BE MINE
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member
Previous
"Tapi Suga hyung dan Hoseok berbeda agensi."
"Akan berbeda jika kita bekerjasama."
Taehyung nyaris tertawa. "Itu ide paling konyol Jungkook, semua orang sudah tahu jika kerjasama perusahaan kita batal."
"Ada cara lain untuk meyakinkan masyarakat jika perusahaan kita bekerjasama."
"Apa?!" pekik Taehyung tidak sabar. "Aku akan melakukan apapun demi Suga hyung, dia sahabat terbaikku, kakakku, aku tidak ingin melihatnya terpuruk."
Jungkook menelan ludah kasar, menggigit pelan bibir bawahnya. Ia bisa merasakan punggungnya basah oleh keringat. Dia tidak pernah segugup ini dalam hidupnya. "Kita menikah." Ucap Jungkook dengan jelas.
BAB SEMBILAN
"Me—menikah?!" Taehyung tidak percaya dengan apa yang Jungkook katakan. "Astaga!" Taehyung tertawa konyol. "Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda, apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" Taehyung menatap Jungkook tidak percaya, begitupun sebaliknya. Jungkook tidak tahu darimana ide konyolnya berasal, tapi untuk keadaan darurat seperti sekarang, hanya itu satu-satunya ide yang masuk akal.
"Permisi, aku ingin menemani Yoongi hyung dikamar." Kalimat Jimin menginterupsi kegiatan saling pandang Jungkook dan Taehyung.
"Tentu Jim, sebaiknya kau istirahat juga." Jawab Jungkook sambil menoleh menatap sang sahabat. Jimin tersenyum tipis kemudian bergegas menuju kamar Yoongi.
"Ki—kita mengobrol di ruang makan, jangan di sini. Aku takut suara kita mengganggu tidur Yoongi hyung." Ucap Taehyung sedikit terbata masih terkejut dengan usulan luar biasa seorang Jeon Jungkook. Sementara Jungkook hanya mengangguk pelan dan mengikuti Taehyung.
Jungkook menarik salah satu kursi kayu kemudian duduk di sana. Ia memperhatikan punggung Taehyung yang sedang berdiri di depan lemari pendingin. "Kenapa Yoongi dirawat di rumah?"
"Rumah Sakit tidak baik untuknya, dengan semua wartawan mengerikan di luar sana." Balas Taehyung. Pintu lemari pendingin ia tutup kemudian menyodorkan satu kaleng jus apel ke hadapan Jungkook.
"Kau membuat itu?" Jungkook menatap cupcake di depannya dengan krim berwarna hijau segar menutupi permukaan cupcake.
"Tadi ada cupcake keju tapi Yoongi hyung sudah menghabiskan semuanya. Aku senang, keadaan Yoongi hyung hari ini lebih baik, dia bahkan bisa tidur. Ide Namjoon hyung untuk mengisolasi Yoongi hyung dari luar ternyata baik."
Jungkook tersenyum mendengar kalimat Taehyung yang cukup panjang. "Kau yang membuat cupcake?"
"Bukan, Seokjin hyung yang membuatnya aku hanya membantu sedikit."
Jungkook mencicipi sedikit jus apelnya, tenggorokannya terasa sangat kering sekarang. "Rencanaku bagaimana?"
Jari telunjuk kanan Taehyung mengitari bibir kaleng jus, ia terlihat ragu-ragu. "Apa—tidak ada cara yang lain?"
"Kau punya ide yang lebih baik?" Taehyung menggeleng pelan. "Mungkin—kau butuh waktu untuk memikirkannya."
"Tidak!" pekik Taehyung. "Yoongi hyung sebenarnya tidak sekuat seperti yang selama ini orang-orang lihat, jika berita semakin buruk, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Yoongi hyung."
"Jadi?"
"Jika itu satu-satunya jalan keluar, baiklah. Aku akan melakukannya. Kita akan menikah." Jungkook tersentak, ia tidak mengira Taehyung akan menyetujui usulnya dengan mudah. "Tapi—keluargamu bagaimana? Apa mereka setuju?"
"Aku akan membuat mereka setuju."
Taehyung mengangguk pelan. "Setelah kau selesai dengan keluargamu kau harus berbicara dengan Seokjin hyung."
