BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo

Cast: All BTS member and other

Previous

"Baiklah Tae, apa kau lapar? Bagaimana jika kita makan malam bersama?" Menyerah dengan topik percintaan, SeokJin mencoba meredakan amarah sang adik dengan tawaran makan malam.

"Baiklah, Namjoon hyung yang bayar."

"Tentu." Balas SeokJin.

Dan Namjoon hanya bisa meratap di dalam hati, Taehyung pasti sudah menyusun rencana untuk menguras isi dompetnya malam ini. Bahkan Namjoon bisa melihat bayangan Taehyung yang menyeringai licik padanya lewat kaca spion.

BAB DUA

Memijit batang hidungnya, Jungkook membaca rekapan nilai mingguan evaluasi para trainee. Bibit-bibit muda yang perusahaannya siapkan belum cukup matang untuk dilepaskan ke dunia hiburan. Namun, di sisi lain persaingan semakin ketat terutama dari KMent. Menurut pengamatannya, mereka menyiapkan amunisi untuk membalas kekalahan tahun ini. Dan mereka tidak pernah main-main dalam persiapan.

"Omong kosong apalagi ini?!" geram Jungkook nyaris melempar majalah di atas mejanya keluar dari ruangan kantornya di lantai dua belas. "KMent. Agensi dengan para idol dan trainee berbakat. Jeon ent, agensi dengan para idol sesempurna model tanpa bakat." Geram Jungkook. "Siapa yang memberi penilaian murahan seperti ini? Aku yakin mereka tidak pernah menjadi trainee."

"Ini."

"Apa?!" mendongak menatap Jimin keheranan. "Kau datang di saat tidak tepat Jimin."

"Justru aku datang di saat yang tepat. Wajahmu itu terlihat sangat jelek, apalagi yang membuat emosimu naik?"

"Diam!" dengus Jungkook.

Jimin tersenyum lebar. "Semua tentang Kim Taehyung, jika kau ingin meminta maaf pada Taehyung akan lebih efektif jika kau pergi menemuinya setiap ada kesempatan."

Menghembuskan napas kasar Jungkook meneliti catatan rapi Jimin. Jimin lebih menyukai cara tradisional, mencatat rapi di atas buku tulis, membaca buku komik dan novel. Meski Jungkook menganggap Jimin tidak efisien tapi itulah Park Jimin. "Aku akan membacanya…," gumam Jungkook tak terlalu yakin.

"Bersemangatlah dapatkan maafmu dari Taehyung, dan—mungkin kau bisa mendapatkan hatinya." Goda Jimin mengedipkan mata kanannya kepada Jungkook.

"Jimin sekarang aku benar-benar ingin melemparmu keluar." Canda Jungkook. "Aku makan siang di luar sebentar." Ucap Jungkook lantas berdiri dan melonggarkan dasi yang melingkari lehernya.

"Kau bisa makan siang di tempat favorit Taehyung. Bagaimana?"

Kedua mata Jungkook menyipit mempertimbangkan tawaran Jimin. "Apa tidak terlalu cepat? Bagaimana jika dia merasa tidak nyaman?"

"Terserahlah." Balas Jimin santai. "Aku akan memberitahu para staf kau makan siang di luar."

Jungkook masih berdiri di depan meja kerjanya, menatap punggung Jimin yang melangkah pergi. Keningnya berkerut dalam, memikirkan kalimat Jimin nan menggoda itu membuat kepalanya pening. Makan siang di tempat favorit Kim Taehyung. "Baiklah kalau begitu." Gumam Jungkook. "Meski aku harus melakukan banyak persiapan, aku akan menemuimu hari ini Kim Taehyung."

.

.

.

Kedua kaki Taehyung bergerak-gerak ke depan dan ke belakang, nyaris menyerupai anak-anak yang sedang merasa senang. Memakai jaket abu-abu, duduk menghadap jendela toko serba ada. Menikmati cup mie instant dengan rumput laut kering dan sebotol air mineral, sempurna untuk sejenak melarikan diri dari penatnya pekerjaan.

Taehyung menggumamkan lagu kesukaannya selama beberapa hari terakhir. Mengunyah mie di dalam mulut perlahan. Ia tidak peduli dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. "Ini lebih enak dari masakan restoran."

Suara itu, tiba-tiba Taehyung merasakan tengkuknya meremang. Menoleh ragu-ragu ke kanan. Taehyung nyaris berteriak melihat siapa si pendatang. "Oh, halo Kim Taehyung. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini." Jungkook tersenyum lebar di akhir kalimat.

