BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

"Aku harus kembali bekerja dan terima kasih sudah menghubungiku, kupikir Taehyung hyung akan mengabaikan nomor ponselku."

"Kuno sekali menulis nomor ponsel di kertas pembungkus makanan." Cibir Taehyung.

"Karena Taehyung hyung akan mengabaikan aku jika aku melakukannya dengan cara biasa."

"Ah! Aku…," Taehyung tidak tahu mengapa Jungkook membuatnya merasa malu.

"Aku harus kembali bekerja, terima kasih sudah berkunjung semoga kita bisa segera bertemu."

"Harapanmu terlalu tinggi jangan terlalu optimis."

"Kita akan segera bertemu, aku yakin itu." Di akhir kalimat Jungkook tersenyum lebar menunjukkan dua gigi kelinci depannya. Dan Taehyung tidak tahu sejak kapan dia menganggap senyum Jungkook mempesona.

BAB ENAM

"Apa yang kau lakukan di sini?!" pekik Taehyung tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Jeon Jungkook berdiri di hadapannya, Jeon Jungkook berkunjung ke Kim entertainment.

"Kemarin kau mengunjungiku, sekarang giliranku berkunjung."

Taehyung menjilat bibir bawahnya cepat. "Semua orang memperhatikan kita."

"Bukankah itu baik? Menepis semua anggapan dan semua berita di luar sana yang berkata jika kita berdua adalah musuh."

"Hmm…," gumam Taehyung tidak tahu harus memberi tanggapan apa. Berdiri di hadapan Jungkook sekarang membuatnya merasa sangat canggung.

"Kau punya waktu?" Jeon Jungkook lebih sering melakukan semuanya langsung pada pokok permasalahan.

"Waktu? Untuk apa? Apa maksudmu?"

"Aku ingin mengajakmu keluar untuk makan siang." Jungkook tersenyum lebar tangan kanannya menyodorkan sebuah buket bunga berwarna oranye kepada Taehyung.

Kening Taehyung berkerut dalam. "Aku tidak akan menerima bungamu."

"Kenapa?!" pekik Jungkook nyaris berteriak.

"Cium saja bungamu, apa kau tidak pernah memberi bunga pada orang lain?"

"Jangan bercanda Taehyung hyung…," gerutu Jungkook namun dia tetap melakukan apa yang Taehyung katakan. Jungkook mengerutkan hidung mancungnya, buket bunga yang dia bawa indah, bentuk dan warna bunganya sangat indah, namun baunya tidak sedap. "Bunga apa yang aku pilih?!" pekik Jungkook kemudian berlari ke tempat sampah terdekat dan mencampakan buket bunga di tangannya.

Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tertawa, Jungkook terlihat lucu dan baru detik ini dia percaya jika seorang Jeon Jungkook lebih muda dua tahun dari dirinya. Bukan sosok Tuan Jeon Jungkook yang akuh. Tak lama Jungkook kembali, Taehyung berdeham pelan sambil menahan diri untuk tak tersenyum atau bahkan tertawa di depan Jungkook.

"Hmm… begini…, sepertinya ada kesalahan tentang bunga yang aku pilih." Ucap Jungkook malu-malu, tangan kanannya menggaruk tengkuk canggung, dan wajahnya bersemu merah. "Maafkan aku." Jungkook mendongak menatap Taehyung dengan tatapan penuh penyesalan.

"Akan aku pertimbangkan."

"Taehyung hyung….," tanpa sadar Jungkook merengek dan Taehyung tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat tingkah konyol nan menggemaskan dari seorang Jeon Jungkook.

Semua staf Kim entertainment tentu saja tak bisa untuk tidak melempar tatapan penuh tanda tanya. Jeon Jungkook berbincang akrab dengan Kim Taehyung, Kim Taehyung tertawa lepas. Dua keajaiban dalam satu hari. "Maaf aku tidak bisa makan siang bersamamu, aku baru saja selesai makan siang dengan SeokJin hyung dan Namjoon hyung."

