BE MINE
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member
Previous
"Kenapa kau memilih pergi dari ayahmu?"
"Aku ingin berpikir dengan jernih."
"Maaf aku tidak bisa memberi nasihat tentang masalah itu, aku belum pernah berada pada posisimu."
"Terima kasih sudah mendengarku." Ucap Taehyung sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya ke atas rumput setelah mengeluh betapa tubuhnya begitu lelah.
Tak lama Jungkookpun menyusul, berbaring di samping Taehyung. Ketika Taehyung menoleh untuk menatapnya, Jungkook hanya bisa melempar senyum sembari berharap agar semuanya tak menjadi canggung. Taehyung tak mengeluarkan suara, dia memejamkan kedua matanya. Jungkook menatap wajah Taehyung.
Semuanya begitu sunyi. Kesunyian tanpa kecanggungan yang menggantung berbahaya. Di suatu waktu dan suatu tempat Jungkook pernah mendengar tentang kesunyian yang terasa lengkap dan hangat. Dan mungkin jenis kesunyian seperti ini adalah kesunyian yang mereka sebutkan.
"Please don't be in love with someone else," bisik Jungkook.
BAB TUJUH
Taehyung membuka kedua matanya, sesuatu tiba-tiba mengganggu. Kesadaran tentang kewajiban yang seharusnya dia lakukan. Tersentak, lantas mendudukan dirinya tergesa.
"Ada sesuatu yang salah?"
Taehyung menyadari sesuatu, ia melihat jaket berwarna cokelat muda di tubuhnya. Dan dia yakin itu bukan miliknya. "Berapa lama aku tertidur?" Taehyung bertanya sembari melepaskan jaket milik Jungkook dari tubuhnya.
"Kurasa tidak lama."
"Maaf sudah merepotkan." Ucap Taehyung sembari menyodorkan jaket di tangannya kepada si pemilik.
"Aku tidak merasa direpotkan." Balas Jungkook, ia mendudukan dirinya mengambil jaketnya dari tangan Taehyung.
Taehyung berdiri kemudian menoleh kepada Jungkook. "Ayo pergi, ada pekerjaan yang masih menungguku." Taehyung berdiri di hadapan Jungkook lantas mengulurkan tangan kanannya.
Tangan kanan Jungkook terulur, menggenggam tangan Taehyung. Dia merasakan tubuhnya ditarik Taehyung untuk berdiri. Jungkook melihat sekilas, langit berwarna oranye. Taehyung tidur cukup lama dan Jungkook sedikit berbohong.
"Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Kau tidur sangat nyenyak."
"Seharusnya kau membangunkan aku, SeokJin hyung pasti panik."
"Hyung-mu sangat menyayangimu."
"Sayang saja tidak cukup." Balas Taehyung kemudian tersenyum lebar. Jungkook menahan napas tanpa sadar.
"Lalu apa?" tanya Jungkook berharap suaranya tak terdengar gugup.
"Entahlah disebut apa, Seokjin hyung terkadang berlebihan." Jungkook tertawa pelan melihat ekspresi lucu Taehyung. "Itu tidak lucu," gerutu Taehyung.
"Maaf." Balas Jungkook singkat.
Keduanya berjalan cukup berdekatan beberapa kali lengan kiri Jungkook bersentuhan secara tak sengaja dengan lengan kanan Taehyung, membuat Jungkook harus menjaga jarak. Tidak, bukannya dia benci bersentuhan dengan Taehyung bukan itu. Justru sebaliknya, dia hanya takut jika rasa cintanya terlihat terlalu jelas.
Tidak ada obrolan yang tercipta keduanya berjalan bersama, Jungkook ingin mengatakan sesuatu, namun ia tak bisa mengatakan kata dan kalimat yang tepat sementara gedung agensi keluarga Kim sudah terlihat semakin dekat. Jungkook mengedarkan pandangannya cepat, ke segala arah mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi topik pembicaraan menarik.
"Taehyung!" seru Jungkook tanpa sadar menahan lengan kanan Taehyung membuat Taehyung menoleh dengan tatapan bingung.