"Aku yang harus berbicara pada kakakmu?" kedua bola mata Jungkook membulat sempurna. Taehyung mengangguk pelan.
"Aku akan berbicara dulu, menjelaskan semuanya selanjutnya kau harus berbicara padanya juga."
"Apa tidak cukup kau saja yang berbicara?"
Jujur Jungkook cukup takut dengan Seokjin, dia sangat protektif pada Taehyung. Dia takut salah bicara dan berakhir mengenaskan di tangan Seokjin. Tapi dia mencintai Taehyung, jadi Jungkook akan berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan keluarga Kim bahwa pernikahan mereka adalah jalan keluar terbaik.
"Ya—ya kurasa aku akan melakukannya." Ucap Jungkook terbata, Taehyung tersenyum lebar nyaris tertawa melihat kegugupan seorang Jeon Jungkook ternyata cukup menghibur.
"Tapi apa hanya itu satu-satunya jalan?" Tentu saja Taehyung masih ragu. Jungkook tak ingin berharap terlalu tinggi.
"Aku membebaskanmu untuk memikirkan jalan lain."
Taehyung memijit batang hidungnya. "Aku—ingin berbicara dengan Suga hyung dan Jimin terlebih dulu, mungkin mereka mempunyai jalan keluar lain."
"Apa menikah denganku terdengar buruk?"
Taehyung menahan tawa. "Tentu saja itu buruk Jeon Jungkook. Kita bukan siapa-siapa dan meski kau sudah mengutarakan perasaanmu padaku, itu tidak mengubah apapun. Tidak mendekatkan hubungan kita."
"Kau yang memutuskan untuk menganggap semuanya bukan apa-apa."
Taehyung hanya mengendikan kedua bahunya singkat. "Dan jika menikah adalah satu-satunya jalan, berarti pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan Suga hyung, tidak ada cinta, dan aku tidak mungkin bersamamu selamanya."
"Ya. Kau bisa mengakhirinya kapanpun kau menginginkan semuanya berakhir."
"Kita terlalu muda untuk menikah."
"Jadi intinya?"
"Aku akan berusaha mencari jalan keluar lain, menikah bukan ide yang bagus, menurutku."
"Terserah." Balas Jungkook bersikap seolah tak peduli. Taehyung berdiri dari kursi yang dia duduki kemudian pergi tanpa mengatakan apapun pada Jungkook. "Kim Taehyung, apa kau tahu kau orang pertama yang berhasil membuatku memohon." Jungkook menggumam kemudian tersenyum miring.
Pintu kamar Yoongi tak ditutup rapat, Taehyung mendorong perlahan daun pintu di hadapannya. Yoongi masih tertidur dan Jimin duduk di sofa, terjaga. "Kupikir kau tidur." Taehyung berucap pelan.
Jimin menoleh, menatapnya. Nampak sangat lelah namun dia tersenyum. Taehyung berjalan mendekat kemudian duduk di sisi kiri tubuh Jimin. Sofa yang sempit membuat lutut keduanya bersinggungan. "Kenapa tidak tidur?" tanya Taehyung, meski mereka jarang bertemu Taehyung tidak merasa canggung terhadap Jimin karena dua alasan.
Pertama, Yoongi selalu bercerita tentang Jimin. Betapa lucunya Jimin, Jimin yang sabar, Jimin yang selalu ada untuknya, Jimin yang perhatian, dan cerita lain yang membuat Yoongi selalu tersenyum setiap bercerita tentang kekasihnya itu. Alasan Kedua karena Taehyung dan Jimin lahir di tahun sama.
"Aku sangat lelah tapi entahlah aku tidak bisa tidur."
"Karena otakmu penuh dengan semua hal yang mengganggu."
"Kurasa kau benar." Balas Jimin, keduanya berbicara dalam suara yang sangat pelan.
"Apa kau sudah mendengar ide gila Jungkook?"
"Hmm.., aku yakin kau tidak akan setuju."
Taehyung tak langsung membalas, pandangannya beralih pada Yoongi yang tertidur. Yoongi tampak lelah, kurus, dan pucat. "Apa—tidak ada jalan keluar yang lain?"
"Entahlah Taehyung, keadaan sudah benar-benar di luar kendali. Kurasa satu-satunya cara untuk menghentikan semuanya, dengan memberikan kabar luar biasa."