"Ahh begitu…,"

Tidak tega dengan tatapan Jungkook yang seolah dipenuhi dengan penderitaan, Taehyung mengajukan penawaran lain. "Aku punya waktu satu jam, mungkin kita bisa berjalan-jalan sebentar?"

Padahal Jungkook sudah memesan tempat di restoran, dia tahu seharusnya tak melakukan hal itu. Belum tentu Taehyung bersedia namun dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk membuat Taehyung terkesan.

"Kau mungkin punya ide untuk jalan-jalan?"

"Mungkin." Balas Taehyung. "Dan bisakah kau tetap memanggilku Hyung? Terdengar lebih baik dibanding menyebutku Kau Kau dan Kau."

"Hmm sepertinya itu sedikit sulit."

"Alasannya?"

"Wajahmu bahkan terlihat cantik."

"Jangan membuatku kesal Jeon Jungkook!"bentak Taehyung.

"Maaf." Balas Jungkook mengalah.

"Ikuti aku." Perintah Taehyung sebelum berjalan cepat mendahului Jungkook. Dan Jungkook memilih diam sambil mengikuti langkah kaki Taehyung, ia hanya takut jika bibirnya yang terkadang kurang ajar mengatakan sesuatu dan menghancurkan semuanya dalam hitungan detik.

Keduanya berjalan cukup berjauhan untuk menghindari perhatian yang tak diinginkan. Kening Jungkook berkerut ketika Taehyung membimbingnya keluar dari trotoar utama, menjauhi keramaian kota. Berjalan di antara gang gedung yang sempit, lembab, dengan aspal buruk berlubang di beberapa tempat.

Jungkook nyaris terperosok lubang aspal karena minimnya cahaya. "Taehyung kita kemana?"

"Ikut saja ini tidak akan berbahaya aku tidak akan menyakitimu."

Dan Jungkook nyaris tertawa mendengar kalimat Taehyung, Taehyung tidak akan mampu menyakitinya namun akan berbeda cerita jika Taehyung mendapat bantuan. Mungkinkah Taehyung memikirkan hal itu? menyakiti dirinya? Tidak! Taehyung terlalu baik dan terlalu polos untuk melakukan kejahatan, dia bahkan tidak akan tega membunuh seekor lalat.

Jungkook melihat Taehyung berdiri di depan dinding dengan pintu kawat, Taehyung menoleh ke belakang mengisyaratkan Jungkook untuk mengikutinya. Tubuh ramping Taehuyung menyelinap di antara celah pintu. Terkejut, Jungkook bergegas mengikut Taehyung. "Tae apa yang kau…," kalimat Jungkook terhenti karena sesuatu yang dia lihat.

Sebuah taman, taman yang sangat indah. Jalan setapak, hamparan rumput hijau, bunga-bunga beraneka warna, pohon lemon, apel, dan plum, terlihat rindang meski mereka belum berbuah.

"Kau terkejut?"

"Ya—ya."

Taehyung tertawa pelan. "Ini taman peninggalan kakekku, di belakang gedung, tempat rahasia. Hanya aku, SeokJin hyung, dan Namjoon hyung yang tahu, ah beberapa keluarga tahu tapi mereka tidak peduli dengan taman ini. Jadi hanya aku, SeokJin hyung dan Namjoon hyung yang bergantian merawatnya."

"Kenapa kau menunjukkan taman ini padaku? Kenapa membagi rahasiamu?"

"Kau bisa mengatakannya pada siapapun, jika taman ini ramai aku akan menjual tiket dan menjadikannya pemasukan perusahaan."

Jungkook tertawa pelan mendengar kalimat Taehyung. "Tidak masalah jika taman ini ramai?"

"Tidak masalah."

"Kau yakin?"

"Hanya memikirkan kemungkinan terburuk, aku tidak bisa memastikan jika kau bisa menyimpan rahasia."

"Aku bisa dipercaya." Balas Jungkook penuh percaya diri.

"Terimakasih."