"Aku yakin ini bagian dari rencana licikmu." Gerutu Taehyung sebelum mengacuhkan Jungkook dan kembali dengan kesibukannya.

"Rencana licik apa?" tanya Jungkook seolah tanpa dosa.

Taehyung nyaris mematahkan sumpitnya karena menggenggam terlalu keras. "Pergilah aku tidak tertarik denganmu." Usir Taehyung.

"Tuan Kim apa Anda lupa, toko serba ada ini adalah fasilitas publik. Atau jika Anda merasa tidak nyaman lain kali jika Anda berniat makan siang di sini dengan tenang. Pesan semua toko, supaya para staf menutup toko ini selama beberapa menit demi kenyamanan Anda."

Alis Taehyung berkedut, tentu saja dia tidak akan melakukan hal berlebihan seperti itu. Menyambar botol air mineral kasar, meminum isi dalam beberapa tegukan besar. "Kau mengundang wartawan ke sini, terima kasih sudah menghancurkan hariku Tuan Jeon Jungkook." Ucap Taehyung kasar. Berdiri dan berjalan pergi.

Jungkook menjatuhkan sumpit di tangannya, bukan seperti ini yang dia inginkan. Dan Jungkook meratapi mulut menyebalkan miliknya yang untuk kedua kalinya sukses menyinggung perasaan Kim Taehyung.

Dengan cepat Jungkook mengejar Taehyung, menggenggam telapak tangan Taehyung tidak memberi pilihan lain untuk Taehyung. Awak media sudah menyambut keduanya di depan pintu, memaksa Taehyung dan Jungkook untuk tersenyum ke arah kamera.

"Apa yang kau inginkan Rubah licik?" geram Taehyung rendah sambil mencengkeram tangan Jungkook yang menggenggamnya.

"Ahhh….," Jungkook cukup kesakitan karena remasan Taehyung. Meringis menahan sakit, Jungkook membisiki Taehyung. "Aku ingin mendapatkan maafmu."

Tersenyum palsu ke arah kamera. "Kurasa kau pernah mendengar pepatah ini, kesan pertama yang terpenting. Dan kesan pertamamu benar-benar hancur, menurutku."

"Apa aku tidak bisa mengubahnya?"

"Tidak. Sekarang lepaskan tanganku, mobilku ada di arah berbeda."

"Beri aku kesempatan atau aku akan menciummu sekarang juga."

"Kau gila…," menoleh ke kanan menatap Jungkook tak percaya. Dan si Tuan Jeon justru tersenyum lebar.

"Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?"

Taehyung tersenyum miring. "Lakukan jika kau berani, aku jamin setelah itu wajahmu tidak akan tampan lagi. Dan kau butuh ratusan operasi plastik." Ancam Taehyung.

"Aku mencintaimu."

"Aku hanya bagian dari fantasi liarmu." Taehyung sengaja menekan ibu jari Jungkook keras.

"Ah!" pekik Jungkook kesakitan, melepaskan genggamannya dari tangan Taehyung kemudian melempar senyum ke arah kamera.

"Senang berbincang dengan Anda, Tuan Jeon Jungkook." Ucap Taehyung penuh kepalsuan sebelum melenggang meninggalkan Jungkook dan para awak media.

Menutup pintu mobil kasar, Taehyung bergegas pergi. Setelah dirasa cukup aman Taehyung langsung menghubungi seseorang.

"Halo." Jawab suara di seberang sana.

"Min Yoongi."

"Aku lebih tua dua tahun darimu, bodoh."

"Aku bosmu."

"Baiklah, apa yang mengganggumu sekarang?"

"Apa kau bersama dengan seseorang sekarang?"

"Ya."

"Park Jimin?"

"Ya."

"Min Yoongi temui aku di ruanganku dan berhenti menemui orang pendek jelek itu, sebelum aku mendatanginya dan menarik rambutnya!"

"Baiklah, sepuluh menit lagi aku ada di ruanganmu." Yoongi tahu untuk tidak bercanda dengan Kim Taehyung ketika bos mudanya itu sedang dalam suasana hati yang buruk.

"Kenapa?! Kenapa kau harus tertarik padaku Jeon Sialan Jungkook!" teriak Taehyung, tak masalah toh orang-orang di luar tidak akan bisa melihat dan mendengar suaranya.

