Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 15-Chapter 22

"Jungkook..."

Jimin tertegun. Menatap ke arah Yoongi lagi, tetapi perempuan itu sedang tertidur pulas, matanya tertutup rapat dan napasnya teratur.

Dengan pelan Jimin melangkah menuju kamar mandi. Mencuci mukanya di wastafel, lalu mendongakkan wajah dan menatap cermin wastafel dengan tatapan tajam.

Lama Jimin menatap bayangannya di cermin, menanti Jungkook muncul dan berkomunikasi dalam benaknya. Tetapi semua terasa begitu hening.

"Dia mencintaimu juga. Yoongi mencintaimu juga." Jimin bergumam, lebih seperti berbicara dengan kehampaan yang kosong. Lalu menunggu. Tetapi tidak ada reaksi apapun dari dalam jiwanya. Tidak ada jawaban sinis dari kegelapan. Jungkook seakan sudah menghilang.

"Dia sedih karena berpikir kau sudah meninggal." Jimin dengan keras kepala melanjutkan, mencoba memanggil Jungkook, "Dia mencintai kita berdua dan bersedia memaafkan kita berdua. Mungkin sudah saatnya kita melakukan gencatan senjata dan membuat kesepakatan, demi Yoongi dan calon anak kita."

Hening.

"Bangun Jungkook, dimanapun kau berada. Kau diinginkan. Ingat itu." Jimin bergumam pelan sebelum melangkah pergi.

Dan kemudian dia merasakan sesuatu berdesir di dalam benaknya. Menggeliat dan mencoba untuk terjaga...

.

.

.

Yoongi menyadari bahwa Jungkook mungkin tidak akan muncul lagi, sepertinya kecelakaan itu telah benar-benar melenyapkannya. Dielusnya perutnya dengan lembut. Menyadari kesedihan dalam dirinya yang masih mencoba untuk sembuh. Jungkook memang pantas disalahkan atas semua kekejamannya. Tetapi Yoongi menyadari bahwa lelaki itu melakukannya sebagai pelampiasan kemarahan di dalam dirinya, karena dia dilupakan, karena dia kesepian, karena tidak ada yang menginginkannya.

Tiba-tiba Jimin sudah berdiri di belakangnya dan memijit pundaknya dengan lembut lalu mengecup pundaknya dari belakang, "Kenapa kau duduk sendirian di sini?"

"Aku sedang memandangi keindahan taman." Yoongi sedang duduk di teras halaman belakang rumah Jimin, menghadap ke taman luas yang dipenuhi rumput hijau dan bunga-bungaan.

Jimin mengambil tempat duduk di sebelahnya, lalu menatap Yoongi dengan serius, "Mengenai apa yang kau katakan tempo hari, bahwa kau juga mencintai Jungkook, benarkah?"

Yoongi tersenyum, "Maafkan aku Jimin..."

"Tidak. Kau tidak perlu minta maaf, bukan masalah untukku. Kau ingat bukan, aku malah pernah meminta kepadamu, kalau kau mencintai diriku, kau harus bisa mencintai Jungkook..."

Jimin menghela napas panjang, "Bahkan setelah apa yang dilakukan Jungkook kepadamu, kekejamannya dengan merenggut seluruh keluargamu, kau bisa memaafkan dan mencintainya?"

Yoongi memandang ke tengah taman dengan mata menerawang. Kekejaman Jungkook tidak bisa dimaafkan. Tetapi itu terjadi saat Jungkook masih sangat jahat. Ketika bersamanya akhir-akhir ini, Jungkook sepertinya sudah berubah, lelaki itu memikirkan bayinya, lelaki itu menyelamatkan nyawanya. Salahkah Yoongi kalau dia berpikir bahwa di dalam hati Jungkook yang gelap itu, masih ada kasih sayang di dalamnya?

"Aku memang tidak bisa menoleransi kekejamannya di masa lalu." Yoongi bergumam menjawab, "Tetapi apa yang dia lakukan untukku... aku merasa bahwa masih ada kesempatan untuk Jungkook, di dalam hatinya dia masih menyimpan sedikit kebaikan."

