BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

"Bukan itu, ah itu termasuk sih tapi aku sudah tahu jawabannya. Hyung akan menjawab Ayolah mengurus perusahaan saja sudah membuat rambutku nyaris botak bagaimana aku bisa berpikir tentang anak."

SeokJin tersenyum hambar mendengar kalimat panjang lebar Taehyung. "Cepat tanyakan." Perintah mutlak SeokJin.

"Tidak jadi, lupakan saja SeokJin hyung."

"Aku akan menerormu." Ancam SeokJin."

Taehyung mengerucutkan bibirnya. SeokJin mulai lagi dengan sikap menyebalkannya. "Bagaimana ciri-ciri laki-laki yang serius? Dari pengalaman SeokJin hyung dengan Namjoon hyung?"

"Taehyung apa kau jatuh cinta?"

BAB EMPAT

"Jatuh cinta?!" pekik Taehyung dengan nada meremehkan. "Aku tidak sedang jatuh cinta. Tentu saja tidak. Hanya penasaran."

"Atau jauh di dalam dirimu kau menginginkan seseorang yang tepat, yang akan memilikimu, mendampingimu dalam suka dan duka, menerimamu apa adanya, dan selalu untukmu."

"Sudahlah jangan mulai lagi SeokJin hyung, Hyung terlalu melankolis. Aku tidak pernah memikirkan hal itu, ada banyak hal yang lebih penting dari cinta, kekasih, dan pernikahan."

"Baiklah, baiklah, aku tidak ingin membuat harimu buruk. Aku tidak akan membicarakan tentang cinta dan pernikahan lagi denganmu."

"Itu bagus." Balas Taehyung kemudian tersenyum puas.

"Mengenai ciri laki-laki yang serius menjalin hubungan, apa kau masih ingin mendengarnya?"

"Jika SeokJin hyung tidak keberatan."

"Memangnya kenapa aku harus merasa keberatan?"

"Biasanya ada banyak alasan yang membuat kehidupan Hyung terasa berat, SeokJin hyung nyaris mengeluh setiap detik."

"Apa aku separah itu?" tanya SeokJin sambil menoleh singkat kepada Taehyung.

Taehyung mengangguk cepat. "Tanyakan saja pada Namjoon hyung, terkadang aku kasihan melihat Namjoon hyung yang tampak tertekan karena omelanmu Hyung."

Seokjin menahan diri untuk tidak menjitak kepala adik satu-satunya, karena telah menebar fitnah. Ayolah, SeokJin yakin dirinya tak seburuk ucapan sang adik.

"Hyung." Panggil Taehyung yang sudah menunggu cukup lama untuk mendengar penjelasan SeokJin tentang ciri laki-laki serius, namun sang kakak yang tak kunjung bersuara membuat Taehyung nyaris jengkel. "Mau cerita atau tidak?" tuntut Taehyung tak tahu diri.

"Aku sedang menahan diri untuk tidak menjitak kepalamu." Desis SeokJin.

"Kenapa Hyung ingin menjitak kepalaku? Apa salahku?"

Kening SeokJin berkerut dalam, dia tidak paham darimana Taehyung bisa disebut jenius? Taehyung itu lebih sering bersikap seenaknya sendiri, egois, dan menyebalkan, ah Taehyung juga sangat manja. Jangan lewatkan bagian itu.

"Ahhhh!" SeokJin frustasi. "Rasanya lebih menyenangkan jika aku berbicara dengan mobil."

"Jangan!" pekik Taehyung yang cukup membuat SeokJin terkejut. "Aku tidak mau SeokJin hyung diliput media, dengan berita yang tidak enak dibaca dan tidak enak didengar." Balas Taehyung, antara tidak sadar atau tidak ingin menyadari kalimat sindiran sang kakak.

"Baiklah Kim Taehyung sebelum darahku mendidih, akan aku katakan semua yang aku ketahui tentang laki-laki yang serius menjalin hubungan. Dengarkan baik-baik aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Tentu." Taehyung menjawab tanpa ragu.

Menarik napas dalam-dalam pada akhirnya SeokJin berhasil meredam amarah. Menurunkan kecepatan mobilnya untuk memberi cukup waktu bagi dirinya bercerita kepada sang adik. "Dia akan serius mengejarmu, bukan hanya main-main, dia tulus melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, dia akan jujur padamu mengakui kekurangan dan kelebihannya."

Taehyung mendengar dengan setengah hati, semua kalimat yang sang kakak ucapkan tentang laki-laki serius tidak ada pada Jungkook. "Apa kau sedang membuat perbandingan?"

"Perbandingan apa?"

"Jungkook dengan semua laki-laki yang pernah menyatakan perasaannya padamu?"

Taehyung terperanjat, namun dia dengan mudah menampakan ekspresi wajah santai kepada SeokJin. "Aku tidak membuat perbandingan."