"Seperti pernikahan?" Jimin mengangguk pelan menjawab Taehyung. "Jimin."
"Ya?"
"Apa Yoongi hyung pernah bercerita tentangku?"
"Ya." Balas Jimin singkat.
"Apa?"
"Kau adiknya, karena kalian selalu bermain bersama. Saat kau kecil kedua orangtuamu sangat sibuk, karena tidak tega kau dititipkan ke tempat penitipan anak maka ibumu menitipkan kau pada ibu Yoongi hyung."
Taehyung tersenyum. "Itu benar, Yoongi hyung selalu ada untukku."
Jimin mendengar suara hembusan kasar napas Taehyung. "Jadi?" suara Jimin nyaris tak terdengar ia terlalu takut dengan jawaban Taehyung.
"Kurasa sekarang saatnya aku membantu Yoongi hyung. Jika satu-satunya cara untuk menghentikan berita-berita mengerikan itu dengan menikahi Jeon Jungkook, aku akan melakukannya. Jangan cemas, aku selalu menepati janjiku. Sebaiknya kau tidur, berhenti membebani pikiran dan tubuhmu."
"Terimakasih Taehyung."
"Hmm." Teaehyung hanya menggumam kemudian beranjak pergi.
Jungkook masih duduk di ruang makan ketika Taehyung kembali, Jungkook menoleh menatap Taehyung karena suara langkah kaki Taehyung terdengar cukup nyaring di apartemen yang sunyi. "Sepertinya tidak ada jalan keluar lain." Jungkook hanya diam menyimak. "Baiklah, kita menikah."
"Oh." Jungkook membalas tak begitu yakin meski jantungnya berdebar kencang, ia masih mencoba mengingatkan pada dirinya sendiri jika jawaban Kim Taehyung bisa berubah sewaktu-waktu. "Kemana?" tanya Jungkook melihat Taehyung yang bersiap untuk melangkah pergi.
"Pulang, sudah ada Jimin yang akan menjaga Yoongi hyung. Jimin lebih paham situasi Yoongi hyung dibanding yang lain."
"Kita bisa pulang bersama atau mungkin sedikit mengobrol. Maksudku…, setidaknya kita memberi sedikit petunjuk pada publik. Jadi rencana kita nanti berjalan tanpa adanya kecurigaan dari masyarakat."
"Terserahlah, inikan rencanamu. Kau pasti lebih tahu banyak dibandingkan aku. Ayo."
Jungkook mengikuti langkah kaki Taehyung, memperhatikan setiap gerak-gerik Taehyung. Setelah memastikan pintu benar-benar terkunci rapat, keduanya berjalan menyusuri lorong gedung menuju lift. Dan ketika keduanya berada di dalam lift, berdiri dengan jarak, tidak ada obrolan yang tercipta, setidaknya selama beberapa detik.
"Kau tidak boleh menyentuhku setelah menikah." Hingga kalimat Taehyung memecah kesunyian. "Pernikahan ini karena kesapakatan."
"Aku tahu." Balas Jungkook dengan tatapan lurus ke depan dan suara bernada dingin.
Lift berhenti di lantai dasar, pintu besi terbuka. Melangkah nyaris bersamaan. Keduanya melihat ada banyak wartawan dan fans atau mungkin haters berkerumun di depan gedung dari pintu kaca gedung. "Benar-benar tidak ada cara lain kecuali menikah?"
"Menurutmu?"
"Kurasa tidak ada." Taehyung tersenyum, Jungkook tidak mengerti maksud kalimat Taehyung. Dia selalu bodoh ketika berhadapan dengan Taehyung.
Ketika mereka melangkah keluar dari gedung. Kerumunan berubah panik dan mengeluarkan suara seperti kawanan lebah, Jungkook tersentak ketika Taehyung menyelipkan jari-jemari tangan kirinya pada telapak tangan kanannya. Lampu blitz kamera menyilaukan sekarang, namun Jungkook tidak peduli.
Jungkook membalas genggaman tangan Taehyung dan dunia seolah berubah sunyi sekarang. Kerumunan seolah menghilang, suara dengungan membisu, blitz kamera tak lagi mengganggu. Jungkook menarik tangan kanannya cepat kemudian merangkul pundak Taehyung dan Taehyung melingkari pinggangnya.