"Jungkook sangat kejam. Kau tidak takut lagi kepadanya?"

Yoongi menggelengkan kepalanya, dan mengusap pipi Jimin dengan lembut, membiarkan Jimin mengecup tangannya, "Dia adalah dirimu juga. Suamiku. Ayah dari anakku, dan tidak seharusnya aku takut kepadanya. Lagipula dia tidak pernah menyakitiku dengan sengaja."

"Apakah... apakah kau menginginkan Jungkook kembali?"

Yoongi tersenyum, "Semua orang pasti akan bilang aku bodoh dan terlalu mengambil resiko. Tetapi ya... aku menginginkan Jungkook kembali. Aku ingin ada saatnya Jimin dan Jungkook berdamai, saling berkompromi. Dan aku akan mencintai mereka berdua."

Jimin tersenyum, tiba-tiba senyum itu berubah menjadi senyuman khas yang dingin, "Hati-hati dengan permohonanmu, Yoongi...karena jika itu terkabul, kau harus menanggung akibatnya."

Jantung Yoongi langsung berdebar kencang. Dia menoleh ke arah Jimin dan menatap wajahnya cermat. Sekarang dia bisa mengetahuinya, dia bisa mengenali dan membedakan Jimin dan Jungkook dengan jelas. Jika mereka melakukan 'switching' dalam beberapa detikpun, Yoongi akan bisa mengenalinya.

"Jungkook..." Yoongi bergumam mantap, berusaha menahan senyumnya karena pengenalan itu, "Kau... kau tidak lenyap? Jimin bilang dia tidak bisa merasakanmu..."

"Tadinya aku memutuskan akan diam dan lenyap. Karena kupikir itu yang kau inginkan."

Jungkook menatap Yoongi dalam-dalam. " Tetapi Jimin memanggilku dan mengatakan bahwa kau... kau menginginkanku kembali. Kenapa Yoongi? Bukankah kau menginginkanku lenyap?"

Yoongi menggelengkan kepalanya, "Tidak... tidak lagi. Aku..." tiba-tiba pipi Yoongi memerah, dia telah mengatakan bahwa dia mencintai Jungkook tanpa tahu bagaimana perasaan lelaki itu kepadanya, Jungkook bisa saja belum berubah, masih jahat dan kejam.

Mungkin saja lelaki itu akan memanfaatkan perasaannya untuk mendominasinya. Bagaimana kalau itu terjadi? Ditatapnya Jungkook dengan ragu, lelaki itu masih menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.

"Aku tidak menginginkanmu lenyap, Jungkook." Akhirnya Yoongi bisa berkata.

Jungkook tampaknya masih belum puas, "Apakah karena kau merasa bersalah, karena aku menyelamatkanmu dari kecelakaan itu?"

"Bukan." Yoongi mengamati Jungkook yang sekarang duduk dengan ragu di depannya, lelaki ini begitu frustrasi untuk mendapatkan jawaban. Tiba-tiba terbayang di benak Yoongi, lelaki kecil yang menahankan pukulan-pukulan ayahnya, meringkuk sendirian di malam hari, merasa sakit dan kesepian, merasa tidak diinginkan oleh siapapun.

"Aku pernah mengatakan bahwa aku tidak menginginkanmu Jungkook. Tetapi aku salah, Aku menginginkanmu."

Seketika itu juga topeng dingin di wajah Jungkook runtuh, dia menatap Yoongi, seolah-olah takjub dan tak percaya, "Kau menginginkanku?"

"Ya Jungkook."

"Tetapi tanganku ini penuh darah." Jungkook menatap Yoongi, "Aku kejam dan jahat dan semua orang takut padaku."

"Kau tidak bisa membuatku takut padamu lagi." Yoongi menyipitkan matanya, "Kecuali kalau kau mengacung-acungkan pisaumu di depan mataku."