Jungkook tersenyum, ia berhenti karena melihat gantungan kunci lucu yang dijual oleh pedagang kaki lima. Gantungan kunci berbentuk kepala Singa. Taehyung diam menunggu Jungkook selesai membeli gantungan kunci yang dia inginkan, sambil berharap semoga Jungkook membawa uang bukannya kartu kredit.
"Sudah?"
"Hmm." Taehyung berjalan mendahului Jungkook. "Untukmu." Ucap Jungkook sambil menyodorkan gantungan kunci di tangannya ke hadapan Taehyung. "Kau suka Singa." Ucap Jungkook.
Jungkook berharap semoga Taehyung tak lagi menolaknya, ia ingin lebih dekat dengan Taehyung. Apa itu sangat sulit untuk terwujud?
"Terimakasih."
"Ah?!"
Terkejut, tentu saja Jungkook terkejut. Taehyung benar-benar menerima gantungan kunci pemberiannya yang harganya tak seberapa itu. Membuat Jungkook tersenyum sekaligus mengutuki dirinya sendiri, karena tak cepat bereaksi dan Taehyung tiba-tiba sudah berlari pergi memasuki gedung agensi keluarganya.
"Seharusnya kau mengatakan sesuatu Jeon Jungkook….," gerutu Jungkook sebelum melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Ia mencoba melihat dari pintu kaca, melihat ke dalam gedung agensi keluarga Kim, berharap masih bisa melihat sedikit punggung Taehyung. Sayangnya Taehyung sudah menghilang.
.
.
.
Sepanjang perjalanan kembali ke kantornya, Jungkook tidak bisa berhenti memikirkan Taehyung. Dadanya terasa aneh dan dia ingin tersenyum sepanjang jalan, benar-benar aneh. Jungkook merasa hari ini sangat lengkap dan membahagiakan, sesuatu yang sudah sangat jarang dia rasakan.
"Jungkook."
"Ah Hoseok, ada apa?" Hoseok menyambut kedatangannya, terlihat ingin membicarakan sesuatu.
"Aku ingin bicara denganmu, kau punya waktu?"
"Tentu, mari ke ruanganku sekarang."
Hoseok mengangguk pelan lantas mengikuti langkah kaki Jungkook. Beberapa kali Hoseok melirik Jungkook dan Hoseok yakin jika suasana hati Jungkook sedang sangat bagus sekarang. Beberapa kali Jungkook tersenyum tipis, dan terlihat jelas jika Jungkook menahan senyuman itu agar tak mendapat banyak perhatian dari para staf.
"Ada yang menyenangkan hari ini?" tanya Hoseok tidak tahan lagi untuk mengeluarkan isi pikirannya.
"Ya." Jungkook membalas singkat.
"Kalau boleh tahu hal apa yang membuatmu bahagia?"
"Hmm…, hanya sesuatu yang sederhana." Balas Jungkook menutup pembicaraan dengan Hoseok. Hoseok hanya menaikkan alis kanannya, memilih diam daripada merusak suasana hati Jungkook yang sedang baik. Sangat jarang putra pewaris agensi keluarga Jeon memiliki suasana hati sebaik hari ini.
.
.
.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Jungkook langsung bertanya tanpa membuang waktu. Sementara Hoseok baru saja meletakkan bokongnya ke atas kursi.
"Duduklah Jungkook." Ucap Hoseok setengah menggerutu. Ia tak mendapat balasan kecuali lemparan kaleng bir dingin dari Jungkook. "Asataga! Kau nyaris menimpuk dahiku!" protes Hoseok.
Jungkook hanya tersenyum miring lantas mendudukan dirinya di samping Hoseok. "Katakan."
"Kau tidak punya banyak waktu hari ini?"
Hoseok menunggu hingga Jungkook selesai dengan birnya. "Sudah katakan saja jangan berkelit lagi."
"Suasana hatimu sudah berubah lagi, baiklah langsung saja. Kudengar Suga akan segera merilis album baru."
