BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Terima kasih untuk semua pembaca maaf tidak menulis ucapan terima kasih untuk semua yang sudah mereview cerita ini. Uji coba apa cerita ini akan dihapus FFN, semoga akun FFN saya kembali aman. Jika cerita ini dihapus para reader bisa membacanya di wattpad dengan akun OnlyBoomiee92, terima kasih.

Previous

Setengah terkejut dan sisanya tak begitu paham, Jungkook mengangguk lalu menyerahkan satu kantung kertas kepada Taehyung. "Terima kasih makan siangnya." Ucap Taehyung sembari tersenyum kemudian berlalu.

Jungkook menahan tawa, jadi bukan makan siang bersama. Tak masalah, setidaknya Taehyung bersedia bersikap sedikit ramah dan mau menerima makan siang pembeliannya.

Sambil melangkah menjauhi Jungkook, Taehyung menggigit burger di tangan kanannya, dan entah kenapa dia ingin tersenyum sekarang. Meski alasannya tak begitu jelas.

BAB LIMA

"Hyung terlihat tidak baik ada masalah?" Taehyung bertanya sambil memainkan bolpoin di tangan kanannya.

"Kau benar, aku sedang kesal. Bagaimana pekerjaanmu?"

"Lumayan."

"Menurutmu gadis-gadis itu sudah siap untuk debut?"

"Kurasa belum, apa sangat darurat?"

"Ya. Jeon ent benar-benar mengganggu pikiranku."

"Bagaimana kesepakatannya?"

"Batal."

"Apa?!" pekik Taehyung tak percaya. Setelah kemarin, Jungkook berbicara dengan dirinya begitu akrab ternyata kesepakatan mereka batal. "Brengsek." Gumam Taehyung dengan kedua telapak tangan mengepal kuat.

"Tae, jangan berbicara buruk."

Taehyung tersenyum sinis. "Aku merasa dipermainkan."

"Oleh siapa?!" SeokJin melempar tatapan cemas.

"Bukan siapa-siapa, Hyung pekerjaanku sudah selesai. Kurasa aku ingin berjalan-jalan sebentar."

"Tentu."

"Jangan terlalu dipikirkan SeokJin hyung, aku yakin kita bisa menemukan partner yang lebih baik dari Jeon ent. Siapa yang punya ide kerjasama dengan mereka?"

"Namjoon."

"Ah sepertinya aku harus menguras dompet Namjoon hyung lagi."

SeokJin tertawa pelan mendengar kalimat sang adik. "Namjoon bermaksud baik Tae, hanya saja, Jeon ent sepertinya masih melanjutkan tradisi lama, bermusuhan dengan keluarga kita."

"Aku jadi ingat Montague dan Capulet."

"Kau selalu mengejekku melankolis, tapi kau sendiri membaca roman, Kim Taehyung kau memang adik terbaik." Sindir SeokJin. Taehyung hanya tertawa keras kemudian pergi dengan alasan berjalan-jalan.

.

.

.

Secara teknis ini disebut jalan-jalan bukan? Melangkahkan kedua kaki, menggerakkan tubuh, dan berpindah tempat. Dalam mimpi terburuknyapun Taehyung tidak pernah membayangkan dirinya berdiri di depan pintu masuk gedung Jeon ent. Demi seluruh hal buruk dan hal baik di dunia ini, Jeon ent bukanlah tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Melangkah masuk disambut dengan semua tatapan berbagai arti membuat Taehyung nyaris mengumpat. Dia bisa terlihat sangat percaya diri, namun pada dasarnya Taehyung itu pemalu.

"Tuan Kim, ada yang bisa saya bantu?" salah seorang staf berhenti dan memutuskan untuk bertanya.

Taehyung tersenyum, dia tidak tahu jika namanya cukup terkenal di tempat ini. Taehyung berpikir staf yang menghampirinya sangat baik, dan Taehyung berterimakasih akan hal itu. Tentu saja dia tidak tahu dimana ruangan Jungkook dan dirinyapun tidak mungkin masuk begitu saja.