Taehyung lantas berjalan mendekati salah satu pohon, Jungkook melangkah lebih lambat mengikuti Taehyung. Ketika Taehyung mendudukan dirinya di bawah batang pohon yang tak begitu besar itu, Jungkook bingung harus melakukan apa. Taehyung mendongak menatap Jungkook membuat Jungkook salah tingkah.

"Duduklah."

"Ah!" Jungkook tersentak kaget, pada akhirnya diapun duduk tentu saja dengan menjaga jarak dengan Taehyung. Jungkook memutar otaknya cepat untuk menemukan topik pembicaraan dengan Taehyung. "Terima kasih sudah mengajakku ke sini, sangat indah. Seperti dongeng, kakekmu jenius membangun taman di sini."

Kalimat Jungkook tentang sang kakek membuat Taehyung merasa senang iapun tersenyum lebar. Membuat Jungkook terpana untuk beberapa saat. Bentuk hidung, dagu, rahang, bahkan bulu mata Taehyung nampak sempurna. "Taehyung aku men…,"

"Men apa?" Taehyung menoleh menatap Jungkook bingung.

"Ah itu!" Jungkook gelagapan, dia nyaris mengungkapkan perasaannya pada Taehyung. Dulu, hal seperti itu tidak masalah sebab Jungkook tak serius dengan ucapannya. Sekarang semuanya terasa berbeda dia akan merasa buruk jika mengobral kalimat cinta di depan Taehyung.

"Jungkook kau ingin mengatakan apa?"

"Aku—mendengar Suga akan merilis album dalam waktu dekat." Ucap Jungkook kali ini bersyukur dengan otak encernya.

"Mungkin."

"Rahasia perusahaan?"

"Begitulah. Kau juga tidak akan menjawab kan jika aku bertanya kapan artismu akan merilis album atau mengeluarkan single."

"Hmm masuk akal juga."

"Terkadang aku ingin hidup normal, maksudku melakukan apapun yang aku inginkan. Memilih masa depanku sendiri."

"Kau tidak menyukai hal yang kau lakukan sekarang?"

"Tentu saja aku menyukainya—hanya saja semuanya sudah diatur. Sejak kecil aku dan SeokJin hyung dididik untuk mewarisi perusahaan. Mereka tidak pernah bertanya apa kami bersedia, apa kami menyukainya."

"Hmmm."

"Bagaimana denganmu?" Taehyung menoleh ke kiri menatap Jungkook penasaran.

"Aku memilihnya sendiri, orangtuaku bertanya apa aku bersedia menjadi penerus, dan aku mengatakan bersedia."

"Orantuamu terdengar baik…,"

"Dan orangtuamu terdengar buruk." Potong Jungkook, membuat Taehhyung membulatkan kedua matanya. "Aku hanya takut kau beranggapan seperti itu. Aku yakin setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, jangan berprasangka apapun."

Taehyung tertawa mendengar kalimat Jungkook. "Kau terdengar sangat berbeda dari Jeon Jungkook yang aku temui di pesta."

"Ah itu…," gumam Jungkook canggung."Bisakah kita tidak membahas pertemuan itu."

"Kau tidak menyukainya?"

"Aku merasa malu dan bodoh jika mengingatnya kembali."

"Artinya kau berubah?"

"Ya." Balas Jungkook. "Aku berubah hanya untukmu." Sambung Jungkook di dalam hati. "Sikapmu yang menolak semua pria yang mendekatimu, apa karena Hoseok?"

Raut wajah Taehyung seketika berubah. "Apa yang kau katakan?" Taehyung mencoba menutupi keterkejutannya.

"Maaf tapi aku mendengarnya langsung dari Hoseok atau J-Hope. Tentang hubungan kalian, tentang Suga."

"Apa yang dia katakan?"

"Dia menyesal sudah mempermainkanmu dan Suga."

"Tidak masalah." Balas Taehyung menahan kesal. "Yoongi hyung sudah membuat pelipis kiri Hoseok dijahit, aku sudah puas."

"Bagaimana kau dan Suga berbaikan kembali?"