Kalimat Hoseok nyaris membuat Jungkook tersedak. Ia mencium sesuatu yang tidak beres mengenai ucapan Hoseok. "Ya, aku juga sudah mendengarnya."
"Kau tidak memiliki strategi untuk menyaingi agensi tetangga?" Jungkook tersenyum kemudian menggeleng pelan. Hoseok terkejut. "Tidak biasanya kau bersikap santai, Jeon Jungkook. Apa yang terjadi padamu?"
"Aku?" Jungkook menatap Hoseok bingung. "Tidak terjadi apa-apa padaku. Kau butuh istirahat, yang lain juga, nikmati waktu istirahat kalian. Jangan membuat lagu dengan tergesa hasilnya tidak akan bagus."
"Apa kau tidak cemas saham akan turun dan penawaran-penawaran kontrak iklan menurun?"
"Itu selalu terjadi setiap saat, perhatian akan beralih pada idol yang melakukan comeback."
Hoseok tersenyum miring. "Aku yakin terjadi sesuatu padamu Jungkook. Kenapa kau melunak sekarang?"
Jungkook mengacuhkan pertanyaan Hoseok, memilih menikmati bir dinginnya dan membiarkan Hoseok merasa bosan kemudian memutuskan pergi dari ruangannya. Hoseok menahan diri untuk tidak bertanya, namun ada banyak hal yang berkecamuk di dalam benaknya. "Taehyung? Berita sudah menyebar, akhir-akhir ini kau dekat dengan Taehyung."
Jungkook langsung menghentikan kesibukannya meminum bir. "Kenapa kau bertanya tentang comeback Suga, apa kau juga ingin melakukan hal yang sama?"
"Apa?!" pekik Hoseok, terkejut karena Jungkook tidak menjawab pertanyaannya justru menyerangnya dengan pertanyaan.
"Apa itu benar?"
"Kau…," geram Hoseok. "Iya, aku juga ingin melakukan comeback. Aku tidak ingin semua perhatian diberikan pada Suga. Aku terdengar egois tapi perhatian dari fans adalah segalanya. Jika aku tidak menghasilkan lagi, aku yakin agensi akan menomor duakan aku."
"Itu tidak pernah terjadi Hoseok. Bahkan para senior yang berada di agensi ini semakin dihormati, bukannya ditinggalkan."
"Ucapanmu bisa saja berubah Jeon Jungkook."
Jungkook meletakkan kaleng birnya ke atas meja kerja. Berdiri, menghadap Hoseok. "Aku janji semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak pernah mengingkari janjiku. Sekarang manfaatkan waktu liburmu untuk beristirahat dan sedikit bermalasan." Ucap Jungkook penuh dengan keseriusan. "Sekarang jika kau tidak keberatan, bisakah kau pergi sekarang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan aku tidak menyukai gangguan."
"Tentu." Hoseok membalas singkat menahan amarah. Berdiri dan melangkah keluar.
.
.
.
Di pagi hari sebuah keributan terjadi.
"Taehyung aku mohon…, kau boleh menghabiskan isi dompetku. Kau boleh membuat tagihan kartu kreditku membengkak. Apapun asal jangan mewarnai rambutmu." Mohon Namjoon tak peduli dengan tatapan aneh para karyawan salon pribadi milik Kim entertainment.
"Sudah diam saja Namjoon hyung, aku sudah menemukan warna masa depanku."
"Tae… kau membuat keharmonisan rumah tanggaku terancam." Tak masalah sedikit memalukan yang terpenting Taehyung membatalkan keinginannya.
"Apa hubungannya warna rambutku dengan kesejahteraan rumah tangga Seokjin hyung dan Namjoon hyung?"
Pertanyaan polos dari Taehyung membuat Namjoon nyaris berteriak putus asa, ia tidak tahu apa adik iparnya itu polos, pura-pura, atau bodoh. Namjoon mengepalkan kedua telapak tangannya, menahan gemas. Ia ingin sekali mencubit kedua pipi Taehyung sampai merah. Jika tidak ingat dirinya akan mendapat pukulan dari istri tercintanya jika Taehyung terluka. Terkadang rasa sayang Seokjin terhadap Taehyung itu mengerikan.