"Apa Tuan Jeon Jungkook ada?"

"Tuan Jeon ada di ruangannya, tapi apa Anda sudah membuat janji?"

"Belum, ini pertemuan mendadak membahas tentang kesepakatan antara Jeon ent dan Kim entertainment."

"Bukankah kesepakatannya sudah batal Tuan Kim, apa Anda tidak mendengar berita tersebut?"

"Saya ingin bertemu dan berbicara dengan Tuan Jeon Jungkook."

"Tuan Jeon sangat sibuk, saya tidak bisa berjanji Anda bisa bertemu dengan beliau hari ini. Apa Anda bersedia membuat janji sekarang? Saya bisa menyampaikannya pada Tuan Jeon Jungkook."

Taehyung ingin mengumpat dan memaki mendapat perlakuan yang menyamakannya seperti para staf para orang biasa. Bukan berarti Taehyung ingin diistimewakan namun sudah jelas bukan, jika dirinya bukanlah staf biasa. "Tidak. Terima kasih." Balas Taehyung menahan amarah, iapun memutar tubuhnya cepat dan berjalan pergi. Dan Taehyung berubah pikiran mengenai staf yang menghampirinya, dia bukan orang baik, dia orang menyebalkan.

Beberapa langkah keluar dari gedung Jeon ent, Taehyung teringat sesuatu. Dia memiliki nomor ponsel Jungkook. Nomor ponsel yang dengan norak Jungkook tulis pada kertas cokelat pembungkus makanan siap saji. Menghentikan langkah kakinya, bersandar pada salah satu dinding gedung luar Jeon ent. Taehyung merogoh ponsel dalam saku ransel cokelat miliknya.

"Halo, maaf ini siapa?"

Suara Jungkook terdengar lebih rendah dan lebih maskulin di telepon. "Taehyung." Balas Taehyung singkat.

"Taehyung—Kim Taehyung dari Kim entertainment?"

"Iya, itu aku. Bisakah kita bertemu aku ada di depan gedung tempatmu bekerja, jika kau tidak sibuk."

"Lima menit." Jawab Jungkook sebelum sambungan mereka terputus.

"Ah." Gumam Taehyung sambil menurunkan ponselnya kemudian mengamati layar ponselnya lekat-lekat. "Aku pikir dia akan jual mahal dan sok sibuk." Gumam Taehyung.

Bersenandung pelan, Taehyung mengamati para pejalan kaki yang tak sedetikpun menoleh ke arahnya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Menunduk, Taehyung mengamati Converse putih yang dia kenakan dengan tali sepatu yang sedikit kendur namun dirinya terlalu malas untuk menunduk dan mengencangkannya.

.

.

.

Jungkook duduk dengan malas di ruang kerjanya, rasanya dokumen yang harus di baca ulang dan ditanda tangani tak kunjung habis. Bahkan mungkin bertambah setiap detiknya. Suara detik jam dindingpun terasa membosankan nyaris menjengkelkan. Jungkook ingin melempar jam dinding di ruangannya ke luar gedung jika tak ingat besok atau di hari lain dia masih membutuhkan benda penunjuk waktu itu.

Ponsel di atas meja kerjanya bergetar dengan cara yang buruk, sambil mengumpat, sesuatu yang tidak bisa Jungkook hindari saat kesal. Tangan kirinya meraih ponsel miliknya kasar. Sebuah nomor tak dikenal tertera setelah berdebat dengan dirinya sendiri tentang penting atau tidak panggilan itu, Jungkookpun menjawab panggilan pada ponselnya tanpa rasa antuasias.

"Halo, maaf ini siapa?"

"Taehyung."