Sekarang yang terpenting adalah kembali ke kantor dan berbicara empat mata dengan Min Yoongi.

.

.

.

Menunggu adalah hal yang sangat menyebalkan, untunglah Taehyung tak perlu menunggu Yoongi. Sebab, Yoongi sudah duduk manis di ruangannya saat dia tiba. "Halo Taehyung." Sapa Yoongi ramah.

"Katakan sekarang juga." Ucap Taehyung bahkan tanpa mendudukan dirinya terlebih dahulu.

"Apa?" mengerutkan kening, Yoongi tak paham dengan kalimat Taehyung.

"Aku yakin kau pasti mengatakan sesuatu tentangku pada Park Jimin."

"Tae!" pekik Yoongi terkejut. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Jeon…," Taehyung menghentikan kalimatnya. Tiba-tiba merasa ragu apakah dia harus mengatakan hal ini pada Min Yoongi.

"Jeon siapa? Jeon Jungkook? Pewaris Jeon ENT?"

"Hmmm.., bukan." Ucap Taehyung ragu-ragu.

"Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu." Menyipitkan kedua matanya, Yoongi menatap Taehyung tajam membuat Taehyung gelagapan.

"Ah itu…, bukan.., lupakan…, kurasa tadi aku salah bicara. Kau bisa pergi."

"Taehyung." Tuntut Yoongi.

Mengambil napas dalam-dalam lantas menghembuskannya kasar. "Ya, Jeon Jungkook. Dia mendekatiku dan aku tidak menyukainya. Aku yakin kau sudah mengatakan sesuatu pada Park Jimin lalu Park Jimin mengatakan sesuatu pada Jeon Jungkook. Tadi Jungkook menghampiriku di toserba favoritku! Aku tidak suka."

Yoongi nyaris tertawa mendengar kalimat polos Taehyung. "Lalu masalahnya apa? Bukannya bagus kalau Jungkook tertarik padamu. Siapa yang tidak menginginkan Jeon Jungkook."

"Kau!" hardik Taehyung. "Kau tidak menginginkan Jeon Jungkook, kenapa? Apa Park Pendek itu lebih baik dari Jungkook? Atau kau mengetahui sesuatu tentang Jungkook?"

"Jungkook bukan tipeku, Park Jimin tidak pendek. Dan kau jangan menilai orang dengan buruk."

Memutar kedua bola matanya malas. "Semua orang sudah tahu reputasi seorang Jeon Jungkook."

"Playboy?"

Taehyung mengangguk cepat.

"Kurasa dia bukan Playboy, maksudku dia memang bergonta-ganti kekasih tapi dia tidak pernah berselingkuh. Dia hanya mendapat penggganti dengan cepat."

"Kau membelanya?!"

"Tidak Taehyung….,"

"Aku akan membuat skandal kencan antara kau dan J Hope." Ancam Taehyung.

"Aku akan mengurus surat pembatalan kontrakku." Balas Yoongi.

Taehyung menjatuhkan tubuhnya dramatis ke atas sofa. "Kenapa kau tidak takut padaku…..," keluh Taehyung.

Yoongi tertawa melihat tingkah lucu Taehyung. "Tae apa kau benar-benar bosku, makan siangmu hancur hari ini. Apa kau mau menemaniku makan siang?"

"Ramen?" suara Taehyung berubah ceria.

Yoongi mengangguk sembari tersenyum.

"Baiklah aku ikut."

.

.

.

Taehyung bersenandung riang sementara Yoongi mengemudi. Sesekali Yoongi akan melirik Taehyung kemudian tersenyum. "Suasana hatimu membaik." Ucap Yoongi.

"Tentu saja, kau memutar lagu yang aku sukai Hyung."

"Hmm, baguslah kalau suasana hatimu membaik."

"Meski aku sedang marah Yoongi hyung juga tidak akan takut padaku."

"Karena kau terlalu imut."

"Apa Yoongi hyung tidak pernah bercermin?" tanya Taehyung dengan nada malas.

"Apa hubungannya dengan cermin?" tanya Yoongi tak paham.

"Wajah Yoongi hyung itu lebih imut daripada aku."

"Sudahlah Taehyung." Balas Yoongi dengan nada malas. Dia tidak terlalu suka jika orang-orang mulai mengatakan jika wajahnya imut.

Ketika mobil Yoongi berhenti di depan sebuah tempat yang terlihat seperti rumah tempat tinggal. Taehyung langsung melempar tatapan bingung. "Kita sudah sampai."