Mungkin, Taehyung yang bersedia membalas cintanya hanya sebatas delusi, tapi untuk detik ini Jungkook benar-benar tidak peduli. Dia hanya ingin menikmati kebersamaan singkat ini bersama Taehyung.
.
.
.
Taehyung susah payah menjaga kedua kelopak matanya agar tidak tertutup kembali, dia masih merasa sangat mengantuk. Seharusnya, dia bisa tidur dua atau tiga jam lagi tapi sang kakak membangunkannya. "Kim Taehyung.
"Iya, Kim Seokjin."
"Aku tidak sedang bercanda." Peringat Seokjin.
"Aku tahu Hyung, ada apa?"
"Semalam kau pergi kemana?"
"Apartemen Yoongi hyung."
"Tidak." Kali ini Namjoon yang menjawab disertai tatapan mengerikan Seokjin.
"Oh iya aku lupa, setelah itu aku pergi dengan Jungkook." Taehyung bisa melihat ekspresi terkejut dari Seokjin dan Namjoon.
"Kalian pergi kemana?"
"Kurasa di majalah yang Seokjin hyung pegang itu sudah tertera semua, tempat mana saja yang kami kunjungi, dan apa yang kami lakukan."
Seokjin memijit batang hidungnya, kemudian menyerahkan majalah di tangannya pada sang suami untuk dibaca. "Ehm Ehm." Namjoon berdeham pelan. Kemudian mulai membaca tajuk berita utama majalah.
"Apakah ini pasangan yang dulu pernah disebutkan pada sebuah majalah dengan pasangan X dari dua agensi berbeda yang menjalin hubungan sejak empat tahun terakhir, Jeon Jungkook dan Kim Taehyung. Mengejutkan, namun itulah kenyataanya. Keduanya keluar bersama dari apartemen Min Yoongi dengan bergandengan tangan, tersenyum, kemudian saling merangkul mesra dan terlihat bahagia.
Sedikit ironis melihat Min Yoongi sedang tertimpa masalah sekarang melihat kemesraan keduanya. Apa yang sebenarnya terjadi, apa keduanya mencoba mengalihkan isu plagiasi Min Yoongi dengan menciptakan drama percintaan manis? Mengapa seorang Jeon Jungkook terlibat?
Apakah ini bukan sekedar drama percintaan manis melainkan keduanya benar-benar sedang jatuh cinta? Kita tunggu kabar terbaru dari pasangan yang belum memberikan konfirmasi apa-apa kepada publik ini, namun jika keduanya bernar-benar sangat dekat sepertinya para haters dan kritikus harus meminta maaf pada Min Yoongi karena kedua agensi sepertinya bekerjasama tanpa sepengetahuan publik. Bukankah wajar jika konsep satu agensi atau agensi yang bekerjasama memiliki kemiripan?"
Namjoon dan Seokjin langsung menatap Taehyung sengit setelah Namjoon selesai membacakan berita. "Jadi ada hal yang ingin kau katakan pada kami Kim Taehyung?" tanya Seokjin dengan nada penuh intimidasi.
"Aku akan menikah dengan Jungkook."
Keheningan tercipta, Namjoon dan Seokjin sepertinya belum terlalu yakin pada kalimat Taehyung. "Taehyung?" ulang Seokjin.
"Aku akan menikah dengan Jungkook." Dan Taehyungpun mengulangi jawabannya dengan suara yang lebih keras dan nada yang lebih jelas.
"Apa?! Menikah dengan Jeon Jungkook?!"
Taehyung pikir Seokjin yang akan berteriak keras namun justru Namjoon yang berteriak histeris. "Dasar!" pekik Seokjin kesal sambil memukul kepala suaminya. "Tidak perlu berteriak, memang apa yang aneh?" sungut Seokjin.
"Di—dia akan menikah dengan Jeon Jungkook." Balas Namjoon terbata sambil mengusap kepalanya.
Seokjin mengalihkan perhatiannya pada sang adik mengabaikan keberadaan Namjoon di sampingnya. "Kau yakin akan menikah dengan Jungkook?"
"Ya."
"Kau mencintai Jungkook?"
"Ya."
"Meski kalian belum lama saling kenal, masih yakin akan menikahi Jungkook?"
"Ya."
Taehyung membalas singkat dan jelas, berharap Seokjin tidak membaca kebohongannya dengan mudah. "Baiklah, kurasa tidak masalah."