Tanpa perintah jantung Jungkook berdetak lebih cepat, namun dia tidak ingin menaruh harapannya terlalu tinggi. Ada banyak orang di luar sana dengan nama Taehyung. "Taehyung—Kim Taehyung dari Kim entertainment?"

"Iya, itu aku. Bisakah kita bertemu aku ada di depan gedung tempatmu bekerja, jika kau tidak sibuk."

"Lima menit."

Jungkook memotong kalimat Taehyung, dia tidak akan menyiakan kesempatan untuk bertemu dengan seseorang yang sangat ingin ia temui. Tidak peduli dengan wajah merah meronanya, tidak peduli dengan detak jantung kurang ajarnya, atau senyuman yang berusaha keras ia tahan namun tetap lolos. Jatuh cinta itu bisa membuatmu bersikap konyol dan gila. Dan sekarang Jungkook bisa mengerti mengapa seorang Park Jimin terlihat menggelikan di depan Min Yoongi setiap mereka bertemu.

.

.

.

Menarik napas dalam-dalam, merapikan rambut dan stelan jas yang dia kenakan. Melepas dasi melonggarkan dua kancing kemeja teratas. Jungkook berharap penampilannya tak terlalu menyedihkan, suara napasnya yang berkejaran tak begitu terdengar, dan semoga Taehyung tak mengerti tentang detak jantungnya yang nyaris meledak. "Halo Hyung."

"Hai Jungkook." Membasahi bibir bawahnya sekilas Taehyung menatap kedua bola mata hitam Jungkook. "Apa di sini tempat yang aman untuk berbicara?"

"Tentu, orang-orang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing."

"Hmm." Gumam Taehyung. "Langsung saja, kenapa kau membatalkan kerjasama dengan perusahaan kami?"

"Itu…,"

"Kupikir hubungan kita membaik, ternyata kau hanya pura-pura saja Jeon Jungkook. Padahal aku sudah berusaha mengubah cara pandangku tentangmu. Kau tahu, Kau sangat menyebalkan!" tanpa menunggu Jungkook, Taehyung langsung mengutarakan semua pikirannya.

"Tae..,"

"Diam!" peringat Taehyung. "Aku tidak ingin mendengar apapun darimu. Terima kasih sudah bersedia menemuiku."

Dengan langkah kaki tergesa Taehyung meninggalkan Jungkook, ia merasa sudah cukup urusan dengan Jungkook. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan pewaris Jeon ent. Jungkook itu sial, keparat, brengsek, busuk, pembual, licik, dan semua sebutan buruk lainnya cocok untuk disematkan.

"Ah!" pekik Taehyung dengan cara ajaib entah bagaimana tali sepatunya lepas dan terinjak. Membuat Taehyung kehilangan keseimbangan dan berakhir…., berakhir dalam dekapan seorang Jeon Jungkook.

Taehyung membeku mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kedua tangan Jungkook melingkari pinggangnya. Memeluknya dari belakang. Taehyung bisa merasakan otot lengan Jungkook kekar serta otot dada terbentuk Jungkook yang menempel pada punggungnya.

"Kau baik-baik saja kan?" napas Jungkook berhembus menerpa tengkuknya.

Menelan ludah kasar, Taehyung menarik lepas kedua tangan Jungkook dari pinggangnya dengan kasar. "Jangan menyentuhku!" hardik Taehyung sembari menghadap Jungkook.

"Aku mencoba menolongmu."

Taehyung terlihat jelas tak mempercayai kalimat Jungkook dan terus melempar tatapan tajamnya kepada Jungkook.

"Dan masalah pembatalan kerja sama, karena terlalu banyak perbedaan di antara perusahaanku dan perusahaanmu. Jika kita bekerjasama maka akan ada yang dikorbankan, aku mengikuti konsep kalian atau kalian mengikuti konsepku. Itu tidak baik, masing-masing tidak bisa kehilangan identitas. Sungguh, tidak ada maksud lain dari pembatalan kerjasama. Aku tidak sedang bermain-main."