"Tae…," gumam SeokJin kemudian tersenyum miring. "Aku senang jika kau mulai memikirkan kehidupan cintamu."

"Apa aku terlihat begitu mengenaskan dimatamu Hyung?"

"Apa kau akan selamanya berpikir seorang diri itu adalah pilihan yang tepat?"

Menarik napas dalam-dalam, Taehyung tidak ingin memicu pertengkaran namun SeokJin memilih topik pembicaraan memuakkan. "Seperti SeokJin hyung yang tidak ingin memikirkan tentang keturunan, aku juga sama. Aku memiliki pendapatku sendiri tentang pasangan hidup."

"Aku memikirkan keturunan tentu saja aku memikirkannya, hanya saja…,"

"Sekarang bukan waktu yang tepat." potong Taehyung. Menoleh ke kiri menatap sisi kanan wajah sang kakak. "Lalu kapan?"

SeokJin terdiam, tak menjawab.

"Mungkin Hyung juga berpikir seperti itu tentang kehidupan cintaku, kapan aku menemukan seseorang yang tepat, atau kapan aku mulai berpikir tentang pasangan."

"Kurasa berkeluarga adalah masalah yang pelik untuk kita berdua. Aku menikah tapi menolak untuk memiliki anak, dan kau—bahkan tak berpikir tentang pasangan sama sekali."

Taehyung tersenyum mendengar kalimat sang kakak dan dengan cepat senyuman itu berubah menjadi tawa keras dari keduanya. "Taehyung."

"Ya?"

Tawa Taehyung terhenti dan kini perhatiannya sepenuhnya untuk SeokJin, setelah mendengar nada serius dari kalimat SeokJin.

"Satu hal yang harus kau ingat, jika kau mungkin tertarik pada seseorang. Tae." Tegas SeokJin saat melihat ekspresi wajah sang adik yang nampak bosan. "Jika dia benar-benar mencintaimu dia akan menjagamu dan bersikap sopan padamu."

"Tentu." Balas Taehyung, kemudian mengalihkan perhatiannya pada jendela mobil di sisi kanan tubuhnya. "Jungkook tidak bersikap sopan padaku." Ucap Taehyung di dalam hati, jadi kesimpulan yang Taehyung ambil adalah Jeon Jungkook hanya ingin bermain-main dengannya.

.

.

.

"Jadi—apa yang mengganggumu Tuan Jeon Jungkook?"

"Jimin hentikan…, jangan memanggilku dengan cara menjijikan seperti itu."

Jimin hanya tertawa mendengar protes Jungkook. Menaikkan dan meluruskan kedua kakinya ke atas meja kopi. Jimin memasukkan beberapa potong kentang goreng ke dalam mulutnya.

"Seharusnya aku bisa pergi berkencan dengan Suga hyung, bukannya berakhir di rumahmu, menonton film komedi yang tidak lucu, dengan kentang goreng dan soda. Aku merasa seperti orang paling menyedihkan di seluruh dunia sekarang." Gerutu Jimin panjang lebar.

"Kau bisa pergi sekarang."

"Aku tidak akan meninggalkan sahabatku yang sedang bersedih seorang diri." Balas Jimin kemudian terkekeh pelan.

Jimin melirik Jungkook curiga karena biasanya Jungkook akan marah dengan setiap candaan tak bermutu darinya, lalu akan memukul atau memaki dirinya. "Jungkook aku benar-benar mencemaskanmu sekarang, katakan apa yang mengganggumu?"

"Mungkin kau benar."

"Benar apanya?"

Jungkook menoleh ke kiri menatap wajah Jimin serius. "Aku jatuh cinta."

"Astaga Jungkook! Kau tidak boleh mencintaiku!" pekik Jimin histeris.

"Aku tidak jatuh cinta denganmu, Park bodoh." Gerutu Jungkook.

"Itu melegakan….," balas Jimin lalu tertawa keras.

Jungkook lantas menyandarkan punggungnya pada sofa yang dia duduki, merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Menatap langit-langit berwarna putih dengan ukiran rumit di atas kepalanya. "Aku tidak akan berbohong, awalnya aku menginginkan Taehyung sama seperti yang lain. Menyeretnya ke tempat tidur, menguasainya dalam satu malam."

"Lanjutkan." Perintah Jimin kali ini ia berada di posisi yang sama dengan Jungkook, menatap langit-langit dengan kepala berada di atas sandaran sofa.

"Lalu saat aku melihat Minjae mencium Taehyung, aku menginginkan Taehyung dalam posisi yang berbeda….,"

"Kau berharap kaulah yang mencium Taehyung bukan pemuda bernama Minjae itu?" potong Jimin.