"Semua salah Hoseok, dia menyembunyikan semua rahasianya saat mendekati Suga hyung. Ketika Suga hyung mengetahui semuanya, dia datang padaku dan meminta maaf lalu menghajar Hoseok di depanku….," Taehyung menggantung kalimatnya, ia baru tersadar sudah mengatakan banyak hal pada Jungkook. Seseorang yang dulu sangat mengganggunya.

Jungkook tersenyum. "Terima kasih sudah bercerita, semoga kau merasa lega. Dan aku pastikan jika ceritamu tidak akan tersebar."

Taehyung menundukkan kepala mengamati rumput hijau yang terpangkas rapi di bawah alas sepatunya. "Bagaimana kabar Hoseok?"

Jungkook terkejut namun dia memilih untuk menjawab pertanyaan Taehyung. "Dia baik, dia sudah berubah kurasa. Hoseok fokus hanya pada karir, setahuku dia belum dekat dengan siapapun setelah kau dan Suga."

"Hmm." Taehyung bergumam pelan.

"Kau merindukannya?" dan Jungkook merasa dadanya terganjal oleh sesuatu yang tak menyenangkan saat bertanya pada Taehyung.

"Tidak, aku tidak merindukannya. Tapi aku tidak akan berdusta dengan berkata aku tidak pernah memikirkannya. Tiga tahun bukan waktu yang singkat." Taehyung berucap dengan nada perih yang terdengar jelas. Dan Jungkook menahan diri untuk tidak memeluk Taehyung.

"Semoga comeback Suga sukses." Ucap Jungkook mengalihkan topik pembicaraan.

"Perusahaanmu—siapa yang akan comeback?"

"Aku tidak akan tergesa-gesa."

"Kau pikir aku tidak bisa bersaing?"

Jungkook tersenyum, Taehyung masih belum mempercayai dirinya seratus persen. Jungkook sadar semua itu tak dibangun dalam satu malam. Keluarga mereka, media terlalu banyak ikut campur di dalam keluarganya dan Taehyung. Seolah mereka adalah musuh bebuyutan, Blok Timur dan Blok Barat. Bersaing siapa yang paling berkuasa dan paling berpengaruh.

"Aku tidak meragukan perusahaanmu, sudah berulang kali kalian mengalahkan kami. Aku tidak ingin tergesa-gesa, karena para idol itu juga manusia. Mereka butuh tidur, makanan sehat, jalan-jalan, dan sedikit bermalasan."

Taehyung masih melempar tatapan tajamnya pada Jungkook. "Tak masalah jika kau tak percaya, aku tidak ingin tergesa-gesa bukan karena meremehkan perusahaan keluargamu." Imbuh Jungkook.

"Jeon Jungkook." Suara Taehyung terdengar serius.

"Ya?"

"Apa ada manusia yang benar-benar buruk?"

"Kurasa—tidak ada. Setiap melakukan kesalahan meski diabaikan aku yakin ada suara di dalam diri setiap manusia yang berteriak, Itu salah! Kau Bersalah! Jangan lakukan itu! Kau menyakiti seseorang!"

"Aku selalu penasaran tentang hal itu."

"Kenapa?"

Taehyung mengendikkan kedua bahunya. "Hanya penasaran." Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya cepat. "Jika—tidak ada manusia yang benar-benar buruk berarti kita tidak bisa benar-benar membenci seseorang, atau sekelompok tertentu."

"Pasti menyenangkan bisa hidup dengan damai dan penuh cinta, tapi manusia memiliki kehendak bebas dan seringkali sisi baik diri manusia tertutupi oleh berbagai alasan. Alasan untuk menjadi lebih unggul dari yang lainnya, alasan untuk mendapatkan hal yang lebih dari siapapun, dan untuk mencapainya ada sesuatu yang salah. Pada akhirnya ada yang tersakiti, ada yang hancur."

Taehyung menarik kedua kakinya, menekuk lutut, kemudian memeluk kedua lututnya. "Aku pernah melakukan tindakan buruk."

"Aku juga."