"Apa aku harus percaya?"

"Kau ingin percaya?"

"Tentu saja tidak, aku tidak bisa mempercayaimu."

"Kalau begitu aku tidak akan memaksamu untuk percaya."

"Kau membuat kakakku pusing, SeokJin hyung benar-benar ingin bekerjasama denganmu."

"Aku sudah menjelaskan semuanya pada SeokJin hyung."

Taehyung memalingkan wajah, tidak ingin berhadapan dengan tatapan lekat seorang Jeon Jungkook. "Apa yang kau lakukan?!" pekik Taehyung karena Jungkook secara mengejutkan berlutut di hadapannya.

"Kau hampir terjatuh karena tali sepatu, apa kau tidak bisa mengikat tali sepatu dengan benar?"

"Aku bisa melakukannya sendiri."

Taehyung berniat menarik mundur kaki kanannya menghindari tangan Jungkook, namun Jungkook menahan kakinya tetap di tempat. "Hentikan Jungkook aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi."

"Sesuatu yang buruk apa?" Jungkook bertanya sambil mengencangkan tali sepatu Taehyung yang lain.

"Media, foto-foto kita."

"Aku membantumu bukankah itu akan menjadi berita yang baik."

"Jangan pura-pura bodoh!" bentak Taehyung.

Jungkook berdiri dengan tenang menghadapi Taehyung menatap wajah Taehyung yang tampak cemas. "Teruskan apa yang ingin kau katakan."

"Keluarga besar kita bersaing, hubungan apapun tidak akan baik."

"Siapa yang mengatakan keluarga kita bersaing? Keluargamu? Keluargaku tidak pernah mengatakan hal demikian padaku." Taehyung menelan ludah kasar. "Siapa yang mengatakannya?"

"Media dan banyak orang lainnya."Jungkook hanya tersenyum. "Kau membenciku."

Kali ini kening Jungkook berkerut. "Aku tidak pernah membencimu, sekalipun tidak pernah."

"Oh." Balas Taehyung tidak menemukan kalimat lain yang lebih cocok.

"Kau masih ingin berteman denganku? Taehyung hyung?"

"Entahlah Jungkook semuanya membingungkan aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini." Taehyung tertawa pelan. "Aku merasa bodoh sudah memakimu tadi. Dan memotong kalimatmu, tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan. Maaf aku tidak sopan." Taehyung membungkuk dalam membuat Jungkook tertawa.

"Kurasa kita impas, di pertemuan pertama kita aku bersikap tidak sopan. Dan sekarang Taehyung hyung membalasnya."

"Aku tidak bermaksud membalas apapun!" panik Taehyung.

Sekali lagi Jungkook tertawa. "Sekarang kita bisa berteman tanpa beban apapun karena kita sudah impas."

"Sudahlah Jeon Jungkook." Gerutu Taehyung merasa tidak nyaman dengan ucapan Jungkook dengan nada bercanda itu.

"Aku harus kembali bekerja dan terima kasih sudah menghubungiku, kupikir Taehyung hyung akan mengabaikan nomor ponselku."

"Kuno sekali menulis nomor ponsel di kertas pembungkus makanan." Cibir Taehyung.

"Karena Taehyung hyung akan mengabaikan aku jika aku melakukannya dengan cara biasa."

"Ah! Aku…," Taehyung tidak tahu mengapa Jungkook membuatnya merasa malu.

"Aku harus kembali bekerja, terima kasih sudah berkunjung semoga kita bisa segera bertemu."

"Harapanmu terlalu tinggi jangan terlalu optimis."

"Kita akan segera bertemu, aku yakin itu." Di akhir kalimat Jungkook tersenyum lebar menunjukkan dua gigi kelinci depannya. Dan Taehyung tidak tahu sejak kapan dia menganggap senyum Jungkook mempesona.

TBC