"Ya, itu tak sepenuhnya salah. Tapi tak sepenuhnya benar. Aku menginginkan hal lain dari Taehyung, aku melihat Taehyung dengan cara yang berbeda setelah kejadian itu."

"Kau melihat Taehyung seperti apa sekarang?"

Jungkook tertawa pelan, tangan kanannya mengangkat kaleng soda kemudian meminumnya. Jimin dengan setia menunggu kata apapun yang ingin Jungkook ucapkan. "Kau akan tertawa setelah mendengar ucapanku."

"Aku pendengar yang baik." Ucap Jimin mencoba meyakinkan Jungkook.

"Aku ingin—ingin Taehyung menungguku saat aku kembali dari kantor, mengobrol bersama, dan bermain dengan anak-anak kami. Ya, aku memikirkan semua itu bersama Taehyung."

"Oh." Balas Jimin.

Jungkook menoleh cepat menatap sang sahabat. "Kau tidak tertawa?!" pekik Jungkook tak percaya.

"Kenapa aku harus tertawa? Apa itu hal yang lucu? Sejujurnya aku juga memikirkan hal itu dengan Yoongi hyung."

Kemudian tatapan Jimin berubah sendu.

"Tapi rasanya itu sangat sulit, mengingat bagaimana posisi kami sekarang. Yoongi hyung sangat terkenal sedangkan aku—aku bukan apa-apa."

"Taehyung pewaris perusahaan saingan perusahaan keluargaku, dan Taehyung sama sekali tak tertarik padaku. Kurasa aku lebih tragis darimu Jim, mengingat kau dan Yoongi hyung saling mencintai, setidaknya kalian berada di posisi yang lebih baik dariku."

"Aku cukup terhibur mendengar kalimatmu Jungkook."

Menegakkan tubuhnya, Jungkook berdiri dari sofa dan meninggalkan sodanya di atas meja kopi. "Aku tidur Jim, kau menginap?" Jimin mengangguk pelan. "Kau bisa tidur di kamar manapun kecuali kamarku."

"Siap Bos!" pekik Jimin diselingi tanda hormat.

Jungkook mengepalkan tangannya berpura-pura akan memukul kepala Jimin, membuat Jimin dengan tergopoh-gopoh menarik bantal sofa untuk melindungi kepalanya. "Bodoh!" maki Jungkook melihat tingkah konyol Jimin.

"Jeon Jungkook!" Jimin berteriak kesal menyadari Jungkook hanya mempermainkannya saja.

Menutup pintu kamar, meredam suara televisi dan teriakkan kekesalan Jimin. Dan baru detik ini Jungkook sadar betapa sepinya rumah yang dia tinggali. Dan baru detik ini dia merindukan kehadiran orang lain di dalam hidupnya. Merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidur yang kali ini terasa terlalu luas untuk dirinya sendiri.

Menatap bagian ranjang yang kosong, membayangkan Taehyung berbaring di sana. Mengobrol tentang banyak hal, menggenggam tangannya, dan memeluk tubuhnya. Jungkook pada akhirnya hanya bisa tersenyum geli menyadari betapa bodoh semua pemikirannya saat ini. Lampu penerangan dimatikan, Jungkook siap mengakhiri hari yang melelahkan ini. Dan besok, mungkin besok dia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memperbaiki hubungannya dengan Taehyung.

Jika waktu bisa diputar ulang, Jungkook akan mengunci rapat mulut bodohnya saat di depan Taehyung. Menyapa Taehyung dengan cara sopan, dan mungkin dengan itu dirinya bisa berteman dengan Taehyung tanpa perlu bersusah payah seperti sekarang.

.

.

.

Jungkook berulang kali menjilati bibir bawahnya, dia benar-benar gugup sekarang. Hal yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Ya, Jeon Jungkook terlalu percaya diri untuk merasa gugup. Bahkan ketika dirinya melangkah memasuki gedung agensi milik keluarga Kim, ia sama sekali tak merasa terganggu dengan semua tatapan yang ditujukan padanya. Tapi sekarang berbeda, dia berdiri di hadapan seseorang yang mampu melumpuhkan seluruh fungsi otaknya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku?"

"Ya, kau. Siapa lagi?"

"Bertemu dengan SeokJin hyung."

"Untuk apa?"

"Bisnis, apa kakakmu tidak mengatakan apa-apa padamu?"

Kening Taehyung berkerut dalam.

"Kurasa kau tidak mendengar apapun. Perusahaanmu akan bekerjasama dengan perusahaanku, itu strategi jenius untuk menguasai pasar. Kau pasti memiliki pemikiran yang sama denganku." Jungkook tersenyum lebar dia akhir kalimat.

"Entahlah." Balas Taehyung acuh tak acuh.

"Hmm." Hanya gumaman yang bisa Jungkook keluarkan sebagai balasan, sungguh dia ingin menjawab dengan jawaban yang sedikit cerdas namun semuanya tak berarti sekarang.