Jawaban Seokjin membuat Taehyung dan Namjoon hanya bisa mengedip-ngedipkan kedua mata mereka dengan bingung. Biasanya Seokjin akan bersikap heboh jika dihadapkan masalah Taehyung.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Apa kau benar-benar Kim Seokjin yang aku nikahi?" pertanyaan Namjoon nyaris membuatnya mendapat pukulan kedua di hari yang sama. Beruntung Seokjin masih berbaik hati.
"Tentu saja aku Kim Seokjin memang siapa lagi. Haaah…," Seokjin menghembuskan napas kasar di akhir kalimat. "Ya meski aku sebenarnya ingin berteriak."
"Teriak saja tidak masalah." Balas Namjoon.
"Iya berteriak saja Hyung, justru aneh kalau Seokjin hyung bersikap tenang seperti sekarang."
"Baiklah aku akan berteriak." Seokjin menarik napas dalam-dalam kemudian berdiri dari duduknya
. "Aaaaaaaa! Kim Taehyung, adik kecilku! Aku tidak menyangka dia akan menikah di usia muda?! Jeon Jungkook kau brengsek, berandal kecil, berani-beraninya kau mengambil adik tersayangku! Jika kau menyakitinya aku akan mencincangmu dan mengulitimu!" Seokjin benar-benar terengah-engah sekarang.
"Lega?" Namjoon bertanya kemudian tersenyum.
"Ya." Balas Seokjin singkat sementara Taehyung hanya tertawa melihat semua yang terjadi di hadapannya. Keputusannya untuk tidak memberitahukan semua kenyataan pada Seokjin adalah tepat, dia tidak tega membayangkan Jungkook dicincang.
.
.
.
Jungkook menunggu hingga beberapa detik untuk mengatakan hal lain pada laki-laki tua yang duduk di hadapannya, seluruh rambutnya telah berwarna putih, namun sorot matanya masih tajam dan cerdas, gerakan tangan kanannya cekatan ketika menandatangani dokumen-dokumen penting. Kakek Jungkook berusia tujuh puluh tahun, namun beliau jauh dari kata lemah.
"Jungkook, kenapa kau belum pergi? Tidak ada hal lain yang harus kau kerjakan di ruanganmu?"
"Pop."
"Hmm? Aku berfirasat kau akan meminta sesuatu yang sulit ketika memanggilku dengan nama itu."
Jungkook menarik napas dalam-dalam merapikan jas abu-abu yang dia kenakan. "Aku ingin menikahi Kim Taehyung." Ucap Jungkook tanpa basa-basi.
"Hmm, apa kau tidak sedang bercanda Anak Muda?"
"Tidak."
"Alasanmu tentu bukan untuk menolong Min Yoongi."
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku mencintai Taehyung dan aku ingin menikahinya secepat mungkin."
"Taehyung setuju?"
"Iya."
"Hmmm…,"
Ketika sang kakek menggumam, Jungkook berharap keinginannya disetujui. Dia tidak ingin berdebat, tidak ingin melawan, tidak ingin dicap sebagai cucu dan anak durhaka.
"Sebenarnya hanya media yang berpikir jika keluarga kita bermusuhan, aku pikir jika kita bisa dekat dengan keluarga Kim, itu sangat bagus."
"Ini bukan tentang bisnis, Pop."
Sang kakek tertawa pelan. "Aku penasaran bagaimana Taehyung menghentikan sifat playboy mu itu Jeon Jungkook."
"Aku tidak playboy, sudah berapa kali aku katakan Pop, aku hanya mendapatkan ganti dalam waktu singkat."
"Taehyung setuju menikah denganmu?"
"Ya, aku sudah mengatakannya tadi."
"Dia mencintaimu?" Jungkook tidak bisa menjawab, Jungkook tidak bisa berbohong pada sang kakek. "Haah.., sudahlah itu tidak penting. Aku yakin otak jeniusmu itu sudah merencanakan sesuatu pada Taehyung. Lakukan saja yang terbaik, Aku akan menyampaikan berita bahagia ini pada ayah dan ibumu."
"Terimakasih Pop." Jungkook tersenyum lebar, menampilkan dua gigi kelinci depannya.