"Ini tempat makan siang kita?"

"Ya. Sebaiknya kita bergegas sebelum kakakmu panik mencari keberadaan adiknya."

"Aku bukan anak kecil lagi." Gerutu Taehyung.

"Ya, kau bukan anak kecil. Tapi kau adalah satu-satunya orang hilang saat perusahaan kita melakukan liburan bersama ke Selandia Baru."

"Sudah jangan diteruskan."

"Lalu seorang penduduk lokal menghubungi SeokJin hyung dan berkata. Apa kau Ayah anak ini?"

Taehyung memberengut sementara Yoongi tertawa terpingkal-pingkal.

"Kurasa penduduk lokal itu saja yang melihatku seperti anak kecil!" protes Taehyung.

"Ah benarkah? Sekarang jika aku meninggalkanmu di sini. Apa kau bisa pulang?"

"Aku membawa ponselku, semua pasti baik-baik saja."

"Tanpa ponsel?"

"Aku akan bertanya pada seseorang."

"Dan seseorang itu akan menghubungi kakakmu lalu bertanya, apa kau Ayah anak ini?" Yoongi masih gencar menggoda Taehyung.

"Sudah cukup!" teriak Taehyung kesal. Keluar dari mobil tanpa menunggu Yoongi dan berjalan menghentak menuju pintu masuk.

Menahan tawanya yang ingin meledak, Yoongi menyusul turun dari mobil dan berjalan di belakang Taehyung.

Taehyung terpesona dengan apa yang dilihatnya, seluruh restoran terlihat sangat nyaman. Pengunjungnya begitu tenang. Menikmati makan siang mereka sambil membaca buku. Dengung kipas angin terdengar merdu namun dengan cara yang sama sekali tidak mengganggu. Dinding restoran terpasang kayu palang sebagai rak untuk tempat buku. Ketika Taehyung bernapas ia bisa mencium aroma manis teh dan kertas buku bercampur menjadi satu. "Kenapa kau tidak pernah mengajakku ke tempat ini?"

"Kau selalu sibuk." Balas Yoongi. "Ayo mencari tempat duduk yang nyaman."

"Hmm." Gumam Taehyung.

Masih terpesona dengan keadaan restoran yang pertama kali ia kunjungi, Taehyung mengikuti langkah kaki Yoongi. Meja di pojok kanan ruangan diapit dua rak buku kira-kira setinggi seratus empat puluh sentimeter menjadi pilihan Yoongi. Mungkin Yoongi ingin mengurangi kemungkinan gangguan, begitu menurut Taehyung.

Keduanya duduk berhadapan Yoongi meraih buku menu kemudian menelitinya. "Kau ingin memesan apa?"

"Berapa kali Yoongi hyung ke sini?"

"Sebulan sekali, aku usahakan untuk bisa datang. Kau tahu sendiri aku tidak pernah punya kesempatan untuk berlibur dan datang ke tempat tenang seperti ini adalah liburan untukku."

"Aku akan berusaha memberikan Yoongi hyung waktu berlibur." Ucap Taehyung dengan nada bersalah.

"Kau ini…," balas Yoongi kemudian tertawa pelan. "Roti lapis dengan acar dan telur di sini sangat enak."

"Pesankan untukku juga, aku percaya Yoongi hyung."

"Mungkin selera kita berbeda."

"Aku sudah makan tadi jadi aku tak begitu lapar sekarang."

"Baiklah, biar aku yang memesan semua."

"Tak masalah." Balas Taehyung kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi yang dia duduki.

Sementara Yoongi menulis pesanan mereka pada lembaran kertas, Taehyung merasa tertarik untuk melihat-lihat koleksi buku di dalam rak-rak. Meski biasanya ia akan lebih memilih membaca buku komik, namun, ia tak pernah keberatan untuk membaca cerita atau buku yang lebih serius.

"Tempat ini menyenangkan." Ucap Taehyung sembari mengedarkan seluruh pandangannya meneliti setiap sudut restoran. "Tidak akan ada yang berani berbuat keributan di sini."

Yoongi tertawa pelan. "Tentu saja tidak akan ada yang berani berbuat keributan di sini. Daripada restoran tempat ini lebih tepat disebut perpustakaan."

"Hmm." Gumam Taehyung, tangan kanannya bergerak cepat mencomot biskuit cokelat di dalam toples, yang mungkin sengaja disediakan oleh pemilik supaya pengunjung tidak bosan menunggu pesanan datang. Taehyung kemudian berdiri dari kursi yang dia duduki.

