yang menginginkanku Yoongi. Tidak pernah ada yang pernah menginginkanku."

Lalu lelaki itu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Yoongi dalam keheningan kamar rumah sakit.

.

.

.

"Para wartawan itu, mereka menunggu di luar." Taehyung melaporkan sambil melirik ke jendela menatap para wartawan dan reporter yang sudah bergerombol di dekat area parkiran rumah sakit, "Ada yang mengawasi rumah ketika anda membawa Nyonya Yoongi keluar tadi."

Jungkook mengernyitkan keningnya. Dia yang salah. Biasanya dia berpikiran dingin. Tetapi tadi entah kenapa secara impulsif dia membawa Yoongi tanpa pemikiran apapun. Dan dengan memakai salah satu mobilnya yang berkaca bening pula. Jungkook selalu memakai mobilnya yang berkaca paling gelap dan pekat. Tetapi tadi mobil berkaca bening itu yang sedang diparkir di luar dan tanpa pikir panjang Jungkook memasukinya.

Dia memang impulsif, tetapi mengetahui Yoongi kesakitan dan bayi mereka kemungkinan terancam membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

"Biarkan mereka mengendus tanpa henti. Kalau tidak ada konfirmasi apapun mereka akan mundur dengan sendirinya. Kau pastikan keamanan di sini terjaga. Tidak boleh ada orang luar yang memasuki area Yoongi. Periksa dokter dan perawat yang memeriksa Yoongi. Mereka harus orang-orang yang sudah terdaftar. Awasi mereka, jika kau menemukan mereka berani membuka mulut kepada pers, bereskan."

Taehyung menganggukkan kepalanya, "Akan saya lakukan Tuan Jungkook. Saya akan membereskan semuanya, anda bisa tenang." Dia lalu melangkah pergi.

Sementara itu Jungkook masih termenung. Memikirkan kata-kata Yoongi yang mengganggunya.

Yoongi membencinya. Dia tahu persis itu. Jungkook telah merenggut seluruh keluarga Yoongi dengan tangannya sendiri. Dan Jungkook telah terbiasa dibenci. Semua orang menginginkan Jimin dan menolak dirinya.

Tangannya menggenggam erat tanpa sadar. Menyadari hasrat terdalam di benaknya. Ternyata dia hanya ingin ada seseorang yang menginginkannya.

.

.

.

Hari ini Yoongi sudah boleh pulang, dia tahu itu dari perawat yang mengganti infusnya. Tetapi dia menunggu seharian penuh dan tidak ada tanda-tanda Jungkook akan membawanya pulang.

Yoongi sudah tertidur pulas ketika menjelang tengah malam dan Jungkook melangkah masuk, diikuti oleh beberapa pegawainya.

"Yoongi. Bangun." Jungkook sedikit mengguncang tubuh Yoongi, membuat Yoongi menggeliat dan membuka matanya. Dia langsung terkejut, terduduk dengan waspada sambil menatap Jungkook yang membawa selimut tebal di tubuhnya.

"Apa... apakah kau akan membunuhku?" Yoongi menatap ke arah selimut itu. Imajinasinya melayang, apakah Jungkook membangunkannya tengah malam untuk menusuknya dan kemudian membungkus mayatnya dengan selimut tebal itu untuk kemudian dibuang?

Ada bayangan geli di mata Jungkook ketika melihat ketakutan di mata Yoongi, "Bukan. Aku harus membawamu pergi, diam-diam di tengah malam. Kau sudah membaik dan sudah boleh pulang, tetapi aku tidak bisa membawamu begitu saja. Para wartawan itu, mereka mengendus keberadaan kita. Jadi kita harus sembunyi-sembunyi." Jungkook membungkuskan selimut tebal itu ke tubuh Yoongi, "Di luar akan dingin."

Benarkah Jungkook menatapnya dengan lembut? Yoongi mengamati lelaki itu dengan cermat, tetapi ekspresi Jungkook begitu datar dan tidak terbaca, dia membiarkan Jungkook mengangkat tubuhnya dan menggendongnya.

Mereka berjalan melalui koridor rumah sakit, menuruni lift khusus, dan melangkah keluar dengan hati-hati. Di luar sangat sepi, mereka memakai pintu samping rumah sakit yang paling jarang digunakan. Memang sepi, tetapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi?

Mungkin saja para wartawan itu sedang bersembunyi di semak- semak.

Sebuah mobil sudah menunggu mereka di depan sana. Dan tiba-tiba jantung Yoongi berdebar liar, kalau memang Jungkook akan menguasai tubuh Jimin selamanya, maka Yoongi harus melarikan diri. Dengan sekuat tenaga Yoongi meronta, hingga Jungkook yang tidak siap hampir menjatuhkannya. Merasa dirinya sudah lepas, Yoongi mencoba lari. Tetapi Jungkook mengejarnya dan meraih lengannya, mencengkeramnya erat-erat.