Memperhatikan penampilan Taehyung dengan kemeja putih, dan jins biru ketat membungkus kedua kaki jenjang itu dengan sempurna. Jungkook memuji di dalam hati betapa sempurnanya seorang Kim Taehyung.

"Pergilah, SeokJin hyung bukan orang yang sabar."

"Kau tidak ikut?"

"Para idol bukan urusanku."

"Kau di bagian apa?"

"Aku mengurusi trainee." Ucap Taehyung sebelum berjalan pergi meninggalkan Jungkook.

"Kim Taehyung hyung!" panggil Jungkook sambil mengejar Taehyung.

Taehyung menghentikan langkah kakinya, menoleh menatap Jungkook bingung.

"Mungkin kita bisa makan siang bersama?" tawar Jungkook. "Kau setuju untuk mulai berteman denganku." Sambung Jungkook melihat ekspresi wajah Taehyung yang hendak menolak.

"Kapan aku mengatakan hal seperti itu?"

"Di mobil, saat aku menyelamatkanmu dari Minjae."

"Ah itu." Balas Taehyung setengah hati.

"Jadi bagaimana?" tuntut Taehyung.

"Baiklah jika urusanku sudah selesai." Jawab Taehyung lalu tersenyum. Kemudian keduanya berpisah, Jungkook harus bergegas menemui SeokJin sementara Taehyung harus bergegas melihat para trainee.

"Aku tidak akan makan siang denganmu Jeon Jungkook." Gerutu Taehyung di dalam hati.

.

.

.

Menghembuskan napas lega, Taehyung merasa bebannya untuk minggu ini sudah berakhir. Menilai para trainee bukanlah hal yang mudah, melihat tatapan penuh kekecewaan saat dirinya memberi nilai tak memuaskan sesungguhnya membuat Taehyung merasa terbebani. Tapi, itu pekerjaannya. Memastikan para trainee terbaik yang bisa debut, mereka akan menghadapi dunia yang lebih berat dibanding hari-hari panjang sebagai trainee.

"Hai."

Taehyung terperanjat, melihat Jungkook berdiri di hadapannya tepat saat Taehyung mendorong pintu ruang latihan untuk keluar. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Makan siang bersama, kau sudah berjanji padaku." Jungkook memberikan senyum termanisnya.

"Ah aku….," Taehyung berusaha menghindar.

"Aku tidak meminta banyak waktu darimu, aku sudah membeli makan siang untuk kita."

"A—apa?!" Taehyung menatap Jungkook tak percaya.

"Pertemuan dengan SeokJin hyung berlangsung cepat, Seokjin hyung bahkan mengantarku ke sini. Kulihat kau sedang sibuk jadi aku memutuskan untuk membeli makan siang. Kupikir saat aku kembali ke sini kau sudah pergi ternyata belum, itu melegakan." Ucap Jungkook panjang lebar.

Taehyung melirik kantung kertas yang Jungkook bawa, kantung kertas cokelat dengan logo salah satu restoran cepat saji ternama.

"Jika kau punya waktu kita bisa pergi ke restoran yang bagus." Ucap Jungkook, cemas jika makanan yang dia beli tak disukai Taehyung.

"Burger dan ayam goreng." Gumam Taehyung.

"Aku bisa membeli makanan yang lain untukmu."

"Tak masalah." Taehyung tersenyum diakhir kalimat kemudian mengisyaratkan Jungkook untuk mengikuti langkah kakinya.

Untuk beberapa detik Jungkook terpaku, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Taehyung bersikap ramah padanya.

"So baby pull me closer." Gumam Jungkook tak terdengar oleh Taehyung.

Taehyung menghentikan langkahnya, tangan kanan terangkat dan terulur kepada Jungkook. "Makan siangku?"

Setengah terkejut dan sisanya tak begitu paham, Jungkook mengangguk lalu menyerahkan satu kantung kertas kepada Taehyung. "Terima kasih makan siangnya." Ucap Taehyung sembari tersenyum kemudian berlalu.

Jungkook menahan tawa, jadi bukan makan siang bersama. Tak masalah, setidaknya Taehyung bersedia bersikap sedikit ramah dan mau menerima makan siang pembeliannya.

Sambil melangkah menjauhi Jungkook, Taehyung menggigit burger di tangan kanannya, dan entah kenapa dia ingin tersenyum sekarang. Meski alasannya tak begitu jelas.

TBC

Hai semua terima kasih sudah membaca cerita ini, terima kasih review kalian justcallmeBii, ORUL2, Clou3lf, yoongiena, Hastin99, purplesya, TSent Daehyun, Straebaekberry, adhakey2309, kantarauu, vivikim406, Tikha Semuel RyeoLhyun, AprilKimVTae, GaemGyu92, Kyunie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya…..