"Namjoon hyung jawab, apa hubungannya?"
"Sudahlah!" tegas Namjoon. "Apapun, kau boleh minta apapun dariku asal batalkan rencanamu mewarnai rambutmu."
"Seokjin hyung yang melarangku mewarnai rambut, sebenarnya apa alasan Seokjin hyung melarang? Aku penasaran?"
"Karena pewarna rambut itu berbahaya, Seokjin tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Bukannya di sini memakai pewarna rambut terbaik?" Taehyung mendongak menatap salah satu staf yang melayaninya, si staf mengangguk pelan. "Aku mau warna ini." Ucap Taehyung, jari telunjuk kanannya diletakkan di atas permukaan warna merah cherry.
Namjoon hanya menghembuskan napas kasar, ia bisa melihat masa depan yang sangat suram menunggu di hadapannya.
.
.
.
Butuh seharian untuk mewarani rambut namun Taehyung puas dengan hasilnya, setelah selesai ia langsung ke kantor dan memasuki ruang kerja sang kakak dengan penuh percaya diri.
Seokjin menatap kedatangan Taehyung dengan garang. "Sepertinya ada yang baru." ucap Seokjin dengan nada menggoda.
"Rambutku."
"Soal itu aku sudah tahu."
"Hyung tidak marah?!" pekik Taehyung kegirangan.
"Marahpun tidak ada gunanya, kau sudah telanjur mewarnai rambutmu."
"Aku bosan dengan rambut hitam terus." Kalimat Taehyung terdengar seperti rajukan. Seokjin tidak pernah suka jika Taehyung mewarnai rambutnya, Taehyung sendiri tidak tahu apa alasannya. "Seokjin hyung tidak marah kan? Benar-benar tidak marah kan?" rajuk Taehyung sambil berdiri dengan kedua lututnya di depan meja kerja Seokjin.
"Awalnya aku aku kesal. Saat Namjoon menghubungiku dan mengatakan jika kau mewarnai rambutmu."
"Hehehe…," balas Taehyung kemudian tersenyum lebar. "Sekarang tidak kesal lagi kan?"
"Sedikit."
"Kenapa? Bukannya pilihan warnaku keren?"
"Warna merah seperti itu, membuatmu mirip Stroberi."
"Bukannya Seokjin hyung sangat suka stroberi?"
"Aku ingin memakanmu."
Kalimat Seokjin membuat Taehyung terperanjat. "Jangan Seokjin hyung! Aku janji tidak akan menyebalkan lagi! Jangan makan aku, aku mohon….,"
"Dasar!" gemas Seokjin sambil menyentil pelan dahi Taehyung. Menahan tawa, Seokjin meminta Taehyung untuk berhenti berlutut dan duduk. "Kau menyukai warna rambut barumu?"
"Hmm." Gumam Taehyung sementara perhatiannya sedang tertuju pada gantungan kepala singa pada ransel hitamnya.
"Tidak biasanya kau menggunakan gantungan kunci."
"Lucu kan Seokjin hyung? Aku suka Singa." Ucap Taehyung kemudian tersenyum lebar. "Seokjin hyung jangan menghukum Namjoon hyung. Namjoon hyung sudah menjagaku dengan sangat baik, ya…, aku akui aku memang sedikit menyebalkan."
"Hmm." Seokjin hanya menggumam terlihat tidak antusias dengan permintaan Taehyung.
"Seokjin hyung….," rengek Taehyung.
"Baiklah, aku tidak akan kesal pada Namjoon."
"Terimakasih."
"Jungkook memberiku gantungan kunci ini." Taehyung tidak bisa menyimpan rahasianya dari Seokjin. Dia selalu membagi semua ceritanya.
Seokjin nampak terkejut untuk beberapa detik, sebelum akhirnya bertanya. "Apa dia menyogokmu?"
"Hyung!" pekik Taehyung kesal. "Informasiku mahal!"