"Jangan bertindak bodoh, Min Yoongi."

Yoongi meronta dengan kuat, melihat bahwa jalan raya hanya beberapa ratus meter dari dirinya. Kalau dia bisa lari ke jalan raya itu, dia bisa meminta pertolongan seseorang.

Memang sudah tengah malam, tetapi di dekat rumah sakit biasanya masih banyak orang yang berjaga. Yoongi bisa meminta pertolongan siapapun yang ada di sana, polisi, bahkan mungkin wartawan. Jungkook tidak akan berbuat apapun kalau ada wartawan di antara mereka.

Rontaan Yoongi makin erat, diiringi rasa putus asa dan ketakutan yang luar biasa untuk melepaskan diri dari Jungkook yang kejam. Tiba-tiba ada kilatan blitz lampu kamera wartawan yang memotret mereka. Ternyata memang ada wartawan yang bersembunyi di sana.

Jungkook menoleh dengan marah, silau oleh lampu blitz itu. Dia melirik dan melihat hanya ada satu orang yang sedang memotret di sana. Kurang ajar.

"Taehyung!" dia memerintah dan pada saat yang bersamaan Taehyung sudah mengejar wartawan yang hendak lari setelah mendapatkan foto bagus itu. Taehyung menarik kamera wartawan amatiran itu dan menghancurkannya, dia menginjaknya sampai remuk. Dan entah ancaman apa yang diucapkannya kepada wartawan itu, karena sang wartawan langsung lari terbirit-birit.

Karena wartawan itu, Jungkook menjadi lengah, pegangannya pada Yoongi sedikit mengendor. Pada saat itulah Yoongi menyentakkan pegangan Jungkook sekuat tenaga, dia terlepas. Tanpa berani menoleh ke belakang dia lari sekencang-kencangnya, sekuat tenaganya menuju arah jalan raya, dia tahu Jungkook mengejarnya.

"Yoongi! Awas!"

Karena berlari begitu kencang, Yoongi tidak menyadari bahwa dia sudah menyeberang jalan raya. Di sisi lain ada mobil berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya dengan sangat kencang.

Yoongi menjerit, lampu mobill itu membuatnya silau dan dia yakin bahwa dalam

beberapa detik dia akan mati. Tetapi sebuah tangan yang kuat mendorongnya dengan keras hingga terguling ke aspal di seberang jalan yang sepi. Lalu terdengar suara rem berdecit dan tabrakan yang keras. Dan kemudian teriakan-teriakan panik orang-orang.

Yoongi bangun dari posisi badannya yang telungkup. Lutut dan telapak tangannya tergores oleh aspal, tetapi dia baik-baik saja. Dan kemudian dia terperangah menatap pemandangan di depannya.

"Jungkook?"

Jungkook terbaring di sana bersimbah darah, kepalanya berdarah, juga darah lain yang mengalir entah di bagian mana tubuhnya. Jungkook menyelamatkan nyawanya? Lelaki itu mendorong Yoongi agar selamat dari tabrakan itu dan membiarkan dirinya tertabrak.

Yoongi setengah merangkak mendekati Jungkook. Sementara itu Taehyung dan beberapa pegawai lainnya tertegun di sana, tetapi mereka segera memanggil bantuan dari Rumah Sakit,

"Jungkook?"

Lelaki itu masih sadarkan diri, dia memalingkan kepalanya dan menatap Yoongi, darah mengalir di kepalanya, membasahi pelipis dan mengalir turun ke rahangnya.

"Ironis bukan? Aku, Jungkook... merelakan diriku untuk menyelamatkan nyawamu..." lelaki itu tersengal dan matanya tampak berkabut, akan kehilangan kesadarannya. Tetapi dia menatap Yoongi dan melirik ke arah perutnya, "Apakah dia... bayi itu, baik-baik saja?"

Air mata mengalir di pipi Yoongi. Jungkook menyelamatkan nyawanya dan mencemaskan bayinya. Lelaki itu memang kejam, tetapi dia menyelamatkan Yoongi. Yoongi menganggukkan kepalanya, mulai terisak-isak. Sementara Jungkook tersenyum lega melihat anggukan kepala Yoongi. Jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Yoongi, meninggalkan bekas darah di sana, "Bagus. Jaga anak kita baik-baik..." lalu jemari itu lunglai ke aspal.

"Jungkook? Jungkook? Bertahanlah!... Jungkook?" Yoongi menjerit mencoba memanggil-manggil Jungkook.

Paramedis berdatangan, mencoba membantu Yoongi berdiri. Beberapa langsung

memeriksa Jungkook dan menjauhkan Yoongi darinya. Yang bisa dilakukan Yoongi hanya memanggil-manggil nama Jungkook dengan ketakutan yang amat sangat. Takut kalau lelaki itu pada akhirnya akan meninggal.

TBC

PS:

Boleh teriak ga ? YAK! MIN YOONGI!