Ia meninggalkan ruangan sang kakek dengan senyum yang tidak bisa hilang dari wajah tampannya, wajah tampan namun masih memiliki sisa kepolosan masa kecil. Jungkook bahkan berlari agar dirinya sampai lebih cepat ke ruangannya dan dia bisa segera menghubungi Taehyung.
Menutup pintu ruang kerja lebih keras dari biasanya, punggung Jungkook bersandar pada daun pintu, napas tersengal, dan dia nyaris berteriak saat Taehyung menjawab panggilannya dalam dua kali nada sambung. Jungkook ingin berpikir jika Taehyung menunggu panggilannya, ia ingin berpikir seperti itu, terserah kenyataan akan seperti apa. Bodoh, ya, Jungkook sangat bodoh sekarang karena satu orang bernama Kim Taehyung.
"Taehyung, aku sudah berbicara dengan kakekku, beliau setuju, orangtuaku pasti setuju jika Kakek sudah setuju."
"Hmmm…, jika orangtuamu tidak setuju bagaimana?"
"Mereka harus setuju!" Jungkook berteriak tanpa sadar dan mungkin Taehyung di seberang sana tersentak karena suaranya. "Maaf." Sesal Jungkook di akhir kalimat.
"Tidak masalah, aku juga sudah berbicara dengan Seokjin hyung dan Namjoon hyung."
"Lalu?!" Jungkook langsung mengigit bibir bawahnya, sesaat setelah ia menyadari jawabannya terlalu tergesa dan terlalu menuntut.
"Mereka setuju."
Bibir Jungkook terbuka namun dia tidak tahu harus menjawab seperti apa, semua ini terdengar seperti mimpi indah yang nyaris mustahil. Dia akan menikah dengan Taehyung. "Jadi—selanjutnya apa?" suara Jungkook nyaris tak terdengar.
"Apa? Aku juga tidak tahu, hmm…, kurasa keluarga kita harus bertemu dan menggelar konferensi pers."
"Konferensi pers, aku akan mengatur semuanya, secepatnya. Kau tidak perlu memikirkan apa-apa."
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku harus pergi ke kantor hari ini Seokjin hyung dan Namjoon hyung harus membereskan beberapa masalah."
"Tentang Suga?"
"Ya, apa kau tidak melakukan apa-apa pada Hoseok? Semua yang dia lakukan sudah melewati batas."
"Jika aku melakukan sesuatu itu bertentangan dengan agensi."
"Bisakah masalah ini selesai lebih cepat? Kepalaku rasanya ingin pecah membaca dan mendengar semua berita itu, Yoongi hyung dan Jimin terlihat semakin kurus dan pucat."
Kedua mata Jungkook mengamati lekat meja kerjanya, mengamati ruangan tempatnya berada yang terlihat datar dan jauh dari kata menyenangkan. Dia mencemaskan Jimin dan Yoongi, tapi tentu saja dia lebih mencemaskan keadaan Taehyung dalam masalah ini.
Menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Malam ini, konferensi pers kita gelar malam ini. Jika banyak yang tidak setuju kita bisa melakukannya berdua, hanya kau dan aku. Aku tunggu di depan kantor I-Netz, di sana berita plagiasi ini dimulai, di sana juga semuanya akan kita akhiri."
"Pukul berapa?"
"Delapan malam."
"Baiklah, aku pasti datang. Sampai nanti."
"Sampai nanti, aku mencintaimu Kim Taehyung." Namun, sayang kalimat cinta itu Jungkook ucapkan tepat ketika Taehyung mengakhiri sambungan telepon. Jungkook berharap Taehyung bisa mencintainya, dan pernikahan yang diawali dengan alasan untuk menolong seseorang bisa bertahan cukup lama. Cukup lama hingga dirinya dan Taehyung sudah tidak diijinkan untuk tinggal di dunia ini lagi. Apakah itu harapan yang terlalu berlebihan?
TBC
Halo semua terimakasih sudah membaca cerita ini, terimakasih untuk review kalian maiolibel, Guest, lela wyfhzt, justcallmeBii, Guest, poongi, Jeontaekookie, ORUL2, july, wenjun, yoongiena, TaeJeon, Aoi C, Linkz account, AprilKimVTae, Hastin99, juney532, vivikim406, GaemGyu92, Park RiHyun Uchiha, adhakey2309, broke lukas, Kyunie, ParkceyePark, VampireDPS, tiannunna. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