Teriakkan kekesalan Taehyung justru membuat Seokjin tertawa terbahak-bahak. Taehyung menatap sang kakak sebal. Lalu tawa Seokjin berhenti tiba-tiba, tangan kanan Seokjin terulur mengusap pelan puncak kepala Taehyung. "Ahh… waktu berjalan sangat cepat, kau sudah dewasa sekarang."
"Hyung usia kita hanya terpaut tiga tahun…," gerutu Taehyung. "Seokjin hyung jangan bersikap seperti kakek tua menyebalkan."
"Aku selalu berpikir suatu saat akan tiba waktunya, kau menikah, memiliki keluargamu sendiri, dan meninggalkan aku."
"Seokjin hyung jangan mengatakan sesuatu yang mengerikan."
Seokjin tersenyum mengacak rambut Taehyung gemas. "Pergilah kau masih memiliki pekerjaan yang harus diselesikan?" Taehyung mengangguk pelan.
.
.
.
Awalnya Jungkook tak berharap banyak Taehyung akan menjawab panggilannya. Pertama, sekarang jam sibuk dan sudah lima belas kali dia mencoba menghubungi Taehyung namun hasilnya nihil. Jungkook tidak berhenti untuk mencoba peruntungannya. Pada akhirnya Taehyung menjawab, Jungkook menawarkan pertemuan. Taehyung setuju, dan di sinilah Jungkook berdiri di depan gerbang masuk taman kecil di tengah pemukiman kelas menengah atas yang sepi.
Tidak ada seorangpun yang terlihat berada di taman, semua orang masih sibuk bekerja, bersekolah, atau pergi ke tempat hiburan lain yang lebih menyenangkan, dan mungkin taman yang jauh lebih besar. Jungkook tak langsung menghampiri Taehyung yang duduk di bangku taman.
Karena Taehyung terlihat sangat bahagia dengan kegiatannya sekarang. Membaca buku, entah buku apa yang sedang menarik seluruh perhatiannya. Dan kedua, warna rambut Taehyung berubah. Bagi Jungkook itu mengejutkan. Dan ketika Taehyung tak sengaja menoleh ke arahnya, Jungkook tidak memiliki alasan lain untuk tetap berdiri seperti orang bodoh di gerbang masuk taman.
"Sudah lama menungguku?" tanya Jungkook berbasa-basi. Taehyung menggeleng pelan, menyimpan buku bersampul merah yang tadi sedang dia tekuni. Memasukkannya ke dalam ransel hitam, Jungkook menahan senyuman melihat gantungan kunci Singa pemberiannya kemarin terpasang pada ransel Taehyung.
"Kenapa meminta bertemu? Apa kita tidak terlalu sering bertemu?"
Jungkook tersentak, ia mencoba memberi jawaban terbaik tapi otaknya seolah lumpuh. Ia tidak menggunakan otak setiap berhadapan dengan Taehyung. "Hmmm….," hasilnya Jungkook hanya menggumam bodoh.
Tidak mungkin dia mengatakan semuanya dengan gamblang, mengatakan jika setiap detik dia memikirkan Taehyung, setiap detik merindukan Taehyung. Jungkook yakin Taehyung akan mendengus lalu pergi mengacuhkannya.
"Aku tidak memiliki banyak teman, dan Taehyung hyung salah satu teman yang aku rasa paling nyaman untuk kutemui."
"Nyaman?" alis kanan Taehyung terangkat ke atas, bingung.
"Hmm." Jungkook menggumam pelan kemudian duduk di samping kanan tubuh Taehyung.
"Bagaimana kau bisa merasa nyaman bersamaku? Kita tidak bicara banyak, dan belum lama saling mengenal?" Jungkook hanya mengendikan kedua bahunya.
"Kau mewarnai rambutmu?"
"Ya."
Jungkook tersenyum, tangan kiri Jungkook terangkat menyentuh poni Taehyung yang menutupi seluruh alis Taehyung dan nyaris menyentuh kelopak matanya. "Sebaiknya kurangi panjang ponimu." Gumam Jungkook.