Jungkook tersenyum, "Aku tidak akan mengacung-acungkan pisau di depan matamu." Lalu wajahnya tampak sedih, "Tetapi akulah orang yang bertanggungjawab karena telah merenggut seluruh keluargamu darimu."

"Kau membunuh kakek dan nenekku."

"Ya." Jungkook menyipitkan matanya. "Aku tahu aku tidak termaafkan."

"Memang." Yoongi menatap Jungkook sedih, "Aku masih marah kepadamu mengenai itu. Dan kau membunuh ayahku, Hangeng."

"Sebenarnya Hangeng tidak masuk rencana. Tetapi tanpa kuduga dia ikut ke mobil itu." Jungkook memandang Yoongi dengan serius. "Aku minta maaf Yoongi atas semua kejahatan yang kulakukan kepadamu dan keluargamu."

Yoongi menatap mata Jungkook dan menemukan kesungguhan di sana. Jungkook tidak pernah menyesali pembunuhan yang dilakukannya, tetapi entah kenapa dia berhasil meminta maaf kepada Yoongi dengan tulus dan sungguh-sungguh,

"Bagaimanapun juga kau adalah ayah anak ini. Kau dan Jimin adalah ayah anak ini." Yoongi menatap Jungkook, "Maukah kau berjanji untuk menahan diri? Maksudku... keinginan membunuh itu, bisakah kau menekannya?"

"Kemarahan selalu menjadi kekuatanku. Aku selalu melampiaskannya dengan membunuh orang-orang yang menggangguku. Tetapi kalau kau memintanya..." Jungkook menatap Yoongi dengan serius, "Ya Yoongi, aku akan menahan diri... mungkin tidak dengan membunuh, mungkin melukainya sedikit.."

"Jungkook!" Yoongi menyela mengingatkan.

Jungkook tersenyum tanpa rasa bersalah, dia mengangkat bahunya, "Aku akan berusaha, Yoongi."

"Dan jangan suka mengancam dan menakut-nakuti orang-orang di sekelilingmu, auramu sudah cukup menakutkan tanpa kau harus mengancam mereka."

Perkataan Yoongi itu membuat Jungkook terkekeh. "Aku selalu yakin bahwa kau tidak pernah takut padaku. Waktu itu... ketika aku ingin membunuhmu, kau malah menawariku plester untuk membalut lukaku. Saat itulah aku tahu bahwa aku akan terus mencarimu."

"Namjoon bilang kau masih menyimpan plester itu dalam sebuah kotak di dalam brankasmu."

"Memang." Jungkook menatap Yoongi lurus-lurus, "Kadang-kadang aku suka menatapnya di malam hari, sambil membayangkan bahwa aku akan memilikimu suatu saat nanti."

Yoongi menghela napas panjang, "Kau sudah memilikiku. Kau sudah menjadi suamiku."

"Begitupun Jimin." Suara Jungkook berubah serius, "Akan seperti apa kita ke depannya nanti? Kau jelas-jelas tidak bisa memilih antara aku dan Jimin."

"Tidak, aku tidak mau salah satu dari kalian lenyap."

"Apakah kau... mencintai kami berdua? Maksudku.. semua orang selalu bisa mencintai Jimin, tetapi mereka tidak bisa menerimaku."

"Karena kau juga tidak bisa mencintai mereka, Jungkook."

Jungkook menganggukkan kepalanya, "Aku tidak pernah bisa menerima siapapun, Yoongi. Bagiku semua orang adalah musuh yang akan siap menyerangku kapan saja kalau aku tidak waspada. Tetapi sepertinya aku bisa menerimamu, dan kurasa... meski aku tidak pernah merasakan ini... sepertinya aku mencintaimu."

Hening. Dan Yoongi tertegun, Mencoba mengulang kata-kata Jungkook di benaknya. Apakah tadi Jungkook baru saja mengatakan cinta kepadanya?

"Kau? Bisa mencintai?" Yoongi menatap ragu, "Aku meragukannya, bukankah yang kau rasakan hanyalah obsesi dan dorongan untuk memiliki?"