"Kemana?"

"Melihat-lihat."

"Kembalilah saat makanan tiba."

"Ya."

Taehyung berjalan pelan melewati rak-rak buku. Meneliti setiap judul yang tertera pada punggung buku dengan. Sebagian memakai huruf Hangul sebagian tertulis dalam bahasa asing, Inggris, Spanyol, dan Perancis. Tersenyum setelah dirinya menemukan buku yang dirasa cocok untuk dibaca. Buku yang terlihat ringan dari penjabaran sinopisnya, namun cukup untuk memberi pengetahuan baru.

Memeluk buku itu di dadanya Taehyung bergegas kembali ke meja menghampiri Yoongi. Taehyung nyaris membanting buku di tangannya, melihat siapa yang kini duduk bersama dengan Yoongi. Park Jimin dan Jeon Jungkook. Kesialan Taehyung semakin bertambah karena Jimin memilih untuk duduk di samping Yoongi, berarti Jungkook akan menjadi teman duduknya.

"Taehyung makanannya sudah siap, duduklah." Ucap Jimin tersenyum ramah kepada Taehyung.

"Kita tidak saling kenal Park Pendek." Gumam Taehyung pelan. Tidak ada yang mendengar gumaman kesalnya kecuali dirinya sendiri.

Tidak ada pilihan lain, Taehyung duduk di samping Jungkook. Melihat banyaknya porsi makanan di atas meja sepertinya Yoongi sudah tahu jika Jimin dan Jungkook akan bergabung. Dan mungkin mengajaknya makan siang di restoran ini merupakan bagian dari rencana licik Jungkook, dengan dukungan Jimin dan Yoongi.

"Mixtape Suga hyung keren, aku sudah mendengarnya." Ucap Jungkook disela kegiatannya mengunyah telur.

"Terima kasih Jungkook." Balas Yoongi tulus.

"Jungkook tidak masalah kan jika minggu depan kita kalah karena Yoongi hyung?" tanya Jimin dengan nada lembut sambil memeluk lengan kiri Yoongi.

Taehyung ingin membenturkan kepalanya ke meja sekarang juga, melihat Yoongi yang biasanya galak justru tersenyum malu-malu dengan rayuan tak bermutu seorang Park Jimin. "Membosankan." Gumam Taehyung.

"Kenapa? Apa kau risih melihat sepasang kekasih?"

Menoleh ke kiri cepat, menatap Jungkook tajam. "Bukan urusanmu. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Membantu Jimin dia ingin bertemu dengan Yoongi hyung. Jika Jimin saja yang datang tidak akan baik untuk Yoongi hyung, untuk agensimu."

"Semua orang sudah tahu jika mereka berkencan apa yang perlu dicemaskan."

Jungkook tak menjawab dia memutuskan untuk mencoba sedikit roti lapis di hadapannya. Dan saat melirik Taehyung yang sedang membaca buku menarik dia tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak mengucapkan sesuatu. "Punya rencana untuk membuka kedai teh?"

"Tidak." Balas Taehyung ketus.

"Kenapa membaca buku tentang teh?"

Taehyung bungkam tak menanggapi. Sudah dua kali dalam satu hari ini, Jeon Brengsek Jungkook mengganggu kehidupannya. "Karena aku tidak menemukan buku yang aku inginkan."

"Memang buku seperti apa yang kau inginkan?"

"Buku membuat racun."

"Racun?!" pekik Jungkook terkejut.

"Ya, aku ingin melenyapkanmu." Balas Taehyung tanpa mengalihkan tatapannya pada lembaran buku yang dibacanya.

Mendengar jawaban Taehyung, membuat Jungkook menelan roti lapisnya susah payah, sedangkan Jimin dan Yoongi mati-matian menahan diri agar tawa mereka tak meledak lalu menarik perhatian seluruh pengunjung.

TBC

Haloo semua terima kasih untuk review kalian dan terima kasih untuk semua yang sudah membaca cerita ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Terima kasih Strawbaekberry, yoongiena, viviana, tiannunna, Guest, VKookKookV, MyraKookV, thiefhanie fha, Glennmoore WW, AprlilKimVTae, TaeTae Track, kanataruu, Kyunie, GaemGyu92, Hastin99, srirahayuKookV, Fayyumiko, namusaurus1, KaiNieris, vivikim406, purplesya, Park Rinhyun Uchiha, amandayupi.