Taehyung membeku ketika ujung-ujung jari Jungkook tidak sengaja bersentuhan dengan kulit lehernya. Dia tidak tahu bagaimana tangan Jungkook yang tadi berada di dahinya, sekarang berada di lehernya.
"Aku akan memikirkannya." Ucap Taehyung dengan tangan kanan bergerak cepat menahan pergelangan tangan kiri Jungkook, sebelum dia bergerak terlalu jauh.
"Maaf." Jungkook tergesa menarik tangannya menjauh.
"Hmm." Gumam Taehyung. "Bagaimana? Apa warna rambutku bagus?"
Warna apapun akan cocok dengan Taehyung, tapi Jungkook berpikir Taehyung akan lebih manis dengan warna rambut alaminya. "Bagus."
"Kenapa jawabanmu terdengar tidak tulus? Katakan yang jujur Jungkook."
"Kau yakin mau mendengar jawaban jujurku?" Taehyung mengangguk cepat. "Jangan marah setelah mendengarnya?"
"Aku tidak akan marah."
"Kurasa kau lebih cocok dengan rambut hitam."
"Tidak masalah, aku suka dengan warna ini. Aku berpikir untuk mencoba warna lain." Taehyung tersenyum lebar di akhir kalimat.
"Jangan!" pekik Jungkook, membuat Taehyung terkejut bahkan jujur Jungkook sendiripun terkejut mengapa dirinya tiba-tiba berteriak seperti itu.
"Kenapa?"
"Hmm…, itu…, karena.., bahan kimia di dalam pewarna rambut tidak baik."
"Kau terdengar seperti Seokjin hyung..," gerutu Taehyung.
"Taehyung."
"Apa?"
Jungkook menarik napas dalam-dalam. "Baiklah, tidak masalah jika kau masih mengganggapku pembual. Aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan. Dan—ah aku tidak pintar basa-basi. Aku mencintaimu."
"Kau..," balas Taehyung kemudian tertawa pelan. "Sudahlah."
"Kim Taehyung." Nada suara Jungkook terdengar serius, Taehyung menghentikan tawanya. "Aku serius. Jawabanmu apa?"
"Entahlah Jungkook, aku masih nyaman dengan jalinan pertemanan."
"Ah begitu rupanya—baiklah." Balas Jungkook dengan nada sarat akan kekecewaan. "Tapi Taehyung aku bukan tipe orang yang sabar."
"Aku akan berusaha memberikan jawaban secepatnya. Aku yakin kau tidak puas dengan jawabanku."
"Ya." Balas Jungkook tegas. "Jawabanmu seperti menyuruhku untuk mencari artinya sendiri. Kau tidak jelas mengatakan iya atau tidak."
"Jangan marah."
Jungkook menghembuskan napas kasar, ia kesal dan tanpa sadar nada suaranya meninggi. Dan jika Taehyung membeli penilaian buruk lagi tentang dirinya. Jungkook akan menyerah untuk mendapatkan cinta Taehyung.
"Aku harus pergi sekarang Taehyung, sampai jumpa."
Taehyung membuka bibirnya namun belum sempat mengatakan apa-apa, Jungkook pergi begitu saja dalam langkah cepat panjang-panjang. "Dia benar-benar kesal padaku," gumam Taehyung pelan.
"Park Jimin." Menghubungi Jimin adalah hal pertama yang terlintas dalam pikiran Jungkook.
"Jungkook." Suara Jimin terdengar dalam nada malas.
"Kau ada waktu hari ini? Pukul delapan malam, aku butuh teman."
"Jungkook aku ada…,"
"Tidak ada bantahan."
"Aku yakin Taehyung membuatmu kesal."
"Datang saja sesuai jam yang aku tentukan." Putus Jungkook.
"Tentu Tuan Menyebalkan Jeon Jungkook."
TBC
Halo semua terimakasih sudah membaca cerita ini, terimakasih review kalian Keikochan, gita9393, funf, AprilKimVTae, GaemGyu92, justcallmeBii, vivikim406, VampireDPS, Park RinHyun Uchiha, bangtaninmylove, wenjun, Linkz account, kanataruu, juliakie, Kyunie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