"Bukankah cinta juga sama? Aku selalu berpikir bahwa cinta hanyalah bentuk puitis dari obsesi dan keinginan untuk memiliki satu sama lain. Tetapi selain itu, aku tidak bisa melukaimu. Aku senang bersamamu, dan aku menginginkan bayi itu." Jungkook mengedikkan bahunya ke arah perut Yoongi, "Bukankah itu berarti aku mencintaimu?"

Yoongi tersenyum dalam hati. Jadi seperti itukah definisi Jungkook untuk cinta? Lelaki itu benar-benar tidak pernah merasakan cinta sebelumnya. Mungkin Yoongi harus mengajarinya pelan-pelan, supaya Jungkook bisa membuka hatinya dan belajar menemukan kasih saying dan cinta di hatinya yang hitam kelam.

Yoongi yakin akan ada saatnya Jungkook mengerti tentang cinta, dan berubah menjadi lebih baik. Mungkin lama kelamaan Jungkook akan belajar mencintai yang sesungguhnya, Yoongi yakin akan ada saatnya di mana Jungkook tidak akan menyebarkan aura menakutkan lagi.

.

.

.

"Jadi kau kembali." Jimin bergumam pelan sambil menatap bayangan Jungkook di depannya.

"Ya. Aku kembali."

"Apakah kau akan membunuh orang-orang lagi dan mengotori tanganmu dengan darah?"

"Aku tidak janji." Jungkook mengangkat bahunya, "Tetapi aku sudah berjanji kepada Yoongi untuk lebih menahan diri."

"Kau memang harus lebih menahan diri. Kita akan menjadi seorang ayah."

Jungkook tersenyum, "Seorang ayah eh? Dari semua yang pernah kubayangkan, menjadi seorang ayah tidak pernah masuk dalam imajinasiku."

"Dalam imajinasiku juga." Jimin mengernyit, "Aku selalu menjauhkan kita berdua dari anak-anak, karena aku takut kau melukai mereka, kita sama sekali tidak punya pengalaman berdekatan dengan anak-anak. Aku bertanya kepadamu Jungkook, apakah kau akan melukai anak kita? Karena kalau jawabannya 'ya' maka aku akan menjauhkan kita, sejauh mungkin dari Yoongi."

"Kau bercanda? Aku tidak mungkin melukai darah dagingku sendiri."

Jimin memandang Jungkook tidak yakin, "Benarkah, bagaimana mungkin kau bisa begitu yakin? Kau kan belum pernah berdekatan dengan anak-anak."

Jungkook tampak berpikir, lalu kemudian dia tersenyum, "Dia anak Yoongi juga. Kau tahu, aku tidak akan melukai Yoongi, begitupun dengan anaknya."

Jimin menatap Jungkook dalam-dalam, sedikit tidak percaya, tetapi Jungkook tampak begitu serius, sehingga Jimin berpikir lelaki itu pantas mendapat kesepakatan,

"Karena itu kita harus berkompromi. Mau tak mau kita tinggal di tubuh yang sama, saling berbagi. Kita tidak bisa melenyapkan satu sama lain, kita harus melakukan kesepakatan."

"Kesepakatan? Kedengarannya menyenangkan." Jungkook tersenyum, "Dia mencintai kita berdua ya?"

"Dia mencintaiku dengan mudah." Jimin menyipitkan matanya, "Dan dia bisa mencintaimu juga, itu luar biasa. Mungkin hanya Yoongi yang bisa melakukannya, mencintai kita berdua."

"Aku setuju denganmu." Jungkook menatap Jimin dengan penuh ingin tahu, "Jadi kesepakatan apa yang harus kita lakukan?"

"Mulai dengan pengaturan waktu." Jimin bergumam. Menjelaskan kepada alter egonya apa yang harus mereka lakukan supaya bisa sama-sama tetap ada, menjadi pasangan Yoongi tanpa harus saling melukai satu sama lain.