"Kau mau mengakui di hadapanku?"

Jungkook tersenyum. "Tak masalah, tapi apa kau juga akan melakukan hal yang sama? mengaku di hadapanku?"

"Kurasa suatu saat entahlah, tapi tidak sekarang. Aku belum percaya padamu."

"Tak masalah."

Taehyung memejamkan kedua matanya, Jungkook tak mengeluarkan suara apapun. Ia diam dan menunggu. Menunggu apapun yang akan Taehyung lakukan dan Taehyung inginkan.

"Aku tidak sabar menunggu musim gugur dan semua daun berubah warna."

"Itu akan sangat indah aku bisa membayangkannya."

Taehyung membuka kedua matanya menoleh menatap Jungkook kemudian menggeleng pelan. "Bukan karena itu, bukan karena pemandangannya. Ibuku meninggal di awal musim gugur dan saat musim gugur datang aku merasa kami masih terhubung."

"Apa kau masih berpikiran jika seseorang pergi—maksudku meninggal, mereka akan berubah menjadi bintang dan mengawasi keluarganya dari langit?"

"Kau akan tertawa jika aku mengatakan aku percaya?"

"Tidak."

Taehyung tersenyum. "Ya, aku percaya. Tak masalah jika orang lain berpikiran aku bodoh. Kurasa itu hanya caraku untuk tetap merasa dekat dengan ibuku, terkadang kenangan-kenangan saja tidak cukup, dan beranggapan jika ibuku menjadi salah satu bintang di langit membuat semuanya terasa lebih nyata. Meski tak dapat aku gapai setidaknya aku masih bisa memandangi bintang di langit malam."

"Terima kasih sudah membaginya denganku."

"Apa kau kehilangan seseorang yang berharga untukmu?"

"Tidak maksudku belum. Kakek dan Nenek buyutku sudah tidak ada, tapi aku bahkan tak mengenal mereka kecuali dari foto-foto hitam putih yang jumlahnya tak lebih dari lima lembar, dan dari cerita yang kudengar. Jadi aku belum pernah merasakan sebuah ikatan yang terputus."

"Apa kau sudah mendengar jika aku dan SeokJin hyung tidak berbicara dengan ayah kami? Kurasa seluruh negeri ini sudah mendengarnya. Karena ayah kami menikah untuk kedua kalinya, aku tidak bisa menerima hal itu. SeokJin hyung juga tidak bisa. Terkadang aku berpikir semua itu sangat egois melarang ayah kami mencari kebahagiaan yang lain. Namun, terkadang aku juga berpikir apa ibuku tidak cukup? Apa kami tidak cukup? Aku bingung siapa yang egois di sini."

"Kenapa kau memilih pergi dari ayahmu?"

"Aku ingin berpikir dengan jernih."

"Maaf aku tidak bisa memberi nasihat tentang masalah itu, aku belum pernah berada pada posisimu."

"Terima kasih sudah mendengarku." Ucap Taehyung sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya ke atas rumput setelah mengeluh betapa tubuhnya begitu lelah.

Tak lama Jungkookpun menyusul, berbaring di samping Taehyung. Ketika Taehyung menoleh untuk menatapnya, Jungkook hanya bisa melempar senyum sembari berharap agar semuanya tak menjadi canggung. Taehyung tak mengeluarkan suara, dia memejamkan kedua matanya. Jungkook menatap wajah Taehyung.

Semuanya begitu sunyi. Kesunyian tanpa kecanggungan yang menggantung berbahaya. Di suatu waktu dan suatu tempat Jungkook pernah mendengar tentang kesunyian yang terasa lengkap dan hangat. Dan mungkin jenis kesunyian seperti ini adalah kesunyian yang mereka sebutkan.

"Please don't be in love with someone else," bisik Jungkook.

TBC

Terimakasih untuk semua pembaca, terimakasih review kalian Keikochan, Namechakookie1, funf, purplesya, ORUL2, justcallmeBii, yoongiena, juliakie, AprilKimVTae, GamGyu92, Linkz account, Kyunie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.