.

.

.

Bulan-bulan berlalu tanpa insiden apapun. Hingga malam itu tiba waktunya Yoongi melahirkan. Jimin sudah membawanya ke rumah sakit sebelum kontraksinya makin sering. Dan dia sedang berbaring sambil menghitung kontraksinya, menanti detik-detik kelahiran bayinya.

Jimin terus menggenggam jemari Yoongi, meremasnya seolah ingin menyalurkan kekuatan ketika Yoongi mengerang menahan ketegangan kontraksinya dan membantunya mengingat bagaimana cara menghirup dan menghela napas untuk meredakan sakitnya.

"Kau tidak apa-apa sayang?"

Yoongi menatap Jimin penuh senyum, suaminya itu tampak cemas dan menatapnya dengan sedikit panik. Senyumnya melebar, berusaha meredakan kepanikan Jimin, "Aku tidak apa-apa Jimin. Kontraksinya makin sering. Kurasa tinggal sebentar lagi."

Diremasnya jemari Jimin yang sedang menggenggam tangannya, "Kau akan menemaniku kan?"

"Tentu saja." Jimin menganggukkan kepalanya dengan mantap. Membuat Yoongi menghela napas lega.

Kehidupan perkawinan mereka adalah kehidupan perkawinan yang unik. Tidak semua orang bisa mengalaminya. Tetapi Yoongi mengalaminya. Pada awalnya dia masih perlu beradaptasi. Seperti memasakkan makanan udang untuk Jimin, ternyata Jungkook yang makan malam bersamanya, dan lelaki itu tidak suka udang. Atau bercinta dengan Jimin hanya untuk bercinta lagi karena tiba-tiba Jungkook yang menguasai tubuh itu dan bergairah terhadapnya.

Semua terasa berbeda. Tetapi Jungkook dan Jimin telah mencapai kompromi. Dan dia belajar makin cepat, mengenali Jungkook dan Jimin dengan pasti, Jungkook tidak akan bisa berpura-pura sebagai Jimin lagi di depan Yoongi, karena Yoongi pasti akan langsung mengenalinya.

Tidak ada lagi pembunuhan yang dilakukan Jungkook dengan dingin. Dia telah belajar menahan diri, seperti yang dijanjikannya. Kalau Jungkook sedang tidak bisa menahan kemarahannya, maka dia sekarang memilih untuk mundur dan membiarkan Jimin yang menguasai tubuhnya dan mengambil alih permasalahan itu, cara itu terbukti bisa menahan Jungkook untuk melukai siapapun.

Yoongi bersyukur semua berjalan baik untuk mereka, dia menghela napas panjang, mengumpulkan tenaga selama jeda kontraksinya untuk menunggu kontraksi berikutnya yang akan lebih sakit dari sebelumnya.

"Sepertinya jeda kontraksinya makin cepat." Jimin beranjak dari duduknya, menoleh kepada perawat yang dari tadi memeriksa tekanan darah Yoongi,

"Apakah sudah waktunya?" tanyanya kepada perawat itu.

Sang perawat menganggukkan kepalanya, "Saya akan memanggil dokter, dan kami akan mempersiapkan ruang melahirkan."

.

.

.

Jimin sedang mencuci tangannya di wastafel dan mengenakan baju untuk masuk ke dalam ruang melahirkan. Dia akan menemani Yoongi untuk melahirkan anak mereka di dalam sana.

Tetapi dia lalu melihat bayangan Jungkook yang panik dan pucat pasi di kaca wastafel itu. Jungkook menatapnya dengan pandangan kesakitan dan ketakutan, seakan ada teror yang menghantuinya.

"Aku tidak bisa Jimin..." Jungkook bergumam sambil mengerang seolah kesakitan,

"Aku tidak bisa punya anak Jimin. Aku takut. Aku tidak tahu apakah aku akan menyakiti anak itu atau tidak."

TBC

PS:

Next Chapt ending… jumlah review menentukan kapan update yaak wkwk